Sejarah Korea 104: Hwarang part.2

sumber http://www.hwarangdo.com/hwarang.htm

Samguk Yusa 5:228. Terjemahan: Peter H. Lee: Sourcebook Peradaban Korea, vol.I, Pers Universitas Columbia, New York, 1993, P,205. Intrepertation: Lee, Peter H.: pembelajaran di Saenaennorae: Puisi Tua Korea, Instituto Italiano Per Il Medio Ed Estremo Oriente. Roma 1959, P,55 dan 111-112.

“Selama pemerintahan King Chinp’yong (579-632), tiga orang anggota Hwarang, Kóyól-lang, Silch’ó-rang (atau Tolch’ó) dan Podong-nang baru saja akan melakukan perjalanan ke gunung Intan, sebuah komet merusak rasi bintang Scorpio. Salah satu bintang yang terdapat dalam susunan 28 bulan pada kalender bulan. Mereka penuh dengan firasat sehingga berniat membatalkan rencana perjalanan itu.

Kemudian guru besar Yungchon menulis sebuah puisi (594), yang dimana membuat komet itu hilang disertai penarikan jumlah tentara Jepang, hal ini mengubah kemalangan menjadi sebuah berkat. Raja pun senang dan membuat ketiga pemuda itu melanjutkan perjalanannya. Seperti ini syairnya:

Ada kastil disamping laut timur,

Dimana satukali fatamorgana dulu selalu bermain,

Prajurit Jepang datang,

Kayu bakar di bakar dalam hutan.

Ketika ksatria berkunjung ke gunung ini,

Bulan menandai jalannya dari barat dan ketika bintang baru akan membuat jalan.

Seseorang berkata,” Lihat, ada komet!”

Bulan sudah berangkat. Sekarang, di mana kami akan mencari bintang yang berekor panjang?

Satu orang komentator mengatakan bahwa syair ini adalah semacam syair patriotik yang memuji pemberkatan sebuah perdamaian.

Menurut argumennya, yang surgawi berikut elemen asing – fatamorgana, bulan, komet, dan tentara Jepang – dan elemen keduniawian – obor, roket, dan tiga orang Ksatria itu – diserasikan dalam puisi untuk mencapai maksud terakhir: pujian bagi Silla. Dengan begitu di sini matahari, komet, bulan dan tentara Jepang diperkenalkan untuk meningkatkan kegembiraan orang sebagai pujian bagi kerajaan Silla.

Samnang-sa

Samguk Sagi, Samguk Yusa. Samguk Sagi (ha), diterjemahkan kedalam bahasa Korea oleh Yi, Pyong-do, Samguk Sagi: Wonmun-P’ton, Kug’ok-p’yon, Seoul: Uryu Munhwasa, 1980, P,76, 162 dan 225.

Samnang-sa atau yang biasa disebut Candi Tiga Ksatria dibangun tahun 597, pada masa pemerintahan Raja Jinpyeong. Memang mustahil jika pembangunan candi ini untuk menghargai jasa ketiga ksatria Kóyól-lang, Silch’ó-rang, dan Podong-nang atas apa yang terjadi diatas tentang komet tersebut.Tetapi sangat jelas kalau memang diperuntukan untuk menghormati mereka bertiga karena semasa pergolakan di Shilla pada pemerintahan Raja Hongang, beliau pergi ke sebuah biara terkenal dan menyuruh salah satu pejabatnya membuat puisi seperti yang dilakukan oleh biksu Chungchon.

Wonkwang-Popsa, Kwisan dan Ch’wihang

Cerita Kwisan dan Ch’wihang semula ditulis di buku Samguk Yóljón dan dikutip di Samguk Sagi, Samguk Yusa, dan Kehidupan Biksu Terkenal Korea.

Pada tahun 613, perkumpulan seratus kursi diselengarakan di biara Hwangnyeong, untuk menjelaskan secara terperinci tentang batu tulis tersebut. Wonkwang-Popsa mengepalai seluruh kelompok tersebut. Dia dulu selalu melewatkan hari-harinya dibiara Kach’wi, mengajar tentang tata cara jalan suci.

Ketika Hwarang tersebut, Kwisan dan Ch’wihang dari distrik Saryang meminta nasehat rahib mengenai pembersihan dan perihal tingkah laku mereka. Rahib tersebut memberikan wejangan untuk tidak membunuh binatang-binatang di musim semi dan musim panas dan harus berpuasa dengan hari yang sudah ditentukan. Mereka berdua menjalankan wejangan itu tanpa melanggar satupun.

Tahun 602, pasukan Baekje menyerang dan mengelilingi benteng Amak. Kwisan dan Ch’wihang berada dibawah komando Jendral Muun, ayah Kwisan. Pertengahan pertempuran, Jendral Muun masuk ke dalam perangkap penyergapan dan terjatuh dari kudanya, Kwisan buru-buru menyelamatkan ayahnya itu, dia membunuh banyak sekali pasukan musuh sambil berteiak pada anak buahnya,”Inilah saatnya untuk mematuhi perintah untuk tidak mundur dari peperangan”Kwisan memberikan kudanya pada ayahnya dan tetap bertarung disamping Ch’wihang, keduanya tewas dimedan perang yang dideskripsikan mengalami pendarahan hebat dari ribuan tusukan.

Raja Jinpyeong menaikan tingkat jabatan Kwisan sebagai Naema (peringkat 11) dan Ch’wihang sebagai Taesa (peringkat 12).

Kunnang

Samguk Sagi. Milik terjemahan: Samguk Sagi (ha), diterjemahkan ke dalam Korea oleh Yi, Pyong-do, Samguk Sagi: Wonmun-P’ton, Kug’ok-p’yon, Seoul: Uryu Munhwasa, 1980, P,381.

Kongun adalah anak lelaki seorang Taesa Kumun, dan menjdai seorang Sain (pegawai kerajaan) di tahun 44 (627 AD), terjadi musibah musim dingin yang parah di bulan 8, yang menyebabkan hancurnya biji-bijian yang sudah dipersiapkan untuk musim semi. Tahun berikutnya kelaparan melanda hingga tahap mengkhawatirkan, sampai-sampai orang rela menjual anaknya untuk bertahan hidup dan makan.

Pada waktu itu ada sebagian Sain yang bersekongkol untuk mencuri sebagian biji-bijian untuk digunakan oleh sesama mereka, namun Kongun tidak mau menerima biji-bijan tersebut.

Karena penolakan itu, Sain yang bersekongkol ketakutan kalau dia akan mengatakannya pada Kunnang dan berencana untuk membunuh Kongun. Kongun mengetahui hal tersebut, makanya ia berpamitan pada Kunnang. Setelah dipaksa apa maksud dari pamitnya itu, Kongun memberikan penjelasan singkat tentang apa yang terjadi. Tapi dia tetap pada pendiriannya kalau dia tidak punya hati untuk melaporkannya pada ketua pegawai istana. Setelah itu, Kongun di beri minum arak yang telah dicampur racun dan meninggal.

Kim Yu Shin

Samguk Sagi berisi penuh tiga volume biografi cerita Jenderal-jenderal Shilla yang hebat, lebih banyak lagi daripada pada yang lain. Lihat Vos, Frits: Kim Yusin, Persönlichkeit und Mythos: Ein Beitrag zur Kenntnis der Altkoreanischen Geschichte, Oriens Extremus 1 (1954) p.29-70 dan 2 (1955) p.210-236 untuk terjemahan penuh semua bahan Kim Yushin dari baik Sagi maupun Yusa (dalam bahasa Jerman).

Kim Yushin berusia 15 tahun ketika menjadi Hwarang dan di usia 18 dia menjadi ahli pedang dan seorang gukseon. Pada saat menjelang kematiannya, Kim Yu Shin dianggap orang yang paling kuat di Korea dan dikubur layaknya seorang Raja. Ia lahir tahun 595, dan menajdi pimpinan pasukan Hwarang yang disebut Yonghwa-Hyangdo [Pasukan Bunga Naga]atau Nagavrksa;pohon bodhi dimana Budha Maitreya akan bangkit dan mengajarkan ajarannya.

Pada tahun 611dibawah kekuasaan Raja Jinpyeong, saat itu Kim Yu Shin berusia 17 tahun melihat bahwa Baekje, Koguryo, dan pasukan Magal mulai mendekati teritorial Shilla, ia merasa marah dan sedikit ketakutan. Oleh sebab itu dia pergi ke sebuah gua di pegunungan Chung’ak, sendirian.

note: Dalam drama, sejak kecil kita melihat kalau Kim Yu-shin merasa tidak percaya diri dia akan pergi ke gunung untuk latihan memukul batu besar untuk menenangkan pikiran.

Setelah melakukan aksi puasa, ia bersumpah pada langit: “Negara yang saling bermusuhan layaknya tanpa moral. Mereka seperti sekawanan serigala dan macan, oleh karena itu mereka mengganggu batas wilayah kami, merampas ketenangan kami dalam waktu satu tahun. Saya hanyalah sebuah subjek yang tidak punya bakat dan juga kekuatan istimewa apapun, tetapi sudah memantapkan diri untuk mengakhiri kekacauan ini. Jika saja langit bersedia memandang ke bawah, bantu saya untuk mengabulkan cita-cita itu.”

Dia sudah tinggal di gua selama empat hari, dan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan seorang laki-laki tua dengan pakaian compang camping datang mengahdapnya dan berkata: “Tempat ini dipenuhi dengan ular berbisa dan binatang liar. Ini adalah tempat yang buruk. Kenapa engkau datang dan tinggal sendirian disini, wahai tuan muda yang terhormat?”

Kim Yu Shin menjawab: “Darimanakah anda datang orang tua yang bijaksana? Bolehkah saya bertanya nama anda?”, Orang tua itu menjawab: “Saya tidak punya tempat tinggal, datang dan pergi sesuai dengan keinginan hati. Nama saya adalah Nansung.”

Mendengar hal itu, Kim Yu-shin yakin kalau orang tua yang ada dihadapannya bukan laki-laki sembarangan. Dia membungkuk dua kali dan berbicara dengannya dengan keterpesonaan: “Saya adalah subjek Shilla. Ketika melihat musuh negara ku, hati ini merasa sakit dan dipenuhi dengankesakitan etramat sangat, oleh karena itu saya berada ditempat ini. Saya berharap bisa menemukan pencerahan. Saya memohon dengan segala kerendahan hati, wahai orang tua yang bijaksana, berikan sedikit rasa kasihan pada kesungguhan ku dan ajari pengetahuanmu yang luar biasa itu.” Lelaki itu dian dan tidak bicara. Kim Yu-shin sekali lagi memohon padanya sambil menangis dengan hati tercabik-cabik.

Setelah enam atau tujuh hari, orang tua itu barulah berbicara : “Meskipun engkau masih muda, kau bersungguh-sung berniat untuk mempersatukan tiga kerajaan, ini tentu saja menunjukan bahwa engkau orang yang kuat.” Kemudian orang tua itu mengajarkan semua metode rahasia yang dipunyainya dan berkata: “Berhati-hatilah jika ingin menurunkan ilmu ini pada orang lain, jangan ceroboh. Jika kau menggunakannya denga nnita yang tidak baik, kau akan mengalami kesengsaraan yang tak berujung.” setelah berbicara seperti itu, orang tua itu pergi. Kim yu-shin mengikutinya sekitar 2 mil, tetapi tidak bisa menemuannya dimanapun juga. Diseberang gunung terlihat hanya seperti cahaya lampu — menyebar dengan gemilang seperti kelima warna (semua warna).

note: kalau dalam drama, yang membantunya untuk mempersatukan tiga kerajaan adalah buku yang berisikan map dan juga sejarah Baekje, Koguryo yang ditulis oleh Gukseon Munno. Buku itu memang sengaja diberikan untuk Kim Yu-shin karena Munno melihat dialah yang paling berhak dan punya kemampuan untuk itu.

Diawal-awal pertempurannya melawan Koguryo, Kim Yushin bertempur di bawah komando ayahnya, Kim Sohyun. Prajurit Shilla bertempur untuk menaklukan benteng Nangbi, namun kekalahan demi kekalahan datang bertubi-tubi. Semua itu menyebabkan para prajurit ketakutan dan tidak mau berperang lagi. Kim Yushin yang pada saat itu hanya memimpin pasukan berskala kecil menghadap ayahnya dan mengambil helmet perangnya sambil berkata: “Mereka sudah mengalahkan kami, Tapi sepanjang hidup ku ini sudah dituntun oleh kesetiaan dan kesalehan. Didalam sebuah pertempuran, seseorang haruslah berani.Sekarang, saya sudah pernah mendengar bahwa jika anda menggoncangkan sehelai mantel di samping kerahnya, bulu-bulunya itu akan bergantung lurus. dan jika anda mengangkat kepala tali denga nbenar, maka jala memancing akan terbuka lebar dan bisa dilemparkan jauh melebar. Perkenankanlah saya menjadi kerah dan jala pancing itu.”

Lalu dia melompat ke kudanya, menghunus pedangnya dan melompati parit dan berjuang melawan caranya ke dalam pangkat musuh di mana dia memenggal kepala jenderal.

Dia kembali dengan mengangkat kepala musuh, prajurit Shilla melihat hal ini, keberanian mereka terpancing dan melakukan serangan balik untuk memenangkan pertempuran. Jumlah kepala yang dipenggal ada sekitar 5000 orang dan yang ditawan hidup-hidup jumlahnya lebih dari 1000. Orang-orang dari kota yang diserbu taku untuk melawan dan akhirnya menyerahkan diri.

Kim Yusin mempunyai pertalian yang sangat kuat dengan keluarga kerajaan. Adik perempuannya dinikahi oleh calon Raja, sahabat karib dan juga saudara angkatnya, yaitu  Kim Chun Chu. Mereka sedang bermain bola, tanpa sengaja Kim Yu-shin menginjak pita yang terdapat dalam baju Kim Chun chu, Kim Yu-shin menyuruh adik perempuannya untuk menjahitkan pita itu, ketika melihat Kim Chun Chu, wajah adiknya itu memerah dan Kim Chun Chu jatuh cinta pada pandangan pertama dan terus saja menemuinya siang dan malam. Ketika mengetahui kalau adiknya itu hamil, Kim Yu-shin murka. Namun terselesaikan dengan Kim Chun Chu menikahi adiknya itu. Dan untuk menambah dekat hubungan mereka, Kim Yu-shin menikahi saudara perempuan Kim Chun Chu.

Tahun 642, Baekje sudah menaklukan sebagian tanah Shilla, Kim Chun Chu marah dan berniat untuk balas dendam sengaja datang ke Koguryo untuk meminta bantuan pasukan. Pada masa inilah Kim Chun Chu dan Kim Yu-shin sumpah angkat saudara dengan menggigit jari mereka hingga berdarah sebagai simbol keluarga.

Kim Chun Chu ditawan oleh Raja Koguryo karena dia tahu kalau Kim Chun Chu bukanlah manusia biasa untuk dieksekusi. Kim Yushin melatih 3000 pemuda yang gagah berani untuk menyelamatkan Kim Chun Chu. Tapi sebelum Ratu Shilla memutuskan untuk mengirim Kim Yu-shin ke Koguryo, Raja Koguro segera melepas Kim Chun Chu.

note: dibagian ini baru diketahui tentang keberadaan seorang Ratu kerajaan Shilla, dilihat dari masa jabatanya (632-647). Tahun 642 masih dalam masa kekuasaan Ratu Seondeok.

Di 673, tahun ke 13 Raja Munmu, pada Musim Panas di 6, bulan “semua orang” melihat kesepuluh laki-laki dengan baju baja dan  senjata di tangan mereka yang berjalan menangis dari Rumah Kim Yusin– tiba-tiba mereka tidak terlihat lagi di mana-mana.

Ketika Kim Yusin mendengar ini katanya: “itu adalah pasti tentara rahasia saya yang – merasa bahwa keberuntungan saya sudah habis – sudah harus meninggalkan; saya akan meninggal!” Sudah sepuluh hari ia terbaring di tempat tidur. Raja kemudian mengunjunginya secara personal, Kim Yu-shin berkata: Hamba ingin sekali tetap memegang kekuasaan atas tangan dan kaki hamba untuk melayani tuanku, tetapi penyakit yang hamba derita tidak memungkinkan untuk hal itu, mulai saat ini hamba tidak berani menemui Yang Mulai lagi. Raja kemudian menangis: “Kami memerlukan para menteri sebagai mana layaknya Ikan memerlukan air. Jika kematian anda tidak dapat terelakkan, bagaimana dengan negara ini?”

Pada musim semi, hari pertama bulan ke 7. Kim Yu-shin meninggal dikamar utama miliknya dalam usia 99 tahun. Raja membayari pemakamannya – dengan seribu gulung sutera berwarna dan dua ribu karung padi. Lebih lanjut, dia menyuruh orang menjaga kuburan di Kúmsanwon. Dari Raja Húngdók (826-836) Kim Yusin nantinya dihadiahi hak anumerta “Raja Húngmu” (Húngmu Taewang).

note:Cerita mengenai para Hwarang di masa Kerajaan Shilla berdasarkan dibawah kekuasaan penguasa Shilla, saya sudahi cukup sampai kisah Kim Yu-shin. Karena terlalu sulit menerjemahkan semuanya.Terimakasih sudah membaca bagian I dan 2.

History class over,

Mei singing out!!




Sejarah Korea 104: Hwarang part. 1

Sumber http://www.hwarangdo.com/hwarang.htm

Rangkuman dari laman situs diatas. Kegunaannya, gara-gara Seondeok jadi pengen tahu apa yang terjadi pada masa dinasti Shilla, bukan hanya pada pemerintahan Seondeok tetapi secara keseluruhan.

Dan gue berdoa supaya ada produser sama sutradara yang gak katro, belajar dari drama ini supaya bisa membangkitkan semangat untuk membuat sebuah drama kolosal sejarah Indonesia seperti Gajah Mada, rival Seondeok Mpu Sendok, atau kisah kolosal kerajaan Indonesia lainnya, tapi jangan pake CG yang berlebihan. Kenapa? Karena gue yakin klo anak-anak jaman sekarang gak tau siapa mereka. Kita bisa menghargai sejarah bangsa lain, tapi sejarah epik bangsa sendiri sedikit terlupakan. Coba kalo dikemas semenarik cerita kolosal dari Korea, dan juga China[cerita sejarah asli ya, bukan kolosal biasa] pasti banyak yang suka.

Pendahuluan:

Para pelajar menafsirkan Hwarang sebagai sebuah kelompok pemuda pejuang gagah berani yang berjasa mempersatukan seluruh wilayah semenanjung Korea. Mereka direkrut dari anak-anak pejabat yang paling tampan, didandani dengan riasan wajah, berbaju indah. Mereka dipanggil dengan sebutan Hwarang, yang dihormati oleh semua orang dan punya pengikut sesama pejuang dari negaranya.

KISAH HIDUP PARA KSATRIA HWARANG:


Pada masa pemerintahan Raja Jinheung

Wónhwa [kelompok ksatria wanita pertamakali sebelum Hwarang]


Wónhwa dari Samguk Sagi 04:40, Terjemahan: Peter H. Lee: Sourcebook Peradaban Korea, vol.I, Pers Universitas Columbia, New York, 1993, p.101-102. “Wonhwa (Bunga Asli) terlebih dulu diberikan di istana (Sóllang pertama) pada tahun ketiga puluh tujuh (576) King Chinhúng [Jinheung].” (Haedong Kosúng Chón mengatakan “Wónhwa terlebih dulu dipilih sebagai Sóllang”, Lee, Peter H.: Jiwa Rahib Ulung Korea, Haedong Kosúng Chón, P,66).

Mulanya Raja dan pejabatnya dibingungkan oleh masalah bagaimana cara menemukan orang berbakat. Mereka menginginkan untuk membuat orang -orang bercita rasa tinggi berkelompok agar mereka bisa mengawasi kelakuan mereka dan mengangkat orang yang berbakat hingga penempati posisi untuk bertugas.

Oleh karena itu, dipilihlah dua orang gadis cantik bernama Nammo dan Chunjong, berikut sekitar 3000 orang pengikut dibelakang mereka. Tapi pada akhirnya kedua gadis tersebut malah berkompetisi satu sama lain. Chunjong membujuk Nammo ke rumahnya, menyuguhkan anggur hingga mabuk, dan membuangnya ke sungai. Chunjong dihukum mati karena perbuatannya itu. Kelompok mereka jadi saling bertentangan dan bubar.

Kemudian, untuk menggantikan mereka, dipilihlah kumpulan anak-anak muda berwajah tampan. Wajah mereka dirias dan juga berpakaian indah, mereka dihormati sebagai Hwarang, dan kemudian pengikutnya makin banyak seperti awan yang berarak.

Kaum muda tersebut mengajarkan satu sama lain tentang cara dan kebajikan, menghibur satu sama lain dengan lagu dan musik, atau pergi menaklukan gunung dan sungai yang paling jauh. Banyak yang bisa dipelajari dari peran seorang laki-laki dengan menyaksikannya dalam aktivitas seperti ini. Yang kemampuannya unggul direkomendasikan ke pengadilan. Kim Taemun, di Hwarang Segi-nya (Catatan Sejarah Hwarang), berkata: : “Seterusnya menteri dan pejabat setia dipilih dari mereka, dan begitupula jenderal dan tentara yang pemberani lahir pula dari mereka.”

Dalam penjelasan Choe Chiwon dalam kata pengantar kepada Nallang Pi [seperti yang tertulis dimonumen Ksatria Nan], “Ada banyak sekali jalan yang menakjubkan sekaligus misterius didalam negara, yang disebut Pung’nyu. Yang keasliannya tertuang dalam institusi mendetail sebagai bagian sejarah dari Hwarang. Dengan mereka memeluk ajaran 3 ajaran yang dipelopori oleh Konfusius bahwa seseorang harus berbudi pada kedua orang tua dan setia pada kerajaannya, serata mengikuti ajaran Lao Tzu;bahwa semua orang yang berada di dalam rumah harus bisa menjaga tindak-tanduknya dan juga belajar untuk diam, dan satu lagi ajaran dari seorang pangeran dari India tentang setiap orang harus menghindari perbuatan jahat dan lebih banyak menanamkan benih kebajikan.”

Terbentuknya Hwarang adalah untuk salah satu cara untuk memudahkan raja memerintah kerajaannya, menurut Hwarang Segi dari jaman Wonha hingga akhir dinasti Shilla ada lebih dari 200 orang ksatria, dari ‘Empat Ksatria’ yang paling bijaksana [Namnang, Sullang, Yongnang, dan An Sang]

Sorwon-nang

Note: Asumsi gue, ini Solwon-rang yang jadi kekasihnya Mishil dalam drama. Dan ada yang bikin bingung, sebagian catatan menyatakan kalo Mishil itu cuman tokoh rekaan dalam masa jabatan Raja Jinheung. Tokoh Mishil mengacu pada karakter Wonha Chunjong yang dihukum mati karena membunuh Wonha Namnang. Kedua orang wanita itu adalah ksatria.

“Pada mulanya, Sorwon-rang dibuat menjadi seorang Gukseon* [seseorang yang dianggap abadi/menuju kedewaan dalam sebuah negara]– ini awal mula Hwarang menjadi sebuah badan institusi. Kemudian sebuah monumen didirikan di Myeongju, kini raja memiliki orang untuk menahan segala kejahatan/menolak bala dan melakukan kebajikan, membuat rasa hormat pada atasan dan baik pada bawahan.Untuk hal itu maka lima cara diturunkan secara terus menerus [kebaikan, kebajikan, kepantasan, kebijaksanaan, dan kesetiaan], enam sastra [tatacara, musik, panahan, kepandaian menunggang kuda, kaligrafi, dan ilmu pasti], tiga guru dan enam menteri mulai digunakan.” Samguk Yusa. Terjemahan: Peter H. Lee: Sourcebook Peradaban Korea, vol.I, Pers Universitas Columbia, New York, 1993, P,91.

Sadahan dan Mugwan-nang

Sadaham terlahir dari keluara ningrat, dan bukan hanya itu saja, dia pun keturunan dari penguasa Shilla sebelumnya, tetapi pangkat ningrat miliknya adalah pangkat ningrat eksklusif Shilla yang disebut Jinggeol[chingeol], istilah ‘sistem tulang pangkat’ Samguk Yusa 04:39; 44:417-418.

Sadaham masih berusia lima belas tahun ketika menjadi seorang Hwarang dibawah pimpinan raja Jinheung, dan sudah mempunyai bawahan[Rangdo] sekitar ribuan orang, yang dia sendiri gunakan untuk kepentingannya.

Pada masa itu (562 AD) raja memerintahkan Isabu untuk menyerang salah satu kerajaan utara. Sadaham memohon pada rajanya untuk diijinkan memimpin penyerangan terlebih dahulu. Karena melihat usianya yang masih sangat muda, raja awalnya tidak menyukai ide tersebut, namun akhirnya menyetujui karena bisa mendemontrasikan keberanian dari kaum muda Hwarang. Beliau memasukan Sadaham sebagai komandan dalam penyerangan tersebut.

Sadaham kemudian membujuk Isabu untuk membiarkan dia dan pasukan besarnya membuat penyerangan pertama di benteng Chondallyang. Sadaham orang pertama yang berhasil mencapai gerbang utama dan hasilnya adalah pertempuran awal yang tidak terelakan.

Untuk keberaniannya Raja Jinheung memberikan 300 orang budak hasil tawanan perang, tetapi Sadaham memberikan mereka kebebasan dan meminta mereka berubah haluan untuk melakukan sesuatu yang baik. Sadaham tidak meminta imbalan dengan perbuatannya itu. Karena didesak oleh keluarga kerajaan, dia hanya mengambil hadiah tanah. Seluruh bangsa mengagumi perbuatannya itu.

Tak lama kemudian, ketika Sadaham berusia 17 tahun. Temannya Mugwan-nang meninggal dunia. dari kecil mereka sudah dekat dan bersumpah bersahabat hingga mati. Sumpahnya tersebut adalah, jika salah satu dari mereka ada yang mati terlebih dulu dalam pertempuran. Maka satunya lagi harus bunuh diri. Sadaham ketika mengetahui kematian sahabatnya jatuh dalam duka dan berkabung. Dia menolak untuk tidur dan makan selama 7 hari, dan meninggal di hari ketujuhnya.

note: Dalam drama, Sadaham adalah cinta pertama Mishil. Makin baca dan mengerti sejarah Hwarang, makin yakin kalau Mishil emang tokoh rekaan. Karena ada dua versi Hwarang segi, dan masih perlu dibuktikan secara otentik oleh para sejarahwan Korea masa sekarang.

Kita dapat melihat dari kisah ini, pada awalnya Hwarang tidak ditugaskan untuk terjun ke medan perang untuk bertarung, tetapi ketika Sadaham mendemontrasikan keefektifan seorang aristokrat Hwarang dalam memotivasi pasukan Shilla dalam perang, makin banyak cerita bagaimana Hwarang kini berjuang demi negaranya.

Paegun

Paegun menjadi Hwarang di usia 14 tahun dan telah menikah. Tentang Paegun ada dalam kisah Samguk Sajoryo, yang dirangkum dari buku dari generasi sebelumnya Tongguk Tonggam. Buku Taedong Unbok Kunok yang dibuat oleh Kim Mun Hee (1588) terdapat artikel tentang Wonha, Hwarang dan Gukseon. Dalam buku tersebut terdapat perbedaan catatan sejarah yang menyatakan, Paegun adalah Gukseon dalam masa pemerintahan Raja Jinpyeong dalam usia yang masih sangat muda 14 tahun.

Pada masa pemerintahan Raja Jinjji

Miri-rang dan Buddha Maitreya

Pada masa ini Hwarang dapat diasosiasikan dengan Budha Maitreya [Buddha masa depan]. Salah satu tujuan Hwarang adalah menjadikan dunai sukawati dimana dunia ini terlepas dari kekejaman perang, penyakit dan masalah keduniawian lainnya. setelah pangeran Geummyeong menjadi Raja Jinjji (576-579), hubungan antara Hwarang dan kepercayaan pada Budha Maitreya menjadi lebih solid, seperti yang bisa kita liat dari kisah Samguk Yusa:

Dalam masa pemerintahan Raja Jinjji (576-579), seorang biarawan Chinja ( Chogn-ja)dari biara Hungnyun terus meminta doa dihadapan patung Budha Maitreya. “Oh, Budha Maitreay…tolonglah segera berinkarnasi menjadi seorang Hwarang agar aku bisa bersama dan berbakti pada-Mu!” Doanya yang tulus itu diketahui oleh Budha Maitreya, dan diberi mimpi tentang kedatangan seorang pendeta yang mengatakan,”Jika kau pergi ke biara Suwon di Ungchon (sekarang Kongju) kau akan mendapatkan titah Maitreya.” Chinja yang kaget langsung berdiri dan memberi hormat. Keemudian melangusngkan perjalanan 10 hari untuk menemukan maksud mimpi tersebut.

Setelah sampai di biara Suwon, dia disuruh untuk pergi ke gunung Chon untuk mendapatkan titah Maitreya. Namun rupanya dia melewatkan titah tersebut, oleh karena itu dia kembali lagi ke biara. Setelah satu bulan, Raja Jinjji mendengar kisah itu dan menaykan tentang keotentikannya.

Chinja mencari pemuda yang dimaksud sebagai titah dari Buddha Maitreya di sebuha desa. Dia menemukan seorang pemuda tampan sedang bermain-main di bawah pohon di biara paling utara Yóngmyo.

Chinjam endekatinya dan bertanya, “Kamu Maitreya. Dimana rumah, dan siapa namamu?”

“Nama ku Miri, tapi aku tidak punya nama depan karena orangtuaku sudah meninggal ketika masih kecil.” Jawab pemuda itu.

Kemudian Chinja membawa anak itu ke dalam istana. Raja menyukai dan mengasihinya, oleh karena itu dia dijadikan seorang Gukseon.

Miri mampu menjaga keselarasan dengan para pemuda lainnya, kepantasan dan juga caranya mengajar tidaklah umum. Dia terbukti lebih menonjol baik dalam kebijaksanaan dan kepatuhannya. Dia mengajarkan Hwarangnya tata cara sosial, musik dan lagu serta berlaku patriotik, mengangkat nama Hwarang hingga level tertinggi. Setelah tujuh tahun dengan karir yang cemerlang, dia menghilang ke dunia Sin-son [tanah para jiwa], meninggalkan Raja dan para Hwarang miliknya berkabung.

Chinja masih bersedih, tetapi berhasil menjaga Hwarang milik Miri, dia menanamkan kepercayaan dengan ketulusan hati. Dan tidak diketahui bagaimana Chinja meninggal dunia.

bersambung ke part.2