Mimpi…

house

Mimpi…

Kalo udah ngomongin soal mimpi, bukan kembang tidur ya…tapi mimpi kita dari kecil mo jadi apaan?

Mimpi gue waktu kecil pengen jadi polwan, karena waktu TK…polisi itu keren. Tapi ketika gue SD, liat film-film Hongkong yang rata-rata ada pengacaranya yang keren banget mencoba menangin kasus-kasus orang-orang tertindas. Oke, ntar kalo dah gede gue mau jadi pengacara aja!! Tapi ketika dunia gue dari kecil sampe gede berkutat disekitar nonton film dan salah satu temen gue di facebook bilang, “Kenapa lo gak jadi kritikus film aja?” ketika status gue mengkritik film bikinan Michael Bay ‘Horseman’ yang — nyesel banget gue nontonnya. Padahal itu bikinan Michael Bay– Hello gitu loh?? Transformer?Armageddon? Mungkin karena dia cuman jadi produser doang kali ya, makanya gak bagus. Dennis Quaid sama Zhang Ziyi raw emotion banget kayak aktor dadakan di film itu.

Oke, back to the point. Karena dunia gue deket sama yang namanya film dan serial, ada satu serial yang bikin gue bercita-cita jadi sutradara. Inget serial ini?

x-files

Yup, The X-Files. Karena dari kecil gue sering mengarang bebas, kayaknya seru kalau gue bikin cerita supernatural dan bakalan seru lagi kalau diangkat ke layar tv atau film. Mimpi itu yang terus gue pertahanin sampai sekarang.

Kalau gue jalan-jalan ke tempat baru, otak gue langsung bekerja kayak roll film. Mata gue jadi kamera yang siap nangkep scene-scene yang gue butuhin dalam ‘drama’ gue. Ngehayal udah kayak pekerjaan sehari-hari…you can call me freak, autis, ato apalah. Tapi yang pasti, this is what I want to do.

Ketika gue bilang sama nyokap, waktu itu masih kelas 2 SMP.”Mam, aku pengen jadi sutradara!Ntar lulus SMA masuk IKJ ya?”

Jawaban nyokap bikin gue sakit hati, “Nggak! Ngabisin duit kuliah begituan.”

Karena gak ada yang dukung mimpi gue waktu itu, yah…yang ada jalanin hari-hari sebagai pengarang. Apa aja gue karang, karya pertama gue waktu SMP itu menceritakan petualangan yang terinspirasi sama Amityville Horor karya Jay Anson, karena gue punya hardcopy edisi bahasa Inggris ke-13 tahun 1977 yang sekarang bukan hardcopy lagi tapi udah kena kopi!

Mengisahkan petualangan 2 orang anak SMA yang mencoba mencaritahu sebab hilangnya seorang teman sekolahnya yang menghilang secara misterius. Biasalah, ada ruang rahasia, hantu, sama action seadanya. Tapi cuman kakak gue yang baca, entah dia inget ato kagak kalo adeknya ini suka nulis?

Saat SMA, keputusan gue untuk jadi penulis makin bulet ketika mengenal sosok Stephen King sama John Grisham. Selera gue aneh ya? wkwkw…Dua-duanya selalu bikin gue megap-megap kalo baca karya mereka saking tegang dan kerennya. Tapi karena gak ke-otakkan buat cerita thrillers model mereka, terjunlah gue bikin cerita komedi-romantis.

Kelas 1-2 SMA adalah masa paling aktif. Kalo bisa gue bilang debut pertama, bisa dibilang masa itu debut pertama gue nulis cerita yang dibaca sama orang lain. Asalnya cuman iseng karena jam pelajaran sejarah bikin K.O semua anak di kelas. Tokohnya tak lain dan tak bukan temen sebangku gue si Lidia. Nih anak pinter cuman prefeksionis abis! Makanya gue tulis karakter dia sesuai sama aslinya, dia yang skeptis soal cinta, jatuh cinta sama cowok yang diem-diem punya penyakit kanker. Hubungan love and hate pun terjadi karena Lidia gak pernah ngeliat si cowok sebagai cowok yang bisa dipercaya karena ke-playboy-annya, tukang gonta ganti cewek. Sekalinya si cowok bilang suka sama Lidia dan mencoba membuktikan kalau Lidia adalah orang yang dia cintain selama ini, makanya Lidia mencoba untuk membuka diri sama yang namanya cinta dan juga cowok itu. Tapi pas tahu cowok itu punya penyakit kanker, Lidia jadi inget sama papanya yang meninggal karena TBC dan mencoba untuk merawatnya sampe akhir hayat cowok itu dengan cintanya..hehehe…’A Walk to Remember’ Banget ya? Jelas…lah terinspirasi sama film itu. Judulnya apa ya karya gue itu? Lupa dan ilang bukunya pas benerin rumah. Yang gue maksud sama buku itu secara harafia, emang gue tulis di buku tulis yang tebelnya 100 lembar. Tiap hari nyokap ngomel, kok kerjaan gue tiap pulang pasti beliin buku tulis T T…

Karya gue yang kedua pas kelas 2 judulnya, ‘ Two Side of The Coin’ kalo gak salah itu juga, karena gue nulisnya di kertas folio dan HILANG lagi. Saksi mata, temen satu bangku yang sampe saat ini jadi sobat gue. Teman sekelas udah kayak editor, abis bikin chapter 1…langsung diambil dibaca kayak selebaran koran pas perang dunia ke 2, dari tangan ke tangan lainnya. Lumayanlah ngisi waktu senggang mereka saat pelajaran lagi mumet. Yang ini menceritakan tentang cewek biasa aja suka sama cowok arogan…you guys know the ending kan? The good girl always fall for the bad guy :P…but anyway….semakin banyak gue nulis, semakin lama, semakin gue kehilangan jati diri. Makanya gue mutusin untuk gak nulis dulu. Hingga akhirnya mimpi gue terlupakan.

Terlupa karena, semakin kita dewasa yang kita cari bukan mimpi masa kecil tapi realitas. And believe me, buat orang yang gak punya ambisi dan perencanaan buat masa depan kayak gue, reality is stinks!! Saat itu gue berada diambang, kuliah-mimpi-pekerjaan.Yang gue susutin jadi kuliah-kerja, dan akhirnya gue susutin lagi jadi kerja.

Sadar kalo kehidupan sebagai orang dewasa itu menyulitkan, untuk ngelepasin stress…gue balik lagi nulis. Writing is my dream and my life, seenggaknya gue gak kejar komersil. Gue tulis apa yang gue suka, bagus apa nggak, terserah yang baca!

Gue percaya kalau mimpi satu orang gak bakalan terwujud meskipun dia kerja keras sampai muntah darah, tapi kalau mimpi satu orang di tunjang sama orang lain yang punya mimpi yang sama, kemudian ada lagi satu orang yang punya mimpi yang sama pula dan begitu juga seterusnya dan saling menjaga. Pasti semua bisa terwujud. Itulah yang gue terapin sekarang ini sama kehidupan gue.  Life is never think only about you, but you and the people around you.

Apa kalian sudah berhasil mengejar mimpi masa kecil? Yang mimpi jadi polisi udah jadi polisi, yang mimpi jadi pengacara udah jadi pengacara, mimpi jadi penyanyi udah jadi penyanyi, mimpi jadi astronot udah terbang ke luar angkasa…Kalo balik ditanya, apa gue udah berhasil mengejar mimpi masa kecil? Meskipun gagal semua, gue berani jawab ‘IYA!’ karena “Experience is what you get when you didn’t get what you wanted.” — Pengalaman adalah apa yang kau dapat ketika kau tidak mendapatkan sesuatu yang sangat kau inginkan.

Ngutip kuot Dr. Randy Pausch lagi…

It’s not about how to achieve your dreams. It’s about how to lead your life. If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.

Mei sign off!


Advertisements

Short Movie anyone?

Hari ini karena bete dan nunggu jam pulang yang lamaaa banget, gue streaming-streaming kayak biasa. Eh, nemu short film yang pengen gue liat di mbak you yang makin hari makin manis aja.

Short film yang bertemakan yaoi/queer Boy Meets Boy. Short, silent, but sweet, mungkin karena yang mainnya imut kali ya? But, tenang nih film jauh dari PG-rated.

Part 1

Part 2

Storyline:
On a warm spring day Min-soo, a small boy, meets tall and broad-shouldered Seok-yi inside a bus. Min-soo keeps looking at the intimidating boy whose sharp eyes are hidden under his baseball cap. Min-soos heart starts beating. What will happen to Min-soo and Seok-i ?

courtesy. warmct0bernights

Supernatural Pilot

ATTENTION. I DO NOT OWN SUPERNATURAL SERIES. I JUST WRITE THIS FANFICTIONS  MERELY FOR FUN ONLY.COPYRIGHT 2009.WRITTEN BY.MAEVE.

Supernatural135

========================================================

On The black screen.

{Showing us Dean stabbed Ruby’s with Sam help. Ruby dies but it’s too late. The last seal were broken]

Sam :[to Dean who’s looking at him sadly] I’m sorry, Dean…I’m really sorry.

Dean : [start grabbing Sam’s jacket] talk it later, now we got to run..

Sam : Dean, he’s coming…

Both of them start looking at the crackling floor; it shines makes them covering their sight to take a look what the Angel predicted. Lucifer has rising. What makes Dean more frightened isn’t the apocalypse or Lucifer it self, but what will happen to his brother, Sam.

Dean : We got to go, NOW! [Grabbing his hand and force Sam’s to run]

The lights are following them to the hallway. Sam run half way and tries to confront the lights by himself using his ‘freaky’ way to kill it.

Dean : Sammy, don’t do that please…Sammy!![Half begging with tears]

Sam pointing his hand to make gesture as him chokes the light. But suddenly that lights turns into human shape, with dark blonde hairs and good looking figure of a man. It’s Lucifer. He locks his gaze to Sam.

Lucifer : Well, well, well…look’s who’s here? Isn’t this ‘my boy’, Azazel doing the work fine giving you to me, Sammy. Come to daddy, we had a lot of time playing God with human and wreck havoc the Heaven.

Dean stands up near Sam. Feeling both scared and pissed to that Evil son of a *****.

Dean : Don’t you ever lay finger on my brother or I’ll promise to drag you down to deepest pit by myself!!

Lucifer : And who’s this oxymoron? Oh, let me guess…its must be Dean, the one that makes my cavalries in hell envy because someone drag him up in one piece. Uhmm…tempting.

Dean : Spending 2009 years on the pit makes you ‘Bill Milligan’, huh?!

Lucifer : Funny, Dean…Should I thanks you brothers because breaking the first and the last seal’s for me? My gratitude, but I won’t bow to human. I like to have a chit chat with you two, but I’ve got a plan for the crowning.

And as blinks of the eyes, Lucifer’s gone. Leaving them both confused about what happen? Dean thinks that Lucifer would kill them or at least kidnapped Sam. But this….it leads nowhere. And Dean feels frustrated.

Dean : It’s that it ?! No, chow mien on us?!

Sammy : I don’t know how to say we’re lucky or getting into a deep **** about this?!

Dean : [looking at Sam] Are you okay?

Sammy : Y-yeah…I guess.

Dean : Let’s hits to Bobby. Oh, wait…Cas, I left him with Chuck’s. Let’s get there first; I hope the Archangel won’t wipe his ass because he’s helping me out to get you out of here?!

Sam : Dean…I’m…

Dean : If you wanna say sorry, just keep it to yourself and try to do something about your issues Sam, to do… the right thing. And I’m not dad and so were you…I can’t push you away, Sam. And you know that!

They come out from the abandon covenant; Dean and Sam take a hike on the Impala to meet Castiel. Dean turns on the music to lighting up the Mood. I Shoot the Sheriff heard to…

============

They stop at Chuck’s house, it’s so quite here, so Dean exchange glance to Sammy who’s now picking his gun just in case.
Dean too, picking his gun and click on it, Dean makes a moves, now while Sam ready with his rock salt gun pointing at the door and Dean slowly pulled the knob. The door open, Sam rushes in but only found the empty room without Cas or the prophet in it. The room just like had been hit by huge tornados that torn all in one piece, except the building still stand.

Dean : What the heck?[ Dean still confused with what he’s seen only an empty room]

==============

Bobby’s Place / night

Bobby gives hands them the beers.

Bobby : Now Lucifer walk on earth? Holly **** on the graves, but boys…How do you get out alive from him?

Sam : I don’t know…he just…

Dean tries to gives Bobby a notice not to ask with his eyes gesture.

Bobby : And where’s the angel when you need them?! [Bobby a little bit pissed]

Dean : I guess they leave the party to early, don’t you think so, Bobby?

When they were chit chatting, the front door suddenly opens by itself. This makes then on alert mode grabbing their guns and weaponry.
A girl with black hair, tall, looks like an Asian girl come in from the door, and the door shut itself again without her touching the knob.
Three of them pointing their guns to her while she looks around the surrounding of Bobby’s house with her round eyes.

Maeve : How’d you doing boys? [She greeted them with sly smiles.]

Dean : Ruby is that you?! [Dean full alert]

Maeve : Ruby? Not her, the ***** is dead…Dean. I’m Maeve. Well since Cas turn to me to help his beloved human, while his on his way on a big stakes out, we can be friends right?

Dean : You know Cas? I’m sorry dear to bother, but…[Sam spray her with holy water, but she don’t react by the effect and that makes them stunt]

Sam : Who the hell are you? Tell me the truth?! [Now Sam makes a move and put the knife under her throat, she didn’t makes any resistant move toward him]

Maeve : Try cola, hot shot…Listen…I’m not demon, okay?! I already put barrier around this house, I think it safe for now…Dean, listen! I, you, Sam, and maybe your yellow pages guy must work it with our own ways right now to throw Lucifer back into his cage.

Sam : Wait, wait, wait? ‘We’, ‘on our own’? Do I miss a little something here? Are you an Angel like Castiel?

Maeve : No. I’m Not…the Garrison thinks I’m a freak, and I’m no Angels…Halflings I guess, just like you Sammy…the difference thin lines between us…you’ve been injected by the demon blood while I’m with the grace of one of the freaks.

Dean : So where is Cas now?

Maeve : Before we talk about that? Can you put all the guns away and the knife, thank you…It gives away my mood.

Bobby : How can we trust you that your not one of them?

Maeve : Well, I’ve got wings and several headache when I’ve try to brags out of them to human?
Now…can we talk?

Maeve sit on the sofa, while Sam, Dean and Bobby still on guard even they are now put the guns away.
The three of them still look at her in silence, maybe with heavy thought about who she is? And is she being honest with them about Castiel?

Maeve : Can you guys stop staring? [Maeve smile brightly]

Dean gives her a nod, and tries being friendly.

Dean : Where’s Cas now?

Maeve : I don’t know where he was, but he send me sound waves that says I must help the Winchester boys without letting me know what happen in here?

Sam : Did the archangel taking him with force?! Is he will be one of the falling angels because of us?

Maeve : Angels do have rules, Sam…They obey, just obey…When Zachariah knows he was helping you to runaway to get Sam out of the trouble…he know he’s really in the big ****! Doubt is the only sins that make angels fall. But don’t worry; they can’t demolish Castiel just like that like they did to Anna.

Sam : Lucifer are walking on earth, but where the angels? Why he sent you, not the other angels to help? Wait…Anna?!

Dean : What did they do to Anna?!

Maeve : [She exhales heavily] Who do you think I am, a walking bible? [She put sad expression]
Talking to me is just like chasing tails guys. Here [ She hands out a charm for the brothers on a pouch]…

Dean and Sam Looking at her, both of them still can take the situation well about Lucifer now’s walk on earth, Cas being caught by the higher power, and now this? A girl who called her self so-called-angels-in-half?!

Bobby : You Halfling used mojo too, huh? That’s interesting. What’s in it?
Maeve : Some devil shoe’s string, goofer dust, add some of this and that. Halfling’s like me; they don’t have powerful grace, and so just to make the higher power pissed…I’d join the anarchist. So here I am…[ Maeve smile slyly. Dean has this different thought about the girl who sat infron of him while he’s still scanning her from up to toes. When he looking at her, she just like a blank book, can’t read anything from it].

[The phone rings and that make Bobby rush out to get it in the kitchen. Bobby just nods, and sigh, he close the phone with his palm while he told the guys to turn on the TV to see the weather forecast]

Bobby : Sleine called, bad omen, turn on the TV!

Dean who near the TV set took the remote and turn on in. It said that in Alabama and North Dakota the weather seems un-friendly to human. There’s a lot of flashing lights and thunder out of no where, black clouds seen everywhere, but strangely with no rain as far as we know.

Maeve : The Garrison are fighting…that’s why thunder and lights seen on the sky coverage area. God…this fight is for real I guess?

Two of them, and also Bobby whose now put back the phone hears the news from his kitchen door.

Bobby : And what now?!

Maeve : We’ll, fight! Lucifer can’t win as long as he can’t be crown. The seats in heaven were belong to our Father, the Guy sometimes suck…but He’ll do somethin’ for sure.

Dean : You know about the crowning?

Maeve : Yeah…that’s why we have to stop the crowning.

Sam : What is this crowning all about?

Maeve : I guess you guys miss the Monday school…huh?

Dean : No…we know who he is…but only the crowning stuff we don’t know….

Maeve : Do you know why from century to century the king of earthly race
of men are bound to have a war? Lucifer consummating of his plans through earthly kings and rulers who take to themselves divine honors and who, whether they actually know this or not, rule in the spirit and under the aims of Satan. More races of men use his arch-demons.

Lucifer’s going stronger. If he’s strong enough like what happen today by…sorry I’ve to admits that you two are the one who’s breaking the first and the last seals…

[Maeve looking at two brother’s faces, and Dean gives her a slyly smile, while Sam just small smile, like saying ‘yeah, welcome to the family sister!’ kind of things]…do you know what will happen?

Bobby : Hell, no…You said, Lucifer’s trying GET the crown and be crowned. Damn it!

Sam : What’s wrong?

Bobby : He’s trying to get his mate’s out from the pit all over the world. Holly crap…Big man is right, this is apocalypse?!…When he’s out, the 72 demon will roaming the earth too. He’s going after for the Key, the real Solomon key. If he got the key, he goes to heaven and…Baam! I will take over heaven, I will be God.[Bobby just spitting what he had in mind, and he’s freaking out]

Dean : But Solomon lock all the crazy ass together on his urine pot right? What about the gates when we killed Azazel? How about the gate? The gate which we killed that son of a bitch?!

Maeve : Gate?! It was an East gate, Dean. The true gate’s its beyond any reckon…the one that Azazel open it was like…a bait…to get Sam, to get you furious to know what’s the deal ahead of you. There’s no turning point at this time…But we’re a little bit lucky. When both side fight, we’re can reassured only weak demon like your BFF Sam, that kind of type will wire-tap us. Just like…that one on the freakin’ door!

[Maeve raise her hand, we’re now seeing a bald guy with black eyes trying to loose her strangles on his neck. She can do what Sam does from afar, not eyes to eyes meeting. The baldy struggle badly…and the black smokes come out from the baldies mouth, when the black smokes up hanging on the air, it burns out by itself, causing fire out of nowhere]…now he’s gone. Sorry, I guess the binding spell isn’t working properly.

Dean :[Dean check it out side]Holy…How did you do that?!

End of pilots.

One Sweet Punch! [10th Punch]

sweet_abym

Author. Maeve.

Copyright 2006-2007.

================================================================

10th Punch

Saat aku mau keluar dari tempat latihan, aku bertemu dengan seorang gadis di luar. Dia bertubuh langsing dan juga cantik, sepertinya anak baru? Soalnya ku belum pernah melihatnya di sekitar sekolah ini.
Gadis itu seperti mencari seseorang karena selalu melihat ke segala arah. Langkahnya terhenti ketika melihat Jinnu yang baru saja akan keluar dari pintu.
Apa aku tidak salah lihat? Gadis itu mencari Jinnu. Sepertinya menyenangkan mengintip pemuda dingin yang tidak tahu diri itu. Hihihi…
Aku bersembunyi di samping lemari kaca tempat menyimpan piala-piala usang yang tidak lagi dipajang. Rasa penasaranku benar-benar tinggi, apa gadis itu punya hubungan dengannya?
“Kau jahat! Meninggalkanku sendirian di rumah sebesar itu…” Ujar gadis itu kesal pada Jinnu.
“Sendirian??Rumah??”Aku menguping pembicaraan mereka. Waah, ternyata dia sama seperti pemuda yang lainnya. Hebat juga mengajak seorang gadis untuk main ke rumahnya?? Sepertinya aku harus menjaga jarak dengannya.
“Kau sudah resmi masuk ke sekolah ini?” Tanya Jinnu.
“Iya, dan aku bisa terus bersamamu…” Gadis itu terlihat senang, tapi sebaliknya Jinnu kelihatan tidak senang.
Aku kagum pada gadis itu, terus terang sekali bicaranya? Waah, sepertinya aku harus belajar banyak darinya agar bisa berani seperti itu.
“Aku harus kembali ke kelas…” Jinnu berkata dingin. Tapi gadis itu tidak kalah akal, saat Jinnu mulai melangkahkan kakinya. Dia memeluk Jinnu dari belakang dengan erat.
Aku benar-benar terkejut melihat kejadian tersebut. Gadis itu berani memeluk Jinnu, waah…Apa aku ini sedang bermimpi??
Jinnu langsung berbalik dan membalas pelukannya.
Jadi, itu gadis yang di sukainya? Seleranya tidak buruk. Tapi, ini cerita yang luar biasa. Aku akan pergi ke kelas dan menceritakan hal ini pada Mina, memangnya hanya dia saja yang punya banyak informasi rahasia!
“Maaf, aku tetap pada pendirianku. Kau hanyalah seorang adik bagiku…” Jinnu melepaskan pelukannya, Sara pun hanya bisa berdiri diam. Hatinya sakit. Jinnu pun tidak bisa dan tidak mau melakukan apa-apa yang nantinya akan membuat gadis yang berdiri di hadapannya itu terluka lebih dalam lagi.
“Aku mohon…” pinta Jinnu dengan suara tertahan. Dan pergi dari hadapannya.

*******

Aku masuk ke kelas, seperti yang ku duga. Mina meninggalkanku hanya untuk membaca buku.
Aku menarik bangku kosong dan duduk di sebelahnya. Kedatanganku tidak digubrisnya sama sekali.
“Heh…!” Panggilku, tapi dia tetap tidak bergeming. Apa harus memakai kekerasan? Aku ini paling tidak suka jika akan bicara tapi tidak di dengarkan. Dengan terpaksa aku merebut buku yang tengah di bacanya.
“Kau itu tidak punya pekerjaan lain ya, sampai-sampai harus menghancurkan kesenangan orang lain?” Tanya Mina kesal.
“Iya. Saking kesalnya aku jadi ingin mengerjai orang lain…Bodoh! Memangnya aku sejahat itu?” Balasku.”Heh…aku punya cerita bagus. Apa kau mau dengar?”Tanyaku bersemangat.
“Jika tentang Jinnu, aku tidak tertarik…”
Mina merebut kembali bukunya dari tanganku.
“Memangnya kau tahu apa tentang Jinnu?” Aku penasaran.
“Jika tentang ke akuratan informasi, kau jangan main-main denganku. Aku ini punya nara sumber yang sangat handal dan bisa diharapkan?”
“Tidak mungkin…”Aku tidak percaya.
“Nama gadis itu Sara. Tenang saja, Jinnu hanya menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Cuma, gadis itu tetap bersikeras agar Jinnu mau jadi pacarnya.” Jelas Mina. Aku merinding berada di sisinya, seperti mendapat bocoran informasi langsung dari malaikat. Kadang-kadang ke misteriusan Mina membuatku berfikir bahwa Mina itu bukan berasal dari bumi, bisa saja dia itu mahkluk ruang angkasa yang ingin mencuri informasi rahasia manusia dan akhirnya menguasai bumi. Atau Mina mempunyai indera keenam yang dia asah sejak lahir, jadi dia bisa melihat kejadian atau mengetahui suatu kejadian hanya dari tempat duduknya ini?
“Jangan berfikir terlalu jauh. Aku bukan orang seperti itu!”
Ya ampun. Kenapa dia bisa tahu aku memikirkannya?!
“Apa kau ingin aku jujur?” Tanyanya padaku.
“Hah?”
“Sejujurnya, aku ini hantu…hanya kau yang bisa melihatku. Aku juga membuat mereka menganggapku ada, jadi saat kau bicara denganku kau tidak perlu dianggap harus masuk rumah sakit jiwa. Hantu jaman sekarang lebih hebat dan canggih, kau pasti tidak tahu hal itu kan??” Jelasnya tidak masuk akal.
“Hahaha…haha.”Aku tertawa terpaksa.”Kau ini sedang membuat novel misteri ya? Lumayan juga.”Ujarku menanggapi.”Hantu yang memakai cara cangih mengerjai manusia?”Aku memikirkan ucapannya itu dengan ekspresi serius sambil mengangguk-anggukan kepalaku seperti seorang editor yang menyukai ide penulisnya.
“Kau tidak percaya pada ucapanku?” Ya, lebih baik begitu. Aku melanggar hukum karena kabur saat akan di bawa pulang ke tempat asal dimana roh ku berada dan memilih jalan sebagai hantu gentayangan hanya untuk membalas kebaikan mu karena telah menolong aku dan ibuku, aku akan melakukan yang terbaik untukmu meskipun waktuku sudah tidak cukup lagi untuk terus menerus melarikan diri dari mereka. Untuk itu Eugene, aku memberikan Tei untukmu.
“Mina. Kau marah ya? Tapi, kau sedang membuat cerita novel kan? “ Tanyaku lagi memastikan, tidak menyenangkan jika dia marah padaku hanya gara-gara masalah sepele?
“Iya aku memang sedang buat novel. Kenapa?Mau minta maaf?”Candanya pura-pura marah.
“Beberapa hari ini kau itu mulai berubah jadi aneh, Mina?” Yang aku maksud seringnya dia menghilang dari sekitarku untuk waktu yang lama.
“Aneh?Apa maksudmu?”
“Kau sering menghilang di saat-saat aku membutuhkanmu.” Jawabku khawatir. Mina hanya tersenyum menanggapi kekhawatiranku itu.
“Semua orang harus bisa mengatasi masalahnya sendirian kan? Memangnya aku ini doraemon yang selalu dimintai tolong olehmu terus, lagipula jika aku tidak menghilang mana bisa aku menghimpun semua informasi dari setiap mulut semua orang di sekolah ini.”
Benar juga? Tapi tetap saja aneh bagiku. Mina, kau itu sebenarnya mahkluk dari mana sih?
“Pulang sekolah antar aku ke toko buku, ya?Aku mau beli Prince of Tennis. Oh, Echizen Ryoma…kau pasti merindukanku. Maaf ya membuatmu menunggu lama untuk membeli komik tentang dirimu.” Ucapku penuh perasaan seperti membicarakan seseorang yang ku sukai.
“Kadang-kadang, yang kurasa aneh adalah kau Eugene.” Balasnya dengan berkata dingin padaku.
“Mada mada da ne…*”(kata yang sering diucapkan Echizen Ryoma di Prince of Tennis)Balasku. Entah kenapa aku jadi suka pada komik yang satu itu, mungkin karena pengaruh adikku yang suka komik, sampai-sampai aku berani mengeluarkan uang 200 ribu hanya untuk membeli cosplay jaket Seigaku dan topi Fila warna putih.
“Iya…Cerewet!”

********

Hari ini cuacanya panas sekali, semua jendela di kelas terpaksa di buka semuanya supaya ada angin masuk. Kelemahanku dalam cuaca seperti ini hanya satu, dehidrasi. Makanya aku selalu mencuri-curi kesempatan minum minuman yang ku bawa dari rumah. Kenapa di saat panas terik seperti ini, pelajaran yang ku dapat adalah pelajaran yang membingungkan?Ohhh…nasibku seburuk itukah?

********

Sean dan Dwight berlari ke gym dimana ketua tim Tennis, Taekwondo, dan juga Kendo berada. Ternyata ada masalah besar yang harus dipecahkan bersama. Memang pada awalnya Fay, ketua tim Tennis putera menyalahkan sepenuhnya pada tim Judo, karena masalah ini menyangkut salah satu anggota mereka yang di keluarkan dari sekolah ini. Ren.
Ren berencana untuk menghajar semua anak dari setiap klub olahraga jika ada yang berani masuk ke wilayahnya di daerah pertokoan S yang telah di kuasai bersama beberapa anggota geng berandalan yang direkrut olehnya.
“Dia melayangkan ancamannya untuk kita lewat Dre, kemarin dia dan beberapa temannya mau memperbaiki raket tennis di daerah pertokoan S. Saat menunggu raket itu selesai, Dre memutuskan untuk makan siang di Italian Pizza. Kemudian, datang beberapa orang yang mengenali seragam sekolah kita lalu mereka membawa Dre dan ketiga temannya itu ke lapangan luas dekat stasiun kereta api dan menghajarnya. Hanya itu yang ku dengar dari Dre…” Jelas Fay.
Sean dan Dwight saling pandang dengan wajah kesal.
“Sekarang, Dre dimana?”Tanya Sean.
“Dia di rumah sakit karena lukanya cukup serius. Kau harus melakukan sesuatu, Sean?”
Abym dari klub Kendo yang punya karakter tenang angkat bicara.
“Jangan terlalu tergesa-gesa, Sean. Justru itu yang dia mau. Dan jangan beritahukan tentang masalah ini pada Eugene, dia pasti akan merasa bersalah karena berfikir dialah penyebab semua ini. Mengerti?”
“Iya. Akan ku perhatikan itu.” Jawab Sean langsung mengiyakan. Abym itu negosiator yang paling baik, dibalik sikap tenang menghadapi semua masalah, dia tipe pemikir. Oleh karena itu wajahnya terlihat lebih dewasa daripada umurnya sendiri.
“Mengenai Eugene, biar aku yang menanganinya.” Pinta Jinnu.
“Kenapa harus kau?” Giliran Dwight bicara.
“Entahlah…”Jawabnya dingin tidak pasti. Jinnu juga heran kenapa dia harus berkata seperti itu di hadapan semua orang. Eugene pasti terluka jika mengetahui hal ini, jadi dia akan merelakan harga dirinya untuk sementara waktu.
“Dwight…aku yakin dia punya alasan lain. Biarkan saja! Jinnu, terimakasih.” Ujar Sean padanya.

********

Kenapa yang ada di dalam kepalaku itu ice cream ya?
Uuuuhh…panas sekali, rasa-rasanya ingin sekali pergi ke kolam renang di belakang sekolah dan menceburkan diri. Sepertinya sangat mengasikan!!
Pelajaran ketiga untung sudah selesai, semua anak serempak mengeluh sambil merubah fungsi buku menjadi kipas. Lalu ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sean. Kenapa dia tidak masuk?
“Heh…aku dengar Dre anak IPA X di hajar sampai masuk rumah sakit kemarin.” Anak laki-laki di bangku belakang jajaran Mina mulai bergosip.
“Benarkah? Apa ketahuan siapa pelakunya?”
“Dia Ren. Anak tim judo yang di keluarkan dari sekolah…”Ucapnya pelan pada mereka yang berkerumun ingin tahu.
“Jadi, oleh karena itu Sean tidak masuk?”
“Mungkin, sepertinya Dwight juga tidak ada?” Kata nara sumber sambil melihat ke kelas Dwight yang berada di samping kelas mereka yang hanya terpisah oleh lorong.
Apa?! Aku terkejut dengan berita tersebut. Ren menghajar anak dari klub tennis? Kenapa aku tidak diberitahu?
Brengsek!!!
Aku segera bangun dari tempat duduk ku dan keluar dari kelas untuk mencari Sean beserta Dwight meminta penjelasan. Masalahnya, mungkin gara-gara aku mengalahkannya jadi dia tidak terima dan mengarahkan sasarannya ke setiap klub di sekolah ini?! Kenapa aku tidak bisa meredam amarahku pada saat itu! Sial, percuma saja aku menyesal sekarang. Aku pergi ke tempat latihan, namun tidak menemukan seorangpun di sana. Kemana mereka? Pertemuan itu mereka adakan dimana?
Gym…pasti mereka ada di sana?!
Aku berlari sekencang-kencangnya, rambutku yang tadinya terikat rapi kini terurai saking cepatnya.
Hosh…hosh…hosh! napasku tidak terkendali saat aku menghentikan langkahku di depan pintu gym. Aku tidak bisa masuk karena takut melihat wajah setiap ketua klub yang pasti akan menyalahkanku karena masalah ini. Jantungku berdetak kencang bersamaan dengan napasku yang berderu saling mendahului.
Baru kali ini aku merasakan ketakutan yang berarti!
Kakiku lemas, wajahku pucat. Tapi tidak bisa begini, mau tidak mau aku harus bertanggung jawab. Iya, gara-gara ku. Ini gara-gara ku.
Dengan percaya diri aku membuka pintu gymnastium.
Tidak ada orang lain selain aku dan Jinnu. Jinnu tengah berdiri di tengah-tengah lingkaran basket dengan sebuah bola basket di tangannya.
“Mana…mana yang lain?” Tanyaku gugup.
Jinnu men-dribble bola di tempatnya berdiri. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.
Jinnu kemudian melihat ke arahku.
Jinnu untuk pertamakalinya melihat rambut Eugene yang terurai panjang sepinggang, sesaat dirinya seperti tersihir pada gadis gila yang sering mengajaknya berduel. Kali ini dia memandangnya sebagai seorang perempuan.
“Mau main basket?” Tanyanya dengan nada bukan seperti biasanya.
“Mana yang lain?Aku mau bertemu dengan yang lain.” Aku masih belum berani mendekat padanya.
“Hmmm…kau itu pejudo yang hebat ya? Tapi aku belum pernah melihatmu main basket. Main denganku…” Semakin aku mendengarkannya bicara, aku jadi semakin marah. Entah kenapa juga aku malah menangis?Bodoh.
“Ini…Ini salahku. Jika saat itu aku tidak termakan ucapannya. Dre tidak akan terluka dan Ren juga tidak akan mengincar kalian, aku ini bodoh. SIAL!!” Aku mencoba tidak memperlihatkan sisi cengengku padanya, sebisa mungkin aku menahan air mataku.
Jinnu paling tidak suka jika ada seorang gadis menangis.
“Ren…bukan salahmu. Dia memang mengincar semua orang yang punya kekuatan, itu memang sebagian dari rencananya untuk bisa mengalahkan Sean dan kau dari klub Judo, Aku dan Abym, Hero dan Daniel dari klub taekwondo seperti halnya yang pernah dia lakukan pada anak-anak dari sekolah lain sebelum ini.” Jelasnya.
Apa itu benar? Ren merencanakan hal seperti itu?
“Tapi jika hari itu aku tidak menantangnya dan membiarkannya pergi, hal seperti ini tidak akan terjadi!”
“Bodoh. Tentu saja pasti akan terjadi, kau membantu kami lebih cepat dengan perkelahian itu. Dan untungnya kau tidak apa-apa. Jadi sekarang, biarkan urusan ini di selesaikan oleh pihak laki-laki. Mengerti?” Ucapnya menenangkanku sambil mendribble bola dan melakukan lay-up shoot ke ring. Saat ini, aku akan mempercayai ucapannya dan tidak akan bertindak gegabah untuk sementara waktu. Tapi jika keadaannya berubah, aku tidak akan segan-segan turun tangan.
“Aku…tidak bisa main basket.” Kataku sambil berbalik membelakanginya dan berjalan menuju pintu keluar.
Jinnu menatap ke pergiannya dengan tatapan menyesal. “Aku tahu itu…makanya aku ingin mengajarimu.” Ucapnya setelah Eugene pergi.

Aku kembali ke kelas dengan harapan bisa menemukan Sean dan meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku teringat perkataan jinnu tadi.”Biarkan masalah ini diselesaikan oleh laki-laki”, apa dengan begitu akan lebih baik? Aaah, sialan!! Otakku tidak sedang mau berfikir!
Sean sudah kembali. Dia duduk dengan tenang di kursinya. Dengan langkah ragu aku berjalan ke arahnya, sebisa mungkin aku menenangkan diriku.
“Bodoh, apa kau pikir jika aku tidak tahu, aku tidak akan terluka?” Tanyaku langsung duduk di mejanya dengan wajah murung.
“Kau kenapa, Eugene?”
“Masalah Ren. Kau tidak memanggilku ke pertemuan itu karena kau takut aku terluka kan?”
Sean sedikit terkejut, tapi kenapa bisa secepat ini Eugene mendengar tentang masalah yang di sebabkan oleh Ren. Padahal dia sedang mencari alasan untuk menjelaskan hal ini kepadanya nanti?
“Karena berhasil ku kalahkan, kalian takut bila dia akan menantangku lagi setelah kalian kalah. Benar tidak?”
Sean mengeluarkan permen karet dari saku celananya.”Jangan berfikir terlalu berlebihan…” Dia menawarkan permen karet rasa mint itu padaku, tapi aku tidak suka.
“Kami berlima tidak akan kalah, jadi kau jangan khawatirkan tentang itu.”
“Berlima? Memangnya kalian itu power ranger apa?” Tanyaku sambil mencibir.
“Heh, apa kau pernah lihat power ranger kalah? Meskipun di episode pertama kalah, mereka pasti akan bangkit di episode-episode berikutnya.” Jelasnya sambil memasukan permen itu ke dalam mulutnya.”Rupanya aku telah membuat kesalahan karena memberinya izin untuk menjagamu.” Ucapnya dengan wajah tidak rela sambil melihatku.
“Kau kenapa?”Aku heran.
“Tanpa ragu dia mengatakan ‘Tentang Eugene, serahkan saja padaku!’…”Sean berfikir mencari keanehan dalam kata-kata tersebut.”Apa dia sudah tidak waras mau menjagamu? Seharusnyakan ini tugas Tei?”
Kenapa Sean bawa-bawa nama Jinnu? “Jinnu? Kenapa dengannya?”
“Eugene, sebenarnya kau suka siapa? Jinnu atau Tei?”
“Kenapa kau menanyakan hal ini padaku?”
Sean menyunggingkan senyuman terbaiknya.”Tidak apa-apa, anggap aku tidak pernah bertanya.”
Sean bertingkah aneh, mungkin dia juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi masalah ini? Mengenai siapa yang ku suka, sudah jelas itu pasti Tei. Aku menerawang melihat ke luar dari jendela kelas, kira-kira Tei sedang apa ya?

********
Aku harus segera melakukan sesuatu, aku tidak rela jika yang mendapatkan Eugene itu adalah Jinnu, pemuda sombong yang hanya akan menyakiti hatinya saja. Berbeda dengan Tei. Pokoknya, aku harus mengubah nasib mereka bertiga.
Saat Eugene kembali ke kursinya, Mina memanggilnya.
“Hari ini, sepertinya aku sibuk, jadi tidak bisa mengantarmu ke toko buku. Maaf…” Mina mencoba mencari alasan.
“Oh, aku tahu. Kau pasti masih marah padaku soal tadi, jadi berniat untuk memberontak? Huh, aku pikir kau itu termasuk orang yang pengertian, rupanya penilaian ku salah!” Kataku mengutip kata-kata yang sering diucapkan para pemain drama di tv.
“Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Semoga kau senang di sana.”
Senang apanya? Toko buku bukan arena bermain yang penuh dengan macam-macam permainan, melainkan buku. Tidak ada yang istimewa di sana, kecuali jika ada buku komik yang sedang diskon setengah harga! Tapi…gawat? Toko buku,, restoran, cafetaria, toko baju, mall, tukang gorengan, tukang mie, semua tempat itu ada di jalan pertokoan S yang dikuasai oleh Ren. Bagi anak-anak sekolah, pertokoan S adalah gudangnya hiburan yang paling dekat. Dasar manusia brengsek, mana boleh dia berbuat seperti itu? Ini sih namanya merusak perekonomian daerah. Berandalan seperti mereka mana tahu tentang ekonomi? Huh, aku benci orang seperti itu. Membuatku ingin meninju mereka semua!

Bersambung…

One Sweet Punch! [9th Punch]

sweet_hero

Author. Maeve.

Copyright 2005.

===================================================================

9th Punch

Aku dan adikku berangkat sekolah secara bersamaan, namun di persimpangan jalan dekat taman kami berpisah karena letak sekolahnya agak jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan umum.
Saat aku mulai berfikir untuk mencoba latihan ekstra untuk memperkuat tubuhku yang tidak bisa menerima kekalahan dari si burung unta itu, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Eugene !”
Saat ku menoleh, rupanya itu Tei dan Jinnu. Kenapa juga bocah itu ikut-ikutan datang bersama dengan Tei? Menyebalkan, pagi-pagi sudah melihat wajah masamnya!
Aku menunggu mereka berdua untuk mendekatiku. “Kau mau berangkat ke sekolah?” tentu saja bodoh?! Aduh, kenapa aku selalu menanyakan sesuatu yang sudah jelas akan dia lakukan. Aku berusaha untuk tetap tenang.
“Iya. Kenapa tidak berangkat sama-sama saja?” Tei dengan baik hati mengajakku. Tentu saja aku mau, anak gadis mana yang menolak jika diajak berangkat sekolah bersama-sama dengan pemuda yang disukainya. Tapi, ada pemandangan yang tidak sedap dipandang. Mataku menatapnya dengan penuh keterpaksaan, dalam otakku penuh dengan sumpah serapah yang khusus ditujukan pada bocah burung unta itu.? Tapi, mana boleh aku mengatakannya dihadapan Tei…hehehehe. Dia juga sepertinya tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Huugh! Ingin sekali aku memukulnya dengan gagang sapu atau menendangnya seperti yang kulakukan pada bocah yang kukalahkan kemarin. Ya…memang. Sifat cool-nya itu bisa aku terapkan untuk jadi sentuhan terakhir dalam setiap pertarungan yang ku hadiri. Hhihihihi…rasanya akan menyenangkan menakut-nakuti lawanku dengan wajah sangar seperti yang dilakukannya padaku.
“Kau kenapa?” Tanya Tei.
Aku…sepertinya melamun terlalu banyak…
“Ah, tidak…kita berangkat?”
Tei tersenyum.”Ayo…hari ini sepertinya kau semangat sekali?”
“Tentu saja aku harus semangat…” Supaya aku bisa mengalahkan bocah hidup yang ada disampingmu itu. Aku menguatkan tekadku.
“Malas…aku duluan!”Ujar Jinnu yang kemudian berjalan mendahului kami. Pertama, kupikir dia memang kurang ajar dan tidak punya sopan santun. Tapi jika dipikirkan lebih jauh…Ternyata dia baik juga meninggalkan aku dan Tei berduaan. Meskipun aku masih kesal padamu. Terimakasih…
“Heh…”Panggil Tei padanya.
“Sudahlah…biarkan saja! Apa kau takut dia tersesat dalam perjalanan menuju sekolah? Kalau begitu, seberapa lambat otaknya?” Aku mencoba bercanda, dan Tei menggapinya dengan senyuman. Entah hanya aku yang merasa atau memang Tei selalu tersenyum dalam keadaan apapun? Ah, tapi aku tidak peduli. Senyum itu baguskan? Menandakan bahwa dia itu bukan orang yang sombong. Berbeda dengan adiknya itu!
Aku dan Tei bicara banyak. Menyenangkan sekali? Pertama aku pikir, aku hanya bisa melewatkan masa-masa SMA ku dengan kedaan yang menyedihkan karena perasaanku tak bisa kusampaikan padanya. Mudah-mudahan dengan jalan seperti ini, aku bisa jadi pacarnya. First friend…then girlfriend…hahaha.

********
Mina menunggu ku di gerbang depan sekolah. Aku ingin melihat ekspresinya ketika melihatku sedang berjalan dengan Tei…Dia pasti senang.
“Eugene…aku masih ada urusan dengan anak-anak OSIS. Mereka menungguku di kantor kepala sekolah, jadi tidak bisa mengantarmu masuk ke kelas.”
Aku tersenyum.”Tidak apa-apa.” Begini saja sudah cukup. Hahaha…senangnya dia mengkhawatirkanku. Kemudian, dia pergi dengan setengah berlari.
Mina mengagetkanku. “Rupanya sudah terjadi kemajuan setelah ku tinggal pergi kemarin?”
Ucapnya. Padahal, meruntuhkan rak shinai itu dengan kekuatan yang dimilikinya itu tidak mudah. Tapi, demi membalas kebaikan Eugene Mina tidak peduli.
“Iya…dan aku benar-benar senang. Tapi, kau harus membantuku memaku rak di tempat latihan yang ku rusak kemarin. Menyebalkan?” Aku mulai menggerutu sambil menarik Mina ke ruang latihan sebelum masuk ke kelas untuk belajar.
“Ayo cepat, kau itu seperti belum sarapan saja?” kataku pada Mina yang jalannya pelan seperti kura-kura.
“Aku kan bukan gadis yang sangat energik sepertimu? Aku mengandalkan kelemah lembutan serta keanggunan.”
Ucapannya itu sok sekali.”Iya. Untuk ukuran gadis anggun yang berdada rata sepertimu, menjadi kura-kura itu cukup lumayan. Hehehe…” candaku padanya.
“Eugene…Jinnu!”Tunjuknya padaku ke arah Jinnu yang tengah berlatih kendo. Sial, anak itu kenapa bisa bebas berkeliaran semaunya di depanku?
Jodan no kamae-posisi bersiap-siap dengan shinai di atas kepala. Sepertinya dia serius sekali?
“Pemuda yang menakutkan, benarkan Mina?” Aku menengok ke sebelahku. “Oi…Mina!” Kemana anak itu? Aku kaget karena tidak menemukan dia disampingku, sama seperti kemarin.
Ada apa dengan semua orang akhir-akhir ini?
Aku masuk tidak ya?
Ahh!Kenapa aku jadi pengecut seperti ini?
Aku memacu semangatku dan langsung masuk ke dalam ruang latihan tanpa menghiraukannya sedikitpun. Lagipula, aku merasa dia juga tidak menghiraukanku. Burung unta sialan!
Kalau saja aku siap, aku pasti menantangnya hari ini juga untuk membalas kekalahanku darinya.
Hhhmmpphhff…Eugene, lupakan dulu soal hajar menghajar. Saat itu pasti akan datang, sekarang kau harus fokus pada perbaikan rak yang telah kau rusak…Iya, rak itu…Hah! Aku memeriksa dengan mataku untuk kedua kalinya. Rak itu sudah tidak ada?
“Mana?” Aku setengah kaget karena tidak menemukan rak yang ku maksudkan.
Aku mendekati sebuah rak baru yang masih tercium bau pernisnya. Shinai-shinai itu yang kemarin masih belum ditata rapi, sekarang sudah berada di rak tersebut dengan tertata rapi.
“Hhheh…bocah! Pergi kemana lemari yang rusak itu?” Tanya ku pada bocah tengil yang bernama Jinnu itu. Dia tidak bersuara atau pun melakukan gerak tubuh yang menanggapi pertanyaanku, malah asik sendiri dengan shinainya.
“Hhhehh…! Kau tuli apa bodoh?” tanya ku padanya. Untuk membuyarkan konsentrasi manusia yang super dingin itu, harus dengan cara meremehkannya. Tapi, dia sudah ku sebut bocah, tuli dan bodoh? Masih juga tidak mempedulikanku.
“Itu…gerakkan yang tadi itu disebut waki-gakame kan? Posisi shinaimu ada dibawah…” Ujarku sok tahu dengan mengandalkan insting national geographic series-ku tentang kendo!!
Bagus…Sepertinya, dia mulai memperhatikan perkataanku.
“Kau tahu tentang kendo?”
Tentu saja bodoh…aku ini tidak akan melewatkan satu informasi pun jika mengenai olahraga bela diri. Itu semua untuk mendukung gerak tubuhku jika harus bertarung secara freestyle.
“Sedikit…” Jawabku.
Dengan wajah yang sama ketika menghadapiku, dia melemparkan shinai yang ada ditangannya kepadaku.
“Apa ini?”
“Aku jadi penasaran sampai batas mana kemampuanmu?”
Apa dia menantangku? Tidak. Ingat perkataan adikmu…aku pasti akan lemah jika termakan amarahku sendiri. Jangan terima tantangannya.
“Maaf, aku sedang datang bulan. Tidak enak bergerak sedikit pun…Lain kali saja saja ya?!” Senyumku padanya. Wajahnya sedikit malu ketika aku mengatakan hal yang berbau feminisme itu.
“Heh. Rak?” Aku menanyakan kembali perihal rak yang sudah tergantikan oleh rak baru tersebut kepadnya.
“Tim kendo punya uang berlebih. Jadi, daripada harus memakai rak yang kau perbaiki. Lebih baik beli baru. Malas…aku pergi!” Ujarnya acuh.
Hohoho…sok punya uang? Tapi, benar juga. Koordinasi tim kendo dan tennis-lah yang paling menonjol daripada tim judo? Jika tidak ditagih dengan paksaan, mana mau anak-anak itu keluar biaya untuk beli alat yang macam-macam.
“Tunggu sebentar. Jika aku menantangmu dilain hari, apa kau menyanggupi?” Tanyaku padanya sebelum dia pergi menghilang.
Jinnu menghentikan langkahnya.”Malas…” Ucapnya lagi.
“Heh!…Bisa tidak kau itu serius sebentar?Kau itu laki-laki atau bukan sih!” Tanyaku kesal.
“Apa kau suka Tei? Jika ya, berusahalah. Dia memang baik pada semua orang, jadi kau janagn besar kepala dulu.” Jinnu memberikanku petuah, apa tidak salah? Orang ini, sebenarnya apa maunya?
“Iya. Aku akan berusaha…”Ujarku bersemangat.”Aku jadi ingat.”Heh, sepertinya dari sekian banyak anggota tim kendo hanya kau seorang yang bebas berkeliaran di sekolah. Apa kau tidak perlu belajar sedikitpun?” Aku penasaran tentang hal ini. Aku saja hanya boleh off jika sudah mendekati masa-masa pertandingan, tapi dia bisa seenaknya datang berlatih semaunya.
“Apa kau lupa siapa yang menduduki peringkat pertama nasional dengan nilai sempurna?”
“Siapa?”
Jinnu kaget, masa selama bersekolah di sini Eugene tidak tahu menahu tentang IQ-nya yang mencapai 140 itu? Semua orang saja tahu kalau dia lebih pintar dari Tei yang hanya bisa meraih peringkat 4.
“A-K-U!” Jawabnya sedikit membanggakan diri.
“Masa? Kau jarang sekali belajar, masa bisa jadi juara pertama. Cari mati ya?” Aku mencibir tidak percaya pada ucapannya.
“Aku…malas bicara denganmu.” Ujarnya kesal.”Aku berbeda dengan anak-anak lain, hanya dengan melihat dan mendengar sekali aku langsung bisa mengerjakan semua pelajaran dan mendapatkan nilai sempurna.” Jelasnya lagi.
“Waah…pantas saja kau seperti itu. Merasa semua orang jauh dari levelmu, lalu kau seperti seorang raja yang berkuasa dan bertindak semaumu. Dingin dan menyebalkan.”
Perkataan Eugene itu seperti sebuah pukulan telak baginya. Perkataan Eugene memang benar, hanya saja bukan itu masalahnya.
“Jika kau ingin menantangku, silakan saja…” suruhnya.”Kau sendiri yang tentukan tempat dan waktunya.” Nada bicaranya kembali seperti semula, menakutkan sekali.
“Tentu. Aku akan berusaha untuk bisa mengalahkanmu…” Aku pun mendadak bicara dengan nada serius.
Jinnu tersenyum. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum seperti itu, senyuman yang bisa cepat aku artikan. Anehnya lagi, aku tidak merasa kesal sedikitpun. Dasar pemuda yang aneh.
“Sebaiknya aku masuk kelas…Sampai bertemu lagi, burung unta.” Pamitku padanya, aku ini orang yang jarang berkata seperti itu, jadi anggap dirimu itu beruntung.

Bersambung…

One Sweet Punch! [8th Punch]

sweet_daniel

Author. Maeve.

Copyright 2005.

=================================================================

8th Punch

Mereka berdua mengantarkanku ke rumah. Pertama, Jinnu tidak mau ikut. Tapi Tei memaksanya dengan alasan sekalian pulang.
“Sudah sampai. Terimakasih sudah mengantarkanku pulang.”
“Terimakasih apa? Sudah malam, sebaiknya kau masuk.” Suruh Tei dengan ramahnya. Aduh, aku senang sekali diperhatikan seperti itu olehnya.
“Heh, cepat masuk lalu tidur. Malam ini kau pasti mimpi indah dengan Tei.” Celetuknya lagi.
Baiklah, kau memang minta dihajar!!! Maksudnya itu apa, dengan jujurnya mengatakan semua hal itu? Apa dia ini mau menolongku atau malah mempermalukanku???EEERRRRGGGGG….
KESAAAALLLL!!!!
“Jinnu. Apa kita bisa bicara 4 mata?” tanyaku dengan wajah serius. Akan ku pastikan dia ku hajar malam ini!
“Kau mau apa?!”Tanyanya terkejut.
“Kita bicara!”
“Tidak mau. Aku mau pulang…”
Dasar burung unta!!! Kenapa dia selalu membuatku kesal? Tei hanya tersenyum memperhatikan kami berdua bertingkah seperti anak TK. Saking kesalnya aku melompat dan mengapit kepalanya dengan lenganku dan menjitaknya.
“EHH!!!”betaknya sambil melepaskan diri dari ku. Jinnu mengusap-usap kepalanya.
“Ahhh…Kenapa tidak kulakukan saja daritadi? Mungkin aku tidak akan semenyesal ini.” Aku merasa puas dan bangga. HAHAHHAHAHA…
“Aku tidak mengijinkanmu pacaran dengannya, Tei.” Ujarnya tidak senang.
“Sudahlah…” dia mencoba melerai dua orang itu. Tapi, Tei merasakan ada hal yang berubah dari Jinnu. Sudah lama dia tidak melihat tingkahnya yang seperti itu sejak 7 tahun silam. Apakah Eugene yang membuatnya seperti ini?
“Jinnu, kita pulang.” Suruhnya. Jinnu mengiyakan.
Aku tetap berada diluar sampai mereka pergi menjauh dari rumahku, ternyata apa yang dikatakan Mina itu benar? Tei dan Jinnu kakak beradik.

********
“Kau kelihatan berbeda hari ini?” Tanya Tei. Jinnu memandang kakak tirinya itu sambil berjalan.
“Hmmmpphhf…”Ia menghela napas.”Tidak ada yang berubah. Kau berfikir terlalu banyak…” Ucapnya membela diri.
“Jarang sekali aku melihatmu bertingkah seperti itu, biasanya kau selalu diam. Malah terbilang kejam, untuk ukuran pria tampan sepertimu pada anak perempuan.” Jelas Tei.
Jarang sekali mereka berdua berbincang-bincang seperti ini. Apalagi malam ini cuacanya cerah.
“Anak perempuan? Aku pikir dia itu laki-laki. Mana ada perempuan yang segalak dan sekuat itu seperti dia? Gadis aneh!”
Tei masih penasaran dengan keputusannya untuk pindah kembali ke rumahnya.
“Benar tidak ada apa-apa?”Tanya Tei padanya.
“Tentu saja.” Jawabnya singkat. Untuk kali ini, Tei mencoba untuk percaya padanya. Semoga saja memang tidak ada apa-apa.
Mereka berdua sudah sampai di depan rumah. Malam itu mereka melihat ayah mereka sedang menunggu di pavilliun.
“Kami pulang!” Seru Tei.
Ayahnya yang sedang enak-enak menikmati sinar bulan terkejut melihat siapa yang dibawa oleh Tei.
“Waah. Apa ayah tidak salah lihat? Atau memang matahari sekarang sudah terbit dari barat?”
“Apa kabar?” Tanya Jinnu sopan.
“Tei. Katakan jika apa yang kulihat itu benar? Adikmu itu pulang kan?”
Tei tersenyum mengiyakan.”Iya, Jinnu pulang.”
“Anak bodoh, kau pulang pasti ada masalah? Kau diincar oleh geng karena sifat sok mu itu atau karena hal yang lain?” Pertanyaan itu sama dengan apa yang Tei tanyakan. Jinnu tahu mereka berdua khawatir padanya, namun ia tidak mau mereka membesar-besarkan masalah sepele seperti ini. Lagipula, masalah kedatangan Sara bukan lah hal yang patut dikhawatirkan? Tapi, tadinya sih tidak khawatir. “Perasaan ku jadi tidak enak” Batinnya.
“Aku pergi ke kamarku dulu.”
“Apa kau sudah makan? Tei, masakan sesuatu dulu untuk adikmu sebelum dia pergi tidur.” Suruh ayahnya. Dari luar, ayahnya seperti orangtua kebanyakan yang selalu mengkhawatirkan setiap tidak tanduk anak-anaknya, tapi beruntunglah mereka mempunyai kakek tua seperti beliau yang punya pemikiran luas dan tidak terlalu terobsesi dengan peran orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan tangan besi.
“Cerewet! Aku sudah makan tadi, cepat masuk ke dalam dan temani aku main catur. Pikiranku kacau…”
“Dasar tengil, sepertinya kau tidak ku ajari untuk bersifat arogan?” balas ayahnya sedikit kesal, namun Jinnu dan Tei tahu sikapnya itu hanya balasan untuk balik mencandai Jinnu.
“Entahlah…aku bukan anakmu, tapi sepertinya sifat itu peninggalan semangat masa muda mu dulu. Benarkan kakek tua?”
Ayahnya bangun dan langsung berdiri.”Jadi, kau mau mengalahkan ku yang jago catur ini? Baik….dasar burung unta!”
Tei menampakkan wajah tidak biasa. Ketika ayahnya menyebutkan kata itu, Jinnu pasti marah. Mengucapkan burung unta, sama saja menantang maut.
Jinnu tersenyum sinis.”Dari sekian banyak unggas yang berkeliaran, kenapa burung unta yang jadi trademark-ku? Kakek tua, kau cari mati ya?!” Nadanya penuh kekesalan.”Ah…bagaimana aku harus meembersihkan imej unggas itu?Eisssh…!”
“Tidak. Aku belum mau mati…” Senyumnya. Rupanya yang mengerti kenapa sifat Jinnu berubah hanyalah Tei seorang. Inilah yang terjadi antara Eugene dan Jinnu. Jinnu dan ayahku sering bertengkar seperti ini? Saat Jinnu merasa lelah, dia sering meladeni ayahnya bertengkar tentang hal-hal sepele. Seperti siapa yang seharusnya mencuci piring atau saling menyalahkan ketika ada makanan sisa di kulkas yang tersimpan hingga basi? Tidak penting bukan? Ya, seperti itu rupanya.
“Sudah-sudah. Kita masuk…” Tei melerai pertengkaran antara kedua orang yang masih belum matang itu.
“AYAH MASUK SAJA DULU!!!” Teriak mereka berdua pada Tei.

Jadi, ternyata benar aku ini mirip bapak-bapak ya?Tega sekali…Tei membatin.

********

Aku memaksakan mataku untuk tidur, namun bayangan kekalahan dari si mata burung unta itu terus saja menari-nari di atas kepalaku seperti mengejekku! Haahhh, sebal jadinya. Semakin sebal, semakin kuat rasa lapar yang ada diperutku. Oh iya, itu karena tadi aku hanya makan roti pemberian Tei.
Adikku Yuni sepertinya sudah tertidur lelap. Kami kakak beradik tidur satu kamar, tempat tidur kami dua susun. Yuni di atas, dan aku berada di bawah. Sebenarnya dulu sejak SD, aku selalu menempati tempat tidur Yuni, hanya saja sejak aku bisa judo selalu saja terjadi kecelakaan yang sebenarnya tidak aku sadari? Selalu saja aku selalu cedera, pertama lutut kananku selalu memar. Saat yang satu sembuh, giliran lutut lainnya yang memar secara bergantian. Aneh? Jika tidak, aku selalu terjatuh dari tempat tidur. Pernah sampai lenganku di gips selama 4 bulan, mengerikan! Rupanya, Yuni penasaran dengan pola tidurku yang tidak teratur dan membahayakan itu. Hehehe, dia memang anak yang manis? Dia merekam aktivitas tidurku di handphonenya. Ternyata,…Memalukan sekali??!!!Saat tidur pun sepertinya yang kupikirkan hanyalah bertarung dan bertarung. Jadi, memar di kedua lutut ku itu, mungkin inilah penjelasannya yang paling masuk akal!
“Eugene, kau ribut sekali?” Tanya adikku yang terganggu karena suara gelisahku.
“Maaf. Aku akan mencoba untuk setenang mungkin…”
Yuni kemudian bangun untuk membetulkan letak selimutnya.
“Kau kenapa? Si Tei gagal lagi?”
“Oh, bukan itu. Hari ini aku kesal karena dikalahkan oleh si burung unta itu? Saking kesalnya sampai tidak bisa tidur.”
Yuni berfikir, siapa si burung unta?
“Maksudmu Sean?”
Aku mengambil bantal dan mulai meremas-remasnya dengan kuat.
“Jika dia, aku tidak takut! Yang ini lain…Dia,berbeda. Sorot matanya saat mengalahkanku, benar-benar dingin. Aku jadi takut. Kenapa juga dia harus jadi adiknya Tei?! Membuat aku berfikir dua kali jika akan mengajaknya duel. Ahhkkk…Sebal! Kenapa hal ini harus terjadi padaku saat aku ingin menikmati masa mudaku dengan penuh perasaan kasih??” Kali ini bantal itu kututupkan pada wajahku.
“Tei punya adik?” Yuni bingung.
“Hmmm…adik yang menyebalkan.” Aku menggerutu.
“Apakah dia sehebat itu?”
“Dia licik karena pakai shinai, sementara aku bertangan kosong dan tanpa persiapan.”
Tanpa persiapan? Jangan-jangan maksudnya itu termakan oleh amarahnya sendiri. Itu kebiasaan Eugene yang tidak pernah bisa diubah?Pantas saja kalah.
“Kalah telak?”
“Darimana kau tahu?” Aku bangun dan dengan serius mendengarkan apa yang mau dikatakannya.
“Pantas saja. Bukannya dari dulu aku pernah bilang, jika terus berfikir saat darah tinggimu naik yang ada kau akan kalah. Dinginkan hatimu, jika hatimu dingin mau tidak mau daya pikirmu juga akan dingin, dari situ kau bisa berfikir tenang untuk mengalahkannya dengan jurus apapun yang kau kuasai. Apa kau mengerti?”
“Sedikit.”Aku langsung menjawabnya.
“Pantas sekali jika kau disebut lamban…” ledeknya padaku. Mentang-mentang dirinya pintar!

Aku benci adikku!….mengingatkanku pada sesosok monster yang ku benci!!
Tidak ada yang mengerti tentang aku selain Mina…Besok akan ku marahi dia karena meninggalkanku seorang diri menghadapi masalah gara-gara bocah aneh itu!

Bersambung…

One Sweet Punch! [7th Punch]

sweet_dwight

Author.Maeve.

Copyright 2005.

==================================================================

7th Punch

“Kau sangat senang pada olahraga Judo ya?” Tanya Tei saat membantuku membereskan puing-puing rak shinai.
“Tentu. Aku sangat suka Judo. Memang dulu aku juga merasakan hal yang sama dengan taekwondo. Tapi ternyata, aku hanya ikut-ikutan. Kau tahulah, jika ada seseorang yang kau suka. Pasti apapun kegiatannya akan kau ikuti terus. Namun itu bertahan selama 1 bulan.” Senyumku malu-malu.
“Kapan itu?”
“Saat aku kelas 4 SD.”
“Kenapa berakhir?”
Kini aku malah ingin tertawa,”Mungkin, karena aku mematahkan giginya saat latihan. Menyedihkan bukan?”
Tei tertawa mendengar cerita ku itu.
“Aku juga sama. Dulu aku juga selalu mengikuti kemana gadis yang aku sukai pergi. Ikut kelas ekstrakulikuler yang dia ikuti. Kelas musik, gambar, bahkan renang…” Jelasnya.
“Waah, berarti kau lebih parah dariku! Aku jadi ragu, apa kau itu penguntit ya?” Candaku. Dan dia mengiyakan.
“Saat itu mungkin. Sampai saatnya aku beranikan diri untuk bicara, dialah yang pertamakali bilang suka padaku. Hmm…”Tersenyum.”Seperti apa yang kuharapkan.”Jelasnya lagi.
Apa dia punya pacar? Kenapa aku baru sadar sekarang? Mungkin dia cerita ini padaku hanya untuk memberitahukanku agar menyerah saja.
Senyumlah, tidak apa-apa Eugene!
“Tidak lama setelah kami pacaran. Dia memutuskanku secara sepihak…Aku lebih menyedihkan darimu. Benar tidak?”
APA? Siapa gadis yang tega mencampakkannya begitu saja? Dia tidak tahu apa kalau pria ini adalah benda berharga? Aku jadi kesal mendengar hal ini!
“Bodoh sekali dia? Kalau dia cuma mempermainkanmu, lupakan saja dia. Hah…aku tahu akan seperti ini jadinya, kau itu terlalu baik. Jadi, gadis itu meremehkanmu. Jika gadis itu bukan gadis yang kau suka, aku akan menghajarnya sampai babak belur! Bagaimana, kau pasti senang kan?”
Bodoh! Aku ini bicara apa? Ini sama saja dengan melempar batu di air tenang. Cari mati.
“Iya. Saat itu aku ingin mematahkan kakinya agar dia tetap berada di sisiku selamanya, aku tidak perduli jika aku harus menggendongnya atau menyeretnya di kursi roda. Asalkan dia tetap diam di sampingku itu sudah cukup bagiku.”
Aku rasa, Tei benar-benar mencintai gadis itu.”Kenapa tidak kau lakukan?”
“Percuma jika aku memiliki tubuhnya tapi tidak jiwanya. Dia terlebih dulu meninggalkan ku dari dunia ini…”
“Pergi? Pergi kemana?” Tanyaku agak bingung…
“Dia sudah meninggal.”
Meninggal?Gadis itu sudah meninggal? Apa aku perlu bergembira? Dasar bodoh…
“Maaf…aku pikir…”
“Sudahlah. Lagipula itu bukan salahmu.” Tei berusaha membuatku senang. Tapi tetap saja salahku, coba kalau tadi aku tidak menyebut-nyebut masalah ‘mengikuti orang yang ku suka’, pasti dia tidak ingat tentang hal yang membuat hatinya itu sakit. Tei, maaf…

********

Jinnu minta maaf atas perkataannya itu, tapi di hatinya Sara hanyalah seorang adik, tidak lebih dari itu. Jinnu mengerti tentang perasaan Sara padanya, sejak Jinnu memberikan tangannya pada gadis kecil itu dulu di Australia. Dia berniat untuk melindunginya sampai kapanpun, tapi bukan berarti menjadikannya pacar dikemudian hari.
“Apa kau tetap ingin tinggal di sini?” Tanya Jinnu.
“Hmm…” Angguknya.”Aku ingin tinggal di rumah ini denganmu.”
Tinggal serumah? Apa-apaan ini?
“Tidak. Kau tidak boleh tinggal di sini, kenapa kau tidak cari rumah atau tempat kost sendiri?!” Suruhnya agak ketus.
“Apa kau tega? Aku merantau dari tempat yang jauh dan hanya punya satu kenalan di sini yaitu kau. Kenapa? Apa kau takut kita di suruh menikah? Kalau takut kita menikah saja.”
Dasar anak ini! Batinnya.
“Baiklah, kau tinggal di sini saja.” Keputusan terberat yang pernah diambilnya. Rumah ini sudah rapi dan di tata dengan indah, dia tidak bisa membayangkan sedikit saja jika ada yang berubah, pecah atau kotor oleh debu.

Menyesal!!!
Sara bukan main senangnya? Saking senang dia melompat seraya memeluk Jinnu dengan erat.
“Haaa…thankyou!!” Ucapnya. Jinnu hanya bisa membiarkan hal itu terjadi. Setelah Sara merasa puas memeluknya, dia langsung pergi ke luar sambil membawa tas besar yang sering dipakainya untuk latihan. Untung saja tadi saat ganti baju, Jinnu sudah memperkirakan apa yang diinginkan gadis itu, jadi dia segera mengepak sebagian bajunya ke dalam tas dan berniat tinggal sementara dengan ayah tirinya.
Sara hatinya masih berbunga-bunga, dia sudah merencanakan tentang apa yang akan dilakukannya agar Jinnu merasa betah tinggal dengannya dalam satu rumah.
“Terimakasih. Jinnu…”

********

Aku dan Tei berdiri memandang hasil kerja kami berdua.
“Besok tinggal kita ukur dan memakunya.” Jelas Tei, dari gayanya dia sudah seperti arsitek.
“Hmm..”Anggukku.”Dengan adanya bantu
anmu, aku tidak takut kalau si burung unta itu melihat pekerjaanku. Tei terimakasih…”
Tei tersenyum.”Sama-sama.”

Mina melihat keakraban itu dengan perasaan sedih, namun hatinya merasakan kebahagiaan tersendiri bagi Tei.
Apa kau baik-baik saja Tei? Sudah lama aku ingin melihatmu dekat seperti ini. Banyak sekali yang ingin ku katakan kepadamu, tapi takdir menginginkanku untuk pergi darimu lebih cepat. Maaf, aku hanya sedikit memberimu kenangan dan kebahagiaan.
Mina mengingat kejadian 3 tahun lalu saat SMP, hari terakhir bertemu dengan Tei di sekolah. Dia merencanakan untuk merayakan seratus hari mereka pacaran untuk esok hari. Siang itu sepulang sekolah, Mina minta diantarkan oleh Ibunya ke toko kue untuk membeli kue tart.
Di tengah perjalanan, Ibunya kurang hati-hati sehingga mobilnya oleng dan menabrak sisi sebuah mobil truk, kemudian terguling beberapa kali hingga terbalik. Kondisinya buruk sekali, semua orang berkerumun menyaksikan kecelakaan itu namun tidak ada seorangpun yang berani menolong.
Saat itu, ada seorang anak gadis yang pemberani. Dia segera berlari ke arah mobil yang terbalik itu. Gadis itu melihat ke arah tangki bensin yang mulai bocor, ia takut kalau itu akan menghalangi kesempatannya untuk mengeluarkan dua orang korban kecelakaan tersebut.
Belum juga gadis itu mengusir rasa takutnya tentang hal itu, api mulai memercik. Jadi, dengan sekuat tenaga ia mencari korban yang ternyata masih duduk tertempel di kursi depan mobil. Seorang wanita paruh baya dan juga anak gadisnya yang kira-kira seumuran dengannya.
Gadis itu berusaha agar tidak panik, dia harus tenang jika tidak ingin membahayakan dirinya sendiri dan juga korban. Ia langsung membuka jaketnya dan dililitkan untuk melindungi tangannya, dia berusaha keras memecahkan kaca jendela disebelah sang ibu itu. Dengan diburu waktu, sekarang ia mencoba melepaskan sabuk pengaman yang melindunginya. Tarikkannya ternyata kuat sekali, hanya sekali tarik langsung talinya putus. Gadis itu mengkhawatirkan keadaan anak itu dibandingkan dengan sang ibu, lukanya terlalu parah.
“Bertahanlah, setelah ibumu aku akan mengeluarkanmu dari sini. Bertahanlah.” Ujar gadis itu padanya.
Gadis itu berhasil mengeluarkan sang ibu dari kaca jendela pintu samping. Kemudian dia menyeretnya jauh dari tempat kejadian untuk menghindari ledakan. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, dia berlari kembali ke tempat itu. Kali ini gadis itu harus selamat.
Gadis itu melakukan hal yang sama, namun kendalanya ada di sabuk pengaman yang macet dan sangat sulit diputus. Gadis itu mencium sesuatu mulai terbakar. Dan kali ini dia benar-benar panik, panik sampai-sampai mau menangis.
“AYO EUGENE, KAU PASTI BISA!!!” Gadis itu menyemangati dirinya sendiri sambil terisak-isak. Mina tersadar, dan melihat kearah gadis yang menyebut dirinya Eugene. Tanpa menyadari tentang apa yang telah terjadi pada dirinya.
Eugene melihat mata gadis itu dan berusaha tenang.”Bertahanlah. Aku pasti bisa menolongmu, menolong kucing yang terseret di selokan saja bisa, masa menolongmu tidak? Anak secantik dirimu itu tidak boleh berakhir seperti ini! Pasti kau punya pacar yang tampan, bertahanlah demi dirinya sementara aku berusaha menolongmu. Aku terlalu sibuk dengan Judo, jadi tidak tahu rasanya punya pacar. Aku tahu kau pasti bosan mendengarkanku terus bicara tak karuan, iya kan? Itu karena aku ingin kau tetap fokus pada suaraku. Jangan tidur…Mengerti gadis bodoh?” suruhnya dengan suara lantang.
Apinya mulai merambat.”Ah, sial? Kenapa talinya susah dibuka??” Dia terus saja berusaha membuka tali pengaman tersebut sampai jari-jarinya lecet. Eugene tetap berusaha. Dia terbatuk karena asap mulai tebal.
Eugene mulai tipis harapan…
“Baiklah. Jika aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sini. Kita akan mati sama-sama. Aku tidak menyesali perbuatanku, apalagi jika harus mati sebagai perawan di usia muda! Kita bisa jadi malaikat. Jika tidak diijinkan, kita bisa layangkan protes…” Eugene mulai bicara tidak karuan karena panik.
….Akhirnya. Saat Eugene kehilangan harapan, dia melihat gadis itu tersenyum padanya dan saat itu juga talinya lepas, dan Eugene berhasil mengeluarkannya.
Dan seperti biasa, polisi dan juga ambulan datang terlambat ke tempat kejadian. Lalu, beberapa menit kemudian mobil itu meledak.
Eugene tidak mau masuk koran dan ditanyai polisi tentang penyelamatan tersebut. Biarkanlah ini terjadi seperti kejaiban. Itulah yang dipikirkannya sebelum kabur.
“Kau pasti akan sembuh. Namaku Eugene, dan kita pasti akan bertemu lagi…” Ucapnya pada gadis itu.

Eugene…Tentu saja aku akan mengingatmu.
********

Setelah selesai, Tei mengatarkanku pulang. Kalau tidak salah, rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumahku. Benar-benar suatu keajaiban bisa pulang dengannya seperti ini, Mina pasti senang. Sayang sekali dia sudah pulang, dasar anak aneh? Pulang kenapa tidak bilang dulu padaku? Aku kan jadi mengkhawatirkannya juga.
Saat kami berdua sedang berjalan di dekat taman menuju ke rumahku, disana aku melihat Jinnu sedang makan mie dari kotak makanannya. Asalnya aku mau pura-pura tidak melihatnya. Namun Jinnu terlebih dulu memanggil anak itu.
“Heh!…Kau sedang apa di sini?” Tei setengah berlari ke arahnya.
MENYEBALKAN!!!
“Aku akan kembali ke rumah untuk sementara.”
Tei bingung sekaligus terkejut, ekspresi wajahnya itu terbaca oleh Jinnu.
“Kenapa, kau keberatan?”
“Bu…bukannya begitu!” Tei langsung tersenyum.”Aku sudah lama menantikan hal ini terjadi. Aku jadi tidak kesepian lagi di rumah. HEH…BOCAH TENGIK! Pasti telah terjadi sesuatu…benar begitu kan?” Tei khawatir. Tapi bocah itu tetap tenang makan makanannya.
“Tidak terjadi apa-apa. Kau berfikir terlalu banyak.”
“Tapi, kau tidak mungkin berkata seperti itu jika tidak terjadi apa-apa? Dulu kami memintamu untuk tinggal, tapi kau menolak mentah-mentah. Kini?”
“Dasar sombong…” Ucapku pelan, aku kesal melihat tingkahnya yang dingin dan cuek itu.
Dia kemudian melihat ke arahku. Aku balas saja melihatnya dengan terang-terangan. Siapa yang takut padamu?!
“Cepat sekali kalian kencan?” Tanyanya pada Tei, seraya masih melihatku.

AAAAAKKKKHHH, BOCAH INI???
“Bukan seperti yang kau bayangkan?”Refleksnya.
“Heh…Kau pasti senang? Tei itu tampan, dan juga baik. Tapi, Tei…sifatnya itu buruk. Apa kau tidak malu?”
BAIKLAH…KAU MINTA PERANG YA?? AKAN KU…belum beres aku berfikir untuk memukulnya, Tei langsung membelaku.
“Malah aku berfikir kalau Eugene itu lucu. Menyenangkan bisa bicara dengannya.”
Ah….apa benar? Aku jadi malu?!
“Heh, kau demam ya? Wajahmu kenapa memerah?” Tanya Jinnu padaku.
“Aku tidak demam?” Waah, apa kelihatan kalau aku terharu dengan pembelaan Tei, makanya wajahku memerah seperti ini?
“Heh…Apa kau itu tidak punya etika? Hah…heh…ha…heh! Aku juga punya nama!”
“Anak ini?!” Celetuknya kesal.
“Anak ini?Anak ini. Memangnya aku ini anakmu?!” Balasku lagi. Kenapa aku berfikir kalau sikapnya itu berubah-ubah? Kadang menyeramkan, dan kadang juga menyebalkan dan kadang juga…Hiii? Sifatnya, sepertinya sama saja bagiku.

Bersambung…