One Sweet Punch! [1st Punch]


sweet_eugene

Copyright2005.Author. Maeve.

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini utuh ataupun sebagian tanpa izin penulis.

====================================================================

1st Punch

Baiklah…sepertinya aku harus melakukannya, daripada nanti menyesal! Iya, surat ini harus ku sampaikan padanya hari ini juga. Tei tunggu aku. Aku akan memberikan surat pernyataan cintaku padamu.
Aku mulai mengendap-endap masuk ke kelasnya Tei pagi-pagi sekali, rencananya aku akan simpan surat itu di laci mejanya. Hahaha…kali ini mungkin akan berhasil, jika ini gagal lagi?Aku akan benar-benar melenyapkannya dari pikiranku, dan mulai memandang ke depan. Aduh, sebenarnya apa yang sedang ku bicarakan?
Jujur saja, aku lebih percaya diri untuk menantangnya berduel dari pada mengiriminya surat seperti ini. Eugene, otakmu ditaruh dimana? Ini menyangkut perasaan, kau itu mengiriminya surat untuk menaklukan hatinya. Bukannya untuk menaklukan seorang bos mafia untuk memberikan wilayah kekuasaannya untukmu!! Bodoh >.<
Bagaimana ini? Semakin aku melangkahkan kaki menuju kelasnya, aku jadi semakin ragu. Kirim?Jangan?Kirim?Jangan? Kini aku berada diambang keputusasaan, jika tidak ku berikan? Kapan lagi aku bisa mengutarakan rasa suka ku padanya, dan jika tidak?
Aaahhh!!! Eugene, bulatkan tekadmu. Kau pasti bisa!!
Aku masuk ke kelasnya, dan mulai mencari tempat duduknya Tei. Dia biasa duduk di dekat jendela, urutan ke tiga dari depan meja guru. Dengan sigap aku berlari kecil dan melihat sekeliling agar tidak ada yang curiga atau melihat tingkah bodohku itu.
Hahaha…sepertinya aman? Aku menarik kursinya agar bisa dengan leluasa menaruh surat itu di laci mejanya. Dengan penuh harap aku memasukannya ke dalam laci tempat duduk Tei.
Sreekk!
Ada yang buka pintu.
Aku kaget setengah mati dan hampir membatu, lantas surat tadi pun segera ku ambil kembali dari lacinya tersebut. Dan ku sembunyikan di belakang punggungku. Sial!!!
“A…aa..ku…” Ujarku terbata-bata karena kaget pada mahkluk yang baru saja masuk ke dalam kelas ini. Dia, kalau tidak salah anak dari tim kendo. Jinnu. Tanpa berkata sepatah katapun, dia tidak mempedulikanku dan terus saja berjalan ke tempat duduknya. Ia menggeser kursi dengan tangannya, lalu menaruh tasnya ke dalam laci.
Ekspresi apa itu? Dingin atau ketenangan yang mengenaskan untukku?
“Dasar burung unta.” Belum pernah aku diperlakukan seperti itu. Setidaknya dia bisa basa-basi dengan senyuman, atau sebuah pertanyaan? Kan, setidaknya aku bisa merekayasa alasan kenapa aku ada di kelas yang bukan kelasku pagi-pagi begini? Dengan begitu, mungkin aku bisa menyelamatkan wajahku ini.
Untung saja aku belum menghendaki sebuah pertikaian dengannya. Hanya saja, aku benci dengan sifat sok cool-nya itu di depanku.
Apa dia sama dengan Sean, teman sekelasku? Dia juga punya perangai yang sama. Tapi, setelah beberapa kali pertemuan dipertarungan judo dan aku berhasil mengalahkannya, sifatnya mulai berubah. Ya, meskipun tidak banyak.
Apa aku harus menantangnya?
“Heh…kau itu dari tim kendo kan?”
Ah…kenapa aku mengajukan pertanyaan seperti itu? Aku menunggunya mengatakan sesuatu, namun ia hanya diam menatapku dengan matanya yang kecil itu.
“Kau perlu tahu bahwa aku berada di sini karena…karena…karena seper..tinya, aku tidak usah memberitahumu. Lagipula ini bukan urusanmu. Baiklah, sampai jumpa.”
Aku segera pergi dari tempat itu dengan hasil yang tidak sesuai dengan harapanku.
“AAAAAHHHH… DASAR BURUNG UNTA KEPARAT!!!” Teriakku dilorong, bisa-bisa aku mati karena kesal.
Apa begini saja akhir cinta pertamaku pada Tei? Padahal, surat itu revisi yang di buat oleh adik ku. Aku memang tidak pandai apa-apa? Satu hal yang kubisa hanyalah marah, berkelahi, dan bekerja untuk mendapatkan uang lebih untuk biaya sekolahku dan adikku.
Saat aku mengenal Tei, mungkin saat itu juga aku mengenal cinta. Kalau tidak salah, waktu itu sekolah kami mengadakan home stayed ke pedesaan. Aku dan dia jadi salah satu anggota panitia persiapan, saat itu aku ingat, aku sedang duduk di dapur setelah memotong kayu bakar untuk keperluan memasak. Badanku rasanya sudah mau mati karena capek, bisa-bisanya aku mau menerima pekerjaan ini tanpa dibayar? Seharusnya aku masuk di bagian kesehatan atau bagian dokumentasi, bukannya logistik? Mereka pasti memilihku karena aku ini kuat dan tidak memandangku sebagai perempuan, sangat diskriminatif sekali.
Kemudian, Tei melihatku dengan keadaan basah kuyup karena keringat. Maklum, beberapa hari ini cuacanya memang panas sekali.
“Apa kau haus?” Tanyanya.
“Oh…Iya.”
Ia mengeluarkan minuman kaleng dari dalam tasnya.
“Kau sudah bekerja keras. Tetap semangat!” Ucapnya sambil memberikan minuman itu padaku. Baru kali ini ada seseorang yang memperlakukan ku seperti itu. Biasanya semua anak pria di kelasku selalu acuh jika tidak ku ancam kalau aku menginginkan sesuatu. Tei ramah sekali, pria seperti itu yang mungkin ku suka. Sejak saat itu aku sudah menetapkan bahwa dia harus ku dapatkan.
Tapi…sepertinya sekarang, entahlah?

Bersambung….

2 thoughts on “One Sweet Punch! [1st Punch]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s