One Sweet Punch! [2nd Punch]


sweet_jinnu

Author. Maeve.

copyright2005.

================================================================

2nd punch

Aku menyesali perbuatanku itu. Mungkin, Tei memang bukan orang yang tepat untuk ku. Masalahnya jalanku untuk bisa bersamanya selalu saja gagal.
“Pagi!” Sapa Mina, sahabatku.
“Pagi…”Jawabku dengan ekspresi seperti orang yang akan mati.
“Gagal lagi ya?” Mina menarik kursinya. “Bagaimana ceritanya? Bukannya kalau pagi, belum banyak orang kan?” Mina ingin tahu.
“Iya. Pertama, aku pikir akan berhasil. Lagipula aku sudah berada di tempat duduknya, langkahku tinggal sedikit lagi. Tapi gara-gara Jinnu…”Aku menundukan wajahku dan mulai merengek kesal. “Si brengsek itu tiba-tiba masuk dan menggagalkannya. Minaaaa…aku harus bagaimana??” Aku langsung memeluknya.
“Tenanglah, masih banyak waktu kan?” Mina menenangkanku.”Eugene, tadi kau bilang Jinnu? Apa Jinnu dari tim kendo?”
Aku melepaskan pelukanku.”Iya. Siapa lagi?”
Mina tersenyum, aku betul-betul tidak mengerti apa maksudnya.
“Heh…Jangan bilang kau suka padanya?” Tanyaku dengan pandangan aneh.
“Huh…Jangan berfikir terlalu jauh. Apa kau tahu Jinnu itu siapa?”
“Siapa?”
Mina mulai serius.”Jinnu itu adik tirinya Tei. Dan kalau kau pintar, kau pasti tahu harus apa?”
“Apanya?” Tanyaku. aku tidak tahu sebenarnya Mina bicara tentang apa? Adik tiri?Jinnu dan Tei?
“Kau tahu darimana?Jangan mulai bergosip…Jika berani bicara sedikit lagi tentang Tei, kau tahu akibatnya.”Ancamku.
“Bodoh. Aku kan pernah satu kelas dengan Jinnu saat sekolah dasar, ibunya menikah lagi dengan ayahnya Tei. Setelah menikah, mereka sekeluarga pindah entah kemana? Tapi, saat masuk SMA aku juga heran bisa bertemu dengan Jinnu dan juga Tei. Yang tahu masalah ini mungkin hanya anak-anak yang pernah satu sekolah dengannya dulu. Itu pun aku yakin hanya sedikit orang yang tahu.” Jelas Mina.
Jadi begitu? Pasti mereka tidak akur? Masalahnya, Tei dan Jinnu dua kepribadian yang saling bertolak belakang. Tei yang ramah, Jinnu yang dingin.
“Apa benar yang kau katakan itu?”
“Jika kau tidak percaya ya sudah.” Mina mengeluarkan buku tulisnya dari dalam tas.”Ngomong-ngomong, tugas bahasa inggris dari miss Katheleen sudah kau kerjakan?”
“Tugas? Tugas apa?”
“Kau ini. Tugas puisi…Melihat dari wajahmu, kau pasti belum buat?”
Aku senyum terpaksa.”Puisi?” Aku menghela napas.”Puisi dan gadis seperti diriku ini sangatlah tidak cocok. Apa yang harus ku tulis?”
“Tulis saja tentang perasaanmu pada Tei. Siapa tahu jika bagus, puisi itu akan di pajang di mading setiap kelas. Dan kau tahu apa artinya itu? Artinya, Tei juga pasti akan membacanya.”
Waahh…memang punya sahabat seperti Mina itu tidak ada ruginya. Selain baik dia juga sering membantuku setiap aku tidak bisa berfikir untuk diriku sendiri.
“Tapi, aku tidak tahu harus menulis apa?”
Mina menerawang.”Benar juga, kau itukan hanya berbakat memukuli orang. Berusahalah, kau pasti bisa!” Mina menyemangatiku.
“Pagi…!” Sapa teman-teman sekelas ku yang baru saja masuk pada kami berdua.
Masa aku harus pergi ke perpustakaan untuk mencontek sebuah puisi? Miss Katheleen itu kan sastranya hebat, mana bisa dibohongi oleh anak kecil seperti aku ini? Lagipula, daripada aku pergi ke perpustakaan, lebih baik aku makan dikantin sekolah. Hari ini menunya istimewa!!
Puisi? Hahaha…Aku jadi ingat. Untuk apa aku punya adik perempuan yang punya pengalaman segudang dalam tulis menulis surat cinta? Nanti akan ku SMS.
Pelajaran pertama sudah dimulai. Untung saja pelajaran Miss Katheleen itu adanya setelah jam istirahat. Jadi, masih ada waktu untuk meng-sms adikku. Yuni itu punya bakat alami jika menyangkut soal tulis menulis surat dan puisi cinta. Dan dia juga tidak mau rugi jika ada teman yang ingin karyanya itu, kebanyakkan kliennya di sekolah adalah teman perempuan, ada juga yang laki-laki. Harga untuk setiap karyanya itu sekitar 3000-an, tergantung. Jika dia sedang malas, harganya bisa naik lebih tinggi lagi.
Tei sedang berjalan dilorong dengan beberapa anggota OSIS sehabis selesai rapat. Kemudian saat melewati ruang latihan bela diri, dia melihat Jinnu sedang asik memukuli boneka kayu untuk latihan kendo.
“Kalian duluan saja. Aku nanti menyusul…” Suruhnya pada yang lain.
“Baiklah…”
Tei masuk ke ruang latihan itu setelah teman-teman OSIS-nya pergi. Kemudian Tei mengambil salah satu shinai yang tersusun rapi di rak.
“Apa kau tidak keberatan menerima tantanganku?” Tanya Tei pada Jinnu sambil mengayun-ayunkan shinai (pedang kendo) tersebut ditangannya.
Jinnu tersenyum dengan pandangan meremehkan. Keringatnya bercucuran karena terlalu semangat latihan.
“Meskipun kau sering menantangku, kau tahu kan hasil akhirnya selalu sama? Jadi, lupakanlah…”

********

Sehabis pelajaran pertama, aku langsung melarikan diri untuk pergi ke tempat latihan Judo. Masalahnya, aku ada rapat dengan Sean dan yang lainnya menyangkut pemberhentian salah seorang anggota karena selalu berkelahi dan hampir melibatkan sekolah untuk masalah ini.
“Mudah-mudahan anak-anak kendo sudah selesai latihan.” Tim Kendo, Judo, Teakwondo hanya punya satu tempat latihan. Memang luasnya tidak sebesar gym atau lapangan olahraga di luar sana. Tapi cukup lumayan, lebih besar daripada tempat latihan ballet.
Saat aku sampai di tempat latihan, aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Tei memegang pedang Kendo sementara Jinnu hanya melihatnya dengan pandangan yang sama dengan yang terjadi dengannya tadi pagi. Dingin.
Aku tidak berani masuk, hanya berani diam dan melihat sebenarnya apa yang akan mereka berdua lakukan.
Tei mengacungkan pedangnya ke arah Jinnu. Lalu dengan mudah dia memukul kan pedangnya itu pada boneka latihan.
“Pinggang! Pundak! Kepala!” Tei memukul ke tiga titik permainan kendo.
“Itu juga bisa ku terapkan untuk mengalahkanmu bukan?” lanjutnya.
Jinnu tidak terpengaruh sama sekali. Dia tetap berdiri ditempatnya .
Sebenarnya mereka sedang apa sih?
Aku ragu kalau mereka saling bertukar ilmu beladiri.
Tei mulai pasang kuda-kuda tegap. Jinnu yang memakai baju kendo-nya yang terlihat seperti kimono lebih keren daripada Tei, apalagi keringat yang membuat rambutnya basah. Macho sekali!! Mereka berdua jika berhadapan satu sama lain sudah seperti seorang pangeran dan ksatria.
“Tiga kali pukulan sekaligus, kau pasti kalah.” Jinnu, gaya bicaranya beda sekali dengan Tei.
Waah, sepertinya kejadian seperti ini jarang sekali kusaksikan? Sean rekan pria yang satu tim denganku, tiba-tiba menepuk bahuku membuatku kaget, dan hampir saja dia ku tarik dan ku banting ke lantai, namun jika ku lakukan pasti akan membuat dua orang itu tidak jadi bertarung.
“Shuuuut!!”Aku menutup mulutnya dan membawanya ke bawah jendela.
“Kau itu kenapa?”Bisiknya.
“Diam…Tei dan Jinnu mau bertarung.”Aku mengintip lagi dari jendela sambil balas berbisik. Sean juga jadi ikut-ikutan mengintip.
“Jika terjadi, Tei pasti kalah.”
“Tidak mungkin…Tei pasti menang.”
“Hoo…jadi kau mau taruhan?” Sean masih berbisik menantangku.
“Baik. Siapa takut siapa?! 50.000!” Bisikku mengeluarkan sejumlah uang dari kantong kemejaku.
“Baik…”

Jinnu masih diam di tempatnya ketika Tei mulai menyerang.
“ H H H I I I I A A A !!!!!”
Jinnu menghindar dari serangannya dengan memutarkan tubuhnya berputar setengah lingkaran dengan posisi kaki masih berancang-ancang, kemudian dia menyerang dengan memukul lekukan kakinya. Tei terjatuh berlutut bertumpu pada satu kakinya lagi.
“Pinggang!”
“Aaakkkhhh!!”
“Bahu!”
“Aaaaakkkkhhh!!”
“Kepala…”
Tei meringis kesakitan ketika adik tirinya itu menyerangnya dengan jurus sederhana. Untung saja, saat Jinnu bilang ‘kepala’, dia tidak memukulkan pedangnya dengan keras. Hanya jitakan kecil, yang mengisyaratkan tindakannya menantangnya duel adalah tindakan bodoh.
“Sudah kukatakan, kau tidak akan menang melawanku. Tidak dulu ataupun sekarang…”
“Kau licik…” Kata Tei.
Saat mendengarnya berbicara seperti itu, aku kelepasan bicara.
“Sombong sekali? Dasar burung unta!”
HAH!!!Aduh, bagaimana ini??
Aku mengatakan hal tersebut karena aku marah dengan perlakuan Jinnu pada kakaknya.Apa aku tidak boleh kesal pada orang yang telah menghajar orang yang ku sukai??
“Siapa disana?” Tanya Jinnu. Dasar memang otak petarung, Jinnu tahu saja darimana suara tersebut berasal.
“Siapa itu yang mengintip di jendela?” Tanyanya sekali lagi. Tei pun jadi penasaran, apa iya ada yang melihat mereka?
Sean bodoh. Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, dia berani mengorbankanku dengan cara mendorong tubuh ku ke pintu masuk.
“Hehh!!!” Teriakku padanya pelan. Tapi Sean tetap saja mendorong tubuhku.
“Ini yang mengintip!!!” ucapnya dengan keras. Lalu dengan bodohnya dia malah berlari meninggalkanku begitu saja.
Aduuuhhh!!!
Aku harus apa? Sean…Kau pasti mati hari ini!!!
Aku menguatkan diri. Tenang, tarik napas. Dan senyum…Lalu segalanya akan baik. Angkat tangan dan bilang…
“Hi!” Bodoh…
dingin…
“Oh…Eugene?” Tei mengenaliku. Akhirnya Tei mengenaliku…Apa kubilang, segalanya pasti beres dengan senyuman.
“Sedang apa kau di sana?”
Senyum….
. ”Melihat kalian bertarung…Tei apa kau baik-baik saja? Lututmu tidak luka kan?”Aku khawatir.
“Tidak. Lagipula Jinnu tidak benar-benar melukaiku. Kau jangan khawatir.”
“Oh…benarkah? Kalau begitu aku tidak khawatir. Tapi…tadi si burung unta itu kelihatan serius sekali menghajarmu…” Ups! Kenapa aku harus menyebut adiknya itu Burung unta??
“Burung unta?” Tanya Tei melihat ke arah Jinnu.”Hahaha…sudah lama aku tidak mendengar julukan itu. Tapi, Eugene…Kau harus hati-hati dengannya. Kalau dia marah dengan julukan yang kau berikan itu, panggil aku.” Senyum Tei padaku.
Jadi dia juga punya panggilan yang sama? Matanya yang sipit itu memang mirip dengan burung unta.
“Tenang saja. Jika dia marah…akan ku terima tantangannya untuk berkelahi. Aku juga jadi ingin tahu, tanpa shinai-nya itu apa dia masih bisa memukul?”
Jinnu tersenyum.”Hmm…apa kau masih menyimpan surat yang ingin kau berikan pada kakak ku pagi tadi?”

SKAK MAT!!!

“BURUNG UNTA KEPARAT!!!!” Teriakku sambil berlari kearahnya. Jika sudah tahu tentang hal itu untuk apa kau beritahukan pada kakakmu?!! Dasar sial!
Aku mengambil pedang dari tangan Tei dan menyerangnya.
“Hei…kalian berdua berhenti!! Jika ada masalah, bisa dibicarakan?!”Sepertinya ucapan Tei tidak ada yang mendengar satu pun juga.
“Kau memang bermaksud untuk mempermalukanku ya?” kataku saat dia berhasil menahan pukulanku yang tadinya akan mengenai kepalanya.
“Apa kau selalu naik darah seperti ini?” Tanyanya tenang menahan seranganku.
“Apa?! Tidak akan ku maaf kan…” Aku terbakar amarah.
Karena aku belajar judo, gerakkanku tidak cukup cepat. Saat dia melihat titik kelemahanku, dia berhasil memukul pelan pergelangan tanganku hingga membuatku terkejut. Aku mengira dengan pukulannya yang terlihat cepat dan keras pasti akan melukai pergelangan ku. Karena takut, pedang itu terlepas dari genggamanku.
Lalu, dia mendesakku berjalan mundur dengan acungan pedangnya tepat diwajahku. Tanpa ku ketahui, aku sudah berada di luar ruangan.
“Kau kalah…”Ucapnya dingin dan berjalan melaluiku.
Jantungku berdebar kencang. Apa ini rasanya kalah? Aku juga pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Iya, saat aku mengalahkan Sean dulu. Sama seperti saat itu. Apa seperti inikah rasanya dikalahkan?
Jinnu orang nomor dua terkuat setelah Abym dari tim kendo mengalahkan Eugene, satu-satunya wanita terkuat dari tim Judo? Tidak, ini tidak seimbang. Dia memakai pedang, pedang adalah keahliannya. Sedangkan aku? Aku tidak bisa ilmu pedang. Jika bertarung dengan tangan kosong, pasti ada kesempatan dimana aku bisa melihat kelemahannya dan mengalahkannya.
“Eugene, kau tidak apa-apa?” Tanya Tei.
“Jinnu itu berengsek, ya?”
Tei bingung dengan pertanyaanku itu.”Oh…dia memang seperti itu, maafkan dia ya?”
“Maaf? Kenapa kau yang minta maaf?…” Aku tersenyum stress. “Apa aku juga harus belajar pedang untuk bisa mengalahkannya? Si burung unta itu harus membayar kekalahanku.”
Tei memandangku dengan perasaan takut.”Tadi, apa ada yang terluka? Kau tidak apa-apa kan, Eugene? Jangan membuatku takut…”
“Hehehe…tenang saja. Aku baik-baik saja…SEMANGAT!!!”Aku segera pergi dari tempat itu dengan harga diri yang terluka.
Aku tidak suka pandangan dingin si burung unta itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s