One Sweet Punch! [4th Punch]


sweet_hero_sean

Author. Maeve.

Copyright 2005.

=================================================================

4th Punch

Being a good guy, is all you can do to me.
So treat me well, and I will make your life easier.
Loving you is like holding a big stone that I must hit until it break.
But don’t worry, I ‘m not gonna use it to smash your head’s off.
I’m a woman too, that need you to hold me, be there beside me to laugh and cry.
For you, I will learn how to love.
I’m a woman too, that need you to hold me, be there beside me to protected me in the night.
For you I will learn how to love

“Mina, apa tidak terlalu aneh?”
“Justru ini gayamu. Jika terlalu puitis dan elegan seperti milikku ini. Pasti miss Katheleen curiga. “
Aku menatap dan membaca puisi itu dengan seksama. Iya juga ya? Jika dibuat lebih puitis pasti aneh. Lagipula, kan aku sudah bilang. Puisi dan gadis tomboi sepertiku adalah dua hal yang tidak bisa disatukan!!
Aku sedikit cemas ketika pelajaran bahasa inggris dimulai. Satu persatu anak-anak maju kedepan mengumpulkan tugasnya, ketika giliranku. Miss Katheleen langsung membacanya.
“Hahaha…ini sebuah kemajuan, selamat Eugene. Kau sekarang bisa memperhalus gaya tulisan dan bahasamu, tidak seperti dulu-dulu yang ku pikir itu surat ancaman.” Aku tidak tahu itu pujian atau kritikan. Tapi jika Miss Katheleen tertawa seperti itu, berarti puisi itu lumayan. Mina…Terimakasih.

********

Syukurlah semua pelajaran untuk hari ini selesai. Sean dan aku segera pergi ke tempat latihan sepulang sekolah untuk menagani masalah yang tadi sempat tertunda gara-gara Sean dan aku.
“Apa semua orang sudah berkumpul?” Tanya Sean pada anggota tim Judo selaku ketua.
“Sudah!” Seru yang lainnya.
“Baik kalau begitu. Bisa kau suruh Ren masuk, Eugene?” suruhnya padaku.
“Baik, akan kupanggil dia.” Aku segera pergi memanggil orang tersebut yang tengah berdiri diluar.
“Ren. Ketua menyuruhmu masuk!”
Aku dan dia masuk menemui Sean bersama-sama.
“Kalian tahu arti bela diri?” Tanya Sean pada kami semua yang berada di ruang latihan.“Bela diri dalam arti yang sederhana yaitu membela diri dari serangan atau perbuatan yang mengancam keselamatan diri kita. Apa perbuatanmu itu bisa disebut membela diri, Ren?”
Ren yang punya masalah, hanya bisa diam.
“Kau mengumpulkan anak buah dan menghajar orang-orang yang mengganggumu dengan teknik Judo apa bukan perbuatan yang memalukan? Sebelum aku memberikan keputusanku, aku masih memberimu waktu untuk membela dirimu.”
Ren tersenyum sinis.”Enyahlah kalian!” Katanya pada Sean dan anggota lainnya.
Orang ini benar-benar punya nyali? Sudah salah bukannya minta maaf, malah berani berkata ‘enyahlah’? Ucapannya itu membuatku marah.
“Hei, bocah tengik! Judo itu bukan untuk orang lemah seperti mu.” Jelasku padanya dengan sikap meremehkannya.”Jika kau hebat coba lawan aku? Kita lihat siapa yang enyah dari sini.” Tantangku.
Aku memakai seragam Judo ku, seraya aku mengambil seragam miliknya dari tangan Sean, kemudian melemparkannya ke wajah anak itu.
“Aku tidak perlu itu.”Jawabnya dengan penuh kemarahan.
“Baguslah. Free-style? No rules.” Aku tersenyum sinis menantangnya di tanding free-style.
Dalam hati aku hanya terus bertanya, kenapa setiap kali ada masalah dalam tim, kenapa aku pula yang sering di korbankan untuk melakukan tugas eksekusi? Inikan seharusnya tugas Sean!
Aku tahu anak ini tidak sabaran jika diajak sparring, jadi sepertinya jika ku akumulasikan semua gerakkan yang akan dia pergunakan. Setidaknya dalam dua atau tiga serangan pertama dia pasti bisa kutahan.
Ren mulai pasang kuda-kuda. Tapi kenapa?!
“Aku berubah pikiran.” Ucapnya sombong.
Bocah tengik itu sepertinya akan mempergunakan teknik bertarung K-1.
Baik, siapa takut siapa?

********

“Sean…Apa kau yakin Eugene bisa mengalahkan bocah itu?” Tanya Dwight, salah seorang anggota tim judo.
“Aku tidak yakin, tapi Eugene itu gampang sekali belajar dari gerakkan orang lain jika sedang bertarung. Hanya saja, jika dia panik atau terpancing oleh amarahnya sendiri. Gerakkannya yang hancur-hancuran, pasti akan terbaca oleh lawan.”
Tapi aku yakin, insting bertahan hidupnya lebih tinggi dari semua orang yang ada di sini. Eugene, semangat! Anak kecil itu bisa kau kalahkan hanya dalam hitungan menit.
Anak itu tanpa bicara apa-apa lagi langsung melancarkan tendangan sampingnya ke arah muka ku. Dengan cepat aku segera menghindar, dari hembusan angin yang mengenai wajahku itu, aku baru tahu anak itu tidak main-main.
Baiklah, akan ku anggap ini pemanasan sebelum aku menantangnya. Aku juga tidak mau kalah?
Baik. Aku mengepalkan tinju ku, dengan sigap aku mengarahkan setiap pukulanku ke berbagai tempat di tubuhnya. Perut! Wajah! Ya, aku lihat ada kesempatan untuk membuatnya ambruk setelah dia berhasil menahan seranganku yang lumayan cepat itu. Aku memakai gerakkan windmills bak ala bboys yang cekatan dengan gerakkan itu juga, aku berhasil mengenai wajahnya dengan kakiku. Seperti yang ku inginkan.
“Ahhkk!” dia menahan sakit. Dia mundur sebentar untuk mengusap pipinya yang terluka terkena kakiku tadi.
Tapi aku tidak mau puas dulu. Biasanya, emosi lawan pasti akan naik dan mencoba balik menyerang.
Kenapa saat menyerang Jinnu, aku tidak bisa konsentrasi seperti ini? Jinnu, Jinnu, Jinnu!!! Sadarlah Eugene, saat ini kau sedang melawan orang lain! Fokus.
Benar seperti yang ku perkirakan. Bocah itu menjadi-jadi, dia menyerangku dengan pukulan-pukulan yang bertubi-tubi. Lalu, saat menahan serangannya aku tidak tahu kalau dia sudah menarik tangan kiriku. Saat belum bisa menyeimbangkan tubuhku, kakinya sudah berhasil menendang punggung bagian bawahku. SIAL!!
“EUGENE!!” Teriak yang lain padaku khawatir.
“Sean, bagaimana ini?”
“Apa kau lihat Eugene menyerah?!” Jawabnya dingin, percaya kalau Eugene bisa mengatasinya. Jika bocah itu minta maaf dan bisa berlaku sopan, Eugene tidak mungkin emosi dan menantangnya seperti itu?
“Bagaimana, sakit?!” dengan soknya dia berbicara padaku. Cih, aku malas melihat bocah seperti ini ada di timku! Eugene, segera habisi bocah ini dan segera pulang untuk isi perutmu!!
“Apa bicaramu sudah selesai? Perutku lapar.” Aku mengacuhkannya sambil mengusap-usap bagian atas bokongku yang sakit karena tendangannya..

********

Jinnu ternyata melihat kejadian itu. Tatapannya kagum melihat gadis sekecil itu punya tenaga dan juga nyali yang besar untuk mengalahkan pemuda yang kira-kira lebih besar darinya.
“Kau mulai menganggapnya menarik kan?” Tanya Mina yang tiba-tiba berada di sampingnya. Tapi Jinnu tidak mengindahkan pertanyaannya. Mina hanya tersenyum kemudian memandangnya dari samping,”Aku bingung, jodoh Eugene adalah kau. Tapi sedikitpun hatimu belum terbuka? Apa aku harus mengingkari perjanjianku dan memberikannya pada Tei?”
Jinnu mulai merasa aneh. Seperti ada seseorang yang bicara padanya, ia melihat ke samping tapi tidak ada seorang pun.
“Kau dan semua orang tidak bisa melihatku. Aku hanya bagaikan bayangan bagi Eugene yang pernah menyelamatkanku. Meskipun pada akhirnya aku pun mati.”

********

Berfikir Eugene! Apa cara efektif untuk mengalahkannya?? Aku diam di tempatku, berharap menemukan sesuatu.
Tendang!Tendang!Jika melihat ruang kosong dan jika dia tidak kelihatan siap, iya! Aku akan melakukannya. Aha! kenapa tidak terfikir sebelumnya? Sudah lama aku tidak melakukan spin kick. Karena tubuhnya lebih tinggi dari ku, aku harus menyudutkannya ke arah dimana bisa menemukan tumpuan agar bisa melompat?!
Aku melihat ke segala arah. Di sini hanya ada boneka latihan tim kendo, dan rak shinai yang terbuat dari kayu. Rak itu sepertinya cukup kuat.
Baik!
“Aku bukan bermaksud sombong, tapi bocah sepertimu memang tidak pantas berada di tim Judo ku. Sebagai seniormu, anggap ini sebagai proses eksekusimu. Apa kau mengerti?”
“Eksekusi?” Sean terkejut seraya membatin dalam hatinya.
Bocah tengik itu memasang kuda-kuda lagi, tapi tanpa basa-basi aku meyerangnya dengan apa yang tadi telah aku perhitungkan. Buat dia terdesak cukup sampai mendekati rak penyimpanan shinai, di situ aku akan mengalahkannya.
Tendang!Pukul!Tendang!Pukul! Melelahkan memang, tapi itu harus kulakukan. Bocah itu terus menahan guna melindungi bagian-bagian vital tubuhnya, mungkin dia sudah mengerti bahwa aku sudah tidak main-main lagi.
Dia terdesak. Bagus…waktunya tepat!
Aku berlari ke arah rak dan bertumpu pada satu kakiku untuk sebuah lompatan 50:50.
Dan, akhirnya. Misi selesai. Ren jatuh tergeletak setelah tendangan itu mengenai bagian dadanya, seharusnya itu mengenai kepalanya. Namun lompatanku kurang sempurna. Bocah itu hebat juga, jika orang biasa terkena tendangan seperti itu pasti akan pingsan? Tapi dia bisa bertahan.
Saat dia mencoba untuk bangun, aku tidak akan membuatnya kembali meyerangku. Jadi, aku menarik kerah bajunya dan menyeretnya dengan wajah tanpa ekspresi keluar dari ruang latihan.
“Kau kalah…”Kataku langsung berbalik membelakanginya dan kemudian berjalan pelan (gaya itu ku tiru dari Jinnu). KEJAM. Jinnu, dengan cara inilah aku juga akan mengalahkanmu.

“HHAHAHAHAHAH!!!KALIAN LIHAT TADI AKSIKU???” Aku membanggakan diri pada rekan-rekanku sambil melopat-lompat tertawa kegirangan.

( Ekspresi semuanya..??????)
“Memang tidak berubah sama sekali?” Ujar Sean.
“Kau membuat kami semua hampir kena serangan jantung!!” Sahut yang lainnya.

Sebagian lainnya bilang.”Eugene kereeeeennn!!!”
Ren belum mengaku kalah, namun dia pergi meninggalkan tempat itu. Langkahnya terhenti ketika melihat Jinnu di lorong yang sama dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s