One Sweet Punch![3rd Punch]


sweet_tei

Author. Maeve.

Copyright2005

==================================================================

3rd Punch

Semuanya itu gara-gara Sean. Jika dia tidak menantangku! Jika dia tidak mendorongku! Mungkin ini semua tidak akan terjadi? Baik, aku akan meminta perhitungan dengannya. Sean, bersiaplah…
Braaaakkk!!!
Aku mendorong pintu kelas ku dengan keras. Semua mata memandangku, untung saja guru yang mengajar sudah pergi. Mereka semua sudah tahu sifatku yang terlalu sering naik darah tanpa sebab.
“SEAN!!” Aku memanggilnya lantang. Dia terkejut ketika melihatku.
“Eugene?” Tanyanya dengan nada takut.
Tanpa basa-basi lagi aku berjalan ke arahnya.”Semua ini gara-gara kau, kalau kau tidak mendorongku tadi, mana mungkin aku kalah melawannya! Jadi sekarang aku sedang kesal…Sean.”
Sean menelan ludah, baru kali ini dia melihat Eugene semarah itu hanya gara-gara kalah taruhan. Memang, Eugene itu pelit dan juga rakus. Tapi kalau kalah taruhan, kalah ya kalah?
“Maaf…Uang taruhan. Anggap kau yang menang, bagaimana? Hehehe…” Sean memaksakan diri untuk tersenyum.
“AAAAAAAKKKKHHH!!!!” Teriakku kesal dihadapannya.
Ting Tong.
Bel istirahat.

“Eugene, hari ini di kantin menunya enak lho. Makan yuk, perutku sudah lapar.” Jurus Mina yang satu ini paling tidak bisa ku tolak.
“Benarkah? Kira-kira apa menunya ya?” Tanyaku. Sean sekiranya bisa bernapas lega atas bantuan bel istirahat itu.
Guuubraaak!
“Anak itu?” Sean heran kenapa ada juga perempuan yang seperti itu, sebagai teman dia khawatir kalau Tei tidak akan menyukainya karena sifat grasak grusuknya yang tidak karuan.

********

Aku makan dengan lahap. Menu utamanya daging sapi kecap, salad, dan juga eskrim. Waah, rasanya segala amarahku lenyap setelah melihat makanan itu di depanku.
“Tadi itu kau kenapa? Marah-marah tanpa sebab?”
Aku menyuapkan satu sendok penuh makanan ke dalam mulutku.
“Iyu semuuuua….mmm…gara-gara si brengsek Sean. Dasar manusia yang tidak setia kawan!” Membahas masalah itu lagi membuatku jadi semakin lapar.
“Tapi kau senangkan?” Tanya Mina tersenyum.
“Senang? Kenapa aku harus senang?”
“Kau dan Tei akhirnya bisa bicara, bodoh?!”
Benar juga, kami berdua tadi bicara banyak dan anehnya aku tidak gugup seperti biasanya?
“Aneh…kenapa kau bisa tahu?”
Mina tersenyum lagi.”Aku tahu semua cerita orang di sekolah ini, tapi…apa semua orang di sekolah ini tahu ceritaku?” Benar juga. Mina itu termasuk orang yang misterius, jarang sekali ada orang yang membicarakannya. Dan juga tidak semua orang mengenalnya.
“Dasar…”Ledekku kesal dengan pernyataannya tadi, memangnya dia itu agen rahasia apa?
“Apa ada yang sakit?Tadi kau kalah, kan?”
Aku hampir saja tercekik ketika dia mengatakan hal tersebut.
“Kau itu manusia atau bukan sih?”
“Hmmm…dekati adiknya berarti kau bisa dekati kakaknya. Lihatkan, kau berkelahi dan hasilnya Tei mengkhawatirkanmu. Bukannya itu bagus?” Jelas Mina, meskipun aku masih belum bisa menangkap apa maksud dari perkataannya.
“Maksudmu?”
“Begini…Jinnu sudah tahukan kalau kau itu suka pada Tei? Jelaskan maksudmu, minta bantuannya.”
Aku kaget dengan ucapannya itu. Meminta bantuan pada orang yang telah mengalahkanmu?
“Sepertinya aku lebih baik mati daripada harus minta bantuan si burung unta itu.”
Mina mengelengkan kepalanya.”Ah…kalau begini bagaimana?” Mina tiba-tiba mendapatkan ide.
“Apa?”
“Pertukaran.”Jawab Mina.
“Pertukaran?” Aku masih bingung.
“Iya…Eugene. Kau itu pasti sakit hati kan akibat kekalahanmu yang tidak seimbang itu? Bagaimana jika kau terus dekati dia minta tanding ulang. Kalau dia pria yang masih punya hati, pasti dia akan mengacuhkanmu. Tapi kau jangan berhenti sampai di situ saja, terus dekati! Lalu, kau tinggal berkata padanya. Jika kau tidak mau bertarung? Bantu aku mendekati kakakmu! Mudahkan?”
Iya juga. Kekalahan yang ku terima hari ini memang tidak seimbang, selain itu juga kurang persiapan.
“Eugene…itu dia. Jinnu!” Mina memberi kode dengan anggukkan wajahnya menyuruhku melihat ke belakang.
Iya. Ternyata benar dia? Apa aku harus melakukan hal ini? Rasanya aneh, jika aku berkata seperti itu sekarang. Tidak! Ide Mina itu gila, aku tidak akan melakukannya. Sampai kapan pun aku tidak akan menyanggupi permintaannya itu, aku memang tidak pintar. Tapi aku tidak bodoh untuk kehilangan harga diriku untuk kedua kalinya pada orang yang sama!
Pokoknya tidak!
Jinnu memandangku dari bangkunya. Dia memang tampan, malah lebih tampan dari Tei. Aduh, kenapa aku malah membandingkan mereka berdua?
AWAS KAU! Aku balas memandangnya dengan perasaan penuh amarah. Melihat pandangan matanya yang dingin, membuatku ingin memukul-mukulkan kepalan tanganku ke wajahnya. Namun sekarang Jinnu malah asik makan makanannya. Ternyata, baik manusia berdarah dingin macam Jinnu dan gadis berdarah panas seperti ku, memiliki satu kesamaan. Sama-sama punya nafsu makan yang tinggi. Hehehe…Ku maafkan kau kali ini?!

Aku mengirimkan sms pada adikku untuk membuatkanku sebuah puisi dalam bahasa Inggris. Tapi bateraiku tiba-tiba habis. Wah, bisa gawat ini? Waktu yang tersisa hanya 15 menit lagi?
Hhhhmmmphhhfff….Terpaksa jalan ini ku tempuh. Aku menemui Sena, anak kelas 2-3. Itu, kelasnya Tei. Dia seorang pemuda yang pernah ku tolong saat dia di cegat oleh sekelompok pemuda dari sekolah lain untuk dimintai uang. Pasti, dia mau kan kalau di suruh balas budi? Hahaha…Itulah enaknya kalau jadi pahlawan.
Mina mengantarku untuk menemui Sena, di sana juga aku juga melihat Tei sedang duduk memandang ke luar jendela.
“Eugene…kau harus bisa basa-basi. Tanya saja dia tentang Sena?”
“Apa harus?”
Mina berfikir dalam hati, kapan anak ini akan dewasa?
“Hi, Tei! Apa kau lihat Sena?” Mina angkat bicara.
Tei mengalihkan pandangannya ke arah kami berdua. Dia tersenyum, siluet tubuhnya terkena sinar matahari terkesan sangat indah.
“Sena? Tadi dia ada, mungkin sedang keluar. Ada apa mencarinya?”
“Tidak ada apa-apa, hanya ada urusan sebentar.” Kataku padanya.
“Bagaimana ini Mina?” Aku tidak tahu harus berupaya apalagi? Ide ku sudah habis. Padahal Sena itu harapanku satu-satunya, dia itu lumayan nilai bahasa Inggrisnya.
“Yah…Terpaksa, akan ku buat kan untuk mu.” Mina berbaik hati.
“Kalau tahu begini, untuk apa kau mempersulitku?! Dasar bocah.”
Aku akan berbuat apa saja untuk mu, Eugene. Termasuk mencampuri nasib mu. Mina membatin.
“Aku hanya ingin tahu, sejauh mana usahamu.” Mina tersenyum puas melihat diriku yang kelabakkan mencari bantuan.
Waah…ternyata Mina memang teman terbaikku.
“Aku duluan ya!”Ujarku pada Tei. Dan Tei menaggapinya dengan lambaian tangannya.
Tapi saat aku sedang berjalan kembali menuju kelasku di lantai bawah, saat di tangga aku bertemu dengan si burung unta.
KESAL!!! Tapi aku harus berusaha tenang, jangan terpancing emosi akibat kekalahan tadi. Setelah kami saling melewati satu sama lain, tiba-tiba dia bicara padaku.
“Heh…” Panggilnya. Pertama, aku merasakan hal yang tidak biasanya. Seperti rasa senang. Mungkin dia tidak enak padaku tentang kejadian tadi pagi, dan mau minta maaf.
“Apa? Kau mau mengajak ku berkelahi lagi?” Tanya ku dengan suara datar, memang hanya dia saja yang bisa bersikap dingin seperti itu?
“Kancing bajumu terbuka.”
Setelah itu, si wajah tanpa ekspresi itu menaiki anak tangga lagi menuju ke kelasnya.
“Apa!?” Aku terkejut.
Mina langsung memeriksanya.“Iya. Eugene, kancing kemejamu terbuka. Dan…hahaha…Jinnu…Hahaha” Mina tidak bisa berhenti tertawa.
“Ahhhh….brengsek! Bertemu dengannya membuatku sial. BURUNG UNTA SIALAN?? KENAPA HARUS KAU YANG MELIHATNYA??”

Burung unta brengsek!!
Kau pasti senang bukan, Jinnu? Inilah gadis yang seharusnya bersamamu, bukan kakakmu. Tapi kau belum menyadarinya. Mina membatin lagi…

“AKAN KUHAJAR DIA!! KALI INI AKAN KU BUAT SEADIL-ADILNYA, TIDAK AKAN KUBIARKAN HIDUPKU TERTIMPA SIAL GARA-GARA ORANG ITU.”
“Sudahlah, lagipula bukan salahnya kan? Kau saja yang tidak sadar kancingmu terbuka.”
“Mina. Jangan-jangan kau juga melihatnya tapi kau tidak memberitahukanku ya?!” Aku memandangnya dengan penuh rasa curiga.
“Kau tidak percaya padaku? Baik…Lupakan saja puisi bahasa Inggris itu.” Balas Mina.
“Baiklah…Aku percaya.” Aku terpaksa mengiyakan.
“Lebih baik kancingkan kemejamu dulu sebelum masuk kelas, masih untung Jinnu yang lihat. Kalau Sean, kau pasti jadi bahan lawakkan.”
Aku mengancingkan kancing yang lepas tadi.”Coba saja jika dia berani? Ku patahkan lehernya dengan sekali banting.”
Tapi kan, kenapa harus si keparat itu yang melihat? Aku benar-benar tidak bisa lagi menampakkan wajahku apalagi menantangnya duel.
Duel?DUEL??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s