One Sweet Punch! [5th Punch]


sweet_ren

Author. Maeve.

Copyright 2005.

=================================================================

5th Punch

Jinnu samar-samar tersenyum melihat tingkah gadis yang menyukai Tei itu dari tempatnya berdiri.
Treek. Treeek!
Seperti ada bunyi yang aneh?
“Eugeeeeeen…Itu, raknya?” Tunjuk Sean padaku. Aku masih tersenyum saat melihat perlahan-lahan rak itu ambruk.
“Ahhh…bagaimana ini? Si burung unta itu pasti balik menaruh dendam padaku. Mana urusanku tentang Tei belum selesai lagi?” Rintihku. Kakiku lemas, saking takutnya bertemu dengan Jinnu.
Rekan se timku, berangsur-angsur pergi. Sean melihat ke arah mereka.”Heh!Kalian mau kemana?”
“Kami tidak mau berurusan dengan tim kendo! Ketua…kami serahkan masalah ini pada anda!” Seru mereka semua sambil lari tunggang langgang.
“Pengecut!” Ucap Sean kesal. “Eugene, kau tidak apa-apa?”
“Seperti apa yang kau lihat. JADI APANYA YANG TIDAK APA-APA?APA AKU TERLIHAT TIDAK APA-APA!” Bentakku padanya saking kesalnya aku duduk jatuh terkulai di lantai.”Heeeeeiiisss…Sial,sial,sial,sial!! Kenapa hal ini terjadi padaku.”
Hhhhmmmpppffhh…Minaaaa tolong aku!!!
Mina datang tepat pada waktunya. Dia heran melihat rak shinai milik tim kendo hancur berantakkan.
“Oh…”Mina kaget.”Jangan bilang rak itu adalah korbanmu Eugene? Karena aku tidak tahu harus berkata apa?” Mina mendekatiku.
“Tunggu sebentar…”Ujar Sean.”Aku akan menjelaskannya pada ketua tim kendo, siapa tahu dia bisa melepaskanmu soal ini.”
“Iya. Terimakasih…Heh!Kenapa dari gaya bicaramu kesannya aku telah membuat salah seorang dari anggota tim kendo babak belur?”

A-P-A S-A-L-A-H-K-U!!!!!

Daripada giliran Sean yang kena pukul, dia secepatnya lari kabur sama seperti anak buahnya yang lain.
“Ah…” Saat berlari, dia bertemu dengan Jinnu.
“Jinnu…maaf. Ku serahkan Eugene padamu!” Pintanya dengan wajah penuh penyesalan sambil menepuk bahunya.
“Maafkan aku, Eugene.” Ucap Sean meninggalkan lokasi kejadian. Sedangkan Jinnu hanya terheran-heran dengan tingkah Sean yang begitu ketakutan.
“Sedang apa kau disini?” tanya Jinnu tiba-tiba sudah jongkok di belakangku. Wajahnya dekat sekali dengan pundakku sampai-sampai terasa hembusan napasnya.
“Ya, ampun!!” Kaget.” HEH! BISA TIDAK JANGAN BERJALAN SAMBIL MENGENDAP-ENDAP? Kau membuatku hampir saja kena serangan jantung.”
Jinnu menganggap ini menarik. Gadis ini marah padanya.
“Rak itu…Siapa yang menghancurkannya? Gawat kalau shinainya ikutan rusak. Harga shinai sekarang tidak murah,…”Katanya sambil berdiri memandang ke arah tumpukan itu.

“Yayaya…sebenarnya…hehe! Ada sedikit kesalah pahaman. Dan itu terjadi begitu saja.” Aku malu sekaligus gugup menjelaskan hal itu kepadanya.
“Memang…harga shinainya mahal ya? Kira-kira berapa?Apa kurang dari 100 ribu?” Tanyaku malu-malu.
“Kenapa? Kau mau ganti kerusakan? Orang bodoh mana bertumpu pada rak yang sudah lapuk seperti itu…” Sindirnya.
Untung saja Mina mengingatkanku untuk tidak naik darah. Masalahnya orang bodoh yang ia maksud itu aku!
“Hehehe…begitu ya?”Aku senyum dengan penuh keterpaksaan.
“Sean sudah menyerahkanmu padaku. Berarti, rak itu tanggung jawabmu.”
APA? Kurang ajar!
“Maksudmu, dia menyuruhku untuk mengurusi semua ini?”
Jinnu mengangguk ”Jadi, tolong bereskan seperti sedia kala. Eksekusioner…!”
Eksekusioner? Jadi, dia tahu semua kejadiannya? Hmmm…dia melihatku mungkin ingin tahu ketangkasanku menghajar orang itu.
“Jadi kau tadi melihatku?”
Jinnu tidak mendengar perkataanku. Aku paling tidak suka diacuhkan jika sedang bicara.
“Heh, apa kau tahu kalau kau itu menyebalkan?”
“Iya.” Jawabnya dingin.
Aduh…ternyata dia sadar diri?

“Kalau begitu, sebagai anggota tim kendo. Kau juga turut bertanggung jawab.” Aku sok tahu.
Jinnu bingung.”Kenapa aku harus ikut bertanggungjawab?”
Hehehe…”Kau yang bilang kalau rak itu rapuh. Karena hal ini sudah terjadi, berarti sebagai anggota kau berhak ikut andil memperbaiki kan?”
Rasanya ingin tertawa. Tapi…Mina mana? Tadi dia disini? Aku melihat kesegala arah, tapi tidak menemukannya. Padahal, aku ingin dia melihat wajah Jinnu yang kaget itu.
“Lakukan saja sendiri. Aku tidak ada urusan dengan rak itu.” Dia malah mau pergi.
Dasar burung unta!
“Baik. Sebelum itu…Kau traktir aku makan dulu. Aku tidak bisa bekerja jika dengan mengandalkan perut kosong.” Tawarku.”Bagaimana?”
“Gadis ini?” Tanyanya heran dalam hati.
“Atau kau mau aku ganggu terus sampai kau menyerah?” Tantangku. Dia hanya melihat wajahku dengan wajah tanpa ekspresi, ciri khas mahkluk mengerikan di depanku ini.
“Coba saja.” Kali ini dia benar-benar pergi.
Aku ingin menghentikan langkahnya, tapi jika tanpa persiapan. Aku rasa aku belum berani.
Jinnu keluar dari ruang latihan. Sambil jalan dia mengeluarkan handphonenya dan menelpon Tei.
Tei ternyata masih berada di sekolah setelah jam pulang, katanya masih ada urusan OSIS yang harus ditangani.
“Jika kau ada waktu, bawakan makanan untuk gadis yang menyukaimu itu.” Suruhnya pada Tei.
“Siapa? Eugene?”
“Dia kelaparan dan sekarang ada di tempat latihan. Dia mau memperbaiki rak shinai kami yang tidak sengaja ia rusak. Aku pulang duluan.”
Jinnu menutup telponnya.
“Hallo!Jinnu??Jin…Ah, dasar manusia berdarah dingin!” Keluhnya. “Eugene?”

Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s