One Sweet Punch! [10th Punch]


sweet_abym

Author. Maeve.

Copyright 2006-2007.

================================================================

10th Punch

Saat aku mau keluar dari tempat latihan, aku bertemu dengan seorang gadis di luar. Dia bertubuh langsing dan juga cantik, sepertinya anak baru? Soalnya ku belum pernah melihatnya di sekitar sekolah ini.
Gadis itu seperti mencari seseorang karena selalu melihat ke segala arah. Langkahnya terhenti ketika melihat Jinnu yang baru saja akan keluar dari pintu.
Apa aku tidak salah lihat? Gadis itu mencari Jinnu. Sepertinya menyenangkan mengintip pemuda dingin yang tidak tahu diri itu. Hihihi…
Aku bersembunyi di samping lemari kaca tempat menyimpan piala-piala usang yang tidak lagi dipajang. Rasa penasaranku benar-benar tinggi, apa gadis itu punya hubungan dengannya?
“Kau jahat! Meninggalkanku sendirian di rumah sebesar itu…” Ujar gadis itu kesal pada Jinnu.
“Sendirian??Rumah??”Aku menguping pembicaraan mereka. Waah, ternyata dia sama seperti pemuda yang lainnya. Hebat juga mengajak seorang gadis untuk main ke rumahnya?? Sepertinya aku harus menjaga jarak dengannya.
“Kau sudah resmi masuk ke sekolah ini?” Tanya Jinnu.
“Iya, dan aku bisa terus bersamamu…” Gadis itu terlihat senang, tapi sebaliknya Jinnu kelihatan tidak senang.
Aku kagum pada gadis itu, terus terang sekali bicaranya? Waah, sepertinya aku harus belajar banyak darinya agar bisa berani seperti itu.
“Aku harus kembali ke kelas…” Jinnu berkata dingin. Tapi gadis itu tidak kalah akal, saat Jinnu mulai melangkahkan kakinya. Dia memeluk Jinnu dari belakang dengan erat.
Aku benar-benar terkejut melihat kejadian tersebut. Gadis itu berani memeluk Jinnu, waah…Apa aku ini sedang bermimpi??
Jinnu langsung berbalik dan membalas pelukannya.
Jadi, itu gadis yang di sukainya? Seleranya tidak buruk. Tapi, ini cerita yang luar biasa. Aku akan pergi ke kelas dan menceritakan hal ini pada Mina, memangnya hanya dia saja yang punya banyak informasi rahasia!
“Maaf, aku tetap pada pendirianku. Kau hanyalah seorang adik bagiku…” Jinnu melepaskan pelukannya, Sara pun hanya bisa berdiri diam. Hatinya sakit. Jinnu pun tidak bisa dan tidak mau melakukan apa-apa yang nantinya akan membuat gadis yang berdiri di hadapannya itu terluka lebih dalam lagi.
“Aku mohon…” pinta Jinnu dengan suara tertahan. Dan pergi dari hadapannya.

*******

Aku masuk ke kelas, seperti yang ku duga. Mina meninggalkanku hanya untuk membaca buku.
Aku menarik bangku kosong dan duduk di sebelahnya. Kedatanganku tidak digubrisnya sama sekali.
“Heh…!” Panggilku, tapi dia tetap tidak bergeming. Apa harus memakai kekerasan? Aku ini paling tidak suka jika akan bicara tapi tidak di dengarkan. Dengan terpaksa aku merebut buku yang tengah di bacanya.
“Kau itu tidak punya pekerjaan lain ya, sampai-sampai harus menghancurkan kesenangan orang lain?” Tanya Mina kesal.
“Iya. Saking kesalnya aku jadi ingin mengerjai orang lain…Bodoh! Memangnya aku sejahat itu?” Balasku.”Heh…aku punya cerita bagus. Apa kau mau dengar?”Tanyaku bersemangat.
“Jika tentang Jinnu, aku tidak tertarik…”
Mina merebut kembali bukunya dari tanganku.
“Memangnya kau tahu apa tentang Jinnu?” Aku penasaran.
“Jika tentang ke akuratan informasi, kau jangan main-main denganku. Aku ini punya nara sumber yang sangat handal dan bisa diharapkan?”
“Tidak mungkin…”Aku tidak percaya.
“Nama gadis itu Sara. Tenang saja, Jinnu hanya menganggap gadis itu seperti adiknya sendiri. Cuma, gadis itu tetap bersikeras agar Jinnu mau jadi pacarnya.” Jelas Mina. Aku merinding berada di sisinya, seperti mendapat bocoran informasi langsung dari malaikat. Kadang-kadang ke misteriusan Mina membuatku berfikir bahwa Mina itu bukan berasal dari bumi, bisa saja dia itu mahkluk ruang angkasa yang ingin mencuri informasi rahasia manusia dan akhirnya menguasai bumi. Atau Mina mempunyai indera keenam yang dia asah sejak lahir, jadi dia bisa melihat kejadian atau mengetahui suatu kejadian hanya dari tempat duduknya ini?
“Jangan berfikir terlalu jauh. Aku bukan orang seperti itu!”
Ya ampun. Kenapa dia bisa tahu aku memikirkannya?!
“Apa kau ingin aku jujur?” Tanyanya padaku.
“Hah?”
“Sejujurnya, aku ini hantu…hanya kau yang bisa melihatku. Aku juga membuat mereka menganggapku ada, jadi saat kau bicara denganku kau tidak perlu dianggap harus masuk rumah sakit jiwa. Hantu jaman sekarang lebih hebat dan canggih, kau pasti tidak tahu hal itu kan??” Jelasnya tidak masuk akal.
“Hahaha…haha.”Aku tertawa terpaksa.”Kau ini sedang membuat novel misteri ya? Lumayan juga.”Ujarku menanggapi.”Hantu yang memakai cara cangih mengerjai manusia?”Aku memikirkan ucapannya itu dengan ekspresi serius sambil mengangguk-anggukan kepalaku seperti seorang editor yang menyukai ide penulisnya.
“Kau tidak percaya pada ucapanku?” Ya, lebih baik begitu. Aku melanggar hukum karena kabur saat akan di bawa pulang ke tempat asal dimana roh ku berada dan memilih jalan sebagai hantu gentayangan hanya untuk membalas kebaikan mu karena telah menolong aku dan ibuku, aku akan melakukan yang terbaik untukmu meskipun waktuku sudah tidak cukup lagi untuk terus menerus melarikan diri dari mereka. Untuk itu Eugene, aku memberikan Tei untukmu.
“Mina. Kau marah ya? Tapi, kau sedang membuat cerita novel kan? “ Tanyaku lagi memastikan, tidak menyenangkan jika dia marah padaku hanya gara-gara masalah sepele?
“Iya aku memang sedang buat novel. Kenapa?Mau minta maaf?”Candanya pura-pura marah.
“Beberapa hari ini kau itu mulai berubah jadi aneh, Mina?” Yang aku maksud seringnya dia menghilang dari sekitarku untuk waktu yang lama.
“Aneh?Apa maksudmu?”
“Kau sering menghilang di saat-saat aku membutuhkanmu.” Jawabku khawatir. Mina hanya tersenyum menanggapi kekhawatiranku itu.
“Semua orang harus bisa mengatasi masalahnya sendirian kan? Memangnya aku ini doraemon yang selalu dimintai tolong olehmu terus, lagipula jika aku tidak menghilang mana bisa aku menghimpun semua informasi dari setiap mulut semua orang di sekolah ini.”
Benar juga? Tapi tetap saja aneh bagiku. Mina, kau itu sebenarnya mahkluk dari mana sih?
“Pulang sekolah antar aku ke toko buku, ya?Aku mau beli Prince of Tennis. Oh, Echizen Ryoma…kau pasti merindukanku. Maaf ya membuatmu menunggu lama untuk membeli komik tentang dirimu.” Ucapku penuh perasaan seperti membicarakan seseorang yang ku sukai.
“Kadang-kadang, yang kurasa aneh adalah kau Eugene.” Balasnya dengan berkata dingin padaku.
“Mada mada da ne…*”(kata yang sering diucapkan Echizen Ryoma di Prince of Tennis)Balasku. Entah kenapa aku jadi suka pada komik yang satu itu, mungkin karena pengaruh adikku yang suka komik, sampai-sampai aku berani mengeluarkan uang 200 ribu hanya untuk membeli cosplay jaket Seigaku dan topi Fila warna putih.
“Iya…Cerewet!”

********

Hari ini cuacanya panas sekali, semua jendela di kelas terpaksa di buka semuanya supaya ada angin masuk. Kelemahanku dalam cuaca seperti ini hanya satu, dehidrasi. Makanya aku selalu mencuri-curi kesempatan minum minuman yang ku bawa dari rumah. Kenapa di saat panas terik seperti ini, pelajaran yang ku dapat adalah pelajaran yang membingungkan?Ohhh…nasibku seburuk itukah?

********

Sean dan Dwight berlari ke gym dimana ketua tim Tennis, Taekwondo, dan juga Kendo berada. Ternyata ada masalah besar yang harus dipecahkan bersama. Memang pada awalnya Fay, ketua tim Tennis putera menyalahkan sepenuhnya pada tim Judo, karena masalah ini menyangkut salah satu anggota mereka yang di keluarkan dari sekolah ini. Ren.
Ren berencana untuk menghajar semua anak dari setiap klub olahraga jika ada yang berani masuk ke wilayahnya di daerah pertokoan S yang telah di kuasai bersama beberapa anggota geng berandalan yang direkrut olehnya.
“Dia melayangkan ancamannya untuk kita lewat Dre, kemarin dia dan beberapa temannya mau memperbaiki raket tennis di daerah pertokoan S. Saat menunggu raket itu selesai, Dre memutuskan untuk makan siang di Italian Pizza. Kemudian, datang beberapa orang yang mengenali seragam sekolah kita lalu mereka membawa Dre dan ketiga temannya itu ke lapangan luas dekat stasiun kereta api dan menghajarnya. Hanya itu yang ku dengar dari Dre…” Jelas Fay.
Sean dan Dwight saling pandang dengan wajah kesal.
“Sekarang, Dre dimana?”Tanya Sean.
“Dia di rumah sakit karena lukanya cukup serius. Kau harus melakukan sesuatu, Sean?”
Abym dari klub Kendo yang punya karakter tenang angkat bicara.
“Jangan terlalu tergesa-gesa, Sean. Justru itu yang dia mau. Dan jangan beritahukan tentang masalah ini pada Eugene, dia pasti akan merasa bersalah karena berfikir dialah penyebab semua ini. Mengerti?”
“Iya. Akan ku perhatikan itu.” Jawab Sean langsung mengiyakan. Abym itu negosiator yang paling baik, dibalik sikap tenang menghadapi semua masalah, dia tipe pemikir. Oleh karena itu wajahnya terlihat lebih dewasa daripada umurnya sendiri.
“Mengenai Eugene, biar aku yang menanganinya.” Pinta Jinnu.
“Kenapa harus kau?” Giliran Dwight bicara.
“Entahlah…”Jawabnya dingin tidak pasti. Jinnu juga heran kenapa dia harus berkata seperti itu di hadapan semua orang. Eugene pasti terluka jika mengetahui hal ini, jadi dia akan merelakan harga dirinya untuk sementara waktu.
“Dwight…aku yakin dia punya alasan lain. Biarkan saja! Jinnu, terimakasih.” Ujar Sean padanya.

********

Kenapa yang ada di dalam kepalaku itu ice cream ya?
Uuuuhh…panas sekali, rasa-rasanya ingin sekali pergi ke kolam renang di belakang sekolah dan menceburkan diri. Sepertinya sangat mengasikan!!
Pelajaran ketiga untung sudah selesai, semua anak serempak mengeluh sambil merubah fungsi buku menjadi kipas. Lalu ada sesuatu yang menarik perhatianku. Sean. Kenapa dia tidak masuk?
“Heh…aku dengar Dre anak IPA X di hajar sampai masuk rumah sakit kemarin.” Anak laki-laki di bangku belakang jajaran Mina mulai bergosip.
“Benarkah? Apa ketahuan siapa pelakunya?”
“Dia Ren. Anak tim judo yang di keluarkan dari sekolah…”Ucapnya pelan pada mereka yang berkerumun ingin tahu.
“Jadi, oleh karena itu Sean tidak masuk?”
“Mungkin, sepertinya Dwight juga tidak ada?” Kata nara sumber sambil melihat ke kelas Dwight yang berada di samping kelas mereka yang hanya terpisah oleh lorong.
Apa?! Aku terkejut dengan berita tersebut. Ren menghajar anak dari klub tennis? Kenapa aku tidak diberitahu?
Brengsek!!!
Aku segera bangun dari tempat duduk ku dan keluar dari kelas untuk mencari Sean beserta Dwight meminta penjelasan. Masalahnya, mungkin gara-gara aku mengalahkannya jadi dia tidak terima dan mengarahkan sasarannya ke setiap klub di sekolah ini?! Kenapa aku tidak bisa meredam amarahku pada saat itu! Sial, percuma saja aku menyesal sekarang. Aku pergi ke tempat latihan, namun tidak menemukan seorangpun di sana. Kemana mereka? Pertemuan itu mereka adakan dimana?
Gym…pasti mereka ada di sana?!
Aku berlari sekencang-kencangnya, rambutku yang tadinya terikat rapi kini terurai saking cepatnya.
Hosh…hosh…hosh! napasku tidak terkendali saat aku menghentikan langkahku di depan pintu gym. Aku tidak bisa masuk karena takut melihat wajah setiap ketua klub yang pasti akan menyalahkanku karena masalah ini. Jantungku berdetak kencang bersamaan dengan napasku yang berderu saling mendahului.
Baru kali ini aku merasakan ketakutan yang berarti!
Kakiku lemas, wajahku pucat. Tapi tidak bisa begini, mau tidak mau aku harus bertanggung jawab. Iya, gara-gara ku. Ini gara-gara ku.
Dengan percaya diri aku membuka pintu gymnastium.
Tidak ada orang lain selain aku dan Jinnu. Jinnu tengah berdiri di tengah-tengah lingkaran basket dengan sebuah bola basket di tangannya.
“Mana…mana yang lain?” Tanyaku gugup.
Jinnu men-dribble bola di tempatnya berdiri. Belum pernah aku melihatnya seperti itu.
Jinnu kemudian melihat ke arahku.
Jinnu untuk pertamakalinya melihat rambut Eugene yang terurai panjang sepinggang, sesaat dirinya seperti tersihir pada gadis gila yang sering mengajaknya berduel. Kali ini dia memandangnya sebagai seorang perempuan.
“Mau main basket?” Tanyanya dengan nada bukan seperti biasanya.
“Mana yang lain?Aku mau bertemu dengan yang lain.” Aku masih belum berani mendekat padanya.
“Hmmm…kau itu pejudo yang hebat ya? Tapi aku belum pernah melihatmu main basket. Main denganku…” Semakin aku mendengarkannya bicara, aku jadi semakin marah. Entah kenapa juga aku malah menangis?Bodoh.
“Ini…Ini salahku. Jika saat itu aku tidak termakan ucapannya. Dre tidak akan terluka dan Ren juga tidak akan mengincar kalian, aku ini bodoh. SIAL!!” Aku mencoba tidak memperlihatkan sisi cengengku padanya, sebisa mungkin aku menahan air mataku.
Jinnu paling tidak suka jika ada seorang gadis menangis.
“Ren…bukan salahmu. Dia memang mengincar semua orang yang punya kekuatan, itu memang sebagian dari rencananya untuk bisa mengalahkan Sean dan kau dari klub Judo, Aku dan Abym, Hero dan Daniel dari klub taekwondo seperti halnya yang pernah dia lakukan pada anak-anak dari sekolah lain sebelum ini.” Jelasnya.
Apa itu benar? Ren merencanakan hal seperti itu?
“Tapi jika hari itu aku tidak menantangnya dan membiarkannya pergi, hal seperti ini tidak akan terjadi!”
“Bodoh. Tentu saja pasti akan terjadi, kau membantu kami lebih cepat dengan perkelahian itu. Dan untungnya kau tidak apa-apa. Jadi sekarang, biarkan urusan ini di selesaikan oleh pihak laki-laki. Mengerti?” Ucapnya menenangkanku sambil mendribble bola dan melakukan lay-up shoot ke ring. Saat ini, aku akan mempercayai ucapannya dan tidak akan bertindak gegabah untuk sementara waktu. Tapi jika keadaannya berubah, aku tidak akan segan-segan turun tangan.
“Aku…tidak bisa main basket.” Kataku sambil berbalik membelakanginya dan berjalan menuju pintu keluar.
Jinnu menatap ke pergiannya dengan tatapan menyesal. “Aku tahu itu…makanya aku ingin mengajarimu.” Ucapnya setelah Eugene pergi.

Aku kembali ke kelas dengan harapan bisa menemukan Sean dan meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. Tapi aku teringat perkataan jinnu tadi.”Biarkan masalah ini diselesaikan oleh laki-laki”, apa dengan begitu akan lebih baik? Aaah, sialan!! Otakku tidak sedang mau berfikir!
Sean sudah kembali. Dia duduk dengan tenang di kursinya. Dengan langkah ragu aku berjalan ke arahnya, sebisa mungkin aku menenangkan diriku.
“Bodoh, apa kau pikir jika aku tidak tahu, aku tidak akan terluka?” Tanyaku langsung duduk di mejanya dengan wajah murung.
“Kau kenapa, Eugene?”
“Masalah Ren. Kau tidak memanggilku ke pertemuan itu karena kau takut aku terluka kan?”
Sean sedikit terkejut, tapi kenapa bisa secepat ini Eugene mendengar tentang masalah yang di sebabkan oleh Ren. Padahal dia sedang mencari alasan untuk menjelaskan hal ini kepadanya nanti?
“Karena berhasil ku kalahkan, kalian takut bila dia akan menantangku lagi setelah kalian kalah. Benar tidak?”
Sean mengeluarkan permen karet dari saku celananya.”Jangan berfikir terlalu berlebihan…” Dia menawarkan permen karet rasa mint itu padaku, tapi aku tidak suka.
“Kami berlima tidak akan kalah, jadi kau jangan khawatirkan tentang itu.”
“Berlima? Memangnya kalian itu power ranger apa?” Tanyaku sambil mencibir.
“Heh, apa kau pernah lihat power ranger kalah? Meskipun di episode pertama kalah, mereka pasti akan bangkit di episode-episode berikutnya.” Jelasnya sambil memasukan permen itu ke dalam mulutnya.”Rupanya aku telah membuat kesalahan karena memberinya izin untuk menjagamu.” Ucapnya dengan wajah tidak rela sambil melihatku.
“Kau kenapa?”Aku heran.
“Tanpa ragu dia mengatakan ‘Tentang Eugene, serahkan saja padaku!’…”Sean berfikir mencari keanehan dalam kata-kata tersebut.”Apa dia sudah tidak waras mau menjagamu? Seharusnyakan ini tugas Tei?”
Kenapa Sean bawa-bawa nama Jinnu? “Jinnu? Kenapa dengannya?”
“Eugene, sebenarnya kau suka siapa? Jinnu atau Tei?”
“Kenapa kau menanyakan hal ini padaku?”
Sean menyunggingkan senyuman terbaiknya.”Tidak apa-apa, anggap aku tidak pernah bertanya.”
Sean bertingkah aneh, mungkin dia juga tidak tahu harus bagaimana menghadapi masalah ini? Mengenai siapa yang ku suka, sudah jelas itu pasti Tei. Aku menerawang melihat ke luar dari jendela kelas, kira-kira Tei sedang apa ya?

********
Aku harus segera melakukan sesuatu, aku tidak rela jika yang mendapatkan Eugene itu adalah Jinnu, pemuda sombong yang hanya akan menyakiti hatinya saja. Berbeda dengan Tei. Pokoknya, aku harus mengubah nasib mereka bertiga.
Saat Eugene kembali ke kursinya, Mina memanggilnya.
“Hari ini, sepertinya aku sibuk, jadi tidak bisa mengantarmu ke toko buku. Maaf…” Mina mencoba mencari alasan.
“Oh, aku tahu. Kau pasti masih marah padaku soal tadi, jadi berniat untuk memberontak? Huh, aku pikir kau itu termasuk orang yang pengertian, rupanya penilaian ku salah!” Kataku mengutip kata-kata yang sering diucapkan para pemain drama di tv.
“Jangan terlalu mendramatisir keadaan. Semoga kau senang di sana.”
Senang apanya? Toko buku bukan arena bermain yang penuh dengan macam-macam permainan, melainkan buku. Tidak ada yang istimewa di sana, kecuali jika ada buku komik yang sedang diskon setengah harga! Tapi…gawat? Toko buku,, restoran, cafetaria, toko baju, mall, tukang gorengan, tukang mie, semua tempat itu ada di jalan pertokoan S yang dikuasai oleh Ren. Bagi anak-anak sekolah, pertokoan S adalah gudangnya hiburan yang paling dekat. Dasar manusia brengsek, mana boleh dia berbuat seperti itu? Ini sih namanya merusak perekonomian daerah. Berandalan seperti mereka mana tahu tentang ekonomi? Huh, aku benci orang seperti itu. Membuatku ingin meninju mereka semua!

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s