One Sweet Punch! [6th Punch]


sweet_sara

Author. Maeve.

Copyright 2005.

==================================================================

6th Punch

Aku memerintahkan otakku agar tidak memikirkan apa yang dilakukan Sean padaku? Tapi semakin terpikir, semakin ingin aku mencekiknya. Mana boleh dia sebagai ketua melepaskan tanggung jawabnya dan menyerahkan ku pada Jinnu sebagai sandera?
Hmmmppphhhhfff…..Apa yang harus kulakukan?
Aku mengeluarkan satu persatu shinai dari reruntuhan rak itu, dan ku periksa dengan seksama takut kalau ada yang rusak? Kemudian ku pisahkan, setelah itu aku keluar untuk mencari alat tukang di gudang belakang sekolah.

Kerrrr…kerrrrkk…
Perutku berbunyi. Lapar!
“Ahhh…bertahanlah sedikit lagi, Eugene. Kau pasti dapat makanan enak nanti dirumah!!” Aku menguatkan diri.
“Bagaimana sebelum dapat makanan enak, kau makan roti ini dulu?” Tawar seseorang padaku.
“SIAPA ITU??”Tanyaku kaget. Gudang sekolah penerangannya agak redup, jadi pasti akan terasa kaget jika kau seorang diri namun tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan sesuatu tepat di belakangmu?
Dengan sigap aku segera meraih sesuatu yang bisa kupakai sebagai senjata.
“Tenang…ini aku Tei, Eugene!”
“Siapa?Tei?” tanyaku lagi memastikan.
“Iya. Ini aku, Tei.”

********

Tei membawakan peralatan tukang itu untukku, sedangkan aku. Makan roti yang sengaja ia bawakan. Kami berjalan pelan-pelan menuju tempat latihan.
“Tega sekali temanmu meninggalkanmu sendirian untuk bekerja?”
Aku jadi marah ketika teringat lagi masalah itu.”Iya, dan besok akan ku pastikan mereka semua akan kuhajar sampai babak belur!” Jelasku. Sial, aku lupa kalau aku sedang berbicara dengan Tei. Pria yang kusukai?! Mungkin dia sekarang akan berfikir kalau aku ini memang berjiwa eksekutor. Gadis galak yang sering memukuli orang karena alasan tidak senang.
“Maaf…apa gaya bicaraku kasar?”
“Iya, tapi itulah dirimu. Kau bukan Eugene kalau kau tidak berteriak, mengomel, memukuli orang dan marah.”Jelasnya. Mungkin jika orang ini bukan Tei, aku akan marah dan memukulnya. Tapi kata-kata itu seperti bukan kata-kata ancaman yang membuatku harus marah. Melainkan malu.
“Dari perkataanmu, aku jadi berfikir kalau aku itu jahat.” Sedikit merasa sedih.
Tei juga merasa tidak enak.”Bu..bukan begitu maksudku.” Jelas Tei tidak enak hati.”Meskipun banyak orang yang menganggapmu galak dan kejam karena kau lebih sering memukuli orang dari pada pergi berkencan dengan pacarmu, masih ada orang yang hidupnya sudah kau tolong.”
“Benarkah? Rasanya sulit ku percaya. Apa kau memperhatikanku juga?”
“Iya. Aku memperhatikanmu, tapi yang lebih perhatian itu Jinnu. Mana aku tahu kau masih ada di sekolah di jam seperti ini kalau bukan dia yang memberitahukanku, dan dia juga yang menyuruhku membelikanmu makanan.”
Ting tong! Apa aku tidak salah dengar? Atau kupingku ini masih bermasalah dengan kotoran yang berkerak? Jinnu lebih perhatian ketimbang Tei? Hahaha…tidak mungkin.
“Jadi, si unta itu yang menyuruhmu?”
Berarti bukan keinginanmu sendiri? Tei, kenapa kau berkata seperti itu? Harga diriku jatuh lebih dalam satu meter sekarang.
Akhirnya, kami sudah sampai di ruang latihan.
“Mari kita lakukan sama-sama, begini-begini aku handal kalau menyangkut urusan pertukangan.”
“Iya, kau kan mau jadi arsitek.” Ups! Apa itu tadi ku sebut? Itu kan privasi. Bodoh!!
”Eh,…aku dengar hal itu dari orang lain.”
Tei hanya tersenyum. Waaah, baru hari ini aku merasa segembira ini? Bisa bicara dan dekat bersama Tei. Hahahaha…Burung unta terimakasih!!
“Begitu ya?” Ucapnya ramah.
Aku baru tahu kalau Tei ternyata punya kulit putih yang halus, tubuhnya harum, dan rambutnya dicat warna coklat agak kemerahan. Tei tidak setinggi Jinnu. Ah, sial! Kenapa badanku terasa panas ketika melihatnya? Jantungku juga berdebar kencang. Apa ini yang namanya suka? Aku belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
“Eee…Eugene. Soal Jinnu, maafkan dia ya?”
“Oh… Entahlah, tentang memaafkannya itu soal gampang. Yang aku masih belum terima, ketika dia mengalahkanku tadi pagi. Aku bisa terima kekalahanku pada orang lain, tapi padanya itu tidak bisa! Maaf, Tei. Yang pasti jika aku sudah siap, aku akan menatangnya.” Hmm…Aku merasa tidak enak.
“Ayo, kita kerja. Hari ini kita pisahkan mana yang terpakai dan mana yang tidak, besok baru kita perbaiki. Bagaimana menurutmu?” Tanyanya meminta pertimbanganku. Waah, kenapa aku selalu terkagum-kagum padanya? Pantas saja dia jadi ketua OSIS.

Tei memang pria hebat. Aku yakin dia pasti bisa jadi arsitek!! Tei, berusahalah. Aku akan mendukungmu.SEMANGAT!!

********

Jinnu tidak tinggal dengan Tei dan ayah tirinya. Dia tinggal di apartemen kecil milik mamanya dulu sebelum beliau meninggal. Sebenarnya, Jinnu tidak seperti yang Eugene bayangkan. Sebelum mamanya meninggal 7 tahun lalu, dia anak yang nakal dan selalu membuat orang tertawa jika ada disekitarnya. Tei sangat senang ketika Jinnu datang dan tinggal bersamanya ketika masih kecil. Sepertinya, kematian mamanya punya efek yang cukup besar dengan perubahan sikapnya selama ini.
Dia membawa sekantong besar yang berisi semua bahan makanan dan kebutuhan sehari-harinya. Hidup seorang diri bukan berarti bisa bebas melakukan apa saja seenak perutnya, didikan mamanya untuk bisa hidup mandiri ternyata berguna. Laiki-laki biasanya paling malas tentang urusan rumah tangga, seperti mencuci baju, nyapu, mengepel lantai, dan paling sulit diantara semua itu adalah memasak. Tapi Jinnu kebalikannya. Dia keluar dari rumah ketika kelas satu SMA, saat masih tinggal di rumah ayah tirinya, Tei dan Jinnu punya sebutan masing-masing dari ayahnya itu. Karena Tei jago masalah pertukangan dan perbaikan rumah, dia dipanggil ‘ayah’, sedangkan Jinnu itu ‘ibu’, soalnya dibandingan kedua pria itu masakan Jinnu lebih terpakai. Lalu sebutan mereka berdua untuk ayah tirinya itu cukup ‘si kakek tua’. Hubungan mereka terjalin cukup akrab, Jinnu merasakan bahwa ayah tirinya itu lebih baik daripada ayah kandungnya yang sementara ini tinggal di Australia. Sesibuk-sibuknya si kakek tua itu bekerja, tapi jika urusan perasaan man to man ke dua anaknya, dia paling handal. Tei dan Jinnu merasakan tidak punya ayah, tapi sahabat.
Jinnu berjalan menuju pintu gerbang rumahnya, saat tiba di depan, ternyata ada seorang anak gadis yang tengah menunggunya dengan sebuah koper dan tas besar di tangannya..
Dengan tampang tanpa ekspresi dia membuka pintu gerbang dengan kunci yang ada ditangannya.
“Sedang apa kau disini?”Tanyanya datar.
“Aku akan tinggal dan sama-sama belajar dengan mu di sekolah yang sama. Bagaimana? Kau senang kan?”
Klik…
Pintu gerbangnya terbuka.
“Membosankan.” Celetuk Jinnu keras.
Sara yang manis itu merangkul lengan Jinnu dan masuk ke dalam rumah bersama-sama.
Jinnu menaruh kantong belanjaannya di meja, sementara Sara memuji kerapihan rumah pemuda yang disukainya sejak kecil itu.
“Minuman ada di kulkas jika kau haus. Aku mau tukar baju dulu, lalu pergi ke tempat latihan.” Jelasnya pada Sara sambil masuk ke dalam kamarnya.
“Apa kau mau ku masakan makan siang? Tidak baik jika kau hanya makan mie instan. Selama aku di Ausie, aku belajar banyak tentang memasak. Bagaimana?” Sara setengah berteriak supaya Jinnu mendengarnya dari dalam kamar.
Tapi Jinnu tidak berkata apa-apa selama di dalam. Satu menit kemudian ia keluar dari kamarnya.
“Tidak perlu, aku akan makan diluar.”
“Kalau begitu aku ikut. Tidak sopan jika membiarkan tamu sendirian di rumah tanpa makanan dan minuman. Kau sudah berjanji akan merawat serta menjagakukan? Apa kau sudah lupa janjimu itu, Jinnu?” Sara sedikit kecewa.
Jinnu menatap matanya.”Dengar, aku tetap memegang janjiku. Tapi bukan dengan cara seperti ini! Sara, kau tahu perasaanku padamu sama seperti halnya perasaan seorang kakak pada adiknya. Dan dari dulu sudah kutekankan hal itu padamu, aku tidak bisa memberimu harapan.” Ujar Jinnu dingin. Sara tahu dengan baik hal itu lebih dari siapapun, tapi meskipun hatinya sakit mendengarnya, dia akan mencobanya lagi.
“Aku mengerti apa maksudmu, tapi berikan aku kesempatan. Setidaknya akan kuperlihatkan bahwa aku ini perempuan yang bisa mencintaimu, aku bukan anak kecil yang penakut lagi jika dijahili. Aku juga tidak cengeng lagi, jika kau bisa berubah menjadi Jinnu yang yang tidak ku kenal, kau pun akan melihat Sara yang baru.” Jelas Sara. Memang, ini Sara yang baru. Dulu dia selalu terbata-bata dan tidak mau menatap wajahnya dengan pandangan sejelas ini jika berbicara. Selama ini Sara juga belajar untuk bisa merasa percaya diri.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s