One Sweet Punch! [7th Punch]


sweet_dwight

Author.Maeve.

Copyright 2005.

==================================================================

7th Punch

“Kau sangat senang pada olahraga Judo ya?” Tanya Tei saat membantuku membereskan puing-puing rak shinai.
“Tentu. Aku sangat suka Judo. Memang dulu aku juga merasakan hal yang sama dengan taekwondo. Tapi ternyata, aku hanya ikut-ikutan. Kau tahulah, jika ada seseorang yang kau suka. Pasti apapun kegiatannya akan kau ikuti terus. Namun itu bertahan selama 1 bulan.” Senyumku malu-malu.
“Kapan itu?”
“Saat aku kelas 4 SD.”
“Kenapa berakhir?”
Kini aku malah ingin tertawa,”Mungkin, karena aku mematahkan giginya saat latihan. Menyedihkan bukan?”
Tei tertawa mendengar cerita ku itu.
“Aku juga sama. Dulu aku juga selalu mengikuti kemana gadis yang aku sukai pergi. Ikut kelas ekstrakulikuler yang dia ikuti. Kelas musik, gambar, bahkan renang…” Jelasnya.
“Waah, berarti kau lebih parah dariku! Aku jadi ragu, apa kau itu penguntit ya?” Candaku. Dan dia mengiyakan.
“Saat itu mungkin. Sampai saatnya aku beranikan diri untuk bicara, dialah yang pertamakali bilang suka padaku. Hmm…”Tersenyum.”Seperti apa yang kuharapkan.”Jelasnya lagi.
Apa dia punya pacar? Kenapa aku baru sadar sekarang? Mungkin dia cerita ini padaku hanya untuk memberitahukanku agar menyerah saja.
Senyumlah, tidak apa-apa Eugene!
“Tidak lama setelah kami pacaran. Dia memutuskanku secara sepihak…Aku lebih menyedihkan darimu. Benar tidak?”
APA? Siapa gadis yang tega mencampakkannya begitu saja? Dia tidak tahu apa kalau pria ini adalah benda berharga? Aku jadi kesal mendengar hal ini!
“Bodoh sekali dia? Kalau dia cuma mempermainkanmu, lupakan saja dia. Hah…aku tahu akan seperti ini jadinya, kau itu terlalu baik. Jadi, gadis itu meremehkanmu. Jika gadis itu bukan gadis yang kau suka, aku akan menghajarnya sampai babak belur! Bagaimana, kau pasti senang kan?”
Bodoh! Aku ini bicara apa? Ini sama saja dengan melempar batu di air tenang. Cari mati.
“Iya. Saat itu aku ingin mematahkan kakinya agar dia tetap berada di sisiku selamanya, aku tidak perduli jika aku harus menggendongnya atau menyeretnya di kursi roda. Asalkan dia tetap diam di sampingku itu sudah cukup bagiku.”
Aku rasa, Tei benar-benar mencintai gadis itu.”Kenapa tidak kau lakukan?”
“Percuma jika aku memiliki tubuhnya tapi tidak jiwanya. Dia terlebih dulu meninggalkan ku dari dunia ini…”
“Pergi? Pergi kemana?” Tanyaku agak bingung…
“Dia sudah meninggal.”
Meninggal?Gadis itu sudah meninggal? Apa aku perlu bergembira? Dasar bodoh…
“Maaf…aku pikir…”
“Sudahlah. Lagipula itu bukan salahmu.” Tei berusaha membuatku senang. Tapi tetap saja salahku, coba kalau tadi aku tidak menyebut-nyebut masalah ‘mengikuti orang yang ku suka’, pasti dia tidak ingat tentang hal yang membuat hatinya itu sakit. Tei, maaf…

********

Jinnu minta maaf atas perkataannya itu, tapi di hatinya Sara hanyalah seorang adik, tidak lebih dari itu. Jinnu mengerti tentang perasaan Sara padanya, sejak Jinnu memberikan tangannya pada gadis kecil itu dulu di Australia. Dia berniat untuk melindunginya sampai kapanpun, tapi bukan berarti menjadikannya pacar dikemudian hari.
“Apa kau tetap ingin tinggal di sini?” Tanya Jinnu.
“Hmm…” Angguknya.”Aku ingin tinggal di rumah ini denganmu.”
Tinggal serumah? Apa-apaan ini?
“Tidak. Kau tidak boleh tinggal di sini, kenapa kau tidak cari rumah atau tempat kost sendiri?!” Suruhnya agak ketus.
“Apa kau tega? Aku merantau dari tempat yang jauh dan hanya punya satu kenalan di sini yaitu kau. Kenapa? Apa kau takut kita di suruh menikah? Kalau takut kita menikah saja.”
Dasar anak ini! Batinnya.
“Baiklah, kau tinggal di sini saja.” Keputusan terberat yang pernah diambilnya. Rumah ini sudah rapi dan di tata dengan indah, dia tidak bisa membayangkan sedikit saja jika ada yang berubah, pecah atau kotor oleh debu.

Menyesal!!!
Sara bukan main senangnya? Saking senang dia melompat seraya memeluk Jinnu dengan erat.
“Haaa…thankyou!!” Ucapnya. Jinnu hanya bisa membiarkan hal itu terjadi. Setelah Sara merasa puas memeluknya, dia langsung pergi ke luar sambil membawa tas besar yang sering dipakainya untuk latihan. Untung saja tadi saat ganti baju, Jinnu sudah memperkirakan apa yang diinginkan gadis itu, jadi dia segera mengepak sebagian bajunya ke dalam tas dan berniat tinggal sementara dengan ayah tirinya.
Sara hatinya masih berbunga-bunga, dia sudah merencanakan tentang apa yang akan dilakukannya agar Jinnu merasa betah tinggal dengannya dalam satu rumah.
“Terimakasih. Jinnu…”

********

Aku dan Tei berdiri memandang hasil kerja kami berdua.
“Besok tinggal kita ukur dan memakunya.” Jelas Tei, dari gayanya dia sudah seperti arsitek.
“Hmm..”Anggukku.”Dengan adanya bantu
anmu, aku tidak takut kalau si burung unta itu melihat pekerjaanku. Tei terimakasih…”
Tei tersenyum.”Sama-sama.”

Mina melihat keakraban itu dengan perasaan sedih, namun hatinya merasakan kebahagiaan tersendiri bagi Tei.
Apa kau baik-baik saja Tei? Sudah lama aku ingin melihatmu dekat seperti ini. Banyak sekali yang ingin ku katakan kepadamu, tapi takdir menginginkanku untuk pergi darimu lebih cepat. Maaf, aku hanya sedikit memberimu kenangan dan kebahagiaan.
Mina mengingat kejadian 3 tahun lalu saat SMP, hari terakhir bertemu dengan Tei di sekolah. Dia merencanakan untuk merayakan seratus hari mereka pacaran untuk esok hari. Siang itu sepulang sekolah, Mina minta diantarkan oleh Ibunya ke toko kue untuk membeli kue tart.
Di tengah perjalanan, Ibunya kurang hati-hati sehingga mobilnya oleng dan menabrak sisi sebuah mobil truk, kemudian terguling beberapa kali hingga terbalik. Kondisinya buruk sekali, semua orang berkerumun menyaksikan kecelakaan itu namun tidak ada seorangpun yang berani menolong.
Saat itu, ada seorang anak gadis yang pemberani. Dia segera berlari ke arah mobil yang terbalik itu. Gadis itu melihat ke arah tangki bensin yang mulai bocor, ia takut kalau itu akan menghalangi kesempatannya untuk mengeluarkan dua orang korban kecelakaan tersebut.
Belum juga gadis itu mengusir rasa takutnya tentang hal itu, api mulai memercik. Jadi, dengan sekuat tenaga ia mencari korban yang ternyata masih duduk tertempel di kursi depan mobil. Seorang wanita paruh baya dan juga anak gadisnya yang kira-kira seumuran dengannya.
Gadis itu berusaha agar tidak panik, dia harus tenang jika tidak ingin membahayakan dirinya sendiri dan juga korban. Ia langsung membuka jaketnya dan dililitkan untuk melindungi tangannya, dia berusaha keras memecahkan kaca jendela disebelah sang ibu itu. Dengan diburu waktu, sekarang ia mencoba melepaskan sabuk pengaman yang melindunginya. Tarikkannya ternyata kuat sekali, hanya sekali tarik langsung talinya putus. Gadis itu mengkhawatirkan keadaan anak itu dibandingkan dengan sang ibu, lukanya terlalu parah.
“Bertahanlah, setelah ibumu aku akan mengeluarkanmu dari sini. Bertahanlah.” Ujar gadis itu padanya.
Gadis itu berhasil mengeluarkan sang ibu dari kaca jendela pintu samping. Kemudian dia menyeretnya jauh dari tempat kejadian untuk menghindari ledakan. Tanpa memikirkan apa-apa lagi, dia berlari kembali ke tempat itu. Kali ini gadis itu harus selamat.
Gadis itu melakukan hal yang sama, namun kendalanya ada di sabuk pengaman yang macet dan sangat sulit diputus. Gadis itu mencium sesuatu mulai terbakar. Dan kali ini dia benar-benar panik, panik sampai-sampai mau menangis.
“AYO EUGENE, KAU PASTI BISA!!!” Gadis itu menyemangati dirinya sendiri sambil terisak-isak. Mina tersadar, dan melihat kearah gadis yang menyebut dirinya Eugene. Tanpa menyadari tentang apa yang telah terjadi pada dirinya.
Eugene melihat mata gadis itu dan berusaha tenang.”Bertahanlah. Aku pasti bisa menolongmu, menolong kucing yang terseret di selokan saja bisa, masa menolongmu tidak? Anak secantik dirimu itu tidak boleh berakhir seperti ini! Pasti kau punya pacar yang tampan, bertahanlah demi dirinya sementara aku berusaha menolongmu. Aku terlalu sibuk dengan Judo, jadi tidak tahu rasanya punya pacar. Aku tahu kau pasti bosan mendengarkanku terus bicara tak karuan, iya kan? Itu karena aku ingin kau tetap fokus pada suaraku. Jangan tidur…Mengerti gadis bodoh?” suruhnya dengan suara lantang.
Apinya mulai merambat.”Ah, sial? Kenapa talinya susah dibuka??” Dia terus saja berusaha membuka tali pengaman tersebut sampai jari-jarinya lecet. Eugene tetap berusaha. Dia terbatuk karena asap mulai tebal.
Eugene mulai tipis harapan…
“Baiklah. Jika aku tidak bisa mengeluarkanmu dari sini. Kita akan mati sama-sama. Aku tidak menyesali perbuatanku, apalagi jika harus mati sebagai perawan di usia muda! Kita bisa jadi malaikat. Jika tidak diijinkan, kita bisa layangkan protes…” Eugene mulai bicara tidak karuan karena panik.
….Akhirnya. Saat Eugene kehilangan harapan, dia melihat gadis itu tersenyum padanya dan saat itu juga talinya lepas, dan Eugene berhasil mengeluarkannya.
Dan seperti biasa, polisi dan juga ambulan datang terlambat ke tempat kejadian. Lalu, beberapa menit kemudian mobil itu meledak.
Eugene tidak mau masuk koran dan ditanyai polisi tentang penyelamatan tersebut. Biarkanlah ini terjadi seperti kejaiban. Itulah yang dipikirkannya sebelum kabur.
“Kau pasti akan sembuh. Namaku Eugene, dan kita pasti akan bertemu lagi…” Ucapnya pada gadis itu.

Eugene…Tentu saja aku akan mengingatmu.
********

Setelah selesai, Tei mengatarkanku pulang. Kalau tidak salah, rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumahku. Benar-benar suatu keajaiban bisa pulang dengannya seperti ini, Mina pasti senang. Sayang sekali dia sudah pulang, dasar anak aneh? Pulang kenapa tidak bilang dulu padaku? Aku kan jadi mengkhawatirkannya juga.
Saat kami berdua sedang berjalan di dekat taman menuju ke rumahku, disana aku melihat Jinnu sedang makan mie dari kotak makanannya. Asalnya aku mau pura-pura tidak melihatnya. Namun Jinnu terlebih dulu memanggil anak itu.
“Heh!…Kau sedang apa di sini?” Tei setengah berlari ke arahnya.
MENYEBALKAN!!!
“Aku akan kembali ke rumah untuk sementara.”
Tei bingung sekaligus terkejut, ekspresi wajahnya itu terbaca oleh Jinnu.
“Kenapa, kau keberatan?”
“Bu…bukannya begitu!” Tei langsung tersenyum.”Aku sudah lama menantikan hal ini terjadi. Aku jadi tidak kesepian lagi di rumah. HEH…BOCAH TENGIK! Pasti telah terjadi sesuatu…benar begitu kan?” Tei khawatir. Tapi bocah itu tetap tenang makan makanannya.
“Tidak terjadi apa-apa. Kau berfikir terlalu banyak.”
“Tapi, kau tidak mungkin berkata seperti itu jika tidak terjadi apa-apa? Dulu kami memintamu untuk tinggal, tapi kau menolak mentah-mentah. Kini?”
“Dasar sombong…” Ucapku pelan, aku kesal melihat tingkahnya yang dingin dan cuek itu.
Dia kemudian melihat ke arahku. Aku balas saja melihatnya dengan terang-terangan. Siapa yang takut padamu?!
“Cepat sekali kalian kencan?” Tanyanya pada Tei, seraya masih melihatku.

AAAAAKKKKHHH, BOCAH INI???
“Bukan seperti yang kau bayangkan?”Refleksnya.
“Heh…Kau pasti senang? Tei itu tampan, dan juga baik. Tapi, Tei…sifatnya itu buruk. Apa kau tidak malu?”
BAIKLAH…KAU MINTA PERANG YA?? AKAN KU…belum beres aku berfikir untuk memukulnya, Tei langsung membelaku.
“Malah aku berfikir kalau Eugene itu lucu. Menyenangkan bisa bicara dengannya.”
Ah….apa benar? Aku jadi malu?!
“Heh, kau demam ya? Wajahmu kenapa memerah?” Tanya Jinnu padaku.
“Aku tidak demam?” Waah, apa kelihatan kalau aku terharu dengan pembelaan Tei, makanya wajahku memerah seperti ini?
“Heh…Apa kau itu tidak punya etika? Hah…heh…ha…heh! Aku juga punya nama!”
“Anak ini?!” Celetuknya kesal.
“Anak ini?Anak ini. Memangnya aku ini anakmu?!” Balasku lagi. Kenapa aku berfikir kalau sikapnya itu berubah-ubah? Kadang menyeramkan, dan kadang juga menyebalkan dan kadang juga…Hiii? Sifatnya, sepertinya sama saja bagiku.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s