One Sweet Punch! [8th Punch]


sweet_daniel

Author. Maeve.

Copyright 2005.

=================================================================

8th Punch

Mereka berdua mengantarkanku ke rumah. Pertama, Jinnu tidak mau ikut. Tapi Tei memaksanya dengan alasan sekalian pulang.
“Sudah sampai. Terimakasih sudah mengantarkanku pulang.”
“Terimakasih apa? Sudah malam, sebaiknya kau masuk.” Suruh Tei dengan ramahnya. Aduh, aku senang sekali diperhatikan seperti itu olehnya.
“Heh, cepat masuk lalu tidur. Malam ini kau pasti mimpi indah dengan Tei.” Celetuknya lagi.
Baiklah, kau memang minta dihajar!!! Maksudnya itu apa, dengan jujurnya mengatakan semua hal itu? Apa dia ini mau menolongku atau malah mempermalukanku???EEERRRRGGGGG….
KESAAAALLLL!!!!
“Jinnu. Apa kita bisa bicara 4 mata?” tanyaku dengan wajah serius. Akan ku pastikan dia ku hajar malam ini!
“Kau mau apa?!”Tanyanya terkejut.
“Kita bicara!”
“Tidak mau. Aku mau pulang…”
Dasar burung unta!!! Kenapa dia selalu membuatku kesal? Tei hanya tersenyum memperhatikan kami berdua bertingkah seperti anak TK. Saking kesalnya aku melompat dan mengapit kepalanya dengan lenganku dan menjitaknya.
“EHH!!!”betaknya sambil melepaskan diri dari ku. Jinnu mengusap-usap kepalanya.
“Ahhh…Kenapa tidak kulakukan saja daritadi? Mungkin aku tidak akan semenyesal ini.” Aku merasa puas dan bangga. HAHAHHAHAHA…
“Aku tidak mengijinkanmu pacaran dengannya, Tei.” Ujarnya tidak senang.
“Sudahlah…” dia mencoba melerai dua orang itu. Tapi, Tei merasakan ada hal yang berubah dari Jinnu. Sudah lama dia tidak melihat tingkahnya yang seperti itu sejak 7 tahun silam. Apakah Eugene yang membuatnya seperti ini?
“Jinnu, kita pulang.” Suruhnya. Jinnu mengiyakan.
Aku tetap berada diluar sampai mereka pergi menjauh dari rumahku, ternyata apa yang dikatakan Mina itu benar? Tei dan Jinnu kakak beradik.

********
“Kau kelihatan berbeda hari ini?” Tanya Tei. Jinnu memandang kakak tirinya itu sambil berjalan.
“Hmmmpphhf…”Ia menghela napas.”Tidak ada yang berubah. Kau berfikir terlalu banyak…” Ucapnya membela diri.
“Jarang sekali aku melihatmu bertingkah seperti itu, biasanya kau selalu diam. Malah terbilang kejam, untuk ukuran pria tampan sepertimu pada anak perempuan.” Jelas Tei.
Jarang sekali mereka berdua berbincang-bincang seperti ini. Apalagi malam ini cuacanya cerah.
“Anak perempuan? Aku pikir dia itu laki-laki. Mana ada perempuan yang segalak dan sekuat itu seperti dia? Gadis aneh!”
Tei masih penasaran dengan keputusannya untuk pindah kembali ke rumahnya.
“Benar tidak ada apa-apa?”Tanya Tei padanya.
“Tentu saja.” Jawabnya singkat. Untuk kali ini, Tei mencoba untuk percaya padanya. Semoga saja memang tidak ada apa-apa.
Mereka berdua sudah sampai di depan rumah. Malam itu mereka melihat ayah mereka sedang menunggu di pavilliun.
“Kami pulang!” Seru Tei.
Ayahnya yang sedang enak-enak menikmati sinar bulan terkejut melihat siapa yang dibawa oleh Tei.
“Waah. Apa ayah tidak salah lihat? Atau memang matahari sekarang sudah terbit dari barat?”
“Apa kabar?” Tanya Jinnu sopan.
“Tei. Katakan jika apa yang kulihat itu benar? Adikmu itu pulang kan?”
Tei tersenyum mengiyakan.”Iya, Jinnu pulang.”
“Anak bodoh, kau pulang pasti ada masalah? Kau diincar oleh geng karena sifat sok mu itu atau karena hal yang lain?” Pertanyaan itu sama dengan apa yang Tei tanyakan. Jinnu tahu mereka berdua khawatir padanya, namun ia tidak mau mereka membesar-besarkan masalah sepele seperti ini. Lagipula, masalah kedatangan Sara bukan lah hal yang patut dikhawatirkan? Tapi, tadinya sih tidak khawatir. “Perasaan ku jadi tidak enak” Batinnya.
“Aku pergi ke kamarku dulu.”
“Apa kau sudah makan? Tei, masakan sesuatu dulu untuk adikmu sebelum dia pergi tidur.” Suruh ayahnya. Dari luar, ayahnya seperti orangtua kebanyakan yang selalu mengkhawatirkan setiap tidak tanduk anak-anaknya, tapi beruntunglah mereka mempunyai kakek tua seperti beliau yang punya pemikiran luas dan tidak terlalu terobsesi dengan peran orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan tangan besi.
“Cerewet! Aku sudah makan tadi, cepat masuk ke dalam dan temani aku main catur. Pikiranku kacau…”
“Dasar tengil, sepertinya kau tidak ku ajari untuk bersifat arogan?” balas ayahnya sedikit kesal, namun Jinnu dan Tei tahu sikapnya itu hanya balasan untuk balik mencandai Jinnu.
“Entahlah…aku bukan anakmu, tapi sepertinya sifat itu peninggalan semangat masa muda mu dulu. Benarkan kakek tua?”
Ayahnya bangun dan langsung berdiri.”Jadi, kau mau mengalahkan ku yang jago catur ini? Baik….dasar burung unta!”
Tei menampakkan wajah tidak biasa. Ketika ayahnya menyebutkan kata itu, Jinnu pasti marah. Mengucapkan burung unta, sama saja menantang maut.
Jinnu tersenyum sinis.”Dari sekian banyak unggas yang berkeliaran, kenapa burung unta yang jadi trademark-ku? Kakek tua, kau cari mati ya?!” Nadanya penuh kekesalan.”Ah…bagaimana aku harus meembersihkan imej unggas itu?Eisssh…!”
“Tidak. Aku belum mau mati…” Senyumnya. Rupanya yang mengerti kenapa sifat Jinnu berubah hanyalah Tei seorang. Inilah yang terjadi antara Eugene dan Jinnu. Jinnu dan ayahku sering bertengkar seperti ini? Saat Jinnu merasa lelah, dia sering meladeni ayahnya bertengkar tentang hal-hal sepele. Seperti siapa yang seharusnya mencuci piring atau saling menyalahkan ketika ada makanan sisa di kulkas yang tersimpan hingga basi? Tidak penting bukan? Ya, seperti itu rupanya.
“Sudah-sudah. Kita masuk…” Tei melerai pertengkaran antara kedua orang yang masih belum matang itu.
“AYAH MASUK SAJA DULU!!!” Teriak mereka berdua pada Tei.

Jadi, ternyata benar aku ini mirip bapak-bapak ya?Tega sekali…Tei membatin.

********

Aku memaksakan mataku untuk tidur, namun bayangan kekalahan dari si mata burung unta itu terus saja menari-nari di atas kepalaku seperti mengejekku! Haahhh, sebal jadinya. Semakin sebal, semakin kuat rasa lapar yang ada diperutku. Oh iya, itu karena tadi aku hanya makan roti pemberian Tei.
Adikku Yuni sepertinya sudah tertidur lelap. Kami kakak beradik tidur satu kamar, tempat tidur kami dua susun. Yuni di atas, dan aku berada di bawah. Sebenarnya dulu sejak SD, aku selalu menempati tempat tidur Yuni, hanya saja sejak aku bisa judo selalu saja terjadi kecelakaan yang sebenarnya tidak aku sadari? Selalu saja aku selalu cedera, pertama lutut kananku selalu memar. Saat yang satu sembuh, giliran lutut lainnya yang memar secara bergantian. Aneh? Jika tidak, aku selalu terjatuh dari tempat tidur. Pernah sampai lenganku di gips selama 4 bulan, mengerikan! Rupanya, Yuni penasaran dengan pola tidurku yang tidak teratur dan membahayakan itu. Hehehe, dia memang anak yang manis? Dia merekam aktivitas tidurku di handphonenya. Ternyata,…Memalukan sekali??!!!Saat tidur pun sepertinya yang kupikirkan hanyalah bertarung dan bertarung. Jadi, memar di kedua lutut ku itu, mungkin inilah penjelasannya yang paling masuk akal!
“Eugene, kau ribut sekali?” Tanya adikku yang terganggu karena suara gelisahku.
“Maaf. Aku akan mencoba untuk setenang mungkin…”
Yuni kemudian bangun untuk membetulkan letak selimutnya.
“Kau kenapa? Si Tei gagal lagi?”
“Oh, bukan itu. Hari ini aku kesal karena dikalahkan oleh si burung unta itu? Saking kesalnya sampai tidak bisa tidur.”
Yuni berfikir, siapa si burung unta?
“Maksudmu Sean?”
Aku mengambil bantal dan mulai meremas-remasnya dengan kuat.
“Jika dia, aku tidak takut! Yang ini lain…Dia,berbeda. Sorot matanya saat mengalahkanku, benar-benar dingin. Aku jadi takut. Kenapa juga dia harus jadi adiknya Tei?! Membuat aku berfikir dua kali jika akan mengajaknya duel. Ahhkkk…Sebal! Kenapa hal ini harus terjadi padaku saat aku ingin menikmati masa mudaku dengan penuh perasaan kasih??” Kali ini bantal itu kututupkan pada wajahku.
“Tei punya adik?” Yuni bingung.
“Hmmm…adik yang menyebalkan.” Aku menggerutu.
“Apakah dia sehebat itu?”
“Dia licik karena pakai shinai, sementara aku bertangan kosong dan tanpa persiapan.”
Tanpa persiapan? Jangan-jangan maksudnya itu termakan oleh amarahnya sendiri. Itu kebiasaan Eugene yang tidak pernah bisa diubah?Pantas saja kalah.
“Kalah telak?”
“Darimana kau tahu?” Aku bangun dan dengan serius mendengarkan apa yang mau dikatakannya.
“Pantas saja. Bukannya dari dulu aku pernah bilang, jika terus berfikir saat darah tinggimu naik yang ada kau akan kalah. Dinginkan hatimu, jika hatimu dingin mau tidak mau daya pikirmu juga akan dingin, dari situ kau bisa berfikir tenang untuk mengalahkannya dengan jurus apapun yang kau kuasai. Apa kau mengerti?”
“Sedikit.”Aku langsung menjawabnya.
“Pantas sekali jika kau disebut lamban…” ledeknya padaku. Mentang-mentang dirinya pintar!

Aku benci adikku!….mengingatkanku pada sesosok monster yang ku benci!!
Tidak ada yang mengerti tentang aku selain Mina…Besok akan ku marahi dia karena meninggalkanku seorang diri menghadapi masalah gara-gara bocah aneh itu!

Bersambung…

2 thoughts on “One Sweet Punch! [8th Punch]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s