One Sweet Punch! [9th Punch]


sweet_hero

Author. Maeve.

Copyright 2005.

===================================================================

9th Punch

Aku dan adikku berangkat sekolah secara bersamaan, namun di persimpangan jalan dekat taman kami berpisah karena letak sekolahnya agak jauh dan harus ditempuh dengan kendaraan umum.
Saat aku mulai berfikir untuk mencoba latihan ekstra untuk memperkuat tubuhku yang tidak bisa menerima kekalahan dari si burung unta itu, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Eugene !”
Saat ku menoleh, rupanya itu Tei dan Jinnu. Kenapa juga bocah itu ikut-ikutan datang bersama dengan Tei? Menyebalkan, pagi-pagi sudah melihat wajah masamnya!
Aku menunggu mereka berdua untuk mendekatiku. “Kau mau berangkat ke sekolah?” tentu saja bodoh?! Aduh, kenapa aku selalu menanyakan sesuatu yang sudah jelas akan dia lakukan. Aku berusaha untuk tetap tenang.
“Iya. Kenapa tidak berangkat sama-sama saja?” Tei dengan baik hati mengajakku. Tentu saja aku mau, anak gadis mana yang menolak jika diajak berangkat sekolah bersama-sama dengan pemuda yang disukainya. Tapi, ada pemandangan yang tidak sedap dipandang. Mataku menatapnya dengan penuh keterpaksaan, dalam otakku penuh dengan sumpah serapah yang khusus ditujukan pada bocah burung unta itu.? Tapi, mana boleh aku mengatakannya dihadapan Tei…hehehehe. Dia juga sepertinya tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Huugh! Ingin sekali aku memukulnya dengan gagang sapu atau menendangnya seperti yang kulakukan pada bocah yang kukalahkan kemarin. Ya…memang. Sifat cool-nya itu bisa aku terapkan untuk jadi sentuhan terakhir dalam setiap pertarungan yang ku hadiri. Hhihihihi…rasanya akan menyenangkan menakut-nakuti lawanku dengan wajah sangar seperti yang dilakukannya padaku.
“Kau kenapa?” Tanya Tei.
Aku…sepertinya melamun terlalu banyak…
“Ah, tidak…kita berangkat?”
Tei tersenyum.”Ayo…hari ini sepertinya kau semangat sekali?”
“Tentu saja aku harus semangat…” Supaya aku bisa mengalahkan bocah hidup yang ada disampingmu itu. Aku menguatkan tekadku.
“Malas…aku duluan!”Ujar Jinnu yang kemudian berjalan mendahului kami. Pertama, kupikir dia memang kurang ajar dan tidak punya sopan santun. Tapi jika dipikirkan lebih jauh…Ternyata dia baik juga meninggalkan aku dan Tei berduaan. Meskipun aku masih kesal padamu. Terimakasih…
“Heh…”Panggil Tei padanya.
“Sudahlah…biarkan saja! Apa kau takut dia tersesat dalam perjalanan menuju sekolah? Kalau begitu, seberapa lambat otaknya?” Aku mencoba bercanda, dan Tei menggapinya dengan senyuman. Entah hanya aku yang merasa atau memang Tei selalu tersenyum dalam keadaan apapun? Ah, tapi aku tidak peduli. Senyum itu baguskan? Menandakan bahwa dia itu bukan orang yang sombong. Berbeda dengan adiknya itu!
Aku dan Tei bicara banyak. Menyenangkan sekali? Pertama aku pikir, aku hanya bisa melewatkan masa-masa SMA ku dengan kedaan yang menyedihkan karena perasaanku tak bisa kusampaikan padanya. Mudah-mudahan dengan jalan seperti ini, aku bisa jadi pacarnya. First friend…then girlfriend…hahaha.

********
Mina menunggu ku di gerbang depan sekolah. Aku ingin melihat ekspresinya ketika melihatku sedang berjalan dengan Tei…Dia pasti senang.
“Eugene…aku masih ada urusan dengan anak-anak OSIS. Mereka menungguku di kantor kepala sekolah, jadi tidak bisa mengantarmu masuk ke kelas.”
Aku tersenyum.”Tidak apa-apa.” Begini saja sudah cukup. Hahaha…senangnya dia mengkhawatirkanku. Kemudian, dia pergi dengan setengah berlari.
Mina mengagetkanku. “Rupanya sudah terjadi kemajuan setelah ku tinggal pergi kemarin?”
Ucapnya. Padahal, meruntuhkan rak shinai itu dengan kekuatan yang dimilikinya itu tidak mudah. Tapi, demi membalas kebaikan Eugene Mina tidak peduli.
“Iya…dan aku benar-benar senang. Tapi, kau harus membantuku memaku rak di tempat latihan yang ku rusak kemarin. Menyebalkan?” Aku mulai menggerutu sambil menarik Mina ke ruang latihan sebelum masuk ke kelas untuk belajar.
“Ayo cepat, kau itu seperti belum sarapan saja?” kataku pada Mina yang jalannya pelan seperti kura-kura.
“Aku kan bukan gadis yang sangat energik sepertimu? Aku mengandalkan kelemah lembutan serta keanggunan.”
Ucapannya itu sok sekali.”Iya. Untuk ukuran gadis anggun yang berdada rata sepertimu, menjadi kura-kura itu cukup lumayan. Hehehe…” candaku padanya.
“Eugene…Jinnu!”Tunjuknya padaku ke arah Jinnu yang tengah berlatih kendo. Sial, anak itu kenapa bisa bebas berkeliaran semaunya di depanku?
Jodan no kamae-posisi bersiap-siap dengan shinai di atas kepala. Sepertinya dia serius sekali?
“Pemuda yang menakutkan, benarkan Mina?” Aku menengok ke sebelahku. “Oi…Mina!” Kemana anak itu? Aku kaget karena tidak menemukan dia disampingku, sama seperti kemarin.
Ada apa dengan semua orang akhir-akhir ini?
Aku masuk tidak ya?
Ahh!Kenapa aku jadi pengecut seperti ini?
Aku memacu semangatku dan langsung masuk ke dalam ruang latihan tanpa menghiraukannya sedikitpun. Lagipula, aku merasa dia juga tidak menghiraukanku. Burung unta sialan!
Kalau saja aku siap, aku pasti menantangnya hari ini juga untuk membalas kekalahanku darinya.
Hhhmmpphhff…Eugene, lupakan dulu soal hajar menghajar. Saat itu pasti akan datang, sekarang kau harus fokus pada perbaikan rak yang telah kau rusak…Iya, rak itu…Hah! Aku memeriksa dengan mataku untuk kedua kalinya. Rak itu sudah tidak ada?
“Mana?” Aku setengah kaget karena tidak menemukan rak yang ku maksudkan.
Aku mendekati sebuah rak baru yang masih tercium bau pernisnya. Shinai-shinai itu yang kemarin masih belum ditata rapi, sekarang sudah berada di rak tersebut dengan tertata rapi.
“Hhheh…bocah! Pergi kemana lemari yang rusak itu?” Tanya ku pada bocah tengil yang bernama Jinnu itu. Dia tidak bersuara atau pun melakukan gerak tubuh yang menanggapi pertanyaanku, malah asik sendiri dengan shinainya.
“Hhhehh…! Kau tuli apa bodoh?” tanya ku padanya. Untuk membuyarkan konsentrasi manusia yang super dingin itu, harus dengan cara meremehkannya. Tapi, dia sudah ku sebut bocah, tuli dan bodoh? Masih juga tidak mempedulikanku.
“Itu…gerakkan yang tadi itu disebut waki-gakame kan? Posisi shinaimu ada dibawah…” Ujarku sok tahu dengan mengandalkan insting national geographic series-ku tentang kendo!!
Bagus…Sepertinya, dia mulai memperhatikan perkataanku.
“Kau tahu tentang kendo?”
Tentu saja bodoh…aku ini tidak akan melewatkan satu informasi pun jika mengenai olahraga bela diri. Itu semua untuk mendukung gerak tubuhku jika harus bertarung secara freestyle.
“Sedikit…” Jawabku.
Dengan wajah yang sama ketika menghadapiku, dia melemparkan shinai yang ada ditangannya kepadaku.
“Apa ini?”
“Aku jadi penasaran sampai batas mana kemampuanmu?”
Apa dia menantangku? Tidak. Ingat perkataan adikmu…aku pasti akan lemah jika termakan amarahku sendiri. Jangan terima tantangannya.
“Maaf, aku sedang datang bulan. Tidak enak bergerak sedikit pun…Lain kali saja saja ya?!” Senyumku padanya. Wajahnya sedikit malu ketika aku mengatakan hal yang berbau feminisme itu.
“Heh. Rak?” Aku menanyakan kembali perihal rak yang sudah tergantikan oleh rak baru tersebut kepadnya.
“Tim kendo punya uang berlebih. Jadi, daripada harus memakai rak yang kau perbaiki. Lebih baik beli baru. Malas…aku pergi!” Ujarnya acuh.
Hohoho…sok punya uang? Tapi, benar juga. Koordinasi tim kendo dan tennis-lah yang paling menonjol daripada tim judo? Jika tidak ditagih dengan paksaan, mana mau anak-anak itu keluar biaya untuk beli alat yang macam-macam.
“Tunggu sebentar. Jika aku menantangmu dilain hari, apa kau menyanggupi?” Tanyaku padanya sebelum dia pergi menghilang.
Jinnu menghentikan langkahnya.”Malas…” Ucapnya lagi.
“Heh!…Bisa tidak kau itu serius sebentar?Kau itu laki-laki atau bukan sih!” Tanyaku kesal.
“Apa kau suka Tei? Jika ya, berusahalah. Dia memang baik pada semua orang, jadi kau janagn besar kepala dulu.” Jinnu memberikanku petuah, apa tidak salah? Orang ini, sebenarnya apa maunya?
“Iya. Aku akan berusaha…”Ujarku bersemangat.”Aku jadi ingat.”Heh, sepertinya dari sekian banyak anggota tim kendo hanya kau seorang yang bebas berkeliaran di sekolah. Apa kau tidak perlu belajar sedikitpun?” Aku penasaran tentang hal ini. Aku saja hanya boleh off jika sudah mendekati masa-masa pertandingan, tapi dia bisa seenaknya datang berlatih semaunya.
“Apa kau lupa siapa yang menduduki peringkat pertama nasional dengan nilai sempurna?”
“Siapa?”
Jinnu kaget, masa selama bersekolah di sini Eugene tidak tahu menahu tentang IQ-nya yang mencapai 140 itu? Semua orang saja tahu kalau dia lebih pintar dari Tei yang hanya bisa meraih peringkat 4.
“A-K-U!” Jawabnya sedikit membanggakan diri.
“Masa? Kau jarang sekali belajar, masa bisa jadi juara pertama. Cari mati ya?” Aku mencibir tidak percaya pada ucapannya.
“Aku…malas bicara denganmu.” Ujarnya kesal.”Aku berbeda dengan anak-anak lain, hanya dengan melihat dan mendengar sekali aku langsung bisa mengerjakan semua pelajaran dan mendapatkan nilai sempurna.” Jelasnya lagi.
“Waah…pantas saja kau seperti itu. Merasa semua orang jauh dari levelmu, lalu kau seperti seorang raja yang berkuasa dan bertindak semaumu. Dingin dan menyebalkan.”
Perkataan Eugene itu seperti sebuah pukulan telak baginya. Perkataan Eugene memang benar, hanya saja bukan itu masalahnya.
“Jika kau ingin menantangku, silakan saja…” suruhnya.”Kau sendiri yang tentukan tempat dan waktunya.” Nada bicaranya kembali seperti semula, menakutkan sekali.
“Tentu. Aku akan berusaha untuk bisa mengalahkanmu…” Aku pun mendadak bicara dengan nada serius.
Jinnu tersenyum. Baru kali ini aku melihatnya tersenyum seperti itu, senyuman yang bisa cepat aku artikan. Anehnya lagi, aku tidak merasa kesal sedikitpun. Dasar pemuda yang aneh.
“Sebaiknya aku masuk kelas…Sampai bertemu lagi, burung unta.” Pamitku padanya, aku ini orang yang jarang berkata seperti itu, jadi anggap dirimu itu beruntung.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s