Mimpi…


house

Mimpi…

Kalo udah ngomongin soal mimpi, bukan kembang tidur ya…tapi mimpi kita dari kecil mo jadi apaan?

Mimpi gue waktu kecil pengen jadi polwan, karena waktu TK…polisi itu keren. Tapi ketika gue SD, liat film-film Hongkong yang rata-rata ada pengacaranya yang keren banget mencoba menangin kasus-kasus orang-orang tertindas. Oke, ntar kalo dah gede gue mau jadi pengacara aja!! Tapi ketika dunia gue dari kecil sampe gede berkutat disekitar nonton film dan salah satu temen gue di facebook bilang, “Kenapa lo gak jadi kritikus film aja?” ketika status gue mengkritik film bikinan Michael Bay ‘Horseman’ yang — nyesel banget gue nontonnya. Padahal itu bikinan Michael Bay– Hello gitu loh?? Transformer?Armageddon? Mungkin karena dia cuman jadi produser doang kali ya, makanya gak bagus. Dennis Quaid sama Zhang Ziyi raw emotion banget kayak aktor dadakan di film itu.

Oke, back to the point. Karena dunia gue deket sama yang namanya film dan serial, ada satu serial yang bikin gue bercita-cita jadi sutradara. Inget serial ini?

x-files

Yup, The X-Files. Karena dari kecil gue sering mengarang bebas, kayaknya seru kalau gue bikin cerita supernatural dan bakalan seru lagi kalau diangkat ke layar tv atau film. Mimpi itu yang terus gue pertahanin sampai sekarang.

Kalau gue jalan-jalan ke tempat baru, otak gue langsung bekerja kayak roll film. Mata gue jadi kamera yang siap nangkep scene-scene yang gue butuhin dalam ‘drama’ gue. Ngehayal udah kayak pekerjaan sehari-hari…you can call me freak, autis, ato apalah. Tapi yang pasti, this is what I want to do.

Ketika gue bilang sama nyokap, waktu itu masih kelas 2 SMP.”Mam, aku pengen jadi sutradara!Ntar lulus SMA masuk IKJ ya?”

Jawaban nyokap bikin gue sakit hati, “Nggak! Ngabisin duit kuliah begituan.”

Karena gak ada yang dukung mimpi gue waktu itu, yah…yang ada jalanin hari-hari sebagai pengarang. Apa aja gue karang, karya pertama gue waktu SMP itu menceritakan petualangan yang terinspirasi sama Amityville Horor karya Jay Anson, karena gue punya hardcopy edisi bahasa Inggris ke-13 tahun 1977 yang sekarang bukan hardcopy lagi tapi udah kena kopi!

Mengisahkan petualangan 2 orang anak SMA yang mencoba mencaritahu sebab hilangnya seorang teman sekolahnya yang menghilang secara misterius. Biasalah, ada ruang rahasia, hantu, sama action seadanya. Tapi cuman kakak gue yang baca, entah dia inget ato kagak kalo adeknya ini suka nulis?

Saat SMA, keputusan gue untuk jadi penulis makin bulet ketika mengenal sosok Stephen King sama John Grisham. Selera gue aneh ya? wkwkw…Dua-duanya selalu bikin gue megap-megap kalo baca karya mereka saking tegang dan kerennya. Tapi karena gak ke-otakkan buat cerita thrillers model mereka, terjunlah gue bikin cerita komedi-romantis.

Kelas 1-2 SMA adalah masa paling aktif. Kalo bisa gue bilang debut pertama, bisa dibilang masa itu debut pertama gue nulis cerita yang dibaca sama orang lain. Asalnya cuman iseng karena jam pelajaran sejarah bikin K.O semua anak di kelas. Tokohnya tak lain dan tak bukan temen sebangku gue si Lidia. Nih anak pinter cuman prefeksionis abis! Makanya gue tulis karakter dia sesuai sama aslinya, dia yang skeptis soal cinta, jatuh cinta sama cowok yang diem-diem punya penyakit kanker. Hubungan love and hate pun terjadi karena Lidia gak pernah ngeliat si cowok sebagai cowok yang bisa dipercaya karena ke-playboy-annya, tukang gonta ganti cewek. Sekalinya si cowok bilang suka sama Lidia dan mencoba membuktikan kalau Lidia adalah orang yang dia cintain selama ini, makanya Lidia mencoba untuk membuka diri sama yang namanya cinta dan juga cowok itu. Tapi pas tahu cowok itu punya penyakit kanker, Lidia jadi inget sama papanya yang meninggal karena TBC dan mencoba untuk merawatnya sampe akhir hayat cowok itu dengan cintanya..hehehe…’A Walk to Remember’ Banget ya? Jelas…lah terinspirasi sama film itu. Judulnya apa ya karya gue itu? Lupa dan ilang bukunya pas benerin rumah. Yang gue maksud sama buku itu secara harafia, emang gue tulis di buku tulis yang tebelnya 100 lembar. Tiap hari nyokap ngomel, kok kerjaan gue tiap pulang pasti beliin buku tulis T T…

Karya gue yang kedua pas kelas 2 judulnya, ‘ Two Side of The Coin’ kalo gak salah itu juga, karena gue nulisnya di kertas folio dan HILANG lagi. Saksi mata, temen satu bangku yang sampe saat ini jadi sobat gue. Teman sekelas udah kayak editor, abis bikin chapter 1…langsung diambil dibaca kayak selebaran koran pas perang dunia ke 2, dari tangan ke tangan lainnya. Lumayanlah ngisi waktu senggang mereka saat pelajaran lagi mumet. Yang ini menceritakan tentang cewek biasa aja suka sama cowok arogan…you guys know the ending kan? The good girl always fall for the bad guy :P…but anyway….semakin banyak gue nulis, semakin lama, semakin gue kehilangan jati diri. Makanya gue mutusin untuk gak nulis dulu. Hingga akhirnya mimpi gue terlupakan.

Terlupa karena, semakin kita dewasa yang kita cari bukan mimpi masa kecil tapi realitas. And believe me, buat orang yang gak punya ambisi dan perencanaan buat masa depan kayak gue, reality is stinks!! Saat itu gue berada diambang, kuliah-mimpi-pekerjaan.Yang gue susutin jadi kuliah-kerja, dan akhirnya gue susutin lagi jadi kerja.

Sadar kalo kehidupan sebagai orang dewasa itu menyulitkan, untuk ngelepasin stress…gue balik lagi nulis. Writing is my dream and my life, seenggaknya gue gak kejar komersil. Gue tulis apa yang gue suka, bagus apa nggak, terserah yang baca!

Gue percaya kalau mimpi satu orang gak bakalan terwujud meskipun dia kerja keras sampai muntah darah, tapi kalau mimpi satu orang di tunjang sama orang lain yang punya mimpi yang sama, kemudian ada lagi satu orang yang punya mimpi yang sama pula dan begitu juga seterusnya dan saling menjaga. Pasti semua bisa terwujud. Itulah yang gue terapin sekarang ini sama kehidupan gue.  Life is never think only about you, but you and the people around you.

Apa kalian sudah berhasil mengejar mimpi masa kecil? Yang mimpi jadi polisi udah jadi polisi, yang mimpi jadi pengacara udah jadi pengacara, mimpi jadi penyanyi udah jadi penyanyi, mimpi jadi astronot udah terbang ke luar angkasa…Kalo balik ditanya, apa gue udah berhasil mengejar mimpi masa kecil? Meskipun gagal semua, gue berani jawab ‘IYA!’ karena “Experience is what you get when you didn’t get what you wanted.” — Pengalaman adalah apa yang kau dapat ketika kau tidak mendapatkan sesuatu yang sangat kau inginkan.

Ngutip kuot Dr. Randy Pausch lagi…

It’s not about how to achieve your dreams. It’s about how to lead your life. If you lead your life the right way, the karma will take care of itself. The dreams will come to you.

Mei sign off!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s