One Sweet Punch [11th Punch]


Author. Maeve

====================================================================

11Punch

Di tempat lain, Ren rupanya sudah melancarkan aksinya dengan berduel dengan jago karate dari SMA Magnivio yang bernama Elmo. Pertarungan yang memakan waktu kurang lebih dua jam itu akhirnya di menangkan oleh Ren. Sepertinya kekuatan Ren telah maju pesat di bandingkan beberapa hari yang lalu.
Elmo yang bertubuh besar hanya dengan beberapa jurus saja sudah dapat di kalahkan dengan mudah, padahal dia sudah melakukan perlawanan yang sengit menahan serangan Ren. Luka-luka yang didapatkannya sangat parah sampai-sampai bangun pun sudah tidak bisa.
Orang ini? Sebenarnya siapa? Sangat menakutkan. Elmo membatin seraya menahan sakit.
“Berapa sekolah lagi yang belum ku kalahkan?” tanyanya pada salah satu anak buahnya.
“Dua lagi bos, SMA 39 dan Felsterinch.” Jawab bawahannya.
“Felsterinch…menyenangkan sekali. Eugene, kita akan bertemu lagi. Kali ini, kita lihat siapa yang takut oleh siapa?” Ucapnya sinis.”Kita pergi…Tidak ada urusan yang lain lagi dengan si bodoh tidak berguna itu…”
Setelah mengalahkan Felsterinch aku akan jadi orang terkuat di daerah selatan ini.
Elmo tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi
********

Aku ingin sekali pergi ke toko buku, masalahnya kalau tidak cepat pasti komik yang akan ku beli itu keburu di beli orang. Tapi bagaimana caranya pergi ke sana tanpa bisa di kenali oleh para berandalan anak buahnya Ren? Jika memaksakan diri tetap pergi dengan wajah seperti ini, sama saja menyerahkan nyawa. Apalagi mereka akan segera mengenali seragam sekolah ini?
Huh…aku ini tidak pandai dalam hal penyamaran? Masa aku harus…ternyata aku dapat sedikit pencerahan. Aku melihat apa yang bisa aku lakukan.
“Teman ku yang baik dan cantik…” Tanyaku pada teman sekelasku Sifra yang hobinya berdandan. Setiap hari wajahnya penuh dengan riasan make-up yang tebal, memang dia cantik, tapi kira-kira seberapa besar uang yang dia keluarkan untuk hal yang begituan?
“Aaa…da…aaapaa?” Sifra sedikit takut. Memangnya aku sebegitu menakutkan ya, sampai-sampai teman sekelasku jadi paranoid seperti ini?
“Begini…aku…aku ingin itu.” Tunjukku ke peralatan make-upnya yang tergeletak di meja.
“Apa yang…kau perlu?”
“Itu…Hmmm…” Aku malu untuk mengatakan ingin merias wajahku, bisa-bisa seluruh dunia akan menertawakanku habis-habisan!
“Bawa itu dan ikut aku!” Aku mengancamnya dan membawanya ke kamar mandi wanita. Jika aku masuk kamar mandi, sudah pasti tidak akan ada yang menggangu. Hal seperti itu terjadi dengan sendirinya tanpa ku sadari.
“Kkkau mau apa?”
“Tolong rias wajahku. Dengan begitu aku bisa beli komik di pertokoan S, kau mau kan menolongku?” Ucapku dengan nada setengah tidak peduli. Padahal aku takut kalau wajahku yang terlanjur seperti laki-laki ini anti riasan. Mulai dari bangun pagi, aku hanya pakai lotion milik adikku. Jika hampir terlambat ke sekolah dan belum sempat pakai minyak wangi, aku pakai saja cologne milik Dwight atau Sean yang pernah ku sita. Bagiku wangi cologne semua sama saja, yang penting bisa menyamarkan bau keringat.
“Eugene…dandan?” Wajah Sifra pucat pasi.
“Kenapa? Apa wajahku ini sudah tidak bisa dipermak seperti wajahmu itu? Kalau tidak mau menolong, ya sudah. Lupakan?!”
“Baik…Ini yang ingin kulakukan sebelum lulus dan masuk sekolah kecantikan. Membuat seorang gadis tomboi terlihat seperti putri…Aku akan berusaha keras, tenang saja. Aku akan membuatmu cantik.”
Sifra menarikku dan menyuruhku duduk di meja washtafel. Dia dengan sigap mengeluarkan segala macam benda asing dari dalam tas riasnya. Ada yang berbentuk pinsil, lipstik, bulu mata palsu, dan peralatan tempur lainnya yang tidak ku ketahui jenisnya.
Aku juga sebenarnya heran, apa harus dengan cara seperti ini agar bisa berjalan dengan aman dan nyaman di daerah musuh? Kata nenekku, tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya. Aku jadi penasaran?
Sifra dengan teliti dan hati-hati memoleskan semua benda yang ada di tangannya ke wajahku. Jika bukan keinginanku sendiri, kalau ada seseorang yang berani menyentuh wajahku ini pasti akan ku hajar!
“Ternyata kulitmu halus juga, make-up nude paling cocok untuk mu. Matamu juga indah, jadi aku akan tambahkan sedikit eye liner, dan menambah volume bulu matamu dengan maskara ini. Dan…”
Dan apa?
“Selesai…Kau boleh lihat dirimu di kaca.” Suruhnya padaku.
Aku terkejut dengan perubahan wajahku itu.
TIDAK KENAL?
Aku jadi mirip gadis cantik di majalah-majalah asia yang sering di sebutkan oleh Sean. Sebegitunya kah aku??!
“Bagaimana? Ternyata kau itu punya kecantikan yang tersembunyi, Eugene. Dengan wajah seperti itu, aku jadi iri padamu?”
“Kecantikan yang tersembunyi?…Aku suka ucapanmu itu. Jika iri dan ingin balas dendam, tunggu aku bisa mengalahkan Jinnu dulu. Baru ku terima tantanganmu…” Balasku padanya dengan penuh percaya diri.
“Bu..bu..kan itu maksudku?” Jawab Sifra pelan. Ternyata di otaknya tidak ada istilah anggun, hanya bisa menyelesaikan masalah dengan pukulan. Pantas saja semua orang takut padanya.
“Heh…apa aku boleh pulang sekarang?” Tanyaku lugu.
“Tentu saja. Kau boleh keluar…”
Hahaha…Prince of Tennis, aku akan membawamu pulang!!! Mada mada da ne…

********

Ketika aku berjalan di lorong sekolah saat jam pulang, aku bertemu dengan Tei dan Jinnu.
Rambutku sengaja tidak ku ikat kubiarkan terurai sepinggang. Yang menyadari itu aku adalah Jinnu.
“Eugene?!”
Tei baru sadar setelah itu. “Eugene, kau?”
Kedua pria itu terkesima melihat perubahanku.
“Kenapa kalian? Baru pertama kali lihat wanita cantik ya?” hehehe…
“Rupanya, kau memang wanita ya?” Jinnu baru sadar dengan apa yang dilihatnya.
“Kau?! Menyebalkan.” Balasku dengan kesal.
“Cantik…Ini pertamakalinya aku melihatmu berdandan seperti ini. Apa kau ada kencan?”
KENCAN??!!
“Tidak, mana ada kencan?” Aku kan hanya suka kamu.
“Aku tahu itu. Gadis sepertimu itu mana punya pacar? Hanya Tei saja yang mau berteman denganmu.”
Auraku kini berubah jadi gelap.
“Kupikir-pikir, sudah lama juga aku tidak menghajarmu?! Apa ini sudah waktunya?” Kataku dengan mata yang berapi-api. Tei saja sampai takut melihatku.
“Hoaahhhmmm…”Jinnu menguap.”Lipstik mu terlalu tebal. Seperti mau makan orang?!”
Duuak!
Aku melayangkan satu pukulan dan kena mukanya. Jinnu terhuyung ke belakang, “Kau, berfikirlah dua kali jika ingin sok kuat?!”
“HENTIKAN!!” Baru kali ini aku mendengar Tei berteriak sekuat itu. Seperti anak tk yang kena marah guru, kami berdua ketakuatan dalam diam.
“Ku mohon hentikan sikap bodoh kalian berdua itu.”lanjutnya lagi.
TIDAK…Tei jadi tidak suka padaku! Ini gara-gara bocah sialan ini. AWAS KAU YA! Tapi Jinnu tidak membalasku sama sekali saat pukulanku mengenai rahangnya. Si burung unta ini kelihatan tidak punya rasa sakit sama sekali? Buruknya lagi, kenapa wajahnya kelihatan tidak akan balas dendam. Kalau aku di tonjok oleh orang yang ku benci, pastinya dia akan kubalas saat itu juga. Ah, kalau begini jadi tidak seru! Jinnu satu-satunya orang yang ku jadikan tolak ukur kekuatanku. Kalau tidak salah, Abym pernah bilang, Jinnu kalau bertarung tidak akan mengeluarkan seluruh kekuatannya. Dia hanya memfokuskan 30% pada kakinya, 30% pada tangan, dan sisanya sebanyak 40%, tergantung pada suasana hatinya. Jika lawannya tangguh, mungkin hanya akan memakai sisa tenaganya yang tersisa sebanyak 40% itu, namun jika sebaliknya, dia akan bermalas-malasan. Contohnya, dia berpura-pura terlihat terpojokkan dan hampir kalah saat pertandingan, tapi saat terakhir dia bisa membalikan keadaan. Saat dimarahi oleh Abym, selalu saja dia memakai alasan, “Aku kasihan pada orang lemah itu, jadi aku sedikit memberinya muka. Toh, pada akhirnya aku yang menang kan?”.
Menjengkelkan?!
“Kau berdandan seperti itu, mau pergi kemana?” Tanya Tei.
“Aku mau ke pertokoan S, soalnya komik kesukaanku sudah keluar. Apa kau mau ikut?”
Tei mengernyitkan dahinya, “Pertokoan S, bukannya untuk sementara kita tidak boleh kesana?”
“Jadi, kau juga tahu kalau ada anak sekolah kita yang akan dipukuli jika datang kesana?” Tanyaku.”Ah, tidak jadi, Tei tidak boleh kesana. Cukup aku saja!”
“Toko buku itu banyak, kenapa harus kesana?” Tanya Jinnu dingin.
“BUKAN URUSANMU.” Balasku kesal sambil melayangkan pandangan mengisyaratkan bahwa aku sedang tidak ingin bicara dengannya.
Dasar bodoh, jika ada toko buku yang dekat dari sini, untuk apa aku pergi kesana? Meskipun bodoh, jika harus mengantarkan nyawa sendiri kesarang penyamun, aku akan berfikir seribu kali?!

**********

Cuacanya begitu panas. Dengan make up seperti ini apa tidak apa-apa? Rupanya Sifra merubah wajahku dengan sungguh-sungguh, karena banyak sekali pria yang melihat ke arahku. Bahkan ketika aku melewati tempat biasa aku jajan, si pemilik toko tidak mengenali wajahku.
Saat ini aku jadi merasa seperti bunga mawar yang sedang mekar. Indah dan menakjubkan. Hihihi…(* menyenangkan diri sendiri ).
Aku mulai memasuki kawasan pertokoan S, rupanya ancaman itu cukup serius sampai-sampai tidak ada satu pun anak sekolah dari beberapa sekolah yang ada di sekitar sini. Ren brengsek! Tenang saja, jika sudah waktunya aku akan berbuat sesuatu untuk membantu teman-temanku.
Setelah sampai di toko buku, aku langsung mencari buku komik yang ku mau. Kemudian ku ambil beberapa seri lanjutannya. Rupanya, ucapan nenekku itu memang benar. Tempat yang paling aman adalah tempat yang berbahaya. Aku kira, tidak sia-sia keluargaku penuh dengan wanita-wanita perkasa. Sifat itu menurun dari keluarga Ibuku, semuanya adalah tipe wanita yang bisa diandalkan.
“Akhirnya, aku bisa baca komik di rumah…Tidak akan ku pinjamkan pada Yuna!” Ujarku setelah keluar dari toko buku.
Ketika aku berjalan melewati sebuah gang yang berada di antara toko-toko di dekat toko buku tersebut, aku melihat ada jaket yang tergeletak begitu saja di trotoar. Asalnya ku biarkan saja dan terus berjalan, tapi sepertinya jaket itu pernah aku lihat sebelumnya. Iya, aku ingat. Itu jaket tim karate SMA Magnivio.
“Aduh, bagaimana ini? Berhentilah berbuat bodoh. Ini bukan urusanmu!!!” Ucapku pada diriku sendiri. Tapi, aku tidak bisa hanya diam dan pura-pura tidak peduli. Lagi pula, apa yang ku khawatirkan, belum tentu terjadi? Siapa tahu jaket itu memang terjatuh dan si pemilik belum mencarinya, atau memang sudah jelek terus di buang, atau juga terbang terbawa angin. Iya, berfikir positif itu lebih baik.
Aku kembali ke ketempat dimana aku menemukan jaket itu. Aku tepat berdiri di depan gang yang ku maksud tadi.
Gang itu lumayan besar, kalau tidak salah ini satu arah. Apa aku harus masuk dan memeriksa?
Brengsek! Apa aku ini detektif swasta apa?
Tapi jika tidak ku lakukan, aku akan mati penasaran.
Perlahan-lahan aku masuk ke dalam gang tersebut. Aku melihat ke sekelilingku, aku takut jika ada yang menyusup di belakang dan menghajarku. Jadi, sepertinya harus hati-hati.
“HEI!!!…”Teriakku. Aku segera lari ketika melihat sesosok tubuh yang tergeletak di tanah dan menghampirinya. Aku periksa keadaan orang tersebut dan untunglah dia tidak apa-apa, hanya memar dan luka-luka bekas pukulan.
“…..Ren…” Bisiknya pelan sambil menahan rasa sakitnya.
“Apa? Aku tidak dengar?”
“Reeen…”
Nama itu. Sudah tidak asing ditelinga ku.
“Sialan…Baiklah, kubawa kau pergi dari sini. Tunggu sebentar!!”
Aku mengeluarkan handphone dari saku bajuku. Orang yang pertamakali ku telpon adalah sean.
********

Sean segera menghubungi Dwight, dan juga Abym sebelum menuju ke tempat dimana Eugene dan anak yang baru saja di pukuli itu berada.
Mereka akhirnya memutuskan untuk bertemu dia depan gerbang sekolah.
Bukan Cuma Mereka bertiga yang datang. Hero, Daniel, Jinnu juga ada.
“Apa Magnivio perlu diberitahu juga?” Tanya Daniel.
“Jangan dulu, kita harus pastikan itu anak Magnivio atau bukan?”
Perkataan Abym memang masuk akal.
“Eugene bilang, lukanya parah, tapi tidak akan mati…” Jelas Sean.
“Eugene?” Tanya Jinnu.
“Iya. Dia ada di sana…Ahhh, sial. Kenapa dia harus pergi ke sana sih?! Bukannya sudah ku bilang itu berbahaya, berbahaya!” Sean kesal.
“Jinnu kita harus bagaimana? Bukankah Eugene itu tanggungjawabmu?”
“Katakan dimana tempatnya?”

to be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s