One Sweet Punch [12th Punch!]


Author. Maeve

=====================================================================

12th Punch

Jinnu menanyakan tempat Eugene berada pada Sean, dan dengan gembiranya dia langsung memberitahukan lokasinya.
“Kalau tidak salah gang itu tembus ke perumahan kan?…Apa kalian pikir, Ren juga menguasai daerah kompleks perumahan itu?” Tanya Daniel.
“Tidak mungkin sampai merambah ke kompleks, di sana bukan tempat mereka. Tunggu… Jadi, maksud mu…Kita lewat jalan belakang untuk menjemput Eugene?!” Dwight langsung bisa membaca jalan pikiran Daniel.
“Jika memang itu satu-satunya cara. Kita pergi sekarang…” Suruh Abym.
“Eugene, biar aku yang jemput…”
Jinnu menahan langkah Abym dengan ucapannya tersebut.
“Dia, gadis yang menyukai kakak ku…” Penjelasan itu cukup dimengerti oleh Abym. Sepertinya cara pria untuk saling mengerti cukup sederhana.
“Jika ada sesuatu, kau cukup berteriak saja…” Suruhnya.
Dengan penuh percaya diri dan senyum meremehkan dia berkata, “ Apa aku terlihat seperti orang lemah bagimu?”
“Dasar brengsek…” Canda Hero menimpali sikap soknya itu.

********

“Ah, sial. Sean mana? “
Aku sudah bingung sendirian di tempat itu, bukannya aku takut. Tapi, aku tidak kuat membawa orang itu sendirian dengan tubuhku yang kecil ini!
“Heh, kau mau apa kembali ke tempat ini lagi?” Tanya seseorang yang sepertinya akan masuk ke dalam gang.
“Siapa tahu orang itu punya uang di kantong celananya. Lumayankan buat happy-happy!”
Di tempat ini tidak ada tempat untuk bersembunyi, dan jika itu pun kulakukan tentu saja tidak akan cukup waktunya.
Ahhhh….Sialll!!!!
Derap kaki mereka terhenti di depanku.
“Waaah…Siapa ini?’ Tanya salah satu dari mereka. Tadinya aku berfikir yang datang hanya dua orang. Rupanya lebih. Mereka sempat ku hitung, 6 orang. Iya, jumlah mereka 6 orang.
Handphoneku bunyi.
Aku angkat…dan bicara…
“Jangan ganggu aku Sean…setidaknya ada 6 orang di depanku yang harus ku habisi…”
“Cih…gadis ini berani juga rupanya??” Timpal berandalan itu.
“Eugene..”
“Sean…sebenarnya aku takut…belum pernah aku melawan sebanyak ini tanpa bantuanmu.”
“DIAM DI SANA BODOH!!JANGAN MENYERANG SAMPAI AKU DATANG…MENGERTI!!”
Suara itu…bukan suara Sean.
Aku tidak peduli itu suara siapa? Cepatlah datang sesuai dengan ucapanmu, tolong aku!!!
“Cih…Kalian anak buahnya Ren?!”
“Kalau iya, lalu mau apa gadis cantik…”
Aku diam seperti yang di suruh. Tidak akan menyerang sampai seseorang datang.

********
“Ada orang lain di situ selain Eugene.” Yang menelponnya ternyata Jinnu. Mereka semua segera berlari ke tempat Eugene berada.
Brengsek. Tangan salah satu anak buah Ren mulai menggerayangi wajahku. Bagaimana ini? Sean brengsek…Cepatlah datang!!
“Sebaiknya apa yang harus kita lakukan pada gadis cantik sepertimu…”
“Setelah teman-temanku datang, kau pasti akan menyesal telah menyentuh wajahku!!”
“Menyesal? Hahahaha…kata-kata itu tidak pantas keluar dari mulutmu yang manis itu.”
Cih…menjijikkan. Berandalan ini lebih menjijikan dari cecunguk-cecunguk yang pernah kutemui sebelumnya. Sean…Aku mengharapkanmu datang!!!
“”LEPASKAN TANGAN KOTORMU DARINYA. BRENGSEK!!”
Suara itu tertahan di kepalaku. Itu suara yang sama di telpon…pemilik suara itu bukan Sean. Tapi Jinnu…
“Mereka lewat jalan belakang. Panggil anak-anak yang lain!!” Suruh si brengsek yang tadi menyentuh wajahku.
“Eugene…maaf aku terlambat.”
Aku memandangnya yang sekarang sedang berdiri di sampingku, dan meraih tanganku.
“Aku tidak apa-apa. Tapi, kita harus mengeluarkan anak Magnivio itu dari sini. “
“Apa lukanya parah?”
“Tidak juga. Sepertinya dia hanya pingsan.”
“Kalau begitu. Segera pergi dari sini!”
Apa?! Tidak mungkin itu kulakukan.
“Kau datang hanya ingin membuatku kesal ya? Jinnu.” Aku melepaskan tangannya.
“Bawa anak itu pergi dari sini, yang lain ada di belakang menunggumu.”
“TIDAK!!AKU AKAN TETAP DI SINI!!”
“AKU MENYURUHMU UNTUK PERGI. KENAPA KAU TIDAK MENDENGARKANKU SEKALI INI SAJA…”
——————————-
————————————-
——————————————-
Baru kali ini aku melihatnya marah seperti itu, dan untuk ke dua kalinya aku takut padanya.
“Baiklah…Aku pergi!! Kau dengar itu kan??Jika kau mati, itu bukan salahku!!…”
Dan hanya dengan perkataan itu, aku terus menyeret anak Magnivio itu keluar dari situ.
“BODOH…BODOH!!!! JINNU…!!!”
Ah, aku kesal setengah mati dibuatnya. Saat aku keluar dari gang tersebut, Dwight segera membantuku menarik tubuh anak itu.
“Anak itu ku serahkan padamu.”
Aku balik arah bermaksud menolong si burung unta.
“HEI…MAU KEMANA?!” Tanya Dwight sambil berteriak.
Abym dan Hero langsung mengikuti dari belakang, sebelum itu dia memberikan komando pada Sean untuk membawa anak itu ke rumah sakit, dan menunggu di sana. Jika belum ada kabar, barulah Sean boleh mencari mereka.

*********

Jinnu masih bisa menahan serangan mereka seorang diri ketika aku datang untuk membantunya. Memang dia masih kuat, tapi dengan banyaknya bantuan dari pihak lawan, kemungkinan untuknya bertahan tidak bisa terbayangkan.
“BUKANNYA KAU KU SURUH PERGI? KENAPA KEMBALI?!”
“KENAPA? KAU KESAL YA?! JANGAN BESAR KEPALA DULU, AKU KESINI BUKAN UNTUK MENYELAMATKANMU TAPI SALAH SATU CECUNGUK INI SUDAH MENODAI WAJAHKU DENGAN TANGAN KOTORNYA!!JADI AKU HANYA URUSI URUSANKU SAJA.”
Kami sempat bertengkar, tapi kehadiran Abym membuat kami diam.
“KALIAN INI BISA DIAM TIDAK!?”

***********

Meskipun menang, kami bertiga berakhir tidur dibangsal rumah sakit karena banyak luka di sekujur tubuh.
Aku pikir Abym tidak akan luka separah itu, nyatanya dialah yang terakhir sadar keesokkan harinya.
Abym satu kamar dengan Elmo, anak dari SMA Magnivio. Sedangkan aku…Kalian bisa menebaknya bukan??
“Tidak usah pura-pura tidur…”
Sean, si bodoh itu tidak bisa gunakan otaknya tapi matanya tajam…
“Nenekmu bilang, malas menengokmu dan tadi adikmu sebelum pergi sekolah membawakanmu sesuatu…”
Dengan mata masih terkantuk-kantuk aku mencoba untuk membuka mataku lebar-lebar.
“Apa?” Jawabku, dan aku juga melihat Jinnu masih tertidur pagi itu. Oh, Dwight juga ada di sini?
Sean tiba-tiba menjitak kepalaku.
“SEAN CARI MATI YA!!”
“Jangan salahkan aku, adikmu yang suruh?!”
Jawabnya dengan setengah tersenyum puas…
“Heh, gadis bodoh!! Bisa tidak kau sekali ini saja tidak berteriak…kepalaku sakit!!”
Jinnu bicara padaku.
“Tidak bisa. Jika tidak mau mendengarku berteriak, sumpal saja telingamu!”
“Keras kepala!”
“Iya, kepalaku memang keras. Mau coba?!”
“Gadis gila!”
“Burung unta!!”
Seperti itulah aku menghabiskan waktuku di rumah sakit dengannya.
“Dwight, apa mereka berdua tidak apa-apa?”
“Jangan khawatir, lebih baik kita berdua menengok Abym…”
“Iya…sepertinya Hero dan Daniel juga sedang di sana.”
Mereka berdua dengan polosnya pergi begitu saja tanpa menghiraukan kami berdua.

********
“Heh…bodoh! Kira-kira, mereka pasti balas dendam tidak ya?” Tanyaku pada si burung unta.
“Entahlah…Eugene…”
“Hah?”
“Lain kali, jika ku suruh pergi…kau harus pergi. Bukannya aku mengkhawatirkanmu, Tei pasti akan menangis jika sampai kau mati!”
“Aku tidak kan mati…setidaknya tidak akan seperti kekasihnya yang dulu.”
Jinnu sedikit kaget.
“Jadi, dia cerita padamu tentang Mina?”
“Mina? Jadi, gadis itu bernama Mina?”
Jinnu membalikkan tubuhnya ke samping berlawanan arah dengan ku.
“Baguslah…jadi kau tidak akan sakit hati!”
“Untuk apa aku harus sakit hati pada orang yang sudah tidak ada? Kau saja yang membesar-besarkan masalah…”
“Terserah kau saja…Tapi Eugene… Terima ka…”
Ucapannya tiba-tiba terpotong dengan masuknya seseorang dengan wajah penuh kekhawatiran.
“Jinnu….!!”
Peluk gadis yang pernah ku lihat dulu. Tei juga ikut di belakang gadis itu, dia tersenyum padaku.
“Kau tidak apa-apa, Eugene? Kau dan Jinnu membuatku khawatir saja.”
Dia kemudian duduk di sisi ranjang milik ku.
“Iya..Aku tidak apa-apa.”
“Baguslah, kemarin aku khawatir sekali. Apalagi saat melihat kau di bopong Jinnu masuk rumah sakit.”
“Si burung unta itu yang membawaku?” Tanyaku padanya.
“Memangnya kau bisa berjalan sendiri apa?!”
Ucap Jinnu kesal.
“Mana badanmu berat lagi?! Berhentilah makan, pantas tubuhmu gemuk.”
“Jinnu…dia siapa?” tanya gadis yang berkaca-kaca itu.
“Pacarnya Tei!”
“Aku bukan…” Pacarnya Tei. Aku tidak bisa meneruskan perkataanku.
“Dia temanku, jangan dengarkan dia Sara…”
“Hallo, aku Eugene.” Sapaku padanya.
“Sara…” Gadis cantik itu balas menyapaku.
Kemudian datang juga Abym dengan kursi rodanya, Daniel, Hero, Sean dan Dwight.
“Ya, ampun…kalian tidak lihat kamar ini kecil sekali?” Daniel yang memang orang kaya sok jijik.
“Iya…pindahkan kami ke pent house mu saja, bagaimana?” rengekku bercanda pada si mesin ATM itu. “DASAR BODOH, NAMANYA JUGA RUMAH SAKIT. MANA ADA KAMAR YANG MIRIP KAMAR HOTEL?!”
“Ada,…maaf ya. Kamarku seperti itu.” Abym merasa bersalah.
“Mamaku takut sekali jika aku berbagi kamar dengan orang lain, dan takut aku terkena penyakit lain lagi. Jadi, mamaku memindahkanku ke kamar VVIP di lantai atas.” Lanjutnya mengejek.
“Kenapa tidak bilang dari kemarin kalau ada tempat seperti itu…Jadi, aku kan tidak perlu repot mendengar gadis gila itu teriak-teriak.” Komentar Jinnu.
Sara merasa aneh dengan sikap Jinnu. Sikapnya seperti mulai berubah sama ketika sebelum mamanya meninggal jika bicara dengan gadis yang bernama Eugene itu.

Tatapan Sara menakutkan, seperti mencurigaiku.

To be continue…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s