One Sweet Punch [15th Punch!]


 

15th Punch

“Ah…aku hampir gila!! Kenapa tidak ada satu pun yang mengenalmu? Kenapa harus aku yang mengenalmu??” Aku mendorong berkas-berkas yang ku bawa dari ruang guru ke perpustakaan hingga acak-acakkan di meja perpustakaan. Aku membenamkan wajahku dalam lipatan tanganku dimeja. Mencoba mengingat apa ada sesuatu yang terlewat olehku tentang Mina.

“Lain kali, jika ku suruh pergi…kau harus pergi. Bukannya aku mengkhawatirkanmu, Tei pasti akan menangis jika sampai kau mati!”
“Aku tidak kan mati…setidaknya tidak akan seperti kekasihnya yang dulu.”
Jinnu sedikit kaget.
“Jadi, dia cerita padamu tentang Mina?”
“Mina? Jadi, gadis itu bernama Mina?”
Jinnu membalikkan tubuhnya ke samping berlawanan arah .
“Baguslah…jadi kau tidak akan sakit hati!”
“Untuk apa aku harus sakit hati pada orang yang sudah tidak ada? Kau saja yang membesar-besarkan masalah…”

Waktu itu di rumah sakit, Jinnu mengatakan kalau pacar Tei yang meninggal itu bernama Mina. Mina? Aku membetulkan posisi dudukku. “Mina, kau tahu betul aku ini tidak suka berfikir memakai otakku kan? Tidak peduli kau itu hantu atau alien…yang pasti aku akan mencarimu. Kalau ini hanyalah lelucon, lelucon yang kau layangkan padaku ini tidak lucu!”
*******
Jinnu menunggu Sara di Laluna, sebuah cafe yang sering didatangi oleh anak-anak dari sekolahnya. Ketika dirinya melihat Sara datang dengan teman-temannya, Jinnu sudah merasakan ada yang tidak enak dengan kedatangannya.
“Jinnu!” Sapanya imut, mendekat dengan teman-temannya. “Ini orang yang ku ceritakan. Tampan bukan? Aku tidak salah pilih kan?”
“Iya, dia tampan dan juga jago bermain kendo. Selamat ya!” Ucap dua anak gadis yang datang bersama Sara itu gembira.
Jinnu mendesah pelan melihat tingkah Sara yang aneh itu.
Pasti anak ini sudah mengatakan kalau aku ini pacarnya? Menyebalkan…
Jinnu bangkit dari duduknya, Sara mengira kalau Jinnu akan memperkenalkan diri pada kedua temannya itu. Tapi ternyata, Jinnu mengambil tasnya yang diletakkan di meja bersiap-siap pergi.
“Aku rasa, kau belum siap untuk bicara.” Jinnu menekankan ucapannya pada Sara sebelum pergi dari Laluna.
“Jinnu!…..”
Jinnu tidak menghiraukan panggilannya. Sara berjalan menyusulnya, bertahan memegang lengan Jinnu.
“Lepaskan!” Pinta Jinnu.
“Tidak. Aku sudah bersabar dengan sikap burukmu padaku!”
“Apa sekarang kau sudah siap untuk bicara?” Tanya Jinnu padanya dengan nada dingin seperti biasanya. Sara hampir saja menitikkan air mata saat mendengar ucapannya itu.
“Kkita…bicara…” bibir Sara gemetar saat mengucapkan hal itu. Ke dua temannya hanya memandang mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.
Jinnu membawanya ke belakang taman sekolah. Disini, aku harus bisa mengakhirinya!
“Apa kau benar-benar tidak menyukaiku?”
“Bukannya aku tidak menyukaimu, tetapi…aku hanya menganggapmu seperti adikku sendiri, Sara. Cobalah untuk mengerti?”
“Jangan membuatku marah, Jinnu!”
“Sara…kau itu kenapa?”
“Dengar, Jinnu. Aku sudah menunggumu lama…kau pikir cinta itu hal yang main-main dan dengan gampangnya bisa dikatakan lalu dilupakan? Jinnu…beri aku kesempatan.” Pintanya.
“…………..aku tidak suka ini………” Jinnu mengucek-ngucek sebelah matanya. Mengeluarkan sebatang rokok untuk di hisap.
“Jinnu?” bibirnya gemetar saat mengucapkan namanya. “Apa…kau menyukai gadis itu? Gadis yang kau bilang pacar kakakmu?!”
“Jangan bawa-bawa namanya dalam urusan kita. Eugene tidak ada hubungannya dengan ku, mengerti!”
“Kenapa kau sepertinya marah jika aku mengatakan namanya dihadapanmu? Apa kau takut kalau aku akan berbuat yang macam-macam padanya?”
“Sara!”
“Kenapa?!” Sara sudah terpancing emosinya.
“Secepatnya kau tinggalkan rumahku…”
“Apa?” Sara terkejut mendengar Jinnu ternyata berani mengusirnya dari rumah itu.
“Aku sudah menelpon ibumu, dia bilang dia akan datang besok untuk membantumu mencarikan tempat tinggal.”
“Heh, Jinnu! Kau memang keparat…menjijikan!!”
Jinnu yang tidak tega melihatnya tersakiti lebih lama lagi, segera pergi dari situ. Saat dia berjalan menuju lapangan. Dia melihat Eugene yang duduk dekat jendela di perpustakaan sekolah.
“Anak itu sedang apa di sana? Dia bukan tipe anak yang rajin belajar untuk ulangan.” Karena suasana hatinya sedang kesal, dia langsung pergi.

******
Saat aku berjalan pulang, kepalaku terasa berat. Mungkin karena hari ini aku mengalami hal yang tidak kuduga mengenai Mina. Cik…mana mungkin tidak ada orang yang mengenalnya? Mina selalu ada bersama-sama dengan teman sekelasku kalau sedang bicara. Mina mengomentari gosip-gosip mereka? Masa satu pun tidak ada yang ingat siapa Mina?
“Apa mungkin dia itu hantu seperti yang pernah dikatakannya padaku dulu?”
Dengan berat hati aku melangkahkan kakiku, saat melewati taman yang biasa ku lewati, ada seseorang yang ku kenal duduk di bangku yang melingkari sebuah pohon besar. Anak itu mengepulkan asap rokok dari mulutnya.
Aku berjalan mengendap-endap, saat tiba dibelakangnya, aku bersiap-siap untuk mengagetkannya. Aku menarik napas, merenggangkan kedua tanganku, dan….
“BOO!”
Anak itu kaget, saking kagetnya dia menelan asap rokok yang seharusnya di keluarkan. Dengan terbatuk-batuk dia mengutukku sejadi-jadinya.
Dan aku hanya bisa tertawa melihatnya…Jinnu >0< kau pasti kesal padaku bukan? Hahaha…rasakan pembalasanku atas semua sikap burukmu.
“Aishhh…dasar gadis gila!! Kau minta mati rupanya?!” Matanya memerah dan mengeluarkan airmata.
“Hahaha…apa kau sekaget itu sampai menangis segala?” Aku langsung mengambil tisu di kantung depan tas ku dan mengusap-ngusapkan matanya pelan. Melihat hal ini, dia langsung menjauh beberapa centi dariku.
“Aneh?”
“Apanya yang aneh?”
“Kau…kkau memperlakukan musuhmu dengan kelembutan.”
Bocah tengik….seharusnya kau senang karena aku mengurusimu barang sebentar! Aku langsung melemparkan tisuku kepangkuannya.
“Kalau begitu lakukan sendiri ‘pemuda anti digerayangi oleh orang lain’. Cih…dulu dia yang mengatakan bahwa ‘aku memberimu ijin untuk menyentuh tubuhku’.”
“Itu dulu…sekarang beda lagi…”
“Kau tadi melihatku ya dari luar jendela?”
“Kapan?’
“Tadi…saat aku diperpustakaan!”
“Oh…itu. Sedang apa kau di sana? Kau kan bukan tipe gadis pelajar?!”
“Karena hari ini aku sedang pusing…aku anggap kau tidak berkata apa-apa tentang ku!”
“Aku juga sedang kesal….” Ujarnya dengan nada yang tidak biasanya.
“Kenapa?”
“Untuk apa aku bicara dengan gadis gila sepertimu?”
“Untuk hari ini gadis gila yang kau maksud ku kurung untuk mempermudah diriku sendiri berfikir secara rasional tentang sesuatu.” Aku menjelaskan kepadanya tanpa jeda.
“Apa?”
“Mina.”
“Mina? Untuk apa kau memikirkan Mina?”
“Kau tidak akan percaya kalau ku ceritakan, malah aku takut kau menganggapku gila sungguhan.”
“Memangnya ada apa dengan Mina?”
“Nama pacar Tei yang meninggal itu Mina, kan?”
“Iya…jangan-jangan bilang kau cemburu?”
“Bbukan itu maksudku, bodoh!” Aku memukul bahunya pelan.”Aku hanya ingin tahu seperti apa wajahnya. Itu saja…dengan melihat fotonya, rasa penasaranku terbayar.”
“Kau ini bicara apa?”
“Apa kau pernah melihatku selalu berdua dengan teman perempuan di sekolah?”
“Huh?”
“Hahaaha…aku hanya bercanda, tentu saja aku sendirian. Betul tidak?”
“Iya…Cuma, kadang aku merasakan ada kehadiran orang lain jika melihatmu. Entah itu hanya perasaanku saja atau apa? Tapi, aku merasakan kehadiran seseorang.”
“Ahhh…begitu, ya? ^ ^.”
Mina? Sekarang kau itu ada dimana? Kau membuatku penasaran disini sendirian, mencoba mencari tahu tentang dirimu. Kau tahu, anak ini baru saja mengatakan kalau sedang melihatku dia seperti merasakan kehadiran seseorang? Benarkah kau itu hantu? Jika iya, tolong berikan aku signal!!! Eisssh…Anak bodoh! MINA BODOH!!!
Jinnu sepertinya mengalami hari yang buruk juga. Kadang aku berfikir, jika anak ini normal mungkin kelakuannya akan mirip degan Tei.
“Eugene?”
“Huh?”
“Jika kau sangat menyukai kakakku, berusahalah…kematian Mina masih menyisakan luka dihatinya, dan aku pikir Tei masih memikirkannya juga. Apa kau tidak keberatan dengan hal itu?”
Apa maksud perkataan anak ini? Raut wajahnya pun sekarang berubah menjadi lebih bersahabat.
Deg…deg…deg…
Ahhh….kenapa hanya dengan memandangi wajah si burung unta dari samping saja sudah membuat hatiku ku berdebar kencang seperti ini??
Sadar Eugene…dia musuhmu…kau masih harus bertarung dengannya…harga dirimu pernah diinjak-injak olehnya dihadapan pemuda yang kau suka?!
Jinnu menyandarkan punggungnya pada batang pohon besar yang ada dibelakang kami, dia menutup matanya. Deru napasnya terdengar begitu lelah. Ya, Tuhan….Kau tahu kan kalau aku ini suka Tei…kenapa juga Kau ini selalu mempertemukanku dengannya?Apa nasibku memang sejelek itukah?
“Kalau kau mau bertemu dengan Mina, datanglah besok pagi ke rumahku. Besok adalah hari peringatan kematiannya, kakakku memperingatinya satu hari lebih cepat karena besok bertepatan dengan hari jadi mereka. Kalau kau berminat, datang saja.”
“Oh…tapi, apa Tei tidak akan keberatan jika aku ikut?”
“Dia juga sering mengajakku pergi, jadi sepertinya tidak apa-apa.”
“Mmm…”Anggukku.”Kalau begitu, aku akan datang besok.”

Akhirnya, kita akan bertemu lagi, Eugene. Apa pertemuan ini membuatmu takut? Maafkan aku, bisa mengenal orang yang menyukai Tei sama halnya seperti aku menyukai Tei, sangat menyenangkan.. Dari awal kau memang anak yang baik Eugene. Aku harap kau bisa sepenuh hati menjaga Tei. Tapi siapapun yang kau pilih nanti…aku hanya bisa mendoakan yang terbaik dari sini.

“cuaca sudah mulai gelap, aku antar kau pulang?”
“Tidak usah.”
“Tidak apa-apa, kebetulan aku masih belum mau pulang.”
Aku memperhatikan wajahnya, “wajahmu kusut, apa kau sedang ada masalah?”
Jika mengingat masalah, otakku hanya bisa merujuk pada manusia brengsek macam Ren. Jangan-jangan anak itu berbuat ulah lagi sehingga dia kesal.
“Si brengsek itu, apa dia berbuat onar lagi?”
“Ren maksudmu?”
“…..” Aku mengangguk tanpa bicara mengiyakan.
“Bukan. Jika dia berbuat onar lagi, kami pasukan power rangers akan bertindak untuk kedamaian dunia terlebih dahulu.” Jawabnya tanggap seraya mengusap-usap wajahnya.
“Benar juga! Syukurlah kalau bukan mengenai Ren.”
“Apa kau juga sekarang mulai mengkhawatirkanku?”
“Waaaahh!”Aku terkejut dengan pertanyaannya, dan bertingkah seperti baru melihat orang yang tidak ku kenal. Sumpah, sejak kapan aku melihatnya banyak bicara seperti hari ini? TIDAK seharipun.
“Huh?”
“Maaf, anda ini siapa? Perasaan, dari tadi kau banyak bicara sampai aku tidak mengenalimu?”
“Sama sepertimu, khusus hari ini aku menyegel si burung unta!”
Hahaha…apa dia sedang bercanda?
Karena sepertinya kami berdua sedang menyegel sifat buruk masing-masing, aku langsung bangun dari dudukku dan dengan bersemangat mengajaknya untuk pergi bersenang-senang.
“Karena aku tahu kita berdua pasti akan bertengkar lagi, bagaimana untuk hari ini kita gencatan senjata dan bersenang-senang? Hmm…kita bisa pergi karaoke, nonton film, atau melakukan apa yang kau suka?”
Jinnu melihatku dengan pandangan aneh, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.
“Kau tidak mau pergi?”
“Aku tidak suka semua yang kau sebutkan itu?”
“Lalu, kau mau apa?”
“Duduk di sini sambil melihat bintang. Apa kau mau menemani ku?”
“……….”
Kata-katanya yang diucapkannya terakhir itu, tiba-tiba membuat hatiku menuruti perintahnya dan saraf-saraf di otakku memerintahkan pantatku untuk kembali duduk menemaninya di situ.
“Eisssh…ini tidak suka…itu tidak suka…lalu kau suka apa?” Aku menggerutu di sampingnya. Saat aku melihat ke atas, ternyata langit malam itu begitu luas. Sudah lama sekali aku tidak melihat bintang bertaburan seperti malam ini, hari ini aku benar-benar tidak mau sendirian.
Jinnu sempat mencuri-curi pandang wajah Eugene saat gadis itu melihat ke angkasa.

Eugene, rupanya ada juga orang sepertimu di dunia ini? Kau dengan bebasnya berlarian di hadapan orang-orang yang kau kasihi. Tapi, kenapa kau juga memasukkan aku dalam lingkaran hidupmu? Aku tidak suka perasaan ini, sejak melihatmu, bertengkar denganmu, bertaruh hidup dan mati saat mencoba melindungimu waktu itu, kau perlahan-lahan mengikis topeng yang kupakai selama ini. Apa, aku telah jatuh cinta padamu?

“Aku, tidak suka keramaian.”
“Huh?”
“Kau tadi menggerutu soal aku tidak suka ini dan itu kan?”
“^ ^ ahaha..iya.Apa karena sifat superiormu itu jadi kau takut orang?”
“Kau itu keterlaluan karena suka pada Tei!”
“^ ^ benarkah? Hahaha…aku pikir juga begitu. Tapi aku benar-benar suka padanya, eeey…jangan bilang kau cemburu?”
“Kau memilih pria yang sulit kau dapat. Tei termasuk salah satu daftar pria terbaik di sekolah, fansnya pun sama banyaknya denganku. Pintar sama saperti aku, dan tampan seperti aku. Dia juga berasal dari keluarga baik-baik pula, kau bisa mengenalnya juga sudah untung. Yang aku sayangkan adalah tentang kelakuanmu yang tidak seperti perempuan kebanyakkan, mendapatkan seseorang seperti Tei sama halnya kau menggenggam udara.”
“…..menggenggam udara…..??”
Apa anak ini mencoba untuk mengatakan agar aku menyerah saja? Bocah tengik….Oke! SEGEL-AN ‘GADIS GILA’ TERBUKA SEKARANG JUGA.
“KAU BILANG APA?!” Aku meraih kerah bajunya, dengan tatapan berapi-api.
“AAAKKHHH….Spertinya….aakuu….sudah membangunkan macan yang sedang…tidur. Mana mau Tei dengan gadis gila sepertimu?!”
“Bocah tengik!…aku sudah bersabar terhadapmu, tapi ini sudah keterlaluan!”Aku hampir saja bisa mencekik lehernya, tapi anak sialan itu bisa melepaskan diri dari cengkramanku, dan berlari menjauh.
“Burung unta sialan, AWAS KAU YA!” Aku mengepalkan kedua tanganku sambil melihatnya menjauh pergi. Aku mendesah panjang, saat aku mengambil napas, dalam kepalaku seperti ada yang mengatakan sesuatu padaku, ‘selamat tinggal’. Iya, seperti terngiang sebuah ucapan perpisahaan.
“Mina…”Panggilku pada bintang dilangit malam.”Apa kau…ada di sana?”

********
Seberapa banyakkah misteri yang kau tinggalkan untuk ku Mina, kau tahu kan kalau aku ini bodoh, tetapi kenapa kau meninggalkan ku begitu saja. Seharusnya kau tinggalkan beberapa penjelasan agar aku mengerti kau ini siapa dan apa. Kau tahu bagaimana perasaanku saat aku bertanya pada ketua kelas saat aku menanyakan namamu untuk melihat daftar absensi kelas. Saat dia mengatakan kalau tidak ada yang bernama Mina, aku berfikir kalau dia sedang bercanda dengan ku, namun saaat ku pastikan lebih jauh lagi dan ternyata memang kau tidak ada dalam daftar nama siswa di sekolah ini. Aku benar-benar terkejut dan ketakutan. Aku terkejut karena ku kira kita seperti berteman sejak lama, ketakutan karena aku tidak percaya kalau kau itu tidak ada di dunia ini. Apa benar kau itu roh, seperti yang pernah kau katakan sebelumnya? Kau membuatku bisa berinteraksi denganmu sementara kau membuat orang-orang disekelilingku tidak menganggapku gila berbicara pada udara. Besok, Jinnu mengajakku untuk bertemu denganmu. Bukannya aku tidak sopan mencampuri urusanmu, aku hanya penasaran dengan namamu yang kebetulan sama dengan nama pacar Tei yang sudah meninggal dunia karena kecelakaan. Jika kau Mina yang Jinnu maksud, aku hanya heran kenapa kau muncul dihadapanku untuk membantuku mendapatkan Tei, yang jelas-jelas masih memikirkanmu. Apalagi besok adalah hari peringatan kematianmu.
Entah Mina mendengarku atau tidak, tapi malam ini bintang yang bertaburan di langit sangatlah banyak, mereka saling berkerlipan satu sama lain, saling memberitahukan bahwa bintang-bintang itu tidak sendirian berkerlip untuk menjadikan langit malam begitu terang dan indah untuk manusia nikmati keindahannya.
“Sampai kapan kau akan berdiri disitu, Eugene?”
Suara itu sudah ku kenal sebelumnya. “Mina!” Pekik ku sambil melihatnya tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“K-kau kemana saja?”
“Roh sepertiku punya banyak tugas…”
“J-jadi k-kau…benar kau Mina yang Jinnu maksud?”
“Kalau iya memangnya kenapa? Kau takut aku membuat mu gila ya?”
Kami berdua berdiri ambil menikmati indahnya bintang di kejauhan. Aku menoleh padanya. Dalam benakku, jauh sekali rasanya dalam keadaan takut, karena aku sekarang tahu siapa Mina itu?
“Besok, aku akan menemuimu.”
“Aku tahu, kemungkinan besar, setelah esok hari, kita tidak akan bisa bertemu lagi Eugene!”
“………..”
“Apa kau tahu, ketika seseorang sudah meninggal, ada kalanya Bos Besar mengabulkan permintaan roh sepertiku untuk turun menemui orang-orang yang dikasihinya selama 3 hari. Aku lah roh yang beruntung mendapatkan hal tersebut….hanya saja, setelah aku melihat ibuku, kemudian Tei….aku mendadak jadi serakah, makanya aku kabur ketika si reaper menjemputku kembali ke langit.”
“Mina…”
“Kau tahu Eugene, aku senang sekali bisa kenal dengan orang sepertimu. Terimakasih karena kau telah menolong ku dan juga ibuku….”
“A-aku juga senang bisa mengenalmu.”
“Jika besok kau ke rumah ku, ada sesuatu yang ku simpan di laci meja rias ku, ku letakkan di laci paling dalam. Tolong kau berikan pada Tei. Itu, hadiah untuknya.”
“Hmm..” Saat aku menganggukkan wajah, tiba-tiba Mina berdistorsi, kemudian menghilang dari hadapanku.
“Mina!” panggilku pelan. Jika benar kita tidak akan bertemu lagi, Mina…selamat tinggal.
“MINAAA!! SELAMAT TINGGAAAL!!” Teriak ku pada bintang dilangit. Airmataku perlahan mengalir keluar, mengiringi kepergiannya. Kali ini apakah Mina pergi untuk selamanya?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s