One Sweet Punch [16th Punch!]


Author. Maeve

==============================================================

16th Punch

Aku datang ke rumah mereka tepat saat Jinnu dan juga Tei sudah menungguku di depan rumah mereka. Tei mengatakan, bahwa dia tidak keberatan aku ikut menguntit kegiatannya bersama Jinnu menghadiri peringatan kematian Mina, kekasihnya. Jinnu melihatku dengan pandangan yang tidak seperti biasanya, dan aku hanya bisa tersenyum ketika melihatnya.
Jujur saja, aku ingin memnceritakan kejadian aneh yang menimpa ku, tentang Mina yang selama ini sempat singgah dalam kehidupan ku, yang boleh dibilang diantara kenyataan dan mimpi. Seperti itulah yang kurasakan tentang ke hadiran Mina yang tiba-tiba pada Jinnu. Jika aku mengatakan hal ini pada Tei, aku tidak tahu apa yang akan dikata dan dirasakan olehnya, tentang hal absurb yang terjadi padaku. Bahwa aku mengenal Mina, bahkan bicara dengannya.

Tei berjalan di muka, mereka berdua memakai setelan jas hitam, dalam situasi seperti ini, mereka masih bisa membuatku terkesima dengan ketampanan dua kakak beradik ini. Dia meninggalkan ku dan Jinnu berjalan mengikutinya dari belakang.

“Jinnu?” Tanya ku tertahan. Jinnu perlahan menoleh padaku.
“Apa?”
“Jika aku bilang…aku…ak-. Sudahlah, anggap aku tidak mengatakan apa-apa!” Aku tertawa bodoh.
“Hari ini kau kelihatan aneh?! Jika kau merasa tidak enak menghadiri upacara peringatan kematian Mina, kau boleh tidak datang.”
“B-bukan itu…Aku ingin datang!” Seruku.
“Lalu? Lalu kenapa kau mendadak aneh seperti itu?”
“Entahlah, aku memang merasa aneh. Mungkin karena aku yang mengalami dan dia tidak?!” Aku bicara sendiri. Karena tidak tahan ingin bercerita, aku menahan langkahnya dengan menarik lengannya pelan.
Jinnu tersentak kaget dengan tingkahku. “Jinnu, kau tahu film The Six Sense?”
Jinnu berfikir sebentar, “Bruce Willis dan Haley Joel?” Dia balik bertanya, menungguku untuk mengiyakan jawabannya.
Tanpa berfikir lagi, aku mengangguk. “Kau tahu kan tokoh Bruce Willis itu adalah psikiater yang tidak tahu kalau dirinya telah meninggal dunia, kemudian dia menolong anak kecil yang diperankan oleh si Joel, anak yang punya indera keenam. Pertanyaannya adalah, jika kau mengalami hal seperti itu, apa kau akan tetap bercerita pada seseorang meskipun kau dianggap gila?!”
Sebelum aku selesai bicara pun, si burung unta ini langsung memanyunkan mulutkan ke depan, kemudian mengerutkan dahinya, berfikir untuk menjawab pertanyaanku.
“Jika aku jadi si psikiater, aku pasti akan menderita. Terombang ambing antara orang hidup, tapi…kenapa tiba-tiba membicarakan hal seperti ini?”
“Kau masih ingat tentang pertanyaanku kemarin kan?”
“Pertanyaan yang mana?”
“Yang aku bilang, apakah kau melihatku sering berduaan dengan anak perempuan lainnya? Dan kau jawab dengan mengatakan kau tidak melihat tapi merasakan ada orang yang sepertinya mengawasiku, dan juga mengawasimu. Benar tidak?”
“????”
“Benar tidak!” Seruku mencari pembelaan.
“Kau ini kenapa?”
“Karena aku sudah terlanjur dianggap gila oleh mu, maka baiklah. Dengarkan cerita ku baik-baik, OKE?!” Pinta ku padanya, sambil berhati-hati supaya Tei tidak mendengar satu hal pun yang keluar dari mulut ku.

Jinnu ingin sekali mempercayai ucapanku, tapi…

“Heh, Tei?!” Panggil Jinnu padanya.
“Huh?”
“Kau tahu, aku ada urusan sebentar dengan si gadis gila ini. Pergilah ke rumah Mina terlebih dahulu, kami akan menyusulmu nanti.”
Sempat kaget aku dibuatnya, ketika si burung unta itu memanggil Tei. Aku pikir dia akan membocorkan hal yang tidak masuk akal ini pada Tei.
Tanpa beban dan juga pertanyaan, Tei menyanggupi permintaan Jinnu.

*********
Kami berdua tengah duduk di sebuah kafe yan gletaknya tidak begitu jauh dari jalan yang tadi kami lewati. Jinnu memesan minuman.

“Coba jelaskan sekali lagi tentang teori aneh mu tadi?”
“Itu bukan teori! Itu kenyataan!!” Bentakku padanya.
“Mana mungkin Mina bertindak seperti yang kau bayangkan itu?”
“Aku bukan tipe manusia yang beradu argumentasi tanpa bukti. Tapi ini lain Jinnu?! Mina selama ini tanpa ku sadari ada bersamaku. Dia duduk, dan bicara di sampingku. Apa kau tahu betapa kagetnya aku saat aku memeriksa daftar absensi kelas? Bertanya pada orang di sekeliligku mengenai keberadaan seorang gadis bernama Mina, yang memang tidak ada. Aku yakin aku sudah memeriksa segalanya, tapi tetap aku tidak menemukan apa-apa tentang dirinya, padahal aku ingat sekali, dialah yang pertama mengatakan ‘kau suka pada Tei?’, dan setelah itu dialah satu-satunya orang yang membantuku dengan pemikiran-pemikirannya untuk menyatukan ku dan Tei. Dari dia pulalah aku tahu tentang kalian yang kakak beradik. Padahal tidak ada orang yang tahu tentang itu. Benar kan?” Aku menunggu jawabannya, Jinnu mulai tertarik dengan ceritaku.

Cerita Eugene, tidak masuk akal, namun tentang hal yang terakhir dikatakannya memang benar. Semua orang di Felsterich hanya berasumsi kalau Jinnu dan Tei bersahabat, tidak ada yang tahu tentang hubungan yang sebenarnya. Jinnu juga merasakan kedekatan awalnya, dengan gadis yang sedang mencoba menenangkan diri dengan menyebut status hubungan mereka berdua. Sepertinya Eugene memang dari awal sudah tahu tentang hubungan kaka-adik ini, makanya Jinnu bisa leluasa mengatakan bahwa Jinnu memang adik Tei.

“Apalagi yang dikatakannya?”
“Hanya itu saja, ditambah lagi…semenjak ibumu dan ayah Tei menikah, kalian pindah entah kemana. Lalu berselang beberapa tahun, ibumu dan ayah Tei bercerai, dan kemudian Ibumu meninggal.”

Jinnu mengangkat gelas jusnya, karena bingung, dia menarik sedotannya lalu menaruhnya di meja, kemudian meneguk orange jusnya perlahan sampai tersisa setengah gelas.

“Tidak mungkin kau tahu tentang hal itu jika kau tidak kenal dengan Mina.”
“Benar bukan? Kau percaya padaku??”
“Kau…apa hubunganmu dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Tentu saja dengan Mina, bodoh?! Siapa lagi subjeknya selain Mina di sini?!”
“Hubunganku dengannya?………Entah ini bisa tergolong aku kenal dengan nya atau tidak?” Aku terdiam sebentar. “Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menolong seorang gadis dan ibunya yang kecelakaan lalu lintas, mobil mereka menabrak sisi sebuah truk, lalu terjungkir balik. Secara kebetulan aku sedang melintas di sana, karena hari itu, aku juga…”
Aku tidak mau mengingat kejadian itu. “Aku juga hampir jadi seorang pembunuh…” Ucapku tertahan karena dadaku mulai sesak. “Tidak, aku lebih kejam dari pembunuh, aku membuat seseorang menjadi cacat.”
“Maka daripada itu, kau melemparkan dirimu sendiri untuk menolong mereka?…Aku tahu ceritamu dari Sean.”
Mendengar dia tahu kelemahanku, airmataku tidak bisa ku bendung lagi. “Inikan seharusnya…kita bicara tentang Mina…bu-bukan aku.” Sambil terisak, aku mencoba mengingatkan topik utama pembicaraan kami.
Perlahan, jari-jemarinya menggengam jemariku.
“Kau tidak bersalah Eugene. Itu semua hanya kecelakaan, kau harus bisa melepaskan dirimu dari rasa bersalah yang selama ini kau pendam. Mengerti?”
Layaknya seorang anak kecil, aku mengangguk mendengarkan pendapatnya. Hatiku mulai merasakan sesuatu, rasa hangat ini datang dari dirinya…kenyamanan ini datang setelah aku tahu dia ada di sisiku. Tapi…rasa apakah ini??

**********

Kami berdua kembali menuju rumah Mina seperti yang dijanjikan. Tapi, upacara peringatan kematian Mina sudah selesai ketika kami datang untuk bertemu dengan Tei. Tei sendiri merasa heran, namun ketika Jinnu memberikan sedikit penjelasan, dia akhirnya mengerti tanpa bertanya apa-apa lagi.

Aku pun melihat ibunya yang duduk di kursi roda, sedang memebreskan beberapa piring di meja yan gdibantu oleh dua pelayannya. Karena aku merasa tidak enak dengan datang terlambat, aku mencoba membantunya membereskan piring-piring makanan, dan juga gelas-gelas kotor. Namun ketika ibunya Mina benar-benar melihatku. Beliau terdiam dan langsung menyuruhku mendekat padanya. Beliau juga menarik tanganku sambil menangis, mengelus-eluskannya ke wajahnya yang lembut itu.
Jinnu yang tahu kejadiannya terharu melihatnya dan Tei, masih bingung dengan kelakuan ibunya Mina namun hanya bisa diam terpaku.
“Kau…kau anak itu kan?”
“A-aku…aku…” Karena tidak tahan lagi melihatnya begitu bersedih. Aku langsung minta maaf dan berbela sungkawa.
“Maaf, aku datang terlambat, ibunya Mina. Aku tidak tahu kalau…kalau gadis yang ku tolong, dia meninggal. Seharusnya aku bisa lebih cepat membuka belitan sabuk pengaman itu dari tubuhnya, kalau aku cepat, mungkin..mungkin…!”
“Terima kasih…” Beliau menghentikan racauanku, menghapus airmatanya, dan mengubah raut wajahnya dengan senyuman rasa terimakasih padaku. “Meskipun singkat, dari mulut Mina sebelum meninggal, dia mengatakan…jika aku hidup, aku akan berterimakasih pada gadis bernama Eugene. Jika aku matipun, aku akan tetap berterimakasih padanya, karena dia telah membuat hari-hari terakhir ku indah. Karena dia aku bisa mengucapkan selamat tinggal dan juga mengatakan betapa aku mencintai ibuku dan juga Tei.”
Saat aku mendengar ibunya mengatakan hal itu padaku, aku melihat sosok Mina tengah berjalan masuk ke kamarnya, perlahan aku mengikuti Mina. Ibu Mina, Jinnu, Tei dan juga pembantunya melihatku dengan aneh ketika aku melakukan hal itu.
“Eugene!” Panggil Tei pada ku saat aku akan memasuki kamar Mina. Namun Jinnu menghalanginya.
“Tei, biarkan dia ke sana. Eugene juga masih punya satu hal yang harus diselesaikan dengan Mina.” Penjelasannya menghadirkan tanda tanya besar pada kedua orang itu, namun denga nhati-hati Jinnu menjelaskannya. Aku mendengar Tei tiba-tiba menangis, diikuti oleh ibunya Mina. Aku menoleh kebelakang, melihatnya dari dalam kamar Mina. Mina tengah berdiri, tersenyum padaku di depan meja riasnya.
“Kau, masih ingat janjimu kan?” Tanyanya sambil tersenyum, “Sampai jumpa Eugene…aku doakan semoga kau menemukan kebahagiaan dan selalu ceria seperti yang kau selalu lakukan saat aku di sampingmu. Maaf, aku harus pergi seperti ini…sampai jumpa!” Cahaya terang perlahana keluar dari belakang tubuhnya, perlahan tubuhnya dilingkupi cahaya terang itu. Kemudian Mina hilang dari hadapanku.
“Sampai jumpa…sahabatku, Mina.” Ucapku getir, menahan tangisku.

*********

Saat diperjalanan pulang, rupanya Tei ingin menyendiri. Berkali-kali pula dia mengucapkan rasa terimakasihnya padaku. Meskipun aku malu mendengarnya mengatakan hal itu, rupanya, aku juga sadar dengan perasaanku sendiri. Yang ku rasakan pada Tei, memang awalnya adalah suka, namun setelah aku mengenalnya, semua itu menjelma menjadi rasa kekeluargaan. Aku memandangnya bukan sebagai sosok laki-laki yang ku sukai, namun seperti seorang kakak.
“Tei…sebelum kau pergi, aku punya sesuatu untukmu.” Aku berlari ke arahnya. Jinnu melihat ke arah ku, aku tahu maksud hatinya tidak mau mengganggu, makanya dia langsung balik arah, bermaksud pulang dari arah lain.
“Ini…” Aku menyodorkan tangaku yang terkepal rapat. Tangan kanannya menengadah dibawahku. Kemudian aku membuka kepalan tanga kananku perlahan, kalung itu terurai dari tanganku, kemudian terlepas ke tangannya. Dia mengamati sebentar, lalu mengetahui kalau kalung itu, kalung yang sengaja dirancang Mina, kalung hati separuh yang bisa direkatkan pada pasangannya untuk memebntuk sebuah bentuk hati. Tei mengeluarkan kalung satunya lagi dari balik kemejanya, aku tahu, secara simbolis, cinta ku bertepuk sebelah tangan. Saat Tei menggabungkan belahan hati itu menjadi sebuah hati yang utuh. Kemudian, aku mengecup bibirnya.

“Terimakasih Tei…dan akhirnya…hatimu kembali utuh!” Aku mencoba bersikap tenang dan senang. Aku membalikkan tubuhku dan mendapatkan si burung unta itu telah pergi jauh.
“Sial, anak itu malah meninggalkan ku sendiri! Bye-bye…”
Aku mengucapkan salam perpisahan padanya….selamat tinggal cinta pertamaku!
“HEH!!! BURUNG UNTA!!” Panggilku sambil berteriak, Jinnu menoleh kebelakang. Saat melihatku berlari, dia menghentikan langkahnya.
“Sial, saat gadis gila ini berlari ke arahku. Aku rasa dikemudian hari, entah esok atau lusa, aku akan benar-benar jatuh cinta padanya.” Gumannya pada dirinya sendiri.
“BURUNG UNTA, KENAPA KAU MALAH PERGI?!” Ujarku saat berlari mendekatinya.
“Pergi jauh-jauh dariku…”
“Aku tidak tahu jalan pulang?”
“Kau hanya tinggal ikuti jalan ini, apa susahnya?”
“Aku lebih nyaman pulang denganmu…”
“Lalu Tei?”
“Aku menyerah…kau benar, dia diluar jangkauan ku.”
“Apa tidak apa-apa, menyerah begitu saja?”
“Iya, tidak apa-apa.”
“Benarkah?”
“Iya!”
“Baguslah kalau begitu.”
“Apa katamu?!”
“Bagus, karena aku tidak mau Tei menderita pacaran dengan gadis yang suka sekali memakai kekerasan.”
Si burung unta ini memang menyebalkan, bisa tidak sih di saat seperti ini dia mengatakan hal-hal yang baik tentangku?!
“Eugene…tantangan mu waktu itu, apa masih valid?”
“Huh? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Mood ku sedang bagus, bagaimana kalau kita bertanding?!”
“………” Aku melihatnya dengan perasaan sepertinya Jinnu bukan Jinnu. Setelah hampir beberapa bulan ini aku mengenalnya, dia itu senang sekali memberiku racun namun setelahnya, memberikan aku penawarnya.
“Tidak mau!” Aku terus saja berjalan mengabaikan permintaannya.
“Kenapa?! Bukannya kau dulu berapi-api ingin mengalahkan ku?! Kalau kau tidak mau, baiklah…kau masih punya hutang padaku, Bukan?”
“Hu—huutaang?” Aku menghentikan langkahku. Bertanya-tanya tentang hutang apa yang dia maksud? Mau juga, dia yang berhutang padaku tentang janji pertandingannya denganku, tapi setelah dia membawa-bawa keinginannya untuk bertanding denganku, aku ingin mempermainkannya dengan mengulur-ulur waktu. Hehehe…
“Hutang apa?!”
“Rubuhnya rak shinai, aku belum minta kompensasi darimu bukan?” Ujarnya sambil tersenyum puas.
“A-apa??”
“Semua itu kesalahanmu, dan aku turut menyesal, kenapa juga kau itu selalu saja mau dijadikan kambing hitam oleh Sean.” Ujarnya tidak percaya akan kebodohan yang ku buat saat itu.
“APA? HEH, BURUNG UNTA?APA KAU SUDAH INGIN MATI YA!?”
“BERANI BENAR KAU MENGERASKAN SUARAMU PADAKU!?”
Anak yang ada di hadapanku itu benar-benar membuatku yang tadinya ingin mendinginkan kepala tiba-tiba memoleskan garam ke lukaku yang menganga! Keterlaluan. Kemudian aku mulai mengepalkan tanganku, bersiap-siap menyerangnya. Aku terlebih dahulu melancarkan pukulanku kepadanya.
“Teknik pedang mu yang hebat itu tidak akan berguna jika kau tidak punya pedang ditanganmu. Jadi lihat aku!” Ujarku marah padanya sambil bertubi-tubi melancarkan seranganku. Jinnu pun berusaha memblok semua pukulanku.
“Kau pikir aku hanya tahu ilmu pedang saja?” dengan senyuman nakal dia membalasku, dia tidak melukaiku. Anak ini hanya ingin bermain-main dengan ku. Buktinya dari tadi dia hanya menghindar dan menyerang dengan teknik yang tidak membahayakanku, saat aku lengah dan mencoba menarik maksud dengan perbuatannya itu. Tiba-tiba saat aku mengarahkan tendangan kaki kananku, tangannya menahan serta menariknya hingga posisi ku setengah split, mendekat padanya.
“Ooo…” Aku sedikit kesakitan, wajahnya berubah dingin. Menarik kakiku lebih cepat sampai aku hampir terjatuh hilang keseimbangan. Saat kaki ku yang dipeganginya tadi dilepaskan, tanganku yang masih posisi bersiap-siap dengan satu tangan menonjok ke depan, ditariknya juga, mendekat padanya. Jinnu seperti sedang mengajakku berdansa, karena setelah tubuhku dekat dengan tubuhnya, keadaanku masih bingung, sedang apa anak ini? Apa yang dia mau? Sebelah tangannya meraih pinggangku, memelukku erat menempel ke tubuhnya. Perbuatannya itu membuatku terkejut. Saat wajahku yang kebingungan itu menatap wajahnya lama, menunggu apa yang akan dilakukannya kelak, matanya menatapku dalam-dalam. Tiba-tiba saja tubuhku jadi panas, bukan karena aku marah dia memperlakukanku seperti ini, melainkan hal lainnya yang membuat sistem tubuhku ini membuatku merasa malu dan juga senang disaat yang bersamaan.
“Kau kalah, Eugene.” Dalam napasnya yang terengah-engah, raut wajahnya seperti merasakan kenikmatan atas tindakkannya itu, karena Jinnu pun menahan rasa tersipunya, detak jantungnya seakan semakin cepat mengalahkan kereta tercepat di Jepang sekalipun.
Jinnu perlahan melepaskan pelukkannya, mundur secara perlahan namun tengannya seperti enggan melepaskan genggamannya.
“Eugene, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku?”
“Huh?”
“A-aku…” Ketika dia akan meneruskan bicaranya, ponselnya berbunyi.
Entah kenapa saat ponselnya berbunyi, aku merasakan kelegaan yang sangat berarti.
“Iya, aku memang bersamanya. Ada apa?”
[Bawa dia sekalian, kami ada di bar seperti biasa. Oke?!]
Kemudian Jinnu menutup telponnya. “Power rangers ingin kita bergabung dengan mereka di bar.”
“Oh…oke.” Aku menjauh dengan kakunya mencoba menjauh darinya.

*********

Untung saja pas di bar tempat biasanya mereka bersenang-senang, kegugupanku ketika bersama dengan Jinnu hilang. Mereka berlima menyambut kedatangan kami dengan riang.
“Aku tidak akan mengira kalian akan kencan secepat itu?” Tanya Sean jahil.
“SIAPA YANG KENCAN?” Aku menjawabnya dengan tatapan terbaikku, mengancamnya.
“Aku hanya bercanda, tidak perlu bersikap berlebihan menghadapi candaanku bukan?”
“Bercanda ataupun tidak? Jika aku disandingkan dengan burung unta itu, aku merasa rugi. Oh, iya, kenapa kalian memanggilku ke sini?”
Sean melirik ke arah Abym yang mengeluarkan secarik kertas yang ditaruh di meja untuk dibaca.
“Yang mereka tulis sungguh lucu, jika benar mereka hanya bosan dan tidak ada kerjaan. Untuk apa melayangkan surat ancaman seperti itu?” Dwight tidak mengerti.
Aku mengambil surat itu dan membacanya. “Apa maksudnya ini?Berani benar menyuruhku ikut bertarung dengan kalian hanya untuk mengukuhkan teritori SMA kita? Siapa lagi yang buat ulah?! Huh??” Tanyaku pada mereka.
“Membaca surat itu aku jadi ingin menjejalkan surat itu kemulutnya!” Ujar Daniel kesal. “Apa karena tinggal sekolah kita yang terakhir dia mau hancurkan? Apa kalian sadar kalau Ren itu tidak punya otak?”
“Kalau mereka benar-benar ingin berkelahi, kenapa tidak di iyakan saja?! Aku akan bantu kalian, dan memang terbukti tanpa aku kalian tidak bisa apa-apa kan, hahaha?” Canda ku pada mereka.
“Apa kau tidak takut kalau orang lain memandangmu sebagai wanita yang terobsesi oleh kekerasan? Kau terlalu memaksakan dirimu, Eugene. Lagipula apa sih yang kau inginkan dari sikapmu yang seperti itu? Membantu keamanan di muka bumi? Bukankah itu terlalu egois untuk dilakukan seseorang yang kapasitas otaknya setengah dari otak manusia normal?”
“Anak ini….Aduuuhhh…kenapa dari dulu sampai sekarang, kau selalu saja antagonistik, huh?? Kau memang benar-benar ingin mati ditanganku ya, bocah burung unta!?”
“Sudah-sudah…ada satu lagi alasan kenapa kami memanggilmu ke sini Eugene. Hero diam-diam mencari tahu tentang latar belakang Ren. Dan aku yakin kau akan terkejut sebagaimana kami pertama kali mendengarnya.” Jelas Abym.
“……………Apa?”
“Alasan kenapa dia menyerang SMA-SMA lain dan menjadikannya wilayah jajahan Ren, kenapa dia bersikeras mengancam kita, dan kenapa pula namamu jadi list pertama yang ingin dia kalahkan?”
Dengan polosnya aku menjawab pertanyaannya, “Mungkin karena dia merasa aku permalukan saat aku mengalahkannya dulu. Benar tidak?”
“……………” mereka semua terdiam. Hanya Jinnu dan aku yang saling tatap karena masih bingung, kemudian menunggu mereka untuk membeberkan alasan Ren itu.
”Ren itu, adik lawan tandingmu yang sampai sekarang masih cacat. Tanpa ku beritahu dengan lengkap, kau bisa menangkap maksudku kan Eugene?” Tanya Abym padaku yang masih mencoba mencerna kata-katanya.
“D-dia…adik Vynette?!”
Aku tidak berani menyangka kalau semua itu hanyalah kebetulan. Pastinya Ren memang sudah merencanakannya sejak dulu tentang ini. Akulah yang menyebabkan kakaknya cacat. Aku yakin siapapun yang mengalami hal itupun akan memendam lukanya dan jika menemukan waktu yang tepat, mereka akan balas dendam. Dan aku yakin, Ren pun begitu.
“Makanya kami sengaja berkumpul disini untuk membahas hal ini denganmu.” Abym menjelaskan lagi.
“Dan karena sekarang kita semua sudah tahu alasan tentang Ren, kenapa dia mengajak kita berkelahi, kenapa dia ingin kau menderita. Karena dia adik Vynette. Aku tahu dengan jelas hubungan kalian yang baik-baik saja di luar dan juga di pertandingan dulu dengan Vynette yang memujamu. Karena kau itu terlalu baik, aku tahu kau menyalahkan dirimu sendiri hingga saat ini, kau selalu berfikir apa yang kau lakukan padanya menghancurkan segala-galanya. Tapi kali ini, aku minta kau cepat-cepat sadar. Semua itu bukan kesalahanmu, dalam setiap cabang olahraga pasti ada kecelakaan macam itu. Apa kau tidak dengar berita di TV? Petinju yang saat bertanding, K.O , koma, lalu meninggal dunia. Karateka, patah lengan, dan tidak bisa berkarir lagi, masih banyak contoh Eugene. Tapi itu murni kecelakaan! Dan mereka pun merasa bersalah, melakukan segala sesuatu untuk menebus rasa bersalah mereka. Setelah itu…mereka melanjutkan kehidupan mereka dengan baik….”

Aku masih mendengarkan ceramah Sean yang panjang. “Bukannya aku memintamu menghapus mimpi buruk itu. Tapi Eugene, kali ini, Ren tidak akan mencoba menyerang kita satu-satu. Tapi keseluruhan.” Lanjutnya lagi, memintaku mengambil sikap dengan segera. Mana bisa aku mengambil sikap, jika aku dihadapkan dengan pilihan seperti itu, jikalau Ren bukan adik dari Vynette, mungkin aku akan langsung memutuskan untuk ikut menghajar si bajingan tengik yang berani menggaruk luka ku itu, tapi ini lain? Jika aku melakukannya, berarti aku akan menghancurkan dua kehidupan yang saling bertautan. Aku sudah melakukan hal yang buruk pada kakaknya, dan dia berencana balas dendam agar aku pun merasakan hal yang setimpal dengan apa yang ku lakukan pada kakaknya.
“Apa ini adalah situasi yang mengharuskan aku terikat pada kalian?”
“…….Jika kau percaya, dan percaya pada kami.” Balas Sean.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s