One Sweet Punch [17the Punch!]


Author. Maeve

===================================================================

 

17th punch

Keesokkan harinya, suasana di sekolah mulai bisa tenang seperti sedia kala, maksudnya keadaan ku yang tanpa Mina. Seperti apa yang pernah dikatakannya, bahwa semua orang di sini tidak ada yang tahu soal aku bicara seorang diri pada udara, karena dia tidak mau aku dianggap gila. Tidak ada yang tahu menahu soal Mina, sedikit menyakitkan karena anggapanku Mina dan anak-anak yang lainnya bergaul seperti bagaimana biasanya. Tei menyapaku di koridor, karena sepertinya aku butuh menjelaskan sesuatu, aku mengajaknya bicara di atap sekolah.
“Soal ciuman itu…”
“Aku mengerti, Eugene. Soal kemarin, terimakasih. Aku tidak menyangka kalau orang yang menolong Mina adalah kau.” Tei tersenyum padaku.
“Tapi aku benar-benar ingin menjelaskannya, jika tidak aku pasti akan terus merasa bersalah terhadapmu dan juga Mina!”
“Huh?”
“Entah kau perhatikan atau tidak, tapi aku benar-benar ingin mengenalmu—bukan untuk sekedar mengenalmu, tapi juga aku ingin kau suka padaku.” Aku menundukkan kepala. “Aku ingin sekali kau mengenaliku, dan menjadi pacar pertamaku. Jadi, kemarin aku menciummu untuk memberitahukan akan hal itu, sekaligus, melupakan niat ku untuk membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Pacar pertama? Jika dikehidupanku sosok Mina tidak ada, kau adalah satu-satunya harapanku.” Ujarnya tersenyum bahagia. “Sejujurnya, aku pikir kau suka pada Jinnu, oleh karena itu, kau datang mendekatiku?”
“Aku? Jinnu? Aku akui kalau dia itu kuat dan juga kecepatannya dalam berkelahi lebih dari yang ku duga. Bagiku terlibat hubungan cinta dengannya sangatlah minim.”
“Tapi dia juga tampan sama seprtiku, otaknya lebih pintar dariku, pokonya secara keseluruhan dia sama denganku. Kau tahu itukan?”
“Yayaya…dia termasuk tipe yang seperti itu, membuat para wanita berteriak-teriak jika melihatnya. Tapi apa boleh buat, aku tidak menyukainya.” Mungkin belum, sejujurnya aku juga ingin bilang kalau belakangan ini, entah kenapa hatiku merasa lemah jika berhadapan dengan Jinnu.

Belum lama kami bicara, rupanya bel tanda pelajaran hari ini selesai sudah berbunyi. Aku dan Tei berpamitan.

“Eugene, terimakasih kau sudah mengutarakan perasaanmu padaku.”
“Aku tahu. Dan aku pun ingin mengucapkan terimakasih kau sudah memberikanku sedikit kebahagiaan pada diriku.”
Kemudian dia pamit, meninggalkanku seorang diri di atap sekolah yang sepi ini.

“Lega juga sudah mengatakan apa yang ku inginkan? Jika saja aku punya keberanian seperti itu dari dulu…mungkin aku….mungkin…aku??” Kenapa aku jadi memikirkan Jinnu? Apa hubungannya si keparat itu dengan perasaanku??

********
Pulang sekolah, karena cuaca sedikit panas aku pergi ke mini market untuk membeli eskrim. Ketika keluar dari pintu, ada beberapa orang yang menghadangku, sepertinya dua anak muda ini bukan anak sekolahan. Mereka tidak memakai seragam, hanya setelan kasual biasa.
“Hai cantik, mau pergi main dengan kami?” Tanya salah satu dari mereka sambil cengengesan.
Aku paling benci dengan cecunguk-cecunguk model mereka, yang bisanya mengganggu wanita dengan mulut kotornya. Makanya aku selalu mengajarkan Yuni agar hati-hati jika menghadapi cecunguk-cecunguk kurang ajar seperti mereka ini.
“Wah, kau cantik dan seksi sekali dengan seragam SMA mu itu? Ayolah, main dengan kami?!”
Pintanya menyebalkan.
“Apa boleh aku tahu kau dari kelompok mana?”
“Huh? Maksud mu, cantik?”
“Aku bilang kau kelompok siapa?! Jangan macam-macam denganku!”
“Wah, kau galak sekali? Kalau kami dari kelompok Ren, kau mau apa cantik?”
“Ren? Apa dia yang menyuruh kalian menggoda musuhnya?!” Ujarku tersenyum jahat, mengetahui gelagat mereka yang sepertinya tidak tahu siapa aku mulai dari saat aku mengatakan, bahwa aku ini musuh Ren. Aku yakin mereka bukan anak buahnya, jika iya…daerah ini masih ruang lingkup SMA kami, dan pastinya jika Ren menghamburkan anak buahnya di sini, mereka pastinya dibekali foto atau informasi soal jagoan-jagoan SMA Felsterich. Dan salah satunya adalah aku.
“Meskipun aku membenci bajingan tengik itu, aku yakin dia tidak akan memasukkan sampah macam kalian ke dalam kelompoknya. Jadi, berani-beraninya bajingan macam kalian menghasutku. Pergi, sebelum aku benar-benar menghajar kalian hingga tidak berbentuk!” Ancamku.
“S-siapa kau sebenarnya?” tanya salah satu dari mereka bertanya.
“Beruntunglah mood ku sedang baik…perkenalkan, namaku Eugene.”
“E-Euugene??”
Mereka berdua saling beradu pandang. Kemudian cengengesan lagi, “Maaf…hahaha…aku pikir kau kenalan kami, habis mirip sekali?!” ucapnya padaku, lalu memberikan sinyal pada temannya untuk pergi dari situ.
“Brengsek! Akan jadi apa masyarakat jika dipenuhi orang-orang kurang kerjaan seperti itu? Daripada buat masalah dan masuk kelompok gangster yang tidak karuan, lebih baik mencari pekerjaan. Huh, dasar bodoh!”

Saat aku akan menyeberang jalan, di seberang aku melihat Jinnu masuk ke apotik. Siapa yang sakit? Perasaan Tei sehat-sehat saja? Apa ayahnya? Atau jangan-jangan…dia sendiri yang sakit? Atau gadis itu?! Arrrgh…sudah jelas anak itu menolaknya, jadi mana mungkin Jinnu mau balikan lagi?! Lagi pula diantara mereka tidak terjadi apa-apa?? Huahaha…eh, tapi kenapa aku jadi penasaran dengan hidup si unggas tidak berotak itu. Aku putuskan untuk meyeberang dan mengikutinya setelah keluar dari apotik, mengendap-endap seperti seorang ninja. Lalu aku mendengarnya terbatuk beberapa kali…kemudian memegangi dahinya sendiri, memeriksa apakah demamnya sudah turun apa masih tinggi. Aku bersembunyi di belakang bak sampah. Rupanya pendengaran si burung unta itu peka, bukannya dari dulu juga pendengaran bocah itu peka??
“Kau tidak perlu bersembunyi seperti itu, tempat sampah bukan tempat yang baik untukmu.”
Sial…ketahuan juga!? Aku keluar dari tempat persembunyianku. Tertawa bodoh. “Hehehe…aku hanya iseng mengikutimu.”
“Aku sedang tidak enak badan, jadi tidak berniat untuk berdebat tentang apa dan mengapa kau mengikutiku.” Jinnu tiba-tiba memegangi kepalanya, pelan-pelan memijit-mijit kepalanya. Sepertinya dia memang sakit, ternyata orang yang sok kuat, sok pintar, dan sok ganteng bisa sakit juga?! Hihihihi…
“Sakit sekali?”
“Hmm…”
“Sejak kapan?”
“Tadi pagi…”
“Sudah makan?”
“………” Jinnu geleng-geleng kepala.
“Kau hidup sendirian dan bisa masak, kenapa sekarang tidak mau masak?”
“Jika kau sakit, apa kau punya hasrat untuk memasak?”
“Benar juga…Heh, karena aku ini baik hati, bagaimana jika aku masakan makanan untukmu?”
“Baik…daripada aku mati kelaparan. Ikuti aku, rumah kami ada di gang itu.” Aku mengikutinya dari belakang.

******
Aku memasakkan bubur untuknya, sambil menunggu, aku menyuruhnya istirahat dulu di kamarnya. Rumah mereka besar dan tertata rapi. Ada foto Keluarga di dinding rumah mereka, ibu Tei dan juga ibunya Jinnu dua-duanya cantik.
“Eugene!” Panggilnya dari dalam kamar. Aku langsung pergi melihatnya, takut dia kenapa-napa.
“Kau benar-benar lapar ya?”
“Sepertinya begitu.” Aku melihatnya tidur di ranjang – terbalut selimut tebal. Kenapa disaat-saat dia tidak berdaya, aku menganggapnya terlihat menarik. Seperti saat dia tidak bisa membersihkan tubuhnya saat di rumah sakit dulu, dan sekarang saat dia sedang demam. Apa ini sebuah trend baru? Menyukai pria yang lemah disaat-saat tertentu?
“Oii…aku ingin puding, apa kau bisa bawakan ke sini? Tadi pagi ayahku membuatnya.”
“Iya, tunggu sebentar…”
“Tapi tunggu…aku berubah pikiran, aku ingin minum coklat hangat.”
“Oke…” Untung aku belum sempat mengambil yang dia maksud. Saat aku akan melangkah keluar.
“Aku berubah pikiran lagi…”
“HEH!! DISAAT SAKIT ATAUPUN TIDAK, KAU TETAP MEYEBALKAN!! KAU TAHU ITU?!”
Ujarku padanya kesal. “Kau tidak akan makan apa-apa, tunggu sampai buburnya siap, baru aku akan membawakannya untukmu. Tahan atau kau tidur saja? Itu pilihanmu.”
“Jahat…” Aku pergi keluar dari kamarnya. Jinnu tersenyum bahagia dari balik selimutnya.
“Kenapa aku punya keinginan untuk membunuhnya lebih dari seratus kali?”
Ucap ku sambil memeriksa buburnya yang sudah matang sekarang. Aku menaruh bubur itu ke mangkuk kecil, membumbuinya sedikit, dan menambahkan sayuran yang tersedia di meja makan setelah menghangatkannya sebentar tadi, lalu membawanya ke dalam kamar.
“Jinnu, buburnya sudah siap. Ayo makan?”
Tapi dia tidak bergeming sedikitpun oleh panggilanku. “Mungkin dia tertidur, tapi aku harus membuatnya makan dulu, makan obat, lalu membolehkannya pergi tidur lagi?!” Aku menaruh nampan di meja belajarnya.
“Jinnu…”pamggilku pelan membangunkannya. “Jinnu…bangun dulu sebentar, kau harus makan, bukannya tadi kau lapar?”
Jinnu perlahan membuka matanya, tapi tidak berkata apa-apa. Matanya yang sayu karena flu, batuk dan deman yan gdi deritanya, menjadikannya mirip seperti anak kecil yang butuh perhatian dikala sakit.
“Ayo bangun, setelah makan bubur dan makan obat, baru kau boleh tidur.”
“Eugeeeennn…”
“Apa?”
“Bisa mendekat sedikit? Tolong cek suhu tubuhku, dan juga debaran jantungku…ada yang tidak normal?!”
“Panas mu wajar karena kau sedang sakit, jantung mu berdebar juga itu wajar. Itu menandakan kau masih hidup!”
“Coba kau periksa…dekatkan ke telingamu…ada yang aneh…”
“Huh?” Dengan polosnya aku duduk di tepi ranjangnya dan mendekatkan telingaku ke dadanya.
Aku mendengar deru napasnya.
Sambil tersenyum, Jinnu merasa lega.
“Heh, kau itu tidak apa-aaa….” Saat aku mau menjauh, dia menarikku dan langsung memelukku dengan erat.
“Tunggu lima menit….aku tidak perlu obat, ada kau, itu sudah cukup….Eugene…lima menit saja.” Pintanya, dan entah kenapa aku menyanggupinya dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu. diperutku,seperti ada ratusan kupu-kupu berterbangan kesana kemari, kepalaku terasa berat, napasku sesak. Namun dari semua itu, perasaan yang sangat ku nikmati adalah kenyamanan dalam pelukkannya. Begitu hangat dan….dan….bagaikan sebuah mimpi…..

************

Jinnu terbangun dan mendapatkan Eugene sedang tertidur lelap di sampingnya. Dia dengan perlahan membelai rambunya yang terurai panjang, kemudian menelusuri wajahnya, saat jemarinya berhenti di bibir mungil Eugene. Dia ingin sekali mencium bibir itu. Namun jinnu menahan hasratnya itu dan membiarkannya tertidur pulas, sementara dia mengahangatkan kembali bubur yang dibuat Eugene di dapur dan memakannya dengan lahap, kemudian mengambil obat yang tadi dibelinya dan menelannya. Kemudian kembali masuk ke kamarnya, menyeret kursi meja belajarnya mengahadpa ke arah Eugene yang sedang tidur. Memandanginya dengan seksama.
“Sudah kukatakan, jika kau berlari ke arahku, aku akan jatuh cinta padamu. Jadi jangan salahkan aku jika aku ingin memilikimu dan menjagamu, anak bodoh!”

“Oahhhhmmm…” Aku membuka mataku, dimana ini? Kenapa aku bisa tertidur di sini?? Aku melihat ke sampingku, Jinnu tidak ada di kasur. Kemudian aku menemukannya tertidur di kursi. Karena panik, aku langsung keluar dari situ. Tidak…ini tidak boleh terjadi…..aku dan si burung unta itu tidak boleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!!!

*********
“Kenapa pula aku mau menemaninya??Menjatuhkan harga diriku saja?!” Gerutu ku saat berjalan pulang, aku melihat jam di ponselku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku buru-buru ke pemberhentian bus dan naik bus selanjutnya.

Yuni sudah menungguku di meja makan saat aku pulang, “Kau ini, kemana saja?! Untung tadi Jinnu menelpon dan memberitahuku kalau kau ada di rumahnya. Eugene, kalau kau dengan Jinnu, lalu Tei bagaimana?”
Aku pergi ke dapur, mengambil botol minuman lalu meneguknya langsung dari botol, setelah merasa puas aku menjawab pertanyaannya.
“Aku dan Tei…kami berdua sudah menarik garis. Dia hanya orang yang kukagumi, tidak cocok jadi pacar.”
“Oh, oleh karena itu kau beralih pada Jinnu?”
“Heh? Dia dan aku juga tidak ada apa-apa. Memangnya tadi dia menelpon?”
“Hmm.” Angguk Yuni, “Dia bilang, karena dia sakit, jadi kau membantunya memasakkan bubur. Kalau kau dan dia tidak ada apa-apa, lalu apa harus kau memasakkan bubur untuknya?”
“Teman seperjuanganmu sakit, apa kau diam saja? Kalau dia sakit terlalu lama, jika musuh menyerang, aku akan kerepotan.”
“Hehehe, berarti Jinnu itu perhatian! Coba kau bayangkan saja, saat kau di keroyok dulu, yang pertamakali datang menyelamatkan mu itu dia, yang membopongmu kerumah sakit juga dia.”
Mendengarnya menggelar fakta-fakta itu ke mukaku, aku tidak mampu berdalih.
“Yuni…kalau jantung berdebar kencang, suhu tubuhmu tiba-tiba panas, sampai kau ingin kabur dari hadapan seseorang, itu namanya apa?”
“………..maksudmu?”
“Tidak….anggap aku tidak bertanya.”
“Ngomong-ngomong, dia menyuruhmu untuk menelponnya jika kau sudah sampai rumah.”
“Oh…”
“Cepat ganti baju dan mandi, lalu makan!”
Aku langsung pergi ke kamar ku untuk bersiap-siap mandi dan turun makan. Perasaanku tidak tenang, Jinnu, panasnya sudah turun belum? Pandanganku terikat pada ponselku yang tergeletak di meja belajar. Namun aku mencoba menggubris pikiranku yang mengkhawatirkannya. Setelah selesai mandi, aku langsung menemui Yuni yang menungguku di meja makan untuk makan bersama.

******

Rapat anggota. Tulisan itu terpampang dengan jelas di pintu ruang OSIS, semua perwakilan kelas sedang menentukan acara apa yang pas untuk pesta ulang tahun sekolah. Jinnu disuruh mewakili kelasnya, saat berjalan menuju ruang osis, Jinnu bertemu dengan Sara di lorong. Benar juga, pikirnya dalam benaknya. Sudah lama aku tidak melihat Sara? Rumahku juga masih dibiarkan kosong karena Sara sudah pindah ke tempat lain.
“Jinnu!” Panggilnya dengan nada riang, seperti masalah yang dulu pernah terjadi sudah dilupakannya.
“Apa kabar?”
“Apanya yang apa kabar? Aku pikir kau sudah pulang ke rumah, tahunya masih dengan ayahmu. Lain kali ijinkan aku main ke sana ya?”
“Tidak tahu…” jawabnya dingin, menjaga jarak.
Sara sebenarnya kesal dengan tingkahnya, tapi dia memang masih menyukai Jinnu. Apapun akan dilakukan hanya untuk mendapatkan Jinnu kembali.
“Kau terlalu memaksakan diri di depanku. Jika kau benci aku, kenapa saat aku menyapamu, kau menghentikan langkah dan bicara dengan nada seperti ini?” Raut wajah Sara berubah sinis.
“…………………..”
“Kau mau ke ruang osis kan? Ayo kita pergi sama-sama?!” Sara tersenyum kembali, menahan kegetiran atas prilaku Jinnu. Sara menggelayutkan tangannya ke lengan Jinnu, memaksanya pergi bersama. Jinnu ingin mencoba melepaskan pegangan Sara, tapi karena dalam hatinya dia juga merasa bersalah terhadapnya, dia akan membiarkannya sekali ini saja.

Jinnu dan Sara masuk ke dalam ruangan, semua orang bereaksi melihat pasangan itu. Sejak Sara masuk ke sekolah ini dan terdengar kabar bahwa Sara memang pacar Jinnu, apalagi Sara sudah bilang kalau mereka tinggal bersama di rumah Jinnu. Melihat mereka masuk ke satu ruangan secara bersamaan dan juga mesra seperti itu meyakinkan kalau mereka berdua memang pacaran. Dwight dan Abym yang mewakili kelas masing-masing merasa heran. Daniel menghampirinya.
“Maaf, aku ada perlu dengannya?”Daniel dengan ramah melepaskan tangan Sara yang masih menempel pada Jinnu. “Tentang jadwal pergantian dojo, bisakan kau atur sekali lagi? Atau…” Daniel membawa Jinnu menjauh dari Sara yang kesal dengan apa yang dilakukan Daniel.
Daniel dan Jinnu masuk ke ruangan satunya lagi, yang masih satu ruang dengan ruang osis. Melihat mereka masuk, Dwight dan juga Abym ikut masuk menemui mereka.
“Oi..oi…Hahaha, apa-apaan itu sobat?” Abym masuk menggangu percakapan Daniel dan Jinnu. Setelah mereka masuk, pintu di tutup.
“Itu juga yang sedang ku tanyakan padanya.” Daniel menjauh dan bergabung denga mereka, Jinnu sekarang seperti seseorang yang sedang di sidang, duduk di meja yang tidak terpakai.
“Kau sudah dengar tentang Sara yang mengatakan pada anak-anak lain kalau kalian pacaran saat di Australia?” Tanya Dwight.
“Jika kalian ingin bercanda dengan ku, mood ku sedang tidak baik sekarang.”
“Terserah, kau inikan sejajar dengan Tei dalam urusan wanita. Populer.” Jelas Dwight lagi.
“Apa Eugene belum cukup untukmu?”
“………………” Mendengar nama Eugene, Jinnu jadi salah tingkah karena kejadian kemarin saat di rumahnya.
“Otot-otot di sekitar mulutmu itu bergerak-gerak, pipimu juga memerah, heh…sudah sampai mana kau dan Eugene?!”
“Kalian bisa diam tidak?! Seharusnya kalian khawatir tentang aku yang sakit kemarin…”
“Ah, aku jadi ingat!” celetuk Dwight tiba-tiba.
“Apa?” Tanya Abym.
“Kemarin Sean bilang melihat kalian berdua pulang sama-sama, dan kau membawa Eugene ke rumahmu.”
“UUUHHH…!” Abym dan Daniel barengan menggodanya.
Jinnu tidak dapat menyembunyikan perasaannya dihadapan teman-teannya itu, mereka bertiga seolah-olah dapat membaca apa yang tersirat diwajahnya.
“Hahaha…akhirnya. Kalian berdua melakukan apa saja?” Tanya Daniel penasaran.
“Tidak ada, dia hanya memasakkan bubur untuk ku.”
“Waahh…pasti kau senang ya?” Abym bertanya.
“Tentu saja dia senang. Jinnu yang dingin dan juga tidak punya perasaan dalam waktu singkat berubah hanya karena seorang Eugene. Waah, ini record! Record!” Jawab Dwight kegirangan. Percakapan ini menciptakan gelak tawa ketiganya, Jinnu hanya menahan senyumnya, berusaha tidak merusak imej cool-nya.

Ternyata Sara mendengar percakapan itu dari luar pintu.

********
Ketika rapat selesai, dan keputusan tema perayaan tahun ini adalah sirkus dan dilanjutkan dengan ajang battle of the band perwakilan kelas masing-masing. Jinnu menulis notulen hasil rapat agar nanti dapat diperbincangkan dengan anak-anak di kelasnya.
Sara menunggu semua orang pergi meninggalkan ruangan tersebut, sekarang hanya tinggal mereka berdua.
“Kenapa bukan aku?”
“…………………” Jinnu yang keasikkan mencatat tidak tahu kalau semua orang sudah pulang ke kelas masing-masing, dan sedikit merasa agak aneh dengan kehadiran Sara di dekatnya.
“Huh? Apa kau bertanya padaku?”
“Kenapa bukan aku yang kau pilih? Kenapa harus dia! Kau bilang kau membenci anak itu, kau benci Eugene karena dia selalu saja membuat mu kesal! Kenapa kau menolak ku dan dia tidak?!”
“Aku tidak tahu seberapa banyak kau tahu tentang diriku, tapi aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu bukan?” Melihat tidak ada kemungkinan untuk membicarakan maslah ini lebih lanjut, Jinnu bangun dari kursinya. Membereskan buku catatannya dan peralatan tulisnya, kemudian pergi menuju pintu keluar.
“APA KAU BENAR-BENAR SUKA PADANYA?” Sara menaikkan suranya dengan nada pesimis.
Jinnu yang sudah dekat dipintu keluar, sambil membuka pintu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi, mengucapkan satu hal yang membuat Sara sedih.
“Semua itu bukan urusanmu.” Jawabnya dingin, menutup pintu, lalu pergi.
“Dia tidak pernah menjawab seperti itu, apa dia mengakui kalau dia menyukai Eugene?”

Kenapa? Kenapa? Pekik Sara kesal dalam hatinya.

*******

Gang anak buah Ren yan gsedang sibuk main kartu di tempat berkumpul mereka di kagetkan dengan kedatangan seseorang.
“Apa aku bisa bicara dengan Ren?” Suara itu milik Sara. Setelah salah satu dari mereka menyampaikan pesannya tersebut, Sara di apit oleh dua orang suruhan Ren masuk ke gudang tua tempat persembunyian mereka. Kini Sara bertatap langsung dengannya.
“Kenapa anak gadis sepertimu ingin bertemu dan bicara dengan ku?”
“Aku mau minta tolong.”
“Apa?” Ren menyalakan rokok, menghisapnya, lalu menghembuskan asapnya yang mengepul.
“Aku ingin kau menghabisi seseorang.”
“Hanya itu? Ingin sampai seperti apa orang yang ingin kau habisi itu?”
“Terserah bagaimana kau ingin menghabisinya.”
“Target?”
“Eugene!”
Ren yang terkejut, menarik rokok yang sudah setengah dia hisap, mengepulkan asapnya, lalu menyentilnya jatuh ke lantai.
“Katakan sekali lagi?”
“Kau sudah dengar, kan? Bukannya dia adalah targetmu?”
“Jika aku menolak? Aku tidak mencampurkan bisnis dan masalah pribadi secara bersamaan.”
“Aku tahu kau butuh uang untuk biaya kakakmu dan juga masalahmu dengan Eugene. Aku akan dengan senang hati membayar biaya untuk satu tahun ke depan untuk kakakmu tinggal di rumah sakit. Bagaimana?”
“Akan ku pertimbangkan.”
“Aku tidak suka menunggu, jika kau setuju, jemput aku disekolah besok.”
Ren melihat Sara dengan seksama, dia berfikir dalam hati, kenapa ada anak secantik itu tapi punya hati yang hitam sama sepertinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s