One Sweet Punch [18th Punch!]


Author. Maeve

====================================================================

18th Punch

 

Ren bingung harus menanggapi masalah ini dengan bagaimana? Urusan Eugene dan dirinya tidak boleh ada campur tangan dari pihak lain. Meskipun orang itu ada masalah dengan Eugene, dia tidak akan melakukan yang diminta Sara. Itu sudah keputusannya.

 

“Bobby! Perempuan tadi anak mana?”

“Felst.” Jawab Bobby, anak buahnya.

“Selidiki perempuan itu baik-baik, setelah selesai laporkan padaku.”

“Baik…Ren, aku tahu kalau kau tidak mau ikut campur mengenai permintaan anak itu padamu, tapi, bukankah hal itu malah mempermudah usaha kita untuk memberikan Eugene pelajaran yang setimpal atas apa yang dia perbuat pada kakakmu tanpa harus mengotori tangan kita?”

Ren mengambil kunci motor yang diletakkan di meja, berjalan menghindari Bobby ke motornya. Sebelum menyalakan mesin, dia berucap pada Bobby. “Lakukan saja apa yang ku minta.”

“Kau mau kemana?”

Ren tidak menanggapi Bobby. Namun Bobby masih menahan langkahnya untuk pergi.

“Waktu kita sudah tidak banyak, dan Eugene bukan tipe orang yang bisa mengerti keadaan yang dialaminya secara langsung. Kau tahu itukan? Jika terlalu lama, maka yang akan terjadi adalah kau dipermainkan olehnya.”

Ren tersenyum dingin, “Apa kau merasa aku butuh nasehat dari mu?”

“Tidak, karena kau tahu aku ini bergerak tanpa harus ada instruksi darimu. Jadi, berhati-hatilah, siapa tahu aku akan menusukmu dari belakang.” Ancamnya.

Ren kemudian menjalankan motornya dan melaju keluar dengan kecepatan tinggi dari gudang tua tempat persembunyian kelompoknya.

Bobby tersenyum licik karena dia telah melayangkan surat ancaman kepada Power Ranger plus Eugene dan juga Jinnu dibelakang Ren.

 

*****

“Wuaaaaahhh, bosan!!” Ujar ku seraya membuka-buka buku pelajaran di mejaku. Sean masih sibuk dengan rencana membuat stand yang lain dari biasanya, tapi entah apa yang dipikirkannya ketika ide gilanya datang da menyuruh anak-anak dikelas belajar lempar pisau!

Ketika ide itu diutarakan, jelas-jelas kini dia dilempari perlengkapan sekolah. Huahaha, rasakan!

Dan karena tidak punya ide lainnya, dia menyuruh Dwight memikirkan membuat rencana apa untuk perayaan ulang tahun sekolah dari kelas mereka. Akhirnya Sean kembali duduk di sebelahku.

“Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa? Memangnya aku terlihat seperti sedang melakukan apa?”

“Melakukan sesuatu yang pantas dicurigai.”

“Maksudmu?”

“…iya, seperti contohnya…apa yang kau lakukan kemarin di rumah Jinnu?”

Brengsek. “Kau itu stalker ya?”

“Yang stalker itu justru kau, Eugene…aku melihat semuanya.” Sean tersenyum jahat.

Cara satu-satunya menghadapi orang yang tersenyum lebar menyeringai dihadapanku ini hanya satu.

“Mati kau! Mati!!” Aku langsung memukulinya bertubi-tubi, Sean kemudian berlari hingga ke lorong.

“Eisshh…dia yang jatuh cinta kenapa aku jadi sasaran kemarahannya?!…”

“Heh, Sean! Kau mau lari kemana?! Huh?!” Ujarku sambil mengejar anak itu.

“Hahaha…kejar aku kalau kau bisa!”

Kenapa aku bisa bertingkah layaknya seperti orang gila setelah mengetahui kalau Sean melihatku masuk ke rumah Jinnu? Dia sudah tahu semuanya kan? Kalau aku akan baik pada Jinnu karena dia akan membantuku mengatasi masalah yang sedang ku hadapi terhadap Ren. Iya, itu yang kupikirkan saat ini. Hahaha! Jadi itu bukan suatu masalah besar.

 

****

Bobby sudah mengetahui maksud Sara yang datang meminta bantuan Ren untuk memberikan Eugene pelajaran karena telah merebut pacarnya, karena tahu kalau Ren tidak mungkin mencampurkan dendam pribadi dan juga bisnis, terutama lagi lawan yang dihadapinya adalah Eugene. Dia segera mennyuruh anak buahnya mencari nomor ponsel Sara untuk bernegosiasi tentang masalahnya itu.

Setelah mendapatkan nomornya, segeralah Bobby menghubungi Sara yang pada waktu itu masih berada di luar sekolah. Sara memintanya menemui dirinya di Laluna.Bobby mengiyakan, dan berangkat menemuinya.

Sara menunggunya di meja nomor 7. Sebenarnya dalam hati Sara, dia tidak mau memakai cara jelek ini untuk mendapatkan Jinnu, namun sesekali Jinnu harus merasakan akibatnya jika dia berani mempermainkan perasaannya seperti itu.

Bobby mengenali wajah Sara dan langsung menuju ke meja itu.

“Kau bilang bisa membantuku mengurusi masalah yang ditolak oleh Ren? Apa maksudmu bicara seperti itu ditelpon tadi?”

“Haha…rupanya kau itu perempuan yang tidak suka basa-basi?”

Sara tidak tertarik dengan pujiannya itu, dan rupanya Bobby mengerti. Jadi dia langsung ke pokoknya saja.

“Jika orang yang kau maksud itu bukan Eugene, mungkin aku bisa membantu mu untuk bicara pada Ren. Tapi ini lain…”

“…………”

“Kau tahu, aku ini bukan tipe orang yang suka mengatakan rahasia orang pada yang lain. Tapi bagi Ren, Eugene hanya boleh disentuh olehnya, tidak oleh yang lain.”

“Lalu kenapa kau datang menemuiku untuk membicarakan masalah ini?”

“Bilang saja kalau aku ini lebih gila dari Ren. Aku ingin mendahuluinya, itu saja.”

“Akan ku anggap itu sebagai loyalti…tapi bagaimana kau bisa membantuku?”

“Sekolahmu akan merayakan ulang tahunnya kan? Aku hanya membutuhkan akses masuk ke sekolah mu saja, selebihnya aku bisa lakukan sendiri.”

“Kau tahu istilah ‘jaga mulut’?” Ancam Sara.

“Tentu saja, pihak mu hanya tahu kalau terjadi sesuatu, pastilah karena perebutan lahan kekuasaan yang dipionirkan antara Ren dan juga jagoan-jagoan sekolah mu. Kau suka ide ku itu?”

“Satu lagi, aku tidak mau kalian melukai Jinnu!”

“Jinnu…baik.”

 

******

Ren menunggu perawat keluar dari kamar kakaknya. Setelah perawat selesai membersihkan tubuh Vynett, ia kemudian masuk ke dalam. Aura Ren yang sangat gelap berubah ketika memasuki ruangan itu, dengan seikat bunga lavender kesukaan kakak perempuannya, dia tersenyum dengan riang.

“Cuaca di luar sungguh sangat panas hari ini, kak. Aku hanya menyarankan pada mu kalau dalam cuaca panas seperti ini, aku tidak akan membawamu jalan-jalan keluar…hmmm…”mencium wangi bunga laveder, “Kakak juga mencium wanginya kan? Hari ini, kita akan melakukan apa? Ah, aku punya buku baru…” Setelah menaruh bunga lavender ke dalam vas, ia langsung mengeluarkan beberapa buku bacaan. “Aku bawa karangan pendek Anton Chekov. Aku rasa ini sedikit lebih berat, tapi kakak suka kisah romantis kan? Judulnya ‘Wanita dan si anjing kecil’ “. Ren langsung menarik kursi terdekat dan duduk di dekat Vynett.

“Telah disebutkan kalau ada seorang pendatang baru di pesisir pantai, seorang wanita dengan anjing kecilnya….” dia membacakan buku itu seakan-akan Vynet bisa mendengar dan berinteraksi dengannya, terkadang jika Ren membacakan buku komik, entah itu ilusi atau memang terjadi…Vynett menyungingkan senyumannya jika menemukan hal-hal lucu dari buku bacaan yang dibacakan oleh Ren padanya.

“Dia mengingat kelangsingan, lehernya yang indah, dan juga matanya yang abu-abu mengagumkan. ‘Lagi pula, ada satu hal yang terlihat menyedihkan dari dirinya.’ Pikir Dimitri dan kemudian tertidur…Aku, tidak punya kemampuan untuk menyakiti orang itu.” Dia tahu, kalimat terakhir yang dia sebutkan bukanlah dari buku yang dibacanya, melainkan kegalauan hatinya.

***

 

Akhirnya aku bisa juga menangkap Sean yang ternyata bersembunyi hingga ke atap sekolah. Saat aku menemuinya, dia sudah berlutut dengan kedua lengan keatas.

“Eugene…aku bersalah padamu. Jangan pukuli aku lagi!”

“Bagus jika kau mengerti. Lagi pula apa urusanmu jika aku main ke rumah Jinnu atau tidak? Kau tahu sendirikan, aku harus baik padanya karena dia akan membantuku soal Ren.”

Sean menurunkan kedua tangannya, mencoba untuk berdiri. Kemudian menepuk-nepuk celananya yang kotor sehabis berlutut itu.

“Apa otak mu sudah bisa diajak berkomunikasi?”

“Kau cari mati lagi ya?”

“Heh, aku ini khawatir terhadapmu.” Ujar Sean berjalan ke arah ku.”Lagi pula, apa salahnya jika ternyata kau menyukai Jinnu dan bukan Tei?”

“Apa kau pernah merasakan hal yang sama?”

“Maksudmu tentang jatuh cinta? Tentu saja, semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta.”

“Siapa orangnya?”

“Adik mu.”

“Huh?!”

“Yuni???”

“Hm!” Angguknya pasti.

“Kapan? Kenapa bisa?”

“Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, bodoh!”

 

Sejujurnya aku ingin menjawab pertanyaan itu, tapi aku tidak bisa. Terhadap Jinnu atau pun Tei, mereka adalah orang-orang yang berdiri dibawah langit yang sama dengan ku, namun aku tidak mampu meraih kedua tangan mereka. Tei bagiku, adalah teman dan masa lalu…lalu Jinnu bagiku….seperti air dan minyak. Terlebih lagi, aku juga tidak mau mereka semua mengkhawatirkan keadaanku.

Jadi, sejak surat ancaman itu datang, entah kenapa kami harus berbondong-bondong hanya untuk datang ke sekolah dan juga pulang ke rumah. Karena aku ini sasaran empuk mereka, jadi setelah mengantarku pulang, barulah mereka saling antar. Yang ku dengar, yang terakhir pulang adalah Jinnu.

 

Tapi untuk hari ini, formasi tampak berbeda. Mungkin karena yang lain punya urusan masing-masing dan menyerahkan tugas mengantarkan ku pulang pada Jinnu.

Jujur saja, sejak hati ku merasakan ketidaktenangan berada satu ruang atau berjalan bersebelahan seperti ini dengannya, dia pun tampak diam.

 

“Sebenarnya, kau tidak perlu mengantarkan ku pulang seperti ini.”

“Huh?” Tanyanya dengan wajah sepertinya dia sedang memikirkan hal lain.

“Jinnu…kalau kau punya rencana lain, kau tidak usah mengantarkan ku pulang.”

“Jangan sok…lagi pula, Tei akan khawatir jika aku membiarkanmu pulang sendirian.”

“Dia tidak tahu menahu soal surat ancaman itu kan?”

“Lambat laun pun dia akan tahu, makanya aku ingin menjagamu.”

“Apa aku tidak salah dengar?”

“Memangnya salah jika aku ingin menjagamu?”

“Tidak. Jujur saja, sebenarnya aku takut. Kaki ku selalu saja gemetar jika melihat gerombolan anak sekolah atau gerombolan yang memandang ku dari jauh. Jadi jika bersama kalian, aku merasa aman meskipun nantinya kita akan berkelahi juga gara-gara aku.”

“Sudah ku bilang kan semua itu bukan kesalahan mu?!”

Meskipun semua orang bilang itu bukan kesalahanku, tetap saja hasil akhir dari semua itu Vynette berada di rumah sakit entah untuk berapa lama? Dalam hati ku, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk meminta maaf. Jika bisa, aku akan menukar jiwa ku dengannya. Gara-gara seorang anak seperti ku, seorang gadis terluka dan masa depannya hancur jadi ‘tumbuhan’ seperti itu. Sedangkan aku masih bisa tertawa, marah dan juga memukuli orang lain sekehendak hatiku! Orang macam apa aku ini? Aku pantas mati! Pantas dapat hukuman. Aku memang pantas dipukuli oleh Ren. Aku yang membuat kakaknya seperti itu.

 

*****

 

Ren keluar dari sanatorium dimana kakaknya dirawat selama ini. Ketika hendak menjalankan mesin motornya. Rupanya Bobby sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Kau punya nyali juga menguntitku?!”

“Tidak usah bersikap begitu padaku, lagi pula yang sedang terbaring di dalam sana juga adalah pacarku. Jadi, apa hak mu untuk melarang ku menemuinya?”

Ren memakai helmnya tanpa memperdulikan ucapan Bobby.

“Jangan bilang kau menyukai anak itu karena kakak mu selalu saja menceritakan betapa baik dan juga hebatnya seorang Eugene? Ah…” Bobby mengingat sebuah kejadian di masa lalu sambil terseyum layaknya ingatan itu perlu disampaikan pada Ren.

“Kau juga pernah bertemu dengannya satu kali sebelumnya saat kau masih belum pindah ke Felsterich untuk mengacau disana. Saat itu kau masih lugu, diam-diam mengidolakannya juga. Vynette yang bilang, kalau kau selalu membawa motormu untuk melihatnya dari gerbang sekolah ketika jam pulang….Ahkk!” Ren melempar wajahnya dengan helm yang akan dipakainya. Kemudian dia turun dari motor, lalu menendang  perutnya hingga rubuh ke tanah. Dia jongkok dan meraih kerah baju Bobby, menariknya kuat hingga wajahnya berada tepat di depan Ren. Bobby dengan napas terengah-engah karena kuatnya tendangan Ren mencoba melepaskan diri dar cengkramannya, namun gagal.

“Kalau kau ingin mati, terus saja bicara! Tapi satu hal yang harus kau ingat. Tidak perduli kau siapa?! Jika menghalang-halangi jalan ku, tidak perlu ada alasan untuk membunuhmu. Mengerti?!”

Ren mengambil helmnya, kemudian menaiki motor dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi hingga ke jalan raya.

 

To be continue…..

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s