One Sweet Punch[19th Punch!]


Author. Maeve

=====================================================================

19th Punch!

 

Ren mengetahui jelas apa yang selama ini dia takutkan. Bibit kebencian yang tertanam kini sudah tumbuh dengan akar yang kuat dalam dirinya ketika melihat kakak perempuan sat-satunya terbaring menjadi ‘tanaman’ seperti itu. Yang lebih menyakitkan lagi, kenapa harus dia pula yang ikut menyaksikan kejadian naas tersebut. Yang terus berputar dalam otaknya seperti proyektor adalah adegan dimana Eugene dengan seluruh kekuatannya mengangkat dan membalikkan tubuh kakaknya untuk sebuah kemenangan yang mematikan. Wajah gadis itu sempat tersenyum ketika mengetahui lawannya terjatuh. Adegan itu terekam dengan jelas dingatannya. Padahal semua orang tahu kalau seketika itu juga senyuman Eugene berubah menjadi khawatir, dengan wajah ketakutan dia langsung berlutut memeriksa keadaan Vynett. Ketika dari hidungnya keluar cairan berupa darah, Egene langsung mengalami apa yang disebut ‘panic disorder’ secara tiba-tiba. Dia berteriak-teriak di arena pertandingan, menoleh kiri-kanan agar semua orang dapat menolong Vynett. “Ambulan…CEPAT PANGGIL AMBULAN!!!!!!” setelah tim medis yang tersedia di pertandingan tersebut membawa Vynett ke rumah sakit, Eugene masih berada di tempat itu, menangis histeris. Sean langsung memeluknya agar dia bisa segera menenangkan dirinya.

 

“Eugene!! SADAR!!” melepaskan pelukannya seraya masih memegangi pundak Eugene yang asih terduduk kaku dengan mata melotot, segukan penuh ketakutan.

“Mereka sudah membawanya ke rumah sakit, jadi tenanglah…”

Tanpa ekspresi dan kini berusaha menahan tangisannya, “B-bagaimana bisa aku tenang? Apa kau mendengar bunyinya?”

“Eugene…”

“Sean…Vynett…aku sudah melakukan hal buruk padanya.” Tangisannya pun kembali meledak.

 

******

 

Bobby memberitahukan pada anak buahnya untuk menakut-nakuti Eugene. Jadi dia meminta geng wanita arahannya mengerjai Eugene barang sebentar dan juga mengatakan agar perintahnya ini jangan sampai diketahui oleh Ren kalau mereka semua masih mau selamat.

 

Mereka saat pulang sekolah, sengaja menunggu Eugene di taman yang sering sekali dilewatinya jika akan pulang ke rumahnya jika berjalan kaki. Karena semua orang sedang sibuk dengan agenda acara ulang tahun sekolah, aku memastikan kalau tidak akan terjadi apa-apa pulang sendiri hari ini. Jinnu meminta agar aku tetap menunggunya di tempat latihan sampai dia beres rapat dengan anggota OSIS, tapi aku tetap kukuh pada pendirianku, kalau lambat laun harus membiasakan diri untuk bisa pulang sendiri dan bagaimanapun sudah hampir beberapa hari ini tidak ada tanda-tanda aneh dari anak buah Ren ato Ren-nya sendiri untuk menghajarku. Meskipun Jinnu dan juga anggota power Ranger yang lain merasa keberatan dengan keputusan itu, Sean mengambil inisiatif kalau apa yang dikatakan olehku itu benar. Setelah mendapatkan ijin dari mereka semua, akhirnya aku pergi pulang ke rumah tanpa pengawalan siapapun.

 

“Tanpa Jinnu, sedikit terasa membosankan.” Aku melihat kesamping saat aku berjalan pulang. Biasanya tubuh anak itu yang tinggi selalu menghalangi panasnya sinar matahari yang mengenaiku. Siluet tubuhnya pun tampak indah ketika dia berjalan disampingku…

Aku menggigit bibirku, lalu memanyunkan bibirku dengan kesal, “Apa aku harus mengaku kalah dan mengatakan padanya kalau aku sudah mulai menyukainya?”

Aku langsung menggubris pikiran aneh itu dari dalam benakku.

 

Kemudian ketika aku berjalan di sekitar daerah taman, tempat biasa aku dan si burung unta itu sering bertemu, hari ini terlihat sedikit aneh. Biasanya banyak anak kecil yang bermain disekitar ayunan, dan juga perosotan. Kenapa terasa sunyi? Para kakek yang biasa main catur pun sudah tidak ada.

 

Aku benar-benar tidak tahu apa yang menimpa kepalaku saat aku lengah, aku baru tahu kalau seseorang sudah memukul kepalaku dari belakang sesaat ketika tubuhku ini tersungkur di tanah. Untungnya aku tidak pingsan. Sekelompok anak perempuan yang entah dari sekolah atau campuran sekolah mana yang berani menyerangku tiba-tiba seperti ini, muncul dihadapanku.

 

“Orang bilang refleks mu hebat? Tapi tidak kusangka kau apes hari ini terkena pukulan balok ku.” Ujar anak perempuan berambut punk warna –warni panjang.

“Melihatmu yang gampang tersungkur seperti itu membuatmu tidak menarik lagi.”

“Kalian siapa?” tanyaku pada mereka, namun tidak ada satu tanggapan pun pada pertanyaanku. Si rambut punk itu hanya bisa tersenyum sinis, “Hajar dia sampai tidak berani lagi menampakan wajahnya itu!”

 

Mendengar perintah si rambut punk, aku tahu aku dalam masalah. Seharusnya aku menuruti apa yang dikatakan anak-anak. Aku langsung berdiri dengan cepat sebelum mereka menghajarku dengan balok-balok tebal yang mereka bawa di tangan masing-masing itu.

 

Hook! Satu orang sudah melayangkan pukulannya memakai balok tersebut, namun beruntung aku bisa menghindar dan malah meraih tangan anak itu dan hampir mematahkannya. Anak itu kesakitan.

“Jika aku memang bersalah, normalnya aku akan menerima pukulan kalian satu persatu. Tapi karena aku merasa dikambing hitamkan…aku juga tidak punya pilihan lain selain melawan.” Ucapku dingin pada mereka.

 

Satu orang lagi mencoba memukulku untuk menolong temannya, berniat untuk membuatku melepaskan lengan anak yang kini sedang kesakitan itu. Keika anak itu mulai mengayunkan balok kearah ku, aku dengan hati-hati mendorong anak yang kesakitan itu ke tanah. Namun salah satu dari mereka mengarah kaki ku  dan berhasil mengenaiku. Aku pun jatuh tersungkur, menahan sakit dan mencoba berdiri, si anak berambut punk itupun maju mendekati ku.

“Kau tidak akan bisa lari atau pun menggunakan teknik ‘windmill’ mu yang cantik itu lagi. Jadi…apa bisa pestanya dimulai sekarang?”

Awalnya aku ingin mengahadapi mereka dengan lunak, tapi sepertinya mereka serius sekali ingin menghabisiku.

“Sayang sekali…aku bukan tipe yang gampang menyerah meskipun kalian sudah memukul kakiku. Dan satu lagi, aku sudah berjanji pada teman-temanku kalau aku bisa menjaga diriku sendiri…dan kalian…”Aku melayangkan senyuman yang ku pelajari dari Jinnu.”Sudah menggali kuburan kalian sendiri.”

 

Rupanya ucapanku tadi membuat mereka sedikit gentar ketika mataku men-scaning mereka satu persatu. Aku tidak mau kehilangan timing, jadi akulah yang pertama menyerang mereka, aku meninju wajah si rambut punk hingga sempoyongan dan hampir terjatuh. Dari mulutnya mengeluarkan darah, ketika tahu kalau pimpinan mereka hampir kalah, mereka menyerangku secara bersamaan. Aku harus berfikir lebih keras 1000 kali, jika mereka dengan tangan kosong, mungkin aku bisa dengan cepat mengalihkan situasi yang menguntungkanku. Tapi mereka melawanku dengan balok?! Sumpah, yang terfikir oleh ku saat ini adalah mencoba kabur dan berlari ke arah pilar-pilar besi mainan anak-anak yang berada didekat ayunan itu.

“Brengsek!” Gumanku. Aku mempertaruhkan otakku untuk kabur dari sini. Ketika mereka mulai menyerang, aku mencoba untuk menghinar dan balas menendang, memukul mereka jika aku melihat ada ruang kosong untuk itu. Dan akhirnya, perkelahian ini masuk ke dalam rencanaku, pilar-pilar yang biasa di naiki oleh anak-anak lumayan tinggi dan juga banyak palangnya juga. Dengan penuh pertimbangan matang, aku meraih salah satu pilar tersebut dan mengayunkan tubuhku untuk masuk ke dalam kotak-kotak di dalamnya. Maksud ku melakukan hal itu adalah mencoba beristirahat sebentar. Mereka semua mengitari pilar ini yang bentuknya segitiga mirip piramid warna-warni. Sebagian ada yang memukul-mukulkan baloknya dan ada pula yang berusaha merogok-rogokkan balok panjang itu ke arahku yang masih terengah-engah didalam sini. Semakin aku bisa bernapas, semakin otakku pun bisa berfikir dengan jernih. Aku menunggu mereka semua menaiki atau masuk menangkapku.

“Cepat masuk dan tangkap dia!” Si rambut punk memerintahkan anak buahnya. Beberapa dari mereka menaiki pilar ini. Aku tersenyum senang, “Eureka!”.

Aku pun sesegera mungkin mulai memanjat keluar dari tempat ku berada. Untungnya aku ingat kalau Yuni sering menaruh ‘spray pedas’ dalam tasku, meskipun aku tidak pernah memakainya dalam kesempatan apapun. Kali ini, memakai cara licik seperti mereka, tidak akan pernah salah bukan?

Aku merogoh spray itu dari kantong luar tasku. Aku menyemrotkan spray itu ketika mereka hampir mendekat agar aku bisa memanjat kembali. Ketika aku sudah berada di luar pilar-pilar itu, dengan cepat aku berakrobat ria. Melihat mereka sekarang yang terperangkap didalam kecuali si rambut punk, aku berjalan ke arahnya, dia mengacungkan balok tersebut, tapi tanpa banyak acara aku menyemprotkan spray itu ke wajahnya.

“Aakkkk…perih!!!” Dia segera menutupi wajah sambil kesakitan.

“Ahhh…rupanya kegunaan barang ini untuk itu ya??” Ujarku bodoh, tidak memperdulikannya.

 

Meskipun begitu, pertanyaannya siapa yang mengirimkan mereka semua untuk menghajarku? Masalah ini, akan kuselidiki sendiri. Apabila akhir dari yang ku khawatirkan ini berhubungan dengan Ren? Jika itu terjadi, pertarungan itu tidak bisa ku hindari. Dengan tanganku ini, lebih baik menghancurkan mimpi buruk yang selama ini terus bersarang dalam alam bawah sadarku dari pada terus menghindar seperti banci!

 

Kita lihat saja siapa yang bertahan dari kekacauan ini?!

 

To be continue….

 

 

 

4 thoughts on “One Sweet Punch[19th Punch!]

    • thanks sis…:)

      sambil nunggu baca yg lain aja…hehehe…cuan pk bhs. inggris :p, yg itu-itu mah udah pada tamat semua…enjoy!

    • sorry…T___T otaknya nge hang klamaan, di tambah skrg gak bisa nyentuh internet slain hr minggu doang ke warnet. krj-an baru gw bkn OP warnet lagi skrg, jauh banget dari nyentuh dunia maya…tapi gw usahain deh…oke? sorry yaaaa…jd gak enak ati nih sm dikau…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s