Sejarah Korea 103 ‘Gwangju Democratic Movement’


Gwangju Democratic Movement (광주 민주화운동)

Kalo udah pada nonton May 18, kalian pasti tahu kalau film itu menceritakan tentang pemberontakkan warga Gwangju melawan kekejaman militerisasi Chun Do Hwan, seorang diktaktor militer yang mengambil alih kota dengan dalil ‘kaum komunis ada di gwangju berbaur dengan masyarakat, dan harus dibasmi’ tapi nyatanya, malah masyarakat awam yang jadi korban. Oleh karena itu, saking tertekan dan marahnya warga Gwangju atas pengambil alihan kota secara kejam, akhirnya mereka berontak untuk mempertahankan kebebasan demokrasi dari tangan militerisme(^ ^ jadi inget rezim Suharto).

Note: Ini repost dari artikel yang gw tulis di forum Tentang Korea sekitar 1 tahun lalu.

Kenapa insiden ini bisa terjadi?

Pada bulan oktober tanggal 26, 1976. Pembunuhan terhadap presiden Park Chung-Hee membuat Korea selatan menjadi labil. President terpilih yang menggantikan presiden Park masih bisa dibilang lemah dan tidak kuat untuk mengontrol Jenderal militer ROK Chun Do Hwan, yang ikut mengontrol pemerintahan lewat Coup d’etat.

Pergerakkan demokrasi yang dulunya berhasil ditekan pada masa pemerintahan Park, kini mulai bangkit kembali. Mahasiswa yang tergabung dalam perkumpulan-perkumpulan mahasiswa pro-demokrasi mulai melancarkan aksinya melawan militerisme yang dijadikan peraturan negara saat itu yang sudah di berlakukan di semua provinsial kecuali pulau Jeju, salah satu aturan yang diberlakukan adalah, pelarangan aksi demonstrasi politik, sensor pemberitaan, dan penutupan universitas-universitas di Korsel.

18 Mei-21Mei

Pada pagi hari tanggal 18 Mei, para demonstran berkumpul di pintu gerbang universitas nasional Chonnam. Mereka melemparkan batu pada pasukan yang memblokade universitas. Pasukan yang terlatih untuk perang, tidak tahu bagaimana menangani situasi seperti ini melakukan perlawanan dengan memukuli warga Gwangju dengan bayonet dan baton. Para demonstran mengalihkan aksi protesnya ke alun-alun kota meminta untuk dihapusnya aturan militer dan pembebasan Kim Dae Jung.

Yang memperparah situasi adalah para pasukan tentara ini tidak bisa membedakan mana yang ikut aksi demonstrasi dan mana yang bukan. Puncak insiden fatal tersebut ketika Kim Gyeong Chul, 29 tahun, penderita tuli di pukuli hingga mati. Ternyata Kim hanyalah orang yang salah diwaktu yang salah, karena kejdian itu jumlah demonstran yang marah bertambah berkali lipat.

Selama konflik ini berlangsung, tentara memakai jalan kekerasan dengan menembaki warga di dekat statsiun Gwangju pada tanggal 20 Mei, pada hari itu juga para demonstran membakar stasiun lokal MBC karena mereka mengumumkan bahwa warga kota Gwangju adalah pemberontak. Pada malam harinya, para pengemudi taksi, bis, dan juga truk berparade ke jalan untuk membantu para demonstrans yang terluka namun saat mereka sampai, mereka di sambut oleh lemparan gas air mata oleh tentara ROK, lalu dipukuli bahkan ada yang ditembak mati karena mengangkut demonstran yang terluka. Para ‘Pengemudi Demokrasi’ ini marah karena kemarin melihat perlakuan tentara yang brutal terhadap warganya, oleh karena itu mereka mencoba sebisa mungkin membantu mengangkut warga sipil atu pun demonstran yang terluka.

Klimaks aksi kekerasan tentara vs warga sipil ini terjadi tanggal 21 Mei. Tentara mulai menembaki para demonstran, kekacauan demi kekacauan muncul saat tentara menembaki penumpang bis yang sedang lewat di Jiwon-dong yang mengakibatkan 17 penumpang tewas pada tanggal 23-nya. Saat itu juga tentara ROK mengalami krisis setelah insiden salah sasaran, tentara ROK vs tentara ROK.

22 Mei-25 Mei 1980
Blokade

Tentara menunggu bantuan dan menunggu di daerah pemukiman warga, pada masa ini mereka memblokir semua akses keluar masuk jalan dan juga fasilitas komunikasi di Gwangju hingga terisolir.

Komite Perdamaian

komite perdamaian dari pihak sipil di buat, terdiri dari 20 pemuka agama,pengacara, dan juga profesor-profesor perguruan tinggi. Mereka bernegosiasi agar para demonstran yang tertangkap segera dibebaskan, konpensasi para korban, dan tidak ada pembalasan dari pihak tentara saat pelucutan senjata warga sipil. Keadaan sempat tenang, mahasiswa bertanggung jawab untuk melaksanakan pemakaman korban, kampanye umum, mengontrol lalu lintas,penarikan senjata, dan juga bantuan medis. Namun negosiasi mengalami jalan buntu dengan menyuruh para demonstarn mempercepat pelucutan senjata-senjata dan meyerah pada pemerintah.

26 Mei 1980

Tentara mulai akan memasuki kota Gwangju lagi dewan mahasiswa mencoba menahan masuknya prajurit ROK, segenap warga berkumpul untuk terakhir kalinya di gedung pemerintahan demi mempertahankan apa yang mereka percayai, kebebasan, demokrasi, dan juga masa depan yang lebih baik.

Jam 4 pagi, dalam waktu 90 menit. Dalam serangan fajar itu, prajurit ROK berhasil mengalahkan pertahanan warga sipil.

kejadian ini membawa dampak besar pada politik dan sejarah korsel. Chun Do Hwan sendiri mengalami penderitaan setelah mengambil alih pemerintahan dengan coup militernya. Amerika juga kena dampak dari kejadian ini, imej-nya sebagai negara pelindung dan membantu kemerdekaan rusak karena mensuport Chun Do Hwan melakukan aksi tersebut. Pada tahun 1997, 18 Mei dijadikan hari peringatan tentang peristiwa naas tersebut. Dan Area pemakaman Mangwol-dong resmi menjadi makam pahlawan.

source:wikipedia
picture footage:iam518

intermezzo aja tentang sejarah di Korea tepatnyadi kota Gwangju.

Give peace a chance!!!
Jangan sampe kejadian kayak gini terulang baik di Indonesia ataupun dibagian dunia manapun…

Mei sign off!

One thought on “Sejarah Korea 103 ‘Gwangju Democratic Movement’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s