Keajaiban Ku [My Miracle It’s You. Indonesian version]


By Maeve.

Copyright©2006. Dilarang mengkopi ide dan juga menjiplak isi cerita ini untuk tujuan apapun tanpa ijin dari saya selaku penulis cerita ini. Terima kasih.

REVISI kedalam bahasa Indonesia.

===========================================================

PROLOGUE

Prolog 1993…

Park Tae Min memegang tanganku dan kemudian memarahiku dengan kasarnya karena hampir saja terserempet sebuah mobil yang melaju ketika berjalan di pinggir jalan, aku tahu kalau aku sudah berbuat satu kesalahan dengan berjalan sambil menundukan kepalaku seperti itu. Aku tidak bisa menangis dihadapannya, jika menangis, aku akan diledek olehnya dengan sebutan cengeng di kelas. Sebagai seorang gadis yang berusia sembilan tahun saat itu, dialah anak laki-laki yang paling aku kagumi dan ku andalkan dalam hidup ku. Meskipun dia selalu bertingkah dingin dan layaknya seorang bajingan – aku menganggapnya imut, pengertian, dan aku merasakan diriku tertarik untuk menyukainya, ah, bukan. Tetapi mencintainya.

“Kau itu tidak pernah mau mendengarkan kata-kataku? Sudah berapa kali ku bilang kalau sedang jalan dijalanan seperti ini jangan sambil menundukkan wajah.”

Aku menghentikan langkahku untuk mengungkapkan kekesalan karena dia selalu saja menyuruhku untuk ini dan itu dengan tujuan bisa merubah sifatku.

“Berhentilah bersikap seperti bajingan, Park Tae Min!”

“Bajingan. Bajingan?” Dia terheran-heran dengan kata-kata yang keluar dari mulutku, seperti seseorang yang baru mendengar kosa kata baru, dan merasa kesal.

“Kenapa? Kau tidak suka aku menyebutmu seperti itu? Eh, jagan lupa kalau kita berdua ini seumuran.” Padahal tujuan utamaku selalu membuatnya naik darah adalah membuatnya segera memegang tanganku jika kepalaku tertunduk dan kemudian bergandengan tangan ke sekolah. Kemudian setelah aku berjalan dan tidak menggubrisnya, Tae-min berseru, “Heh!” sambil berlari mencoba menghadangku yang sudah berjalan jauh didepannya. Hal itu bukanlah sesuatu yang baru dalam keseharianku, aku suka dengan ekspresinya ketika dia menghadang jalan ku.

Dengan tenang dan sedikit menaikan wajah ku memandangnya sinis, aku bertanya. “APA?!”

“Eisssshh…kenapa kau itu selalu membuatku kesal?!” Dengan wajahnya yang menunjukan kalau dia kesal dan marah terhadapku, kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, dia menendang sebuah batu yang dia temukan untuk melampiaskan kekesalannya itu dan berjalan terus kedepan. Dasar anak SD!

Ibu Park Tae-min adalah pelayan keluarga kami ketika masih di Korea. Dialah yang melakukan segala pekerjaan rumah kami. Masakannya sangatlah lezat, maka dari itu jika dia memasak masakan lezat jarang sekali kami harus keluar untuk makan. Ibu ku sama saja seperti ibunya Tae-min, seorang single mother . Karena aku ini anak perempuan satu-satunya, ibuku berniat mengadopsi Park tae-min, tapi karena aku menyukainya, hal itu selalu ku tolak dan ku jadikan alasan untuk bersitegang dengannya.

Tetapi, pada suatu hari. Ayahku datang menemui kami berdua di Seoul dan meminta ibuku kembali ke Indonesia untuk tinggal dengannya. Aku tidak memperdulikannya sama sekali karena dia sudah tidak bertanggung jawab dengan menelantarkan kami berdua di negera asing seperti ini sejak awal aku lahir kedunia. Aku tidak mau dia menghancurkan kehidupan kami untuk kesekian kalinya, aku mencoba untuk berontak, tapi bagaimana pun juga cinta ibuku pada laki-laki yang bergelar ‘ayah’ itu masih ada, kami pun harus pindah dari Seoul..

Aku mengepak semua barang-barang ku dan berpamitan dengan keluarga Tae-min. Bibi Hwa-ran, dan kakak perempuan Tae-min, Soo-ah.

Ibuku dan bibi Hwa-ran menangis saling berpelukan karena mereka berdua itu juga sudah seperti kakak dan adik yang saling menjaga. Soo-ah meskipun sedih, tapi dia masih bisa bersikap tenang, dia tersenyum dan memelukku erat.

“Kalau ada waktu, main-mainlah ke sini dan jangan lupakan kami.” Aku mengangguk menahan tangis dalam pelukannya. Soo-ah melihat Tae-min yang berdiri tanpa melakukan apa-apa. Pandangannya beralih dari diri ku ke adik laki-lakinya itu.

“Kenapa masih diam saja disitu? Mel sudah mau pergi, setidaknya kau bisa mengatakan sepatah atau dua buah kata untuknya.”

“Aku harus mengatakan apa? Jelas-jelas aku suka dia pergi. Suruh siapa dia selalu saja membuatku tertimpa masalah.”

Anak itu malah mengatakan sesuatu yang menyakitkan dihari kepergianku. Rasa-rasanya ingin sekali aku langsung mencekik lehernya seketika itu juga. Tapi untungnya aku bisa menahan emosiku.

“Iya, kau benar…Aku minta maaf kalau sejak pertama aku selalu mengundang masalah bagimu. Tapi kita masih teman kan?” Tanya ku sambil memberikan tangan kananku untuk bersalaman dengannya. Kenapa si brengsek itu begitu dingin padaku?! Apa dia tahu ketika hari dimana aku memutuskan untuk pulang ke Indonesia, aku menangis sekuatnya karena sadar tidak akan bisa bertemu, mengutuk dan berteriak secara bersamaan jika Tae-min sedang membuatku kesal. Saat itu, aku benar-benar menginginkannya mengatakan sesuatu yang indah seperti yang diucapkan pemeran laki-laki dalam drama, “Jangan pergi…karena aku mencintaimu.” Tetapi mengharapkan seseorang berhati batu sepertinya mengatakan hal itu, bagaikan menunggu seekor kucing menceburkan dirinya sendiri kedalam air atas keinginannya sendiri.

Setelah semua barang-barang selesai masuk ke dalam mobil, dan perlahan-lahan berjalan keluar dari pelataran rumah kami yang sederhana itu. Aku melihat Park tae-min berlari ke arah mobil yang ku naiki.

“Berhenti! Aku bilang berhenti!!” Aku menyuruh ayahku menghentikan mobilnya. Tanpa memperhatikan apapun juga, aku membuka pintu mobil dan berlari ke arahnya yang sudah berdiri tidak jauh dari belakang mobil ku.

“Apa kau berencana pergi begitu saja?”

“Bukannya kau tidak suka aku pergi?”

“A-aku…” Tae-min mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Dia memasangkan sebuah kalung tub kaca yang didalamnya ada gulungan kertas kecil. Aku tau dia tidak akan bisa berkata apa-apalagi, namun sebelum anak ini berlalu dari hadapanku. Aku harus, harus membuatnya mengingatku selamanya. Aku berjinjit untuk menyesuaikan tinggi tubuhnya, kemudian mencium bibirnya, ciuman seorang gadis yang belum matang pada anak laki-laki yang dingin sedingin es. Aku telah meninggalkannya dengan perasaan menggantung dijalanan yang sepi itu. Aku berjanji…suatu saat, entah bagaimanapun caranya…Aku akan kembali.

Bersambung….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s