Legenda Chunhyang


Love story of Ch’unhyang

Sebelumnya mereka tinggal di kota Namwon, provinsi Jeolla. Seorang anak pejabat bernama Yi Mongryeong, yang sejak kecil memang berbakat dalam literatur, dan sekarang tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
Pada pagi yang indah, tuan Yi Mongryeong memanggil pembantunya, Bangja, dan memintanya untuk mengajaknya ketempat dimana ia bisa melihat bunga liar tumbuh. Bangja menuntunnya ke sebuah pavilius musim panas dekat jembatan Ojak, pemandangan dari jembatan Ojak sungguh mempesona. Jembatan itu diberi nama ssesuai dengan legenda tentang gadis penenun dan si gembala.

Saat melihat pegunungan yang jauh. Matanya menangkap sekilas pada gadis muda yang sedang bermain ayunan dibawah pohon. Dia menanyakan tentang gadis it pada Bangja. Bangja pun menjelaskan sekilas tentang gadis itu pada tuannya, bahwa gadis itu bernama Ch’unhyang (wewangian musim semi), anak seorang wanita penghibur bernama Wolmae. Bangja mengatakan kalau gadis itu bukan hanya cantik tapi juga berbudi luhur. Kemudian Yi Mongryeong memaksa Bangja untuk mengatakan pada Ch’unhyang kalau dirinya angat ingin menemuinya.

“Apa anda tahu kalau kupu-kupu harus mengejar sekuntum bunga, dan angsa harus mencari lautan?” Ujar Ch’unhyang ketus.
Bangja melporkan hal itu pada Mongryeong, yang kecewa akibat perkataan gadis yang mencuri perhatiannya tersebut. Bangja menyemangati agar tuannya sendirilah yang maju menemui gadis itu. Yi Mongryeong mendekati Ch’unhyang yang ternyata parasnya lebih cantik dari apa yang dia duga sebelumya.

Angin meniup rambut hitam dan pitanya yang panjang, dibalik rambut itu wjahnya merona merah, bersinar dengan penuh kebaikkan dan kebahagiaan dari tubuhnya.

“Keberuntungan seolah sedang ditawarkan padaku hari ini. Kenapa harus menunggu besok? Haruskah aku mengajak gadis itu bicara?” Tanya Yi Mongryeong pada dirinya sendiri.

Karena ketakutan terus dipandangi oleh Mongryeong, Ch’unhyang langsung berlari pulang ke rumahnya. Setelah kejadian itu, Bangja menyuruh tuannya untuk segera pulang karena takut akan kena hukuman oleh ayah tuannya. Saat pulang, Bangja kena hukuman pukul karena mengajak tuan mudanya bermain diluar hingga larut. Pikiran Mongryeong tdak terfokus dan terus menerawang jauh. Di dalam kamarnya, saat membaca buku, tulisan-tulisannya menjadi kabur. Yang muncul dan terlihat oleh matanya hanya ‘musim semi’ dan ‘wewangian’, Ch’unhyang, Ch’unhyang, Ch’unhyang. Mongryeong memanggil Bangja, “ Malam ini aku harus menemuinya. Bukankah gadis itu mengatakan bahwa kupu-kupu harus mengejar sekuntum bunga?”.

Mereka mengendap-endap pergi ke rumah Ch’unhyang, menginjak pada akar pohon pir saat mereka sudah mendekati rumah gadis itu. Di saat yang sama, ibu Ch’unhyang sedang mengatakan sesuatu pada anaknya iu, kalau malam sebelumnya dia bermimpi ada seekor naga biru mengeliling tubuh Ch’unhyang dan menggenggam Ch’unhyang di depan mulut naga itu, lalu terbang ke angkasa. Saat melihat ke atas, bukan seekor naga terbang di angkasa melainkan seekor naga di darat, karena ketahuan, lalu Yi Mongryeong meyampaikan maksud kedatangannya pada ibu Ch’unhyang. Setelah mengerti maksud kedatangannya, ibunya lalu memanggl Ch’unhyang untuk keluar menemui pemuda dari golongan terhormat itu, dan Yi Mongryeong juga meminta untuk meminang anak gadisnya itu. Karena mimpinya terwujud, dan Mongryeong pun datang dari keluarga terpandang. Ibunya menyetujui.

“Anda adalah anak orang terhormat dan Ch’unhyang hanyalah anak seorang kisaeng (wanita penghibur), jadi untuk menikahkan kalian secara resmi itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Kecuali anda menulis surat nikah secara rahasia dan berjanji tidak akan menelantarkan Ch’unhyang, itu saja sudah cukup.” Pinta ibunya.

Yi Mongryeong mengambil kuas dan menuliskan kalimat seperti ini : “Lautan biru mungkin saja bisa berubah menjadi ladang buah murbei, dan lahan murbei mungkin saja bisa berubah menjadi lautan biru. Namun hasrat hatiku pada Ch’unhyang tidak akan mungkin berubah selamanya. Surga dan bumi, para dewa yang menjadi saksinya.”

Setelah pernikahan rahasia itu, Mongryeong selalu datang menemui kekasihnya. Saat malam tiba pun mereka memimpikan hal yang sama tentang sepasang burung belibis tengah berenang bersamaan di sebuah danau. Ch’unhyang lalu menggoda suaminya itu, menyuruhnya pulang untuk belajar supaya suatu saat bisa menjadi pejabat seperti ayahnya. Sangat disayangkan kemesraan mereka tidak bertahan lama.

Tidak lama setelah pernikahan itu, pembantunya memberikan sebuah pesan yang mengatakan kalau pejabat dewan kerajaan yang baru ditunjuk oleh raja harus pindah ke ibukota. Yi Mongryeong yang harus mendampingi ayahnya, segera datang menemui Ch’unhyang untuk mengabarkan kabar buruk ini. Pasangan ini harus terpaksa mengucapkan perpisahan yang penuh tangis.

“Karena tidak ada lagi yang bisa merubah takdir kita, mari kita saling berpelukan dan berpisah.” Ch’unhyang melepas kepergian Mongryeong di jembatan Ojak. Ch’unhyang lalu memberikan Mongryeong sebuah cincin, “Ini tanda cinta ku padamu. Simpanlah sampai hari dimana kita akan bertemu lagi. Pergilah dengan tenang, tapi jangan lupakan aku. Aku akan tetap setia padamu, menantimu di sini untuk membawaku pergi ke Seoul”. Dengan kata-kata itu akhirnya mereka pun berpisah.

Pejabat kota Namwon yang baru datang menggantikan posisi ayah Mongryeong belum apa-apa sudah menyuruh bawahannya dan berkata,”Bawakan padaku gadis cantik yang terkenal bernama Ch’unhyang”.

“Permintaan itu terlalu sulit.”Jawab si bawahan.”Karena dia sudah menikah secara rahasia dengan Yi Mongryeong, anak mantan pejabat Namwon.”

Dengan marah, pejabat baru itu meminta Ch’unhyang dipanggil dengan segera. Karena takut dengan pejabat baru tersebut, akhirnya Ch’unhyag datang juga didampingi oleh pembantunya. Dengan cermat pejabat itu melihatnya dengan penuh rasa penasaran.

“Aku udah mendengar namamu sampai di Seoul, kau memang seorang gadis yang sangat cantik. Maukah kau bersamaku?”

Dengan menjaga setiap kata yang keluar dari mulutnya, Ch’unhyang menjawab. “Hamba sudah terikat dengan Yi Mongryeong. Oleh karena itu, hamba tidak bisa melakukan apa yang tuan minta. Baginda Raja telah mengirim tuan datang kemari untuk mengurusi rakyat, dn itu adalah tanggung jawab tuan yang besar. Akan lebih baik jika tuan menjalankan apa yang sudah menkadi tugas dn kewajiban tuan sebagai pejabat negara, menerapkan keadilan bagi rakyat Namwon sesuai dengan peraturn yang beraku di negeri ini”. Jawaban Ch’unhyang membuat marah si pejabat yang bernama Byun Hakdo tersebut, dan langsung memasukkan Ch’uhnyang ke dalam penjara.

“Kenapa aku harus dimasukan ke penjara?!” Protes Ch’unhyang. “Aku tidak melakukan hal yang salah. Sudah seharusnya seorang istri tetap setia kepada suaminya. Sama halnya dengan pejabat yang setia pada Rajanya.”
Perkataanya hampir saja membuat Byun Hakdo lebih marah lagi, dan akhirnya Ch’unhyang mau tak mau harus hidup di dalam penjara akibat tidak menyambut perasaan Byun Hakdo.

Sementara itu Yi Mongryeong telah sampai di Seoul, dimana ia belajar dengan sangat giat mempelajari semua literatur Cina, dan ikut ujian nasional pemerintahan dengan nilai yang sangat tinggi. Ia ditawari untuk bekerja di istana menjadi salah satu pembantu Raja. Saat Raja mengucapkan ucapan selamat padanya telah melewati ujian Munkhwa, sang Raja bertanya, “Apakah kau ingin menjabat sebagai pejabat kerajaan atau gubernur?”

“Hamba menginginkan posisi sebagai amhaeng osa (semacam inspektur polisi).” Jawab Yi Mongryeong. Yi Mongryeong dengan pangkat amhaeng osa berkelana ke seluluh negeri, menyamar sebagai pengemis.

Dan akhirnya, Yi Mongryeong sampai juga di Namwon. Kemudian dia mendatangi seseorang yang sedang menanam padi di sawah. Selama bekerja, petani tersebut mengucapkan sesuatu dengan nada sedih, “Kami keluar bertahan dengan panasnya sengatan mentari, mencangkul tanah kami, menanam benih, dan menjaganya hingga tumbuh menjadi padi. Pertama-tama kami harus membayar upeti pada Raja, memberikan sedikit pada yang miskin, sedikit lagi pada pengelana yang datang mengetuk pintu rumah kami, dan menyisakan sedikit uang untuk perayaan sembahyang nenek moyang kami. Itu tidak apa-apa bagi kami, tapi pejabat yang baru itu alah menguras semuanya hingga kami tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.”

Karena mendapatkan sesuatu yang menarik, Yi Mongryeong mendekati mereka yang sedang bekerja di sawah dan berkata, “Aku dengar kalau Byun Hakdo sudah menikahi Ch’unhyang dan hidup bahagia.”

“Beraninya kau berkata seperti itu anak muda!” salah satu dari mereka marah.”Jangan pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang gadis malang itu. Ch’unhyang adalah gadis yang setia, jujur dan suci. Dan kau adalah salah satu orang yang bodoh karena membicarakan gadis malang dan pejabat busuk yang sudah berbuat jahat padanya. Bukan hanya itu, yang membuatnya menderita seperti itu adalah anak pejabat yang sudah menggoda dan menghilangkan kesucian dirinya, yang pada akhirnya meninggalkan gdis itu seorang diri dan tidak pernah kembali, kasihan sekali dia. Pemuda itu benar-benar brengsek!”

Para petani yang marah itu membuatnya terkejut, semua petani mempunyai ketidaksukaan yang sama pada pejabat baru yang menggantikan ayahnya. Saat melewati sekelompok pemuda lokal yang berasal dari keluarga aristokrat terhormat (Yangban) yang sedang piknik, Mongryeong pun mendengar keluhan yang sama.

“Inilah hari-hari yang sangat menyedihkan! Aku dengar seorang wanita bernama Ch’unhyang akan dihukum mati dalam dua tiga hari ini”.

“Oh! Pejabat yang ini memang bedebah.” Sahut pemuda yang lain lagi.”Yang dia pikirkan hanya bagaimana cara menguasai Ch’unhyang, tapi gadis itu seperti akar pohon bambu yang tidak tergoyahkan sedikitpun. Dia tetap setia kepada suaminya.”

Seseorang menambahkan,”Bukankah dia menikah dengan anak pejabat sebelumnya? Binatang seperti apakah Yi Mongryeong itu sampai hati meninggalkan istrinya yang malang itu.”

Komentar-komentar tersebut membuat Yi Mongryeong malu, khawatir, dan juga marah. Lalu kembali ke Namwon.

Sementara itu Ch’unhyang yang masih mendekam di penjara, dengan setia berpegang teguh pada Yi Mongryeong meskipun itu hanya dalam ingatannya saja. Tubuh Ch’unhyang mengurus, pucat dan sakit-sakitan. Suatu hari ia bermimpi berada di pekarangan rumahnya, bunga-bunga yang ditanam dan diraawat olehnya tiba-tiba layu, cermin yang berada di kamarnya pecah, dan sepatunya terganting di pintu masuk. Ch’unhyang dalam mimpinya menanyakan arti kejadian itu pada orang buta yang sedang berjalan melewati rumahnya.

“Aku akan menjelaskan artinya padamu. Bunga-bunga yang telah layu dan mengering akan tumbuh lagi dan berbuah, bunyi pecahan cermin akan terdengar ke seluruh negeri, dan sepatu yang ada di pintu itu artinya akan banyak orang datang pada mu untuk mengucapkan selamat”. Ch’unhyang berterimakasih pada orang buta itu untuk arti mimpinya dan berharap kalau mimpinya akan terkabul. Namun pada kenyataan, hidup Ch’unhyang sudah diujung tombak. Byun Hakdo mengundang wakil-wakil pejabat lainnya untuk mengadakan pesta besar di hari dimana Ch’unhyang akan di eksekusi 3 hari lagi.

Yi Mongryeong telah tiba di kota, dan langsung pergi ke rumah Ch’unhyang. Ibu mertuannya tidak mengenalinya,”Aku tidak mengenalmu, tapi wajahmu mengingatkanku pada Mongryeong tapi bajumu itu baju pengemis.” Ujarnya.
“Tapi aku memang Yi Mongryeong.”

Ibu mertuanya terkejut,”Oh!Akhirnya anda datang juga, kami sudah menunggumu. Dalam dua tiga hari ini Ch’unhyang akan mati!”

Yi Mongryeong mengatakan kalau, meskipun dia seorang pengemis namun hatinya tetap milik Ch’unhyang dan tidak akan pernah berubah. Yi Mongryeong memaksa ingin menemui istrinya itu, dengan didampingi ibu mertuanya, Ch’unhyang dan Yi Mongryeong pun akhirnya bertemu. Ch’unhya megatakan kalau besok dia akan dieksekusi, oleh karena itu dia meminta Mongryeong datang pada pagi hari karena ingin melihat wajah Mongryeong utnuk terakhir kalinya.

Keesokkan pagi, Yi Mongryeong mendatangi pesta yang diadakan oleh Byun Hakdo. Sudah menjadi kebiasaan jika pejabat kerajaan mengadakan pesta besar, para pengemis akan berdatangan untuk minta sedekah makanan dan Yi Mongryeong pun datang sebagai pengemis ke tempat itu.

“Tolong berikan aku makanan.” Pintanya. Lalu menyelinap dlam keramaian untuk bisa masuk ke dalam dengan memanjat tembok. Yang pertamakali ia temui adalah bawahan pejabat Undong bernama, Yongjang.

“Saya sangat lapar, bisakah anda memebriku sedikit makanan?” tanya Mongryeong padanya. Karena merasa kasihan, Yongjang menyuruh seorang kisaeng membawakan makanan untuk pengemis itu.

“Terimakasih, karena tuan sudah memebrikanku makanan. Sudah sepantasnya hamba membayar budi baik ini dengan sebuah puisi.” Dia memberikan puisi itu ke tangan Yongjang.

Anggur yang terisi dalam piala yang indah
Adalah darah dari ribuan orang
Daging-danginya yang disuguhkan dengan megah di meja giok
Adalah daging dan kesusahan beribu-ribu tahun
Yang terbakar di perjamuan mewah ini, adalah airmata orang-orang yang kelaparan.
Suara berisik dari nyanyian kaum bangsawan
Terdengar sama dengan keluhan para petani.

Setelah membaca puisi si pengemis, Yongjang merasa terhina.”Puisi ini seakan-akan menghina pejabat, tidak bisa diterima!” kemudian Yongjang meneruskan puisi itu pada Byun Hakdo.

“Siapa yang menulis puisi ini?”

“Seorang pengemis muda.” Tunjuknya pada Yi Mongryeong setengah ketakutan karena siapa pun yang telah menulis puisi seperti itu, pastinya bukan sembarang pengemis. Para pejabat yang hendak keluar masuk lingkungan Byun Hakdo segera di hentikan oleh orang-orang Yi Mongryeong di luar dengan pedang berjaga-jaga. Anak-anak pejabat mengerti dan tahu bahwa si pengemis itu bukan sembarang pengemis melainkan inspektur kerajaan. Yi Mongryeong memberitahukan identitas aslinya dan mengambil alih tugas Byun Hakdo yang sudah ditangkap karena bertindak tidak adil, menyengsarakan rakyat dan juga kekasihnya.

Mongryeong segera menyuruh pengawal untuk membawa Ch’unhyang untuk padanya untuk diadili, “Katakan pada wanita itu kalau utusan Raja telah datang untuk mengadili kasusnya.”

Ch’unhyang menangis, memanggil ibunya yang sejak pagi sudah mendampingi anaknya.”Ibu, ini adalah akhir hidupku! Mana Yi Mongryeong?”
“Jangan banyak bicara lagi, utusan Raja telah menunggumu!” Ch’unhyang di seret dan dibawa ke depan pengadilan. Yi Mongryeong duduk di kursi hakim dibelakang layar putih menutupi wajahnya.

“Jika kau tidak mau menerima cinta Byun Hakdo, apakah jika aku meminta mu untuk jadi miliku kau akan mengabulkannya?” Mongryeong bertanya pada Ch’unhyang dengan nada memaksa.

“Betapa tidak bahagianya orang-orang miskin di negeri ini! Pertama, pejabat yang tidak adil itu, dan sekarang anda inspektur kerajaan yang seharusanya datang untuk membantu orang-orang yang tidak berdaya ini. Betapa menyedihkannya menjadi orang miskin, dan begitu menyedihkannya hidup sebagai seorang wanita!”

“Mongryeong menyuruh petugas pengadilan membuka tali pengikat lengannya.”Sekarang naikan kepala mu dan lihat aku!”

“Tidak!” jeritnya.”Aku tidak akan melihat tuan, aku tidak akan mendengarkan perkataan tuan. Anda boleh memotong-motong tubuh hamba menjadi kepingan, tapi hamba tetap tidak akan mengabulkan permintaan untuk hidup bersama tuan.”

Yi Mongryeong tersentuh dengan ucapan kekasih sekaligus istrinya itu. Kemudian mencopot cincin yang Ch’unhyang berikan padanya dulu dan menyuruh pengawal memeprlihatkannya pada wanita itu.

Ch’unhyang kaget dan menangis bahagia ketika mengetahui orang dibalik layar itu adalah Yi Mongryeong,”Oh, kemarin kekasihku hanyalah seorang pengemis dan sekarang inspektur kerajaan!”

Mongryeong kemudian mengadili Byun Hakdo, mencabut jabatannya, mengasingkannya ke pulau terpencil tanpa makanan, karena keserakahannya mengambil upeti dari rakyat hingga kelaparan. Rakyat pun gembira mendengar hukuman Byun Hakdo, menyoraki Mongryeong dan Ch’unhyang yang akhirnya bisa bertemu dan berkumpul kembali. Mong Ryeong membawa Ch’unhyang ke Seoul, dan menceritakan kisah ini pada sang Raja. Raja pun tersentuh mendengar kisahnya dan memberikan gelar bangsawan pada Ch’unhyang. Meskipun dia lahir di keluarga miskin, dan ibunya seorang wanita penghibur. Ch’unhyang adalah model yang harus ditiru oleh semua wanita karena kesetiaannya. Akhirnya Mongryeong memperkenalkan Ch’unhyang pada keluarganya. Dan mereka pun hidup bahagia selamanya dan beranak pinak.
The end.

Ada yang bilang kalau Ch’unhyang, Yi Mongryeong dan Byun Hakdo itu asli karena nama mereka tercatat dalam buku kerajaan hanya saja ceritanya tragis. Ch’unhyang meninggal karena hukuman yang dijatuhkan oleh Byun Hakdo, Mongryeong membalas dendam atas kematiannya. Sejak saat itu, Mongryeong sering mengunjungi kediaman Ch’unhyang hanya untuk berbincang-bincang dengan ibunya mengenang kekasihnya itu.

10 thoughts on “Legenda Chunhyang

  1. Wow… GREAT Story… BTW… Legenda Chunhyang ini kan ada drama koreanya yang judulnya sassy girl-chun hyang.. sama gag tuch ceritanya? truz chunhyang ini hidup di dinasti apa? satu lagi aku pernha nonton tentang drama korea Yi San… tentang sejarah korea juga… betul nggak tuh???

    • Yup…Yi-san itu kayak nickname raja Jeong-jo, di dinasti Jeoseon. Dia selalu dikelilingi sama cendikiawan, salah satu tokoh yang saya suka itu Jeong Yak-yong. drama Yi-san cuman dramatisasi langkah dia jadi raja aja. Tragisnya dia dibayang-bayangin sama kematian sang ayah yg disebabkan oleh kakeknya sendiri.

    • maunya juga gitu, banyak hal tentang Korean history yg masih pengen diulas…karena waktu yg sekarang saya punya sedikit banget buat nongkrong online, jadi banyak dipending…sori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s