Cinta Itu Buta![Chapter 1]


Selina (26).

Selina adalah wanita berbakat dalam menciptakan lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi kenamaan saat ini. Hanya saja sifatnya yang keras kepala dan cuek seringkali disalah artikan sebagai arogansi seseorang yang sedang naik daun. Karya-karyanya seringkali terdengar seperti ungkapan kerinduan yang tidak pernah berhenti.

Apa boleh dikata? Dia menciptakan lagu-lagu mellow itu karena tidak bisa mengungkapkan kekesalan dan kepedihannya terhadap seorang laki-laki yang telah meninggalkannya hanya demi cita-cita untuk Go-internasional ke Amerika sebagai penyanyi pop.

Katya (32)

Teman karib Selina, dia paling jago mengkritik kehidupan sahabatnya itu. Dia bekerja sebagai guru bahasa German di sebuah sekolah swasta. Selain itu juga dialah yang paling modis diantara kawan-kawan Selina lainnya seperti Maddie dan juga Arnie. Kehidupan Katya bak seorang puteri karena ayahnya pemilik perusahaan elektronik terkenal. Namun karena tidak suka dengan segala kemewahan, Katya memilih untuk tinggal bersama dengan Maddie di sebuah apartemen kecil.

Maddie (24)

Impiannya menikah dengan pria tampan seperti yang sering dilihatnya dalam drama-drama Korea. Kepandaiannya dalam bidang memasak diwujudkannya dengan membuka sebuah food court spesialisasi di makanan khas Korea.

Arnie (22)

Sebenarnya dia ini sahabat adik Selina, Bram. Tetapi karena saking seringnya menghabiskan waktu bersama kakak-kakak perempuan yang cukup esentrik itu. Meskipun usianya masih muda, tetapi dia adalah ‘filosof’ ulung jika menghadiahi pepatah-pepatah mengerikan terhadap mereka berempat.

Bram (22)

Cowok ganteng berusia 22 tahun ini adalah adik Selina. Meskipun ganteng, dia bukan tipe playboy, Selina pastinya akan menghajar Bram kalau ketahuan membuat seorang gadis menangis karenanya.

Christian (27)

Di ulang tahunnya yang ke 27, dia mendapatkan sebuah hadiah yang tidak terduga buruknya. Perusahaan ayahnya bangkrut, ayah dan juga ibunya entah pergi mengungsi kemana? Dia ditinggalkan seorang diri tanpa apa-apa. Mobil, apartemen, barang mewah miliknya pun turut disita oleh kejaksaan. Christian ingat kalau masih ada satu harta yang tidak bisa diganggu gugat, yaitu sebuah rumah milik almarhum neneknya yang tidak kena sita karena surat-surat kepemilikannya menggunakan nama neneknya saat masih gadis. Christian tidak tahu kalau rumah itu sekarang masih di kontrak oleh seseorang, namun dia akan menggunakan berbagai cara agar dirinya diperbolehkan tinggal di rumah itu hingga masa kontak rumah tersebut habis.

Jordan (26)

Penyanyi terkenal yang sejak 3 tahun lalu meninggalkan Indonesia untuk mengembangkan karirnya di Amerika. Setelah mengalami kesulitan, akhirnya nama Jordan bisa bersaing dengan penyanyi papan atas Amerika.

Nora (25)

Manajer sekaligus orang terdekat Jordan. Hubungan asmara mereka  samar karena Jordan masih menyimpan cintanya pada Selina.

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw🙂 … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 1: Inikah yang namanya purgatori?

Dari dalam sebuah taksi yang masih melaju, Selina membuka kaca jendelanya untuk menghirup udara pagi karena sudah hampir dua hari ini sibuk membuat empat buah lagu untuk mini album seorang penyanyi wanita bernama Tasya. Angin yang berhembus membuatnya sedikit tidak mengantuk, ia melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9 pagi. Selina sudah melihat pekarangan rumahnya dan bersiap-siap untuk menghentikan taksi yang dinaikinya.

“Di depan,  tolong berhenti di depan yang ada pekarangan luasnya pak!”. Taksi itu berhenti tepat di gerbang depan rumahnya. Setelah membayarkan ongkos taksi, Selina menunggu beberapa menit untuk menyegarkan diri. Naik kendaraan dalam keadaan kurang tidur membuatnya pening, dia tidak mau adik laki-lakinya khawatir dengan kesehatan kakak perempuan yang selalu keras kepala ini. Taksi itu pun pergi, Selina menguap dan kemudian membuka pintu pagar rumahnya. Ia terkejut mendapatkan pintu pagar ternyata tidak terkunci. Dengan penuh penasaran, Selina masuk ke dalam, mencari tahu apakah adiknya masih belum pergi kuliah dan sedang menunggunya sebelum berangkat?

Ketika Selina sampai di pintu depan rumahnya, ia mendapatkan seorang pria tengah tertidur pulas beralaskan tas-tas besar dan juga sebuah koper yang disimpan di depan wajahnya untuk menahan angin. Ia melihat baju yang dikenakan pria itu. Kenapa pria ini tidur di depan rumah orang? Selina mencoba mencoba membangunkan dengan kakinya, selayaknya membangunkan seekor kucing jalanan. Namun pria dengan pakaian dandy itu tidak bergeming sedikitpun. Pria macam apa yang berani tidur di depan rumah orang seperti ini? Karena tidak mau repot, di telponlah pak Darwis yang pekerjaannya memaintain rumah yang dikontrak olehnya itu sejak 3 tahun lalu. Karena rumah pak Darwis agak jauh, maka butuh 15 menit untuk sampai setelah laporan, itupun jika pak Darwis belum pergi ke pasar melihat toko berasnya. Tapi untunglah pak Darwis bersedia datang untuk melihat siapa pria yang dimaksud oleh Selina. Setelah menutup telepon, pak Darwis segera pergi ke dapur untuk memberitahukan kalau dirinya akan pergi sebentar melihat rumah milik majikannya yang dikontrakkan pada Selina.

“Memangnya ada apa pak disana?”

“Saya juga kurang tahu jelas, tapi yang pasti ada pemuda tidak dikenal sedang tiduran di depan pintu masuk.”

“Aduh, jangan-jangan maling?”

“Maling kesiangan gitu maksud ibu?”

“Hahaha…iya pak, siapa tahu malingnya terlalu ngantuk buat rampok rumah jadi lesehan bentar di depan pintu. Ehhh, taunya kebablasan tidur sampe siang.”

“Hush, ngaco ibu ni. Tapi, non Selina bilang…dia pakai baju necis sama bawa koper banyak.”

“Oh ya? Jangan-jangan…pak, apa nyonya sama tuan besar waktu kabur ke luar negeri, tuan muda dibawa juga gak?”

“……eng…maksud ibu, Mas Chris?” setengah berfikir.

‘Iya…siapa lagi yang ibu maksud, pak?!” Istri pak Darwis langsung ketakutan, “Aduuh, gawat. Gawat ini pak? Mas Chris kenapa gak ikut????”

“Kalau begitu saya kesana cepet, ngeliat apa itu Mas Chris.”

“Pak! Kalau itu beneran mas Chris…jangan bawa tinggal di sini. Saya ngerti bapak itu kerja sama mendiang ibunya bapak Adinugroho sejak kecil dan kehidupan kita sekeluarga hampir seluruhnya ditopang sama beliau. Tapi sekarang ini beda, kalau kita nampung Mas Chris…bapak tahu sendiri kan kehidupannya itu seperti apa? Kerjaannya cuma habis-habisin uang bapaknya. Jadi orang miskin dalam tempo sesingkat itu pasti dia masih puyeng….apa itu orang yang di tv bilang, stress, trauma, syok. Kita juga gak kaya pak, jadi pertimbangkan lagi soal nolongin Mas Chris kalau pemuda itu ternyata benaran dia. Ngertikan bapak sama omongan ibu?”

Pak Darwis hanya mengangguk tapi tidak mengiyakan. Beliau secepatnya ke garasi tempat ia menyimpan sepeda motornya, ia mengenakan helm dengan terburu-buru.

Ketika mendengar berita bangkrutnya perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut, pak Darwis lah orang pertama yang dihubungi oleh Adinugroho, ayah Chris. Rumah yang ditinggali olehnya dan sang istri diberikan padanya, karena Adinugroho takut tidak bisa membayar gaji seperti biasanya untuk mengurus rumah ibunya. Adi nugroho dan dirinya tumbuh besar bersama-sama, jika tidak ada kasta yang memisahkan pembantu dan majikan, mungkin saja mereka berdua bisa jadi sahabat. Dinyalakannya mesin motor, lalu dipaculah motornya itu menuju rumah Selina.

Selina terus saja menatap jam tangannya, menunggu kedatangan pak Darwis. Karena sudah capek dan kesal, Selina nekat membangunkannya. Gerakan mengusir kucing dengan kaki itu dilancarkan kembali olehnya…kali ini ada tanggapan. Hap! Pergelangan kaki Selina ditangkap oleh tangan kanan pemuda itu. Ke dua orang tersebut kini sama-sama terkejut.

“Si-siapa kau?” Tanya pemuda itu dengan mata setengah terbangun dan masih linglung.

“Se-seharusnya…aku yang tanya siapa kau itu?”

Pemuda itu masih bingung, “A-aku?” .Selina masih melihatnya dengan perasaan tidak enak. Pandangan matanya melihat ke arah pergelangan kakinya. Pemuda itu sontak melepaskan pegangannya.

“Aku, aku ingin masuk ke dalam. Tapi rupanya kunci rumah ini sudah diganti…apa anda tahu pak Darwis kemana? Kamar belakang miliknya juga dikunci.”

Selina tersenyum kecut, dia menganggap pemuda itu bodoh dan tidak tahu diri, dan kenapa bisa terlibat percakapan aneh ini dengan pemuda tersebut.

“Pergi.”

“Huh?”

“Apa yang sebenarnya anda lakukan di depan rumah orang pagi-pagi seperti ini?” Tanya Selina menahan kekesalannya.

Pemuda itu terhenyak ketika mendengar pertanyaan Selina. “Apa?!” Dia terbangun dari posisi tidurnya dengan  cepat, seperti baru saja terjadi ledakan bom Hiroshima. Selina menjauh karena tingkahnya itu.

“Rumah, rumah orang lain? Jelas-jelas ini rumah ku.” Di berlari ke halaman rumah, mengkaji semua sisi rumah tersebut dengan matanya untuk memastikan dia BERADA dirumah milik neneknya.

Ayunan, check! Pagar tinggi warna putih, check! Pohon belimbing bangkok dekat keran air, check!

“Ah! Dulu nenek punya anjing siberian husky dan rumah anjingnya ada di samping rumah dengan nama Django”. Segeralah pemuda itu berlari menuju halaman samping kiri…”Haha! Benar ini rumah ku. Django meninggal beberapa bulan kemudian karena sakit sepeninggal nenek ku. Rumahnya masih di sini!” Ujarnya dari samping halaman pada Selina.

Selina yang tidak mau mendengarkan penjelasan sampah yang panjang kali lebar dari pemuda itu langsung membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam rumah, tidak lupa pula ia mengunci pintunya dari dalam.

“Psikopat…”

Chris yang terlalu senang menemukan rumah anjing bernama Django berlari lagi untuk menemui perempuan berambut pendek yang ditemuinya tadi. Namun dia tidak menemukan perempuan itu di depan pintu.

“Kemana nona tadi? Apa dia tidak percaya kalau aku ini pemilik rumah ini?!”

Dia mendengar suara tv dinyalakan, berarti rumah ini ada penunggunya. Chris memanjat tembok setinggi lutut yang dulu digunakan neneknya untuk menanam pohon mawar, cuma sekarang mawar-mawar itu sudah tidak ada, dan sudah di tembok.

“Waah…dasar!” Tertawa tidak percaya. “Perempuan itu benar-benar tidak punya hati. Seharusnya dia mendengarkan penjelasanku dulu sebelum memutuskan meninggalkan ku seperti orang gila di luar sini.”

“Hei…tolong buka pintunya, aku bisa menjelaskan kalau rumah ini punya ku. Maksud ku rumah ini milik nenek ku dan aku ini cucunya yang akan tinggal di sini.”

Selina tidak perduli dengannya, apalagi berbelas kasihan melihatnya. Rumah ini hingga satu tahun ke depan masih miliknya. Jadi tidak ada satu orang pun yang bisa masuk dan ikut tinggal selain adik dan juga ketiga sahabatnya, Maddie, Katya dan juga Arnie.

Chris masih berteriak-teriak minta di bukakan pintu, namun untungnya pak Darwis segera tiba di lokasi. Mendengar mesin motor berhenti, Chris turun dari tembok undakan tersebut, girang melihat sosok yang tidak asing dimatanya.

“Pak Darwiiiiisss!” Panggilnya setengah bersedih. Dia sudah menganggap pak Darwis itu seperti pamannya sendiri. Dengan langkah kaki tergesa-gesa, Chris menghampiri pria yang berusia 62 tahun itu dan memeluknya.

“Aduuuh, Mas Chris! Mas Chris!” Pak Darwis juga girang melihat anak majikannya itu. Boro-boro dia bisa melakukan apa yang diminta istrinya? Melihat pemuda itu berdiri didepannya, mengetahui dengan jelas kalau Chris tidak  punya apa-apa dan siapa lagi selain dirinya yang juga ikut mengurus sejak kecil, airmatanya mengalir begitu saja.

“Kenapa bisa begitu?Kenapa perusahaan ayah mu jadi begitu?!”

Chris yang tadinya senang, hatinya berubah menjadi sakit. “Aku juga gak tahu, pak. Tiba-tiba ada orang kejaksaan menerobos masuk ke apartemen dan menyegel semuanya…”

“Kita jangan ngobrol di sini, ke toko bapak aja dulu…nanti kita cari cara gimana baiknya? Tasnya taruh saja di situ dulu…ayo,ayo.”

Pak Darwis membawa Chris ke toko berasnya di pasar. Dengan baju keren, baru kali ini dia masuk ke pasar rakyat. Berbagai macam bau sayur, ikan basah, dan juga sampah sayuran yang membusuk akibat terinjak-injak kaki para pejalan, menari-nari masuk ke hidungnya. Tanpa bisa menahan bebauan itu, dia hampir saja muntah.

“Sial…tempat apaan ini?” Ucapnya sambil menutup hidung dan juga mencari cara agar celana bermerknya tidak kotor dan bau. Tapi semua itu tidak ada gunanya, dengan berat hati dia berjalan perlahan dibelakang pak Darwis yang sudah terbiasa dengan situasi pasar.

Mereka berdua duduk di meja, Chris kagum melihat toko milik pekerja ayahnya.

“Wah, sekarang bapak punya toko sendiri.”

“Itung-itung sambilan.” Ucapnya merendah. “Jadi sekarang, Mas tinggal dimana?”

“Rumah itu memang masih di kontrak ya pak? Berapa lama?”

“I-iya…seharusnya tahun lalu sudah habis masa kontrak, tapi mbak Selina memperpanjang kontrak sampai tahun depan.”

“Begitu ya?…kalau begini caranya saya tidur dimana pak?! Ini semua gara-gara perusahaan bangkrut. Kenapa pula ayah dan ibu saya pergi begitu saja? Apa mereka sempat menghubungi bapak Cuma sekedar pamitan?” Chris memberondong pertanyaan pada pak Darwis. Pak Darwis Cuma bisa menggelengkan kepalanya – berbohong.

Tapi karena beliau juga harus bisa mengerti perasaan istrinya tentang jangan membawa pulang Chris untuk tinggal di rumah mereka, pak Darwis juga memutar otak untuk mencarikan jalan keluar untuknya.

******

Selina menelpon Bram untuk menanyakan soal pemuda aneh yang tidur seperti gelandangan di depan rumah mereka, siapa tahu dia tahu tentang hal aneh ini?

“Apa? Ada laki-laki tidur di depan pintu?”

“Hmm…” Angguknya.

“Kakak memangnya pulang jam berapa tadi? Aku berangkat kuliah sejak jam 7 karena ada mata kuliah yang penting.”

“Aku sampai di rumah pukul 9. Mungkin orang aneh itu datang setelah kau pergi, Bram?”

“Kakak sudah menghubungi pak Darwis? Biar beliau saja yang mengurus orang itu.”

“Iya, aku sudah menghubunginya. Sepertinya beliau kenal dengan orang itu. Dia bersikeras mengatakan kalau rumah ini miliknya, dan juga mengetahui setiap sudut rumah ini beserta penjelasannya. Apa kau pikir itu bukan suatu hal yang aneh?”

“Jika dia pemilik rumah itu, dan berniat untuk tinggal…mestinya dia tahu kalau rumahnya sedang dikontrakan pada kita. Apa pak Darwis menipunya?”

“Heh, hati-hati kalau bicara, mana mungkin pak Darwis penipu…toh, waktu penandatanganan surat perjanjian kontrak pak Darwis bersama pemilik rumah yang namanya Adinugroho itu ada.”

Bram bangun dari tempat duduknya dan kemudian berjalan keluar dari ruang kelasnya. “Kita tunggu saja penjelasan dari Pak Darwis mengenai ini. Kak, aku masuk kelas dulu…dosennya datang!” Ujarnya sambil berlari masuk ke dalam kelas.

****

“Ahhh…apa yang harus kulakukan jika dia memohon untuk tinggal di sini? Ah, Katya!…Dia kan selalu bisa mencarikan jalan keluar kalau ada masalah seperti ini.” Selina kemudian menelponnya.

Katya sedang berada di kelas untuk mengajar. Karena dia termasuk guru bahasa asing yang galak, maka tidak ada seorang anak pun yang lengah ataupun tertidur di kelas. Motonya adalah, jika setiap hari mata mu melihat tulisan Jerman, membaca buku berbahasa Jerman, dan juga mendengarkan bahasa Jerman. Maka setidaknya kau tahu bagaimana mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jerman.

‘Hari ini kita akan belajar membuat kalimat adjektif berdasarkan apa yang kita pelajari tadi, nah siapa yang mau mulai terlebih dahulu?” Tanya Katya pada murid-muridnya. Seorang anak perempuan bernama Dyana yang duduk paling depan sebelah kiri mengangkat tangannya untuk menjawab.

Ja, was ist Ihre Antwort?[*Iya, apa jawabanmu?]”

“der gute Mann”[*Orang yang baik] Jawab Dyana.

“das große Haus”[*Rumah yang besar] Prue melanjutkan menjawab pertanyaan dengan contoh yang lainnya.

“die schöne Dame”[*Seorang gadis cantik] Kemudian Stephen ikut pula menjawab dari tempat duduknya dibelakang.

‘Sher gut!” Ujar Katya gembira, namun ketika ponselnya yang di letakan di meja mulai bergetar dan berdesir membuat mukanya masam. Dia melihat nama si penelpon dari layar LCD-nya. “Cik…bocah tengik!”, diangkatlah telepon dari Selina tersebut. “Apa?”

“Aku terlibat masalah besar…”

“Setiap hari bukannya kau selalu saja terlibat sebuah masalah besar? Dari kepala sampai kaki, kau memang sumber masalah, Eli. Haha!” Katya mencoba untuk bercanda.

“….Ini beneran Karjo! Tadi pagi ada laki-laki yang mengklaim rumah yang ku kontrak adalah rumahnya dan berniat untuk tinggal bersama.”

“APA?! Coba kau ulangi lagi?”

“Seorang laki-laki tiba-tiba ingin tinggal di rumah ku…Verstehen, Karjo?”

“…..Iya, aku mengerti. Tapi kenapa tiba-tiba seperti itu? Apa orang tersebut tidak tahu kalau rumah itu sedang dikontrak oleh mu sampai tahun depan?”

Selina menghela napas panjang, mengerutkan wajahnya lelah. “Tidak tahu…aku juga sedang menunggu kabar dari pak Darwis. Rupanya beliau dengan laki-laki itu saling mengenal.”

“Tentu saja mereka saling kenal, bodoh. Toh, dia mengaku kalau dialah pemilik rumah yang kau tinggali bukan? Lebih baik begini saja, kau bicarakan dulu dengan pak Darwis tentang masalah  ini. Aku sih emoh satu atap sama laki-laki yang gak dikenal, tapi untuk kasus mu…sebagai orang yang dituakan dikelompok TEGAR, aku menyetujui. Sudah berapa tahun kamu ngejomblo gara-gara si bajingan tengik itu kabur ke Amrik cuma buat cuap-cuap jual suara? Eli…Life must go on, girl. Do you think by acting like a moron giving you the chances to make it up all for good?”

“Aku sedang membicarakan orang aneh yang secara tiba-tiba ingin tinggal dirumah ku, bukannya membicarakan bagaimana caraku untuk menjalani hidup, Karjo. I need something to get away from this bullcrap, not asking your help to make one.

“Sorry…Gak ada maksud netesin cuka di luka mu – You know me lah? Terus kamu udah telepon Bram, apa katanya?”

“Bram sih sama dengan ku, nunggu penjelasan dari orang itu sama pak Darwis. Jadi gimana dong?!” Selina menunggu Katya mengeluarkan pendapat bagusnya.

“…..Terima saja. Kan bukan kamu yang rugi?”

Seorang muridnya merasa sedikit terganggu dengan obrolan Katya di jam-jam pelajaran. Badriyah berdehem keras, dehemannya didengar oleh Katya yang tersenyum merasa bersalah dengan menerima telepon dari temannya disaat mengajar.

“Kampret…kenapa mesti nelpon pas jam ngajar sih?”

“Memangnya masih jam pelajaran? Aku kira sudah jam istirahat?! Sorrrrriiii, Karjo. My mistake!” Selina menengok ke jam dinding yang menunjukan baru pukul 10 pagi. Dari teleponnya, terdengar Katya menutup ponselnya dengan keras.

“Maaf…kita lanjutkan membuat contoh kalimatnya.” Katya kembali serius mengajar.

****

Selina merasa bingung dan berfikir apa yang seharusnya dia lakukan. Ia pergi menuju pintu masuk dan membukanya. Tas-tas milik laki-laki itu masih berada ditempatnya semula. Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan orang itu tinggal di sini, ujarnya dalam hati.

Tapi apa boleh dikata, saat itu juga pak Darwis dan juga Chris dengan motornya sudah masuk dan parkir di halaman rumahnya.

Dia terkejut bukan main. Apa orang ini benar-benar mengajukan diri untuk tinggal di rumah ini?

“Mbak Selina…” Mendengar pak Darwis memanggil namanya, perutnya merasa tegang. Ia tidak suka perasaan seperti itu. Chris tersenyum ramah kali ini, seperti anak TK yang mencoba menyenangkan gurunya. Pak Darwis mengusulkan untuk bicara empat mata dengannya di ruang tamu sementara Chris menunggu di luar dengan tas-tasnya itu.

“Siapa orang itu pak? Benar dia anak pemilik rumah ini?”

“Iya…” Jawab beliau. “Mungkin mbak belum tahu kalau pemilik rumah ini, perusahaannya bangkrut dan yang tertinggal di sini itu…ya, mas itu.”

“Maksud bapak, perusahaan konstruksi bangunan megah pak Adinugroho?”

“Iya…sebenarnya majikan saya itu ingin membawa mas Chris pergi ke Vietnam. Namun karena gaya hidup mas Chris yang masih belum bisa sederhana…majikan saya ragu. Makanya saya disuruh tutup mulut tentang keberadaan orangtuanya. Majikan saya ingin dia bisa berdikari…kalau dia tinggal sama saya, mana bisa mbak? Karena harga dirinya tinggi, dia juga mana mau minta tinggal sama teman-temannya yang borjuis itu. Jadi…saya mohon. Ijinkan dia tinggal disini, belajar untuk mandiri.”

Selina bingung…namun dia juga pernah merasakan hal yang sama meskipun berbeda situasi. Dulu, sebelum dia mengenal keluarga Winardi yang nota bene adalah ayah dan ibu kandung Bram adiknya. Selina bukanlah siapa-siapa selain anak kecil yang masih ingusan berusia 6 tahun yang tidur di depan tangga rumah mereka. Ibu kandungnya berkata kalau dia ingin pergi ke toilet, namun hampir seharian tidak kembali untuk menjemputnya. Dengan berderai airmata, dia mengetuk pintu pasangan muda tersebut…dengan berani mengajukan diri untuk tinggal dirumah mereka asal diberikan sesuap nasi dan juga tempat untuk tidur setiap harinya, Mereka menganggap Selina itu hadiah dari Tuhan sebagai anggota baru keluarga Winardi. Ibunya Bram setelah melahirkan Bram divonis tidak bisa hamil lagi, karena Selina rajin dan juga sopan. Mereka berdua memutuskan untuk mengadopsi Selina menjadi anak mereka.

Sementara Chris diluar bicara pada dirinya sendiri, inikah yang namanya purgatori? Dimana tempat roh-roh yang baru mati tinggal untuk melakukan pertobatan? Seumur hidupnya dia tidak pernah minta pertolongan pada orang lain hanya demi menumpang hidup. Meskipun rumah ini adalah miliknya, tetap saja orang di rumah ini sebelum lepas masa kontrak menganggapnya menumpang.

Kemarin malam dia masih sempat berdansa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di club malam bersama teman-teman dan merasakan anggur merah mewah kesukaannya. Para wanita seksi mengumbar senyuman manis dan tubuh moleknya hanya demi bisa berkenalan dengan seseorang bernama Christian Adinugroho, pewaris tunggal salah satu perusahaan konstruksi  di Indonesia. Mereka mengantri demi bisa terbangun disisi pemuda ganteng itu, dan merasakan sarapan pagi yang dimasak olehnya. Lalu kehidupan keesokan harinya berubah total, ketika orang-orang dari kejaksaan menerobos masuk untuk mengambil alih aset miliknya juga. Kenapa orangtuanya tidak berkata apa-apa mengenai kebangkrutan perusahaan? Kenapa pula hanya dia yang ditinggalkan di situasi seperti ini? Sungguh malang kisah Playboy karismatik…yang kini mengalami degradasi moral.

“Inilah purgatori…aku ‘mati’ dan kini harus mereflekasikan diri ditempat ini.” Berharap sang pengontrak mengijinkannya tinggal selama 1 tahun.

Bersambung….

6 thoughts on “Cinta Itu Buta![Chapter 1]

  1. well…nice prolog mei..
    seperti biasa..gaya lo udah gaya korea banget…^^

    si Cris..pasti jadi tokoh cowok sentral dalam cerita ini kelak……..^^

    bisa jadi cris…numpang di rumah selina trus lambat laun…ada rasa antara mereka…hahahha…

    just imagination in my side..^^

  2. keren mei ceritanya ,,, walaupun ada nama2 berbau indo kek darwis ato adhinugroho … spt yg dikatakan kei terasa sangat korea .. btw karakter gw naif bgt ya di situ .. tp emang iya sih pengen merit ama namja korea .. hahahaha ..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s