Cinta Itu Buta![chapter 2]


Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw :) … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 2: Apakah kamu anak yang baik atau nakal?

Hasil dari keputusan apakah Selina menerima Chris adalah….Keesokan paginya…

Bram sedang mandi dan keramas di kamar mandi ketika Chris mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi seperti sedang dikejar-kejar setan. Dengan kepala yang masih berbusa, Bram mencoba mencari pegangan pintu kamar mandi dengan mata yang sedikit terganggu karena air shampo yang mengalir hampir kematanya. “Si-a…?” Sebelum Bram bertanya ketika membuka pintu kamar mandi, Chris sudah menggeliat-geliat—mulas.

“Ka…mar…ma..nd…iii” Chris menarik Bram keluar yang hanya mengenakan boxer, kamar mandi pun diambil alih olehnya.

“Heh, heh. Kenapa kamu ini!”

Chris tidak memperdulikan panggilan Bram yang mengambil handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel di luar kamar mandi. Dia mengusap-usapkan handuk itu dari air shampoo yang menggangu sekitar matanya dengan perasaan kesal. Chris mencoba meredakan sembelitnya di dalam.

“Heh! Sedang apa kau di dalam? Cepet keluar! Heh, buka pintunya!!”

Chris meringis mencoba mengeluarkan kotoran yang sudah bersemayam di perutnya itu. “Sori, sori! Hampir semuanya keluar! Soriii…aakk…!Kalau sudah selesai, aku juga bakalan keluar dari sini.”

“Siaal…ini gara-gara kakak nerima orang aneh ini untuk tinggal di rumah ini.” Ujarnya kesal. Tanpa menghiraukan apa-apa lagi, Bram melanjutkan mencuci rambutnya di wastafel. Kegiatannya itu dilihat oleh Selina.

“Kamu kenapa cuci rambut di situ?”

“Orang itu kayaknya senang banget main nyelonong masuk, kakak harus hati-hati. Jangan sampai dia mengingau masuk dan tidur di kamar kakak.”

Selina menepuk bahunya, “Cih! Ada-ada aja kamu ini, Bram?”

Beberapa saat kemudian, Chris keluar dari kamar mandi. Dia sedikit malu ketika melihat adik dan kakak tersebut berada di luar menunggunya selesai memakai kamar mandi. Karena masih belum terbiasa…Chris hanya cengar-cengir terus kabur dari situ, kembali ke kamar yang dulunya dipakai oleh pak Darwis.

“Eisshhh…Benar-benar memalukan!” Menghela napas kesal. Tapi Chris harus menahan semua kebiasaan yang selalu dilakukannya. “Apapun yang terjadi, aku tidak boleh keluar dari rumah ini. Chris…kamu sekarang miskin, gak punya apa-apa. Jadi sudah seharusnya berbuat sesuatu demi hidup mu sendiri.” Dia lalu tertawa kecil, mengingat dia bisa menggurui dirinya sendiri sekarang. Orangtuanya lupa kalau dirinya itu pandai beradaptasi dengan lingkungan seperti apapun juga, ya, meskipun apa yang terjadi dengannya sekarang itu terbilang cukup ekstrim.

Bram masih tidak mengerti kenapa kakaknya mengijinkan orang itu tinggal, tapi apapun keputusannya pasti ada alasan kenapa dia begitu. Sambil mengeringkan rambutnya setelah selesai keramas, Selina mengambil sikat gigi dan odol dari wadahnya, kemudian menggosok giginya.

“Kak…meskipun kakak terlihat keras kepala tapi aku tahu hati kakak itu baik, tapi memasukan laki-laki itu ke dalam rumah apa tidak ada masalah?”

“Aku mengambil keputusan itu karena kasihan melihatnya. Dulu, aku juga seperti laki-laki itu…”

Sebelum Selina melanjutkan perkataannya, Bram langsung menyelanya. “Pasti yang ingin kakak katakan adalah bagaimana kakak masuk ke keluarga kami, bukan begitu? Benar kata ibu, aku harus memperhatikan kakak baik-baik. Bukan hanya suka mengadopsi kucing dan anjing jalanan semasa kecil, kini malah mengadopsi orang dewasa.”

“Hehehe…cobalah untuk mengerti.”

Bram menghela napas, “Terserah kakak saja. Tapi orang itu tidak boleh hanya menumpang, tapi ikut juga mengerjakan pekerjaan rumah.”

Selina tersenyum dan mengangguk, “Oke!”

Bram masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan kegiatan mandinya yang tadi sempat terganggu oleh Chris. Selina menoleh ke pintu kamar belakang yang bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Setelah selesai dengan apa yang dilakukannya, Selina berniat mengajak laki-laki itu bicara. Ia mengetuk pintu kamar Chris.

Tok..tok..tok…

Chris tahu hal ini akan terjadi, makanya dia segera mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih sopan.

“T-tunggu sebentar…!” Chris membuka pintu dan menyambut Selina dengan senyuman casanovanya. Selina hanya bisa tercengang heran, bukan terpukau dengan ketampanannya. Chris sadar kalau Selina bukan seperti tipe perempuan-perempuan yang biasa ditemuinya.

“Biasanya para wanita akan terpukau dengan gaya ku sekarang ini?”

“Haha, maksudmu mereka akan berjatuhan seperti seekor lalat?…Jangan bersikeras membuat ku terpukau. Tapi jika kau merasa malu, kita bisa ulangi lagi.” Selina langsung menutup pintu kamar Chris, mengetuk pintu, dan membukanya. Kali ini dengan senyuman terpukau yang terlalu dipaksakan. “Waaaaahh…tampan sekali!” Puji Selina. Namun kali ini yang diam terpaku adalah Chris. Sel-sel diotaknya sedang kebingungan harus mengirimkan reaksi apa untuk tuannya ini.

“Apa kau senang?” Tanya Selina lagi.”Kalau iya, kita perlu bicara sekarang. Ikut aku ke ruang tamu.”

Seperti seekor anak anjing, Chris mengintil dibelakang Selina hingga ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan.

“Sebelumnya, aku mau mengatakan terimakasih sudah mengijinkan ku tinggal disini. Ya, meskipun rumah ini adalah milikku…” Ujung-ujungnya dia merasa menyayangkan.

“Itulah yang ingin aku bicarakan dengan mu. Aku tidak suka bicara panjang lebar…karena dalam 1 tahun ke depan kami masih punya hak tinggal di sini, maka statusmu hanya menumpang. Kata pak Darwis…keadaan mu yang sekarang kosong melompong. Jadi jika ingin makan dan tidur secara gratis, kau bisa membayarnya dengan membantu kami bersih-bersih rumah. Karena aku sering tidak pulang, maka untuk urusan memasak dan bersih-bersih adalah urusan kalian berdua, adik ku dan kau.”

“Tunggu…lalu apa yang kau kerjakan jika kami berdua yang melakukanya?”

“Jika aku ada waktu libur, aku juga akan mengerjakannya.”
”Apa kau libur hari ini?”

“Iya…kenapa?”

“Bagus…hari ini kau bantu saja adikmu. Aku sedang banyak urusan!”

“Tapi…”

Chris memasang wajah sedih, “Selina…tolong mengerti aku, aku baru saja mendapatkan hal yang buruk. Dalam satu hari kehidupanku berubah drastis seperti ini, kalau kau jadi aku apa mau menghabiskan satu atau dua hari hanya membersihkan rumah dan memasak? Aku harus keluar mencari cara untuk bisa bertahan hidup.”

“Cik..cik..cik…jika melihat dari cara mu berpakaian hingga matahari tenggelam diarah yang berlainan pun kau tidak bisa mencari jalan keluar dari kesulitan mu.”

Bram tiba-tiba datang dari belakang membawa tumpukan baju kotor. “Untuk sementara ini, kau bisa pergi keluar jika sudah bisa mencuci bersih seluruh pakaian hingga selesai.” Kemudian pakaian kotor itu ditaruh di meja dihadapannya. Muka Chris masam, “Ini sih namanya pelecehan…begini saja. Urusan memasak biar aku yang melakukan setiap paginya.” Chris mencoba menawar.

“Hari ini tidak masak. Kalau lapar, makan ini saja!” Bram juga membawakan sandwich yang dibungkus dengan plastic wrap.

“Kau ingin aku makan ini sambil mencuci pakaian? You’ve got to be kidding me!”

“Bercanda atau tidak…lebih baik kau kerjakan saja, tuan muda. Dan ingat, jangan masuk sembarangan ke kamar ataupun ruang kerja ku…mengerti. Aku tidak suka!” Selina mengingatkan.

Chris tidak bisa membantah perintah dua monster kejam yang memaksanya menjadi Cinderela. Karena aku miskin dan tidak punya apa-apa selain rumah ini, makanya kalian bertingkah seperti ini padaku?

“Baik, akan ku lakukan semua perintah kalian! Tapi janji, setelah aku selesai melakukan semua pekerjaan rumah, aku diperbolehkan untuk melakukan apapun yang aku mau.” Pintanya.

Dasar bodoh, memangnya aku berniat untuk mengurungnya disini apa? Pikir Selina dalam hati. Bram pun berfikiran yang sama dengan kakaknya dan berharap laki-laki itu tidak menimbulkan masalah.

****

Selina memulai pekerjaannya mengurung diri dengan alat-alat musiknya di ruang kerja, sedangkan Bram setelah selesai melakukan tugasnya yang dibagi dua dengan Chris sudah pergi ke tempat kuliah. Kini Bram masih berkutat dengan mesin cuci, dia tidak tahu seberapa banyak deterjen yang harus di masukan ke dalam mesin cuci? Dan berapa banyak helai pakaian yang harus dimasukannya supaya mesin cuci bisa berjalan dengan baik?

♪♪~ ~♪♪Kita berdua saling mencintai,

tapi kenapa memutuskan berpisah dengan cara kejam seperti ini?

Hanya bisa menghela napas ketika kita berdua berubah menjadi asing satu sama lain…

Aku ingin hidup tanpa harus berada dalam bayang-bayang mu

Menginjakan kaki tanpa harus terluka, tangisan ini pasti terhenti…♪♪~ ~♪♪

Chris berhenti dari kebingungannya ketika mendengar alunan lagu dari ruang kerja Selina. Melodi R&B yang riang namun lirik yang sendu, saling bertolak belakang, pikirnya.

“Inilah alasan kenapa aku tidak suka menjalin hubungan lebih dari 3 hari dengan seorang perempuan.” Ujarnya pelan sambil jongkok melihat mesin cuci itu berputar.

Dari jauh sebuah mobil sedan berwarna merah tua berhenti di depan gerbang rumah Selina. Rupanya itu Katya dan juga Maddie yang segera ingin melihat seperti apakah laki-laki pemilik rumah kontrakan Selina. Karena Selina sedang fokus pada pekerjaannya, mau tidak mau Chris berlari untuk membukakan pintu gerbang ketika klakson mobil tak henti dibunyikan.

“Siapa lagi ini? Begitu banyakkah orang yang memusingkan dari pihak si monster?” Bertanya pada dirinya sendiri dengan kesal.

Chris mendorong pintu gerbang, Katya dan maddie saling bertatapan ketika melihat laki-laki yang memakai T-shirt dan celana pendek yang terlihat basah. Keringatnya yang bercucuran membuat laki-laki itu terlihat seksi dimata mereka. Rupanya ini yang dimaksud oleh Chris ketika mencoba jurus maut casanovanya pada Selina, tentang wanita-wanita yang berjatuhan seperti lalat karena tersihir dengan ketampanannya.

“Katya…aku mau satu rumah dengan mahkluk terindah seperti itu.” Ucap Maddie yang tengah berada di awan nomor sembilan setelah melihat Chris.

Katya pun merasa iri dengan kehidupan sahabatnya, “Bocah itu sungguh mujur…kalau tahu saat-saat seperti ini pasti datang, ketika dia menawarkan untuk mengontrak rumah ini bersama-sama pasti ku iyakan! Das leben ist mein freund![*seperti itulah hidup, teman!]” Katya membuka jendela mobilnya.

“Thank you…” Katya mencoba menggoda Chris dengan senyumannya, begitu pula Maddie yang melambaikan tangannya memberi salam dari dalam mobil.

Mau tidak mau Chris mengambil kesempatan ini untuk mempraktekkan senyuman mautnya yang cool mempersilakan kedua wanita itu masuk ke dalam pekarangan untuk parkir. Rupanya jurus itu ampuh juga, tapi kenapa Selina tidak bereaksi?

Katya dan Maddie turun dari mobil, Chris mendekati mereka untuk berbasa-basi.

‘Dua nona cantik ini, ingin bertemu dengan siapa?”

“Apa Selina di rumah?” Tanya Katya.

“Ada, dia sedang sibuk di ruang kerjanya.”

“Anak itu sudah dua hari tidak pulang…bukannya istirahat malah melanjutkan kerja. Apa dia berencana untuk bunuh diri?”

“Katya…jaga bicaramu.” Maddie mengingatkan dengan sebuah senyuman, seperti meminta Chris untuk mengerti. “Jadi, kau yang tinggal disini dengan kakak beradik itu sekarang?”

“Iya…oh, hampir lupa. Nama ku Christian Adinugroho, kalian boleh panggil aku Chris.”
Katya seperti tahu siapa itu Adinugroho. “Apa hubunganmu dengan pengusaha kontraktor Adinugroho yang baru saja bangkrut itu?”

Mendengar kata bangkrut dan dari nada bicara Katya yang terdengar seperti meremehkan. Chris mulai menarik diri untuk berbasa-basi.

“Itu…ayah ku.” Tegasnya.

Katya tersenyum, dia tahu kalau perkataannya mungkin telah menyinggung ego laki-laki itu. “Berusahalah dengan keras. Memang tidak mudah untuk bisa memulai hidup dari keterpurukan. Kau, meskipun berbeda tapi sama dengan ku.”

Chris bingung dengan maksud perkataannya, “Maksud mu?”

“Katya juga anak orang kaya, namun dia melepas statusnya itu untuk hidup menderita layaknya rakyat biasa.” Jelas Maddie.”Tapi apa semua anak orang kaya itu punya wajah dan tubuh yang bagus ya?!” Masih mengagumi Chris dari dekat. Chris meskipun agak risih tapi mencoba untuk mengerti.

“Apa Selina sudah makan?” lanjut Maddie lagi.

“Bram hanya bikin sandwich. Ahhh~ perutku mana bisa tahan hanya dengan makan itu.”

“Sandwich? Kebetulan aku bawa makanan…cepat suruh Selina keluar dari kamarnya untuk makan. Kau juga boleh makan.” Tawar Maddie padanya. Tentu saja Chris girang.

Maddie menyiapkan piring-piring dan menghangatkan sup daging dan juga makaroni keju panggang kesukaan Selina. Katya juga membantu Maddie sementara Chris mencoba membujuk si monster untuk keluar dari goanya.

“Maddie, bagaimana kalau kita jodohkan Selina dengan anak itu?”

“Mulai lagi deh, mana mau Selina jodoh-jodohan seperti itu?”

“Habis kesel. Coba kamu pikir, sejak 3 tahun lalu di tinggal Jordan. Waktu kita untuk ngumpul kacau semua gara-gara dia. Sibuk inilah, sibuk itulah…nelpon juga cuma kalau ada perlu doang! Mungkin ini kesempatan bagus, dengan masuknya Chris ke rumah ini…siapa tahu dia bisa jatuh cinta lagi.”

Maddie menghela napas panjang, bukan karena dia harus merelakan laki-laki ganteng seperti Chris jadi kail untuk memancing Selina keluar dari sangkarnya, melainkan apa bisa Chris merubah pandangan Selina tentang cinta? Dia begitu terpuruk ketika memutuskan untuk berpisah demi cita-cita Jordan yang kala itu dapat tawaran dari pihak recording ternama di L.A untuk debut di sana. Maddie dan Katya di buat pusing, karena Selina bukan tipe yang kalau marah akan mengamuk seperti Katya, menangis tersedu seperti dirinya demi hal-hal kecil atau menarik seluruh uang tabungan untuk pergi jalan-jalan seorang diri model Arnie. Selina selalu memendam apapun yang dialaminya, dia hanya bisa merasa bahagia jika orang lain bahagia. Arnie selalu bilang pada Maddie, “Kak Selina itu mirip sama kura-kura Arnie…kakak tahu kan maksudnya?”

****

Chris mengetuk pintu ruang kerja Selina, tapi tidak dibuka juga. Karena perutnya sudah lapar, dia nekat masuk ke dalam. Ruang kerja Selina begitu apik, dia pernah masuk ke studio musik punya temannya, sedikit mirip. Selina sedang berkutat dengan musiknya, duduk didepan keyboard yang menghadap ke jendela, alasan kenapa ia tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu pintu dan memanggilnya adalah earphone yang bercokol dikedua telinganya.

“Sial…dia bilangkan tidak boleh masuk?! Bagaimana ini?” Chris baru menyesal sekarang. Tapi cacing diperutnya itu sudah tidak tahan untuk melahap makaroni keju panggang yang dibawa Maddie.

Perlahan Chris menghampirinya. Chris mendengar Selina sedang bersenandung lagu yang sedang dibuatnya. Dia mengigit bibirnya, sedikit ketakutan jika ketahuan kalau sudah main nyelonong masuk begitu saja ke dalam.

Namun ketika Chris hendak menyentuh bahunya untuk menyadarkan Selina kalau ada dua temannya yang datang untuk bertemu dengannya dari negeri antah berantah. Dia melihat pantulan wajah Selina di cermin yang terletak di jendela…Selina bersenandung sambil menutup mata – menangis.

Katya rupanya sedang menyaksikan Chris terdiam sambil melihat cermin pantulan Selina. “Apa dia tidak mendengar kau masuk?” Tanyanya pelan pada Chris yang terhenyak kaget.

“Oh…iya.” Jawabnya sambil melihat ke arah Katya. “Apa dia selalu seperti ini jika membuat lagu?”

“Jika kau tahu judul lagu-lagu yang diciptakan olehnya…kau pasti tahu! Biar aku yang panggil dia, kau makan duluan saja.”

“Hmm…” Chris mengangguk. Dia paling tidak suka melihat wanita menangis seperti itu. Don’t sway, Chris! Kemudian dia melakukan apa yang di suruh oleh Katya – keluar dari situ untuk menemui Maddie.

Katya menepuk bahu Selina, matanya terbuka – terkejut melihat Katya ada di ruangannya. ‘Sejak kapan kau berdiri disitu?” Tanya Selina melepas earphonenya.

“Sejak tadi…ayo keluar, Maddie bawa makanan kesukaan kamu!” Katya menarik lengannya. “Come one let’s eat!” Lanjutnya lagi sambil tertawa senang dan Selina pun hanya bisa menurut padanya.

Ketika Selina melihat Chris sedang asik makan makaroni panggang buatan Maddie, ia mengolok-olok soal tuan rumah yang seharusnya pertamakali makan, bukannya tamu. Perkataan itu membuatnya kesal, dengan mengerutkan wajahnya bak anak TK dia menancapkan garpunya pada makaroni-makaroni panggang yang tidak bersalah itu lalu bergegas kembali menemui mesin cuci yang mungkin timernya sudah berhenti untuk berputar.

“Jadi orang jangan jahat kenapa, Eli?” Maddie menegur Selina.

“Biasa aja kenapa, Mad? Hehe…thanks ya makanannya. Wuaahh, Maddie hebat!Makaroni Maddie yahud, nomero uno!” Selina memuji masakan Maddie.

“Kalo gak yahud, ngapain juga dia buka stand makanan?” Balas Katya.

“Karjo… lagi dapet ya? Pedes banget sih omongannya?!” Selina mengomentari kesinisan gaya bahasa Katya sahabatnya itu sambil mengunyah makaroni panggangnya. Katya hanya bisa tertawa mendengarnya mengatakan hal yang sama tentang dirinya berkali-kali.

Chris melanjutkan tugas mencuci pakaian, meskipun kesal tapi empat potongan besar makaroni panggang cukup membuatnya kenyang dari pada roti sandwich Bram. Lagu ciptaan Selina…Chris mengeluarkan ponselnya, mengetik kalimat tadi di google….

‘Luka by. Cyn. Pencipta, Selina.W.

Ketika hati ku terluka by. Jerome. Pencipta, Selina.W

Bagiku kau… by. Dome fezta. Pencipta, Selina.W’

“Kenapa semua judul lagunya dan juga liriknya sedih semua? Apa dia tidak pernah merasakan bahagia?” Menghela napas. “Itu mungkin karena dia nakal sama sepertiku. Makanya susah untuk bahagia! Haaaaa…cuci baju yang ini, cuci baju yang itu..smua,smua, semua dapat dilakukan, dilakukan dengan mesin cuci ajaib…hai! Chris…ada mesin cuci…lalalala…” berhenti menyanyikan lagu Doraemon yang digubah liriknya secara sembarangan olehnya sambil mencuci. Mengingat sesuatu yang terlintas di kepalanya ketika melihat halaman rumahnya. Teringat ketika ia masih kecil sering berlarian di halaman rumah ini bersama sang nenek. Saat-saat itu adalah saat yang paling bahagia. “Chris…senang sekali.” Melanjutkan liriknya yang tadi sempat terpotong karena bengong.

Setelah bercengkrama lama, Maddie dan Katya memutuskan untuk pulang karena Katya ada pelajaran tambahan, sementara Maddie tidak bisa lama-lama meninggalkan stand makanannya. Mereka berdua juga tidak lupa pamit pada Chris, yang  kini sibuk menjemur pakaian. Maddie masih tergila-gila dan masih sempat-sempatnya mengatakan kalau dia melihat sixpack Chris di balik t-shirtnya itu. Setelah selesai mengantarkan kedua sahabatnya, Selina terdiam melihat laki-laki itu mencoba mencari cara menjemur seprai.

“Mau ku tolong tidak?”

“Seharusnya pertanyaan itu kau tanya kan pada ku sejak tadi.” Ujarnya kesal, mencoba memeras gulungan seprai itu, namun ukurannya terlalu besar jadi kedua tangannya kelihatan hampir mau kram. Selina langsung membantunya.

“Kau pegang ujung yang sebelah situ, aku pegang yang ini.” Meskipun begitu karena mereka memutarkan ujung seprai masing-masing ke arah yang sama maka hasilnya sama saja bohong.

‘Cik..cik..cik…kau putar ke kiri dan aku putar ke kanan!” Serunya. Tapi Chris malah tertawa setelah mendengarkan kalimat perintah itu.

“Kenapa tertawa?” Tanya Selina heran.

“Habis lucu, seperti syair lagu anak-anak…putar ke kiri, putar ke kanan. Terus tambah Lalalala…hahaha.”

Selina tidak bisa menahan tawa mendengarnya mencari nada yang pas untuk lagu ke kiri dan ke kanan-nya. Mereka berdua berhasil menyelesaikan menjemur seprai itu di tambang. Karena merasa kelelahan, Chris meminta hadiah untuk usahanya itu.

“Janji tadi pagi masih berlaku kan?” Tanyanya pada Selina yang berjalan untuk duduk di teras rumah bergaya kolonial tersebut.

“Ahhh…janji apa ya?”

“Kalau aku berhasil melakukan pekerjaan rumah tangga, kau dan adikmu berjanji mengijinkan ku untuk melakukan yang ku inginkan.”

“Usia mu berapa sekarang? Seperti anak kecil saja merengek seperti itu.”

’27 tahun dan aku bukan anak kecil!” tegasnya.

“Kau mau melakukan apa memangnya?”

“Hal-hal sederhana…”

“Maksudnya?”

“Selina, ambilkan aku minum…aku haus!”

Selina mngerutkan keningnya, permintaan apaan ini? Malah berbalik menjadikan ku pembantunya. Pikir Selina.

“Apa dengan cara mu berlagak seperti laki-laki tertampan di dunia yang penuh dengan karisma, mampu untuk membuat ku berjalan dari sini ke dapur hanya untuk membawakan mu minuman? Hah…pikir lagi bung!”

Chris tersenyum jahil, dan tahu bagaimana caranya supaya Selina menurut. “Eyyy…ukuran bra mu apa benar segitu?” tanyanya iseng tanpa embel-embel sambil berpose bak perancang mode yang masih bingung untuk menambahkan variasi apa pada gaunnya dengan tangan terlipat sebelah, sedangkan satunya lagu ditempatkan di bibirnya sambil mengigit-gigiti kuku jempol tangan kanannya.

“Mati saja kau Christian Adinugroho!!” Selina mengambil penjepit pakaian dan menjepitkan benda itu ke hidungnya. Baru sadar kalau ternyata di cucian tadi ada beberapa helai pakaian dalamnya.

Siapa yang nakal, siapa yang baik? Jelas-jelas aku tidak tahu. Yang pasti…Aku gembira hari ini. Keadaan di Purgatori, aman dan terkendali.

Bersambung…

2 thoughts on “Cinta Itu Buta![chapter 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s