Cinta Itu Buta![chapter 3]


Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw :) … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 3:  So Long Ago….

Arnie datang berkunjung ke rumah Bram setelah menghilang selama 1 minggu. Usut punya usut, dia sedang kesal dengan salah satu teman kuliahnya yang selalu saja menghujatnya sebagai gadis yang aneh. Ketika Arnie datang mengetuk pintu, Selina membukakan pintu untuk masuk ke rumahnya dengan wajah bingung.

“Heh, kau pergi jalan-jalan lagi ya? Apa kau tahu kalau kami semua ikut pusing mencari tahu keberadaanmu? Memangnya kamu kemana, Nie?”

“Batam!” Sahutnya tanpa rasa bersalah. “Kak…aku numpang istirahat dulu ya di sini seblum pulang ke rumah?” pintanya tersenyum lebar. Selina tidak bisa berkata tidak, karena Arnie sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri setelah Bram.

“Ayo masuk, jangan berdiri terus disitu.” Selina ikut membawakan tas milik Arnie sambil masuk ke dalam.

Chris yang sedang mengocok telur untuk membuat omlete mie dan memasak sup kacang merah penasaran dengan suara anak gadis itu. Bram yang sedang sibuk membersihkan ikan juga ikut-ikutan berkomentar.

“Arnie…waah! Hebat banget ya kamu? Selama 1 minggu kabur cuman lantaran kesel sama si Betrice sostrange itu?!” Bram mengeluarkan komentar sinis padanya.

“Siapa dia? Pacarmu? Heh, apa dia juga akan ikut tinggal disini?” Tanyanya macam-macam karena takut kalau ada satu orang lagi yang tinggal maka keberadaannya didalam rumah ini terancam setelah melihat barang bawaan Arnie. Bram memandangnya dengan pandangan tidak percaya, “Jika harus memilih siapa yang harus tinggal di sini, aku akan menyuruh temanku itu untuk tinggal dan bukan paman!” melanjutkan pekerjaannya.

“Paman? Hei…aku belum cukup tua untuk dipanggil paman…Kakak juga boleh, atau cukup panggila namaku saja.” Ujarnya sambil tersenyum mengingatkan.

Bram dan Chris masih bersitegang di dapur, Bram mulai mengoreng ikannya dan Chris memasak sup dan juga memasak omlet itu di microwave. Arnie mengunjungi mereka berdua di dapur, diikuti oleh Selina yang berjalan di belakangnya.

“Oii…apa si sostrange itu masih berkoar-koar di kampus selama aku pergi menyepi?”

“Kau dan dia jika kupikir sama saja anehnya. Arnie, karena aku dan kau sudah bersahabat sejak ibuku dan ibumu masih mengidam nasi uduk jam 2 malam. Setidaknya kau bisa mendengarkan nasehatku barang secuil. Kau…kau sebenarnya tidak kesal bukan? Jujur saja. Itu karena dorongan hasrat bertualangmu besar saat itu– jadi kau langsung mengambil uang dibank untuk pergi main, bukan begitu?” Bram mencurigai Arnie.

“Ahaha…memang benar kata orang tua dulu, cermin terbaik adalah seorang sahabat lama.”

“Tapi jika terlalu lama bercermin dan cermin itu berubah jadi foto sinar rongent, itu bukannya malah jadi tidak menyenangkan?” Tambah Chris seraya menyiapkan piring-piring untuk masakannya.

Arnie baru sadar kalau masih ada orang lain selain mereka bertiga.

“Siapa ini?” Tanyanya pada Selina.

“Dia pemilik rumah ini dan untuk sementara waktu akan tinggal bersama kami.”

‘Ohh ~ mawar berduri.” Bisiknya pada Selina.

“Apa?” Selina balik bertanya tanpa suara.

“Oke makanan sudah siap! Dan nona manis ini tentunya akan makan sore di sini kan?” Tanya Chris pada Arnie. Gadis itu mengangguk dengan senyuman manisnya.

‘Aduuh, manisnya!” Chris membelai-belai rambut Arnie yang panjang sebahu seperti sedang memanjakan seorang anak kecil yang sudah berbuat sesuatu yang membuatnya senang.

Bram melihat pertunjukan itu dengan kesal, Arnie merasa senang diperlakukan seperti itu, kemudian berlari kearah Bram hanya untuk memberitahukan sesuatu padanya.

“Aku suka orang ini! Hahaha…” Tegasnya.

“Kau itu selalu suka pada orang yang menawarimu makanan…Pergi, jangan halangi jalanku!”

“Inilah yang terjadi jika aku berkawan dengan seekor unggas…”Celetuk Arnie pedas.

“Inilah yang terjadi jika terlalu dekat dengan seseorang, mereka akan kembali untuk menggorok lehermu ketika kau sedang tidak waspada!”Balas Bram untuk ucapan Arnie tersebut. Chris terheran-heran dengan sikap sinis mereka berdua – terlebih lagi mereka itu bersahabat satu sama lain.

“Apa mereka sering seperti itu?”

“Mereka cuma saling melepas rindu…” Jawab Selina singkat. Chris masih tidak melepaskan pandangannya ke wajah Selina.

“Kenapa? Ada sesuatu di muka ku?” tanyanya risih sambil menyapu-nyapukan tangannya ke wajahnya sendiri.

“Bukan…aku hanya ingin bertanya sesuatu?” Pandangan mata Chris menampakkan keseriusan, dan membuat Selina tidak nyaman.

“Apa?”

“Jika anak itu tinggal disini, apa aku harus menyerahkan kamarku?”

“IYA!” Jawabnya tanpa berfikir dulu dan langsung menuju ke meja makan. Meskipun di mejanya tidak ada hidangan yang istimewa, tapi setidaknya Chris bisa masak dan itu akan mengurangi kesulitan jika Bram sibuk dengan tugas kuliahnya.

“Wah…masakan mu lumayan juga!”tukas Arnie dengan lahap menyantap hasil masakannya.

“Anak ini…aku sudah memasak sejak dulu dan kau juga selalu ikut makan—tapi tidak pernah satu kali pun mengatakan hal yang seperti itu!” Arnie seperti sedang membuat Bram kesal.

“Rupanya kau harus belajar merayu wanita dari ku, sobat!” Tambah Chris dengan percaya diri.

‘Soal itu aku tidak perlu belajar dari mu…” tolak ketus.

“Jika kau mengajari adikku untuk berbuat macam-macam pada seorang wanita selama tinggal di sini, tidak perduli pemilik ataupun tamu. Aku akan mendepakmu dari sini!” Selina memperingatkannya sambil mengacungkan sedok ke arah mukanya.

“Iya, aku mengerti!”

“Lagipula, meskipun kau mengajarkan ilmu menggaet wanita pada anak itu hasilnya akan sia-sia…hahaha.” Ujar Arnie lagi menggodanya.”Bram tidak suka wanita cantik, tidak suka wanita tukang dandan, tidak suka wanita bodoh, tidak suka wanita yang berambut pendek, tidak suka wanita yang memakai high heels…a-p-a ada list yang belum ku sebut kan sobat?”

“Ahaha, aduuuh. Bagus sekali kau bisa ingat wanita yang bukan tipe ku?…Siapa yang keterlaluan menyukai seorang pria hingga mau berkorban menjadi sekretaris OSIS dulu?Tidak tidur siang malam cuma hanya untuk ikutan rapat ini-itu supaya bisa dekat dengan ketua OSIS itu? Arnie, Arnie…” Bram tertawa mengingat kebodohan Arnie.

“Apa aku boleh tanya kalian berdua sesuatu?”

‘APA?” Jawab mereka berdua secara bersamaan.

“Kalian ini apa benar bersahabat? Perkataan yang keluar dari mulut kalian berdua bagaikan racun berbisa yang saling semprot…menunggu salah satu dari kalian untuk mati terlebih dahulu. Atau….kalian pernah…pacaran?”

Bram, Arnie dan juga Selina tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan terakhirnya itu.

‘Aku dan dia?…kami tidak pernah berpacaran. Memikirkan aku harus bersama gadis aneh macam dia membuat bulu kuduk ku merinding…Hahaha!”

“Aku merasa ingin mencocokan sendok ini ke mulutnya…” Arnie sedang sensitif dengan kalimat ‘gadis aneh’.

Chris yang melihat ekspresi Arnie pada Bram yang masih terpingkal dengan kenyataan kenapa harus pertanyaan kocak seperti itu yang ditanyakan oleh Chris padanya. Namun dengan segera, Chris mencoba menetralkan Arnie yang hampir meledak itu.

“Gadis aneh apa? Dia cantik dan juga manis. Jika usiamu lebih tua 7 tahun pasti aku akan jatuh hati.” Mencoba memberikan obat penawar untuk gadis itu.

“Lihat…orang ganteng saja punya mata untuk melihat dan menilai ku…Chris, lalu bagaimana menurutmu tentang kak Selina?”

Pertanyaan Arnie membuatnya kaget begitupun Selina. “Penilaian mu terhadap kak Selina bagaimana?”

“Huh?…uh~ menurutku dia baik. Entahlah, aku baru mengenal mereka berdua…” dalihnya dengan sebuah senyuman.

Ketika mereka sedang asik-asiknya makan, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Spontan mereka semua menghentikkan kegiatan mereak dimeja makan—penasaran siapakah yang datang sore-sore begini?

“Apa mungkin teman-teman mu yang tadi lagi?”tanya Chris pada Selina.

“Katya dan Maddy? Entahlah…” Geleng Selina.

“Biar aku lihat…” Bram mendorong kursinya ke belakang dan langsung berjalan ke pintu masuk untuk mencari tahu siapa yang datang.

Ketika Bram membukakan pintu, dia melihat seorang wanita tinggi semampai dan juga cantik. Rambutnya diikat kebelakang dengan rapi. Cara berpakaiannya seperti Katya, memakai baju bagus dan juga mahal.

“Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?”

“Apa Chris tinggal disini?”

“Maksud anda…Christian Adinugroho?”

“Iya…dia yang ku maksud.”

“Tunggu sebentar, akan ku panggilkan.” Bram berlari ke meja makan.”Chris…ada tamu untukmu. Seorang wanita cantik.”

“Huh? Siapa? Rasa-rasanya aku tidak pernah bilang kalau aku tinggal disini pada siapapun juga?” Ujarnya bingung. Mereka semua menghentikan santapannya dan fokus pada kedatangan tamu tak diundang itu.

Chris mendatangi orang yang dimaksud, yang katanya ingin bertemu dengannya. Wanita itu tengah melihat-lihat ruang tamu yang terpisah sekat bambu. Chris mengenali sosok itu.

“Novi?”

Novita tersenyum melihat Chris yang sedang berdiri menatapnya. Arnie, Bram dan juga Selina mengintip dari balik sekat itu.

“Ternyata kau tinggal di tempat ini?” Terlihat dari gaya bicaranya yang tidak senang.

“Ahh…iya. Untung saja aku masih punya rumah ini. Kalau rumah ini ikut-ikutan disita, entah aku akan tinggal dimana?” Chris merendah.

“Kau berubah…”

“Sudah pernah ku bilang bukan, aku ini cepat sekali menyesuaikan diri…menjadi miskin mungkin menjadi sesuatu yang baik untuk ku.”

Novita mengeluarkan sesuatu dari tasnya, dua buah kunci. Novita menyerahkan kunci rumah dan juga kunci mobil untuknya.

“Untuk saat ini kau pakai saja bungalow dan mobil milikku yang lain, tidak usah menumpang dengan penyewa disini.”

Chris ingin sekali mengambilnya agar bisa tidur dengan nyaman dan juga bisa keluar jalan-jalan. Namun apakah yang dipetiknya nanti? Sudah jelas-jelas kedua orang tuanya meninggalkannya seorang diri di sini karena takut dia tidak akan kerasan menjadi orang biasa yang tanpa apa-apa.

“Untuk saat ini, aku tidak punya keberanian mengambil apa yang akan kau berikan. Lagipula mereka baik padaku…”

“Tapi kau itu tunanganku! Mana boleh hidup seperti ini?”

“Bekas…”Chris menambahkan. “Bukankah hal itu juga sudah ku utarakan padamu? Bekas tunangan.”

“Terlepas ‘bekas’ atau tidak, anggap saja ini hadiah dari ku.”

“Novi…jika kau terus bertindak seperti ini, aku akan benar-benar kehilangan harga diri.” Chris menggambil kunci-kunci itu dimeja dan kemudian memberikannya kembali ke tangan Novita yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Arnie mulai berkomentar dari sisi Selina, “Rupanya punya harga diri juga dia?” Bisiknya.

****

“Do you have to be like this?” Nora dengan tegas bertanya pada promotor jumpa fans di Regent Hotel Taiwan.

“But the ticket was sold out…and now you ask us to make excuses to cut an half hour from what we’ve planned?”

“You guys should knows why I’m acting like this? As Jordan manager…” Dia berhenti sejenak untuk berfikir bagaimana menjelaskan kekesalannya pada tim promotor karena atasan mereka sudah membuat Jordan mabuk dan masih tertidur di kamar hotelnya sehabis pesta penyambutan.

Jordan dulu tidak gampang menerima ajakan minum dari siapapun juga. “He cannot be on stage in this kind of condition. Your boss should know this! CUT the program or we changed the schedules entirely? It’s your choice?!” Nora marah dan langsung pergi dari lobi hotel menuju kamar Jordan.

Di elevator kekesalannya masih tampak. Pikirannya melayang pada saat Jordan masuk ke kamar hotel dalam keadaan mabuk, Nora membantu memapahnya duduk di sofa.

“Kau itu kenapa? Besok sore sudah harus tampil, tapi kau mabuk begini?!”

“Bisakah kau ambilkan aku minum, tenggorokan ku tidak enak.”

Nora hanya bisa merengut kesal melihat orang yang disayanginya seperti itu. Dia mengambil air minum yang sudah disediakan di meja kerja.

“Ini, kau harus minum yang banyak supaya suaramu tidak kacau. Aku akan meminta seseorang untuk membelikan obat penghilang mabuk untukmu.”

“Kenapa kau selalu mengikutiku?Apa 3 tahun belum cukup membuatmu mati karena bosan?” Tanya Jordan padanya ketika Nora hendak melangkahkan kaki untuk menelpon meja resepsionis. Nora tidak berani menjawab, dia meneruskan niatnya untuk menelpon.

Teng…

Pintu elevator terbuka, Nora ingin memeriksa keadaan Jordan yang kepalanya masih pusing sehabis minum-minum. Dia mempersiapkan dirinya dengan seksama, membuang pikiran buruknya yang selalu menghantui setiap kali melihat wajah Jordan. Dia mengeluarkan cermin dan juga lipstik berwarna pink nude, dan memoles-moleskannya ke bibirnya yang mungil.

Nora masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Dia tercengang melihat Jordan sudah bersiap-siap untuk pergi sound check.

“Oh, sudah datang?” Jordan tersenyum padanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”Maaf jika aku membuatmu repot, aku sudah bilang pada mereka jangan memotong show case ini seperti yang kau minta pada mereka. Kita pakai jadwal yang sudah kau siapkan saja! Ah, iya…apa kau sudah sarapan?”

“Iya…” Jawab Nora singkat karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dari diri Jordan.

“Baguslah…apa kau mau ikut ke hall atau istirahat sejenak sebelum show case dimulai?”

“Aku…akan menyegarkan diri di gym. Stress ku akan hilang jika aku berolahraga…”

“Kalau begitu aku pergi dulu ke hall.”

Jordan mengambil tas dan juga jaketnya, memberikan senyuman terakhir sebelum keluar dari kamar hotel.

Tubuh Nora bagaikan kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tidak segera menyanggakan tubuhnya ke dinding dibelakangnya.

“Bukankah ini yang kau inginkan, Nora? Tapi kenapa yang kau rasakan saat ini seperti baru tertembak oleh sebuah peluru?”

*******

Ketika Jordan tiba di hall, kedatangannya telah ditunggu oleh wartawan sebuah majalah lokal ternama Di Taiwan. Jordan ingat kalau mereka ada janji untuk wawancara singkat. Jordan mempersilakan wartawan itu untuk duduk di ruang preparasi.

“Nin hao Jordan?!”(Apa kabarmu Jordan?)

“Wo hen hao…xie xie. Nin ne?” (Saya baik, lalu bagaimana dengan anda?)

“Wo ye hen hao…”(Saya juga baik)Ujar wartawan wanita tersebut sambil tersenyum ramah menghadapinya.

………

Mereka bercakap-cakap tentang segala hal dari mulai debut hingga sukses jadi penyanyi ternama. Untuk penutupan, wartawan itu bertanya tentang sesuatu.

“Dang di yi ci lai mei guo de shi ho ,ni zui xiang yao de shi she me?”(Ketika pertamakali datang ke Amerika apa ada sesuatu yang kau inginkan?)

“Bing qi lin……ni yi ding jue de wo de hua hen hao xiao ba, ke shi wo jiu xiang yao bing qi lin.” (Eskrim. Anda pasti menganggap perkataan ku lucu kan, tapi yang aku inginkan adalah eskrim)

“Mei guo de bing qi lin you hen duo hao chi de, wei she me xiang chi YIN DU NI XI YA (INDONESIA)de bing qi lin.” (Di Amerika banyak sekali eskrim yang enak-enak, tapi mengapa ingin makan eskrim buatan Indonesia?”

“Yin wei wo ke yi yi bian chi bing lin yi bian kan dao hen te bie de mou mou…..wo de tai yang….”(itu karena aku bisa memakannya sambil melihat sesuatu yang indah…matahari ku”

************

Akhirnya waktu show case di mulai juga…Nora sudah tegang melihat banyaknya penggemar Jordan di Taipei ini. Bahkan dengar-dengar dari negara tetangga asia lainnya pun ikutan datang untuk menonton show case yang waktunya tidak kurang lebih dari 2 jam ini.

Jordan ketika memasuki panggung diserbu oleh teriakan serta panggilan dari fans-fans-nya, yang kemudian di tenangkan oleh sang MC acara tersebut. Setelah menyapa dan juga berucap sepatah-dua patah kata sambutan, Jordan duduk di kursi tinngi untuk menyanyikan lagu yang sengaja dibuat olehnya dalam bahasa mandarin, lagu spesial untuk fansnya di Taiwan secara akustik.

Lagu tersebut berjudul ‘So long ago…..’ dalam bahasa Inggris.

“HEN JIU YI QIAN”
* hen jiu yi qian ,wo jian le yi wei nv hai you hen ke ai de xiao rong.
wo yi zhi zou dao ta de hou mian xiang zhua zhu ta de bei ying.
Ta de xiao rong, Ta de xin dong rang wo de xin diao.
Shi AI ma? Na shi hou wo shuo ” Shi”
* hen jiu yi qian ,wo na le yi lan de hua qu jian ta.
He shuo le xiao hua rang ta kai xin.
Dang wo shuo “WO AI NI”
Ta xiao,Ta de xin dong rang wo de xin diao.
Shi AI ma? Na shi hou Ta shuo ” Wo yuan yi”
*hen jiu yi qian, wo jian ta yao shuo zai jian.
Ta mei you shuo she me, shui ran wo hen nu li de zai yi chi yao bao ta,ke shi wo hen wu jue duan li.
Ta gei le wo quan shi jie,ke shi wo zhi neng gei le Ta xin tong.
Shi AI ma? Na shi hou wo shuo ” qiu ni bu yao yu jian dao gen wo yi yang de nan ren”.
*Yin wei wo zhi neng gei ni yan lei rang ni ku…ku..ku.
Mei you ni ,wo de sheng huo hao xiang kong le…
Yuan liang wo,ni ke yi you hao de li kai ….wo cai neng gou ji xu xiau qu.
Shui ran you yan lei wo ye bu neng ren zhu.

‘So long ago’

So long ago, I meet a girl with cute smiles
I always walk behind her to captured her shadow
her smile, her gesture makes my heart pounder
Is this love? At that time I said ‘yes’

So long ago, I meet her with a bucket of flower
and said funny things to make her happy
when I said ‘I love you’
she smile, her gesture makes my heart pounder
is this love? at that time she said ‘I do’

So long ago, I meet her to say goodbye
She didn’t said a word, even how hard I tried to reach her again…but I’m hesitating
She give me the world, but I only gives her trouble heart.
Is this love? at that time I said ‘please don’t meet a man like me again’

Because all I can give to you is tears to cry,cry,cry
I’m living an empty life with out you
forgive me, you can leave peacefully ….I’m able to go on
even with this tears I can’t hold.

(credit lirik di atas milik mei@ blog countingwayward, terjemahan mandarin special thanks to s0n34cullen@forum detik.copyright©2010)

Nora hanya bisa mengigit bibirnya, “Kenapa kau selalu mengikutiku?Apa 3 tahun belum cukup membuatmu mati karena bosan?” mengingat pertanyaan Jordan tadi malam sewaktu mabuk.

Tiga tahun, empat tahun…bahkan untuk selamanya pun…tidak ada pria lain yang terlihat dihadapan ku selain dirimu. Meskipun aku tahu lagu ini tentang dirinya, jika aku berusaha sedikit lagi, kau pasti akan bernyanyi tentang ku…Selalu tersenyumlah seperti itu padaku, hanya untuk ku. Ucap Nora dalam batinnya.

Bersambung….

6 thoughts on “Cinta Itu Buta![chapter 3]

  1. blognya boleh juga btw aku juga pecinta korea ehmmmm lagunya juga enak buat di dengerrr pokonyaa fighting terus buat pecinta korea heheuuu…..

    • ( ^ _ ~ ) sama2 mpoy…iihhh nicknya lucu…hehehehe, salam kenal ya n makasih dan baca blog gw ini…terharuuuuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s