One Sweet Punch[20st Punch!]


Copyright 2010. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

20th Punch!

Yuni melihat luka-luka yang ku derita, meskipun hanya lecet-lecet kecil, untunglah pukulan tadi tidak membuat dengkul belakangku memar. Karena tahu kakaknya akan pulang dengan kondisi seperti itu sejak adanya ancaman dari Ren.

Yuni mendesah keras karena kesal melihat ku. Dia tidak bilang apa-apa, tapi aku tahu dia khawatir.

“Sean bilang padaku kalau Ren itu adiknya Vynett. Apa aku perlu menghubungi ayah dan ibu untuk menindak lanjuti cerita ini?” Mempersiapkan kotak obat, dan aku langsung duduk di sofa.

“Tidak perlu panggil mereka pulang.”

“Apa kau sudah lupa untuk apa mereka ke Jerman?!” Pertanyaan itu melukai hatiku. “Demi kesembuhan Vynett, mereka mempelajari kasus komatosisnya yang berkepanjangan di Jerman. Meskipun mereka tahu kalau Vynett tidak bisa ditemukan di rumah sakit manapun, ayah dan ibu tetap gigih kalau usahanya mempelajari kasus itu pasti akan membawa Vynett kembali pada mereka untuk kesembuhannya. Semua ini tidak akan pernah berakhir kalau kau terus-terusan menghindar Eugene, dan Ren…kau harus menaklukannya dalam artian buat dia mengerti kalau kau juga ingin membantunya menyehatkan Vynett kembali. Tidak ada gunanya dia menghajarmu sampai mati hanya untuk keselamatan kakaknya.”

“Dendamnya sudah sampai dititik ini, mana bisa aku menyuruhnya untuk ‘mengerti’?”

“Eugene…kali ini, aku minta kau kembali jadi dirimu sendiri. Keluar dari cangkang yang menyembunyikan bagaimana dirimu yang sebenarnya?! Berhentilah jadi orang bodoh!”

“Aku pun sudah berfikiran seperti itu sejak beberapa hari yang lalu, tapi semenjak kejadian hari ini, aku akan menjadi diriku yang dulu. Aku…aku ingin lihat ‘keadilan’ macam apakah yang ada diantara kami bertiga?”

“Apa…kau benar-benar tahu tentang semua ini dari pertama?”

“Maksudmu?”

“Tentang Ren dan apa yang diincarnya, sebelum Sean dan yang lain memberitahukanmu?”

“Aku benar-benar tidak tahu. Sial!” Aku tertawa kecut. “Seharusnya aku ingat kalau Vynett punya adik laki-laki….” Aku mengingat anak itu sekarang. Tapi namanya bukan Ren, mungkin dia menyembunyikan hal itu karena tidak ingin aku ingat siapa dia agar dia bisa melancarkan pembalasan dendamnya padaku. Rylan. Nama anak itu Rylan, dan aku pernah bertemu dengannya ketika dia masih dibangku SMP. Mekipun pendiam, dia anak yang baik.

Yuni memeriksa luka dibagian belakang dengkulku. “Hari ini memar dan juga lukanya tidak akan terasa. Besok kau mau bilang apa pada mereka tentang keadaanmu ini?”

“Untungnya besok olahraga, sejak pagi hingga siang memakai baju training olahraga. Aku bisa menutupinya.”

Setelah diobati olehnya, aku langsung masuk ke kamar, Yuni tahu kalau aku butuh waktu sendirian dikamar, jadi dia meneruskan apa yang dia lakukan sebelum aku pulang, menonton televisi.

Aku tidak bisa berbaring, jadinya duduk di meja belajarku. Perlahan membuka laci dimana ada foto Vynett, aku dan juga Rylan.

“Anak laki-laki yang biasa tersenyum malu-malu seperti itu karena aku jadi orang yang bisa menghajar teman-temanku yang lain dengan brutalnya?….Mina, jika kau ada disampingku, aku penasaran dengan kata-kata seperti apa yang kau keluarkan dari mulut tajammu itu disaat-saat seperti ini?”

Kini, aku harus bagaimana?

******

Pagi hari, aku sengaja menunggu Daniel. Karena dia punya hubungan dengan ‘orang hitam’ arahan ayahnya, aku putuskan untuk menjadi diriku yang sebenarnya. Ketika dia datang, aku langsung menyapanya dari jauh dengan senyuman.

“Daniel…selamat pagi!!”

“Wah, tumben kau menyapaku duluan?”

“Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?”

“Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuatmu baik seperti ini padaku? Apa?”

Aku membawanya ke ruangan biologi yang kosong. Dan mulai membicarakan apa yang kubutuhkan darinya. Ketika aku mengatakan bahwa kemarin saat pulang sekolah ada sekelompok orang yang datang mengerjaiku, dia syok.

“Apa?!”

“Jangan kawatir, aku tidak apa-apa.”

“Itulah kenapa kami terus-terusan harus berada disamping mu. Apa ada yang luka?”

“Tidak ada yang parah untungnya. Dan karena masalah ini aku butuh bantuanmu.”

“K-kau kelihatan berbeda…Eugene.” Lapornya padaku.

“Huh?” Aku tidak mengerti dengan pernyataannya itu.

“Raut wajah dan juga pembawaan dirimu sekarang dengan yang kemarin, berbeda.”

Aku tersenyum kecil, “Mungkin inilah diriku yang sebenarnya, Eugene yang rasionalis bukan Eugene ‘gadis pecinta kekerasan’ ”. Aku melanjutkan nya dengan tawa kecil.

“Apa yang kau perlukan?”

“Tapi kau harus janji jangan mengatakan apapun juga tentang hal ini pada yang lain. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencaritahu apa yang akan Ren lakukan nantinya, akan sungguh bagus kalau kita tahu siasat mereka nanti untuk bisa mendahului mereka. Jadi aku minta, suruh anak buahmu mencari tahu siapa pemilik benda ini.” Aku menyerahkan sebuah kartu bekas ujian yang ku dapat ketika berkelahi kemarin, hanya saja aku lupa dari siapa aku memperolehnya karena aku merebutnya terlalu cepat ditengah-tengah perkelahian.

Daniel mengambilnya dariku. Masih dalam keadaan bingung dengan perubahan sikapku, “Apa ini Eugene yang sebenarnya sebelum kecelakaan yang menimpa kakaknya Ren itu terjadi?”

“…….” Aku terdiam dan berfikir sebelum menjawabnya. “Aku harap Eugene yang kau temui hari ini, bukan aku yang dulu ataupun yang kemarin.”

“Akan kuanggap perkelahian kemarin sudah melukai alam bawah sadarmu hingga kau menjadi serius seperti ini.” Daniel tersenyum puas dengan jawabanku dan mencoba mengerti.”Aku lebih suka Eugene si ‘gadis pecinta kekerasan’, karena setiap kali kau berteriak, marah, ataupun berkelahi menunjukan bahwa kau jujur pada dirimu sendiri dan juga kami. Aku akan lihat apa yang bisa aku lakukan dengan tugas ini. Aku akan beri laporannya segera.”

“Jika anak buah mu mendapatkan siapa orangnya, bawa langsung padaku! Aku mohon.”

Daniel mengangguk, dan aku meninggalkannya di ruangan itu. “Baru kali ini aku merasa terintimidasi dengan kehadirannya yang dengan sikap seperti itu.” Guman Daniel menoleh ke pintu masuk, pintu dimana Eugene keluar melewatinya. Tidak mau menunggu terlalu lama, Daniel langsung menghubungi salah satu anak buah ayahnya. Memberikan foto lembaran kartu berwarna biru muda itu yang sengaja di foto dengan ponselnya dan dikirimkan untuk pencarian siapa pemilik nomor induk siswa 103-445-26. dan menyerukan apa yang diminta Eugene padanya.

******

Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai ketika berpapasan dengan Sara dilorong menuju tangga naik ke kelasku. Melihatnya berjalan ke arahku, perasaanku menjadi tidak enak, terlebih lagi karena dia melihatku dengan pandangan tidak menyukai kehadiranku disamping Jinnu.

Ketika Sara hampir mendekat, aku mencoba menyapanya, namun dengan pandangan dingin dan lurus ke depan, sikapnya serasa tidak mengenal apalagi mengetahui keberadaanku dan melewatiku begitu saja yang sedang tersenyum dan hampir melambaikan tanganku kepadanya.

Sara setelah berjalan cukup jauh menggigit bibirnya dan juga mengepalkan tangannya keras-keras, “Eugene…” Guman kesal sekaligus marahnya dalam hati.

Aku melangkahkan kaki ku mendekat ke jendela yang berada di lorong itu, melihat ke luar.

Di sana aku melihat Jinnu sedang berdiri dengan gagah dan tampannya. Sekarang ini jika aku melihatnya, langsung ada pikiran aneh yang terus mengganguku. Seperti kehilangan alasan kenapa aku harus berduel dengannya? Apa sekarang aku mulai menyukai si burung unta itu?

****

Rupanya ketika aku akan memasuki kelas, Jinnu sudah berdiri menungguku di depan pintu, dia menyandarkan tubuhnya didinding mengobrol dengan Sean.

Ketika melhatku, Jinnu langsung membenarkan cara berdirinya dan Sean pun tersenyum lebar menyapaku.

“Sedang apa kalian berdua disini?”

“Hehehe…Jinnu kelihatannya khawatir karena kemarin kau menghiraukan ucapannya.” Sebenarnya Sean sudah siap-siap akan berlari sekuat tenaga kalau perkataannya membuat Jinnu merasa malu tapi ternyata anak itu diam saja. Kenyataan itu membuat Sean tampak bodoh dan bertanya-tanya ‘apakah kali ini Jinnu benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk menyukai Eugene?’, Sean ingin tertawa senang karena masalah ini, tapi dia tidak mau membuat masalah kalau ternyata dugaan terhadap hubungan mereka berdua salah.

Mendengar hal itu, aku sedikit malu. Raut wajah Jinnu, meskipun masih terlihat dingin, tapi tatapan matanya pada ku sedikit berubah.

“Kemarin kau pulang sendirian, apa tidak mendapatkan masalah?”

“Ahh..hahaha…tentu saja tidak ada masalah. Jika ada, mana mungkin aku masuk hari ini.”

Jinnu tersenyum, “Baguslah jika tidak terjadi apa-apa. Hal ini hanya ku ijinkan satu kali aja, sebelum jelas apa mau nya Ren dengan menantangmu seperti itu, kau masih berada dalam pengawasanku mengerti?!”

“Baik…tapi aku tidak mau ada salah pengertian di ANTARA KITA.” Ujarku sedikit menekankan ucapanku, “Karena mungkin untuk orang yang tidak tahu menahu soal Ren, mereka akan mengosipkan kita berdua sebagai pasangan”.

“Heh, heh, heh…Eugene. Malah menurutku itu bagus! Jika kalian dipandang sebagai pasangan kekasih, mungkin mereka akan mundur dengan sendirinya karena kau dan Jinnu dipandang sebagai orang terkuat di sekolah ataupun di luar lingkungan sekolah….”

Ketika Sean berceramah tentang aku dan Jinnu, rasa sakit di kakiku mulai terasa. Sialnya aku tidak bawa obat penahan sakit yang tadi disiapkan oleh Yuni. Aku takut masalah ini ketahuan oleh Sean dan juga Jinnu. Aku harus pergi dari sini untuk merencanakan apa yang harus kulakukan sekarang.

“Ah…aku mau ke klinik.”

“Kau kenapa? Siklusmu kan belum datang?!” Sean mengacu ke kelender haid ku.

“HEH!! MEMANGNYA KALAU SIKLUSKU DATANG ATAU TIDAK, ITU JADI URUSANMU?!ARGGGHH…KAU MEMBUAT KU MALU SAJA!” Teriak ku sambil memukul Sean dengan tas ku lalu kabur ke klinik. Disana aku segera minta obat tahan sakit dan perawatnya memeriksa kaki ku yang memarnya terlihat.

“Kau ini, Eugeneeee…mana ada anak perempuan yang selalu datang ke klinik dengan keadaan terluka karena berkelahi?!”

“Hehehe…aku jadi malu.”

“Siapa yang berani berbuat seperti ini huh?” Bu Maya sang perawat mengeryitkan jidatnya karena memar di kakiku terlihat parah. “Kalau aku punya anak perempuan seumuran dengan mu, aku tidak akan mengijnkannya bermain denganmu!”

“Memangnya ada yang salah kalau berkelahi? Bukannya ada pepatah kalau berkelahi itu adalah salah satu proses pedewasaan, bu?”

Tanpa ragu lagi, Bu Maya menyentil telingaku. “Kau itu perempuan, perempuan!! Mana ada perempuan yang menjalani proses seperti itu dengan perkelahian brutal, huh?Minum obat ini, dan istirahatlah barang sebentar sementera aku akan memintakan ijin untuk mu pulang.”

“Pulang?! T-tidak perlu, bu. Aku baik-baik saja…”

“Luka memar seperti itu harus dirawat baik-baik…orang tuamu dokterkan? Masa kau tidak tahu luka memar juga kadang bisa parah, setelah pulang lalu pergilah ke rumah sakit untuk dirontgen.”

“Tapi bu, luka seperti ini bukan apa-apa. Aku pernah terluka lebih parah, anda sendiri saksinya!”

“Baiklah…terserah kau saja!” Bu Maya sudah kehilangan kata-kata utuk membujukku.

“Ah…satu lagi, aku ingin ibu jangan mengatakan hal yang menimpaku ini pada siapa pun! Tidak boleh mengatakan apa-apa.”

“Berarti kali ini, Sean tidak tahu kau berkelahi?”

“Iya. Aku tidak mau teman-temanku khawatir, itu saja.”

******

Bobby telah mendapatkan kabar kalau meskipun anak buahnya kalah, tapi salah seorang dari mereka sudah melukai kaki Eugene. Dia tertawa disebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalanan besar ke gudang tempat persembunyian Ren membayangkan Eugene yang terluka, dan dia yakin kejadian seperti ini tidak akan Eugene beritahukan pada teman-temannya itu.

Pikirannya melayang ke saat-saat Vynett masih segar bugar. Bobby saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat satu yang sering sekali memberontak. Bagi Bobby, Vynett adalah segalanya baginya. Karena anak perempuan yang masih sekolah di SMA itu mampu merubahnya ke arah yang lebih baik. Namun setelah kejadian naas itu terjadi, Eugene seakan-akan mengambil salah satu nyawanya hingga membuat Bobby terguncang jiwanya dan memutuskan untuk membalas dendam. Cara satu-satunya adalah mempenetrasi SMA Felst dengan memasukan Ren untuk mengacau, namun ternyata antara Ren dan juga dirinya tidak bisa seiring sejalan untuk menghukum Eugene dengan hukuman yang setimpal dengan apa yang dilakukannya pada Vynett. Ren pada mulanya ingin sekali membunuh Eugene meskipun dulu dia memujanya, dia pun melihat dari jauh ketika Eugene berlutut dan mengiba untuk dimaafkan kepada kedua orangtuanya, namun niat Eugene tidak digubris sama sekali. Bahkan ketika ayahnya menjambak rambut Eugene dan menyeretnya keluar dari rumah sakit, Eugene menahan semua itu dan mencoba melepaskan diri untuk kembali ke depan pintu kamar Vynett.

Karena tidak mau melihat orang yang sudah mencelakakan anaknya, maka di putuskan mengirimkan Vynett ke sanatorium di luar kota. Ketika mendengar hal itu, Eugene pun berubah.

Ren pernah mengatakan padanya tentang bagaimana Eugene sekarang, “Jika kau melihat kelakuannya…kau pasti akan tercengang.” Jelas Ren.

“Kenapa dengan anak itu?”

“Dia dulu bertindak penuh pertimbangan dan juga tidak liar seperti itu. Hah!” Setengah tertawa kecut.”Kini dia bagaikan lelucon…hanya demi makanan dia akan berguling kesana-kemari…hahahahaha….” Ren tertawa keras mengingat kelakuan Eugene yang kini setengah bodoh.

“Kau harus ingat dialah yang membuat Vynett terbaring seperti itu, jangan lengah, terlebih lagi kau dulu pernah menyukainya.”

Tawanya memudar seiring ucapan Bobby yang mengingatkannya akan masa lalu.

“Apa kau tidak bosan mengulangi perkataan itu padaku?”

“….kau tidak lupa apa yang kau janjikan padaku waktu itu bukan? ‘Bantu aku membalaskan dendam’ ”.

Namun kini, Bobby merasa keyakinan Ren sedikit goyah untuk mencelakai Eugene. Saat awal-awal pun, dia menginstruksikan agar langsung mencelakai Eugene tanpa harus melibatkan sekolah-sekolah lainnya dalam hal ini. Rupanya menghajar dan juga membuat keributan dengan sekolah-sekolah lain itu hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, Ren ingin ditemukan oleh Eugene. Bobby pun teringat dengan perkataannya lagi, “Sekarang dia tahu aku adalah adik Vynett. Aku yakin hidupnya akan dipenuhi ketakutan…kini, aku tinggal menungunya datang padaku untuk menyerahkan nyawanya.”

Meskipun Ren sudah menyatakan idenya itu, tetap saja Bobby gusar membiarkan pertahanannya melunak, oleh karena itu Bobby mengambil inisiatif sendiri, meskipun dia tahu kalau ketahuan oleh Ren, entah apa yang akan dilakukan anak itu terhadapnya. Kini, dia hanya bisa main kucing-kucingan dengannya, melihat siapa yang pertamakali berhasil menempelkan tangannya di tembok permainan.

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s