One Sweet Punch! [22th Punch]

Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

One Sweet punch!

Chapter 22

Daniel mendapatkan telpon dari orang suruhannya ketika sedang makan malam dengan orangtuanya di sebuah hotel. Dia kelihatan senang sekaligus tidak tenang dengan kabar yang disampaikan oleh orang suruhannya itu, ayahnya paling tidak suka kalau ada gangguan saat makan malam langsung memperingatkannya agar mematikan ponselnya.

“Cukup lakukan apa yang ku suruh. Akan ku telpon lagi nanti.” Dia mematikan ponselnya dengan segera.

Sang ayah mencurigai aksinya itu. “Apa kau melakukan sesuatu dibelakang ku, sampai-sampai memakai salah satu anak buah ku yang paling hebat untuk menemukan seseorang yang sangat ingin kau cari?”

Daniel hampir tersedak setelah mendengar pertanyaan ayahnya itu, “A-a-yah tahu?”

“Meskipun aku ingin sekali ikut campur dan ingin tahu alasan itu langsung dari mu, ayah ingin kau belajar dari tindak tanduk mu sendiri. Mengerti? Apa yang baik dan buruk—cari yang paling bagus diantara dua itu…dan satu lagi. Jangan sampai terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang memasukan mu ke rumah sakit bersama tim Power Ranger mu. Hah! Power Ranger…menjaga diri sendiri agar tidak kena pukul pun masih sulit, ini masih ingin menyelamatkan manusia.”

“Aku pun ingin minta bantuan ayah, tapi itu semua hanya akan membuatku malu. Ini urusan ku dan juga teman-teman…seperti yang ayah bilang tadi, aku berusaha mencari yang terbaik dari dalam diriku agar aku tidak seperti ayah.”

“Apa?! Apa yang baru kau ucapkan tadi?”

“Aku tidak ingin menjadi seperti ayah…aku ingin menjadi lebih baik dari ayah yang seorang mafia tapi berkedok pengusaha. Oleh karena itu aku rajin belajar agar aku bisa jadi seorang dokter, pengacara, arsitek, atau ahli IT tapi bukan mafia. Aku harap ayah tidak marah dengan ucapan ku ini.”

Ayahnya tersenyum gembira mendengar hal tersebut dari mulut anaknya yang dia kira jika sudah besar, dengan kelakuannya yang terlihat seperti anggota mafia punya mimpi lebih besar darinya.

*********

Kakaknya selalu membuat ku melakukan hal-hal bodoh, dan adiknya lebih menakutkan dari ayahnya Tei – Ini seperti Gol bunuh diri.

“Heh, Jinnu…apa kau suka padaku?” Dia sedikit terkejut ketika aku melontarkan pertanyaan itu ke mukanya.

“Kau ra-cun…mana mungkin aku meminum mu.” Tunjuknya tanpa berkedip. Waaah! Anak ini memang butuh dihajar. “Arrrrgghhh!!!” aku berteriak layaknya Kingkong yang marah karena ulah si burung unta yang sok flamboyant sengaja menebar paku hanya untuk ku injak.

Aku sudah mengepalkan kedua tanganku. Bara api pun sudah berkobar-kobar di kedua mataku, jika dia berani bersuara sekali lagi dan menekan harga diriku…kaki ku pasti langsung akan menendang bagian paling berharga miliknya!

“Kenapa kau mengepalkan tinju seperti itu? Kau sedang mempertontonkan ‘kekuatan super’ mu pada ku, ya?”

“Dasar mahkluk tengik…”

“Sudah hampir lima menit kau memelototi ku seperti itu. Sebaiknya kau istirahatkan mata mu, Eugene?”

“Kau tahu, mungkin ini saatnya kau dan aku menyelesaikan masalah kita. Kau masih ingat hutang mu pada ku kan?”

“Ah…tantangan itu?”

“Lebih baik kita selesaikan sekarang. Ayo keluar?”

“Keluar kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

Yuni segera mengambil ponselnya dan merekam adegan tersebut. Biasanya jika dua orang yang saling menyukai satu sama lain tapi masih berpura-pura, jika bertengar seperti ini salah satu dari mereka akan menjatuhkan sebuah bom yang akan membuat terkejut lawan bicaranya. Pikir Yuni.

“Apa kau bilang?”

“Aku bilang, kau mau ku ajak pergi kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

“Ini tentang tantangan itu bodoh!”

Kemudian, dengan ekspresi yang tidak bisa ku baca, antara tersenyum penuh kepuasaan tapi tatapannya seperti mencoba menggali sesuatu dalam diri ku yang membuat ku sedikit tersipu malu ketika dia mendekat pada ku. “Adik kecil…jam berapa sekarang?” Tanyanya pada Yuni.

“Hah?” Yuni masih bingung.

“Aku tanya…jam berapa sekarang?”

“Jam 7.45, kenapa?”

“Kau tidak punya jam malam kan?”

“Tidak…”

“Kalau begitu aku pinjam Eugene.”

“K-kau mau apa?”

“Aku berbohong datang kemari untuk meminjam dapurmu…cih, ayah dan anak itu pasti bisa bertahan tanpa makan pancake.” Aku tidak mengerti ucapannya, tapi menunggu untuk dia meneruskan perkataannya. “Aku kesini untuk memastikan apa aku punya pikiran yang jernih jika kau ada didekat ku?”

Pikiran jernih? Memangnya jika aku ada didekatnya, dia punya pikiran kotor tentang ku?? Iiihhh. Dasar burung unta maniak!!

“Menjijikan…memangnya kau pikir aku ini sama seperti gadis yang kau lihat di majalah porno?? Apa?? Kau tidak bisa berfikir jernih kalau ada aku?? Dasar maniak…bejat…Uuugh, menjauhlah dari ku.”

Yuni tidak kuat menahan dirinya untuk ikut campur. “Taman ria! Pergilah kalian ke taman ria…suasana disana bagus untuk bicara. Jika kalian ingin baku hantam…banyak permainan uji nyali di sana—bermainlah sampai kalian puas mengendalikan emosi.”

“Apa kau tidak dengar apa yang dikatakannya tadi? Dia…si burung unta ini menganggap ku ituuuu—kau tahukan?”

“Itu apa??? Jika tahu akhirnya begini…seharusnya dari dulu ku kenalkan seorang pria pada mu dan tahu apa itu cinta…cik cik cik.” Kini Jinnu yang melotot pada Yuni, takut ketahuan kalau dia suka pada Eugene tapi ingin kepastian kalau pilihannya itu benar. “Yang kakak ganteng ini maksud adalah…jika ada kakak di dekatnya dia selalu membenarkan apa yang seharusnya salah. Bukan begitu, kak Jinnu?” Yuni mencoba menutupi ketakutannya itu. “Coba kau bayangkan, kak? Ketika kau masuk rumah sakit dulu, sebelumnya kak Jinnu bilang ‘tunggu aku’ dan ‘cepat pergi, selamatkan dirimu’. Tapi kakak selalu melakukan kebalikannya. Kau selalu melompat kemana api berkobar, jadi mana bisa dia berfikir jernih? Bukannya dia memikirkan mu jadi wanita seperti itu…”

Aku terkejut, sepertinya ini baru pertama kali Yuni dan Jinnu bertemu. Tapi kenapa anak itu malah membelanya mati-matian?

“Yuni…kau itu adik ku atau bukan? Kenapa malah membela orang asing?”

“Orang asing ini korban mu, kak. Korban! Makanya aku mencoba untuk menyelamatkannya dari mu.”

“K-korban??”

Jinnu merasa senang ada satu orang yang berdiri dipihaknya. “Kau mau aku jadi kakak mu?” Tanya Jinnu.

Yuni tersenyum padanya, “Tentu saja…kakak.” Berlagak centil dihadapan Eugene.

Adik ku sendiri mengkhianati ku. Jika aku berpaling pada Sean untuk minta pembelaan…yang dibela pasti adik ku, diancam dengan pedang di lehernya pun pasti dia akan tetap membela adik ku—mati aku!

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku segera meraihnya karena nada dering untuk Daniel berbeda, aku terpaksa harus menggantinya karena takut aku lupa tentang urusan ku dengannya soal pemilik kartu ujian itu.

“Halo?” aku membalikkan badan ku dari mereka berdua yang kini terdiam melihat ku.

“Aku sudah dapatkan orang itu. Dan setelah diselidiki anak perempuan itu tidak ada kaitannya dengan Ren, apa kau mau kesini?” Ucapnya di depan sebuah café tak jauh dari tempatnya mengintai anak yang dicari oleh Eugene.

“Oh, i-iya. Tunggu sebentar, aku naik ke kamar ku dulu.” Aku langsung beranjak dari ruang tamu untuk masuk ke kamar, lalu berbicara dengan Daniel.

“Tamu? Sean?”

“Kalau Sean bisa ku usir sejak tadi. Kau pasti terkejut?!”

“Siapa?”

“Seseorang yang paling tidak ku inginkan mengetahui hal yang ku bicarakan dengan mu.”

“JINNU? Oh my god! Kau sudah gila,ya??Bagaimana dia bisa ke tempat mu?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Apa yang kau dapat dari informan mu?”

“Anak itu ternyata memakai wig dan riasan wajah, anak buah ku sedikit kesulitan pada awalnya. Tapi itu nomor induk itu miliknya.”

“Wig dan riasan wajah?” Terpikir sejenak kalau anak perempuan itu mungkin saja si rambut punk yang berwarna-warni, ya. Itu dia!

“Kau mengenalnya?”

“Saat gerombolan anak perempuan itu menghajar ku di taman, memang ada anak yang sedikit eksentrik gayanya. Rambut gaya punk—mungkin bisa dibilang sedikit harajuku?” Ucap ku tidak yakin.

“Sama seperti yang dikatakan oleh anak buah ayah ku. Mungkin itu dia, kau bisa keluar kan? Maksud ku…anak buah ayah ku, ku suruh untuk mengintai dan menjaga dari jauh agar anak itu tidak kabur saat kita menangkapnya untuk diinterogasi. Akan sangat disayangkan kalau kau tidak bertanya langsung padanya, jika bukan Ren lalu siapa yang menyuruhnya menghajar mu?”

Aku ingin sekali langsung pergi menemui Daniel untuk mengintrogasi anak itu, tapi di rumah ada Jinnu yang bisa menangkap kegagapan ku. Dia harus ku usir terlebih dahulu, baru aku bisa menemuinya.

****

Sedikit merasa asing…Yuni dan Jinnu.

“Terima kasih.” Ucapnya pada Yuni.

“Karena aku sudah menolong mu agar tidak mengatakan kalau kau menyukai kakak ku?”

“Aku masih belum tahu apakah ini suka atau terbiasa?” Jinnu mendesah, sepertinya memang banyak kekhawatiran dalam hatinya.

“Bohong. Semua pria selalu berkata seperti itu. Inilah kenapa banyak wanita patah hati karena pria semacam diri mu, tahu? Terlalu memusingkan. Cinta ya, cinta. Benci ya,benci. Kau belum pernah jatuh cinta sebelumnya?”

“Cinta hanya mendatangkan kepahitan.”

“Jadi kau berusaha untuk mengendalikan pikiran mu agar tidak jatuh hati pada Eugene? Heh, kau harus meminum racunnya agar kau tahu apa racun itu bisa secara langsung membunuh mu atau secara perlahan menggerogoti tubuhmu hingga mati?” Ucap Yuni seperti berbicara pada sosok kakak yang diidamkannya dari Eugene—rupanya Jinnu bukan tipe pria yang berhati kejam, hanya saja dia terbiasa untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan dalam artian egois tapi benar-benar hidup seorang diri. Sudah saatnya dia membuka diri dan mungkin Eugene adalah langkah awal baginya untuk lebih terbuka, itulah yang dipikirkan Yuni ketika melihatnya.

Yuni menepuk bahunya, mencoba menenangkan kegalauan saat dia memberanikan diri untuk datang ke rumah menemui Eugene dengan kesungguhan hatinya. “Jinnu…terkadang ada racun yang hanya membunuh sifat yang ingin kau buang, misalnya kepahitan yang kau alami itu. Dan kau juga tahu kepahitan Eugene kan? Tentang Ren, Vynette dan juga Judo. Pikirkan itu, Romeo?”

Tiba-tiba saja Jinnu seperti merasa terkesan dengan segala apa yang diucapkan yuni padanya.“Jika kau tertarik jadi psikolog, aku bisa kenalkan teman ayah tiri ku padamu. Dia dosen di universitas ternama.”

Mendengar racauannya itu, Yuni hanya menggelengkan kepala. “Kau sebenarnya mau buat apa?”

“Pancake. Aku sudah beli bahan-bahannya…”

“Sebanyak itu?! Memangnya mau buka toko pancake apa?”

“Aku belum pernah buat, jadi aku hanya beli apa yang dijabarkan di internet.”

Yuni masuk kembali ke dapur, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam rak atas dekat bak cuci piring. Tepung siap jadi untuk adonan Pancake.

“Ini…ambil. Rasanya hampir sama dengan pancake yang dibuat di T&J.” Yuni menyodorkan benda itu kepadanya. Jinnu mengambilnya dan memeriksa dengan seksama nama bahan-bahan utama dan juga tambahannya.

“Kau boleh pakai dapurnya sesuka mu, asal jangan kau hancurkan. Anggap saja ini juga sebuah bantuan kecil dari ku untuk mendapatkan Eugene…” Ujar Yuni tersenyum padanya.

“Andaikan saja anak gadis yang ku kenal sejak kecil bisa bersikap seperti mu, mungkin aku masih bisa menganggapnya benar-benar seperti adik kandungku.” Renungnya.

“Kalau kau bisa bicara santai seperti ini pada kakak ku, mungkin dia bisa mengerti apa yang kau perlukan? Eugene tidak seperti apa yang kau bayangkan, dia dulu sangat bisa ku andalkan. Namun setelah kejadian tentang Vynette, dia mengurung diri selama 1 minggu dikamarnya. Makan dan minum jika dia lapar atau haus, itu pun tidak banyak. Setelah itu, yang keluar dari kamar bukanlah Eugene yang ku kenal, melainkan seorang monster yang tidak banyak bicara, pandangannya kosong. Lalu, Sean datang untuk mencoba menolongnya dari keputusasaan. Mereka berdua bertanding di dojo, Eugene kalah…” Suara Yuni sedikit serak karena ingin menangisi keadaan kakaknya waktu itu. Jinnu pun mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama.

“Pada awalnya aku mencoba mencegah Sean menghajar Eugene, tapi Sean bilang…” Yuni mengingat jelas kejadian itu. Sean menyeret Eugene tanpa perlawanan sama sekali masuk ke dalam dojo di sekolah, Yuni berlari mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Sean. Jika terkejar maka Yuni memukuli punggung Sean dengan keras sambil berteriak-teriak meminta agar dia melepaskan kakaknya sambil menangis. Tapi Sean tidak bergeming. Dia tetap saja menyeret Eugene sampai masuk ke dalam.

“Dia, mau tidak mau harus bangun dari mimpi buruk itu dengan segera!” Ucapnya penuh amarah sambil membanting Eugene ke matras. Eugene memekik kesakitan dan terbatuk, ia mencoba untuk bangun tapi serasa dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi tenaga.

“Coba kau lihat dia?Apa kau mau membiarkan hidupnya berjalan layaknya sesosok zombie, yang terus hidup tapi tidak bisa merasakan perasaan apapun hingga dia mati, begitu?!” Bentaknya pada Yuni.

Yuni memohon pada Sean sambil terisak-isak dihadapannya. “Meskipun begitu, kau tidak boleh menyakitinya, Sean…aku mohon jangan pukuli kakak ku. Dia sudah cukup menderita karena Vynette! Aku mohoooon, Sean…” Sean menarik lengan Yuni dan memeluknya erat.Dengan suara yang begitu hangat, Sean berucap. “Kalau kau tidak sanggup melihat dan mendengar…” Sean memakaikan earphone mp3-nya ke telinga Yuni. “Tutup mata mu…ada 86 lagu di situ. Semuanya akan selesai sampai track ke 30…aku janji.”

Dia pikir aku ini bodoh, mau mendengarkan kata-katanya…aku tidak menutup mata ku meskipun track pertama dimulai…lagu berjudul The Blower’s Daughter yang dinyanyikan oleh Damien Rice secara akustik mengiringi kesedihan kakak ku.

And so it is
Just like you said it would be
Life goes easy on me
Most of the time
And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her sky

I can’t take my eyes off of you

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time
And so it is
The colder water
The blower’s daughter
The pupil in denial

I can’t take my eyes off of you

Did I say that I loathe you?
Did I say that I want to
Leave it all behind?

I can’t take my mind off you
I can’t take my mind…
My mind…my mind…
‘Til I find somebody new

Terasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak setelah mendengar kisah versi Yuni tentang Eugene. Karena tidak tahu bagaimana menenangkan Yuni, dia merogoh kantong jaketnya untuk mengambil permen loli kesukaannya.

“Ini…’ menyodorkannya pada Yuni. Yuni mengambil permen itu dan langsung membuka bungkusnya, kemudian mengulumnya.

“Ahhhhh…Eugene memang bodoh!” keluhnya sambil tertawa kecil.

“Iya….benar-benar bodoh.”  Kebodohan yang membuatku merasakan sesuatu yang indah, yang tidak bisa ku lihat atau ku sentuh. Tapi hanya bisa ku rasakan dengan hati ku. Jinnu menaruh tangan kanannya tepat dimana jantungnya berada…Kepakan sayap pertama ku…Selanjutnya…Aku mungkin benar-benar jatuh cinta pada si gadis gila itu.

To be continued….

One Sweet Punch![21st Punch]

Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

Chapter 21

Aku sedang menunggu kabar dari Daniel tentang pemilik kartu siswa yang ku temukan saat perkelahian itu di rumah, Yuni sedikit merasa aneh ketika aku tidak makan dengan lahap seperti biasanya—cih, kenapa jalan hidup ku menjadi runyam seperti ini? Jika aku tidak mengenal olahraga Judo dan mengambil olahraga lain seperti Badminton, Basket, atau Baseball mungkin ceritanya akan lain?!

Julius Caesar pernah berkata, “Jika kau menginginkan kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang.” Demi mendapatkan ketenangan jiwa, kalau kali ini dampak yang akan ku terima jauh lebih buruk dari dugaan ku, maka yang harus terjadi—terjadilah.

Yuni yang datang dari arah dapur, mengeluh tentang hari-harinya yang membosankan sambil membawa sekotak es krim coklat kesukaannya, kemudian menyodorkan sendok kecil ke arah ku yang sedang melihat ke arah televisi. Di duduk di sofa sebelahku sambil menaikan kedua kakinya seperti kucing yang kedinginan. Dia melihat kearah ku yang sepertinya tidak konsen melihat sinetron yang sering kami berdua hujat-hujat hingga terpingkal-pingkal jika ada adegan tidak masuk akal.

“Kau kenapa lagi? Si burung unta mencari masalah lagi dengan mu? Atau soal adiknya Vynette?” Tapi aku tetap tidak menyahuti pertanyaannya. Ku pikir yang kurang ajar di rumah ini hanya aku, tapi anak itu benar-benar melebihi kemampuanku dalam teknik interogasi. Kaki kanannya menepuk-nepuk pipiku keras.

“Woiiii…kalau ayam bengong bisa bertelur, kau yang bengong malah aku jadi khawatir!”

“Jauhkan kaki mu dari wajahku!”

“Habis…tadi ku tanya serius, kau malah diam saja. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Tidak ada apa-apa…”

“Benar kah? Sebagai adikmu aku benar-benar khawatir terhadapmu, Eugene. Sebaiknya kau katakan pada ku tentang  masalah yang menggangumu?”

Aku mengalihkan pembicaraan, kali ini tentang dirinya.

“Selama ini sepertinya kau membesarkan diri mu sendiri, ya? Aku benar-benar seorang kakak yang buruk. Semenjak ayah dan ibu berangkat ke Jerman, bukan aku yang harus menjaga mu selama mereka pergi, tapi kau yang menjaga ku lebih dari apapun—terlebih lagi soal tutup mulut tentang luka-luka yang ku alami sehabis berkelahi…”

“Aku tahu itu, kau memang kakak yang egois. Ayah dan ibu tidak punya sifat buruk seperti itu—entah sifat itu menurun dari siapa?…Tapi, sifat seperti itulah yang membuat ku iri. Meskipun aku punya sedikit sifat memberontak, tapi tetap saja aku tidak bisa keluar dari zona nyaman ku. Tapi kau, kak. Sekali saja kau membuka mulut dan bicara tentang betapa kuatnya lawan mu di pertandingan, atau betapa kau ingin memotong-motong tubuh Sean dalam imajinasi liar mu, yang bisa ku katakan pada diriku sendiri—wah, kakak ku sungguh sangat keren.”

“Aku tidak tahu kalau kau menganggap ku keren?” Aku dibuat malu olehnya.

“Apa kau ingat, kau pernah berkata seperti ini dulu saat kau jadi juara divisi 3 kejuaraan Judo Piala Walikota dalam pidato singkat mu, ‘Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, benar atau salah itu adalah sebuah momen yang kau raih untuk belajar menjadi sempurna.’ Dan Eugene…berjanjilah padaku untuk tidak terluka. Mengerti?”

Aku hanya diam ketika dia mengatakan hal tersebut padaku, padahal aku sendiri lupa kalau aku pernah berpidato dan menjadi juara karena Judo.

“Tadi kau bertanya soal apa?”

******

Jinnu mulai tidak sabar menunggu antrian panjang di stand Waffle T&J yang entah kenapa malam ini laku keras dari malam-malam sebelumnya? Jika bukan karena napsu makan kakak dan juga ayah tirinya yang mirip Godzilla, mana mau dia disuruh-suruh dan berdiam diri mengantri seperti ini.

Di depan tempatnya mengantri, ada dua orang pemuda yang juga sama dengannya menunggu antrian panjang di T&J. Mereka berdua tengah asik berbincang-bincang tentang bagaimana cara temannya yang berkacamata itu bisa menggaet pacarnya yang sekarang? Jinnu awalnya tidak peduli dengan semua itu, namun setelah mencuri dengar sedikit, kisah cinta pemuda berkacamata yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darinya terdengar sama—mengalami dilema yang jika diungkapkan dengan kata-kata, menjadi seperti ini, ‘Aku tidak yakin dengan perasaan ku terhadap dirinya, hanya seperti ditarik untuk selalu berjalan ke arahnya.’ Ya, seperti itulah Eugene memutar balikkan dunianya. Dia pun penasaran bagaimana pemuda itu mendapatkan si gadis?

Hal itu wajar saja, karena selama ini mana ada Jinnu terlihat memuja seorang gadis?! Bahkan ketika masih kecil pun, saat dia pindah ke rumah Tei dan bersekolah di sekolah dasar yang sama, kepopulerannya mengalahkan kepopuleran Tei. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Jinnu? Si pemuda yang bisa melakukan segalanya jika dia menginginkan apa yang diinginkan olehnya.

Kemudian si pemuda berkacamata itu menjawabnya, ”Aku sudah berfikir keras dan hal itu sudah ada di dalam kepala ku hingga tidak bisa tidur dibuatnya. Lalu, ku lakukan saja apa yang hati ku ingin lakukan. Kau tahukan kalau dia itu bukan gadis sembarangan? Semenjak berteman dengannya, aku baru sadar kalau aku begitu menyukainya…Aku tidak peduli ketika semua orang bilang ‘dia tidak begitu cantik, kepribadiannya aneh, aku benci rambut ikalnya yang seperti sarang burung’ atau ‘cara tertawanya yang terdengar seperti orang mendengkur’ yang ku tahu jika aku melewatkan kesempatan untuk mengakui perasaan ku, pasti ada orang lain selain aku yang berhasil mencari sesuatu dari dirinya yang sempurna dibalik ketidak sempurnaannya—jadi aku ambil inisiatif, di malam sebelum ujian dimulai aku datang ke rumahnya.”

“Waah, benarkah? Lalu…lalu?”

“Lalu ku bilang ‘Apa aku bisa pinjam printer mu?’” Mendengar ucapan pemuda berkacamata itu yang biasa saja, si teman dan juga Jinnu merasa kecewa.

“Tenaaang, aku masih belum selesai bicara…” pemuda berkacamata meneruskan ceritanya, “ Aku sudah memikirkan berbagai macam jawaban jika dia bertanya padaku kenapa aku ingin pinjam printernya? Dalam otak ku sudah terekam ‘tinta ku habis dan toko komputer sudah tutup’. Aku kaget setengah mati ketika mellihat dia yang membukakan pintu, dan ketika dia bilang ‘tentu, pakai saja sesuka mu.’ Aku mulai memutar otak untuk mencari cara agar bisa dekat dengannya. Dan ketika ada momen yang tepat, aku mengungkapkan perasaanku padanya, dan dia mau menjadi pacarku.”

“Hahaha…bisa juga kau nekat seperti itu?!”

“Untuk bisa mempercayakan hati ku pada gadis seperti itu, memang dibutuhkan sebuah keberanian. Dan kini aku tidak menyesal sudah melakukannya!”

Semudah itukan melakukan apa yang hatimu inginkan? Gumannya dalam hati setelah selesai mendengarkan perkataan pemuda berkacamata tersebut. Seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan, dia keluar dari antrian dan menuju ke sebuah supermarket tidak jauh dari stand Waffle T&J untuk membeli sekotak bahan Waffle instant dari situ berikut bahan tambahannya. Dengan begitu, Jinnu punya alasan kenapa dia ingin berada di rumah Eugene malam ini?

****

Sesudah kami makan es krim coklat itu, Yuni mengeluarkan biskuit keluaran terbaru yang katanya lumayan enak—dan aku sangat heran padanya? Jika aku makan berlebihan pada malam hari, maka dijamin tubuhku pasti akan semakin gemuk, tapi bocah tengik itu malah tidak bertambah ke samping menjadi gemuk, melainkan bertambah tinggi. Oh, demi Neptunus! Kenapa sifat genetik yang bagus selalu ada padanya padahal aku ini yang diciptakan pertama kali?

Kami berdua dikagetkan dengan suara dering bel, Yuni malas membuka pintu jadi dia menyuruhku membukakan pintu untuknya. Dengan langkah setengah diseret, aku membukakan pintu perlahan dan terkejut mendapatkan si burung unta tengah berdiri di depan pintu rumahku.

“Ssedang apa kau di sini?” Aku tergagap.

Jinnu mengangkat tangan kanannya yang membawa sekantong belanjaan. Yuni bangun dari duduknya mencari tahu siapa tamu yang datang di malam hari seperti ini? Dia baru tahu kalau Jinnu lebih tampan dan juga punya tubuh lebih indah dari Tei…kalau saja kakaknya lebih memilih Tei daripada si burung unta itu, pasti dia akan meminta Eugene untuk mengenalkan Jinnu padanya. Tapi impian itu langung mengempis ketika kepalanya mulai mempertanyakan, untuk apa dia datang ke rumah mereka?

“Heh, aku tanya. Untuk apa kau datang kemari?”

“Ijinkan aku pakai dapurmu…”

“Hah??” Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Tiba-tiba Yuni mengatakan sesuatu, “Kenapa kau bengong saja, kak?” tatapan Yuni pada Jinnu mulai terlihat seperti dia sudah bisa membaca dengan jelas apa rencana Jinnu sebenarnya. Yuni berpura-pura tersenyum malu-malu pada Jinnu, dan senyumnya itu membuat Jinnu merasa berada di dalam pengawasan ayah Tei yang sok tahu semua hal yang terjadi pada dirinya. Yuni langsung berjalan ke arahnya dan menyenggol tubuh ku untuk mempersilakannya masuk ke dalam rumah, dengan senyum ramah malah anak itu membawakan belanjaannya dengan senang hati.

“Aduuh…anak itu. Heh, kau mau bawa anak itu kemana??” pekik ku seperti melihat seorang penculik sedang beraksi. Tapi reaksi Jinnu pada Yuni biasa saja, tidak seperti dia akan marah dan menelan adik ku itu bulat-bulat. Aku melipat tanganku dan mulai berfikir, jangan-jangan….”Jangan-jangan anak itu suka padaku?” guman ku.

“Nah, Jinnu…kau boleh pakai dapur kami semau mu.”

“Benarkah? Terimakasih…”

“Ohhh~tentu saja kau harus berterima kasih. Karena aku tahu apa yang kau rencanakan…”

“Mak-maksudmu apa?”

“Mmmm, dengar dari Sean…kau itu paling pintar atur strategi dan juga punya ekpresi wajah yang tidak menunjukan perasaan sedikit pun. Tapi apa ini?? malam-malam datang ke rumah si gadis gila hanya untuk–meminjam dapur. Ahaha…strategi mu terbaaaacaaa oleh ku dengan jelasnya seperti membaca sebuah buku komik, tenang saja. Aku akan membantu mu…kakak ipar. Tidak-tidak, masih terlalu jauh memanggil mu seperti itu karena otak kakak ku itu dangkal…”

“Kurang ajar sekali menyebut kakak mu berfikiran dangkal.”

“Eyyy…anggap saja ini pencerahan untuk mu. Kalau kau suka pada kakak ku, jangan bawa perasaannya pada jalan yang tidak pasti. Ibarat Baseball, sekarang dia masih ada di base pertama. Menunggu mu untuk sebuah pukulan Home Run…asal kau tahu saja, tidak semua pemain seperti mu bisa punya kesempatan seperti itu–yang kau lakukan dari pertama itu bunt, dan hanya membuatnya berlari dengan keras dari base ke base. Mengerti?”

“Bunt?”

“Iya. Bunt…”

“Dan itu semua hanya akan membuatnya kelelahan dan dikeluarkan dari lapangan.”

“Dan untuk apa kau mengatakan semua hal itu padaku?”

“Dalam situasi saat ini, yang kurang beruntung itu kau. Bagi ku kau terlihat seperti seseorang yang punya cinta tapi bertepuk sebelah tangan…”

Situasi yang aneh…kenapa Yuni menghentikan perkataannya saat aku masuk ke dapur? Jinnu melihat ku dengan pandangan yang lain…pandangan yang lebih hangat tapi kelelahan.

“Baseball pantat mu.” Jinnu berjalan dan memungut kerah baju belakang adik ku seperti dia memungut seekor kucing liar. Setengah berjingkit, Yuni berjalan dengan tampang bodoh bersamanya ke ruang tamu melewati ku.

“Kakaknya membuat ku melakukan hal bodoh…dan adiknya…lebih menakutkan dari ayah Tei.” Gumannya pada ‘kucing liar’ yang tidak berusaha melarikan diri itu. Ini semua bagaikan Gol Bunuh Diri. Dan Yuni tersenyum puas karena apa yang dikatakannya tadi itu benar. Bwuahahahahahaa!

to be continued…

Bahasa Korea # 3 [Dasar]

 

 

Jawaban buat Finny yang tanya soal gimana nulis hangul…smoga ini adalah jawabannya….

Semua kata dalam bahasa Korea terdiri dari suku kata, yang mengikuti aturan-aturan dasar sebagai berikut;

1. sebuah suku kata dimulai dengan konsonan
2. suku kata setidaknya terdiri dari satu konsonan dan satu vokal

Contoh : ㅎ(h)+ ㅏ(a) = 하 (ha)ㄴ(n)+ ㅏ(a) = 나 (na)

kalau disatuin tulisannya jadi, 하나 (hana) yang berarti ‘satu’. Yang musti diingat selalu K+V (konsonan + vokal)

Contoh lainnya:

ㄱ(g)+ ㅏ(a)= 가(ga)

ㄷ(d)+ ㅏ(a)= 다(da)

=>가다 (gada)= Pergi

ㅈ(j)+ㅏ(a) = 자(ja)

ㄷ(d)+ ㅏ(a)= 다(da)

=> 자다 (jada)= tidur

untuk 3 suku kata <span>K+V+K</span>

contoh:

ㅊ(ch)+ㅏ(a)+ㅁ(m) = 참 (cham) = sangat

ㅈ(j)+ㅏ(a)+ㅇ(ng) = 장 (jang) = satuan untuk mengukur kertas/helai

Konsonan ———-

Ketika menulis huruf konsonan (자음,jaeum) aturan umumnya, garis pertama dimulai dari sudut kiri atas turun ke bawah, garis horisontal paling atas biasanya duluan dibuat, kemudian di ikuti oleh garis vertikal untuk huruf apapun.

untuk penulisan huruf ganda semisal ‘ㅃ’ dan ‘ㅉ’ cukup tulis huruf yang sama dua kali dengan tata cara penulisan garis yang sama dengan yang diatas. Biasanya kalo udah mahir nulis, setiap individu punya gaya sendiri bikin short-cut dari aturan yang berlaku mengenai cara penulisan garisnya.

 

 

Vokal ——-

 

Untuk penulisan garis huruf vokal (모음, moeum) aturan umumnya garis dibuat dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah. Jika ada huruf double garis horisontal dan vertikal, maka garis horisontal yang pertama dibuat.

 

 

 

Gimana jawabannya? Smoga bisa dimengerti ya ^___^…penjelasan itu dicopas dari detik forum terus dicopas lagi ke note fb pribadi pas lagi getol-getolnya belajar bahasa Korea dulu di forum itu~hehehe…

Uji coba kue bolu~kekekeke

Mei coba-coba bikin kue yang diajarin sama atasan minggu lalu~kekeke…entah bener, entah nggak soalnya minggu lalu di masukin ke cup sih, jadi rasanya agak beda.

But thank you, maam atas ilmunya. jangan kapok ngajarin ya!


hehehehe….enak <3<3…cuman kayaknya pas mixer telor sama gula, kelamaan deh…soalnya pas masukin tepung sama mentega n sehabis di panggang sedikit agak fluffy~terlalu ngembang. Padahal gak pake TBM atau semacemnya. But I’m glad I’ve made it with out my mom’s help! kekekek….

Woongie~ppa

Yup…it’s Uhm Tae Woong!!

Ya ampuun…udah berapa lama ya gw lupain variety show yang gw suka banget?? Ok, my mistake. Gara-gara ada variety show tentang Baseball tahun lalu, makanya jarang banget gw tongkrongin lagi. Meskipun ada ade gw Popular guy Lee Seung Gi gw malah milih Dong-ho sama Kim Bum (T__T)…but NOW!! Ada oppa Tae Woong. Woooooong~aaaaaaaaaaa (^______^) bukan Gumiho ya….dengan masuknya ‘si random’ Uhm Tae Woong di tim 1 Night 2 Days…bikin gw balik lagi nongkrongin variety show super kocak ini. Gak dari pas dia baru ikutan sih, gw mulai dari episode yang bareng sama aktris-aktris papan atas Korea itu.

Late it’s better than never…so, gw balik lagi ke akar variety show tergokil ini lagi (^__^)v

Pengen Kal Gook Sooo~~nyamnyamnyaaaaaam…

Udah lama gak bikin Kal Gook Soo…biasanya gw bikin gak pedes kayak foto diatas….cara bikinnya sih gampang…tepung di ayak terus diulenin pake aer sampe jadi adonan bulet.

terus ditipisin kyk gitu, lalu dipotong-potong pake pisau…kan, namanya juga Kal[pisau] gook soo…hehehe…semua ini gara-gara liat 1 Night 2 Days: Premium Actor Special Outing, koq bisa ya…makanan sederhana jadi terasa istimewa gara-gara mereka????Dulu juga gw pengen bikin Heotteok gara2 1 Night 2 days<3<3<3<3

karena gue suka pedes…oke juga ya klo gw grind cabe merah terus masukin di kuah ayamnya sampe merah banget~~sluuurpy!!

cred pic.dramabeans.

*shakes head* Ji-wooon aaa…Squid kalgooksoo latte???WTF???Wkwkwkwkw…..

Abis dari warnet [nunggu donlotan 1 Night 2 Days] gw langsung ke pasar beli daging ayam, beli tepung de el el~~~~~petualangan kuliner gw sejak 2 hari lalu diawali sama Mie Aceh yang top banget pedesnya[rempah2nya oke banget], lalu kemaren pas diacara keluarga peringatan 3 Tahun meninggalnya tante gw…ada ayam mercon yang mantep juga bumbu pedesnya…dan sekarang saatnya diakhiri dengan Kalgooksoo pedes.

Hahaha…me and my taste~kekeke…padahal gara-gara Mie Aceh udah sakit perut masih juga makan pedes. Well, selama hayat masih dikandung badan~makaaaaaaaaaaan aja, ya gak??hahaha…

 

 

Dong Yi

Gak diragukan lagi setelah demam Queen Seondeok, sekarang ada demam baru bagi pecinta serial kolosal dari negeri Ginseng tersebut yaitu Dong Yi ‘Water Maid’. Karena gue sendiri masih kepotong-potong nontonnya karena via TV swasta~sooooo rada gak ngerti jalan ceritanya gimana. Wkwkwkw…..I’mma gonna buy my fav. K-drama series kayak Best Love, Lie To Me dan nunggu satu lagi Romance Town beredar di lapak kesayangan gue. Dan tentunya Dong Yi~ ~ Jin Ji Hee looks cute as King Sukjong of Joseon.

Dan tentunya…sebagai mana kalian ketahui[readers] kalo gue udah masang foto beginian, pastinya bakalan nulis tentang sejarahnya. Well, gak banyak orang tahu tentang kiprah dayang Dong Yi di istana sebelum dia jadi Selir Raja Sukjong. Terpilihnya Dong Yi oleh Raja Sukjeong karena pada suatu malam, Dong Yi sedang berdoa di depan tempat kamar Ratu Inhyeon untuk kesembuhannya. Saat itu Raja Sukjong baru saja kembali dari perjalanannya melihat-lihat istana, setelah melihat dan mendengar, lalu tergugah karena kebaikannya, maka Dong Yi dijadikannya seorang selir. Dalam drama memang difokuskan tentang kiprah Dong Yi dari kecil hingga jadi Selir Raja di Joseon Era, sama seperti halnya Dae Jang-Geum –peranan Dong Yi  cukup besar sebagai Selir Joseon yang dikenal orang, seperti Seondeok dengan dibangunannya Cheomseongdae. Dong Yi melahirkan seseorang yang nantinya menjadi Raja Jeoseon, yaitu Raja Yeongjo[Pangeran Yeoning]–yang melahirkan insiden kelam ketika memerintah, ia dengan tidak sengaja menyebabkan putera mahkota[anaknya sendiri] meninggal dunia. Putera mahkota itu bernama Sado–yang dibilang punya penyakit kejiwaan[suka membunuh orang secara random dilingkungan istana, dan penyimpangan seksual ]. Karena malu, Yeongjo menyuruhnya masuk ke dalam sebuah kotak tanpa makan dan minum untuk menghukumnya, tapi hukumanya itu menyebabkan Sado meninggal pada hari kedelapan. Dan buat temen yang nanya soal YI SAN atau Raja Jeongjo kemaren2 di blog gue, nah– Bapaknya Yi-san tuh Putera mahkota Sado. Secara kebetulan gw nemu excerpt buat yang penasaran tentang Crown Prince Sado baca aja memoir yang ditulis sama istri nya yang bernama Lady Hyegyeong.


Phewww *lap keringet* baca excerpt-nya aja sedikit banyak gw jadi tau apa yang terjadi saat itu dari narasi yang ditulis oleh Lady Hyegyeong. Btw…berarti kali ini gw nulis satu post tapi isinya 3 ya? Tentang Dong Yi, Yi San[yang kematiannya juga menyimpan misteri], dan Sado. Tapi kisah Crown Prince Sado mulai menggelitik otak gue buat investigasi…tapi sialnya gue bukan seorang sejarawan *jedot-jedot kepala* –pertanyaan gw, Crown Prince Sado: Sakit  Jiwa atau Konspirasi politik di lingkungan istana? Menurut Lady Hyegyeong, meskipun dia tahu kalau ada campur tangan  politik dalam insiden tersebut, tapi pangkal dari masalah itu adalah konflik pribadi antara ayah dan anak.

Okay~~that’s it for today!! Keep smilling people ^__________^ Have a nice day!!