One Sweet Punch![21st Punch]


Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

Chapter 21

Aku sedang menunggu kabar dari Daniel tentang pemilik kartu siswa yang ku temukan saat perkelahian itu di rumah, Yuni sedikit merasa aneh ketika aku tidak makan dengan lahap seperti biasanya—cih, kenapa jalan hidup ku menjadi runyam seperti ini? Jika aku tidak mengenal olahraga Judo dan mengambil olahraga lain seperti Badminton, Basket, atau Baseball mungkin ceritanya akan lain?!

Julius Caesar pernah berkata, “Jika kau menginginkan kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang.” Demi mendapatkan ketenangan jiwa, kalau kali ini dampak yang akan ku terima jauh lebih buruk dari dugaan ku, maka yang harus terjadi—terjadilah.

Yuni yang datang dari arah dapur, mengeluh tentang hari-harinya yang membosankan sambil membawa sekotak es krim coklat kesukaannya, kemudian menyodorkan sendok kecil ke arah ku yang sedang melihat ke arah televisi. Di duduk di sofa sebelahku sambil menaikan kedua kakinya seperti kucing yang kedinginan. Dia melihat kearah ku yang sepertinya tidak konsen melihat sinetron yang sering kami berdua hujat-hujat hingga terpingkal-pingkal jika ada adegan tidak masuk akal.

“Kau kenapa lagi? Si burung unta mencari masalah lagi dengan mu? Atau soal adiknya Vynette?” Tapi aku tetap tidak menyahuti pertanyaannya. Ku pikir yang kurang ajar di rumah ini hanya aku, tapi anak itu benar-benar melebihi kemampuanku dalam teknik interogasi. Kaki kanannya menepuk-nepuk pipiku keras.

“Woiiii…kalau ayam bengong bisa bertelur, kau yang bengong malah aku jadi khawatir!”

“Jauhkan kaki mu dari wajahku!”

“Habis…tadi ku tanya serius, kau malah diam saja. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Tidak ada apa-apa…”

“Benar kah? Sebagai adikmu aku benar-benar khawatir terhadapmu, Eugene. Sebaiknya kau katakan pada ku tentang  masalah yang menggangumu?”

Aku mengalihkan pembicaraan, kali ini tentang dirinya.

“Selama ini sepertinya kau membesarkan diri mu sendiri, ya? Aku benar-benar seorang kakak yang buruk. Semenjak ayah dan ibu berangkat ke Jerman, bukan aku yang harus menjaga mu selama mereka pergi, tapi kau yang menjaga ku lebih dari apapun—terlebih lagi soal tutup mulut tentang luka-luka yang ku alami sehabis berkelahi…”

“Aku tahu itu, kau memang kakak yang egois. Ayah dan ibu tidak punya sifat buruk seperti itu—entah sifat itu menurun dari siapa?…Tapi, sifat seperti itulah yang membuat ku iri. Meskipun aku punya sedikit sifat memberontak, tapi tetap saja aku tidak bisa keluar dari zona nyaman ku. Tapi kau, kak. Sekali saja kau membuka mulut dan bicara tentang betapa kuatnya lawan mu di pertandingan, atau betapa kau ingin memotong-motong tubuh Sean dalam imajinasi liar mu, yang bisa ku katakan pada diriku sendiri—wah, kakak ku sungguh sangat keren.”

“Aku tidak tahu kalau kau menganggap ku keren?” Aku dibuat malu olehnya.

“Apa kau ingat, kau pernah berkata seperti ini dulu saat kau jadi juara divisi 3 kejuaraan Judo Piala Walikota dalam pidato singkat mu, ‘Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, benar atau salah itu adalah sebuah momen yang kau raih untuk belajar menjadi sempurna.’ Dan Eugene…berjanjilah padaku untuk tidak terluka. Mengerti?”

Aku hanya diam ketika dia mengatakan hal tersebut padaku, padahal aku sendiri lupa kalau aku pernah berpidato dan menjadi juara karena Judo.

“Tadi kau bertanya soal apa?”

******

Jinnu mulai tidak sabar menunggu antrian panjang di stand Waffle T&J yang entah kenapa malam ini laku keras dari malam-malam sebelumnya? Jika bukan karena napsu makan kakak dan juga ayah tirinya yang mirip Godzilla, mana mau dia disuruh-suruh dan berdiam diri mengantri seperti ini.

Di depan tempatnya mengantri, ada dua orang pemuda yang juga sama dengannya menunggu antrian panjang di T&J. Mereka berdua tengah asik berbincang-bincang tentang bagaimana cara temannya yang berkacamata itu bisa menggaet pacarnya yang sekarang? Jinnu awalnya tidak peduli dengan semua itu, namun setelah mencuri dengar sedikit, kisah cinta pemuda berkacamata yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darinya terdengar sama—mengalami dilema yang jika diungkapkan dengan kata-kata, menjadi seperti ini, ‘Aku tidak yakin dengan perasaan ku terhadap dirinya, hanya seperti ditarik untuk selalu berjalan ke arahnya.’ Ya, seperti itulah Eugene memutar balikkan dunianya. Dia pun penasaran bagaimana pemuda itu mendapatkan si gadis?

Hal itu wajar saja, karena selama ini mana ada Jinnu terlihat memuja seorang gadis?! Bahkan ketika masih kecil pun, saat dia pindah ke rumah Tei dan bersekolah di sekolah dasar yang sama, kepopulerannya mengalahkan kepopuleran Tei. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Jinnu? Si pemuda yang bisa melakukan segalanya jika dia menginginkan apa yang diinginkan olehnya.

Kemudian si pemuda berkacamata itu menjawabnya, ”Aku sudah berfikir keras dan hal itu sudah ada di dalam kepala ku hingga tidak bisa tidur dibuatnya. Lalu, ku lakukan saja apa yang hati ku ingin lakukan. Kau tahukan kalau dia itu bukan gadis sembarangan? Semenjak berteman dengannya, aku baru sadar kalau aku begitu menyukainya…Aku tidak peduli ketika semua orang bilang ‘dia tidak begitu cantik, kepribadiannya aneh, aku benci rambut ikalnya yang seperti sarang burung’ atau ‘cara tertawanya yang terdengar seperti orang mendengkur’ yang ku tahu jika aku melewatkan kesempatan untuk mengakui perasaan ku, pasti ada orang lain selain aku yang berhasil mencari sesuatu dari dirinya yang sempurna dibalik ketidak sempurnaannya—jadi aku ambil inisiatif, di malam sebelum ujian dimulai aku datang ke rumahnya.”

“Waah, benarkah? Lalu…lalu?”

“Lalu ku bilang ‘Apa aku bisa pinjam printer mu?’” Mendengar ucapan pemuda berkacamata itu yang biasa saja, si teman dan juga Jinnu merasa kecewa.

“Tenaaang, aku masih belum selesai bicara…” pemuda berkacamata meneruskan ceritanya, “ Aku sudah memikirkan berbagai macam jawaban jika dia bertanya padaku kenapa aku ingin pinjam printernya? Dalam otak ku sudah terekam ‘tinta ku habis dan toko komputer sudah tutup’. Aku kaget setengah mati ketika mellihat dia yang membukakan pintu, dan ketika dia bilang ‘tentu, pakai saja sesuka mu.’ Aku mulai memutar otak untuk mencari cara agar bisa dekat dengannya. Dan ketika ada momen yang tepat, aku mengungkapkan perasaanku padanya, dan dia mau menjadi pacarku.”

“Hahaha…bisa juga kau nekat seperti itu?!”

“Untuk bisa mempercayakan hati ku pada gadis seperti itu, memang dibutuhkan sebuah keberanian. Dan kini aku tidak menyesal sudah melakukannya!”

Semudah itukan melakukan apa yang hatimu inginkan? Gumannya dalam hati setelah selesai mendengarkan perkataan pemuda berkacamata tersebut. Seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan, dia keluar dari antrian dan menuju ke sebuah supermarket tidak jauh dari stand Waffle T&J untuk membeli sekotak bahan Waffle instant dari situ berikut bahan tambahannya. Dengan begitu, Jinnu punya alasan kenapa dia ingin berada di rumah Eugene malam ini?

****

Sesudah kami makan es krim coklat itu, Yuni mengeluarkan biskuit keluaran terbaru yang katanya lumayan enak—dan aku sangat heran padanya? Jika aku makan berlebihan pada malam hari, maka dijamin tubuhku pasti akan semakin gemuk, tapi bocah tengik itu malah tidak bertambah ke samping menjadi gemuk, melainkan bertambah tinggi. Oh, demi Neptunus! Kenapa sifat genetik yang bagus selalu ada padanya padahal aku ini yang diciptakan pertama kali?

Kami berdua dikagetkan dengan suara dering bel, Yuni malas membuka pintu jadi dia menyuruhku membukakan pintu untuknya. Dengan langkah setengah diseret, aku membukakan pintu perlahan dan terkejut mendapatkan si burung unta tengah berdiri di depan pintu rumahku.

“Ssedang apa kau di sini?” Aku tergagap.

Jinnu mengangkat tangan kanannya yang membawa sekantong belanjaan. Yuni bangun dari duduknya mencari tahu siapa tamu yang datang di malam hari seperti ini? Dia baru tahu kalau Jinnu lebih tampan dan juga punya tubuh lebih indah dari Tei…kalau saja kakaknya lebih memilih Tei daripada si burung unta itu, pasti dia akan meminta Eugene untuk mengenalkan Jinnu padanya. Tapi impian itu langung mengempis ketika kepalanya mulai mempertanyakan, untuk apa dia datang ke rumah mereka?

“Heh, aku tanya. Untuk apa kau datang kemari?”

“Ijinkan aku pakai dapurmu…”

“Hah??” Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Tiba-tiba Yuni mengatakan sesuatu, “Kenapa kau bengong saja, kak?” tatapan Yuni pada Jinnu mulai terlihat seperti dia sudah bisa membaca dengan jelas apa rencana Jinnu sebenarnya. Yuni berpura-pura tersenyum malu-malu pada Jinnu, dan senyumnya itu membuat Jinnu merasa berada di dalam pengawasan ayah Tei yang sok tahu semua hal yang terjadi pada dirinya. Yuni langsung berjalan ke arahnya dan menyenggol tubuh ku untuk mempersilakannya masuk ke dalam rumah, dengan senyum ramah malah anak itu membawakan belanjaannya dengan senang hati.

“Aduuh…anak itu. Heh, kau mau bawa anak itu kemana??” pekik ku seperti melihat seorang penculik sedang beraksi. Tapi reaksi Jinnu pada Yuni biasa saja, tidak seperti dia akan marah dan menelan adik ku itu bulat-bulat. Aku melipat tanganku dan mulai berfikir, jangan-jangan….”Jangan-jangan anak itu suka padaku?” guman ku.

“Nah, Jinnu…kau boleh pakai dapur kami semau mu.”

“Benarkah? Terimakasih…”

“Ohhh~tentu saja kau harus berterima kasih. Karena aku tahu apa yang kau rencanakan…”

“Mak-maksudmu apa?”

“Mmmm, dengar dari Sean…kau itu paling pintar atur strategi dan juga punya ekpresi wajah yang tidak menunjukan perasaan sedikit pun. Tapi apa ini?? malam-malam datang ke rumah si gadis gila hanya untuk–meminjam dapur. Ahaha…strategi mu terbaaaacaaa oleh ku dengan jelasnya seperti membaca sebuah buku komik, tenang saja. Aku akan membantu mu…kakak ipar. Tidak-tidak, masih terlalu jauh memanggil mu seperti itu karena otak kakak ku itu dangkal…”

“Kurang ajar sekali menyebut kakak mu berfikiran dangkal.”

“Eyyy…anggap saja ini pencerahan untuk mu. Kalau kau suka pada kakak ku, jangan bawa perasaannya pada jalan yang tidak pasti. Ibarat Baseball, sekarang dia masih ada di base pertama. Menunggu mu untuk sebuah pukulan Home Run…asal kau tahu saja, tidak semua pemain seperti mu bisa punya kesempatan seperti itu–yang kau lakukan dari pertama itu bunt, dan hanya membuatnya berlari dengan keras dari base ke base. Mengerti?”

“Bunt?”

“Iya. Bunt…”

“Dan itu semua hanya akan membuatnya kelelahan dan dikeluarkan dari lapangan.”

“Dan untuk apa kau mengatakan semua hal itu padaku?”

“Dalam situasi saat ini, yang kurang beruntung itu kau. Bagi ku kau terlihat seperti seseorang yang punya cinta tapi bertepuk sebelah tangan…”

Situasi yang aneh…kenapa Yuni menghentikan perkataannya saat aku masuk ke dapur? Jinnu melihat ku dengan pandangan yang lain…pandangan yang lebih hangat tapi kelelahan.

“Baseball pantat mu.” Jinnu berjalan dan memungut kerah baju belakang adik ku seperti dia memungut seekor kucing liar. Setengah berjingkit, Yuni berjalan dengan tampang bodoh bersamanya ke ruang tamu melewati ku.

“Kakaknya membuat ku melakukan hal bodoh…dan adiknya…lebih menakutkan dari ayah Tei.” Gumannya pada ‘kucing liar’ yang tidak berusaha melarikan diri itu. Ini semua bagaikan Gol Bunuh Diri. Dan Yuni tersenyum puas karena apa yang dikatakannya tadi itu benar. Bwuahahahahahaa!

to be continued…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s