One Sweet Punch! [22th Punch]


Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

One Sweet punch!

Chapter 22

Daniel mendapatkan telpon dari orang suruhannya ketika sedang makan malam dengan orangtuanya di sebuah hotel. Dia kelihatan senang sekaligus tidak tenang dengan kabar yang disampaikan oleh orang suruhannya itu, ayahnya paling tidak suka kalau ada gangguan saat makan malam langsung memperingatkannya agar mematikan ponselnya.

“Cukup lakukan apa yang ku suruh. Akan ku telpon lagi nanti.” Dia mematikan ponselnya dengan segera.

Sang ayah mencurigai aksinya itu. “Apa kau melakukan sesuatu dibelakang ku, sampai-sampai memakai salah satu anak buah ku yang paling hebat untuk menemukan seseorang yang sangat ingin kau cari?”

Daniel hampir tersedak setelah mendengar pertanyaan ayahnya itu, “A-a-yah tahu?”

“Meskipun aku ingin sekali ikut campur dan ingin tahu alasan itu langsung dari mu, ayah ingin kau belajar dari tindak tanduk mu sendiri. Mengerti? Apa yang baik dan buruk—cari yang paling bagus diantara dua itu…dan satu lagi. Jangan sampai terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang memasukan mu ke rumah sakit bersama tim Power Ranger mu. Hah! Power Ranger…menjaga diri sendiri agar tidak kena pukul pun masih sulit, ini masih ingin menyelamatkan manusia.”

“Aku pun ingin minta bantuan ayah, tapi itu semua hanya akan membuatku malu. Ini urusan ku dan juga teman-teman…seperti yang ayah bilang tadi, aku berusaha mencari yang terbaik dari dalam diriku agar aku tidak seperti ayah.”

“Apa?! Apa yang baru kau ucapkan tadi?”

“Aku tidak ingin menjadi seperti ayah…aku ingin menjadi lebih baik dari ayah yang seorang mafia tapi berkedok pengusaha. Oleh karena itu aku rajin belajar agar aku bisa jadi seorang dokter, pengacara, arsitek, atau ahli IT tapi bukan mafia. Aku harap ayah tidak marah dengan ucapan ku ini.”

Ayahnya tersenyum gembira mendengar hal tersebut dari mulut anaknya yang dia kira jika sudah besar, dengan kelakuannya yang terlihat seperti anggota mafia punya mimpi lebih besar darinya.

*********

Kakaknya selalu membuat ku melakukan hal-hal bodoh, dan adiknya lebih menakutkan dari ayahnya Tei – Ini seperti Gol bunuh diri.

“Heh, Jinnu…apa kau suka padaku?” Dia sedikit terkejut ketika aku melontarkan pertanyaan itu ke mukanya.

“Kau ra-cun…mana mungkin aku meminum mu.” Tunjuknya tanpa berkedip. Waaah! Anak ini memang butuh dihajar. “Arrrrgghhh!!!” aku berteriak layaknya Kingkong yang marah karena ulah si burung unta yang sok flamboyant sengaja menebar paku hanya untuk ku injak.

Aku sudah mengepalkan kedua tanganku. Bara api pun sudah berkobar-kobar di kedua mataku, jika dia berani bersuara sekali lagi dan menekan harga diriku…kaki ku pasti langsung akan menendang bagian paling berharga miliknya!

“Kenapa kau mengepalkan tinju seperti itu? Kau sedang mempertontonkan ‘kekuatan super’ mu pada ku, ya?”

“Dasar mahkluk tengik…”

“Sudah hampir lima menit kau memelototi ku seperti itu. Sebaiknya kau istirahatkan mata mu, Eugene?”

“Kau tahu, mungkin ini saatnya kau dan aku menyelesaikan masalah kita. Kau masih ingat hutang mu pada ku kan?”

“Ah…tantangan itu?”

“Lebih baik kita selesaikan sekarang. Ayo keluar?”

“Keluar kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

Yuni segera mengambil ponselnya dan merekam adegan tersebut. Biasanya jika dua orang yang saling menyukai satu sama lain tapi masih berpura-pura, jika bertengar seperti ini salah satu dari mereka akan menjatuhkan sebuah bom yang akan membuat terkejut lawan bicaranya. Pikir Yuni.

“Apa kau bilang?”

“Aku bilang, kau mau ku ajak pergi kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

“Ini tentang tantangan itu bodoh!”

Kemudian, dengan ekspresi yang tidak bisa ku baca, antara tersenyum penuh kepuasaan tapi tatapannya seperti mencoba menggali sesuatu dalam diri ku yang membuat ku sedikit tersipu malu ketika dia mendekat pada ku. “Adik kecil…jam berapa sekarang?” Tanyanya pada Yuni.

“Hah?” Yuni masih bingung.

“Aku tanya…jam berapa sekarang?”

“Jam 7.45, kenapa?”

“Kau tidak punya jam malam kan?”

“Tidak…”

“Kalau begitu aku pinjam Eugene.”

“K-kau mau apa?”

“Aku berbohong datang kemari untuk meminjam dapurmu…cih, ayah dan anak itu pasti bisa bertahan tanpa makan pancake.” Aku tidak mengerti ucapannya, tapi menunggu untuk dia meneruskan perkataannya. “Aku kesini untuk memastikan apa aku punya pikiran yang jernih jika kau ada didekat ku?”

Pikiran jernih? Memangnya jika aku ada didekatnya, dia punya pikiran kotor tentang ku?? Iiihhh. Dasar burung unta maniak!!

“Menjijikan…memangnya kau pikir aku ini sama seperti gadis yang kau lihat di majalah porno?? Apa?? Kau tidak bisa berfikir jernih kalau ada aku?? Dasar maniak…bejat…Uuugh, menjauhlah dari ku.”

Yuni tidak kuat menahan dirinya untuk ikut campur. “Taman ria! Pergilah kalian ke taman ria…suasana disana bagus untuk bicara. Jika kalian ingin baku hantam…banyak permainan uji nyali di sana—bermainlah sampai kalian puas mengendalikan emosi.”

“Apa kau tidak dengar apa yang dikatakannya tadi? Dia…si burung unta ini menganggap ku ituuuu—kau tahukan?”

“Itu apa??? Jika tahu akhirnya begini…seharusnya dari dulu ku kenalkan seorang pria pada mu dan tahu apa itu cinta…cik cik cik.” Kini Jinnu yang melotot pada Yuni, takut ketahuan kalau dia suka pada Eugene tapi ingin kepastian kalau pilihannya itu benar. “Yang kakak ganteng ini maksud adalah…jika ada kakak di dekatnya dia selalu membenarkan apa yang seharusnya salah. Bukan begitu, kak Jinnu?” Yuni mencoba menutupi ketakutannya itu. “Coba kau bayangkan, kak? Ketika kau masuk rumah sakit dulu, sebelumnya kak Jinnu bilang ‘tunggu aku’ dan ‘cepat pergi, selamatkan dirimu’. Tapi kakak selalu melakukan kebalikannya. Kau selalu melompat kemana api berkobar, jadi mana bisa dia berfikir jernih? Bukannya dia memikirkan mu jadi wanita seperti itu…”

Aku terkejut, sepertinya ini baru pertama kali Yuni dan Jinnu bertemu. Tapi kenapa anak itu malah membelanya mati-matian?

“Yuni…kau itu adik ku atau bukan? Kenapa malah membela orang asing?”

“Orang asing ini korban mu, kak. Korban! Makanya aku mencoba untuk menyelamatkannya dari mu.”

“K-korban??”

Jinnu merasa senang ada satu orang yang berdiri dipihaknya. “Kau mau aku jadi kakak mu?” Tanya Jinnu.

Yuni tersenyum padanya, “Tentu saja…kakak.” Berlagak centil dihadapan Eugene.

Adik ku sendiri mengkhianati ku. Jika aku berpaling pada Sean untuk minta pembelaan…yang dibela pasti adik ku, diancam dengan pedang di lehernya pun pasti dia akan tetap membela adik ku—mati aku!

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku segera meraihnya karena nada dering untuk Daniel berbeda, aku terpaksa harus menggantinya karena takut aku lupa tentang urusan ku dengannya soal pemilik kartu ujian itu.

“Halo?” aku membalikkan badan ku dari mereka berdua yang kini terdiam melihat ku.

“Aku sudah dapatkan orang itu. Dan setelah diselidiki anak perempuan itu tidak ada kaitannya dengan Ren, apa kau mau kesini?” Ucapnya di depan sebuah café tak jauh dari tempatnya mengintai anak yang dicari oleh Eugene.

“Oh, i-iya. Tunggu sebentar, aku naik ke kamar ku dulu.” Aku langsung beranjak dari ruang tamu untuk masuk ke kamar, lalu berbicara dengan Daniel.

“Tamu? Sean?”

“Kalau Sean bisa ku usir sejak tadi. Kau pasti terkejut?!”

“Siapa?”

“Seseorang yang paling tidak ku inginkan mengetahui hal yang ku bicarakan dengan mu.”

“JINNU? Oh my god! Kau sudah gila,ya??Bagaimana dia bisa ke tempat mu?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Apa yang kau dapat dari informan mu?”

“Anak itu ternyata memakai wig dan riasan wajah, anak buah ku sedikit kesulitan pada awalnya. Tapi itu nomor induk itu miliknya.”

“Wig dan riasan wajah?” Terpikir sejenak kalau anak perempuan itu mungkin saja si rambut punk yang berwarna-warni, ya. Itu dia!

“Kau mengenalnya?”

“Saat gerombolan anak perempuan itu menghajar ku di taman, memang ada anak yang sedikit eksentrik gayanya. Rambut gaya punk—mungkin bisa dibilang sedikit harajuku?” Ucap ku tidak yakin.

“Sama seperti yang dikatakan oleh anak buah ayah ku. Mungkin itu dia, kau bisa keluar kan? Maksud ku…anak buah ayah ku, ku suruh untuk mengintai dan menjaga dari jauh agar anak itu tidak kabur saat kita menangkapnya untuk diinterogasi. Akan sangat disayangkan kalau kau tidak bertanya langsung padanya, jika bukan Ren lalu siapa yang menyuruhnya menghajar mu?”

Aku ingin sekali langsung pergi menemui Daniel untuk mengintrogasi anak itu, tapi di rumah ada Jinnu yang bisa menangkap kegagapan ku. Dia harus ku usir terlebih dahulu, baru aku bisa menemuinya.

****

Sedikit merasa asing…Yuni dan Jinnu.

“Terima kasih.” Ucapnya pada Yuni.

“Karena aku sudah menolong mu agar tidak mengatakan kalau kau menyukai kakak ku?”

“Aku masih belum tahu apakah ini suka atau terbiasa?” Jinnu mendesah, sepertinya memang banyak kekhawatiran dalam hatinya.

“Bohong. Semua pria selalu berkata seperti itu. Inilah kenapa banyak wanita patah hati karena pria semacam diri mu, tahu? Terlalu memusingkan. Cinta ya, cinta. Benci ya,benci. Kau belum pernah jatuh cinta sebelumnya?”

“Cinta hanya mendatangkan kepahitan.”

“Jadi kau berusaha untuk mengendalikan pikiran mu agar tidak jatuh hati pada Eugene? Heh, kau harus meminum racunnya agar kau tahu apa racun itu bisa secara langsung membunuh mu atau secara perlahan menggerogoti tubuhmu hingga mati?” Ucap Yuni seperti berbicara pada sosok kakak yang diidamkannya dari Eugene—rupanya Jinnu bukan tipe pria yang berhati kejam, hanya saja dia terbiasa untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan dalam artian egois tapi benar-benar hidup seorang diri. Sudah saatnya dia membuka diri dan mungkin Eugene adalah langkah awal baginya untuk lebih terbuka, itulah yang dipikirkan Yuni ketika melihatnya.

Yuni menepuk bahunya, mencoba menenangkan kegalauan saat dia memberanikan diri untuk datang ke rumah menemui Eugene dengan kesungguhan hatinya. “Jinnu…terkadang ada racun yang hanya membunuh sifat yang ingin kau buang, misalnya kepahitan yang kau alami itu. Dan kau juga tahu kepahitan Eugene kan? Tentang Ren, Vynette dan juga Judo. Pikirkan itu, Romeo?”

Tiba-tiba saja Jinnu seperti merasa terkesan dengan segala apa yang diucapkan yuni padanya.“Jika kau tertarik jadi psikolog, aku bisa kenalkan teman ayah tiri ku padamu. Dia dosen di universitas ternama.”

Mendengar racauannya itu, Yuni hanya menggelengkan kepala. “Kau sebenarnya mau buat apa?”

“Pancake. Aku sudah beli bahan-bahannya…”

“Sebanyak itu?! Memangnya mau buka toko pancake apa?”

“Aku belum pernah buat, jadi aku hanya beli apa yang dijabarkan di internet.”

Yuni masuk kembali ke dapur, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam rak atas dekat bak cuci piring. Tepung siap jadi untuk adonan Pancake.

“Ini…ambil. Rasanya hampir sama dengan pancake yang dibuat di T&J.” Yuni menyodorkan benda itu kepadanya. Jinnu mengambilnya dan memeriksa dengan seksama nama bahan-bahan utama dan juga tambahannya.

“Kau boleh pakai dapurnya sesuka mu, asal jangan kau hancurkan. Anggap saja ini juga sebuah bantuan kecil dari ku untuk mendapatkan Eugene…” Ujar Yuni tersenyum padanya.

“Andaikan saja anak gadis yang ku kenal sejak kecil bisa bersikap seperti mu, mungkin aku masih bisa menganggapnya benar-benar seperti adik kandungku.” Renungnya.

“Kalau kau bisa bicara santai seperti ini pada kakak ku, mungkin dia bisa mengerti apa yang kau perlukan? Eugene tidak seperti apa yang kau bayangkan, dia dulu sangat bisa ku andalkan. Namun setelah kejadian tentang Vynette, dia mengurung diri selama 1 minggu dikamarnya. Makan dan minum jika dia lapar atau haus, itu pun tidak banyak. Setelah itu, yang keluar dari kamar bukanlah Eugene yang ku kenal, melainkan seorang monster yang tidak banyak bicara, pandangannya kosong. Lalu, Sean datang untuk mencoba menolongnya dari keputusasaan. Mereka berdua bertanding di dojo, Eugene kalah…” Suara Yuni sedikit serak karena ingin menangisi keadaan kakaknya waktu itu. Jinnu pun mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama.

“Pada awalnya aku mencoba mencegah Sean menghajar Eugene, tapi Sean bilang…” Yuni mengingat jelas kejadian itu. Sean menyeret Eugene tanpa perlawanan sama sekali masuk ke dalam dojo di sekolah, Yuni berlari mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Sean. Jika terkejar maka Yuni memukuli punggung Sean dengan keras sambil berteriak-teriak meminta agar dia melepaskan kakaknya sambil menangis. Tapi Sean tidak bergeming. Dia tetap saja menyeret Eugene sampai masuk ke dalam.

“Dia, mau tidak mau harus bangun dari mimpi buruk itu dengan segera!” Ucapnya penuh amarah sambil membanting Eugene ke matras. Eugene memekik kesakitan dan terbatuk, ia mencoba untuk bangun tapi serasa dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi tenaga.

“Coba kau lihat dia?Apa kau mau membiarkan hidupnya berjalan layaknya sesosok zombie, yang terus hidup tapi tidak bisa merasakan perasaan apapun hingga dia mati, begitu?!” Bentaknya pada Yuni.

Yuni memohon pada Sean sambil terisak-isak dihadapannya. “Meskipun begitu, kau tidak boleh menyakitinya, Sean…aku mohon jangan pukuli kakak ku. Dia sudah cukup menderita karena Vynette! Aku mohoooon, Sean…” Sean menarik lengan Yuni dan memeluknya erat.Dengan suara yang begitu hangat, Sean berucap. “Kalau kau tidak sanggup melihat dan mendengar…” Sean memakaikan earphone mp3-nya ke telinga Yuni. “Tutup mata mu…ada 86 lagu di situ. Semuanya akan selesai sampai track ke 30…aku janji.”

Dia pikir aku ini bodoh, mau mendengarkan kata-katanya…aku tidak menutup mata ku meskipun track pertama dimulai…lagu berjudul The Blower’s Daughter yang dinyanyikan oleh Damien Rice secara akustik mengiringi kesedihan kakak ku.

And so it is
Just like you said it would be
Life goes easy on me
Most of the time
And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her sky

I can’t take my eyes off of you

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time
And so it is
The colder water
The blower’s daughter
The pupil in denial

I can’t take my eyes off of you

Did I say that I loathe you?
Did I say that I want to
Leave it all behind?

I can’t take my mind off you
I can’t take my mind…
My mind…my mind…
‘Til I find somebody new

Terasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak setelah mendengar kisah versi Yuni tentang Eugene. Karena tidak tahu bagaimana menenangkan Yuni, dia merogoh kantong jaketnya untuk mengambil permen loli kesukaannya.

“Ini…’ menyodorkannya pada Yuni. Yuni mengambil permen itu dan langsung membuka bungkusnya, kemudian mengulumnya.

“Ahhhhh…Eugene memang bodoh!” keluhnya sambil tertawa kecil.

“Iya….benar-benar bodoh.”  Kebodohan yang membuatku merasakan sesuatu yang indah, yang tidak bisa ku lihat atau ku sentuh. Tapi hanya bisa ku rasakan dengan hati ku. Jinnu menaruh tangan kanannya tepat dimana jantungnya berada…Kepakan sayap pertama ku…Selanjutnya…Aku mungkin benar-benar jatuh cinta pada si gadis gila itu.

To be continued….

One thought on “One Sweet Punch! [22th Punch]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s