Yang punya blog lagi galauuuu

Yup…makanya bikin sweet’s ala Korea. Danppatjuk! Ato Red Bean porridge bahasa kerennya….hahahaha!

Bahan dasarnya dari kacang merah, cara masaknya sama kayak mau bikin bubur kacang ijo yang dimasak dengan gula merah, tambahannya bisa dikasih bubuk kayu manis supaya lebih harum. It so~ simple, anyone can make it! Huhah! ^__^….meskipun hasilnya gak seindah yang di atas picnya…heehehe…

karena gak ada tepung ketan buat onde yang kecil-kecil, capcus aja dah yang penting enak. Kacang merahnya juga seadanya, makanya gak merah banget warnanya…rasanya ternyata enak, lebih mild daripada kacang ijo…

Advertisements

Kisah Sang Pengembara

Image

Nah ini dia…udah sejak lama pengen cari tahu siapa sih Kim Satgat itu? Karena dalam dunia literasi sosok Kim Satgat sangat menonjol dan terkenal di eranya dulu sebagai seorang penulis puisi satir — yang selalu memakai topi bambu dalam pengembaraannya itu.

Dia lahir dari keluarga bangsawan kotor pada masa kerajaan Joseon. Sang kakek Kim Ik-sun menyerah kalah setelah ikut dalam aksi pemberontakan Honggyongnae yang terjadi kisaran tahun 1811-1812, saat itu sistem kerajaan sudah memberlakukan sistem hukuman yang harus juga ditanggung oleh seluruh keluarga pemberontak [Di Korea Utara sistem ini masih berlaku, sementara di Korea Selatan sistem ini tidak digunakan lagi setelah ada reformasi Gabo tahun 1894].

Karena kesalahan sang kakek, ibunya membawa dia untuk hidup di pedesaan, tujuannya untuk bersembunyi dan menyembunyikan identitas buruk keluarganya. Setelah beranjak dewasa, Kim Satgat yang bernama asli Kim Byung-yeon mencoba ikut ujian negara dengan alasan agar kehidupan miskinnya bisa berubah dengan bisa bekerja sebagai pegawai negara. Namun ketika mengikuti ujian itu, ada satu test dimana dia harus menulis puisi yang menghina Kim Ik-sun sang kakek. Di ujian negara tersebut, Satgat masuk rangking pertama. Namun keadaan mejadi terbalik ketika sang ibu menjelaskan kalau puisi satir yang ditulisnya saat ujian itu diperuntukan pada kakeknya. Karena dia dibesarkan tanpa mengetahui asal usul keluarganya, kenyataan pahit itu membuatnya depresi. Entah karena dia tidak bisa menganggung hidup sebagai keturunan kriminal atau kenyataan bahwa semua orang menghina dan mencemooh kakeknya, dia memakai topi bambu [satgat/삿갓] dan membawa tongkat kayunya untuk pergi mengembara.

Kenapa dia dianggap sastrawan paling besar waktu itu karena puisi-puisi double entendre -nya. Double Entendre maksudnya adalah sebuah perkataan yang bisa diartikan dalam dua arti.

Contohnya :

天長去無執
花老蝶不來
secara harfiah berarti

langit – besar – pergi – ketidakberadaan – menangkap
bunga – tua – kupu-kupu – tidak – datang
Aneh bukan???
Tapi kalau diartikan lebih lanjut, puisi yang ditulis dengan tulisan cina itu mengandung 2 arti, yaitu :
1. Sejauh manapun kau pergi, langit adalah sesuatu yang terlalu tinggi untuk diraih.
2. Kupu-kupu itu tidak akan datang pada bunga yang layu.
Sampai saat ini Kim Satgat masih dikenal sebagai sastrawan besar yang karya-karya yang memuji alam dan humanisme,. Dia menekankan egalitarianisme sementara kesinisannya mengkritik keserakahan manusia, tirani resmi dan materialistis Korea yang dimiliki oleh kelas masyarakatnya.

 

written by. Mei

Gimana sih pernikahan kerajaan ala Joseon?

Image

Korean Times

Gimana ya rasanya kalau Raja dan calon Ratu pada dinasti Joseon menikah? Mungkin lebih megah dan gegap gempita dibandingin sama perhelatannya mas Anang sama Ashanty kemaren itu ya?? wkwkwkw…

Well, readers…menurut gambar peragaan diatas, begitulah situasi pernikahan kerajaan dinasti Joseon (1392-1910). Protokol kerajaan yang sempat absen selama kurang lebih 145 tahun akhirnya kembali ke Korea dari tangan Perancis, dan dikatakan dalam buku tersebut bahwa pernikahan kerajaan memang extravagan dan luar biasa.

Banyak sekali pengiring di belakang sang Raja sementara pemain musik senantiasa mengisi seluruh lapangan perhelatan dengan suara musik yang gempita menambah kemegahannya. Pada hari Senin, Museum Nasional Korea, bekerja sama dengan Dewan Presiden tentang Branding Nation memeragakan kembali pernikahan kerajaan di Seoul. Hal itu untuk menghidupkan beberapa konten protokol Uigwe tersebut.

Image

Untuk pernikahan tersebut, kerajaan memperkerjakan sekurangnya beberapa ribu orang dalam bebrapa bulan hanya untuk mengatur prosedur dari enam aspek untuk upacara pernikahan. Prosedur ini terdiri dari “napchae”, “napjing,” “gogi,” “chaekbi,” “chinyeong” dan “dongrae.” “Napchae” adalah mengirim utusan dengan surat lamaran resmi untuk calon ratu masa depan, sedangkan “chaekbi” adalah penobatan calon ratu menjadi ratu di masa depan dan “dongrae berarti hubungan pernikahan kerajaan.

Jubah merah pernikahan dan mahkota calon ratu dihiasi dengan karya-karya seni simbolis. Pakaian berwarna merah calon ratu merupakan simbol akan perannya membantu raja dan berkat lebih lanjut untuk raja. Pola sepasang burung pada jubah menandakan harmoni antara yin dan yang, atau kedekatan antara pasangan kerajaan yang akan menikah.

ImageDengan seiring banyaknya drama-drama kolosal yang populer dimasyarakat, sekitar 200 orang menghadiri acara tersebut termasuk Choe Kwang-shik, menteri kebudayaan, Lee Bae-yong, ketua Dewan Presiden tentang Branding Nasional dan Kim Young-na, direktur Museum Nasional Korea .

 

translated by Mei.