Mulai berfikir keras buat bikin cerita baru….

Hehehe…mungkin buat yang sering nenggokin blog, pasti tau kalo gw seneng nulis cerita. Pengen bikin cerita lagi nih??? Cuman yang ‘Sweet Punch!’ juga belom kelar…mo dikelarin, mentok ide ceritanya. Sekarang yang ada di otak tuh, kisahnya gak jauh beda dari ‘Sweet Punch’. Di ‘Sweet Punch’  tokoh Eugene itu kuat tapi sembrono, daya pikirnya cuman 10 watt, emosinya tinggi. Yah, di karya gw yang baru juga ampir mirip-mirip lah…untuk sementara nama untuk tokoh protagonis ceweknya Becky, cewek Indonesia, anak orang ke 3 terkaya di Indonesia yang gak suka bersosialisasi, sekolah cuman home schooling sejak kelas 1 SMA…tapi karena untuk jadi ahli waris sosialisasi itu perlu buat ngelobi rekanan bisnis. Ortunya Becky kirim dia ke Korea Selatan dengan alesan kalau orang Korea Selatan itu pada ‘gila’ kalau udah berurusan dengan namanya program pendidikan. Selain itu, di Korsel ada Om sama tante, dan ponakannya yang jadi Jaksa. Kehidupannya jadi kayak rolercoster setelah mengenal Kang Eun-hyuk dan juga Park Eun-ji teman sekelasnya…Kang Eun-hyuk dengan tiba-tiba mencuri hatinya Becky, dan Park Eun-ji yang pendiam dan juga misterius….hahahaha…udah dulu ya….

 

C U readers…

Pemakaman Tradisional Korea

Di dalam lobi ruang rumah duka, Rumah Sakit Samsung di Seoul para pelayat yang memakai pakaian hitam berkabung memberikan penghormatan terakhir pada orang yang meninggal. Pemandangan tersebut adalah suatu hal yang umum dalam sebuah rumah duka, karena Samsung adalah leader dari kemajuan teknologi Korea Selatan, sehingga tidak mengherankan untuk melihat sebuah layar elektronik dengan resolusi tinggi gambar dari almarhum dan informasi dari 20 ruangan yang mereka punyai saat ini.

Karena revitalisasi budaya dalam beberapa tahun terakhir ini, Hanok, makgeolli, dan bahkan pernikahan Konghucu yang tidak menangkap antusiasme publik tampaknya diam-diam menghilang. Sama sih seperti halnya di Indonesia, semakin sibuknya manusia, semakin manusia itu menginginkan sesuatu hal yang sederhana atau gak mau repot.Di Korea Selatan sendiri punya prosesi pemakaman tradisional seperti di Bali dan juga daerah lainnya di Indonesia yang masih memegang teguh budaya mereka.

Dinilai dari faktor ekonomi, prosesi tersebut memakan banyak biaya. Terlebih lagi sepertinya bukan cuman satu atau dua benda yang dipakai dalam rangkaian prosesi panjang itu. Dan para praktisi tradisi tersebut juga sekarang sudah jarang ada, meskipun seorang praktisi bisa membuat sebuah pelayanan pemakaman, belum tentu keluarga almarhum dan juga masyarakat yang membantu tahu betul prosesi tersebut serta nyanyian-nyanyian yang mereka sering nyanyikan. Ya, gap-nya terlalu jauh.

Meskipun begitu, pasti sangat membanggakan kalau prosesi tersebut masih ada dijaman modern seperti sekarang ini. Di Bali misalnya, prosesi Ngaben jadi sumber devisa dan juga sebuah apresiasi seni dan budaya yang dilestarikan oleh sebuah negara dan menjadi identitas.

credit.youtube

source.Yonhapnews/loosely translated by Mei.