Sweet Punch [23th punch!]


 

sweet_eugene10

All rights reserved. Copyrights2013. Dilarang mengkopi atau menyebarkan isi dari cerita ini tanpa ijin dari penulis.Maeve.

============================================================================================

Dua orang laki-laki dan perempuan sedang berjalan melalui lorong sanatorium rumahsakit, mereka tidak memakai setelan jubah dokter di tubuh mereka. ketika sampai di lobi tempat informasi, mereka memperkenalkan diri pada seorang perawat yang sepertinya sudah mengenal sosok kedua orang itu. Si perawat yang usianya setengah baya itu menjulurkan tangannya memberikan salam dengan senyuman dari wajahnya.

“dokter Mason, senang kau bisa datang hari ini memenuhi janjimu.” Melihat ke arah si wanita yang ikut bersama lelaki itu. “Dan kau juga dokter Emily…” Emily dan perawat itu tampak lebih dekat, ekpresi  Abbie tampak  mengerti tentang kesedihan yang dialami Emily selama ini. Mereka berdua ayah dan ibu dari Eugene, dokter Mason dan Emily tidak memberitahukan kedatangan mereka pada kedua putri mereka karena tidak ingin mimpi buruk tentang bagaimana mengobati Vynette menghantui Eugene lagi, dan mereka tidak mau Eugene hancur lebih dalam lagi.

“Abbie…senang bertemu dengan mu lagi.” Emily mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pelukan erat yang akrab itu tampaknya sangat menenangkan hati Emily, sejak kecelakaan itu terjadi dan perjuangan mereka berdua untuk diijinkan mengobati Vynette, hanya Abbie satu-satunya orang yang selalu mengabari kondisi dan perkembangan kesehatan Vynette pada mereka di Jerman.

“Kalian berdua nampak sehat dan sedikit beruban…hahaha.” Canda Abbie pad mereka berdua, sambil mengiringi langkah menuju kamar Vynette. Mereka berdua berhasil mengetahui kabar tentang keberadaan Vynette dari jurnal hasil cek-up kesehatan yang dilayangkan oleh seorang dokter dari sanatorium tempat Vynette dirawat kesebuah majalah kesehatan di Jerman. Membaca kronologis perawatan yang diterima untuk menyembuhkan trauma di kepalanya. 5 tahun berlalu, ada perkembangan di saraf sensorik dan motoriknya, berarti apa yang dirasakan oleh Ren ketika menemaninya adalah benar. Vynette seperti dalam keadaan normal, tak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit.

Menurut jurnal tersebut, cedera yang dialami Vynette hampir mirip dengan cedera yang dialami para petinju pada umumnya, Hematoma subdural kronis. Jika menderita hematoma selama beberapa tahun, ada kemungkinan besar saraf-saraf otak tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, dan hasil dari semua itu adalah kerusakan saraf secara permanen. Tetapi untungnya, bukan hal buruk itu yang terjadi, entah bagaimana caranya, Vyntte bisa punya peluang untuk sembuh. Kemampuan mobilitas dan juga kognitifnya tidak rusak, hanya saja dia tidak mau bangkit untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

***********

Aku bingung entah harus bagaimana??? Tidak ada jalan untuk keluar dari rumah ini??? Jika aku harus mengatakan hal yang sebenarnya, kemungkinan besar aku tidak akan bisa mengakhiri semua yang ku lakukan. Jinnu…Apa yang harus ku lakukan tentang mu??

Tapi, aku harus melakukan ini sekarang, aku ingin tahu siapa yang dengan teganya berbuat keji pada teman-teman ku hanya untuk membuatku menderita seperti ini? Ayolah Vynette, Mina, bantu aku!…Aku yakin kalau Ren, tidak akan mungkin berani sekejam itu. Dia anak yang baik. Benar, kan?

Daniel juga bingung, kenapa juga pada saat genting seperti ini, Jinnu ada di rumah Eugene. Bukan kah anak itu membenci Eugene? Atau, kisah mereka berbalik 180 derajat?

“Ahhhh…brengsek! Lalu kau mau apakan Jinnu?”

“A-ku…akan membuatnya berhenti mencemaskan ku, dan kalian juga. Mulai saat ini, aku akan berjalan sendirian.”

“Hahaha! Berjalan sendirian? Otak mu pindah kemana??Berani-beraninya kau bilang, kini kau berjalan sendiri?!” Bentak Daniel. “Apa kau lupa gara-gara siapa kami berlima dan juga kau bisa berakhir di rumah sakit dulu? Sakitnya aku, Hero, Abym, Jinnu dan juga Sean….Sejak pertama, urusan mu adalah urusan kami. Eugene…hal ini biar ku selesaikan. Kau urus saja Jinnu. Jangan keluar rumah! Mengerti?” Jelasnya pada ku sambil tidak tenang, apakah keputusan sepihaknya itu benar atau tidak? Daniel bukanlah ayahnya yang sigap menentukan sikap dalam situasi apapun, karena ayahnya sudah tergembleng dalam dunia hitam sejak muda. Sedangkan dia, apapun itu dia tidak tahu…

bersambung…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s