Sweet Punch [23th punch!]

 

sweet_eugene10

All rights reserved. Copyrights2013. Dilarang mengkopi atau menyebarkan isi dari cerita ini tanpa ijin dari penulis.Maeve.

============================================================================================

Dua orang laki-laki dan perempuan sedang berjalan melalui lorong sanatorium rumahsakit, mereka tidak memakai setelan jubah dokter di tubuh mereka. ketika sampai di lobi tempat informasi, mereka memperkenalkan diri pada seorang perawat yang sepertinya sudah mengenal sosok kedua orang itu. Si perawat yang usianya setengah baya itu menjulurkan tangannya memberikan salam dengan senyuman dari wajahnya.

“dokter Mason, senang kau bisa datang hari ini memenuhi janjimu.” Melihat ke arah si wanita yang ikut bersama lelaki itu. “Dan kau juga dokter Emily…” Emily dan perawat itu tampak lebih dekat, ekpresi  Abbie tampak  mengerti tentang kesedihan yang dialami Emily selama ini. Mereka berdua ayah dan ibu dari Eugene, dokter Mason dan Emily tidak memberitahukan kedatangan mereka pada kedua putri mereka karena tidak ingin mimpi buruk tentang bagaimana mengobati Vynette menghantui Eugene lagi, dan mereka tidak mau Eugene hancur lebih dalam lagi.

“Abbie…senang bertemu dengan mu lagi.” Emily mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pelukan erat yang akrab itu tampaknya sangat menenangkan hati Emily, sejak kecelakaan itu terjadi dan perjuangan mereka berdua untuk diijinkan mengobati Vynette, hanya Abbie satu-satunya orang yang selalu mengabari kondisi dan perkembangan kesehatan Vynette pada mereka di Jerman.

“Kalian berdua nampak sehat dan sedikit beruban…hahaha.” Canda Abbie pad mereka berdua, sambil mengiringi langkah menuju kamar Vynette. Mereka berdua berhasil mengetahui kabar tentang keberadaan Vynette dari jurnal hasil cek-up kesehatan yang dilayangkan oleh seorang dokter dari sanatorium tempat Vynette dirawat kesebuah majalah kesehatan di Jerman. Membaca kronologis perawatan yang diterima untuk menyembuhkan trauma di kepalanya. 5 tahun berlalu, ada perkembangan di saraf sensorik dan motoriknya, berarti apa yang dirasakan oleh Ren ketika menemaninya adalah benar. Vynette seperti dalam keadaan normal, tak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit.

Menurut jurnal tersebut, cedera yang dialami Vynette hampir mirip dengan cedera yang dialami para petinju pada umumnya, Hematoma subdural kronis. Jika menderita hematoma selama beberapa tahun, ada kemungkinan besar saraf-saraf otak tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, dan hasil dari semua itu adalah kerusakan saraf secara permanen. Tetapi untungnya, bukan hal buruk itu yang terjadi, entah bagaimana caranya, Vyntte bisa punya peluang untuk sembuh. Kemampuan mobilitas dan juga kognitifnya tidak rusak, hanya saja dia tidak mau bangkit untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

***********

Aku bingung entah harus bagaimana??? Tidak ada jalan untuk keluar dari rumah ini??? Jika aku harus mengatakan hal yang sebenarnya, kemungkinan besar aku tidak akan bisa mengakhiri semua yang ku lakukan. Jinnu…Apa yang harus ku lakukan tentang mu??

Tapi, aku harus melakukan ini sekarang, aku ingin tahu siapa yang dengan teganya berbuat keji pada teman-teman ku hanya untuk membuatku menderita seperti ini? Ayolah Vynette, Mina, bantu aku!…Aku yakin kalau Ren, tidak akan mungkin berani sekejam itu. Dia anak yang baik. Benar, kan?

Daniel juga bingung, kenapa juga pada saat genting seperti ini, Jinnu ada di rumah Eugene. Bukan kah anak itu membenci Eugene? Atau, kisah mereka berbalik 180 derajat?

“Ahhhh…brengsek! Lalu kau mau apakan Jinnu?”

“A-ku…akan membuatnya berhenti mencemaskan ku, dan kalian juga. Mulai saat ini, aku akan berjalan sendirian.”

“Hahaha! Berjalan sendirian? Otak mu pindah kemana??Berani-beraninya kau bilang, kini kau berjalan sendiri?!” Bentak Daniel. “Apa kau lupa gara-gara siapa kami berlima dan juga kau bisa berakhir di rumah sakit dulu? Sakitnya aku, Hero, Abym, Jinnu dan juga Sean….Sejak pertama, urusan mu adalah urusan kami. Eugene…hal ini biar ku selesaikan. Kau urus saja Jinnu. Jangan keluar rumah! Mengerti?” Jelasnya pada ku sambil tidak tenang, apakah keputusan sepihaknya itu benar atau tidak? Daniel bukanlah ayahnya yang sigap menentukan sikap dalam situasi apapun, karena ayahnya sudah tergembleng dalam dunia hitam sejak muda. Sedangkan dia, apapun itu dia tidak tahu…

bersambung…..

One Sweet Punch! [22th Punch]

Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

One Sweet punch!

Chapter 22

Daniel mendapatkan telpon dari orang suruhannya ketika sedang makan malam dengan orangtuanya di sebuah hotel. Dia kelihatan senang sekaligus tidak tenang dengan kabar yang disampaikan oleh orang suruhannya itu, ayahnya paling tidak suka kalau ada gangguan saat makan malam langsung memperingatkannya agar mematikan ponselnya.

“Cukup lakukan apa yang ku suruh. Akan ku telpon lagi nanti.” Dia mematikan ponselnya dengan segera.

Sang ayah mencurigai aksinya itu. “Apa kau melakukan sesuatu dibelakang ku, sampai-sampai memakai salah satu anak buah ku yang paling hebat untuk menemukan seseorang yang sangat ingin kau cari?”

Daniel hampir tersedak setelah mendengar pertanyaan ayahnya itu, “A-a-yah tahu?”

“Meskipun aku ingin sekali ikut campur dan ingin tahu alasan itu langsung dari mu, ayah ingin kau belajar dari tindak tanduk mu sendiri. Mengerti? Apa yang baik dan buruk—cari yang paling bagus diantara dua itu…dan satu lagi. Jangan sampai terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang memasukan mu ke rumah sakit bersama tim Power Ranger mu. Hah! Power Ranger…menjaga diri sendiri agar tidak kena pukul pun masih sulit, ini masih ingin menyelamatkan manusia.”

“Aku pun ingin minta bantuan ayah, tapi itu semua hanya akan membuatku malu. Ini urusan ku dan juga teman-teman…seperti yang ayah bilang tadi, aku berusaha mencari yang terbaik dari dalam diriku agar aku tidak seperti ayah.”

“Apa?! Apa yang baru kau ucapkan tadi?”

“Aku tidak ingin menjadi seperti ayah…aku ingin menjadi lebih baik dari ayah yang seorang mafia tapi berkedok pengusaha. Oleh karena itu aku rajin belajar agar aku bisa jadi seorang dokter, pengacara, arsitek, atau ahli IT tapi bukan mafia. Aku harap ayah tidak marah dengan ucapan ku ini.”

Ayahnya tersenyum gembira mendengar hal tersebut dari mulut anaknya yang dia kira jika sudah besar, dengan kelakuannya yang terlihat seperti anggota mafia punya mimpi lebih besar darinya.

*********

Kakaknya selalu membuat ku melakukan hal-hal bodoh, dan adiknya lebih menakutkan dari ayahnya Tei – Ini seperti Gol bunuh diri.

“Heh, Jinnu…apa kau suka padaku?” Dia sedikit terkejut ketika aku melontarkan pertanyaan itu ke mukanya.

“Kau ra-cun…mana mungkin aku meminum mu.” Tunjuknya tanpa berkedip. Waaah! Anak ini memang butuh dihajar. “Arrrrgghhh!!!” aku berteriak layaknya Kingkong yang marah karena ulah si burung unta yang sok flamboyant sengaja menebar paku hanya untuk ku injak.

Aku sudah mengepalkan kedua tanganku. Bara api pun sudah berkobar-kobar di kedua mataku, jika dia berani bersuara sekali lagi dan menekan harga diriku…kaki ku pasti langsung akan menendang bagian paling berharga miliknya!

“Kenapa kau mengepalkan tinju seperti itu? Kau sedang mempertontonkan ‘kekuatan super’ mu pada ku, ya?”

“Dasar mahkluk tengik…”

“Sudah hampir lima menit kau memelototi ku seperti itu. Sebaiknya kau istirahatkan mata mu, Eugene?”

“Kau tahu, mungkin ini saatnya kau dan aku menyelesaikan masalah kita. Kau masih ingat hutang mu pada ku kan?”

“Ah…tantangan itu?”

“Lebih baik kita selesaikan sekarang. Ayo keluar?”

“Keluar kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

Yuni segera mengambil ponselnya dan merekam adegan tersebut. Biasanya jika dua orang yang saling menyukai satu sama lain tapi masih berpura-pura, jika bertengar seperti ini salah satu dari mereka akan menjatuhkan sebuah bom yang akan membuat terkejut lawan bicaranya. Pikir Yuni.

“Apa kau bilang?”

“Aku bilang, kau mau ku ajak pergi kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

“Ini tentang tantangan itu bodoh!”

Kemudian, dengan ekspresi yang tidak bisa ku baca, antara tersenyum penuh kepuasaan tapi tatapannya seperti mencoba menggali sesuatu dalam diri ku yang membuat ku sedikit tersipu malu ketika dia mendekat pada ku. “Adik kecil…jam berapa sekarang?” Tanyanya pada Yuni.

“Hah?” Yuni masih bingung.

“Aku tanya…jam berapa sekarang?”

“Jam 7.45, kenapa?”

“Kau tidak punya jam malam kan?”

“Tidak…”

“Kalau begitu aku pinjam Eugene.”

“K-kau mau apa?”

“Aku berbohong datang kemari untuk meminjam dapurmu…cih, ayah dan anak itu pasti bisa bertahan tanpa makan pancake.” Aku tidak mengerti ucapannya, tapi menunggu untuk dia meneruskan perkataannya. “Aku kesini untuk memastikan apa aku punya pikiran yang jernih jika kau ada didekat ku?”

Pikiran jernih? Memangnya jika aku ada didekatnya, dia punya pikiran kotor tentang ku?? Iiihhh. Dasar burung unta maniak!!

“Menjijikan…memangnya kau pikir aku ini sama seperti gadis yang kau lihat di majalah porno?? Apa?? Kau tidak bisa berfikir jernih kalau ada aku?? Dasar maniak…bejat…Uuugh, menjauhlah dari ku.”

Yuni tidak kuat menahan dirinya untuk ikut campur. “Taman ria! Pergilah kalian ke taman ria…suasana disana bagus untuk bicara. Jika kalian ingin baku hantam…banyak permainan uji nyali di sana—bermainlah sampai kalian puas mengendalikan emosi.”

“Apa kau tidak dengar apa yang dikatakannya tadi? Dia…si burung unta ini menganggap ku ituuuu—kau tahukan?”

“Itu apa??? Jika tahu akhirnya begini…seharusnya dari dulu ku kenalkan seorang pria pada mu dan tahu apa itu cinta…cik cik cik.” Kini Jinnu yang melotot pada Yuni, takut ketahuan kalau dia suka pada Eugene tapi ingin kepastian kalau pilihannya itu benar. “Yang kakak ganteng ini maksud adalah…jika ada kakak di dekatnya dia selalu membenarkan apa yang seharusnya salah. Bukan begitu, kak Jinnu?” Yuni mencoba menutupi ketakutannya itu. “Coba kau bayangkan, kak? Ketika kau masuk rumah sakit dulu, sebelumnya kak Jinnu bilang ‘tunggu aku’ dan ‘cepat pergi, selamatkan dirimu’. Tapi kakak selalu melakukan kebalikannya. Kau selalu melompat kemana api berkobar, jadi mana bisa dia berfikir jernih? Bukannya dia memikirkan mu jadi wanita seperti itu…”

Aku terkejut, sepertinya ini baru pertama kali Yuni dan Jinnu bertemu. Tapi kenapa anak itu malah membelanya mati-matian?

“Yuni…kau itu adik ku atau bukan? Kenapa malah membela orang asing?”

“Orang asing ini korban mu, kak. Korban! Makanya aku mencoba untuk menyelamatkannya dari mu.”

“K-korban??”

Jinnu merasa senang ada satu orang yang berdiri dipihaknya. “Kau mau aku jadi kakak mu?” Tanya Jinnu.

Yuni tersenyum padanya, “Tentu saja…kakak.” Berlagak centil dihadapan Eugene.

Adik ku sendiri mengkhianati ku. Jika aku berpaling pada Sean untuk minta pembelaan…yang dibela pasti adik ku, diancam dengan pedang di lehernya pun pasti dia akan tetap membela adik ku—mati aku!

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku segera meraihnya karena nada dering untuk Daniel berbeda, aku terpaksa harus menggantinya karena takut aku lupa tentang urusan ku dengannya soal pemilik kartu ujian itu.

“Halo?” aku membalikkan badan ku dari mereka berdua yang kini terdiam melihat ku.

“Aku sudah dapatkan orang itu. Dan setelah diselidiki anak perempuan itu tidak ada kaitannya dengan Ren, apa kau mau kesini?” Ucapnya di depan sebuah café tak jauh dari tempatnya mengintai anak yang dicari oleh Eugene.

“Oh, i-iya. Tunggu sebentar, aku naik ke kamar ku dulu.” Aku langsung beranjak dari ruang tamu untuk masuk ke kamar, lalu berbicara dengan Daniel.

“Tamu? Sean?”

“Kalau Sean bisa ku usir sejak tadi. Kau pasti terkejut?!”

“Siapa?”

“Seseorang yang paling tidak ku inginkan mengetahui hal yang ku bicarakan dengan mu.”

“JINNU? Oh my god! Kau sudah gila,ya??Bagaimana dia bisa ke tempat mu?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Apa yang kau dapat dari informan mu?”

“Anak itu ternyata memakai wig dan riasan wajah, anak buah ku sedikit kesulitan pada awalnya. Tapi itu nomor induk itu miliknya.”

“Wig dan riasan wajah?” Terpikir sejenak kalau anak perempuan itu mungkin saja si rambut punk yang berwarna-warni, ya. Itu dia!

“Kau mengenalnya?”

“Saat gerombolan anak perempuan itu menghajar ku di taman, memang ada anak yang sedikit eksentrik gayanya. Rambut gaya punk—mungkin bisa dibilang sedikit harajuku?” Ucap ku tidak yakin.

“Sama seperti yang dikatakan oleh anak buah ayah ku. Mungkin itu dia, kau bisa keluar kan? Maksud ku…anak buah ayah ku, ku suruh untuk mengintai dan menjaga dari jauh agar anak itu tidak kabur saat kita menangkapnya untuk diinterogasi. Akan sangat disayangkan kalau kau tidak bertanya langsung padanya, jika bukan Ren lalu siapa yang menyuruhnya menghajar mu?”

Aku ingin sekali langsung pergi menemui Daniel untuk mengintrogasi anak itu, tapi di rumah ada Jinnu yang bisa menangkap kegagapan ku. Dia harus ku usir terlebih dahulu, baru aku bisa menemuinya.

****

Sedikit merasa asing…Yuni dan Jinnu.

“Terima kasih.” Ucapnya pada Yuni.

“Karena aku sudah menolong mu agar tidak mengatakan kalau kau menyukai kakak ku?”

“Aku masih belum tahu apakah ini suka atau terbiasa?” Jinnu mendesah, sepertinya memang banyak kekhawatiran dalam hatinya.

“Bohong. Semua pria selalu berkata seperti itu. Inilah kenapa banyak wanita patah hati karena pria semacam diri mu, tahu? Terlalu memusingkan. Cinta ya, cinta. Benci ya,benci. Kau belum pernah jatuh cinta sebelumnya?”

“Cinta hanya mendatangkan kepahitan.”

“Jadi kau berusaha untuk mengendalikan pikiran mu agar tidak jatuh hati pada Eugene? Heh, kau harus meminum racunnya agar kau tahu apa racun itu bisa secara langsung membunuh mu atau secara perlahan menggerogoti tubuhmu hingga mati?” Ucap Yuni seperti berbicara pada sosok kakak yang diidamkannya dari Eugene—rupanya Jinnu bukan tipe pria yang berhati kejam, hanya saja dia terbiasa untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan dalam artian egois tapi benar-benar hidup seorang diri. Sudah saatnya dia membuka diri dan mungkin Eugene adalah langkah awal baginya untuk lebih terbuka, itulah yang dipikirkan Yuni ketika melihatnya.

Yuni menepuk bahunya, mencoba menenangkan kegalauan saat dia memberanikan diri untuk datang ke rumah menemui Eugene dengan kesungguhan hatinya. “Jinnu…terkadang ada racun yang hanya membunuh sifat yang ingin kau buang, misalnya kepahitan yang kau alami itu. Dan kau juga tahu kepahitan Eugene kan? Tentang Ren, Vynette dan juga Judo. Pikirkan itu, Romeo?”

Tiba-tiba saja Jinnu seperti merasa terkesan dengan segala apa yang diucapkan yuni padanya.“Jika kau tertarik jadi psikolog, aku bisa kenalkan teman ayah tiri ku padamu. Dia dosen di universitas ternama.”

Mendengar racauannya itu, Yuni hanya menggelengkan kepala. “Kau sebenarnya mau buat apa?”

“Pancake. Aku sudah beli bahan-bahannya…”

“Sebanyak itu?! Memangnya mau buka toko pancake apa?”

“Aku belum pernah buat, jadi aku hanya beli apa yang dijabarkan di internet.”

Yuni masuk kembali ke dapur, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam rak atas dekat bak cuci piring. Tepung siap jadi untuk adonan Pancake.

“Ini…ambil. Rasanya hampir sama dengan pancake yang dibuat di T&J.” Yuni menyodorkan benda itu kepadanya. Jinnu mengambilnya dan memeriksa dengan seksama nama bahan-bahan utama dan juga tambahannya.

“Kau boleh pakai dapurnya sesuka mu, asal jangan kau hancurkan. Anggap saja ini juga sebuah bantuan kecil dari ku untuk mendapatkan Eugene…” Ujar Yuni tersenyum padanya.

“Andaikan saja anak gadis yang ku kenal sejak kecil bisa bersikap seperti mu, mungkin aku masih bisa menganggapnya benar-benar seperti adik kandungku.” Renungnya.

“Kalau kau bisa bicara santai seperti ini pada kakak ku, mungkin dia bisa mengerti apa yang kau perlukan? Eugene tidak seperti apa yang kau bayangkan, dia dulu sangat bisa ku andalkan. Namun setelah kejadian tentang Vynette, dia mengurung diri selama 1 minggu dikamarnya. Makan dan minum jika dia lapar atau haus, itu pun tidak banyak. Setelah itu, yang keluar dari kamar bukanlah Eugene yang ku kenal, melainkan seorang monster yang tidak banyak bicara, pandangannya kosong. Lalu, Sean datang untuk mencoba menolongnya dari keputusasaan. Mereka berdua bertanding di dojo, Eugene kalah…” Suara Yuni sedikit serak karena ingin menangisi keadaan kakaknya waktu itu. Jinnu pun mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama.

“Pada awalnya aku mencoba mencegah Sean menghajar Eugene, tapi Sean bilang…” Yuni mengingat jelas kejadian itu. Sean menyeret Eugene tanpa perlawanan sama sekali masuk ke dalam dojo di sekolah, Yuni berlari mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Sean. Jika terkejar maka Yuni memukuli punggung Sean dengan keras sambil berteriak-teriak meminta agar dia melepaskan kakaknya sambil menangis. Tapi Sean tidak bergeming. Dia tetap saja menyeret Eugene sampai masuk ke dalam.

“Dia, mau tidak mau harus bangun dari mimpi buruk itu dengan segera!” Ucapnya penuh amarah sambil membanting Eugene ke matras. Eugene memekik kesakitan dan terbatuk, ia mencoba untuk bangun tapi serasa dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi tenaga.

“Coba kau lihat dia?Apa kau mau membiarkan hidupnya berjalan layaknya sesosok zombie, yang terus hidup tapi tidak bisa merasakan perasaan apapun hingga dia mati, begitu?!” Bentaknya pada Yuni.

Yuni memohon pada Sean sambil terisak-isak dihadapannya. “Meskipun begitu, kau tidak boleh menyakitinya, Sean…aku mohon jangan pukuli kakak ku. Dia sudah cukup menderita karena Vynette! Aku mohoooon, Sean…” Sean menarik lengan Yuni dan memeluknya erat.Dengan suara yang begitu hangat, Sean berucap. “Kalau kau tidak sanggup melihat dan mendengar…” Sean memakaikan earphone mp3-nya ke telinga Yuni. “Tutup mata mu…ada 86 lagu di situ. Semuanya akan selesai sampai track ke 30…aku janji.”

Dia pikir aku ini bodoh, mau mendengarkan kata-katanya…aku tidak menutup mata ku meskipun track pertama dimulai…lagu berjudul The Blower’s Daughter yang dinyanyikan oleh Damien Rice secara akustik mengiringi kesedihan kakak ku.

And so it is
Just like you said it would be
Life goes easy on me
Most of the time
And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her sky

I can’t take my eyes off of you

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time
And so it is
The colder water
The blower’s daughter
The pupil in denial

I can’t take my eyes off of you

Did I say that I loathe you?
Did I say that I want to
Leave it all behind?

I can’t take my mind off you
I can’t take my mind…
My mind…my mind…
‘Til I find somebody new

Terasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak setelah mendengar kisah versi Yuni tentang Eugene. Karena tidak tahu bagaimana menenangkan Yuni, dia merogoh kantong jaketnya untuk mengambil permen loli kesukaannya.

“Ini…’ menyodorkannya pada Yuni. Yuni mengambil permen itu dan langsung membuka bungkusnya, kemudian mengulumnya.

“Ahhhhh…Eugene memang bodoh!” keluhnya sambil tertawa kecil.

“Iya….benar-benar bodoh.”  Kebodohan yang membuatku merasakan sesuatu yang indah, yang tidak bisa ku lihat atau ku sentuh. Tapi hanya bisa ku rasakan dengan hati ku. Jinnu menaruh tangan kanannya tepat dimana jantungnya berada…Kepakan sayap pertama ku…Selanjutnya…Aku mungkin benar-benar jatuh cinta pada si gadis gila itu.

To be continued….

One Sweet Punch![21st Punch]

Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

Chapter 21

Aku sedang menunggu kabar dari Daniel tentang pemilik kartu siswa yang ku temukan saat perkelahian itu di rumah, Yuni sedikit merasa aneh ketika aku tidak makan dengan lahap seperti biasanya—cih, kenapa jalan hidup ku menjadi runyam seperti ini? Jika aku tidak mengenal olahraga Judo dan mengambil olahraga lain seperti Badminton, Basket, atau Baseball mungkin ceritanya akan lain?!

Julius Caesar pernah berkata, “Jika kau menginginkan kedamaian, maka bersiaplah untuk berperang.” Demi mendapatkan ketenangan jiwa, kalau kali ini dampak yang akan ku terima jauh lebih buruk dari dugaan ku, maka yang harus terjadi—terjadilah.

Yuni yang datang dari arah dapur, mengeluh tentang hari-harinya yang membosankan sambil membawa sekotak es krim coklat kesukaannya, kemudian menyodorkan sendok kecil ke arah ku yang sedang melihat ke arah televisi. Di duduk di sofa sebelahku sambil menaikan kedua kakinya seperti kucing yang kedinginan. Dia melihat kearah ku yang sepertinya tidak konsen melihat sinetron yang sering kami berdua hujat-hujat hingga terpingkal-pingkal jika ada adegan tidak masuk akal.

“Kau kenapa lagi? Si burung unta mencari masalah lagi dengan mu? Atau soal adiknya Vynette?” Tapi aku tetap tidak menyahuti pertanyaannya. Ku pikir yang kurang ajar di rumah ini hanya aku, tapi anak itu benar-benar melebihi kemampuanku dalam teknik interogasi. Kaki kanannya menepuk-nepuk pipiku keras.

“Woiiii…kalau ayam bengong bisa bertelur, kau yang bengong malah aku jadi khawatir!”

“Jauhkan kaki mu dari wajahku!”

“Habis…tadi ku tanya serius, kau malah diam saja. Apa yang sebenarnya kau pikirkan?”

“Tidak ada apa-apa…”

“Benar kah? Sebagai adikmu aku benar-benar khawatir terhadapmu, Eugene. Sebaiknya kau katakan pada ku tentang  masalah yang menggangumu?”

Aku mengalihkan pembicaraan, kali ini tentang dirinya.

“Selama ini sepertinya kau membesarkan diri mu sendiri, ya? Aku benar-benar seorang kakak yang buruk. Semenjak ayah dan ibu berangkat ke Jerman, bukan aku yang harus menjaga mu selama mereka pergi, tapi kau yang menjaga ku lebih dari apapun—terlebih lagi soal tutup mulut tentang luka-luka yang ku alami sehabis berkelahi…”

“Aku tahu itu, kau memang kakak yang egois. Ayah dan ibu tidak punya sifat buruk seperti itu—entah sifat itu menurun dari siapa?…Tapi, sifat seperti itulah yang membuat ku iri. Meskipun aku punya sedikit sifat memberontak, tapi tetap saja aku tidak bisa keluar dari zona nyaman ku. Tapi kau, kak. Sekali saja kau membuka mulut dan bicara tentang betapa kuatnya lawan mu di pertandingan, atau betapa kau ingin memotong-motong tubuh Sean dalam imajinasi liar mu, yang bisa ku katakan pada diriku sendiri—wah, kakak ku sungguh sangat keren.”

“Aku tidak tahu kalau kau menganggap ku keren?” Aku dibuat malu olehnya.

“Apa kau ingat, kau pernah berkata seperti ini dulu saat kau jadi juara divisi 3 kejuaraan Judo Piala Walikota dalam pidato singkat mu, ‘Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, benar atau salah itu adalah sebuah momen yang kau raih untuk belajar menjadi sempurna.’ Dan Eugene…berjanjilah padaku untuk tidak terluka. Mengerti?”

Aku hanya diam ketika dia mengatakan hal tersebut padaku, padahal aku sendiri lupa kalau aku pernah berpidato dan menjadi juara karena Judo.

“Tadi kau bertanya soal apa?”

******

Jinnu mulai tidak sabar menunggu antrian panjang di stand Waffle T&J yang entah kenapa malam ini laku keras dari malam-malam sebelumnya? Jika bukan karena napsu makan kakak dan juga ayah tirinya yang mirip Godzilla, mana mau dia disuruh-suruh dan berdiam diri mengantri seperti ini.

Di depan tempatnya mengantri, ada dua orang pemuda yang juga sama dengannya menunggu antrian panjang di T&J. Mereka berdua tengah asik berbincang-bincang tentang bagaimana cara temannya yang berkacamata itu bisa menggaet pacarnya yang sekarang? Jinnu awalnya tidak peduli dengan semua itu, namun setelah mencuri dengar sedikit, kisah cinta pemuda berkacamata yang usianya mungkin lebih tua beberapa tahun darinya terdengar sama—mengalami dilema yang jika diungkapkan dengan kata-kata, menjadi seperti ini, ‘Aku tidak yakin dengan perasaan ku terhadap dirinya, hanya seperti ditarik untuk selalu berjalan ke arahnya.’ Ya, seperti itulah Eugene memutar balikkan dunianya. Dia pun penasaran bagaimana pemuda itu mendapatkan si gadis?

Hal itu wajar saja, karena selama ini mana ada Jinnu terlihat memuja seorang gadis?! Bahkan ketika masih kecil pun, saat dia pindah ke rumah Tei dan bersekolah di sekolah dasar yang sama, kepopulerannya mengalahkan kepopuleran Tei. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Jinnu? Si pemuda yang bisa melakukan segalanya jika dia menginginkan apa yang diinginkan olehnya.

Kemudian si pemuda berkacamata itu menjawabnya, ”Aku sudah berfikir keras dan hal itu sudah ada di dalam kepala ku hingga tidak bisa tidur dibuatnya. Lalu, ku lakukan saja apa yang hati ku ingin lakukan. Kau tahukan kalau dia itu bukan gadis sembarangan? Semenjak berteman dengannya, aku baru sadar kalau aku begitu menyukainya…Aku tidak peduli ketika semua orang bilang ‘dia tidak begitu cantik, kepribadiannya aneh, aku benci rambut ikalnya yang seperti sarang burung’ atau ‘cara tertawanya yang terdengar seperti orang mendengkur’ yang ku tahu jika aku melewatkan kesempatan untuk mengakui perasaan ku, pasti ada orang lain selain aku yang berhasil mencari sesuatu dari dirinya yang sempurna dibalik ketidak sempurnaannya—jadi aku ambil inisiatif, di malam sebelum ujian dimulai aku datang ke rumahnya.”

“Waah, benarkah? Lalu…lalu?”

“Lalu ku bilang ‘Apa aku bisa pinjam printer mu?’” Mendengar ucapan pemuda berkacamata itu yang biasa saja, si teman dan juga Jinnu merasa kecewa.

“Tenaaang, aku masih belum selesai bicara…” pemuda berkacamata meneruskan ceritanya, “ Aku sudah memikirkan berbagai macam jawaban jika dia bertanya padaku kenapa aku ingin pinjam printernya? Dalam otak ku sudah terekam ‘tinta ku habis dan toko komputer sudah tutup’. Aku kaget setengah mati ketika mellihat dia yang membukakan pintu, dan ketika dia bilang ‘tentu, pakai saja sesuka mu.’ Aku mulai memutar otak untuk mencari cara agar bisa dekat dengannya. Dan ketika ada momen yang tepat, aku mengungkapkan perasaanku padanya, dan dia mau menjadi pacarku.”

“Hahaha…bisa juga kau nekat seperti itu?!”

“Untuk bisa mempercayakan hati ku pada gadis seperti itu, memang dibutuhkan sebuah keberanian. Dan kini aku tidak menyesal sudah melakukannya!”

Semudah itukan melakukan apa yang hatimu inginkan? Gumannya dalam hati setelah selesai mendengarkan perkataan pemuda berkacamata tersebut. Seperti sudah mendapatkan sebuah pencerahan, dia keluar dari antrian dan menuju ke sebuah supermarket tidak jauh dari stand Waffle T&J untuk membeli sekotak bahan Waffle instant dari situ berikut bahan tambahannya. Dengan begitu, Jinnu punya alasan kenapa dia ingin berada di rumah Eugene malam ini?

****

Sesudah kami makan es krim coklat itu, Yuni mengeluarkan biskuit keluaran terbaru yang katanya lumayan enak—dan aku sangat heran padanya? Jika aku makan berlebihan pada malam hari, maka dijamin tubuhku pasti akan semakin gemuk, tapi bocah tengik itu malah tidak bertambah ke samping menjadi gemuk, melainkan bertambah tinggi. Oh, demi Neptunus! Kenapa sifat genetik yang bagus selalu ada padanya padahal aku ini yang diciptakan pertama kali?

Kami berdua dikagetkan dengan suara dering bel, Yuni malas membuka pintu jadi dia menyuruhku membukakan pintu untuknya. Dengan langkah setengah diseret, aku membukakan pintu perlahan dan terkejut mendapatkan si burung unta tengah berdiri di depan pintu rumahku.

“Ssedang apa kau di sini?” Aku tergagap.

Jinnu mengangkat tangan kanannya yang membawa sekantong belanjaan. Yuni bangun dari duduknya mencari tahu siapa tamu yang datang di malam hari seperti ini? Dia baru tahu kalau Jinnu lebih tampan dan juga punya tubuh lebih indah dari Tei…kalau saja kakaknya lebih memilih Tei daripada si burung unta itu, pasti dia akan meminta Eugene untuk mengenalkan Jinnu padanya. Tapi impian itu langung mengempis ketika kepalanya mulai mempertanyakan, untuk apa dia datang ke rumah mereka?

“Heh, aku tanya. Untuk apa kau datang kemari?”

“Ijinkan aku pakai dapurmu…”

“Hah??” Aku tidak mengerti apa maksudnya.

Tiba-tiba Yuni mengatakan sesuatu, “Kenapa kau bengong saja, kak?” tatapan Yuni pada Jinnu mulai terlihat seperti dia sudah bisa membaca dengan jelas apa rencana Jinnu sebenarnya. Yuni berpura-pura tersenyum malu-malu pada Jinnu, dan senyumnya itu membuat Jinnu merasa berada di dalam pengawasan ayah Tei yang sok tahu semua hal yang terjadi pada dirinya. Yuni langsung berjalan ke arahnya dan menyenggol tubuh ku untuk mempersilakannya masuk ke dalam rumah, dengan senyum ramah malah anak itu membawakan belanjaannya dengan senang hati.

“Aduuh…anak itu. Heh, kau mau bawa anak itu kemana??” pekik ku seperti melihat seorang penculik sedang beraksi. Tapi reaksi Jinnu pada Yuni biasa saja, tidak seperti dia akan marah dan menelan adik ku itu bulat-bulat. Aku melipat tanganku dan mulai berfikir, jangan-jangan….”Jangan-jangan anak itu suka padaku?” guman ku.

“Nah, Jinnu…kau boleh pakai dapur kami semau mu.”

“Benarkah? Terimakasih…”

“Ohhh~tentu saja kau harus berterima kasih. Karena aku tahu apa yang kau rencanakan…”

“Mak-maksudmu apa?”

“Mmmm, dengar dari Sean…kau itu paling pintar atur strategi dan juga punya ekpresi wajah yang tidak menunjukan perasaan sedikit pun. Tapi apa ini?? malam-malam datang ke rumah si gadis gila hanya untuk–meminjam dapur. Ahaha…strategi mu terbaaaacaaa oleh ku dengan jelasnya seperti membaca sebuah buku komik, tenang saja. Aku akan membantu mu…kakak ipar. Tidak-tidak, masih terlalu jauh memanggil mu seperti itu karena otak kakak ku itu dangkal…”

“Kurang ajar sekali menyebut kakak mu berfikiran dangkal.”

“Eyyy…anggap saja ini pencerahan untuk mu. Kalau kau suka pada kakak ku, jangan bawa perasaannya pada jalan yang tidak pasti. Ibarat Baseball, sekarang dia masih ada di base pertama. Menunggu mu untuk sebuah pukulan Home Run…asal kau tahu saja, tidak semua pemain seperti mu bisa punya kesempatan seperti itu–yang kau lakukan dari pertama itu bunt, dan hanya membuatnya berlari dengan keras dari base ke base. Mengerti?”

“Bunt?”

“Iya. Bunt…”

“Dan itu semua hanya akan membuatnya kelelahan dan dikeluarkan dari lapangan.”

“Dan untuk apa kau mengatakan semua hal itu padaku?”

“Dalam situasi saat ini, yang kurang beruntung itu kau. Bagi ku kau terlihat seperti seseorang yang punya cinta tapi bertepuk sebelah tangan…”

Situasi yang aneh…kenapa Yuni menghentikan perkataannya saat aku masuk ke dapur? Jinnu melihat ku dengan pandangan yang lain…pandangan yang lebih hangat tapi kelelahan.

“Baseball pantat mu.” Jinnu berjalan dan memungut kerah baju belakang adik ku seperti dia memungut seekor kucing liar. Setengah berjingkit, Yuni berjalan dengan tampang bodoh bersamanya ke ruang tamu melewati ku.

“Kakaknya membuat ku melakukan hal bodoh…dan adiknya…lebih menakutkan dari ayah Tei.” Gumannya pada ‘kucing liar’ yang tidak berusaha melarikan diri itu. Ini semua bagaikan Gol Bunuh Diri. Dan Yuni tersenyum puas karena apa yang dikatakannya tadi itu benar. Bwuahahahahahaa!

to be continued…

One Sweet Punch[20st Punch!]

Copyright 2010. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

20th Punch!

Yuni melihat luka-luka yang ku derita, meskipun hanya lecet-lecet kecil, untunglah pukulan tadi tidak membuat dengkul belakangku memar. Karena tahu kakaknya akan pulang dengan kondisi seperti itu sejak adanya ancaman dari Ren.

Yuni mendesah keras karena kesal melihat ku. Dia tidak bilang apa-apa, tapi aku tahu dia khawatir.

“Sean bilang padaku kalau Ren itu adiknya Vynett. Apa aku perlu menghubungi ayah dan ibu untuk menindak lanjuti cerita ini?” Mempersiapkan kotak obat, dan aku langsung duduk di sofa.

“Tidak perlu panggil mereka pulang.”

“Apa kau sudah lupa untuk apa mereka ke Jerman?!” Pertanyaan itu melukai hatiku. “Demi kesembuhan Vynett, mereka mempelajari kasus komatosisnya yang berkepanjangan di Jerman. Meskipun mereka tahu kalau Vynett tidak bisa ditemukan di rumah sakit manapun, ayah dan ibu tetap gigih kalau usahanya mempelajari kasus itu pasti akan membawa Vynett kembali pada mereka untuk kesembuhannya. Semua ini tidak akan pernah berakhir kalau kau terus-terusan menghindar Eugene, dan Ren…kau harus menaklukannya dalam artian buat dia mengerti kalau kau juga ingin membantunya menyehatkan Vynett kembali. Tidak ada gunanya dia menghajarmu sampai mati hanya untuk keselamatan kakaknya.”

“Dendamnya sudah sampai dititik ini, mana bisa aku menyuruhnya untuk ‘mengerti’?”

“Eugene…kali ini, aku minta kau kembali jadi dirimu sendiri. Keluar dari cangkang yang menyembunyikan bagaimana dirimu yang sebenarnya?! Berhentilah jadi orang bodoh!”

“Aku pun sudah berfikiran seperti itu sejak beberapa hari yang lalu, tapi semenjak kejadian hari ini, aku akan menjadi diriku yang dulu. Aku…aku ingin lihat ‘keadilan’ macam apakah yang ada diantara kami bertiga?”

“Apa…kau benar-benar tahu tentang semua ini dari pertama?”

“Maksudmu?”

“Tentang Ren dan apa yang diincarnya, sebelum Sean dan yang lain memberitahukanmu?”

“Aku benar-benar tidak tahu. Sial!” Aku tertawa kecut. “Seharusnya aku ingat kalau Vynett punya adik laki-laki….” Aku mengingat anak itu sekarang. Tapi namanya bukan Ren, mungkin dia menyembunyikan hal itu karena tidak ingin aku ingat siapa dia agar dia bisa melancarkan pembalasan dendamnya padaku. Rylan. Nama anak itu Rylan, dan aku pernah bertemu dengannya ketika dia masih dibangku SMP. Mekipun pendiam, dia anak yang baik.

Yuni memeriksa luka dibagian belakang dengkulku. “Hari ini memar dan juga lukanya tidak akan terasa. Besok kau mau bilang apa pada mereka tentang keadaanmu ini?”

“Untungnya besok olahraga, sejak pagi hingga siang memakai baju training olahraga. Aku bisa menutupinya.”

Setelah diobati olehnya, aku langsung masuk ke kamar, Yuni tahu kalau aku butuh waktu sendirian dikamar, jadi dia meneruskan apa yang dia lakukan sebelum aku pulang, menonton televisi.

Aku tidak bisa berbaring, jadinya duduk di meja belajarku. Perlahan membuka laci dimana ada foto Vynett, aku dan juga Rylan.

“Anak laki-laki yang biasa tersenyum malu-malu seperti itu karena aku jadi orang yang bisa menghajar teman-temanku yang lain dengan brutalnya?….Mina, jika kau ada disampingku, aku penasaran dengan kata-kata seperti apa yang kau keluarkan dari mulut tajammu itu disaat-saat seperti ini?”

Kini, aku harus bagaimana?

******

Pagi hari, aku sengaja menunggu Daniel. Karena dia punya hubungan dengan ‘orang hitam’ arahan ayahnya, aku putuskan untuk menjadi diriku yang sebenarnya. Ketika dia datang, aku langsung menyapanya dari jauh dengan senyuman.

“Daniel…selamat pagi!!”

“Wah, tumben kau menyapaku duluan?”

“Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?”

“Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuatmu baik seperti ini padaku? Apa?”

Aku membawanya ke ruangan biologi yang kosong. Dan mulai membicarakan apa yang kubutuhkan darinya. Ketika aku mengatakan bahwa kemarin saat pulang sekolah ada sekelompok orang yang datang mengerjaiku, dia syok.

“Apa?!”

“Jangan kawatir, aku tidak apa-apa.”

“Itulah kenapa kami terus-terusan harus berada disamping mu. Apa ada yang luka?”

“Tidak ada yang parah untungnya. Dan karena masalah ini aku butuh bantuanmu.”

“K-kau kelihatan berbeda…Eugene.” Lapornya padaku.

“Huh?” Aku tidak mengerti dengan pernyataannya itu.

“Raut wajah dan juga pembawaan dirimu sekarang dengan yang kemarin, berbeda.”

Aku tersenyum kecil, “Mungkin inilah diriku yang sebenarnya, Eugene yang rasionalis bukan Eugene ‘gadis pecinta kekerasan’ ”. Aku melanjutkan nya dengan tawa kecil.

“Apa yang kau perlukan?”

“Tapi kau harus janji jangan mengatakan apapun juga tentang hal ini pada yang lain. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencaritahu apa yang akan Ren lakukan nantinya, akan sungguh bagus kalau kita tahu siasat mereka nanti untuk bisa mendahului mereka. Jadi aku minta, suruh anak buahmu mencari tahu siapa pemilik benda ini.” Aku menyerahkan sebuah kartu bekas ujian yang ku dapat ketika berkelahi kemarin, hanya saja aku lupa dari siapa aku memperolehnya karena aku merebutnya terlalu cepat ditengah-tengah perkelahian.

Daniel mengambilnya dariku. Masih dalam keadaan bingung dengan perubahan sikapku, “Apa ini Eugene yang sebenarnya sebelum kecelakaan yang menimpa kakaknya Ren itu terjadi?”

“…….” Aku terdiam dan berfikir sebelum menjawabnya. “Aku harap Eugene yang kau temui hari ini, bukan aku yang dulu ataupun yang kemarin.”

“Akan kuanggap perkelahian kemarin sudah melukai alam bawah sadarmu hingga kau menjadi serius seperti ini.” Daniel tersenyum puas dengan jawabanku dan mencoba mengerti.”Aku lebih suka Eugene si ‘gadis pecinta kekerasan’, karena setiap kali kau berteriak, marah, ataupun berkelahi menunjukan bahwa kau jujur pada dirimu sendiri dan juga kami. Aku akan lihat apa yang bisa aku lakukan dengan tugas ini. Aku akan beri laporannya segera.”

“Jika anak buah mu mendapatkan siapa orangnya, bawa langsung padaku! Aku mohon.”

Daniel mengangguk, dan aku meninggalkannya di ruangan itu. “Baru kali ini aku merasa terintimidasi dengan kehadirannya yang dengan sikap seperti itu.” Guman Daniel menoleh ke pintu masuk, pintu dimana Eugene keluar melewatinya. Tidak mau menunggu terlalu lama, Daniel langsung menghubungi salah satu anak buah ayahnya. Memberikan foto lembaran kartu berwarna biru muda itu yang sengaja di foto dengan ponselnya dan dikirimkan untuk pencarian siapa pemilik nomor induk siswa 103-445-26. dan menyerukan apa yang diminta Eugene padanya.

******

Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai ketika berpapasan dengan Sara dilorong menuju tangga naik ke kelasku. Melihatnya berjalan ke arahku, perasaanku menjadi tidak enak, terlebih lagi karena dia melihatku dengan pandangan tidak menyukai kehadiranku disamping Jinnu.

Ketika Sara hampir mendekat, aku mencoba menyapanya, namun dengan pandangan dingin dan lurus ke depan, sikapnya serasa tidak mengenal apalagi mengetahui keberadaanku dan melewatiku begitu saja yang sedang tersenyum dan hampir melambaikan tanganku kepadanya.

Sara setelah berjalan cukup jauh menggigit bibirnya dan juga mengepalkan tangannya keras-keras, “Eugene…” Guman kesal sekaligus marahnya dalam hati.

Aku melangkahkan kaki ku mendekat ke jendela yang berada di lorong itu, melihat ke luar.

Di sana aku melihat Jinnu sedang berdiri dengan gagah dan tampannya. Sekarang ini jika aku melihatnya, langsung ada pikiran aneh yang terus mengganguku. Seperti kehilangan alasan kenapa aku harus berduel dengannya? Apa sekarang aku mulai menyukai si burung unta itu?

****

Rupanya ketika aku akan memasuki kelas, Jinnu sudah berdiri menungguku di depan pintu, dia menyandarkan tubuhnya didinding mengobrol dengan Sean.

Ketika melhatku, Jinnu langsung membenarkan cara berdirinya dan Sean pun tersenyum lebar menyapaku.

“Sedang apa kalian berdua disini?”

“Hehehe…Jinnu kelihatannya khawatir karena kemarin kau menghiraukan ucapannya.” Sebenarnya Sean sudah siap-siap akan berlari sekuat tenaga kalau perkataannya membuat Jinnu merasa malu tapi ternyata anak itu diam saja. Kenyataan itu membuat Sean tampak bodoh dan bertanya-tanya ‘apakah kali ini Jinnu benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk menyukai Eugene?’, Sean ingin tertawa senang karena masalah ini, tapi dia tidak mau membuat masalah kalau ternyata dugaan terhadap hubungan mereka berdua salah.

Mendengar hal itu, aku sedikit malu. Raut wajah Jinnu, meskipun masih terlihat dingin, tapi tatapan matanya pada ku sedikit berubah.

“Kemarin kau pulang sendirian, apa tidak mendapatkan masalah?”

“Ahh..hahaha…tentu saja tidak ada masalah. Jika ada, mana mungkin aku masuk hari ini.”

Jinnu tersenyum, “Baguslah jika tidak terjadi apa-apa. Hal ini hanya ku ijinkan satu kali aja, sebelum jelas apa mau nya Ren dengan menantangmu seperti itu, kau masih berada dalam pengawasanku mengerti?!”

“Baik…tapi aku tidak mau ada salah pengertian di ANTARA KITA.” Ujarku sedikit menekankan ucapanku, “Karena mungkin untuk orang yang tidak tahu menahu soal Ren, mereka akan mengosipkan kita berdua sebagai pasangan”.

“Heh, heh, heh…Eugene. Malah menurutku itu bagus! Jika kalian dipandang sebagai pasangan kekasih, mungkin mereka akan mundur dengan sendirinya karena kau dan Jinnu dipandang sebagai orang terkuat di sekolah ataupun di luar lingkungan sekolah….”

Ketika Sean berceramah tentang aku dan Jinnu, rasa sakit di kakiku mulai terasa. Sialnya aku tidak bawa obat penahan sakit yang tadi disiapkan oleh Yuni. Aku takut masalah ini ketahuan oleh Sean dan juga Jinnu. Aku harus pergi dari sini untuk merencanakan apa yang harus kulakukan sekarang.

“Ah…aku mau ke klinik.”

“Kau kenapa? Siklusmu kan belum datang?!” Sean mengacu ke kelender haid ku.

“HEH!! MEMANGNYA KALAU SIKLUSKU DATANG ATAU TIDAK, ITU JADI URUSANMU?!ARGGGHH…KAU MEMBUAT KU MALU SAJA!” Teriak ku sambil memukul Sean dengan tas ku lalu kabur ke klinik. Disana aku segera minta obat tahan sakit dan perawatnya memeriksa kaki ku yang memarnya terlihat.

“Kau ini, Eugeneeee…mana ada anak perempuan yang selalu datang ke klinik dengan keadaan terluka karena berkelahi?!”

“Hehehe…aku jadi malu.”

“Siapa yang berani berbuat seperti ini huh?” Bu Maya sang perawat mengeryitkan jidatnya karena memar di kakiku terlihat parah. “Kalau aku punya anak perempuan seumuran dengan mu, aku tidak akan mengijnkannya bermain denganmu!”

“Memangnya ada yang salah kalau berkelahi? Bukannya ada pepatah kalau berkelahi itu adalah salah satu proses pedewasaan, bu?”

Tanpa ragu lagi, Bu Maya menyentil telingaku. “Kau itu perempuan, perempuan!! Mana ada perempuan yang menjalani proses seperti itu dengan perkelahian brutal, huh?Minum obat ini, dan istirahatlah barang sebentar sementera aku akan memintakan ijin untuk mu pulang.”

“Pulang?! T-tidak perlu, bu. Aku baik-baik saja…”

“Luka memar seperti itu harus dirawat baik-baik…orang tuamu dokterkan? Masa kau tidak tahu luka memar juga kadang bisa parah, setelah pulang lalu pergilah ke rumah sakit untuk dirontgen.”

“Tapi bu, luka seperti ini bukan apa-apa. Aku pernah terluka lebih parah, anda sendiri saksinya!”

“Baiklah…terserah kau saja!” Bu Maya sudah kehilangan kata-kata utuk membujukku.

“Ah…satu lagi, aku ingin ibu jangan mengatakan hal yang menimpaku ini pada siapa pun! Tidak boleh mengatakan apa-apa.”

“Berarti kali ini, Sean tidak tahu kau berkelahi?”

“Iya. Aku tidak mau teman-temanku khawatir, itu saja.”

******

Bobby telah mendapatkan kabar kalau meskipun anak buahnya kalah, tapi salah seorang dari mereka sudah melukai kaki Eugene. Dia tertawa disebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalanan besar ke gudang tempat persembunyian Ren membayangkan Eugene yang terluka, dan dia yakin kejadian seperti ini tidak akan Eugene beritahukan pada teman-temannya itu.

Pikirannya melayang ke saat-saat Vynett masih segar bugar. Bobby saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat satu yang sering sekali memberontak. Bagi Bobby, Vynett adalah segalanya baginya. Karena anak perempuan yang masih sekolah di SMA itu mampu merubahnya ke arah yang lebih baik. Namun setelah kejadian naas itu terjadi, Eugene seakan-akan mengambil salah satu nyawanya hingga membuat Bobby terguncang jiwanya dan memutuskan untuk membalas dendam. Cara satu-satunya adalah mempenetrasi SMA Felst dengan memasukan Ren untuk mengacau, namun ternyata antara Ren dan juga dirinya tidak bisa seiring sejalan untuk menghukum Eugene dengan hukuman yang setimpal dengan apa yang dilakukannya pada Vynett. Ren pada mulanya ingin sekali membunuh Eugene meskipun dulu dia memujanya, dia pun melihat dari jauh ketika Eugene berlutut dan mengiba untuk dimaafkan kepada kedua orangtuanya, namun niat Eugene tidak digubris sama sekali. Bahkan ketika ayahnya menjambak rambut Eugene dan menyeretnya keluar dari rumah sakit, Eugene menahan semua itu dan mencoba melepaskan diri untuk kembali ke depan pintu kamar Vynett.

Karena tidak mau melihat orang yang sudah mencelakakan anaknya, maka di putuskan mengirimkan Vynett ke sanatorium di luar kota. Ketika mendengar hal itu, Eugene pun berubah.

Ren pernah mengatakan padanya tentang bagaimana Eugene sekarang, “Jika kau melihat kelakuannya…kau pasti akan tercengang.” Jelas Ren.

“Kenapa dengan anak itu?”

“Dia dulu bertindak penuh pertimbangan dan juga tidak liar seperti itu. Hah!” Setengah tertawa kecut.”Kini dia bagaikan lelucon…hanya demi makanan dia akan berguling kesana-kemari…hahahahaha….” Ren tertawa keras mengingat kelakuan Eugene yang kini setengah bodoh.

“Kau harus ingat dialah yang membuat Vynett terbaring seperti itu, jangan lengah, terlebih lagi kau dulu pernah menyukainya.”

Tawanya memudar seiring ucapan Bobby yang mengingatkannya akan masa lalu.

“Apa kau tidak bosan mengulangi perkataan itu padaku?”

“….kau tidak lupa apa yang kau janjikan padaku waktu itu bukan? ‘Bantu aku membalaskan dendam’ ”.

Namun kini, Bobby merasa keyakinan Ren sedikit goyah untuk mencelakai Eugene. Saat awal-awal pun, dia menginstruksikan agar langsung mencelakai Eugene tanpa harus melibatkan sekolah-sekolah lainnya dalam hal ini. Rupanya menghajar dan juga membuat keributan dengan sekolah-sekolah lain itu hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, Ren ingin ditemukan oleh Eugene. Bobby pun teringat dengan perkataannya lagi, “Sekarang dia tahu aku adalah adik Vynett. Aku yakin hidupnya akan dipenuhi ketakutan…kini, aku tinggal menungunya datang padaku untuk menyerahkan nyawanya.”

Meskipun Ren sudah menyatakan idenya itu, tetap saja Bobby gusar membiarkan pertahanannya melunak, oleh karena itu Bobby mengambil inisiatif sendiri, meskipun dia tahu kalau ketahuan oleh Ren, entah apa yang akan dilakukan anak itu terhadapnya. Kini, dia hanya bisa main kucing-kucingan dengannya, melihat siapa yang pertamakali berhasil menempelkan tangannya di tembok permainan.

Bersambung…

Cinta Itu Buta![Chapter 1]

Selina (26).

Selina adalah wanita berbakat dalam menciptakan lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi kenamaan saat ini. Hanya saja sifatnya yang keras kepala dan cuek seringkali disalah artikan sebagai arogansi seseorang yang sedang naik daun. Karya-karyanya seringkali terdengar seperti ungkapan kerinduan yang tidak pernah berhenti.

Apa boleh dikata? Dia menciptakan lagu-lagu mellow itu karena tidak bisa mengungkapkan kekesalan dan kepedihannya terhadap seorang laki-laki yang telah meninggalkannya hanya demi cita-cita untuk Go-internasional ke Amerika sebagai penyanyi pop.

Katya (32)

Teman karib Selina, dia paling jago mengkritik kehidupan sahabatnya itu. Dia bekerja sebagai guru bahasa German di sebuah sekolah swasta. Selain itu juga dialah yang paling modis diantara kawan-kawan Selina lainnya seperti Maddie dan juga Arnie. Kehidupan Katya bak seorang puteri karena ayahnya pemilik perusahaan elektronik terkenal. Namun karena tidak suka dengan segala kemewahan, Katya memilih untuk tinggal bersama dengan Maddie di sebuah apartemen kecil.

Maddie (24)

Impiannya menikah dengan pria tampan seperti yang sering dilihatnya dalam drama-drama Korea. Kepandaiannya dalam bidang memasak diwujudkannya dengan membuka sebuah food court spesialisasi di makanan khas Korea.

Arnie (22)

Sebenarnya dia ini sahabat adik Selina, Bram. Tetapi karena saking seringnya menghabiskan waktu bersama kakak-kakak perempuan yang cukup esentrik itu. Meskipun usianya masih muda, tetapi dia adalah ‘filosof’ ulung jika menghadiahi pepatah-pepatah mengerikan terhadap mereka berempat.

Bram (22)

Cowok ganteng berusia 22 tahun ini adalah adik Selina. Meskipun ganteng, dia bukan tipe playboy, Selina pastinya akan menghajar Bram kalau ketahuan membuat seorang gadis menangis karenanya.

Christian (27)

Di ulang tahunnya yang ke 27, dia mendapatkan sebuah hadiah yang tidak terduga buruknya. Perusahaan ayahnya bangkrut, ayah dan juga ibunya entah pergi mengungsi kemana? Dia ditinggalkan seorang diri tanpa apa-apa. Mobil, apartemen, barang mewah miliknya pun turut disita oleh kejaksaan. Christian ingat kalau masih ada satu harta yang tidak bisa diganggu gugat, yaitu sebuah rumah milik almarhum neneknya yang tidak kena sita karena surat-surat kepemilikannya menggunakan nama neneknya saat masih gadis. Christian tidak tahu kalau rumah itu sekarang masih di kontrak oleh seseorang, namun dia akan menggunakan berbagai cara agar dirinya diperbolehkan tinggal di rumah itu hingga masa kontak rumah tersebut habis.

Jordan (26)

Penyanyi terkenal yang sejak 3 tahun lalu meninggalkan Indonesia untuk mengembangkan karirnya di Amerika. Setelah mengalami kesulitan, akhirnya nama Jordan bisa bersaing dengan penyanyi papan atas Amerika.

Nora (25)

Manajer sekaligus orang terdekat Jordan. Hubungan asmara mereka  samar karena Jordan masih menyimpan cintanya pada Selina.

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw 🙂 … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 1: Inikah yang namanya purgatori?

Dari dalam sebuah taksi yang masih melaju, Selina membuka kaca jendelanya untuk menghirup udara pagi karena sudah hampir dua hari ini sibuk membuat empat buah lagu untuk mini album seorang penyanyi wanita bernama Tasya. Angin yang berhembus membuatnya sedikit tidak mengantuk, ia melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9 pagi. Selina sudah melihat pekarangan rumahnya dan bersiap-siap untuk menghentikan taksi yang dinaikinya.

“Di depan,  tolong berhenti di depan yang ada pekarangan luasnya pak!”. Taksi itu berhenti tepat di gerbang depan rumahnya. Setelah membayarkan ongkos taksi, Selina menunggu beberapa menit untuk menyegarkan diri. Naik kendaraan dalam keadaan kurang tidur membuatnya pening, dia tidak mau adik laki-lakinya khawatir dengan kesehatan kakak perempuan yang selalu keras kepala ini. Taksi itu pun pergi, Selina menguap dan kemudian membuka pintu pagar rumahnya. Ia terkejut mendapatkan pintu pagar ternyata tidak terkunci. Dengan penuh penasaran, Selina masuk ke dalam, mencari tahu apakah adiknya masih belum pergi kuliah dan sedang menunggunya sebelum berangkat?

Ketika Selina sampai di pintu depan rumahnya, ia mendapatkan seorang pria tengah tertidur pulas beralaskan tas-tas besar dan juga sebuah koper yang disimpan di depan wajahnya untuk menahan angin. Ia melihat baju yang dikenakan pria itu. Kenapa pria ini tidur di depan rumah orang? Selina mencoba mencoba membangunkan dengan kakinya, selayaknya membangunkan seekor kucing jalanan. Namun pria dengan pakaian dandy itu tidak bergeming sedikitpun. Pria macam apa yang berani tidur di depan rumah orang seperti ini? Karena tidak mau repot, di telponlah pak Darwis yang pekerjaannya memaintain rumah yang dikontrak olehnya itu sejak 3 tahun lalu. Karena rumah pak Darwis agak jauh, maka butuh 15 menit untuk sampai setelah laporan, itupun jika pak Darwis belum pergi ke pasar melihat toko berasnya. Tapi untunglah pak Darwis bersedia datang untuk melihat siapa pria yang dimaksud oleh Selina. Setelah menutup telepon, pak Darwis segera pergi ke dapur untuk memberitahukan kalau dirinya akan pergi sebentar melihat rumah milik majikannya yang dikontrakkan pada Selina.

“Memangnya ada apa pak disana?”

“Saya juga kurang tahu jelas, tapi yang pasti ada pemuda tidak dikenal sedang tiduran di depan pintu masuk.”

“Aduh, jangan-jangan maling?”

“Maling kesiangan gitu maksud ibu?”

“Hahaha…iya pak, siapa tahu malingnya terlalu ngantuk buat rampok rumah jadi lesehan bentar di depan pintu. Ehhh, taunya kebablasan tidur sampe siang.”

“Hush, ngaco ibu ni. Tapi, non Selina bilang…dia pakai baju necis sama bawa koper banyak.”

“Oh ya? Jangan-jangan…pak, apa nyonya sama tuan besar waktu kabur ke luar negeri, tuan muda dibawa juga gak?”

“……eng…maksud ibu, Mas Chris?” setengah berfikir.

‘Iya…siapa lagi yang ibu maksud, pak?!” Istri pak Darwis langsung ketakutan, “Aduuh, gawat. Gawat ini pak? Mas Chris kenapa gak ikut????”

“Kalau begitu saya kesana cepet, ngeliat apa itu Mas Chris.”

“Pak! Kalau itu beneran mas Chris…jangan bawa tinggal di sini. Saya ngerti bapak itu kerja sama mendiang ibunya bapak Adinugroho sejak kecil dan kehidupan kita sekeluarga hampir seluruhnya ditopang sama beliau. Tapi sekarang ini beda, kalau kita nampung Mas Chris…bapak tahu sendiri kan kehidupannya itu seperti apa? Kerjaannya cuma habis-habisin uang bapaknya. Jadi orang miskin dalam tempo sesingkat itu pasti dia masih puyeng….apa itu orang yang di tv bilang, stress, trauma, syok. Kita juga gak kaya pak, jadi pertimbangkan lagi soal nolongin Mas Chris kalau pemuda itu ternyata benaran dia. Ngertikan bapak sama omongan ibu?”

Pak Darwis hanya mengangguk tapi tidak mengiyakan. Beliau secepatnya ke garasi tempat ia menyimpan sepeda motornya, ia mengenakan helm dengan terburu-buru.

Ketika mendengar berita bangkrutnya perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut, pak Darwis lah orang pertama yang dihubungi oleh Adinugroho, ayah Chris. Rumah yang ditinggali olehnya dan sang istri diberikan padanya, karena Adinugroho takut tidak bisa membayar gaji seperti biasanya untuk mengurus rumah ibunya. Adi nugroho dan dirinya tumbuh besar bersama-sama, jika tidak ada kasta yang memisahkan pembantu dan majikan, mungkin saja mereka berdua bisa jadi sahabat. Dinyalakannya mesin motor, lalu dipaculah motornya itu menuju rumah Selina.

Selina terus saja menatap jam tangannya, menunggu kedatangan pak Darwis. Karena sudah capek dan kesal, Selina nekat membangunkannya. Gerakan mengusir kucing dengan kaki itu dilancarkan kembali olehnya…kali ini ada tanggapan. Hap! Pergelangan kaki Selina ditangkap oleh tangan kanan pemuda itu. Ke dua orang tersebut kini sama-sama terkejut.

“Si-siapa kau?” Tanya pemuda itu dengan mata setengah terbangun dan masih linglung.

“Se-seharusnya…aku yang tanya siapa kau itu?”

Pemuda itu masih bingung, “A-aku?” .Selina masih melihatnya dengan perasaan tidak enak. Pandangan matanya melihat ke arah pergelangan kakinya. Pemuda itu sontak melepaskan pegangannya.

“Aku, aku ingin masuk ke dalam. Tapi rupanya kunci rumah ini sudah diganti…apa anda tahu pak Darwis kemana? Kamar belakang miliknya juga dikunci.”

Selina tersenyum kecut, dia menganggap pemuda itu bodoh dan tidak tahu diri, dan kenapa bisa terlibat percakapan aneh ini dengan pemuda tersebut.

“Pergi.”

“Huh?”

“Apa yang sebenarnya anda lakukan di depan rumah orang pagi-pagi seperti ini?” Tanya Selina menahan kekesalannya.

Pemuda itu terhenyak ketika mendengar pertanyaan Selina. “Apa?!” Dia terbangun dari posisi tidurnya dengan  cepat, seperti baru saja terjadi ledakan bom Hiroshima. Selina menjauh karena tingkahnya itu.

“Rumah, rumah orang lain? Jelas-jelas ini rumah ku.” Di berlari ke halaman rumah, mengkaji semua sisi rumah tersebut dengan matanya untuk memastikan dia BERADA dirumah milik neneknya.

Ayunan, check! Pagar tinggi warna putih, check! Pohon belimbing bangkok dekat keran air, check!

“Ah! Dulu nenek punya anjing siberian husky dan rumah anjingnya ada di samping rumah dengan nama Django”. Segeralah pemuda itu berlari menuju halaman samping kiri…”Haha! Benar ini rumah ku. Django meninggal beberapa bulan kemudian karena sakit sepeninggal nenek ku. Rumahnya masih di sini!” Ujarnya dari samping halaman pada Selina.

Selina yang tidak mau mendengarkan penjelasan sampah yang panjang kali lebar dari pemuda itu langsung membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam rumah, tidak lupa pula ia mengunci pintunya dari dalam.

“Psikopat…”

Chris yang terlalu senang menemukan rumah anjing bernama Django berlari lagi untuk menemui perempuan berambut pendek yang ditemuinya tadi. Namun dia tidak menemukan perempuan itu di depan pintu.

“Kemana nona tadi? Apa dia tidak percaya kalau aku ini pemilik rumah ini?!”

Dia mendengar suara tv dinyalakan, berarti rumah ini ada penunggunya. Chris memanjat tembok setinggi lutut yang dulu digunakan neneknya untuk menanam pohon mawar, cuma sekarang mawar-mawar itu sudah tidak ada, dan sudah di tembok.

“Waah…dasar!” Tertawa tidak percaya. “Perempuan itu benar-benar tidak punya hati. Seharusnya dia mendengarkan penjelasanku dulu sebelum memutuskan meninggalkan ku seperti orang gila di luar sini.”

“Hei…tolong buka pintunya, aku bisa menjelaskan kalau rumah ini punya ku. Maksud ku rumah ini milik nenek ku dan aku ini cucunya yang akan tinggal di sini.”

Selina tidak perduli dengannya, apalagi berbelas kasihan melihatnya. Rumah ini hingga satu tahun ke depan masih miliknya. Jadi tidak ada satu orang pun yang bisa masuk dan ikut tinggal selain adik dan juga ketiga sahabatnya, Maddie, Katya dan juga Arnie.

Chris masih berteriak-teriak minta di bukakan pintu, namun untungnya pak Darwis segera tiba di lokasi. Mendengar mesin motor berhenti, Chris turun dari tembok undakan tersebut, girang melihat sosok yang tidak asing dimatanya.

“Pak Darwiiiiisss!” Panggilnya setengah bersedih. Dia sudah menganggap pak Darwis itu seperti pamannya sendiri. Dengan langkah kaki tergesa-gesa, Chris menghampiri pria yang berusia 62 tahun itu dan memeluknya.

“Aduuuh, Mas Chris! Mas Chris!” Pak Darwis juga girang melihat anak majikannya itu. Boro-boro dia bisa melakukan apa yang diminta istrinya? Melihat pemuda itu berdiri didepannya, mengetahui dengan jelas kalau Chris tidak  punya apa-apa dan siapa lagi selain dirinya yang juga ikut mengurus sejak kecil, airmatanya mengalir begitu saja.

“Kenapa bisa begitu?Kenapa perusahaan ayah mu jadi begitu?!”

Chris yang tadinya senang, hatinya berubah menjadi sakit. “Aku juga gak tahu, pak. Tiba-tiba ada orang kejaksaan menerobos masuk ke apartemen dan menyegel semuanya…”

“Kita jangan ngobrol di sini, ke toko bapak aja dulu…nanti kita cari cara gimana baiknya? Tasnya taruh saja di situ dulu…ayo,ayo.”

Pak Darwis membawa Chris ke toko berasnya di pasar. Dengan baju keren, baru kali ini dia masuk ke pasar rakyat. Berbagai macam bau sayur, ikan basah, dan juga sampah sayuran yang membusuk akibat terinjak-injak kaki para pejalan, menari-nari masuk ke hidungnya. Tanpa bisa menahan bebauan itu, dia hampir saja muntah.

“Sial…tempat apaan ini?” Ucapnya sambil menutup hidung dan juga mencari cara agar celana bermerknya tidak kotor dan bau. Tapi semua itu tidak ada gunanya, dengan berat hati dia berjalan perlahan dibelakang pak Darwis yang sudah terbiasa dengan situasi pasar.

Mereka berdua duduk di meja, Chris kagum melihat toko milik pekerja ayahnya.

“Wah, sekarang bapak punya toko sendiri.”

“Itung-itung sambilan.” Ucapnya merendah. “Jadi sekarang, Mas tinggal dimana?”

“Rumah itu memang masih di kontrak ya pak? Berapa lama?”

“I-iya…seharusnya tahun lalu sudah habis masa kontrak, tapi mbak Selina memperpanjang kontrak sampai tahun depan.”

“Begitu ya?…kalau begini caranya saya tidur dimana pak?! Ini semua gara-gara perusahaan bangkrut. Kenapa pula ayah dan ibu saya pergi begitu saja? Apa mereka sempat menghubungi bapak Cuma sekedar pamitan?” Chris memberondong pertanyaan pada pak Darwis. Pak Darwis Cuma bisa menggelengkan kepalanya – berbohong.

Tapi karena beliau juga harus bisa mengerti perasaan istrinya tentang jangan membawa pulang Chris untuk tinggal di rumah mereka, pak Darwis juga memutar otak untuk mencarikan jalan keluar untuknya.

******

Selina menelpon Bram untuk menanyakan soal pemuda aneh yang tidur seperti gelandangan di depan rumah mereka, siapa tahu dia tahu tentang hal aneh ini?

“Apa? Ada laki-laki tidur di depan pintu?”

“Hmm…” Angguknya.

“Kakak memangnya pulang jam berapa tadi? Aku berangkat kuliah sejak jam 7 karena ada mata kuliah yang penting.”

“Aku sampai di rumah pukul 9. Mungkin orang aneh itu datang setelah kau pergi, Bram?”

“Kakak sudah menghubungi pak Darwis? Biar beliau saja yang mengurus orang itu.”

“Iya, aku sudah menghubunginya. Sepertinya beliau kenal dengan orang itu. Dia bersikeras mengatakan kalau rumah ini miliknya, dan juga mengetahui setiap sudut rumah ini beserta penjelasannya. Apa kau pikir itu bukan suatu hal yang aneh?”

“Jika dia pemilik rumah itu, dan berniat untuk tinggal…mestinya dia tahu kalau rumahnya sedang dikontrakan pada kita. Apa pak Darwis menipunya?”

“Heh, hati-hati kalau bicara, mana mungkin pak Darwis penipu…toh, waktu penandatanganan surat perjanjian kontrak pak Darwis bersama pemilik rumah yang namanya Adinugroho itu ada.”

Bram bangun dari tempat duduknya dan kemudian berjalan keluar dari ruang kelasnya. “Kita tunggu saja penjelasan dari Pak Darwis mengenai ini. Kak, aku masuk kelas dulu…dosennya datang!” Ujarnya sambil berlari masuk ke dalam kelas.

****

“Ahhh…apa yang harus kulakukan jika dia memohon untuk tinggal di sini? Ah, Katya!…Dia kan selalu bisa mencarikan jalan keluar kalau ada masalah seperti ini.” Selina kemudian menelponnya.

Katya sedang berada di kelas untuk mengajar. Karena dia termasuk guru bahasa asing yang galak, maka tidak ada seorang anak pun yang lengah ataupun tertidur di kelas. Motonya adalah, jika setiap hari mata mu melihat tulisan Jerman, membaca buku berbahasa Jerman, dan juga mendengarkan bahasa Jerman. Maka setidaknya kau tahu bagaimana mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jerman.

‘Hari ini kita akan belajar membuat kalimat adjektif berdasarkan apa yang kita pelajari tadi, nah siapa yang mau mulai terlebih dahulu?” Tanya Katya pada murid-muridnya. Seorang anak perempuan bernama Dyana yang duduk paling depan sebelah kiri mengangkat tangannya untuk menjawab.

Ja, was ist Ihre Antwort?[*Iya, apa jawabanmu?]”

“der gute Mann”[*Orang yang baik] Jawab Dyana.

“das große Haus”[*Rumah yang besar] Prue melanjutkan menjawab pertanyaan dengan contoh yang lainnya.

“die schöne Dame”[*Seorang gadis cantik] Kemudian Stephen ikut pula menjawab dari tempat duduknya dibelakang.

‘Sher gut!” Ujar Katya gembira, namun ketika ponselnya yang di letakan di meja mulai bergetar dan berdesir membuat mukanya masam. Dia melihat nama si penelpon dari layar LCD-nya. “Cik…bocah tengik!”, diangkatlah telepon dari Selina tersebut. “Apa?”

“Aku terlibat masalah besar…”

“Setiap hari bukannya kau selalu saja terlibat sebuah masalah besar? Dari kepala sampai kaki, kau memang sumber masalah, Eli. Haha!” Katya mencoba untuk bercanda.

“….Ini beneran Karjo! Tadi pagi ada laki-laki yang mengklaim rumah yang ku kontrak adalah rumahnya dan berniat untuk tinggal bersama.”

“APA?! Coba kau ulangi lagi?”

“Seorang laki-laki tiba-tiba ingin tinggal di rumah ku…Verstehen, Karjo?”

“…..Iya, aku mengerti. Tapi kenapa tiba-tiba seperti itu? Apa orang tersebut tidak tahu kalau rumah itu sedang dikontrak oleh mu sampai tahun depan?”

Selina menghela napas panjang, mengerutkan wajahnya lelah. “Tidak tahu…aku juga sedang menunggu kabar dari pak Darwis. Rupanya beliau dengan laki-laki itu saling mengenal.”

“Tentu saja mereka saling kenal, bodoh. Toh, dia mengaku kalau dialah pemilik rumah yang kau tinggali bukan? Lebih baik begini saja, kau bicarakan dulu dengan pak Darwis tentang masalah  ini. Aku sih emoh satu atap sama laki-laki yang gak dikenal, tapi untuk kasus mu…sebagai orang yang dituakan dikelompok TEGAR, aku menyetujui. Sudah berapa tahun kamu ngejomblo gara-gara si bajingan tengik itu kabur ke Amrik cuma buat cuap-cuap jual suara? Eli…Life must go on, girl. Do you think by acting like a moron giving you the chances to make it up all for good?”

“Aku sedang membicarakan orang aneh yang secara tiba-tiba ingin tinggal dirumah ku, bukannya membicarakan bagaimana caraku untuk menjalani hidup, Karjo. I need something to get away from this bullcrap, not asking your help to make one.

“Sorry…Gak ada maksud netesin cuka di luka mu – You know me lah? Terus kamu udah telepon Bram, apa katanya?”

“Bram sih sama dengan ku, nunggu penjelasan dari orang itu sama pak Darwis. Jadi gimana dong?!” Selina menunggu Katya mengeluarkan pendapat bagusnya.

“…..Terima saja. Kan bukan kamu yang rugi?”

Seorang muridnya merasa sedikit terganggu dengan obrolan Katya di jam-jam pelajaran. Badriyah berdehem keras, dehemannya didengar oleh Katya yang tersenyum merasa bersalah dengan menerima telepon dari temannya disaat mengajar.

“Kampret…kenapa mesti nelpon pas jam ngajar sih?”

“Memangnya masih jam pelajaran? Aku kira sudah jam istirahat?! Sorrrrriiii, Karjo. My mistake!” Selina menengok ke jam dinding yang menunjukan baru pukul 10 pagi. Dari teleponnya, terdengar Katya menutup ponselnya dengan keras.

“Maaf…kita lanjutkan membuat contoh kalimatnya.” Katya kembali serius mengajar.

****

Selina merasa bingung dan berfikir apa yang seharusnya dia lakukan. Ia pergi menuju pintu masuk dan membukanya. Tas-tas milik laki-laki itu masih berada ditempatnya semula. Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan orang itu tinggal di sini, ujarnya dalam hati.

Tapi apa boleh dikata, saat itu juga pak Darwis dan juga Chris dengan motornya sudah masuk dan parkir di halaman rumahnya.

Dia terkejut bukan main. Apa orang ini benar-benar mengajukan diri untuk tinggal di rumah ini?

“Mbak Selina…” Mendengar pak Darwis memanggil namanya, perutnya merasa tegang. Ia tidak suka perasaan seperti itu. Chris tersenyum ramah kali ini, seperti anak TK yang mencoba menyenangkan gurunya. Pak Darwis mengusulkan untuk bicara empat mata dengannya di ruang tamu sementara Chris menunggu di luar dengan tas-tasnya itu.

“Siapa orang itu pak? Benar dia anak pemilik rumah ini?”

“Iya…” Jawab beliau. “Mungkin mbak belum tahu kalau pemilik rumah ini, perusahaannya bangkrut dan yang tertinggal di sini itu…ya, mas itu.”

“Maksud bapak, perusahaan konstruksi bangunan megah pak Adinugroho?”

“Iya…sebenarnya majikan saya itu ingin membawa mas Chris pergi ke Vietnam. Namun karena gaya hidup mas Chris yang masih belum bisa sederhana…majikan saya ragu. Makanya saya disuruh tutup mulut tentang keberadaan orangtuanya. Majikan saya ingin dia bisa berdikari…kalau dia tinggal sama saya, mana bisa mbak? Karena harga dirinya tinggi, dia juga mana mau minta tinggal sama teman-temannya yang borjuis itu. Jadi…saya mohon. Ijinkan dia tinggal disini, belajar untuk mandiri.”

Selina bingung…namun dia juga pernah merasakan hal yang sama meskipun berbeda situasi. Dulu, sebelum dia mengenal keluarga Winardi yang nota bene adalah ayah dan ibu kandung Bram adiknya. Selina bukanlah siapa-siapa selain anak kecil yang masih ingusan berusia 6 tahun yang tidur di depan tangga rumah mereka. Ibu kandungnya berkata kalau dia ingin pergi ke toilet, namun hampir seharian tidak kembali untuk menjemputnya. Dengan berderai airmata, dia mengetuk pintu pasangan muda tersebut…dengan berani mengajukan diri untuk tinggal dirumah mereka asal diberikan sesuap nasi dan juga tempat untuk tidur setiap harinya, Mereka menganggap Selina itu hadiah dari Tuhan sebagai anggota baru keluarga Winardi. Ibunya Bram setelah melahirkan Bram divonis tidak bisa hamil lagi, karena Selina rajin dan juga sopan. Mereka berdua memutuskan untuk mengadopsi Selina menjadi anak mereka.

Sementara Chris diluar bicara pada dirinya sendiri, inikah yang namanya purgatori? Dimana tempat roh-roh yang baru mati tinggal untuk melakukan pertobatan? Seumur hidupnya dia tidak pernah minta pertolongan pada orang lain hanya demi menumpang hidup. Meskipun rumah ini adalah miliknya, tetap saja orang di rumah ini sebelum lepas masa kontrak menganggapnya menumpang.

Kemarin malam dia masih sempat berdansa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di club malam bersama teman-teman dan merasakan anggur merah mewah kesukaannya. Para wanita seksi mengumbar senyuman manis dan tubuh moleknya hanya demi bisa berkenalan dengan seseorang bernama Christian Adinugroho, pewaris tunggal salah satu perusahaan konstruksi  di Indonesia. Mereka mengantri demi bisa terbangun disisi pemuda ganteng itu, dan merasakan sarapan pagi yang dimasak olehnya. Lalu kehidupan keesokan harinya berubah total, ketika orang-orang dari kejaksaan menerobos masuk untuk mengambil alih aset miliknya juga. Kenapa orangtuanya tidak berkata apa-apa mengenai kebangkrutan perusahaan? Kenapa pula hanya dia yang ditinggalkan di situasi seperti ini? Sungguh malang kisah Playboy karismatik…yang kini mengalami degradasi moral.

“Inilah purgatori…aku ‘mati’ dan kini harus mereflekasikan diri ditempat ini.” Berharap sang pengontrak mengijinkannya tinggal selama 1 tahun.

Bersambung….

New Fanfic ‘Invincible Baseball Team’

Sorry for the baseball term inaccuracy. I try to learn them from a zilch!
Remember when I said I want to make fan fiction from this variety show couple of months ago in my past post Invincible Baseball Team currently on my mind . I guess, now this is the first result…hehehe.

Invincible Baseball Team

By. Dangyunhaji

Do not copy the ideas or taken my work out side this blog without telling me first.

Chapter 1: Crossroad

Sometimes I really wonder if human can actually dream a good dream. For instance, I dream that my father who is a coach for junior league baseball in some private school would shut his mouth about sending me abroad for continue my study than being a high school graduate who works in Pizza Hut. I really hate studying subject that I didn’t like. Studying subject in college it is like having a man to married. You can’t marry someone who you think you can live with, but someone who you can’t live without.

Economic, engineering, math, science – I’ll better check in myself on some mental institutions than having it deliver trough my door step like he wanted too.

My dad was turning into some strict man since my mom and he get a divorce when I was 14 years old. He really wants me to become someone that he or my mom would be. But I’m not stupid – why don’t I rebel with a cause? So since I was able to notice what wrongs are and what was good, I’m crusading myself.

When I though my misery would blow by itself by having a good boyfriend who loved me without scrutinize  how to behave or what clothes I should wear – live was good. I actually meet that kind of guy. His name is Alex…half Korean-Canadian, he was so sweet to me. With one word to describe him, he’s a prince!

But because he’s so sugary, my work-partner Mario isn’t buying with his effort to look like a good boyfriend for me. That’s why me and him always arguing in the kitchen.

So what if he’s too nice as a man? I consider that it’s my luck. Well, I guess Mario is right about it. After dating him for this past two years, now I know whose Alex really is?

October 2009,

Mario was making pizza dough next to me, because that day I’m PMS-ing. What ever I do or what people do in my surrounding, if they make me pissed—I’ll blow a fuse. Attach to that Alex isn’t give me a damn to call just to make me not worrying him, I know he act strange lately since two month ago after he got into motorcycle accident and must stayed at the hospital for a week.

After a week, he sometimes stays at his house after he went home from work. It’s great that he said he’s now meet his long lost friend when he was staying at the hospital and sometimes his friend staying with him too. But to much quality time for his guy friend and not with me makes me jealous! So, tonight I have an idea to make him dinner. I annoyed Mario about what should I buy for dinner, but that guy just brush me out like I’m a suspicious rash over his shoulder.

“What an Idiot!”

“Hey…be careful of what you wish for?”

“Super Idiot Mario!” I leave soon after my shift was over to meet Alex in his house, just like the very first time I visit his house when he told me to come for a romantic dinner. Well he like fish and pastas, so I bought the ingredients and a book to teach me how to cook it.

It’s a little bit cold that night. When I’m nearing his apartment, I saw light from his house. “He’s home.” I smile.

I walk to the front office, say hi to the old maintenance building guy and up to the 4th floor—Alex’s house. With full of happiness, I stand in front of his house. At first I want to ring the bell to let him know that I’m coming in. But because I think it will be fun if I just come in without him knowing, I grab the key that he gave me before. I opened the door slowly, put my jacket on the sofa. I put my groceries on the kitchen table.

“That’s strange; the light is on but no one here?” I walk to see his shoes, it still there on the rack…but there’s one additional shoe that isn’t him. I guess it’s belongs to his friend. And then I hear someone giggles from his bedroom. I heard Alex voice too.

First I think guys just like girls…they also chit-chatting in the bedroom while reading Vogue or gossiping some bimbo’s who go woes. What ever, I said in my heart and go to the kitchen. But because I don’t know where’s the heck he keeps his utensils, I roaming his kitchen set below. I accidentally hit my head over the kitchen set. “Aww…” I rub my head and try to stand. Alex and his friend – naked, surprise at the sound they hear from the kitchen.

“What’s that? Is your girlfriend here?”

“I don’t know? Just stay here okay?!” He grabs his trouser and wears it loosely. Alex came out from his room—surprised.

“Hi! Sorry I didn’t call you or ringing the bell.”

“You here?”

“What’s with the questions? You don’t feel happy to meet me? Look, you don’t call me or even pick up when I call you. It’s been two weeks since you get out from the hospital and I just want to know how you doing? I’m your girlfriend, is that wrong with that?”

“No…not at all. But look, today isn’t the day.”

“Your friend’s here, huh. Don’t worry; I just want to make you and him dinner. By the way, where is he? I want to meet him to say hello.”

“He-he’s out…beers?!” Alex makes excuses

“But I thought I hear something from your room…like someone giggles and you’re laughing at something.”

“Phone call!”

Since I know whether he spills out a lie or the truth from his words coming out from his mouth, today he’s officially lied to me. I don’t want to do this, but I run a check from his clothes he’s wearing.

Am I that-that easy

Is love that easy for you

Our memories seems easy to you

Is everything is easy for you

You only want hot love Baby girl

But you only give a cold hand Bad girl

Throw away your prided confidence

You keep teasing me (crazy girl) ~ U-kiss

Men were right that women had their sixth sense better than a K-9. I hate to commit my on suspicion on him. He’s with his friend in his bedroom, meeting me half gusto with messy hair-do like he just wakes up from his sleep. I keep telling myself don’t come in there – don’t come into his bedroom. But my PMS hormones get it own turn.

“I want to meet him, is he there right now?”

“No. He’s out buying some beer.”

“….” Without a word I smile. I walk to him when he was like guarding his bed room door from me who want to get in.

“Maeve…come on. Let me get you a drink?”

“Move over!”

“What the heck are you doing? It’s nothing in there really.”

“Move over, I do not want to repeat myself over this Alex.” I pulled his body out from protecting the door behind him. He slipped into the floor. I slowly opened the bedroom door, and was surprised to find a man in a state of half-naked on the bed. I paused and tried to think what is really happening in here?

He pulled the blanket to cover his shorts he was wearing. I tried to short it all quickly, a man sleeping with another man. What does that mean?

To be honest I’m a woman who still keeps my virginity until now because of my mother teaching’s. All men are criminals, only one from ten guys who could understand that woman’s chastity is important, and my mother would cut my hair bald if she caught me giving my precious belongings to men who are not going to take the responsibility for it. I understand I can’t give sex to him, so if he wants to make out with another girl is up to him behind my back. But since I know he wouldn’t do that – he wouldn’t do that, I’m shock that I found a guy in my boyfriend bed.

“Maeve…”

“Asshole!” I slap him on the face and run out crazily without bring my jacket in this cold night.

Tonight, my love story ends here.

Because not bring any money, I borrowed a mobile phone from a kindly pedestrian who lent it to me. First person I call is Mario.

“Mario…brings me some money and jacket too. I’m cold here!”

“What? You’re not at Alex house?”

“I need you here stupid; if not…I think I will do something crazy to the max!”

Mario who’s still up late watching basket ball game, take his remote control and turn his TV off.

“Where you at right now, I’ll pick you up?”

“You know the grandmother shop who sells tteokbeokki near his neighborhood right?”

“Yeah ~ wait me there!”

I give the phone to its owner. I’m almost freezing and haven’t eaten yet. Mario directly grab his own jacket, it’s a little bit easy for him not to changes clothes because he loves wearing trainings when it’s cold. After getting out from the house, he hailed a cab.

***

One famous baseball team in Korea ‘Crusader’ was depressed because of their relief pitcher Kim Sung Soo who deliberately enrage his opponent team in the game they just follow. They not earned victory but misfortune—the team was disqualified from the KBL game, if they want to continue to play the association board told the manager to froze Kim Song Soo carrier because even he’s a great pitcher with his four-seam-balls in the mid 95-mph range. His bad attitude serves his teammates a work of hell. Inside the bus the situation looks really bad. But for Sung Soo who still look proudly with his demeanor when one of his team mates looking toward him with irritated eyes.

He sat in the back seat without a friend, just like how he lived solitary life. His coach is really angry against him. In the act of anger, in the middle of the road he shouts at the driver to pull the bus right away. Coach Rhee took off his hat and then put it back, tries to calm his racing heart. But he failed. As soon as the bus pulled over, he walks toward Kim Sung Soo. “It’s too crowded here. Hey, you…can you open freakin window?” He told one of the guys to open the window near him. After the guy do what he’s says and the window were open.

“I take you into this team because you are the best of the best. But apparently I was wrong to pick you out from that dirty place that cannot see your greatness, I already gave you a chance, but you ruin your dreams. That was enough and I do not want to see you again.” The head coach took Sung Soo’s bag and throws it out side from the window. Sung Soo was angry and want to grab and hit him, but he holds his anger. The door automatically opens. He breathes in-breath out, clenching his right fist. Smile cynically to him before getting out from the bus— they leave him behind far from Seoul.

***

I’m standing infront of the tteokbeokki seller when Mario arrives. He look worried about me.

“What the heck are you doing out here?”

“It because that damn guy!! You cannot believe what I’ve been trough.”

“What?!”

“He’s cheating on me!!”

Before I explains this to him, I hear Alex calling my name behind me. Mario also heard the call, but because he was afraid that he’ll do something bad to me, he grab my hand and told me to stand behind him.

Alex looked closer from where I stand, I saw him bringing my jacket and my bag on his hands while half running towards me.

He gasped as his feet halted not far in front of  Mario, his tall figure just like a wall separating me and Alex.

“”What are you doing to the extent that Maeve stood outside the cold like this?”

“I know I’m wrong, Maeve. But at least let me explain everything to you?!”

I take a peek from behind Mario’s body. I don’t know what to ask or should I hear any explanation from him?

Kim Sung Soo apparently watching this scene from where he stood after he was expelled from his herds by his coach.

He’s being curious what kind of scene that the three of them would show him? Is it a triangle love story?

But at the same day, he does not know that the destiny between him, the tall guy and the girl are being created on that crossroad.

To be continue…

I Need Help >_<

Ada 2 cerbung gw yang mau gw revisi…rada sedih juga sih karena sedikit yang baca. Yang pertama yang masih mau gw selesaiin dan revisi itu ‘One Sweet Punch!’ sama yang udah tamat chapternya ‘My Miracle It’s You’.

Kenapa gw butuh bantuan? Karena gw diambang keputusasaan.

Pekerjaan gw tinggal menghitung hari, ini juga lagi nyari kerjaan lainnya buat mengcover semuanya. Temen gw ngasih ide kalo ternyata sehabis gw diberhentikan masih belom dapet kerjaan juga, mau gak mau gw harus nyari penerbit yang mau ngebeli cerita gw. Yang jadi dilema kalo ngeliat blog gw ini, yang dapet stats tinggi cuman FF Supernatural. Mungkin itulah salah satu alesan kenapa di traffic feed banyak juga yang berkunjung asalnya dari manca negara.

Permintaan tolong gw, gw kasih nama ‘My Future Project’. Gak minta donasi apa-apa, cuman minta sedikit waktu pembaca blog ini buat baca 2 (dua)karya gw tersebut, dan minta reviewnya supaya gw tau mana yang bakalan gw revisi untuk nantinya gw kirim ke penerbit. Gw tau karya gw pas-pasan dan mungkin bikin eneg yang baca. Tapi gw si amatir ini lagi berusaha keras demi cita2nya jd penulis.

{I’m gonna be sacked from my job. So I need help from the reader who read my lousy blog, I don’t need any donation like money. But I need your time to read the stories that I wrote from my heart and soul. The purpose is, because the D-day were closing in. I need something to secure my life, my friends told me to sell one of my online stories that I put on this blog. But currently when I saw my stats, the ‘popular’ one is my FanFiction from American series Supernatural. I don’t know I must be sad or happy?

So, if you guys–readers had a little bit of a free time. Please read my stories, and write a comment which one that I should revising to proposed it to the publisher between 2 stories. First is ‘One Sweet Punch’ and the second is ‘My Miracle It’s You’. I know my stories gonna make you barf or even puke, but hey–I’m an amateur who wants to do her best. Thanks!}

Link:

My Miracle It’s You

Prologue

Chapter 1

Chapter 2

Chapter 3

Chapter 4

Chapter 5

Chapter 6

Chapter 7

Chapter 8

Chapter 9

Chapter 10

Chapter 11

Chapter 12

Chapter 13

Chapter 14

Chapter 15 [Epilogue]

I’m gonna post the next story links tomorrow for ‘One Sweet punch’

Besok gw post link buat cerita selanjutnya ‘One Sweet Punch’

Thanks for the attentions.