Cinta Itu Buta![chapter 3]

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw :) … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 3:  So Long Ago….

Arnie datang berkunjung ke rumah Bram setelah menghilang selama 1 minggu. Usut punya usut, dia sedang kesal dengan salah satu teman kuliahnya yang selalu saja menghujatnya sebagai gadis yang aneh. Ketika Arnie datang mengetuk pintu, Selina membukakan pintu untuk masuk ke rumahnya dengan wajah bingung.

“Heh, kau pergi jalan-jalan lagi ya? Apa kau tahu kalau kami semua ikut pusing mencari tahu keberadaanmu? Memangnya kamu kemana, Nie?”

“Batam!” Sahutnya tanpa rasa bersalah. “Kak…aku numpang istirahat dulu ya di sini seblum pulang ke rumah?” pintanya tersenyum lebar. Selina tidak bisa berkata tidak, karena Arnie sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri setelah Bram.

“Ayo masuk, jangan berdiri terus disitu.” Selina ikut membawakan tas milik Arnie sambil masuk ke dalam.

Chris yang sedang mengocok telur untuk membuat omlete mie dan memasak sup kacang merah penasaran dengan suara anak gadis itu. Bram yang sedang sibuk membersihkan ikan juga ikut-ikutan berkomentar.

“Arnie…waah! Hebat banget ya kamu? Selama 1 minggu kabur cuman lantaran kesel sama si Betrice sostrange itu?!” Bram mengeluarkan komentar sinis padanya.

“Siapa dia? Pacarmu? Heh, apa dia juga akan ikut tinggal disini?” Tanyanya macam-macam karena takut kalau ada satu orang lagi yang tinggal maka keberadaannya didalam rumah ini terancam setelah melihat barang bawaan Arnie. Bram memandangnya dengan pandangan tidak percaya, “Jika harus memilih siapa yang harus tinggal di sini, aku akan menyuruh temanku itu untuk tinggal dan bukan paman!” melanjutkan pekerjaannya.

“Paman? Hei…aku belum cukup tua untuk dipanggil paman…Kakak juga boleh, atau cukup panggila namaku saja.” Ujarnya sambil tersenyum mengingatkan.

Bram dan Chris masih bersitegang di dapur, Bram mulai mengoreng ikannya dan Chris memasak sup dan juga memasak omlet itu di microwave. Arnie mengunjungi mereka berdua di dapur, diikuti oleh Selina yang berjalan di belakangnya.

“Oii…apa si sostrange itu masih berkoar-koar di kampus selama aku pergi menyepi?”

“Kau dan dia jika kupikir sama saja anehnya. Arnie, karena aku dan kau sudah bersahabat sejak ibuku dan ibumu masih mengidam nasi uduk jam 2 malam. Setidaknya kau bisa mendengarkan nasehatku barang secuil. Kau…kau sebenarnya tidak kesal bukan? Jujur saja. Itu karena dorongan hasrat bertualangmu besar saat itu– jadi kau langsung mengambil uang dibank untuk pergi main, bukan begitu?” Bram mencurigai Arnie.

“Ahaha…memang benar kata orang tua dulu, cermin terbaik adalah seorang sahabat lama.”

“Tapi jika terlalu lama bercermin dan cermin itu berubah jadi foto sinar rongent, itu bukannya malah jadi tidak menyenangkan?” Tambah Chris seraya menyiapkan piring-piring untuk masakannya.

Arnie baru sadar kalau masih ada orang lain selain mereka bertiga.

“Siapa ini?” Tanyanya pada Selina.

“Dia pemilik rumah ini dan untuk sementara waktu akan tinggal bersama kami.”

‘Ohh ~ mawar berduri.” Bisiknya pada Selina.

“Apa?” Selina balik bertanya tanpa suara.

“Oke makanan sudah siap! Dan nona manis ini tentunya akan makan sore di sini kan?” Tanya Chris pada Arnie. Gadis itu mengangguk dengan senyuman manisnya.

‘Aduuh, manisnya!” Chris membelai-belai rambut Arnie yang panjang sebahu seperti sedang memanjakan seorang anak kecil yang sudah berbuat sesuatu yang membuatnya senang.

Bram melihat pertunjukan itu dengan kesal, Arnie merasa senang diperlakukan seperti itu, kemudian berlari kearah Bram hanya untuk memberitahukan sesuatu padanya.

“Aku suka orang ini! Hahaha…” Tegasnya.

“Kau itu selalu suka pada orang yang menawarimu makanan…Pergi, jangan halangi jalanku!”

“Inilah yang terjadi jika aku berkawan dengan seekor unggas…”Celetuk Arnie pedas.

“Inilah yang terjadi jika terlalu dekat dengan seseorang, mereka akan kembali untuk menggorok lehermu ketika kau sedang tidak waspada!”Balas Bram untuk ucapan Arnie tersebut. Chris terheran-heran dengan sikap sinis mereka berdua – terlebih lagi mereka itu bersahabat satu sama lain.

“Apa mereka sering seperti itu?”

“Mereka cuma saling melepas rindu…” Jawab Selina singkat. Chris masih tidak melepaskan pandangannya ke wajah Selina.

“Kenapa? Ada sesuatu di muka ku?” tanyanya risih sambil menyapu-nyapukan tangannya ke wajahnya sendiri.

“Bukan…aku hanya ingin bertanya sesuatu?” Pandangan mata Chris menampakkan keseriusan, dan membuat Selina tidak nyaman.

“Apa?”

“Jika anak itu tinggal disini, apa aku harus menyerahkan kamarku?”

“IYA!” Jawabnya tanpa berfikir dulu dan langsung menuju ke meja makan. Meskipun di mejanya tidak ada hidangan yang istimewa, tapi setidaknya Chris bisa masak dan itu akan mengurangi kesulitan jika Bram sibuk dengan tugas kuliahnya.

“Wah…masakan mu lumayan juga!”tukas Arnie dengan lahap menyantap hasil masakannya.

“Anak ini…aku sudah memasak sejak dulu dan kau juga selalu ikut makan—tapi tidak pernah satu kali pun mengatakan hal yang seperti itu!” Arnie seperti sedang membuat Bram kesal.

“Rupanya kau harus belajar merayu wanita dari ku, sobat!” Tambah Chris dengan percaya diri.

‘Soal itu aku tidak perlu belajar dari mu…” tolak ketus.

“Jika kau mengajari adikku untuk berbuat macam-macam pada seorang wanita selama tinggal di sini, tidak perduli pemilik ataupun tamu. Aku akan mendepakmu dari sini!” Selina memperingatkannya sambil mengacungkan sedok ke arah mukanya.

“Iya, aku mengerti!”

“Lagipula, meskipun kau mengajarkan ilmu menggaet wanita pada anak itu hasilnya akan sia-sia…hahaha.” Ujar Arnie lagi menggodanya.”Bram tidak suka wanita cantik, tidak suka wanita tukang dandan, tidak suka wanita bodoh, tidak suka wanita yang berambut pendek, tidak suka wanita yang memakai high heels…a-p-a ada list yang belum ku sebut kan sobat?”

“Ahaha, aduuuh. Bagus sekali kau bisa ingat wanita yang bukan tipe ku?…Siapa yang keterlaluan menyukai seorang pria hingga mau berkorban menjadi sekretaris OSIS dulu?Tidak tidur siang malam cuma hanya untuk ikutan rapat ini-itu supaya bisa dekat dengan ketua OSIS itu? Arnie, Arnie…” Bram tertawa mengingat kebodohan Arnie.

“Apa aku boleh tanya kalian berdua sesuatu?”

‘APA?” Jawab mereka berdua secara bersamaan.

“Kalian ini apa benar bersahabat? Perkataan yang keluar dari mulut kalian berdua bagaikan racun berbisa yang saling semprot…menunggu salah satu dari kalian untuk mati terlebih dahulu. Atau….kalian pernah…pacaran?”

Bram, Arnie dan juga Selina tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan terakhirnya itu.

‘Aku dan dia?…kami tidak pernah berpacaran. Memikirkan aku harus bersama gadis aneh macam dia membuat bulu kuduk ku merinding…Hahaha!”

“Aku merasa ingin mencocokan sendok ini ke mulutnya…” Arnie sedang sensitif dengan kalimat ‘gadis aneh’.

Chris yang melihat ekspresi Arnie pada Bram yang masih terpingkal dengan kenyataan kenapa harus pertanyaan kocak seperti itu yang ditanyakan oleh Chris padanya. Namun dengan segera, Chris mencoba menetralkan Arnie yang hampir meledak itu.

“Gadis aneh apa? Dia cantik dan juga manis. Jika usiamu lebih tua 7 tahun pasti aku akan jatuh hati.” Mencoba memberikan obat penawar untuk gadis itu.

“Lihat…orang ganteng saja punya mata untuk melihat dan menilai ku…Chris, lalu bagaimana menurutmu tentang kak Selina?”

Pertanyaan Arnie membuatnya kaget begitupun Selina. “Penilaian mu terhadap kak Selina bagaimana?”

“Huh?…uh~ menurutku dia baik. Entahlah, aku baru mengenal mereka berdua…” dalihnya dengan sebuah senyuman.

Ketika mereka sedang asik-asiknya makan, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Spontan mereka semua menghentikkan kegiatan mereak dimeja makan—penasaran siapakah yang datang sore-sore begini?

“Apa mungkin teman-teman mu yang tadi lagi?”tanya Chris pada Selina.

“Katya dan Maddy? Entahlah…” Geleng Selina.

“Biar aku lihat…” Bram mendorong kursinya ke belakang dan langsung berjalan ke pintu masuk untuk mencari tahu siapa yang datang.

Ketika Bram membukakan pintu, dia melihat seorang wanita tinggi semampai dan juga cantik. Rambutnya diikat kebelakang dengan rapi. Cara berpakaiannya seperti Katya, memakai baju bagus dan juga mahal.

“Maaf, anda ingin bertemu dengan siapa?”

“Apa Chris tinggal disini?”

“Maksud anda…Christian Adinugroho?”

“Iya…dia yang ku maksud.”

“Tunggu sebentar, akan ku panggilkan.” Bram berlari ke meja makan.”Chris…ada tamu untukmu. Seorang wanita cantik.”

“Huh? Siapa? Rasa-rasanya aku tidak pernah bilang kalau aku tinggal disini pada siapapun juga?” Ujarnya bingung. Mereka semua menghentikan santapannya dan fokus pada kedatangan tamu tak diundang itu.

Chris mendatangi orang yang dimaksud, yang katanya ingin bertemu dengannya. Wanita itu tengah melihat-lihat ruang tamu yang terpisah sekat bambu. Chris mengenali sosok itu.

“Novi?”

Novita tersenyum melihat Chris yang sedang berdiri menatapnya. Arnie, Bram dan juga Selina mengintip dari balik sekat itu.

“Ternyata kau tinggal di tempat ini?” Terlihat dari gaya bicaranya yang tidak senang.

“Ahh…iya. Untung saja aku masih punya rumah ini. Kalau rumah ini ikut-ikutan disita, entah aku akan tinggal dimana?” Chris merendah.

“Kau berubah…”

“Sudah pernah ku bilang bukan, aku ini cepat sekali menyesuaikan diri…menjadi miskin mungkin menjadi sesuatu yang baik untuk ku.”

Novita mengeluarkan sesuatu dari tasnya, dua buah kunci. Novita menyerahkan kunci rumah dan juga kunci mobil untuknya.

“Untuk saat ini kau pakai saja bungalow dan mobil milikku yang lain, tidak usah menumpang dengan penyewa disini.”

Chris ingin sekali mengambilnya agar bisa tidur dengan nyaman dan juga bisa keluar jalan-jalan. Namun apakah yang dipetiknya nanti? Sudah jelas-jelas kedua orang tuanya meninggalkannya seorang diri di sini karena takut dia tidak akan kerasan menjadi orang biasa yang tanpa apa-apa.

“Untuk saat ini, aku tidak punya keberanian mengambil apa yang akan kau berikan. Lagipula mereka baik padaku…”

“Tapi kau itu tunanganku! Mana boleh hidup seperti ini?”

“Bekas…”Chris menambahkan. “Bukankah hal itu juga sudah ku utarakan padamu? Bekas tunangan.”

“Terlepas ‘bekas’ atau tidak, anggap saja ini hadiah dari ku.”

“Novi…jika kau terus bertindak seperti ini, aku akan benar-benar kehilangan harga diri.” Chris menggambil kunci-kunci itu dimeja dan kemudian memberikannya kembali ke tangan Novita yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Arnie mulai berkomentar dari sisi Selina, “Rupanya punya harga diri juga dia?” Bisiknya.

****

“Do you have to be like this?” Nora dengan tegas bertanya pada promotor jumpa fans di Regent Hotel Taiwan.

“But the ticket was sold out…and now you ask us to make excuses to cut an half hour from what we’ve planned?”

“You guys should knows why I’m acting like this? As Jordan manager…” Dia berhenti sejenak untuk berfikir bagaimana menjelaskan kekesalannya pada tim promotor karena atasan mereka sudah membuat Jordan mabuk dan masih tertidur di kamar hotelnya sehabis pesta penyambutan.

Jordan dulu tidak gampang menerima ajakan minum dari siapapun juga. “He cannot be on stage in this kind of condition. Your boss should know this! CUT the program or we changed the schedules entirely? It’s your choice?!” Nora marah dan langsung pergi dari lobi hotel menuju kamar Jordan.

Di elevator kekesalannya masih tampak. Pikirannya melayang pada saat Jordan masuk ke kamar hotel dalam keadaan mabuk, Nora membantu memapahnya duduk di sofa.

“Kau itu kenapa? Besok sore sudah harus tampil, tapi kau mabuk begini?!”

“Bisakah kau ambilkan aku minum, tenggorokan ku tidak enak.”

Nora hanya bisa merengut kesal melihat orang yang disayanginya seperti itu. Dia mengambil air minum yang sudah disediakan di meja kerja.

“Ini, kau harus minum yang banyak supaya suaramu tidak kacau. Aku akan meminta seseorang untuk membelikan obat penghilang mabuk untukmu.”

“Kenapa kau selalu mengikutiku?Apa 3 tahun belum cukup membuatmu mati karena bosan?” Tanya Jordan padanya ketika Nora hendak melangkahkan kaki untuk menelpon meja resepsionis. Nora tidak berani menjawab, dia meneruskan niatnya untuk menelpon.

Teng…

Pintu elevator terbuka, Nora ingin memeriksa keadaan Jordan yang kepalanya masih pusing sehabis minum-minum. Dia mempersiapkan dirinya dengan seksama, membuang pikiran buruknya yang selalu menghantui setiap kali melihat wajah Jordan. Dia mengeluarkan cermin dan juga lipstik berwarna pink nude, dan memoles-moleskannya ke bibirnya yang mungil.

Nora masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu. Dia tercengang melihat Jordan sudah bersiap-siap untuk pergi sound check.

“Oh, sudah datang?” Jordan tersenyum padanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.”Maaf jika aku membuatmu repot, aku sudah bilang pada mereka jangan memotong show case ini seperti yang kau minta pada mereka. Kita pakai jadwal yang sudah kau siapkan saja! Ah, iya…apa kau sudah sarapan?”

“Iya…” Jawab Nora singkat karena masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dari diri Jordan.

“Baguslah…apa kau mau ikut ke hall atau istirahat sejenak sebelum show case dimulai?”

“Aku…akan menyegarkan diri di gym. Stress ku akan hilang jika aku berolahraga…”

“Kalau begitu aku pergi dulu ke hall.”

Jordan mengambil tas dan juga jaketnya, memberikan senyuman terakhir sebelum keluar dari kamar hotel.

Tubuh Nora bagaikan kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika tidak segera menyanggakan tubuhnya ke dinding dibelakangnya.

“Bukankah ini yang kau inginkan, Nora? Tapi kenapa yang kau rasakan saat ini seperti baru tertembak oleh sebuah peluru?”

*******

Ketika Jordan tiba di hall, kedatangannya telah ditunggu oleh wartawan sebuah majalah lokal ternama Di Taiwan. Jordan ingat kalau mereka ada janji untuk wawancara singkat. Jordan mempersilakan wartawan itu untuk duduk di ruang preparasi.

“Nin hao Jordan?!”(Apa kabarmu Jordan?)

“Wo hen hao…xie xie. Nin ne?” (Saya baik, lalu bagaimana dengan anda?)

“Wo ye hen hao…”(Saya juga baik)Ujar wartawan wanita tersebut sambil tersenyum ramah menghadapinya.

………

Mereka bercakap-cakap tentang segala hal dari mulai debut hingga sukses jadi penyanyi ternama. Untuk penutupan, wartawan itu bertanya tentang sesuatu.

“Dang di yi ci lai mei guo de shi ho ,ni zui xiang yao de shi she me?”(Ketika pertamakali datang ke Amerika apa ada sesuatu yang kau inginkan?)

“Bing qi lin……ni yi ding jue de wo de hua hen hao xiao ba, ke shi wo jiu xiang yao bing qi lin.” (Eskrim. Anda pasti menganggap perkataan ku lucu kan, tapi yang aku inginkan adalah eskrim)

“Mei guo de bing qi lin you hen duo hao chi de, wei she me xiang chi YIN DU NI XI YA (INDONESIA)de bing qi lin.” (Di Amerika banyak sekali eskrim yang enak-enak, tapi mengapa ingin makan eskrim buatan Indonesia?”

“Yin wei wo ke yi yi bian chi bing lin yi bian kan dao hen te bie de mou mou…..wo de tai yang….”(itu karena aku bisa memakannya sambil melihat sesuatu yang indah…matahari ku”

************

Akhirnya waktu show case di mulai juga…Nora sudah tegang melihat banyaknya penggemar Jordan di Taipei ini. Bahkan dengar-dengar dari negara tetangga asia lainnya pun ikutan datang untuk menonton show case yang waktunya tidak kurang lebih dari 2 jam ini.

Jordan ketika memasuki panggung diserbu oleh teriakan serta panggilan dari fans-fans-nya, yang kemudian di tenangkan oleh sang MC acara tersebut. Setelah menyapa dan juga berucap sepatah-dua patah kata sambutan, Jordan duduk di kursi tinngi untuk menyanyikan lagu yang sengaja dibuat olehnya dalam bahasa mandarin, lagu spesial untuk fansnya di Taiwan secara akustik.

Lagu tersebut berjudul ‘So long ago…..’ dalam bahasa Inggris.

“HEN JIU YI QIAN”
* hen jiu yi qian ,wo jian le yi wei nv hai you hen ke ai de xiao rong.
wo yi zhi zou dao ta de hou mian xiang zhua zhu ta de bei ying.
Ta de xiao rong, Ta de xin dong rang wo de xin diao.
Shi AI ma? Na shi hou wo shuo ” Shi”
* hen jiu yi qian ,wo na le yi lan de hua qu jian ta.
He shuo le xiao hua rang ta kai xin.
Dang wo shuo “WO AI NI”
Ta xiao,Ta de xin dong rang wo de xin diao.
Shi AI ma? Na shi hou Ta shuo ” Wo yuan yi”
*hen jiu yi qian, wo jian ta yao shuo zai jian.
Ta mei you shuo she me, shui ran wo hen nu li de zai yi chi yao bao ta,ke shi wo hen wu jue duan li.
Ta gei le wo quan shi jie,ke shi wo zhi neng gei le Ta xin tong.
Shi AI ma? Na shi hou wo shuo ” qiu ni bu yao yu jian dao gen wo yi yang de nan ren”.
*Yin wei wo zhi neng gei ni yan lei rang ni ku…ku..ku.
Mei you ni ,wo de sheng huo hao xiang kong le…
Yuan liang wo,ni ke yi you hao de li kai ….wo cai neng gou ji xu xiau qu.
Shui ran you yan lei wo ye bu neng ren zhu.

‘So long ago’

So long ago, I meet a girl with cute smiles
I always walk behind her to captured her shadow
her smile, her gesture makes my heart pounder
Is this love? At that time I said ‘yes’

So long ago, I meet her with a bucket of flower
and said funny things to make her happy
when I said ‘I love you’
she smile, her gesture makes my heart pounder
is this love? at that time she said ‘I do’

So long ago, I meet her to say goodbye
She didn’t said a word, even how hard I tried to reach her again…but I’m hesitating
She give me the world, but I only gives her trouble heart.
Is this love? at that time I said ‘please don’t meet a man like me again’

Because all I can give to you is tears to cry,cry,cry
I’m living an empty life with out you
forgive me, you can leave peacefully ….I’m able to go on
even with this tears I can’t hold.

(credit lirik di atas milik mei@ blog countingwayward, terjemahan mandarin special thanks to s0n34cullen@forum detik.copyright©2010)

Nora hanya bisa mengigit bibirnya, “Kenapa kau selalu mengikutiku?Apa 3 tahun belum cukup membuatmu mati karena bosan?” mengingat pertanyaan Jordan tadi malam sewaktu mabuk.

Tiga tahun, empat tahun…bahkan untuk selamanya pun…tidak ada pria lain yang terlihat dihadapan ku selain dirimu. Meskipun aku tahu lagu ini tentang dirinya, jika aku berusaha sedikit lagi, kau pasti akan bernyanyi tentang ku…Selalu tersenyumlah seperti itu padaku, hanya untuk ku. Ucap Nora dalam batinnya.

Bersambung….

Cinta Itu Buta![chapter 2]

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw :) … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 2: Apakah kamu anak yang baik atau nakal?

Hasil dari keputusan apakah Selina menerima Chris adalah….Keesokan paginya…

Bram sedang mandi dan keramas di kamar mandi ketika Chris mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi seperti sedang dikejar-kejar setan. Dengan kepala yang masih berbusa, Bram mencoba mencari pegangan pintu kamar mandi dengan mata yang sedikit terganggu karena air shampo yang mengalir hampir kematanya. “Si-a…?” Sebelum Bram bertanya ketika membuka pintu kamar mandi, Chris sudah menggeliat-geliat—mulas.

“Ka…mar…ma..nd…iii” Chris menarik Bram keluar yang hanya mengenakan boxer, kamar mandi pun diambil alih olehnya.

“Heh, heh. Kenapa kamu ini!”

Chris tidak memperdulikan panggilan Bram yang mengambil handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel di luar kamar mandi. Dia mengusap-usapkan handuk itu dari air shampoo yang menggangu sekitar matanya dengan perasaan kesal. Chris mencoba meredakan sembelitnya di dalam.

“Heh! Sedang apa kau di dalam? Cepet keluar! Heh, buka pintunya!!”

Chris meringis mencoba mengeluarkan kotoran yang sudah bersemayam di perutnya itu. “Sori, sori! Hampir semuanya keluar! Soriii…aakk…!Kalau sudah selesai, aku juga bakalan keluar dari sini.”

“Siaal…ini gara-gara kakak nerima orang aneh ini untuk tinggal di rumah ini.” Ujarnya kesal. Tanpa menghiraukan apa-apa lagi, Bram melanjutkan mencuci rambutnya di wastafel. Kegiatannya itu dilihat oleh Selina.

“Kamu kenapa cuci rambut di situ?”

“Orang itu kayaknya senang banget main nyelonong masuk, kakak harus hati-hati. Jangan sampai dia mengingau masuk dan tidur di kamar kakak.”

Selina menepuk bahunya, “Cih! Ada-ada aja kamu ini, Bram?”

Beberapa saat kemudian, Chris keluar dari kamar mandi. Dia sedikit malu ketika melihat adik dan kakak tersebut berada di luar menunggunya selesai memakai kamar mandi. Karena masih belum terbiasa…Chris hanya cengar-cengir terus kabur dari situ, kembali ke kamar yang dulunya dipakai oleh pak Darwis.

“Eisshhh…Benar-benar memalukan!” Menghela napas kesal. Tapi Chris harus menahan semua kebiasaan yang selalu dilakukannya. “Apapun yang terjadi, aku tidak boleh keluar dari rumah ini. Chris…kamu sekarang miskin, gak punya apa-apa. Jadi sudah seharusnya berbuat sesuatu demi hidup mu sendiri.” Dia lalu tertawa kecil, mengingat dia bisa menggurui dirinya sendiri sekarang. Orangtuanya lupa kalau dirinya itu pandai beradaptasi dengan lingkungan seperti apapun juga, ya, meskipun apa yang terjadi dengannya sekarang itu terbilang cukup ekstrim.

Bram masih tidak mengerti kenapa kakaknya mengijinkan orang itu tinggal, tapi apapun keputusannya pasti ada alasan kenapa dia begitu. Sambil mengeringkan rambutnya setelah selesai keramas, Selina mengambil sikat gigi dan odol dari wadahnya, kemudian menggosok giginya.

“Kak…meskipun kakak terlihat keras kepala tapi aku tahu hati kakak itu baik, tapi memasukan laki-laki itu ke dalam rumah apa tidak ada masalah?”

“Aku mengambil keputusan itu karena kasihan melihatnya. Dulu, aku juga seperti laki-laki itu…”

Sebelum Selina melanjutkan perkataannya, Bram langsung menyelanya. “Pasti yang ingin kakak katakan adalah bagaimana kakak masuk ke keluarga kami, bukan begitu? Benar kata ibu, aku harus memperhatikan kakak baik-baik. Bukan hanya suka mengadopsi kucing dan anjing jalanan semasa kecil, kini malah mengadopsi orang dewasa.”

“Hehehe…cobalah untuk mengerti.”

Bram menghela napas, “Terserah kakak saja. Tapi orang itu tidak boleh hanya menumpang, tapi ikut juga mengerjakan pekerjaan rumah.”

Selina tersenyum dan mengangguk, “Oke!”

Bram masuk ke kamar mandi untuk melanjutkan kegiatan mandinya yang tadi sempat terganggu oleh Chris. Selina menoleh ke pintu kamar belakang yang bisa terlihat dari tempatnya berdiri. Setelah selesai dengan apa yang dilakukannya, Selina berniat mengajak laki-laki itu bicara. Ia mengetuk pintu kamar Chris.

Tok..tok..tok…

Chris tahu hal ini akan terjadi, makanya dia segera mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian yang lebih sopan.

“T-tunggu sebentar…!” Chris membuka pintu dan menyambut Selina dengan senyuman casanovanya. Selina hanya bisa tercengang heran, bukan terpukau dengan ketampanannya. Chris sadar kalau Selina bukan seperti tipe perempuan-perempuan yang biasa ditemuinya.

“Biasanya para wanita akan terpukau dengan gaya ku sekarang ini?”

“Haha, maksudmu mereka akan berjatuhan seperti seekor lalat?…Jangan bersikeras membuat ku terpukau. Tapi jika kau merasa malu, kita bisa ulangi lagi.” Selina langsung menutup pintu kamar Chris, mengetuk pintu, dan membukanya. Kali ini dengan senyuman terpukau yang terlalu dipaksakan. “Waaaaahh…tampan sekali!” Puji Selina. Namun kali ini yang diam terpaku adalah Chris. Sel-sel diotaknya sedang kebingungan harus mengirimkan reaksi apa untuk tuannya ini.

“Apa kau senang?” Tanya Selina lagi.”Kalau iya, kita perlu bicara sekarang. Ikut aku ke ruang tamu.”

Seperti seekor anak anjing, Chris mengintil dibelakang Selina hingga ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan.

“Sebelumnya, aku mau mengatakan terimakasih sudah mengijinkan ku tinggal disini. Ya, meskipun rumah ini adalah milikku…” Ujung-ujungnya dia merasa menyayangkan.

“Itulah yang ingin aku bicarakan dengan mu. Aku tidak suka bicara panjang lebar…karena dalam 1 tahun ke depan kami masih punya hak tinggal di sini, maka statusmu hanya menumpang. Kata pak Darwis…keadaan mu yang sekarang kosong melompong. Jadi jika ingin makan dan tidur secara gratis, kau bisa membayarnya dengan membantu kami bersih-bersih rumah. Karena aku sering tidak pulang, maka untuk urusan memasak dan bersih-bersih adalah urusan kalian berdua, adik ku dan kau.”

“Tunggu…lalu apa yang kau kerjakan jika kami berdua yang melakukanya?”

“Jika aku ada waktu libur, aku juga akan mengerjakannya.”
”Apa kau libur hari ini?”

“Iya…kenapa?”

“Bagus…hari ini kau bantu saja adikmu. Aku sedang banyak urusan!”

“Tapi…”

Chris memasang wajah sedih, “Selina…tolong mengerti aku, aku baru saja mendapatkan hal yang buruk. Dalam satu hari kehidupanku berubah drastis seperti ini, kalau kau jadi aku apa mau menghabiskan satu atau dua hari hanya membersihkan rumah dan memasak? Aku harus keluar mencari cara untuk bisa bertahan hidup.”

“Cik..cik..cik…jika melihat dari cara mu berpakaian hingga matahari tenggelam diarah yang berlainan pun kau tidak bisa mencari jalan keluar dari kesulitan mu.”

Bram tiba-tiba datang dari belakang membawa tumpukan baju kotor. “Untuk sementara ini, kau bisa pergi keluar jika sudah bisa mencuci bersih seluruh pakaian hingga selesai.” Kemudian pakaian kotor itu ditaruh di meja dihadapannya. Muka Chris masam, “Ini sih namanya pelecehan…begini saja. Urusan memasak biar aku yang melakukan setiap paginya.” Chris mencoba menawar.

“Hari ini tidak masak. Kalau lapar, makan ini saja!” Bram juga membawakan sandwich yang dibungkus dengan plastic wrap.

“Kau ingin aku makan ini sambil mencuci pakaian? You’ve got to be kidding me!”

“Bercanda atau tidak…lebih baik kau kerjakan saja, tuan muda. Dan ingat, jangan masuk sembarangan ke kamar ataupun ruang kerja ku…mengerti. Aku tidak suka!” Selina mengingatkan.

Chris tidak bisa membantah perintah dua monster kejam yang memaksanya menjadi Cinderela. Karena aku miskin dan tidak punya apa-apa selain rumah ini, makanya kalian bertingkah seperti ini padaku?

“Baik, akan ku lakukan semua perintah kalian! Tapi janji, setelah aku selesai melakukan semua pekerjaan rumah, aku diperbolehkan untuk melakukan apapun yang aku mau.” Pintanya.

Dasar bodoh, memangnya aku berniat untuk mengurungnya disini apa? Pikir Selina dalam hati. Bram pun berfikiran yang sama dengan kakaknya dan berharap laki-laki itu tidak menimbulkan masalah.

****

Selina memulai pekerjaannya mengurung diri dengan alat-alat musiknya di ruang kerja, sedangkan Bram setelah selesai melakukan tugasnya yang dibagi dua dengan Chris sudah pergi ke tempat kuliah. Kini Bram masih berkutat dengan mesin cuci, dia tidak tahu seberapa banyak deterjen yang harus di masukan ke dalam mesin cuci? Dan berapa banyak helai pakaian yang harus dimasukannya supaya mesin cuci bisa berjalan dengan baik?

♪♪~ ~♪♪Kita berdua saling mencintai,

tapi kenapa memutuskan berpisah dengan cara kejam seperti ini?

Hanya bisa menghela napas ketika kita berdua berubah menjadi asing satu sama lain…

Aku ingin hidup tanpa harus berada dalam bayang-bayang mu

Menginjakan kaki tanpa harus terluka, tangisan ini pasti terhenti…♪♪~ ~♪♪

Chris berhenti dari kebingungannya ketika mendengar alunan lagu dari ruang kerja Selina. Melodi R&B yang riang namun lirik yang sendu, saling bertolak belakang, pikirnya.

“Inilah alasan kenapa aku tidak suka menjalin hubungan lebih dari 3 hari dengan seorang perempuan.” Ujarnya pelan sambil jongkok melihat mesin cuci itu berputar.

Dari jauh sebuah mobil sedan berwarna merah tua berhenti di depan gerbang rumah Selina. Rupanya itu Katya dan juga Maddie yang segera ingin melihat seperti apakah laki-laki pemilik rumah kontrakan Selina. Karena Selina sedang fokus pada pekerjaannya, mau tidak mau Chris berlari untuk membukakan pintu gerbang ketika klakson mobil tak henti dibunyikan.

“Siapa lagi ini? Begitu banyakkah orang yang memusingkan dari pihak si monster?” Bertanya pada dirinya sendiri dengan kesal.

Chris mendorong pintu gerbang, Katya dan maddie saling bertatapan ketika melihat laki-laki yang memakai T-shirt dan celana pendek yang terlihat basah. Keringatnya yang bercucuran membuat laki-laki itu terlihat seksi dimata mereka. Rupanya ini yang dimaksud oleh Chris ketika mencoba jurus maut casanovanya pada Selina, tentang wanita-wanita yang berjatuhan seperti lalat karena tersihir dengan ketampanannya.

“Katya…aku mau satu rumah dengan mahkluk terindah seperti itu.” Ucap Maddie yang tengah berada di awan nomor sembilan setelah melihat Chris.

Katya pun merasa iri dengan kehidupan sahabatnya, “Bocah itu sungguh mujur…kalau tahu saat-saat seperti ini pasti datang, ketika dia menawarkan untuk mengontrak rumah ini bersama-sama pasti ku iyakan! Das leben ist mein freund![*seperti itulah hidup, teman!]” Katya membuka jendela mobilnya.

“Thank you…” Katya mencoba menggoda Chris dengan senyumannya, begitu pula Maddie yang melambaikan tangannya memberi salam dari dalam mobil.

Mau tidak mau Chris mengambil kesempatan ini untuk mempraktekkan senyuman mautnya yang cool mempersilakan kedua wanita itu masuk ke dalam pekarangan untuk parkir. Rupanya jurus itu ampuh juga, tapi kenapa Selina tidak bereaksi?

Katya dan Maddie turun dari mobil, Chris mendekati mereka untuk berbasa-basi.

‘Dua nona cantik ini, ingin bertemu dengan siapa?”

“Apa Selina di rumah?” Tanya Katya.

“Ada, dia sedang sibuk di ruang kerjanya.”

“Anak itu sudah dua hari tidak pulang…bukannya istirahat malah melanjutkan kerja. Apa dia berencana untuk bunuh diri?”

“Katya…jaga bicaramu.” Maddie mengingatkan dengan sebuah senyuman, seperti meminta Chris untuk mengerti. “Jadi, kau yang tinggal disini dengan kakak beradik itu sekarang?”

“Iya…oh, hampir lupa. Nama ku Christian Adinugroho, kalian boleh panggil aku Chris.”
Katya seperti tahu siapa itu Adinugroho. “Apa hubunganmu dengan pengusaha kontraktor Adinugroho yang baru saja bangkrut itu?”

Mendengar kata bangkrut dan dari nada bicara Katya yang terdengar seperti meremehkan. Chris mulai menarik diri untuk berbasa-basi.

“Itu…ayah ku.” Tegasnya.

Katya tersenyum, dia tahu kalau perkataannya mungkin telah menyinggung ego laki-laki itu. “Berusahalah dengan keras. Memang tidak mudah untuk bisa memulai hidup dari keterpurukan. Kau, meskipun berbeda tapi sama dengan ku.”

Chris bingung dengan maksud perkataannya, “Maksud mu?”

“Katya juga anak orang kaya, namun dia melepas statusnya itu untuk hidup menderita layaknya rakyat biasa.” Jelas Maddie.”Tapi apa semua anak orang kaya itu punya wajah dan tubuh yang bagus ya?!” Masih mengagumi Chris dari dekat. Chris meskipun agak risih tapi mencoba untuk mengerti.

“Apa Selina sudah makan?” lanjut Maddie lagi.

“Bram hanya bikin sandwich. Ahhh~ perutku mana bisa tahan hanya dengan makan itu.”

“Sandwich? Kebetulan aku bawa makanan…cepat suruh Selina keluar dari kamarnya untuk makan. Kau juga boleh makan.” Tawar Maddie padanya. Tentu saja Chris girang.

Maddie menyiapkan piring-piring dan menghangatkan sup daging dan juga makaroni keju panggang kesukaan Selina. Katya juga membantu Maddie sementara Chris mencoba membujuk si monster untuk keluar dari goanya.

“Maddie, bagaimana kalau kita jodohkan Selina dengan anak itu?”

“Mulai lagi deh, mana mau Selina jodoh-jodohan seperti itu?”

“Habis kesel. Coba kamu pikir, sejak 3 tahun lalu di tinggal Jordan. Waktu kita untuk ngumpul kacau semua gara-gara dia. Sibuk inilah, sibuk itulah…nelpon juga cuma kalau ada perlu doang! Mungkin ini kesempatan bagus, dengan masuknya Chris ke rumah ini…siapa tahu dia bisa jatuh cinta lagi.”

Maddie menghela napas panjang, bukan karena dia harus merelakan laki-laki ganteng seperti Chris jadi kail untuk memancing Selina keluar dari sangkarnya, melainkan apa bisa Chris merubah pandangan Selina tentang cinta? Dia begitu terpuruk ketika memutuskan untuk berpisah demi cita-cita Jordan yang kala itu dapat tawaran dari pihak recording ternama di L.A untuk debut di sana. Maddie dan Katya di buat pusing, karena Selina bukan tipe yang kalau marah akan mengamuk seperti Katya, menangis tersedu seperti dirinya demi hal-hal kecil atau menarik seluruh uang tabungan untuk pergi jalan-jalan seorang diri model Arnie. Selina selalu memendam apapun yang dialaminya, dia hanya bisa merasa bahagia jika orang lain bahagia. Arnie selalu bilang pada Maddie, “Kak Selina itu mirip sama kura-kura Arnie…kakak tahu kan maksudnya?”

****

Chris mengetuk pintu ruang kerja Selina, tapi tidak dibuka juga. Karena perutnya sudah lapar, dia nekat masuk ke dalam. Ruang kerja Selina begitu apik, dia pernah masuk ke studio musik punya temannya, sedikit mirip. Selina sedang berkutat dengan musiknya, duduk didepan keyboard yang menghadap ke jendela, alasan kenapa ia tidak mendengar ada orang yang mengetuk pintu pintu dan memanggilnya adalah earphone yang bercokol dikedua telinganya.

“Sial…dia bilangkan tidak boleh masuk?! Bagaimana ini?” Chris baru menyesal sekarang. Tapi cacing diperutnya itu sudah tidak tahan untuk melahap makaroni keju panggang yang dibawa Maddie.

Perlahan Chris menghampirinya. Chris mendengar Selina sedang bersenandung lagu yang sedang dibuatnya. Dia mengigit bibirnya, sedikit ketakutan jika ketahuan kalau sudah main nyelonong masuk begitu saja ke dalam.

Namun ketika Chris hendak menyentuh bahunya untuk menyadarkan Selina kalau ada dua temannya yang datang untuk bertemu dengannya dari negeri antah berantah. Dia melihat pantulan wajah Selina di cermin yang terletak di jendela…Selina bersenandung sambil menutup mata – menangis.

Katya rupanya sedang menyaksikan Chris terdiam sambil melihat cermin pantulan Selina. “Apa dia tidak mendengar kau masuk?” Tanyanya pelan pada Chris yang terhenyak kaget.

“Oh…iya.” Jawabnya sambil melihat ke arah Katya. “Apa dia selalu seperti ini jika membuat lagu?”

“Jika kau tahu judul lagu-lagu yang diciptakan olehnya…kau pasti tahu! Biar aku yang panggil dia, kau makan duluan saja.”

“Hmm…” Chris mengangguk. Dia paling tidak suka melihat wanita menangis seperti itu. Don’t sway, Chris! Kemudian dia melakukan apa yang di suruh oleh Katya – keluar dari situ untuk menemui Maddie.

Katya menepuk bahu Selina, matanya terbuka – terkejut melihat Katya ada di ruangannya. ‘Sejak kapan kau berdiri disitu?” Tanya Selina melepas earphonenya.

“Sejak tadi…ayo keluar, Maddie bawa makanan kesukaan kamu!” Katya menarik lengannya. “Come one let’s eat!” Lanjutnya lagi sambil tertawa senang dan Selina pun hanya bisa menurut padanya.

Ketika Selina melihat Chris sedang asik makan makaroni panggang buatan Maddie, ia mengolok-olok soal tuan rumah yang seharusnya pertamakali makan, bukannya tamu. Perkataan itu membuatnya kesal, dengan mengerutkan wajahnya bak anak TK dia menancapkan garpunya pada makaroni-makaroni panggang yang tidak bersalah itu lalu bergegas kembali menemui mesin cuci yang mungkin timernya sudah berhenti untuk berputar.

“Jadi orang jangan jahat kenapa, Eli?” Maddie menegur Selina.

“Biasa aja kenapa, Mad? Hehe…thanks ya makanannya. Wuaahh, Maddie hebat!Makaroni Maddie yahud, nomero uno!” Selina memuji masakan Maddie.

“Kalo gak yahud, ngapain juga dia buka stand makanan?” Balas Katya.

“Karjo… lagi dapet ya? Pedes banget sih omongannya?!” Selina mengomentari kesinisan gaya bahasa Katya sahabatnya itu sambil mengunyah makaroni panggangnya. Katya hanya bisa tertawa mendengarnya mengatakan hal yang sama tentang dirinya berkali-kali.

Chris melanjutkan tugas mencuci pakaian, meskipun kesal tapi empat potongan besar makaroni panggang cukup membuatnya kenyang dari pada roti sandwich Bram. Lagu ciptaan Selina…Chris mengeluarkan ponselnya, mengetik kalimat tadi di google….

‘Luka by. Cyn. Pencipta, Selina.W.

Ketika hati ku terluka by. Jerome. Pencipta, Selina.W

Bagiku kau… by. Dome fezta. Pencipta, Selina.W’

“Kenapa semua judul lagunya dan juga liriknya sedih semua? Apa dia tidak pernah merasakan bahagia?” Menghela napas. “Itu mungkin karena dia nakal sama sepertiku. Makanya susah untuk bahagia! Haaaaa…cuci baju yang ini, cuci baju yang itu..smua,smua, semua dapat dilakukan, dilakukan dengan mesin cuci ajaib…hai! Chris…ada mesin cuci…lalalala…” berhenti menyanyikan lagu Doraemon yang digubah liriknya secara sembarangan olehnya sambil mencuci. Mengingat sesuatu yang terlintas di kepalanya ketika melihat halaman rumahnya. Teringat ketika ia masih kecil sering berlarian di halaman rumah ini bersama sang nenek. Saat-saat itu adalah saat yang paling bahagia. “Chris…senang sekali.” Melanjutkan liriknya yang tadi sempat terpotong karena bengong.

Setelah bercengkrama lama, Maddie dan Katya memutuskan untuk pulang karena Katya ada pelajaran tambahan, sementara Maddie tidak bisa lama-lama meninggalkan stand makanannya. Mereka berdua juga tidak lupa pamit pada Chris, yang  kini sibuk menjemur pakaian. Maddie masih tergila-gila dan masih sempat-sempatnya mengatakan kalau dia melihat sixpack Chris di balik t-shirtnya itu. Setelah selesai mengantarkan kedua sahabatnya, Selina terdiam melihat laki-laki itu mencoba mencari cara menjemur seprai.

“Mau ku tolong tidak?”

“Seharusnya pertanyaan itu kau tanya kan pada ku sejak tadi.” Ujarnya kesal, mencoba memeras gulungan seprai itu, namun ukurannya terlalu besar jadi kedua tangannya kelihatan hampir mau kram. Selina langsung membantunya.

“Kau pegang ujung yang sebelah situ, aku pegang yang ini.” Meskipun begitu karena mereka memutarkan ujung seprai masing-masing ke arah yang sama maka hasilnya sama saja bohong.

‘Cik..cik..cik…kau putar ke kiri dan aku putar ke kanan!” Serunya. Tapi Chris malah tertawa setelah mendengarkan kalimat perintah itu.

“Kenapa tertawa?” Tanya Selina heran.

“Habis lucu, seperti syair lagu anak-anak…putar ke kiri, putar ke kanan. Terus tambah Lalalala…hahaha.”

Selina tidak bisa menahan tawa mendengarnya mencari nada yang pas untuk lagu ke kiri dan ke kanan-nya. Mereka berdua berhasil menyelesaikan menjemur seprai itu di tambang. Karena merasa kelelahan, Chris meminta hadiah untuk usahanya itu.

“Janji tadi pagi masih berlaku kan?” Tanyanya pada Selina yang berjalan untuk duduk di teras rumah bergaya kolonial tersebut.

“Ahhh…janji apa ya?”

“Kalau aku berhasil melakukan pekerjaan rumah tangga, kau dan adikmu berjanji mengijinkan ku untuk melakukan yang ku inginkan.”

“Usia mu berapa sekarang? Seperti anak kecil saja merengek seperti itu.”

’27 tahun dan aku bukan anak kecil!” tegasnya.

“Kau mau melakukan apa memangnya?”

“Hal-hal sederhana…”

“Maksudnya?”

“Selina, ambilkan aku minum…aku haus!”

Selina mngerutkan keningnya, permintaan apaan ini? Malah berbalik menjadikan ku pembantunya. Pikir Selina.

“Apa dengan cara mu berlagak seperti laki-laki tertampan di dunia yang penuh dengan karisma, mampu untuk membuat ku berjalan dari sini ke dapur hanya untuk membawakan mu minuman? Hah…pikir lagi bung!”

Chris tersenyum jahil, dan tahu bagaimana caranya supaya Selina menurut. “Eyyy…ukuran bra mu apa benar segitu?” tanyanya iseng tanpa embel-embel sambil berpose bak perancang mode yang masih bingung untuk menambahkan variasi apa pada gaunnya dengan tangan terlipat sebelah, sedangkan satunya lagu ditempatkan di bibirnya sambil mengigit-gigiti kuku jempol tangan kanannya.

“Mati saja kau Christian Adinugroho!!” Selina mengambil penjepit pakaian dan menjepitkan benda itu ke hidungnya. Baru sadar kalau ternyata di cucian tadi ada beberapa helai pakaian dalamnya.

Siapa yang nakal, siapa yang baik? Jelas-jelas aku tidak tahu. Yang pasti…Aku gembira hari ini. Keadaan di Purgatori, aman dan terkendali.

Bersambung…

Cinta Itu Buta![Chapter 1]

Selina (26).

Selina adalah wanita berbakat dalam menciptakan lagu-lagu yang sering dinyanyikan oleh para penyanyi kenamaan saat ini. Hanya saja sifatnya yang keras kepala dan cuek seringkali disalah artikan sebagai arogansi seseorang yang sedang naik daun. Karya-karyanya seringkali terdengar seperti ungkapan kerinduan yang tidak pernah berhenti.

Apa boleh dikata? Dia menciptakan lagu-lagu mellow itu karena tidak bisa mengungkapkan kekesalan dan kepedihannya terhadap seorang laki-laki yang telah meninggalkannya hanya demi cita-cita untuk Go-internasional ke Amerika sebagai penyanyi pop.

Katya (32)

Teman karib Selina, dia paling jago mengkritik kehidupan sahabatnya itu. Dia bekerja sebagai guru bahasa German di sebuah sekolah swasta. Selain itu juga dialah yang paling modis diantara kawan-kawan Selina lainnya seperti Maddie dan juga Arnie. Kehidupan Katya bak seorang puteri karena ayahnya pemilik perusahaan elektronik terkenal. Namun karena tidak suka dengan segala kemewahan, Katya memilih untuk tinggal bersama dengan Maddie di sebuah apartemen kecil.

Maddie (24)

Impiannya menikah dengan pria tampan seperti yang sering dilihatnya dalam drama-drama Korea. Kepandaiannya dalam bidang memasak diwujudkannya dengan membuka sebuah food court spesialisasi di makanan khas Korea.

Arnie (22)

Sebenarnya dia ini sahabat adik Selina, Bram. Tetapi karena saking seringnya menghabiskan waktu bersama kakak-kakak perempuan yang cukup esentrik itu. Meskipun usianya masih muda, tetapi dia adalah ‘filosof’ ulung jika menghadiahi pepatah-pepatah mengerikan terhadap mereka berempat.

Bram (22)

Cowok ganteng berusia 22 tahun ini adalah adik Selina. Meskipun ganteng, dia bukan tipe playboy, Selina pastinya akan menghajar Bram kalau ketahuan membuat seorang gadis menangis karenanya.

Christian (27)

Di ulang tahunnya yang ke 27, dia mendapatkan sebuah hadiah yang tidak terduga buruknya. Perusahaan ayahnya bangkrut, ayah dan juga ibunya entah pergi mengungsi kemana? Dia ditinggalkan seorang diri tanpa apa-apa. Mobil, apartemen, barang mewah miliknya pun turut disita oleh kejaksaan. Christian ingat kalau masih ada satu harta yang tidak bisa diganggu gugat, yaitu sebuah rumah milik almarhum neneknya yang tidak kena sita karena surat-surat kepemilikannya menggunakan nama neneknya saat masih gadis. Christian tidak tahu kalau rumah itu sekarang masih di kontrak oleh seseorang, namun dia akan menggunakan berbagai cara agar dirinya diperbolehkan tinggal di rumah itu hingga masa kontak rumah tersebut habis.

Jordan (26)

Penyanyi terkenal yang sejak 3 tahun lalu meninggalkan Indonesia untuk mengembangkan karirnya di Amerika. Setelah mengalami kesulitan, akhirnya nama Jordan bisa bersaing dengan penyanyi papan atas Amerika.

Nora (25)

Manajer sekaligus orang terdekat Jordan. Hubungan asmara mereka  samar karena Jordan masih menyimpan cintanya pada Selina.

Dilarang mengkopi isi dari cerita ini baik keseluruhan ataupun bagiannya. Penulis Maeve ©2010. Nama tokoh adalah nama temen2 gw 🙂 … Sori prens, nyatut nama kalian buat cerita ini, hehe…karena gw keabisan nama.

======================================================

Chapter 1: Inikah yang namanya purgatori?

Dari dalam sebuah taksi yang masih melaju, Selina membuka kaca jendelanya untuk menghirup udara pagi karena sudah hampir dua hari ini sibuk membuat empat buah lagu untuk mini album seorang penyanyi wanita bernama Tasya. Angin yang berhembus membuatnya sedikit tidak mengantuk, ia melihat ke jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 9 pagi. Selina sudah melihat pekarangan rumahnya dan bersiap-siap untuk menghentikan taksi yang dinaikinya.

“Di depan,  tolong berhenti di depan yang ada pekarangan luasnya pak!”. Taksi itu berhenti tepat di gerbang depan rumahnya. Setelah membayarkan ongkos taksi, Selina menunggu beberapa menit untuk menyegarkan diri. Naik kendaraan dalam keadaan kurang tidur membuatnya pening, dia tidak mau adik laki-lakinya khawatir dengan kesehatan kakak perempuan yang selalu keras kepala ini. Taksi itu pun pergi, Selina menguap dan kemudian membuka pintu pagar rumahnya. Ia terkejut mendapatkan pintu pagar ternyata tidak terkunci. Dengan penuh penasaran, Selina masuk ke dalam, mencari tahu apakah adiknya masih belum pergi kuliah dan sedang menunggunya sebelum berangkat?

Ketika Selina sampai di pintu depan rumahnya, ia mendapatkan seorang pria tengah tertidur pulas beralaskan tas-tas besar dan juga sebuah koper yang disimpan di depan wajahnya untuk menahan angin. Ia melihat baju yang dikenakan pria itu. Kenapa pria ini tidur di depan rumah orang? Selina mencoba mencoba membangunkan dengan kakinya, selayaknya membangunkan seekor kucing jalanan. Namun pria dengan pakaian dandy itu tidak bergeming sedikitpun. Pria macam apa yang berani tidur di depan rumah orang seperti ini? Karena tidak mau repot, di telponlah pak Darwis yang pekerjaannya memaintain rumah yang dikontrak olehnya itu sejak 3 tahun lalu. Karena rumah pak Darwis agak jauh, maka butuh 15 menit untuk sampai setelah laporan, itupun jika pak Darwis belum pergi ke pasar melihat toko berasnya. Tapi untunglah pak Darwis bersedia datang untuk melihat siapa pria yang dimaksud oleh Selina. Setelah menutup telepon, pak Darwis segera pergi ke dapur untuk memberitahukan kalau dirinya akan pergi sebentar melihat rumah milik majikannya yang dikontrakkan pada Selina.

“Memangnya ada apa pak disana?”

“Saya juga kurang tahu jelas, tapi yang pasti ada pemuda tidak dikenal sedang tiduran di depan pintu masuk.”

“Aduh, jangan-jangan maling?”

“Maling kesiangan gitu maksud ibu?”

“Hahaha…iya pak, siapa tahu malingnya terlalu ngantuk buat rampok rumah jadi lesehan bentar di depan pintu. Ehhh, taunya kebablasan tidur sampe siang.”

“Hush, ngaco ibu ni. Tapi, non Selina bilang…dia pakai baju necis sama bawa koper banyak.”

“Oh ya? Jangan-jangan…pak, apa nyonya sama tuan besar waktu kabur ke luar negeri, tuan muda dibawa juga gak?”

“……eng…maksud ibu, Mas Chris?” setengah berfikir.

‘Iya…siapa lagi yang ibu maksud, pak?!” Istri pak Darwis langsung ketakutan, “Aduuh, gawat. Gawat ini pak? Mas Chris kenapa gak ikut????”

“Kalau begitu saya kesana cepet, ngeliat apa itu Mas Chris.”

“Pak! Kalau itu beneran mas Chris…jangan bawa tinggal di sini. Saya ngerti bapak itu kerja sama mendiang ibunya bapak Adinugroho sejak kecil dan kehidupan kita sekeluarga hampir seluruhnya ditopang sama beliau. Tapi sekarang ini beda, kalau kita nampung Mas Chris…bapak tahu sendiri kan kehidupannya itu seperti apa? Kerjaannya cuma habis-habisin uang bapaknya. Jadi orang miskin dalam tempo sesingkat itu pasti dia masih puyeng….apa itu orang yang di tv bilang, stress, trauma, syok. Kita juga gak kaya pak, jadi pertimbangkan lagi soal nolongin Mas Chris kalau pemuda itu ternyata benaran dia. Ngertikan bapak sama omongan ibu?”

Pak Darwis hanya mengangguk tapi tidak mengiyakan. Beliau secepatnya ke garasi tempat ia menyimpan sepeda motornya, ia mengenakan helm dengan terburu-buru.

Ketika mendengar berita bangkrutnya perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi tersebut, pak Darwis lah orang pertama yang dihubungi oleh Adinugroho, ayah Chris. Rumah yang ditinggali olehnya dan sang istri diberikan padanya, karena Adinugroho takut tidak bisa membayar gaji seperti biasanya untuk mengurus rumah ibunya. Adi nugroho dan dirinya tumbuh besar bersama-sama, jika tidak ada kasta yang memisahkan pembantu dan majikan, mungkin saja mereka berdua bisa jadi sahabat. Dinyalakannya mesin motor, lalu dipaculah motornya itu menuju rumah Selina.

Selina terus saja menatap jam tangannya, menunggu kedatangan pak Darwis. Karena sudah capek dan kesal, Selina nekat membangunkannya. Gerakan mengusir kucing dengan kaki itu dilancarkan kembali olehnya…kali ini ada tanggapan. Hap! Pergelangan kaki Selina ditangkap oleh tangan kanan pemuda itu. Ke dua orang tersebut kini sama-sama terkejut.

“Si-siapa kau?” Tanya pemuda itu dengan mata setengah terbangun dan masih linglung.

“Se-seharusnya…aku yang tanya siapa kau itu?”

Pemuda itu masih bingung, “A-aku?” .Selina masih melihatnya dengan perasaan tidak enak. Pandangan matanya melihat ke arah pergelangan kakinya. Pemuda itu sontak melepaskan pegangannya.

“Aku, aku ingin masuk ke dalam. Tapi rupanya kunci rumah ini sudah diganti…apa anda tahu pak Darwis kemana? Kamar belakang miliknya juga dikunci.”

Selina tersenyum kecut, dia menganggap pemuda itu bodoh dan tidak tahu diri, dan kenapa bisa terlibat percakapan aneh ini dengan pemuda tersebut.

“Pergi.”

“Huh?”

“Apa yang sebenarnya anda lakukan di depan rumah orang pagi-pagi seperti ini?” Tanya Selina menahan kekesalannya.

Pemuda itu terhenyak ketika mendengar pertanyaan Selina. “Apa?!” Dia terbangun dari posisi tidurnya dengan  cepat, seperti baru saja terjadi ledakan bom Hiroshima. Selina menjauh karena tingkahnya itu.

“Rumah, rumah orang lain? Jelas-jelas ini rumah ku.” Di berlari ke halaman rumah, mengkaji semua sisi rumah tersebut dengan matanya untuk memastikan dia BERADA dirumah milik neneknya.

Ayunan, check! Pagar tinggi warna putih, check! Pohon belimbing bangkok dekat keran air, check!

“Ah! Dulu nenek punya anjing siberian husky dan rumah anjingnya ada di samping rumah dengan nama Django”. Segeralah pemuda itu berlari menuju halaman samping kiri…”Haha! Benar ini rumah ku. Django meninggal beberapa bulan kemudian karena sakit sepeninggal nenek ku. Rumahnya masih di sini!” Ujarnya dari samping halaman pada Selina.

Selina yang tidak mau mendengarkan penjelasan sampah yang panjang kali lebar dari pemuda itu langsung membuka pintu dan kemudian masuk ke dalam rumah, tidak lupa pula ia mengunci pintunya dari dalam.

“Psikopat…”

Chris yang terlalu senang menemukan rumah anjing bernama Django berlari lagi untuk menemui perempuan berambut pendek yang ditemuinya tadi. Namun dia tidak menemukan perempuan itu di depan pintu.

“Kemana nona tadi? Apa dia tidak percaya kalau aku ini pemilik rumah ini?!”

Dia mendengar suara tv dinyalakan, berarti rumah ini ada penunggunya. Chris memanjat tembok setinggi lutut yang dulu digunakan neneknya untuk menanam pohon mawar, cuma sekarang mawar-mawar itu sudah tidak ada, dan sudah di tembok.

“Waah…dasar!” Tertawa tidak percaya. “Perempuan itu benar-benar tidak punya hati. Seharusnya dia mendengarkan penjelasanku dulu sebelum memutuskan meninggalkan ku seperti orang gila di luar sini.”

“Hei…tolong buka pintunya, aku bisa menjelaskan kalau rumah ini punya ku. Maksud ku rumah ini milik nenek ku dan aku ini cucunya yang akan tinggal di sini.”

Selina tidak perduli dengannya, apalagi berbelas kasihan melihatnya. Rumah ini hingga satu tahun ke depan masih miliknya. Jadi tidak ada satu orang pun yang bisa masuk dan ikut tinggal selain adik dan juga ketiga sahabatnya, Maddie, Katya dan juga Arnie.

Chris masih berteriak-teriak minta di bukakan pintu, namun untungnya pak Darwis segera tiba di lokasi. Mendengar mesin motor berhenti, Chris turun dari tembok undakan tersebut, girang melihat sosok yang tidak asing dimatanya.

“Pak Darwiiiiisss!” Panggilnya setengah bersedih. Dia sudah menganggap pak Darwis itu seperti pamannya sendiri. Dengan langkah kaki tergesa-gesa, Chris menghampiri pria yang berusia 62 tahun itu dan memeluknya.

“Aduuuh, Mas Chris! Mas Chris!” Pak Darwis juga girang melihat anak majikannya itu. Boro-boro dia bisa melakukan apa yang diminta istrinya? Melihat pemuda itu berdiri didepannya, mengetahui dengan jelas kalau Chris tidak  punya apa-apa dan siapa lagi selain dirinya yang juga ikut mengurus sejak kecil, airmatanya mengalir begitu saja.

“Kenapa bisa begitu?Kenapa perusahaan ayah mu jadi begitu?!”

Chris yang tadinya senang, hatinya berubah menjadi sakit. “Aku juga gak tahu, pak. Tiba-tiba ada orang kejaksaan menerobos masuk ke apartemen dan menyegel semuanya…”

“Kita jangan ngobrol di sini, ke toko bapak aja dulu…nanti kita cari cara gimana baiknya? Tasnya taruh saja di situ dulu…ayo,ayo.”

Pak Darwis membawa Chris ke toko berasnya di pasar. Dengan baju keren, baru kali ini dia masuk ke pasar rakyat. Berbagai macam bau sayur, ikan basah, dan juga sampah sayuran yang membusuk akibat terinjak-injak kaki para pejalan, menari-nari masuk ke hidungnya. Tanpa bisa menahan bebauan itu, dia hampir saja muntah.

“Sial…tempat apaan ini?” Ucapnya sambil menutup hidung dan juga mencari cara agar celana bermerknya tidak kotor dan bau. Tapi semua itu tidak ada gunanya, dengan berat hati dia berjalan perlahan dibelakang pak Darwis yang sudah terbiasa dengan situasi pasar.

Mereka berdua duduk di meja, Chris kagum melihat toko milik pekerja ayahnya.

“Wah, sekarang bapak punya toko sendiri.”

“Itung-itung sambilan.” Ucapnya merendah. “Jadi sekarang, Mas tinggal dimana?”

“Rumah itu memang masih di kontrak ya pak? Berapa lama?”

“I-iya…seharusnya tahun lalu sudah habis masa kontrak, tapi mbak Selina memperpanjang kontrak sampai tahun depan.”

“Begitu ya?…kalau begini caranya saya tidur dimana pak?! Ini semua gara-gara perusahaan bangkrut. Kenapa pula ayah dan ibu saya pergi begitu saja? Apa mereka sempat menghubungi bapak Cuma sekedar pamitan?” Chris memberondong pertanyaan pada pak Darwis. Pak Darwis Cuma bisa menggelengkan kepalanya – berbohong.

Tapi karena beliau juga harus bisa mengerti perasaan istrinya tentang jangan membawa pulang Chris untuk tinggal di rumah mereka, pak Darwis juga memutar otak untuk mencarikan jalan keluar untuknya.

******

Selina menelpon Bram untuk menanyakan soal pemuda aneh yang tidur seperti gelandangan di depan rumah mereka, siapa tahu dia tahu tentang hal aneh ini?

“Apa? Ada laki-laki tidur di depan pintu?”

“Hmm…” Angguknya.

“Kakak memangnya pulang jam berapa tadi? Aku berangkat kuliah sejak jam 7 karena ada mata kuliah yang penting.”

“Aku sampai di rumah pukul 9. Mungkin orang aneh itu datang setelah kau pergi, Bram?”

“Kakak sudah menghubungi pak Darwis? Biar beliau saja yang mengurus orang itu.”

“Iya, aku sudah menghubunginya. Sepertinya beliau kenal dengan orang itu. Dia bersikeras mengatakan kalau rumah ini miliknya, dan juga mengetahui setiap sudut rumah ini beserta penjelasannya. Apa kau pikir itu bukan suatu hal yang aneh?”

“Jika dia pemilik rumah itu, dan berniat untuk tinggal…mestinya dia tahu kalau rumahnya sedang dikontrakan pada kita. Apa pak Darwis menipunya?”

“Heh, hati-hati kalau bicara, mana mungkin pak Darwis penipu…toh, waktu penandatanganan surat perjanjian kontrak pak Darwis bersama pemilik rumah yang namanya Adinugroho itu ada.”

Bram bangun dari tempat duduknya dan kemudian berjalan keluar dari ruang kelasnya. “Kita tunggu saja penjelasan dari Pak Darwis mengenai ini. Kak, aku masuk kelas dulu…dosennya datang!” Ujarnya sambil berlari masuk ke dalam kelas.

****

“Ahhh…apa yang harus kulakukan jika dia memohon untuk tinggal di sini? Ah, Katya!…Dia kan selalu bisa mencarikan jalan keluar kalau ada masalah seperti ini.” Selina kemudian menelponnya.

Katya sedang berada di kelas untuk mengajar. Karena dia termasuk guru bahasa asing yang galak, maka tidak ada seorang anak pun yang lengah ataupun tertidur di kelas. Motonya adalah, jika setiap hari mata mu melihat tulisan Jerman, membaca buku berbahasa Jerman, dan juga mendengarkan bahasa Jerman. Maka setidaknya kau tahu bagaimana mengucapkan sesuatu dalam bahasa Jerman.

‘Hari ini kita akan belajar membuat kalimat adjektif berdasarkan apa yang kita pelajari tadi, nah siapa yang mau mulai terlebih dahulu?” Tanya Katya pada murid-muridnya. Seorang anak perempuan bernama Dyana yang duduk paling depan sebelah kiri mengangkat tangannya untuk menjawab.

Ja, was ist Ihre Antwort?[*Iya, apa jawabanmu?]”

“der gute Mann”[*Orang yang baik] Jawab Dyana.

“das große Haus”[*Rumah yang besar] Prue melanjutkan menjawab pertanyaan dengan contoh yang lainnya.

“die schöne Dame”[*Seorang gadis cantik] Kemudian Stephen ikut pula menjawab dari tempat duduknya dibelakang.

‘Sher gut!” Ujar Katya gembira, namun ketika ponselnya yang di letakan di meja mulai bergetar dan berdesir membuat mukanya masam. Dia melihat nama si penelpon dari layar LCD-nya. “Cik…bocah tengik!”, diangkatlah telepon dari Selina tersebut. “Apa?”

“Aku terlibat masalah besar…”

“Setiap hari bukannya kau selalu saja terlibat sebuah masalah besar? Dari kepala sampai kaki, kau memang sumber masalah, Eli. Haha!” Katya mencoba untuk bercanda.

“….Ini beneran Karjo! Tadi pagi ada laki-laki yang mengklaim rumah yang ku kontrak adalah rumahnya dan berniat untuk tinggal bersama.”

“APA?! Coba kau ulangi lagi?”

“Seorang laki-laki tiba-tiba ingin tinggal di rumah ku…Verstehen, Karjo?”

“…..Iya, aku mengerti. Tapi kenapa tiba-tiba seperti itu? Apa orang tersebut tidak tahu kalau rumah itu sedang dikontrak oleh mu sampai tahun depan?”

Selina menghela napas panjang, mengerutkan wajahnya lelah. “Tidak tahu…aku juga sedang menunggu kabar dari pak Darwis. Rupanya beliau dengan laki-laki itu saling mengenal.”

“Tentu saja mereka saling kenal, bodoh. Toh, dia mengaku kalau dialah pemilik rumah yang kau tinggali bukan? Lebih baik begini saja, kau bicarakan dulu dengan pak Darwis tentang masalah  ini. Aku sih emoh satu atap sama laki-laki yang gak dikenal, tapi untuk kasus mu…sebagai orang yang dituakan dikelompok TEGAR, aku menyetujui. Sudah berapa tahun kamu ngejomblo gara-gara si bajingan tengik itu kabur ke Amrik cuma buat cuap-cuap jual suara? Eli…Life must go on, girl. Do you think by acting like a moron giving you the chances to make it up all for good?”

“Aku sedang membicarakan orang aneh yang secara tiba-tiba ingin tinggal dirumah ku, bukannya membicarakan bagaimana caraku untuk menjalani hidup, Karjo. I need something to get away from this bullcrap, not asking your help to make one.

“Sorry…Gak ada maksud netesin cuka di luka mu – You know me lah? Terus kamu udah telepon Bram, apa katanya?”

“Bram sih sama dengan ku, nunggu penjelasan dari orang itu sama pak Darwis. Jadi gimana dong?!” Selina menunggu Katya mengeluarkan pendapat bagusnya.

“…..Terima saja. Kan bukan kamu yang rugi?”

Seorang muridnya merasa sedikit terganggu dengan obrolan Katya di jam-jam pelajaran. Badriyah berdehem keras, dehemannya didengar oleh Katya yang tersenyum merasa bersalah dengan menerima telepon dari temannya disaat mengajar.

“Kampret…kenapa mesti nelpon pas jam ngajar sih?”

“Memangnya masih jam pelajaran? Aku kira sudah jam istirahat?! Sorrrrriiii, Karjo. My mistake!” Selina menengok ke jam dinding yang menunjukan baru pukul 10 pagi. Dari teleponnya, terdengar Katya menutup ponselnya dengan keras.

“Maaf…kita lanjutkan membuat contoh kalimatnya.” Katya kembali serius mengajar.

****

Selina merasa bingung dan berfikir apa yang seharusnya dia lakukan. Ia pergi menuju pintu masuk dan membukanya. Tas-tas milik laki-laki itu masih berada ditempatnya semula. Tidak, tidak. Aku tidak akan membiarkan orang itu tinggal di sini, ujarnya dalam hati.

Tapi apa boleh dikata, saat itu juga pak Darwis dan juga Chris dengan motornya sudah masuk dan parkir di halaman rumahnya.

Dia terkejut bukan main. Apa orang ini benar-benar mengajukan diri untuk tinggal di rumah ini?

“Mbak Selina…” Mendengar pak Darwis memanggil namanya, perutnya merasa tegang. Ia tidak suka perasaan seperti itu. Chris tersenyum ramah kali ini, seperti anak TK yang mencoba menyenangkan gurunya. Pak Darwis mengusulkan untuk bicara empat mata dengannya di ruang tamu sementara Chris menunggu di luar dengan tas-tasnya itu.

“Siapa orang itu pak? Benar dia anak pemilik rumah ini?”

“Iya…” Jawab beliau. “Mungkin mbak belum tahu kalau pemilik rumah ini, perusahaannya bangkrut dan yang tertinggal di sini itu…ya, mas itu.”

“Maksud bapak, perusahaan konstruksi bangunan megah pak Adinugroho?”

“Iya…sebenarnya majikan saya itu ingin membawa mas Chris pergi ke Vietnam. Namun karena gaya hidup mas Chris yang masih belum bisa sederhana…majikan saya ragu. Makanya saya disuruh tutup mulut tentang keberadaan orangtuanya. Majikan saya ingin dia bisa berdikari…kalau dia tinggal sama saya, mana bisa mbak? Karena harga dirinya tinggi, dia juga mana mau minta tinggal sama teman-temannya yang borjuis itu. Jadi…saya mohon. Ijinkan dia tinggal disini, belajar untuk mandiri.”

Selina bingung…namun dia juga pernah merasakan hal yang sama meskipun berbeda situasi. Dulu, sebelum dia mengenal keluarga Winardi yang nota bene adalah ayah dan ibu kandung Bram adiknya. Selina bukanlah siapa-siapa selain anak kecil yang masih ingusan berusia 6 tahun yang tidur di depan tangga rumah mereka. Ibu kandungnya berkata kalau dia ingin pergi ke toilet, namun hampir seharian tidak kembali untuk menjemputnya. Dengan berderai airmata, dia mengetuk pintu pasangan muda tersebut…dengan berani mengajukan diri untuk tinggal dirumah mereka asal diberikan sesuap nasi dan juga tempat untuk tidur setiap harinya, Mereka menganggap Selina itu hadiah dari Tuhan sebagai anggota baru keluarga Winardi. Ibunya Bram setelah melahirkan Bram divonis tidak bisa hamil lagi, karena Selina rajin dan juga sopan. Mereka berdua memutuskan untuk mengadopsi Selina menjadi anak mereka.

Sementara Chris diluar bicara pada dirinya sendiri, inikah yang namanya purgatori? Dimana tempat roh-roh yang baru mati tinggal untuk melakukan pertobatan? Seumur hidupnya dia tidak pernah minta pertolongan pada orang lain hanya demi menumpang hidup. Meskipun rumah ini adalah miliknya, tetap saja orang di rumah ini sebelum lepas masa kontrak menganggapnya menumpang.

Kemarin malam dia masih sempat berdansa merayakan ulang tahunnya yang ke 27 di club malam bersama teman-teman dan merasakan anggur merah mewah kesukaannya. Para wanita seksi mengumbar senyuman manis dan tubuh moleknya hanya demi bisa berkenalan dengan seseorang bernama Christian Adinugroho, pewaris tunggal salah satu perusahaan konstruksi  di Indonesia. Mereka mengantri demi bisa terbangun disisi pemuda ganteng itu, dan merasakan sarapan pagi yang dimasak olehnya. Lalu kehidupan keesokan harinya berubah total, ketika orang-orang dari kejaksaan menerobos masuk untuk mengambil alih aset miliknya juga. Kenapa orangtuanya tidak berkata apa-apa mengenai kebangkrutan perusahaan? Kenapa pula hanya dia yang ditinggalkan di situasi seperti ini? Sungguh malang kisah Playboy karismatik…yang kini mengalami degradasi moral.

“Inilah purgatori…aku ‘mati’ dan kini harus mereflekasikan diri ditempat ini.” Berharap sang pengontrak mengijinkannya tinggal selama 1 tahun.

Bersambung….