Dong Yi

Gak diragukan lagi setelah demam Queen Seondeok, sekarang ada demam baru bagi pecinta serial kolosal dari negeri Ginseng tersebut yaitu Dong Yi ‘Water Maid’. Karena gue sendiri masih kepotong-potong nontonnya karena via TV swasta~sooooo rada gak ngerti jalan ceritanya gimana. Wkwkwkw…..I’mma gonna buy my fav. K-drama series kayak Best Love, Lie To Me dan nunggu satu lagi Romance Town beredar di lapak kesayangan gue. Dan tentunya Dong Yi~ ~ Jin Ji Hee looks cute as King Sukjong of Joseon.

Dan tentunya…sebagai mana kalian ketahui[readers] kalo gue udah masang foto beginian, pastinya bakalan nulis tentang sejarahnya. Well, gak banyak orang tahu tentang kiprah dayang Dong Yi di istana sebelum dia jadi Selir Raja Sukjong. Terpilihnya Dong Yi oleh Raja Sukjeong karena pada suatu malam, Dong Yi sedang berdoa di depan tempat kamar Ratu Inhyeon untuk kesembuhannya. Saat itu Raja Sukjong baru saja kembali dari perjalanannya melihat-lihat istana, setelah melihat dan mendengar, lalu tergugah karena kebaikannya, maka Dong Yi dijadikannya seorang selir. Dalam drama memang difokuskan tentang kiprah Dong Yi dari kecil hingga jadi Selir Raja di Joseon Era, sama seperti halnya Dae Jang-Geum –peranan Dong Yi  cukup besar sebagai Selir Joseon yang dikenal orang, seperti Seondeok dengan dibangunannya Cheomseongdae. Dong Yi melahirkan seseorang yang nantinya menjadi Raja Jeoseon, yaitu Raja Yeongjo[Pangeran Yeoning]–yang melahirkan insiden kelam ketika memerintah, ia dengan tidak sengaja menyebabkan putera mahkota[anaknya sendiri] meninggal dunia. Putera mahkota itu bernama Sado–yang dibilang punya penyakit kejiwaan[suka membunuh orang secara random dilingkungan istana, dan penyimpangan seksual ]. Karena malu, Yeongjo menyuruhnya masuk ke dalam sebuah kotak tanpa makan dan minum untuk menghukumnya, tapi hukumanya itu menyebabkan Sado meninggal pada hari kedelapan. Dan buat temen yang nanya soal YI SAN atau Raja Jeongjo kemaren2 di blog gue, nah– Bapaknya Yi-san tuh Putera mahkota Sado. Secara kebetulan gw nemu excerpt buat yang penasaran tentang Crown Prince Sado baca aja memoir yang ditulis sama istri nya yang bernama Lady Hyegyeong.


Phewww *lap keringet* baca excerpt-nya aja sedikit banyak gw jadi tau apa yang terjadi saat itu dari narasi yang ditulis oleh Lady Hyegyeong. Btw…berarti kali ini gw nulis satu post tapi isinya 3 ya? Tentang Dong Yi, Yi San[yang kematiannya juga menyimpan misteri], dan Sado. Tapi kisah Crown Prince Sado mulai menggelitik otak gue buat investigasi…tapi sialnya gue bukan seorang sejarawan *jedot-jedot kepala* –pertanyaan gw, Crown Prince Sado: Sakit  Jiwa atau Konspirasi politik di lingkungan istana? Menurut Lady Hyegyeong, meskipun dia tahu kalau ada campur tangan  politik dalam insiden tersebut, tapi pangkal dari masalah itu adalah konflik pribadi antara ayah dan anak.

Okay~~that’s it for today!! Keep smilling people ^__________^ Have a nice day!!

Sejarah Korea 105: Pahlawan di negara angkat mereka

Makam-makam  misionaris asing yang imannya tanpa pamrih membantu mempercepat pembangunan korea seabad yang lalu

January 21, 2010
Sekitar 400 orang yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan Korea Yanghwajin dimakamkan di Pemakaman Misionaris Asing di Hapjeong-dong, utara. Oleh Shin Dong-hyun.

Menjadi orang asing di Korea pada pergantian abad ke-20 sudah cukup sulit, dengan tradisi Kong Hu Cu dan Buddha, takut penjajahan oleh negara-negara tetangga dan perang saudara yang akan datang semua berkontribusi merajalela mengakibatkan xenophobia.

Untuk menjadi seorang misionaris Kristen di sini adalah hampir mustahil tanpa tugas berbahaya. Namun beberapa masih datang, percaya bahwa mengindahkan panggilan Tuhan sepadan dengan tantangan yang mereka hadapi.

“Kalau aku punya seribu nyawa untuk memberi, Korea seharusnya memberikan semua,” membaca nisan Ruby Rachel Kendrick seorang misionaris yang meninggal pada tahun 1908 pada usia 24 tahun hanya delapan bulan setelah tiba di sini.  Pernyataan berasal dari sebuah surat yang ia tulis kepada orangtuanya.

Seperti Alkitab dalam butir gandum, Kendrick meninggal sebelum ia bisa melihat Korea menganut ajaran Kristen dengan semangat yang mereka miliki sekarang. Dia dimakamkan di Taman Makam Yanghwajin Misionaris Asing di Hapjeong-dong, utara Seoul.

Menurut situs Web pemakaman, sekitar 400 pengunjung, diplomat dan tentara dari 14 negara yang berbeda dimakamkan di sana, 143 misionaris di antara mereka.

Tetapi dalam tahun-tahun senja Dinasti Joseon (1392-1910), beberapa orang asing dikuburkan di sini memberikan hidup mereka tidak hanya untuk menyebarkan firman Tuhan yang mereka percayai, tetapi juga untuk memodernisasi dan mengembangkan infrastruktur Korea.

Menurut Lee Seong-sil, manajer pemakaman dan seorang pendeta di Peringatan HUT ke-100 Gereja di dekat kuburan, banyak dari mereka datang ke Korea tanpa hubungan pribadi di sini. “Beberapa misionaris asing bahkan tidak tahu tentang Korea, tetapi memutuskan untuk menyebarkan Injil Tuhan di negeri ini ketika mereka sedang di Cina atau dalam perjalanan mereka ke Cina,” katanya.

Para misionaris membangun sekolah-sekolah, panti asuhan, rumah sakit, gereja dan bahkan perusahaan-perusahaan surat kabar dalam apa yang kemudian dikenal sebagai “Kerajaan Pertapa,” terputus dari kontak dengan dunia luar.

“Mereka mengalami penganiayaan dan diperlakukan dengan penuh penghinaan,” Pendeta Lee mengatakan.

Ada cerita di balik setiap batu nisan di Pemakaman Yanghwajin Misionaris Asing.

John William Heron adalah misionaris medis pertama yang dikirim ke Korea oleh Gereja Presbiterian Amerika Serikat, dan misionaris asing pertama untuk dimakamkan di tanah Yanghwajin.

Bawah ini: Jeong Seon menciptakan Yanghwajin gambar ini sekitar tahun 1740.  Kanan bawah: Jeoldusan Syuhada ‘Kuil dan Museum, yang dibangun untuk memperingati pembantaian umat Katolik pada tahun 1866, terletak di sebelah kuburan.

“Heron bekerja sebagai dokter di Jejungwon, rumah sakit pertama di Korea yang memulai pengobatan cara barat,” Pastor Lee menjelaskan.  Ia meninggal pada usia 33 pada tahun 1890 dalam sebuah wabah penyakit yang ia telah coba membantu untuk mengobati.  Pada saat itu, Korea masih dalam tahap kebersihan lingkungan yang buruk dan penyakit menular merajalela.

Heron mengabdikan hidupnya untuk menyembuhkan orang-orang yang tengah sekarat, dan kematiannya telah memberikan kontribusi untuk orang-orang yang meninggal diberikan tempat peristirahatan denga n dibangunnya makam Yanghwajin. Beliau meninggal di tengah teriknya panas bulan Juli, yang sangat tidak memungkinkan untuk memindahkan tubuhnya ke makam khusus orang asing di Incheon ( pada masa itu menguburkan orang pribumi ataupun asing di dalam ibukota sangatlah dilarang ). Untunglah Horace Allen mencatat kejadian akan Heron.

“Ketika ia masih bekerja di Jejungwon, Allen secara ajaib menyelamatkan nyawa Min Young-ik, keponakan Ratu Min, yang luka parah selama upaya kudeta,” Pendeta Lee menceritakan.  “Saat itulah Allen mulai memperoleh kepercayaan di antara orang berposisi tinggi.”

Dokter misionaris menggunakan pengaruhnya untuk membujuk Raja Gojong untuk memungkinkan penggunaan Yanghwajin sebagai pemakaman bagi orang asing yang telah membantu memodernisasi dan mengembangkan Kerajaan Joseon.

Dekat tempat peristirahatan Heron meletakkan jurnalis Inggris Ernest Thomas Bethell, yang datang ke Korea pada tahun 1904 sebagai koresponden asing Daily News London untuk meliput Perang Rusia-Jepang. Ketika Bethell menemukan negara Jepang Korea merambahankan jajahannya pada kedaulatan Korea, ia memutuskan kalau ia harus mengatakan kepada dunia tentang hal itu, dan secara terbuka mengkritik Jepang di koran yang didirikan, Daehan Maeil Sinbo.

“Dia tidak takut untuk mengatakan kepada dunia tentang kekejaman Jepang di Korea. Hatiku hancur setiap kali aku memperkenalkan orang-orang ini ke liang kubur, “Gyeon Lee-Hyo, seorang relawan pemandu wisata di makam, mengatakan dalam sebuah wawancara dengan harian JoongAng pada tahun 2008. Nisan Bethell’s bertuliskan : Hasil perjuangan manusia untuk kemerdekaan Korea”

Sebagian besar lahan yang disiapkan untuk tujuh anggota keluarga Underwood, yang tinggal di  Korea selama empat generasi, mendirikan prekursor  Yonsei University untuk bertempur di Perang Korea.

“Aku lebih suka dikubur di Korea” yang terukir pada batu nisan dari Homer Hulbert, seorang misionaris Amerika yang didukung penuh semangat kemerdekaan Korea dari Jepang. Menurut situs Web pemakaman, Hulbert sering dilecehkan di luar negeri oleh penguasa kolonial Jepang setelah dia menulis buku-buku dan artikel, termasuk satu di majalah National Geographic, yang mendukung kemerdekaan Korea.

Mary Scranton, misionaris Methodis Amerika dan pendiri Ewha Girls ‘School, pendiri lembaga Ewha Womans University, adalah tokoh penting lainnya yang  dimakamkan di pemakaman ini, bersama dengan Henry Appenzeller, misionaris Methodist pertama di Korea yang mendirikan Gereja Methodis Chodong dan Pai Chai Methodist Boys ‘High School, yang juga sejak menjadi universitas, dan Alice Appenzeller, yang mengabdikan hidupnya untuk pendidikan perempuan di Korea.

Bahkan ada seorang pria Jepang dimakamkan di sini, bernama Kaichi Soda, yang peduli dengan anak yatim piatu di Seoul dengan istrinya dalam dua dasawarsa yang akhirnya Jepang menyerah pada tahun 1945, kemudian setelah pulang ia mendesak pemerintah dan rakyat Jepang untuk membuat restitusi yang tepat bagi dosa-dosa mereka selama perang.

Soda diundang kembali ke Korea pada tahun 1961, dan dimakamkan di samping istrinya ketika dia meninggal pada tahun 1962 pada usia 95.

Daerah di sekitar pemakaman juga direndam dalam sejarah tragis. Tahun 1866, di sebuah tebing di dekatnya, sekitar 8.000 umat Katolik termasuk sembilan imam Perancis dieksekusi oleh pemerintah Joseon.  Para martir yang meninggal batu peringatannya terdapat di Jeoldusan  ‘Kuil dan Museum’, yang terletak tepat di samping makam misionaris.

Kuburan itu sendiri adalah terbuka Senin sampai Sabtu.  Pengunjung dapat bergabung dengan tur berpemandu – tersedia dalam Bahasa Inggris, Korea, Jepang atau Cina – dari Jam 10 pagi hingga 3:30 sore, atau kunjungi tanpa panduan 9:30 pagi dan antara 5 sore.

oleh Yim Seung-hye, Kim Jong-rok [estyle@joongang.co.kr]

Penterjemah/Mei[].

Gw pernah baca kisah ini, tapi nggak tau kalau pembunuhan terhadap misionaris-misionaris tersebut didalangi oleh Heungseon Daewongun, ayah dari Raja Gojong yang terlibat konflik kekuasaan sama menantu perempuannya [Ratu Min, istri Raja Gojong].

Jadi pengen nerusin film Sword With No Name, soalnya itu kisah tentang Ratu Min.

Legenda Chunhyang

Love story of Ch’unhyang

Sebelumnya mereka tinggal di kota Namwon, provinsi Jeolla. Seorang anak pejabat bernama Yi Mongryeong, yang sejak kecil memang berbakat dalam literatur, dan sekarang tumbuh menjadi pemuda yang tampan.
Pada pagi yang indah, tuan Yi Mongryeong memanggil pembantunya, Bangja, dan memintanya untuk mengajaknya ketempat dimana ia bisa melihat bunga liar tumbuh. Bangja menuntunnya ke sebuah pavilius musim panas dekat jembatan Ojak, pemandangan dari jembatan Ojak sungguh mempesona. Jembatan itu diberi nama ssesuai dengan legenda tentang gadis penenun dan si gembala.

Saat melihat pegunungan yang jauh. Matanya menangkap sekilas pada gadis muda yang sedang bermain ayunan dibawah pohon. Dia menanyakan tentang gadis it pada Bangja. Bangja pun menjelaskan sekilas tentang gadis itu pada tuannya, bahwa gadis itu bernama Ch’unhyang (wewangian musim semi), anak seorang wanita penghibur bernama Wolmae. Bangja mengatakan kalau gadis itu bukan hanya cantik tapi juga berbudi luhur. Kemudian Yi Mongryeong memaksa Bangja untuk mengatakan pada Ch’unhyang kalau dirinya angat ingin menemuinya.

“Apa anda tahu kalau kupu-kupu harus mengejar sekuntum bunga, dan angsa harus mencari lautan?” Ujar Ch’unhyang ketus.
Bangja melporkan hal itu pada Mongryeong, yang kecewa akibat perkataan gadis yang mencuri perhatiannya tersebut. Bangja menyemangati agar tuannya sendirilah yang maju menemui gadis itu. Yi Mongryeong mendekati Ch’unhyang yang ternyata parasnya lebih cantik dari apa yang dia duga sebelumya.

Angin meniup rambut hitam dan pitanya yang panjang, dibalik rambut itu wjahnya merona merah, bersinar dengan penuh kebaikkan dan kebahagiaan dari tubuhnya.

“Keberuntungan seolah sedang ditawarkan padaku hari ini. Kenapa harus menunggu besok? Haruskah aku mengajak gadis itu bicara?” Tanya Yi Mongryeong pada dirinya sendiri.

Karena ketakutan terus dipandangi oleh Mongryeong, Ch’unhyang langsung berlari pulang ke rumahnya. Setelah kejadian itu, Bangja menyuruh tuannya untuk segera pulang karena takut akan kena hukuman oleh ayah tuannya. Saat pulang, Bangja kena hukuman pukul karena mengajak tuan mudanya bermain diluar hingga larut. Pikiran Mongryeong tdak terfokus dan terus menerawang jauh. Di dalam kamarnya, saat membaca buku, tulisan-tulisannya menjadi kabur. Yang muncul dan terlihat oleh matanya hanya ‘musim semi’ dan ‘wewangian’, Ch’unhyang, Ch’unhyang, Ch’unhyang. Mongryeong memanggil Bangja, “ Malam ini aku harus menemuinya. Bukankah gadis itu mengatakan bahwa kupu-kupu harus mengejar sekuntum bunga?”.

Mereka mengendap-endap pergi ke rumah Ch’unhyang, menginjak pada akar pohon pir saat mereka sudah mendekati rumah gadis itu. Di saat yang sama, ibu Ch’unhyang sedang mengatakan sesuatu pada anaknya iu, kalau malam sebelumnya dia bermimpi ada seekor naga biru mengeliling tubuh Ch’unhyang dan menggenggam Ch’unhyang di depan mulut naga itu, lalu terbang ke angkasa. Saat melihat ke atas, bukan seekor naga terbang di angkasa melainkan seekor naga di darat, karena ketahuan, lalu Yi Mongryeong meyampaikan maksud kedatangannya pada ibu Ch’unhyang. Setelah mengerti maksud kedatangannya, ibunya lalu memanggl Ch’unhyang untuk keluar menemui pemuda dari golongan terhormat itu, dan Yi Mongryeong juga meminta untuk meminang anak gadisnya itu. Karena mimpinya terwujud, dan Mongryeong pun datang dari keluarga terpandang. Ibunya menyetujui.

“Anda adalah anak orang terhormat dan Ch’unhyang hanyalah anak seorang kisaeng (wanita penghibur), jadi untuk menikahkan kalian secara resmi itu adalah hal yang sangat tidak mungkin. Kecuali anda menulis surat nikah secara rahasia dan berjanji tidak akan menelantarkan Ch’unhyang, itu saja sudah cukup.” Pinta ibunya.

Yi Mongryeong mengambil kuas dan menuliskan kalimat seperti ini : “Lautan biru mungkin saja bisa berubah menjadi ladang buah murbei, dan lahan murbei mungkin saja bisa berubah menjadi lautan biru. Namun hasrat hatiku pada Ch’unhyang tidak akan mungkin berubah selamanya. Surga dan bumi, para dewa yang menjadi saksinya.”

Setelah pernikahan rahasia itu, Mongryeong selalu datang menemui kekasihnya. Saat malam tiba pun mereka memimpikan hal yang sama tentang sepasang burung belibis tengah berenang bersamaan di sebuah danau. Ch’unhyang lalu menggoda suaminya itu, menyuruhnya pulang untuk belajar supaya suatu saat bisa menjadi pejabat seperti ayahnya. Sangat disayangkan kemesraan mereka tidak bertahan lama.

Tidak lama setelah pernikahan itu, pembantunya memberikan sebuah pesan yang mengatakan kalau pejabat dewan kerajaan yang baru ditunjuk oleh raja harus pindah ke ibukota. Yi Mongryeong yang harus mendampingi ayahnya, segera datang menemui Ch’unhyang untuk mengabarkan kabar buruk ini. Pasangan ini harus terpaksa mengucapkan perpisahan yang penuh tangis.

“Karena tidak ada lagi yang bisa merubah takdir kita, mari kita saling berpelukan dan berpisah.” Ch’unhyang melepas kepergian Mongryeong di jembatan Ojak. Ch’unhyang lalu memberikan Mongryeong sebuah cincin, “Ini tanda cinta ku padamu. Simpanlah sampai hari dimana kita akan bertemu lagi. Pergilah dengan tenang, tapi jangan lupakan aku. Aku akan tetap setia padamu, menantimu di sini untuk membawaku pergi ke Seoul”. Dengan kata-kata itu akhirnya mereka pun berpisah.

Pejabat kota Namwon yang baru datang menggantikan posisi ayah Mongryeong belum apa-apa sudah menyuruh bawahannya dan berkata,”Bawakan padaku gadis cantik yang terkenal bernama Ch’unhyang”.

“Permintaan itu terlalu sulit.”Jawab si bawahan.”Karena dia sudah menikah secara rahasia dengan Yi Mongryeong, anak mantan pejabat Namwon.”

Dengan marah, pejabat baru itu meminta Ch’unhyang dipanggil dengan segera. Karena takut dengan pejabat baru tersebut, akhirnya Ch’unhyag datang juga didampingi oleh pembantunya. Dengan cermat pejabat itu melihatnya dengan penuh rasa penasaran.

“Aku udah mendengar namamu sampai di Seoul, kau memang seorang gadis yang sangat cantik. Maukah kau bersamaku?”

Dengan menjaga setiap kata yang keluar dari mulutnya, Ch’unhyang menjawab. “Hamba sudah terikat dengan Yi Mongryeong. Oleh karena itu, hamba tidak bisa melakukan apa yang tuan minta. Baginda Raja telah mengirim tuan datang kemari untuk mengurusi rakyat, dn itu adalah tanggung jawab tuan yang besar. Akan lebih baik jika tuan menjalankan apa yang sudah menkadi tugas dn kewajiban tuan sebagai pejabat negara, menerapkan keadilan bagi rakyat Namwon sesuai dengan peraturn yang beraku di negeri ini”. Jawaban Ch’unhyang membuat marah si pejabat yang bernama Byun Hakdo tersebut, dan langsung memasukkan Ch’uhnyang ke dalam penjara.

“Kenapa aku harus dimasukan ke penjara?!” Protes Ch’unhyang. “Aku tidak melakukan hal yang salah. Sudah seharusnya seorang istri tetap setia kepada suaminya. Sama halnya dengan pejabat yang setia pada Rajanya.”
Perkataanya hampir saja membuat Byun Hakdo lebih marah lagi, dan akhirnya Ch’unhyang mau tak mau harus hidup di dalam penjara akibat tidak menyambut perasaan Byun Hakdo.

Sementara itu Yi Mongryeong telah sampai di Seoul, dimana ia belajar dengan sangat giat mempelajari semua literatur Cina, dan ikut ujian nasional pemerintahan dengan nilai yang sangat tinggi. Ia ditawari untuk bekerja di istana menjadi salah satu pembantu Raja. Saat Raja mengucapkan ucapan selamat padanya telah melewati ujian Munkhwa, sang Raja bertanya, “Apakah kau ingin menjabat sebagai pejabat kerajaan atau gubernur?”

“Hamba menginginkan posisi sebagai amhaeng osa (semacam inspektur polisi).” Jawab Yi Mongryeong. Yi Mongryeong dengan pangkat amhaeng osa berkelana ke seluluh negeri, menyamar sebagai pengemis.

Dan akhirnya, Yi Mongryeong sampai juga di Namwon. Kemudian dia mendatangi seseorang yang sedang menanam padi di sawah. Selama bekerja, petani tersebut mengucapkan sesuatu dengan nada sedih, “Kami keluar bertahan dengan panasnya sengatan mentari, mencangkul tanah kami, menanam benih, dan menjaganya hingga tumbuh menjadi padi. Pertama-tama kami harus membayar upeti pada Raja, memberikan sedikit pada yang miskin, sedikit lagi pada pengelana yang datang mengetuk pintu rumah kami, dan menyisakan sedikit uang untuk perayaan sembahyang nenek moyang kami. Itu tidak apa-apa bagi kami, tapi pejabat yang baru itu alah menguras semuanya hingga kami tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan.”

Karena mendapatkan sesuatu yang menarik, Yi Mongryeong mendekati mereka yang sedang bekerja di sawah dan berkata, “Aku dengar kalau Byun Hakdo sudah menikahi Ch’unhyang dan hidup bahagia.”

“Beraninya kau berkata seperti itu anak muda!” salah satu dari mereka marah.”Jangan pernah mengatakan sesuatu yang buruk tentang gadis malang itu. Ch’unhyang adalah gadis yang setia, jujur dan suci. Dan kau adalah salah satu orang yang bodoh karena membicarakan gadis malang dan pejabat busuk yang sudah berbuat jahat padanya. Bukan hanya itu, yang membuatnya menderita seperti itu adalah anak pejabat yang sudah menggoda dan menghilangkan kesucian dirinya, yang pada akhirnya meninggalkan gdis itu seorang diri dan tidak pernah kembali, kasihan sekali dia. Pemuda itu benar-benar brengsek!”

Para petani yang marah itu membuatnya terkejut, semua petani mempunyai ketidaksukaan yang sama pada pejabat baru yang menggantikan ayahnya. Saat melewati sekelompok pemuda lokal yang berasal dari keluarga aristokrat terhormat (Yangban) yang sedang piknik, Mongryeong pun mendengar keluhan yang sama.

“Inilah hari-hari yang sangat menyedihkan! Aku dengar seorang wanita bernama Ch’unhyang akan dihukum mati dalam dua tiga hari ini”.

“Oh! Pejabat yang ini memang bedebah.” Sahut pemuda yang lain lagi.”Yang dia pikirkan hanya bagaimana cara menguasai Ch’unhyang, tapi gadis itu seperti akar pohon bambu yang tidak tergoyahkan sedikitpun. Dia tetap setia kepada suaminya.”

Seseorang menambahkan,”Bukankah dia menikah dengan anak pejabat sebelumnya? Binatang seperti apakah Yi Mongryeong itu sampai hati meninggalkan istrinya yang malang itu.”

Komentar-komentar tersebut membuat Yi Mongryeong malu, khawatir, dan juga marah. Lalu kembali ke Namwon.

Sementara itu Ch’unhyang yang masih mendekam di penjara, dengan setia berpegang teguh pada Yi Mongryeong meskipun itu hanya dalam ingatannya saja. Tubuh Ch’unhyang mengurus, pucat dan sakit-sakitan. Suatu hari ia bermimpi berada di pekarangan rumahnya, bunga-bunga yang ditanam dan diraawat olehnya tiba-tiba layu, cermin yang berada di kamarnya pecah, dan sepatunya terganting di pintu masuk. Ch’unhyang dalam mimpinya menanyakan arti kejadian itu pada orang buta yang sedang berjalan melewati rumahnya.

“Aku akan menjelaskan artinya padamu. Bunga-bunga yang telah layu dan mengering akan tumbuh lagi dan berbuah, bunyi pecahan cermin akan terdengar ke seluruh negeri, dan sepatu yang ada di pintu itu artinya akan banyak orang datang pada mu untuk mengucapkan selamat”. Ch’unhyang berterimakasih pada orang buta itu untuk arti mimpinya dan berharap kalau mimpinya akan terkabul. Namun pada kenyataan, hidup Ch’unhyang sudah diujung tombak. Byun Hakdo mengundang wakil-wakil pejabat lainnya untuk mengadakan pesta besar di hari dimana Ch’unhyang akan di eksekusi 3 hari lagi.

Yi Mongryeong telah tiba di kota, dan langsung pergi ke rumah Ch’unhyang. Ibu mertuannya tidak mengenalinya,”Aku tidak mengenalmu, tapi wajahmu mengingatkanku pada Mongryeong tapi bajumu itu baju pengemis.” Ujarnya.
“Tapi aku memang Yi Mongryeong.”

Ibu mertuanya terkejut,”Oh!Akhirnya anda datang juga, kami sudah menunggumu. Dalam dua tiga hari ini Ch’unhyang akan mati!”

Yi Mongryeong mengatakan kalau, meskipun dia seorang pengemis namun hatinya tetap milik Ch’unhyang dan tidak akan pernah berubah. Yi Mongryeong memaksa ingin menemui istrinya itu, dengan didampingi ibu mertuanya, Ch’unhyang dan Yi Mongryeong pun akhirnya bertemu. Ch’unhya megatakan kalau besok dia akan dieksekusi, oleh karena itu dia meminta Mongryeong datang pada pagi hari karena ingin melihat wajah Mongryeong utnuk terakhir kalinya.

Keesokkan pagi, Yi Mongryeong mendatangi pesta yang diadakan oleh Byun Hakdo. Sudah menjadi kebiasaan jika pejabat kerajaan mengadakan pesta besar, para pengemis akan berdatangan untuk minta sedekah makanan dan Yi Mongryeong pun datang sebagai pengemis ke tempat itu.

“Tolong berikan aku makanan.” Pintanya. Lalu menyelinap dlam keramaian untuk bisa masuk ke dalam dengan memanjat tembok. Yang pertamakali ia temui adalah bawahan pejabat Undong bernama, Yongjang.

“Saya sangat lapar, bisakah anda memebriku sedikit makanan?” tanya Mongryeong padanya. Karena merasa kasihan, Yongjang menyuruh seorang kisaeng membawakan makanan untuk pengemis itu.

“Terimakasih, karena tuan sudah memebrikanku makanan. Sudah sepantasnya hamba membayar budi baik ini dengan sebuah puisi.” Dia memberikan puisi itu ke tangan Yongjang.

Anggur yang terisi dalam piala yang indah
Adalah darah dari ribuan orang
Daging-danginya yang disuguhkan dengan megah di meja giok
Adalah daging dan kesusahan beribu-ribu tahun
Yang terbakar di perjamuan mewah ini, adalah airmata orang-orang yang kelaparan.
Suara berisik dari nyanyian kaum bangsawan
Terdengar sama dengan keluhan para petani.

Setelah membaca puisi si pengemis, Yongjang merasa terhina.”Puisi ini seakan-akan menghina pejabat, tidak bisa diterima!” kemudian Yongjang meneruskan puisi itu pada Byun Hakdo.

“Siapa yang menulis puisi ini?”

“Seorang pengemis muda.” Tunjuknya pada Yi Mongryeong setengah ketakutan karena siapa pun yang telah menulis puisi seperti itu, pastinya bukan sembarang pengemis. Para pejabat yang hendak keluar masuk lingkungan Byun Hakdo segera di hentikan oleh orang-orang Yi Mongryeong di luar dengan pedang berjaga-jaga. Anak-anak pejabat mengerti dan tahu bahwa si pengemis itu bukan sembarang pengemis melainkan inspektur kerajaan. Yi Mongryeong memberitahukan identitas aslinya dan mengambil alih tugas Byun Hakdo yang sudah ditangkap karena bertindak tidak adil, menyengsarakan rakyat dan juga kekasihnya.

Mongryeong segera menyuruh pengawal untuk membawa Ch’unhyang untuk padanya untuk diadili, “Katakan pada wanita itu kalau utusan Raja telah datang untuk mengadili kasusnya.”

Ch’unhyang menangis, memanggil ibunya yang sejak pagi sudah mendampingi anaknya.”Ibu, ini adalah akhir hidupku! Mana Yi Mongryeong?”
“Jangan banyak bicara lagi, utusan Raja telah menunggumu!” Ch’unhyang di seret dan dibawa ke depan pengadilan. Yi Mongryeong duduk di kursi hakim dibelakang layar putih menutupi wajahnya.

“Jika kau tidak mau menerima cinta Byun Hakdo, apakah jika aku meminta mu untuk jadi miliku kau akan mengabulkannya?” Mongryeong bertanya pada Ch’unhyang dengan nada memaksa.

“Betapa tidak bahagianya orang-orang miskin di negeri ini! Pertama, pejabat yang tidak adil itu, dan sekarang anda inspektur kerajaan yang seharusanya datang untuk membantu orang-orang yang tidak berdaya ini. Betapa menyedihkannya menjadi orang miskin, dan begitu menyedihkannya hidup sebagai seorang wanita!”

“Mongryeong menyuruh petugas pengadilan membuka tali pengikat lengannya.”Sekarang naikan kepala mu dan lihat aku!”

“Tidak!” jeritnya.”Aku tidak akan melihat tuan, aku tidak akan mendengarkan perkataan tuan. Anda boleh memotong-motong tubuh hamba menjadi kepingan, tapi hamba tetap tidak akan mengabulkan permintaan untuk hidup bersama tuan.”

Yi Mongryeong tersentuh dengan ucapan kekasih sekaligus istrinya itu. Kemudian mencopot cincin yang Ch’unhyang berikan padanya dulu dan menyuruh pengawal memeprlihatkannya pada wanita itu.

Ch’unhyang kaget dan menangis bahagia ketika mengetahui orang dibalik layar itu adalah Yi Mongryeong,”Oh, kemarin kekasihku hanyalah seorang pengemis dan sekarang inspektur kerajaan!”

Mongryeong kemudian mengadili Byun Hakdo, mencabut jabatannya, mengasingkannya ke pulau terpencil tanpa makanan, karena keserakahannya mengambil upeti dari rakyat hingga kelaparan. Rakyat pun gembira mendengar hukuman Byun Hakdo, menyoraki Mongryeong dan Ch’unhyang yang akhirnya bisa bertemu dan berkumpul kembali. Mong Ryeong membawa Ch’unhyang ke Seoul, dan menceritakan kisah ini pada sang Raja. Raja pun tersentuh mendengar kisahnya dan memberikan gelar bangsawan pada Ch’unhyang. Meskipun dia lahir di keluarga miskin, dan ibunya seorang wanita penghibur. Ch’unhyang adalah model yang harus ditiru oleh semua wanita karena kesetiaannya. Akhirnya Mongryeong memperkenalkan Ch’unhyang pada keluarganya. Dan mereka pun hidup bahagia selamanya dan beranak pinak.
The end.

Ada yang bilang kalau Ch’unhyang, Yi Mongryeong dan Byun Hakdo itu asli karena nama mereka tercatat dalam buku kerajaan hanya saja ceritanya tragis. Ch’unhyang meninggal karena hukuman yang dijatuhkan oleh Byun Hakdo, Mongryeong membalas dendam atas kematiannya. Sejak saat itu, Mongryeong sering mengunjungi kediaman Ch’unhyang hanya untuk berbincang-bincang dengan ibunya mengenang kekasihnya itu.

Pangeran Yi Seok

Sekilas, beliau mirip sama aktor lawas Korea Ahn Sung-ki.

Pernah nonton drama Korea Goong S kan? Itu tuh, yang pemerannya Se7en?!

Nah, kan dulu PD-nya pernah bilang kalau drama itu dibuat karena terinspirasi sama kisah nyata kehidupan salah satu keturunan kerajaan korea, yg setelah kerajaan jd negara republik, Presiden Syngman Rhee menyita semua kekayaan kerajaan dan membuat semua anggota kerajaan harus banting tulang menyambung hidup. Ternyata kisah ini adalah kisah pangeran Seok, anak ke 11 dari pangeran Gang, putera ke 6 raja Gojong. Pangeran Gang punya 13 anak laki-laki dan 9 anak perempuan dari 14 wanita. Menurut Pangeran Seok, ibunya Hong Chong-sun untuk menyambung hidup rela berjualan mie di jalanan. Kebanyakkan dari mereka tidak bisa beradaptasi dengan kehidupan mereka yang baru di luar lingkungan istana, yang membuat masalah tambah buruk banyak juga yang ditipu orang, uang mrk dibawa kabur, dari tahun 2005 Pangeran Seok bekerja di Universitas Jeonju sebagai dosen.

Prince Yi Seok (wikipedia)

Painter of The Wind (바람의 화원 ) Shin Yun Bok

Probably you guys ‘the foreign readers’ a little bit confused with the language I wrote here, sometimes I use English…sometimes I use Indonesian language. FYI..I create this blog first for to put my stories, but lately…It becomes something else like Korean addict…Haha!

Gw pernah ngulas ini di Detik Forum . Gw copas lagi buat di taruh di blog gw…hehe, biasa klo orang males nulis pengennya copas T T…

Shin Yun Bok

Lukisan karya pelukis era Joseon Shin Yun Bok dilabeli sebagai Kekayaan Nasional no. 135, yang sekarang disimpan di Gansong Art Museum. Meskipun kehidupan pelukis ini sedikit rancu, ia dikenal sebagai seseorang yang dilahirkan dalam kalangan masyarakat menengah (Jungin), layak patut diketahui bahwa keluarganya telah melahirkan pelukis-pelukis profesional yang dikenal dari generasi ke generasi. Ayahnya, Shin Han-Pyung adalah salah satu dari pelukis istana yang direkrut masuk ke dalam Dohwaseon (sebuah institut yang bertanggung jawab membuat lukisan untuk kerajaan).

Menurut sebuah catatan, Shin Yun Bok juga bekerja dan di rekrut masuk Dohwaseon sebagai pelukis. Tapi karena karyanya dinilai vulgar dan offensif bagi nilai-nilai moralitas, ia dikeluarkan dari institut itu. Bagaimanapun juga keakurasian sejarah hidup Shin Yun Bok masih dipertanyakan. Kebanyakkan dari lukisannya adalah mengenai kehidupan sehari-hari kalangan kelas atas (Yangban) yang dipertontonkan secara indah dan berkelas, tapi ia lebih banyak membuat lukisan yang bertemakan percintaan, yang akhirnya memicu kontroversi kalangan konservatif pada masa itu tentang rusaknya tatanan kemasyarakatan karena dinilai vulgar dan cabul.
Lukisan pada masa dinasti Joseon adalah sebuah alat propaganda untuk menaikan imej penguasa pada masa itu dengan menggambarkan apa yang dilakukan oleh rakyat di luar istana yang nantinya diserahkan pada raja.

contoh lukisan genre ‘apa yang dilakukan rakyat’ adalah seperti contoh lukisan karya Kim Hong Do.

Yang menceritakan para petani yang sedang menumbuk padi. Kim Hong Do adalah guru sekaligus kebalikan dari genre lukisan Shin Yun Bok yang juga sering memperlihatkan kemunafikan dan juga pesta pora kaum elit dengan detail sejujurnya pada lukisan-lukisannya.

Figur Shin Yun Bok yang sangat misterius ini muncul kembali ketika sebuah novel best-seller karangan Lee Jung Myung terjual 300,000 kopi tahun lalu yang berjudul Painter of The Wind (바람의 화원 ). Dalam novelnya itu, menceritakan tentang Danwon (Kim Hong Do) sebagai guru dari Shin Yun Bok yang memakai nama samaran Hyewon yang berarti ‘taman yang dipenuhi oleh bunga anggrek’ mencoba mengorek konspirasi rahasia abdi dalam istana lewat lukisan-lukisan yang mereka buat. Shin diceritakan sebagai figur wanita yang dimana pada jaman tersebut para wanita tidak diperbolehkan untuk mendapatkan pendidikan atau status apapun yang sama dengan laki-laki baik dalam masyarakat ataupun pemerintahan. Jadi selama hidupnya ia menyamar menjadi seorang laki-laki yang kemudian menyadari bahwa dirinya telah jatuh cinta dengan gurunya tersebut.

Kisah novel ini juga telah dibuat versi drama televisi dan juga film yang posternya sangat menuai kritik.

Poster film Portrayed of Beauties.

Poster drama TV Painter of The Wind.

karya Shin Yun Bok lainnya bisa dilihat di wikipedia.

Old Picture of Korea~Walk Through History

I found a nice site when browsing the net. It’s the face of old Korea imprint on an old photograph. Source : part 1 , part 2, part 3, part 4

Gw nemuin foto-foto klasik di situs yg linknya gw post diatas. Ini cerminan kehidupan bangsa Korea di pertenganan abad 18 hingga 19-an. Gw ambil yang menurut gw bagus, klo mo liat keseluruhan, ya cek aja link yg gw kasih itu.

[1851-1895] Ratu Myeongseong/Empress Myeongseong

Yang masih kontroversi soal keotentikan foto tersebut.

[1871] Rogers, the landing of Commodore

[1871] Army prisoners

[1880] Jung, U.S. Embassy

[1881] Tentara/soldiers

Soldiers

Perkumpulan Pelajar[?]

Incheon tempo dulu

[1897] coronation of Emperor Gojong celebration parade/ koronasi Raja Gojong

Gw rasa ini Katedral yang di Myeondong.

^ Gisaeng

Wanita-wanita yang sedang keluar rumah.

^ Chongyecheon

Menyemai gabah

^ Gisaeng

^ Penjual  ‘Ongi’, gentong tanah liat dari Busan

^ Trem di kota Seoul

^ Rombongan arak2kan pengantin wanita ke rumah pengantin pria

sebenernya pengen post IBT ~Golden Glove Award yg kocak banget, cuman…gak tau kenapa jd malah posting ini dimari.

Mei signing off.

Sejarah Korea 104: Hwarang part.2

sumber http://www.hwarangdo.com/hwarang.htm

Samguk Yusa 5:228. Terjemahan: Peter H. Lee: Sourcebook Peradaban Korea, vol.I, Pers Universitas Columbia, New York, 1993, P,205. Intrepertation: Lee, Peter H.: pembelajaran di Saenaennorae: Puisi Tua Korea, Instituto Italiano Per Il Medio Ed Estremo Oriente. Roma 1959, P,55 dan 111-112.

“Selama pemerintahan King Chinp’yong (579-632), tiga orang anggota Hwarang, Kóyól-lang, Silch’ó-rang (atau Tolch’ó) dan Podong-nang baru saja akan melakukan perjalanan ke gunung Intan, sebuah komet merusak rasi bintang Scorpio. Salah satu bintang yang terdapat dalam susunan 28 bulan pada kalender bulan. Mereka penuh dengan firasat sehingga berniat membatalkan rencana perjalanan itu.

Kemudian guru besar Yungchon menulis sebuah puisi (594), yang dimana membuat komet itu hilang disertai penarikan jumlah tentara Jepang, hal ini mengubah kemalangan menjadi sebuah berkat. Raja pun senang dan membuat ketiga pemuda itu melanjutkan perjalanannya. Seperti ini syairnya:

Ada kastil disamping laut timur,

Dimana satukali fatamorgana dulu selalu bermain,

Prajurit Jepang datang,

Kayu bakar di bakar dalam hutan.

Ketika ksatria berkunjung ke gunung ini,

Bulan menandai jalannya dari barat dan ketika bintang baru akan membuat jalan.

Seseorang berkata,” Lihat, ada komet!”

Bulan sudah berangkat. Sekarang, di mana kami akan mencari bintang yang berekor panjang?

Satu orang komentator mengatakan bahwa syair ini adalah semacam syair patriotik yang memuji pemberkatan sebuah perdamaian.

Menurut argumennya, yang surgawi berikut elemen asing – fatamorgana, bulan, komet, dan tentara Jepang – dan elemen keduniawian – obor, roket, dan tiga orang Ksatria itu – diserasikan dalam puisi untuk mencapai maksud terakhir: pujian bagi Silla. Dengan begitu di sini matahari, komet, bulan dan tentara Jepang diperkenalkan untuk meningkatkan kegembiraan orang sebagai pujian bagi kerajaan Silla.

Samnang-sa

Samguk Sagi, Samguk Yusa. Samguk Sagi (ha), diterjemahkan kedalam bahasa Korea oleh Yi, Pyong-do, Samguk Sagi: Wonmun-P’ton, Kug’ok-p’yon, Seoul: Uryu Munhwasa, 1980, P,76, 162 dan 225.

Samnang-sa atau yang biasa disebut Candi Tiga Ksatria dibangun tahun 597, pada masa pemerintahan Raja Jinpyeong. Memang mustahil jika pembangunan candi ini untuk menghargai jasa ketiga ksatria Kóyól-lang, Silch’ó-rang, dan Podong-nang atas apa yang terjadi diatas tentang komet tersebut.Tetapi sangat jelas kalau memang diperuntukan untuk menghormati mereka bertiga karena semasa pergolakan di Shilla pada pemerintahan Raja Hongang, beliau pergi ke sebuah biara terkenal dan menyuruh salah satu pejabatnya membuat puisi seperti yang dilakukan oleh biksu Chungchon.

Wonkwang-Popsa, Kwisan dan Ch’wihang

Cerita Kwisan dan Ch’wihang semula ditulis di buku Samguk Yóljón dan dikutip di Samguk Sagi, Samguk Yusa, dan Kehidupan Biksu Terkenal Korea.

Pada tahun 613, perkumpulan seratus kursi diselengarakan di biara Hwangnyeong, untuk menjelaskan secara terperinci tentang batu tulis tersebut. Wonkwang-Popsa mengepalai seluruh kelompok tersebut. Dia dulu selalu melewatkan hari-harinya dibiara Kach’wi, mengajar tentang tata cara jalan suci.

Ketika Hwarang tersebut, Kwisan dan Ch’wihang dari distrik Saryang meminta nasehat rahib mengenai pembersihan dan perihal tingkah laku mereka. Rahib tersebut memberikan wejangan untuk tidak membunuh binatang-binatang di musim semi dan musim panas dan harus berpuasa dengan hari yang sudah ditentukan. Mereka berdua menjalankan wejangan itu tanpa melanggar satupun.

Tahun 602, pasukan Baekje menyerang dan mengelilingi benteng Amak. Kwisan dan Ch’wihang berada dibawah komando Jendral Muun, ayah Kwisan. Pertengahan pertempuran, Jendral Muun masuk ke dalam perangkap penyergapan dan terjatuh dari kudanya, Kwisan buru-buru menyelamatkan ayahnya itu, dia membunuh banyak sekali pasukan musuh sambil berteiak pada anak buahnya,”Inilah saatnya untuk mematuhi perintah untuk tidak mundur dari peperangan”Kwisan memberikan kudanya pada ayahnya dan tetap bertarung disamping Ch’wihang, keduanya tewas dimedan perang yang dideskripsikan mengalami pendarahan hebat dari ribuan tusukan.

Raja Jinpyeong menaikan tingkat jabatan Kwisan sebagai Naema (peringkat 11) dan Ch’wihang sebagai Taesa (peringkat 12).

Kunnang

Samguk Sagi. Milik terjemahan: Samguk Sagi (ha), diterjemahkan ke dalam Korea oleh Yi, Pyong-do, Samguk Sagi: Wonmun-P’ton, Kug’ok-p’yon, Seoul: Uryu Munhwasa, 1980, P,381.

Kongun adalah anak lelaki seorang Taesa Kumun, dan menjdai seorang Sain (pegawai kerajaan) di tahun 44 (627 AD), terjadi musibah musim dingin yang parah di bulan 8, yang menyebabkan hancurnya biji-bijian yang sudah dipersiapkan untuk musim semi. Tahun berikutnya kelaparan melanda hingga tahap mengkhawatirkan, sampai-sampai orang rela menjual anaknya untuk bertahan hidup dan makan.

Pada waktu itu ada sebagian Sain yang bersekongkol untuk mencuri sebagian biji-bijian untuk digunakan oleh sesama mereka, namun Kongun tidak mau menerima biji-bijan tersebut.

Karena penolakan itu, Sain yang bersekongkol ketakutan kalau dia akan mengatakannya pada Kunnang dan berencana untuk membunuh Kongun. Kongun mengetahui hal tersebut, makanya ia berpamitan pada Kunnang. Setelah dipaksa apa maksud dari pamitnya itu, Kongun memberikan penjelasan singkat tentang apa yang terjadi. Tapi dia tetap pada pendiriannya kalau dia tidak punya hati untuk melaporkannya pada ketua pegawai istana. Setelah itu, Kongun di beri minum arak yang telah dicampur racun dan meninggal.

Kim Yu Shin

Samguk Sagi berisi penuh tiga volume biografi cerita Jenderal-jenderal Shilla yang hebat, lebih banyak lagi daripada pada yang lain. Lihat Vos, Frits: Kim Yusin, Persönlichkeit und Mythos: Ein Beitrag zur Kenntnis der Altkoreanischen Geschichte, Oriens Extremus 1 (1954) p.29-70 dan 2 (1955) p.210-236 untuk terjemahan penuh semua bahan Kim Yushin dari baik Sagi maupun Yusa (dalam bahasa Jerman).

Kim Yushin berusia 15 tahun ketika menjadi Hwarang dan di usia 18 dia menjadi ahli pedang dan seorang gukseon. Pada saat menjelang kematiannya, Kim Yu Shin dianggap orang yang paling kuat di Korea dan dikubur layaknya seorang Raja. Ia lahir tahun 595, dan menajdi pimpinan pasukan Hwarang yang disebut Yonghwa-Hyangdo [Pasukan Bunga Naga]atau Nagavrksa;pohon bodhi dimana Budha Maitreya akan bangkit dan mengajarkan ajarannya.

Pada tahun 611dibawah kekuasaan Raja Jinpyeong, saat itu Kim Yu Shin berusia 17 tahun melihat bahwa Baekje, Koguryo, dan pasukan Magal mulai mendekati teritorial Shilla, ia merasa marah dan sedikit ketakutan. Oleh sebab itu dia pergi ke sebuah gua di pegunungan Chung’ak, sendirian.

note: Dalam drama, sejak kecil kita melihat kalau Kim Yu-shin merasa tidak percaya diri dia akan pergi ke gunung untuk latihan memukul batu besar untuk menenangkan pikiran.

Setelah melakukan aksi puasa, ia bersumpah pada langit: “Negara yang saling bermusuhan layaknya tanpa moral. Mereka seperti sekawanan serigala dan macan, oleh karena itu mereka mengganggu batas wilayah kami, merampas ketenangan kami dalam waktu satu tahun. Saya hanyalah sebuah subjek yang tidak punya bakat dan juga kekuatan istimewa apapun, tetapi sudah memantapkan diri untuk mengakhiri kekacauan ini. Jika saja langit bersedia memandang ke bawah, bantu saya untuk mengabulkan cita-cita itu.”

Dia sudah tinggal di gua selama empat hari, dan tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan seorang laki-laki tua dengan pakaian compang camping datang mengahdapnya dan berkata: “Tempat ini dipenuhi dengan ular berbisa dan binatang liar. Ini adalah tempat yang buruk. Kenapa engkau datang dan tinggal sendirian disini, wahai tuan muda yang terhormat?”

Kim Yu Shin menjawab: “Darimanakah anda datang orang tua yang bijaksana? Bolehkah saya bertanya nama anda?”, Orang tua itu menjawab: “Saya tidak punya tempat tinggal, datang dan pergi sesuai dengan keinginan hati. Nama saya adalah Nansung.”

Mendengar hal itu, Kim Yu-shin yakin kalau orang tua yang ada dihadapannya bukan laki-laki sembarangan. Dia membungkuk dua kali dan berbicara dengannya dengan keterpesonaan: “Saya adalah subjek Shilla. Ketika melihat musuh negara ku, hati ini merasa sakit dan dipenuhi dengankesakitan etramat sangat, oleh karena itu saya berada ditempat ini. Saya berharap bisa menemukan pencerahan. Saya memohon dengan segala kerendahan hati, wahai orang tua yang bijaksana, berikan sedikit rasa kasihan pada kesungguhan ku dan ajari pengetahuanmu yang luar biasa itu.” Lelaki itu dian dan tidak bicara. Kim Yu-shin sekali lagi memohon padanya sambil menangis dengan hati tercabik-cabik.

Setelah enam atau tujuh hari, orang tua itu barulah berbicara : “Meskipun engkau masih muda, kau bersungguh-sung berniat untuk mempersatukan tiga kerajaan, ini tentu saja menunjukan bahwa engkau orang yang kuat.” Kemudian orang tua itu mengajarkan semua metode rahasia yang dipunyainya dan berkata: “Berhati-hatilah jika ingin menurunkan ilmu ini pada orang lain, jangan ceroboh. Jika kau menggunakannya denga nnita yang tidak baik, kau akan mengalami kesengsaraan yang tak berujung.” setelah berbicara seperti itu, orang tua itu pergi. Kim yu-shin mengikutinya sekitar 2 mil, tetapi tidak bisa menemuannya dimanapun juga. Diseberang gunung terlihat hanya seperti cahaya lampu — menyebar dengan gemilang seperti kelima warna (semua warna).

note: kalau dalam drama, yang membantunya untuk mempersatukan tiga kerajaan adalah buku yang berisikan map dan juga sejarah Baekje, Koguryo yang ditulis oleh Gukseon Munno. Buku itu memang sengaja diberikan untuk Kim Yu-shin karena Munno melihat dialah yang paling berhak dan punya kemampuan untuk itu.

Diawal-awal pertempurannya melawan Koguryo, Kim Yushin bertempur di bawah komando ayahnya, Kim Sohyun. Prajurit Shilla bertempur untuk menaklukan benteng Nangbi, namun kekalahan demi kekalahan datang bertubi-tubi. Semua itu menyebabkan para prajurit ketakutan dan tidak mau berperang lagi. Kim Yushin yang pada saat itu hanya memimpin pasukan berskala kecil menghadap ayahnya dan mengambil helmet perangnya sambil berkata: “Mereka sudah mengalahkan kami, Tapi sepanjang hidup ku ini sudah dituntun oleh kesetiaan dan kesalehan. Didalam sebuah pertempuran, seseorang haruslah berani.Sekarang, saya sudah pernah mendengar bahwa jika anda menggoncangkan sehelai mantel di samping kerahnya, bulu-bulunya itu akan bergantung lurus. dan jika anda mengangkat kepala tali denga nbenar, maka jala memancing akan terbuka lebar dan bisa dilemparkan jauh melebar. Perkenankanlah saya menjadi kerah dan jala pancing itu.”

Lalu dia melompat ke kudanya, menghunus pedangnya dan melompati parit dan berjuang melawan caranya ke dalam pangkat musuh di mana dia memenggal kepala jenderal.

Dia kembali dengan mengangkat kepala musuh, prajurit Shilla melihat hal ini, keberanian mereka terpancing dan melakukan serangan balik untuk memenangkan pertempuran. Jumlah kepala yang dipenggal ada sekitar 5000 orang dan yang ditawan hidup-hidup jumlahnya lebih dari 1000. Orang-orang dari kota yang diserbu taku untuk melawan dan akhirnya menyerahkan diri.

Kim Yusin mempunyai pertalian yang sangat kuat dengan keluarga kerajaan. Adik perempuannya dinikahi oleh calon Raja, sahabat karib dan juga saudara angkatnya, yaitu  Kim Chun Chu. Mereka sedang bermain bola, tanpa sengaja Kim Yu-shin menginjak pita yang terdapat dalam baju Kim Chun chu, Kim Yu-shin menyuruh adik perempuannya untuk menjahitkan pita itu, ketika melihat Kim Chun Chu, wajah adiknya itu memerah dan Kim Chun Chu jatuh cinta pada pandangan pertama dan terus saja menemuinya siang dan malam. Ketika mengetahui kalau adiknya itu hamil, Kim Yu-shin murka. Namun terselesaikan dengan Kim Chun Chu menikahi adiknya itu. Dan untuk menambah dekat hubungan mereka, Kim Yu-shin menikahi saudara perempuan Kim Chun Chu.

Tahun 642, Baekje sudah menaklukan sebagian tanah Shilla, Kim Chun Chu marah dan berniat untuk balas dendam sengaja datang ke Koguryo untuk meminta bantuan pasukan. Pada masa inilah Kim Chun Chu dan Kim Yu-shin sumpah angkat saudara dengan menggigit jari mereka hingga berdarah sebagai simbol keluarga.

Kim Chun Chu ditawan oleh Raja Koguryo karena dia tahu kalau Kim Chun Chu bukanlah manusia biasa untuk dieksekusi. Kim Yushin melatih 3000 pemuda yang gagah berani untuk menyelamatkan Kim Chun Chu. Tapi sebelum Ratu Shilla memutuskan untuk mengirim Kim Yu-shin ke Koguryo, Raja Koguro segera melepas Kim Chun Chu.

note: dibagian ini baru diketahui tentang keberadaan seorang Ratu kerajaan Shilla, dilihat dari masa jabatanya (632-647). Tahun 642 masih dalam masa kekuasaan Ratu Seondeok.

Di 673, tahun ke 13 Raja Munmu, pada Musim Panas di 6, bulan “semua orang” melihat kesepuluh laki-laki dengan baju baja dan  senjata di tangan mereka yang berjalan menangis dari Rumah Kim Yusin– tiba-tiba mereka tidak terlihat lagi di mana-mana.

Ketika Kim Yusin mendengar ini katanya: “itu adalah pasti tentara rahasia saya yang – merasa bahwa keberuntungan saya sudah habis – sudah harus meninggalkan; saya akan meninggal!” Sudah sepuluh hari ia terbaring di tempat tidur. Raja kemudian mengunjunginya secara personal, Kim Yu-shin berkata: Hamba ingin sekali tetap memegang kekuasaan atas tangan dan kaki hamba untuk melayani tuanku, tetapi penyakit yang hamba derita tidak memungkinkan untuk hal itu, mulai saat ini hamba tidak berani menemui Yang Mulai lagi. Raja kemudian menangis: “Kami memerlukan para menteri sebagai mana layaknya Ikan memerlukan air. Jika kematian anda tidak dapat terelakkan, bagaimana dengan negara ini?”

Pada musim semi, hari pertama bulan ke 7. Kim Yu-shin meninggal dikamar utama miliknya dalam usia 99 tahun. Raja membayari pemakamannya – dengan seribu gulung sutera berwarna dan dua ribu karung padi. Lebih lanjut, dia menyuruh orang menjaga kuburan di Kúmsanwon. Dari Raja Húngdók (826-836) Kim Yusin nantinya dihadiahi hak anumerta “Raja Húngmu” (Húngmu Taewang).

note:Cerita mengenai para Hwarang di masa Kerajaan Shilla berdasarkan dibawah kekuasaan penguasa Shilla, saya sudahi cukup sampai kisah Kim Yu-shin. Karena terlalu sulit menerjemahkan semuanya.Terimakasih sudah membaca bagian I dan 2.

History class over,

Mei singing out!!