Sweet Punch [23th punch!]

 

sweet_eugene10

All rights reserved. Copyrights2013. Dilarang mengkopi atau menyebarkan isi dari cerita ini tanpa ijin dari penulis.Maeve.

============================================================================================

Dua orang laki-laki dan perempuan sedang berjalan melalui lorong sanatorium rumahsakit, mereka tidak memakai setelan jubah dokter di tubuh mereka. ketika sampai di lobi tempat informasi, mereka memperkenalkan diri pada seorang perawat yang sepertinya sudah mengenal sosok kedua orang itu. Si perawat yang usianya setengah baya itu menjulurkan tangannya memberikan salam dengan senyuman dari wajahnya.

“dokter Mason, senang kau bisa datang hari ini memenuhi janjimu.” Melihat ke arah si wanita yang ikut bersama lelaki itu. “Dan kau juga dokter Emily…” Emily dan perawat itu tampak lebih dekat, ekpresi  Abbie tampak  mengerti tentang kesedihan yang dialami Emily selama ini. Mereka berdua ayah dan ibu dari Eugene, dokter Mason dan Emily tidak memberitahukan kedatangan mereka pada kedua putri mereka karena tidak ingin mimpi buruk tentang bagaimana mengobati Vynette menghantui Eugene lagi, dan mereka tidak mau Eugene hancur lebih dalam lagi.

“Abbie…senang bertemu dengan mu lagi.” Emily mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Pelukan erat yang akrab itu tampaknya sangat menenangkan hati Emily, sejak kecelakaan itu terjadi dan perjuangan mereka berdua untuk diijinkan mengobati Vynette, hanya Abbie satu-satunya orang yang selalu mengabari kondisi dan perkembangan kesehatan Vynette pada mereka di Jerman.

“Kalian berdua nampak sehat dan sedikit beruban…hahaha.” Canda Abbie pad mereka berdua, sambil mengiringi langkah menuju kamar Vynette. Mereka berdua berhasil mengetahui kabar tentang keberadaan Vynette dari jurnal hasil cek-up kesehatan yang dilayangkan oleh seorang dokter dari sanatorium tempat Vynette dirawat kesebuah majalah kesehatan di Jerman. Membaca kronologis perawatan yang diterima untuk menyembuhkan trauma di kepalanya. 5 tahun berlalu, ada perkembangan di saraf sensorik dan motoriknya, berarti apa yang dirasakan oleh Ren ketika menemaninya adalah benar. Vynette seperti dalam keadaan normal, tak terlihat seperti seseorang yang sedang sakit.

Menurut jurnal tersebut, cedera yang dialami Vynette hampir mirip dengan cedera yang dialami para petinju pada umumnya, Hematoma subdural kronis. Jika menderita hematoma selama beberapa tahun, ada kemungkinan besar saraf-saraf otak tidak bisa memperbaiki dirinya sendiri, dan hasil dari semua itu adalah kerusakan saraf secara permanen. Tetapi untungnya, bukan hal buruk itu yang terjadi, entah bagaimana caranya, Vyntte bisa punya peluang untuk sembuh. Kemampuan mobilitas dan juga kognitifnya tidak rusak, hanya saja dia tidak mau bangkit untuk menyembuhkan dirinya sendiri.

***********

Aku bingung entah harus bagaimana??? Tidak ada jalan untuk keluar dari rumah ini??? Jika aku harus mengatakan hal yang sebenarnya, kemungkinan besar aku tidak akan bisa mengakhiri semua yang ku lakukan. Jinnu…Apa yang harus ku lakukan tentang mu??

Tapi, aku harus melakukan ini sekarang, aku ingin tahu siapa yang dengan teganya berbuat keji pada teman-teman ku hanya untuk membuatku menderita seperti ini? Ayolah Vynette, Mina, bantu aku!…Aku yakin kalau Ren, tidak akan mungkin berani sekejam itu. Dia anak yang baik. Benar, kan?

Daniel juga bingung, kenapa juga pada saat genting seperti ini, Jinnu ada di rumah Eugene. Bukan kah anak itu membenci Eugene? Atau, kisah mereka berbalik 180 derajat?

“Ahhhh…brengsek! Lalu kau mau apakan Jinnu?”

“A-ku…akan membuatnya berhenti mencemaskan ku, dan kalian juga. Mulai saat ini, aku akan berjalan sendirian.”

“Hahaha! Berjalan sendirian? Otak mu pindah kemana??Berani-beraninya kau bilang, kini kau berjalan sendiri?!” Bentak Daniel. “Apa kau lupa gara-gara siapa kami berlima dan juga kau bisa berakhir di rumah sakit dulu? Sakitnya aku, Hero, Abym, Jinnu dan juga Sean….Sejak pertama, urusan mu adalah urusan kami. Eugene…hal ini biar ku selesaikan. Kau urus saja Jinnu. Jangan keluar rumah! Mengerti?” Jelasnya pada ku sambil tidak tenang, apakah keputusan sepihaknya itu benar atau tidak? Daniel bukanlah ayahnya yang sigap menentukan sikap dalam situasi apapun, karena ayahnya sudah tergembleng dalam dunia hitam sejak muda. Sedangkan dia, apapun itu dia tidak tahu…

bersambung…..

One Sweet Punch! [22th Punch]

Copyright 2011. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

One Sweet punch!

Chapter 22

Daniel mendapatkan telpon dari orang suruhannya ketika sedang makan malam dengan orangtuanya di sebuah hotel. Dia kelihatan senang sekaligus tidak tenang dengan kabar yang disampaikan oleh orang suruhannya itu, ayahnya paling tidak suka kalau ada gangguan saat makan malam langsung memperingatkannya agar mematikan ponselnya.

“Cukup lakukan apa yang ku suruh. Akan ku telpon lagi nanti.” Dia mematikan ponselnya dengan segera.

Sang ayah mencurigai aksinya itu. “Apa kau melakukan sesuatu dibelakang ku, sampai-sampai memakai salah satu anak buah ku yang paling hebat untuk menemukan seseorang yang sangat ingin kau cari?”

Daniel hampir tersedak setelah mendengar pertanyaan ayahnya itu, “A-a-yah tahu?”

“Meskipun aku ingin sekali ikut campur dan ingin tahu alasan itu langsung dari mu, ayah ingin kau belajar dari tindak tanduk mu sendiri. Mengerti? Apa yang baik dan buruk—cari yang paling bagus diantara dua itu…dan satu lagi. Jangan sampai terluka untuk kedua kalinya oleh orang yang memasukan mu ke rumah sakit bersama tim Power Ranger mu. Hah! Power Ranger…menjaga diri sendiri agar tidak kena pukul pun masih sulit, ini masih ingin menyelamatkan manusia.”

“Aku pun ingin minta bantuan ayah, tapi itu semua hanya akan membuatku malu. Ini urusan ku dan juga teman-teman…seperti yang ayah bilang tadi, aku berusaha mencari yang terbaik dari dalam diriku agar aku tidak seperti ayah.”

“Apa?! Apa yang baru kau ucapkan tadi?”

“Aku tidak ingin menjadi seperti ayah…aku ingin menjadi lebih baik dari ayah yang seorang mafia tapi berkedok pengusaha. Oleh karena itu aku rajin belajar agar aku bisa jadi seorang dokter, pengacara, arsitek, atau ahli IT tapi bukan mafia. Aku harap ayah tidak marah dengan ucapan ku ini.”

Ayahnya tersenyum gembira mendengar hal tersebut dari mulut anaknya yang dia kira jika sudah besar, dengan kelakuannya yang terlihat seperti anggota mafia punya mimpi lebih besar darinya.

*********

Kakaknya selalu membuat ku melakukan hal-hal bodoh, dan adiknya lebih menakutkan dari ayahnya Tei – Ini seperti Gol bunuh diri.

“Heh, Jinnu…apa kau suka padaku?” Dia sedikit terkejut ketika aku melontarkan pertanyaan itu ke mukanya.

“Kau ra-cun…mana mungkin aku meminum mu.” Tunjuknya tanpa berkedip. Waaah! Anak ini memang butuh dihajar. “Arrrrgghhh!!!” aku berteriak layaknya Kingkong yang marah karena ulah si burung unta yang sok flamboyant sengaja menebar paku hanya untuk ku injak.

Aku sudah mengepalkan kedua tanganku. Bara api pun sudah berkobar-kobar di kedua mataku, jika dia berani bersuara sekali lagi dan menekan harga diriku…kaki ku pasti langsung akan menendang bagian paling berharga miliknya!

“Kenapa kau mengepalkan tinju seperti itu? Kau sedang mempertontonkan ‘kekuatan super’ mu pada ku, ya?”

“Dasar mahkluk tengik…”

“Sudah hampir lima menit kau memelototi ku seperti itu. Sebaiknya kau istirahatkan mata mu, Eugene?”

“Kau tahu, mungkin ini saatnya kau dan aku menyelesaikan masalah kita. Kau masih ingat hutang mu pada ku kan?”

“Ah…tantangan itu?”

“Lebih baik kita selesaikan sekarang. Ayo keluar?”

“Keluar kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

Yuni segera mengambil ponselnya dan merekam adegan tersebut. Biasanya jika dua orang yang saling menyukai satu sama lain tapi masih berpura-pura, jika bertengar seperti ini salah satu dari mereka akan menjatuhkan sebuah bom yang akan membuat terkejut lawan bicaranya. Pikir Yuni.

“Apa kau bilang?”

“Aku bilang, kau mau ku ajak pergi kemana? Pasar? Taman ria? Atau bioskop?”

“Ini tentang tantangan itu bodoh!”

Kemudian, dengan ekspresi yang tidak bisa ku baca, antara tersenyum penuh kepuasaan tapi tatapannya seperti mencoba menggali sesuatu dalam diri ku yang membuat ku sedikit tersipu malu ketika dia mendekat pada ku. “Adik kecil…jam berapa sekarang?” Tanyanya pada Yuni.

“Hah?” Yuni masih bingung.

“Aku tanya…jam berapa sekarang?”

“Jam 7.45, kenapa?”

“Kau tidak punya jam malam kan?”

“Tidak…”

“Kalau begitu aku pinjam Eugene.”

“K-kau mau apa?”

“Aku berbohong datang kemari untuk meminjam dapurmu…cih, ayah dan anak itu pasti bisa bertahan tanpa makan pancake.” Aku tidak mengerti ucapannya, tapi menunggu untuk dia meneruskan perkataannya. “Aku kesini untuk memastikan apa aku punya pikiran yang jernih jika kau ada didekat ku?”

Pikiran jernih? Memangnya jika aku ada didekatnya, dia punya pikiran kotor tentang ku?? Iiihhh. Dasar burung unta maniak!!

“Menjijikan…memangnya kau pikir aku ini sama seperti gadis yang kau lihat di majalah porno?? Apa?? Kau tidak bisa berfikir jernih kalau ada aku?? Dasar maniak…bejat…Uuugh, menjauhlah dari ku.”

Yuni tidak kuat menahan dirinya untuk ikut campur. “Taman ria! Pergilah kalian ke taman ria…suasana disana bagus untuk bicara. Jika kalian ingin baku hantam…banyak permainan uji nyali di sana—bermainlah sampai kalian puas mengendalikan emosi.”

“Apa kau tidak dengar apa yang dikatakannya tadi? Dia…si burung unta ini menganggap ku ituuuu—kau tahukan?”

“Itu apa??? Jika tahu akhirnya begini…seharusnya dari dulu ku kenalkan seorang pria pada mu dan tahu apa itu cinta…cik cik cik.” Kini Jinnu yang melotot pada Yuni, takut ketahuan kalau dia suka pada Eugene tapi ingin kepastian kalau pilihannya itu benar. “Yang kakak ganteng ini maksud adalah…jika ada kakak di dekatnya dia selalu membenarkan apa yang seharusnya salah. Bukan begitu, kak Jinnu?” Yuni mencoba menutupi ketakutannya itu. “Coba kau bayangkan, kak? Ketika kau masuk rumah sakit dulu, sebelumnya kak Jinnu bilang ‘tunggu aku’ dan ‘cepat pergi, selamatkan dirimu’. Tapi kakak selalu melakukan kebalikannya. Kau selalu melompat kemana api berkobar, jadi mana bisa dia berfikir jernih? Bukannya dia memikirkan mu jadi wanita seperti itu…”

Aku terkejut, sepertinya ini baru pertama kali Yuni dan Jinnu bertemu. Tapi kenapa anak itu malah membelanya mati-matian?

“Yuni…kau itu adik ku atau bukan? Kenapa malah membela orang asing?”

“Orang asing ini korban mu, kak. Korban! Makanya aku mencoba untuk menyelamatkannya dari mu.”

“K-korban??”

Jinnu merasa senang ada satu orang yang berdiri dipihaknya. “Kau mau aku jadi kakak mu?” Tanya Jinnu.

Yuni tersenyum padanya, “Tentu saja…kakak.” Berlagak centil dihadapan Eugene.

Adik ku sendiri mengkhianati ku. Jika aku berpaling pada Sean untuk minta pembelaan…yang dibela pasti adik ku, diancam dengan pedang di lehernya pun pasti dia akan tetap membela adik ku—mati aku!

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku segera meraihnya karena nada dering untuk Daniel berbeda, aku terpaksa harus menggantinya karena takut aku lupa tentang urusan ku dengannya soal pemilik kartu ujian itu.

“Halo?” aku membalikkan badan ku dari mereka berdua yang kini terdiam melihat ku.

“Aku sudah dapatkan orang itu. Dan setelah diselidiki anak perempuan itu tidak ada kaitannya dengan Ren, apa kau mau kesini?” Ucapnya di depan sebuah café tak jauh dari tempatnya mengintai anak yang dicari oleh Eugene.

“Oh, i-iya. Tunggu sebentar, aku naik ke kamar ku dulu.” Aku langsung beranjak dari ruang tamu untuk masuk ke kamar, lalu berbicara dengan Daniel.

“Tamu? Sean?”

“Kalau Sean bisa ku usir sejak tadi. Kau pasti terkejut?!”

“Siapa?”

“Seseorang yang paling tidak ku inginkan mengetahui hal yang ku bicarakan dengan mu.”

“JINNU? Oh my god! Kau sudah gila,ya??Bagaimana dia bisa ke tempat mu?”

“Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Apa yang kau dapat dari informan mu?”

“Anak itu ternyata memakai wig dan riasan wajah, anak buah ku sedikit kesulitan pada awalnya. Tapi itu nomor induk itu miliknya.”

“Wig dan riasan wajah?” Terpikir sejenak kalau anak perempuan itu mungkin saja si rambut punk yang berwarna-warni, ya. Itu dia!

“Kau mengenalnya?”

“Saat gerombolan anak perempuan itu menghajar ku di taman, memang ada anak yang sedikit eksentrik gayanya. Rambut gaya punk—mungkin bisa dibilang sedikit harajuku?” Ucap ku tidak yakin.

“Sama seperti yang dikatakan oleh anak buah ayah ku. Mungkin itu dia, kau bisa keluar kan? Maksud ku…anak buah ayah ku, ku suruh untuk mengintai dan menjaga dari jauh agar anak itu tidak kabur saat kita menangkapnya untuk diinterogasi. Akan sangat disayangkan kalau kau tidak bertanya langsung padanya, jika bukan Ren lalu siapa yang menyuruhnya menghajar mu?”

Aku ingin sekali langsung pergi menemui Daniel untuk mengintrogasi anak itu, tapi di rumah ada Jinnu yang bisa menangkap kegagapan ku. Dia harus ku usir terlebih dahulu, baru aku bisa menemuinya.

****

Sedikit merasa asing…Yuni dan Jinnu.

“Terima kasih.” Ucapnya pada Yuni.

“Karena aku sudah menolong mu agar tidak mengatakan kalau kau menyukai kakak ku?”

“Aku masih belum tahu apakah ini suka atau terbiasa?” Jinnu mendesah, sepertinya memang banyak kekhawatiran dalam hatinya.

“Bohong. Semua pria selalu berkata seperti itu. Inilah kenapa banyak wanita patah hati karena pria semacam diri mu, tahu? Terlalu memusingkan. Cinta ya, cinta. Benci ya,benci. Kau belum pernah jatuh cinta sebelumnya?”

“Cinta hanya mendatangkan kepahitan.”

“Jadi kau berusaha untuk mengendalikan pikiran mu agar tidak jatuh hati pada Eugene? Heh, kau harus meminum racunnya agar kau tahu apa racun itu bisa secara langsung membunuh mu atau secara perlahan menggerogoti tubuhmu hingga mati?” Ucap Yuni seperti berbicara pada sosok kakak yang diidamkannya dari Eugene—rupanya Jinnu bukan tipe pria yang berhati kejam, hanya saja dia terbiasa untuk melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri, bukan dalam artian egois tapi benar-benar hidup seorang diri. Sudah saatnya dia membuka diri dan mungkin Eugene adalah langkah awal baginya untuk lebih terbuka, itulah yang dipikirkan Yuni ketika melihatnya.

Yuni menepuk bahunya, mencoba menenangkan kegalauan saat dia memberanikan diri untuk datang ke rumah menemui Eugene dengan kesungguhan hatinya. “Jinnu…terkadang ada racun yang hanya membunuh sifat yang ingin kau buang, misalnya kepahitan yang kau alami itu. Dan kau juga tahu kepahitan Eugene kan? Tentang Ren, Vynette dan juga Judo. Pikirkan itu, Romeo?”

Tiba-tiba saja Jinnu seperti merasa terkesan dengan segala apa yang diucapkan yuni padanya.“Jika kau tertarik jadi psikolog, aku bisa kenalkan teman ayah tiri ku padamu. Dia dosen di universitas ternama.”

Mendengar racauannya itu, Yuni hanya menggelengkan kepala. “Kau sebenarnya mau buat apa?”

“Pancake. Aku sudah beli bahan-bahannya…”

“Sebanyak itu?! Memangnya mau buka toko pancake apa?”

“Aku belum pernah buat, jadi aku hanya beli apa yang dijabarkan di internet.”

Yuni masuk kembali ke dapur, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam rak atas dekat bak cuci piring. Tepung siap jadi untuk adonan Pancake.

“Ini…ambil. Rasanya hampir sama dengan pancake yang dibuat di T&J.” Yuni menyodorkan benda itu kepadanya. Jinnu mengambilnya dan memeriksa dengan seksama nama bahan-bahan utama dan juga tambahannya.

“Kau boleh pakai dapurnya sesuka mu, asal jangan kau hancurkan. Anggap saja ini juga sebuah bantuan kecil dari ku untuk mendapatkan Eugene…” Ujar Yuni tersenyum padanya.

“Andaikan saja anak gadis yang ku kenal sejak kecil bisa bersikap seperti mu, mungkin aku masih bisa menganggapnya benar-benar seperti adik kandungku.” Renungnya.

“Kalau kau bisa bicara santai seperti ini pada kakak ku, mungkin dia bisa mengerti apa yang kau perlukan? Eugene tidak seperti apa yang kau bayangkan, dia dulu sangat bisa ku andalkan. Namun setelah kejadian tentang Vynette, dia mengurung diri selama 1 minggu dikamarnya. Makan dan minum jika dia lapar atau haus, itu pun tidak banyak. Setelah itu, yang keluar dari kamar bukanlah Eugene yang ku kenal, melainkan seorang monster yang tidak banyak bicara, pandangannya kosong. Lalu, Sean datang untuk mencoba menolongnya dari keputusasaan. Mereka berdua bertanding di dojo, Eugene kalah…” Suara Yuni sedikit serak karena ingin menangisi keadaan kakaknya waktu itu. Jinnu pun mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama.

“Pada awalnya aku mencoba mencegah Sean menghajar Eugene, tapi Sean bilang…” Yuni mengingat jelas kejadian itu. Sean menyeret Eugene tanpa perlawanan sama sekali masuk ke dalam dojo di sekolah, Yuni berlari mencoba mensejajarkan tubuhnya dengan Sean. Jika terkejar maka Yuni memukuli punggung Sean dengan keras sambil berteriak-teriak meminta agar dia melepaskan kakaknya sambil menangis. Tapi Sean tidak bergeming. Dia tetap saja menyeret Eugene sampai masuk ke dalam.

“Dia, mau tidak mau harus bangun dari mimpi buruk itu dengan segera!” Ucapnya penuh amarah sambil membanting Eugene ke matras. Eugene memekik kesakitan dan terbatuk, ia mencoba untuk bangun tapi serasa dalam tubuhnya sudah tidak ada lagi tenaga.

“Coba kau lihat dia?Apa kau mau membiarkan hidupnya berjalan layaknya sesosok zombie, yang terus hidup tapi tidak bisa merasakan perasaan apapun hingga dia mati, begitu?!” Bentaknya pada Yuni.

Yuni memohon pada Sean sambil terisak-isak dihadapannya. “Meskipun begitu, kau tidak boleh menyakitinya, Sean…aku mohon jangan pukuli kakak ku. Dia sudah cukup menderita karena Vynette! Aku mohoooon, Sean…” Sean menarik lengan Yuni dan memeluknya erat.Dengan suara yang begitu hangat, Sean berucap. “Kalau kau tidak sanggup melihat dan mendengar…” Sean memakaikan earphone mp3-nya ke telinga Yuni. “Tutup mata mu…ada 86 lagu di situ. Semuanya akan selesai sampai track ke 30…aku janji.”

Dia pikir aku ini bodoh, mau mendengarkan kata-katanya…aku tidak menutup mata ku meskipun track pertama dimulai…lagu berjudul The Blower’s Daughter yang dinyanyikan oleh Damien Rice secara akustik mengiringi kesedihan kakak ku.

And so it is
Just like you said it would be
Life goes easy on me
Most of the time
And so it is
The shorter story
No love, no glory
No hero in her sky

I can’t take my eyes off of you

And so it is
Just like you said it should be
We’ll both forget the breeze
Most of the time
And so it is
The colder water
The blower’s daughter
The pupil in denial

I can’t take my eyes off of you

Did I say that I loathe you?
Did I say that I want to
Leave it all behind?

I can’t take my mind off you
I can’t take my mind…
My mind…my mind…
‘Til I find somebody new

Terasa ada sesuatu yang membuat dadanya sesak setelah mendengar kisah versi Yuni tentang Eugene. Karena tidak tahu bagaimana menenangkan Yuni, dia merogoh kantong jaketnya untuk mengambil permen loli kesukaannya.

“Ini…’ menyodorkannya pada Yuni. Yuni mengambil permen itu dan langsung membuka bungkusnya, kemudian mengulumnya.

“Ahhhhh…Eugene memang bodoh!” keluhnya sambil tertawa kecil.

“Iya….benar-benar bodoh.”  Kebodohan yang membuatku merasakan sesuatu yang indah, yang tidak bisa ku lihat atau ku sentuh. Tapi hanya bisa ku rasakan dengan hati ku. Jinnu menaruh tangan kanannya tepat dimana jantungnya berada…Kepakan sayap pertama ku…Selanjutnya…Aku mungkin benar-benar jatuh cinta pada si gadis gila itu.

To be continued….

One Sweet Punch[20st Punch!]

Copyright 2010. Written by Maeve.

Do Not Copy this original material without permission by the author.

=======================================================

20th Punch!

Yuni melihat luka-luka yang ku derita, meskipun hanya lecet-lecet kecil, untunglah pukulan tadi tidak membuat dengkul belakangku memar. Karena tahu kakaknya akan pulang dengan kondisi seperti itu sejak adanya ancaman dari Ren.

Yuni mendesah keras karena kesal melihat ku. Dia tidak bilang apa-apa, tapi aku tahu dia khawatir.

“Sean bilang padaku kalau Ren itu adiknya Vynett. Apa aku perlu menghubungi ayah dan ibu untuk menindak lanjuti cerita ini?” Mempersiapkan kotak obat, dan aku langsung duduk di sofa.

“Tidak perlu panggil mereka pulang.”

“Apa kau sudah lupa untuk apa mereka ke Jerman?!” Pertanyaan itu melukai hatiku. “Demi kesembuhan Vynett, mereka mempelajari kasus komatosisnya yang berkepanjangan di Jerman. Meskipun mereka tahu kalau Vynett tidak bisa ditemukan di rumah sakit manapun, ayah dan ibu tetap gigih kalau usahanya mempelajari kasus itu pasti akan membawa Vynett kembali pada mereka untuk kesembuhannya. Semua ini tidak akan pernah berakhir kalau kau terus-terusan menghindar Eugene, dan Ren…kau harus menaklukannya dalam artian buat dia mengerti kalau kau juga ingin membantunya menyehatkan Vynett kembali. Tidak ada gunanya dia menghajarmu sampai mati hanya untuk keselamatan kakaknya.”

“Dendamnya sudah sampai dititik ini, mana bisa aku menyuruhnya untuk ‘mengerti’?”

“Eugene…kali ini, aku minta kau kembali jadi dirimu sendiri. Keluar dari cangkang yang menyembunyikan bagaimana dirimu yang sebenarnya?! Berhentilah jadi orang bodoh!”

“Aku pun sudah berfikiran seperti itu sejak beberapa hari yang lalu, tapi semenjak kejadian hari ini, aku akan menjadi diriku yang dulu. Aku…aku ingin lihat ‘keadilan’ macam apakah yang ada diantara kami bertiga?”

“Apa…kau benar-benar tahu tentang semua ini dari pertama?”

“Maksudmu?”

“Tentang Ren dan apa yang diincarnya, sebelum Sean dan yang lain memberitahukanmu?”

“Aku benar-benar tidak tahu. Sial!” Aku tertawa kecut. “Seharusnya aku ingat kalau Vynett punya adik laki-laki….” Aku mengingat anak itu sekarang. Tapi namanya bukan Ren, mungkin dia menyembunyikan hal itu karena tidak ingin aku ingat siapa dia agar dia bisa melancarkan pembalasan dendamnya padaku. Rylan. Nama anak itu Rylan, dan aku pernah bertemu dengannya ketika dia masih dibangku SMP. Mekipun pendiam, dia anak yang baik.

Yuni memeriksa luka dibagian belakang dengkulku. “Hari ini memar dan juga lukanya tidak akan terasa. Besok kau mau bilang apa pada mereka tentang keadaanmu ini?”

“Untungnya besok olahraga, sejak pagi hingga siang memakai baju training olahraga. Aku bisa menutupinya.”

Setelah diobati olehnya, aku langsung masuk ke kamar, Yuni tahu kalau aku butuh waktu sendirian dikamar, jadi dia meneruskan apa yang dia lakukan sebelum aku pulang, menonton televisi.

Aku tidak bisa berbaring, jadinya duduk di meja belajarku. Perlahan membuka laci dimana ada foto Vynett, aku dan juga Rylan.

“Anak laki-laki yang biasa tersenyum malu-malu seperti itu karena aku jadi orang yang bisa menghajar teman-temanku yang lain dengan brutalnya?….Mina, jika kau ada disampingku, aku penasaran dengan kata-kata seperti apa yang kau keluarkan dari mulut tajammu itu disaat-saat seperti ini?”

Kini, aku harus bagaimana?

******

Pagi hari, aku sengaja menunggu Daniel. Karena dia punya hubungan dengan ‘orang hitam’ arahan ayahnya, aku putuskan untuk menjadi diriku yang sebenarnya. Ketika dia datang, aku langsung menyapanya dari jauh dengan senyuman.

“Daniel…selamat pagi!!”

“Wah, tumben kau menyapaku duluan?”

“Apa aku bisa bicara denganmu sebentar?”

“Aku tahu pasti ada sesuatu yang membuatmu baik seperti ini padaku? Apa?”

Aku membawanya ke ruangan biologi yang kosong. Dan mulai membicarakan apa yang kubutuhkan darinya. Ketika aku mengatakan bahwa kemarin saat pulang sekolah ada sekelompok orang yang datang mengerjaiku, dia syok.

“Apa?!”

“Jangan kawatir, aku tidak apa-apa.”

“Itulah kenapa kami terus-terusan harus berada disamping mu. Apa ada yang luka?”

“Tidak ada yang parah untungnya. Dan karena masalah ini aku butuh bantuanmu.”

“K-kau kelihatan berbeda…Eugene.” Lapornya padaku.

“Huh?” Aku tidak mengerti dengan pernyataannya itu.

“Raut wajah dan juga pembawaan dirimu sekarang dengan yang kemarin, berbeda.”

Aku tersenyum kecil, “Mungkin inilah diriku yang sebenarnya, Eugene yang rasionalis bukan Eugene ‘gadis pecinta kekerasan’ ”. Aku melanjutkan nya dengan tawa kecil.

“Apa yang kau perlukan?”

“Tapi kau harus janji jangan mengatakan apapun juga tentang hal ini pada yang lain. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk mencaritahu apa yang akan Ren lakukan nantinya, akan sungguh bagus kalau kita tahu siasat mereka nanti untuk bisa mendahului mereka. Jadi aku minta, suruh anak buahmu mencari tahu siapa pemilik benda ini.” Aku menyerahkan sebuah kartu bekas ujian yang ku dapat ketika berkelahi kemarin, hanya saja aku lupa dari siapa aku memperolehnya karena aku merebutnya terlalu cepat ditengah-tengah perkelahian.

Daniel mengambilnya dariku. Masih dalam keadaan bingung dengan perubahan sikapku, “Apa ini Eugene yang sebenarnya sebelum kecelakaan yang menimpa kakaknya Ren itu terjadi?”

“…….” Aku terdiam dan berfikir sebelum menjawabnya. “Aku harap Eugene yang kau temui hari ini, bukan aku yang dulu ataupun yang kemarin.”

“Akan kuanggap perkelahian kemarin sudah melukai alam bawah sadarmu hingga kau menjadi serius seperti ini.” Daniel tersenyum puas dengan jawabanku dan mencoba mengerti.”Aku lebih suka Eugene si ‘gadis pecinta kekerasan’, karena setiap kali kau berteriak, marah, ataupun berkelahi menunjukan bahwa kau jujur pada dirimu sendiri dan juga kami. Aku akan lihat apa yang bisa aku lakukan dengan tugas ini. Aku akan beri laporannya segera.”

“Jika anak buah mu mendapatkan siapa orangnya, bawa langsung padaku! Aku mohon.”

Daniel mengangguk, dan aku meninggalkannya di ruangan itu. “Baru kali ini aku merasa terintimidasi dengan kehadirannya yang dengan sikap seperti itu.” Guman Daniel menoleh ke pintu masuk, pintu dimana Eugene keluar melewatinya. Tidak mau menunggu terlalu lama, Daniel langsung menghubungi salah satu anak buah ayahnya. Memberikan foto lembaran kartu berwarna biru muda itu yang sengaja di foto dengan ponselnya dan dikirimkan untuk pencarian siapa pemilik nomor induk siswa 103-445-26. dan menyerukan apa yang diminta Eugene padanya.

******

Aku sedang dalam perjalanan kembali ke kelas sebelum pelajaran dimulai ketika berpapasan dengan Sara dilorong menuju tangga naik ke kelasku. Melihatnya berjalan ke arahku, perasaanku menjadi tidak enak, terlebih lagi karena dia melihatku dengan pandangan tidak menyukai kehadiranku disamping Jinnu.

Ketika Sara hampir mendekat, aku mencoba menyapanya, namun dengan pandangan dingin dan lurus ke depan, sikapnya serasa tidak mengenal apalagi mengetahui keberadaanku dan melewatiku begitu saja yang sedang tersenyum dan hampir melambaikan tanganku kepadanya.

Sara setelah berjalan cukup jauh menggigit bibirnya dan juga mengepalkan tangannya keras-keras, “Eugene…” Guman kesal sekaligus marahnya dalam hati.

Aku melangkahkan kaki ku mendekat ke jendela yang berada di lorong itu, melihat ke luar.

Di sana aku melihat Jinnu sedang berdiri dengan gagah dan tampannya. Sekarang ini jika aku melihatnya, langsung ada pikiran aneh yang terus mengganguku. Seperti kehilangan alasan kenapa aku harus berduel dengannya? Apa sekarang aku mulai menyukai si burung unta itu?

****

Rupanya ketika aku akan memasuki kelas, Jinnu sudah berdiri menungguku di depan pintu, dia menyandarkan tubuhnya didinding mengobrol dengan Sean.

Ketika melhatku, Jinnu langsung membenarkan cara berdirinya dan Sean pun tersenyum lebar menyapaku.

“Sedang apa kalian berdua disini?”

“Hehehe…Jinnu kelihatannya khawatir karena kemarin kau menghiraukan ucapannya.” Sebenarnya Sean sudah siap-siap akan berlari sekuat tenaga kalau perkataannya membuat Jinnu merasa malu tapi ternyata anak itu diam saja. Kenyataan itu membuat Sean tampak bodoh dan bertanya-tanya ‘apakah kali ini Jinnu benar-benar sudah membulatkan tekadnya untuk menyukai Eugene?’, Sean ingin tertawa senang karena masalah ini, tapi dia tidak mau membuat masalah kalau ternyata dugaan terhadap hubungan mereka berdua salah.

Mendengar hal itu, aku sedikit malu. Raut wajah Jinnu, meskipun masih terlihat dingin, tapi tatapan matanya pada ku sedikit berubah.

“Kemarin kau pulang sendirian, apa tidak mendapatkan masalah?”

“Ahh..hahaha…tentu saja tidak ada masalah. Jika ada, mana mungkin aku masuk hari ini.”

Jinnu tersenyum, “Baguslah jika tidak terjadi apa-apa. Hal ini hanya ku ijinkan satu kali aja, sebelum jelas apa mau nya Ren dengan menantangmu seperti itu, kau masih berada dalam pengawasanku mengerti?!”

“Baik…tapi aku tidak mau ada salah pengertian di ANTARA KITA.” Ujarku sedikit menekankan ucapanku, “Karena mungkin untuk orang yang tidak tahu menahu soal Ren, mereka akan mengosipkan kita berdua sebagai pasangan”.

“Heh, heh, heh…Eugene. Malah menurutku itu bagus! Jika kalian dipandang sebagai pasangan kekasih, mungkin mereka akan mundur dengan sendirinya karena kau dan Jinnu dipandang sebagai orang terkuat di sekolah ataupun di luar lingkungan sekolah….”

Ketika Sean berceramah tentang aku dan Jinnu, rasa sakit di kakiku mulai terasa. Sialnya aku tidak bawa obat penahan sakit yang tadi disiapkan oleh Yuni. Aku takut masalah ini ketahuan oleh Sean dan juga Jinnu. Aku harus pergi dari sini untuk merencanakan apa yang harus kulakukan sekarang.

“Ah…aku mau ke klinik.”

“Kau kenapa? Siklusmu kan belum datang?!” Sean mengacu ke kelender haid ku.

“HEH!! MEMANGNYA KALAU SIKLUSKU DATANG ATAU TIDAK, ITU JADI URUSANMU?!ARGGGHH…KAU MEMBUAT KU MALU SAJA!” Teriak ku sambil memukul Sean dengan tas ku lalu kabur ke klinik. Disana aku segera minta obat tahan sakit dan perawatnya memeriksa kaki ku yang memarnya terlihat.

“Kau ini, Eugeneeee…mana ada anak perempuan yang selalu datang ke klinik dengan keadaan terluka karena berkelahi?!”

“Hehehe…aku jadi malu.”

“Siapa yang berani berbuat seperti ini huh?” Bu Maya sang perawat mengeryitkan jidatnya karena memar di kakiku terlihat parah. “Kalau aku punya anak perempuan seumuran dengan mu, aku tidak akan mengijnkannya bermain denganmu!”

“Memangnya ada yang salah kalau berkelahi? Bukannya ada pepatah kalau berkelahi itu adalah salah satu proses pedewasaan, bu?”

Tanpa ragu lagi, Bu Maya menyentil telingaku. “Kau itu perempuan, perempuan!! Mana ada perempuan yang menjalani proses seperti itu dengan perkelahian brutal, huh?Minum obat ini, dan istirahatlah barang sebentar sementera aku akan memintakan ijin untuk mu pulang.”

“Pulang?! T-tidak perlu, bu. Aku baik-baik saja…”

“Luka memar seperti itu harus dirawat baik-baik…orang tuamu dokterkan? Masa kau tidak tahu luka memar juga kadang bisa parah, setelah pulang lalu pergilah ke rumah sakit untuk dirontgen.”

“Tapi bu, luka seperti ini bukan apa-apa. Aku pernah terluka lebih parah, anda sendiri saksinya!”

“Baiklah…terserah kau saja!” Bu Maya sudah kehilangan kata-kata utuk membujukku.

“Ah…satu lagi, aku ingin ibu jangan mengatakan hal yang menimpaku ini pada siapa pun! Tidak boleh mengatakan apa-apa.”

“Berarti kali ini, Sean tidak tahu kau berkelahi?”

“Iya. Aku tidak mau teman-temanku khawatir, itu saja.”

******

Bobby telah mendapatkan kabar kalau meskipun anak buahnya kalah, tapi salah seorang dari mereka sudah melukai kaki Eugene. Dia tertawa disebuah jembatan kecil yang menghubungkan jalanan besar ke gudang tempat persembunyian Ren membayangkan Eugene yang terluka, dan dia yakin kejadian seperti ini tidak akan Eugene beritahukan pada teman-temannya itu.

Pikirannya melayang ke saat-saat Vynett masih segar bugar. Bobby saat itu masih menjadi mahasiswa tingkat satu yang sering sekali memberontak. Bagi Bobby, Vynett adalah segalanya baginya. Karena anak perempuan yang masih sekolah di SMA itu mampu merubahnya ke arah yang lebih baik. Namun setelah kejadian naas itu terjadi, Eugene seakan-akan mengambil salah satu nyawanya hingga membuat Bobby terguncang jiwanya dan memutuskan untuk membalas dendam. Cara satu-satunya adalah mempenetrasi SMA Felst dengan memasukan Ren untuk mengacau, namun ternyata antara Ren dan juga dirinya tidak bisa seiring sejalan untuk menghukum Eugene dengan hukuman yang setimpal dengan apa yang dilakukannya pada Vynett. Ren pada mulanya ingin sekali membunuh Eugene meskipun dulu dia memujanya, dia pun melihat dari jauh ketika Eugene berlutut dan mengiba untuk dimaafkan kepada kedua orangtuanya, namun niat Eugene tidak digubris sama sekali. Bahkan ketika ayahnya menjambak rambut Eugene dan menyeretnya keluar dari rumah sakit, Eugene menahan semua itu dan mencoba melepaskan diri untuk kembali ke depan pintu kamar Vynett.

Karena tidak mau melihat orang yang sudah mencelakakan anaknya, maka di putuskan mengirimkan Vynett ke sanatorium di luar kota. Ketika mendengar hal itu, Eugene pun berubah.

Ren pernah mengatakan padanya tentang bagaimana Eugene sekarang, “Jika kau melihat kelakuannya…kau pasti akan tercengang.” Jelas Ren.

“Kenapa dengan anak itu?”

“Dia dulu bertindak penuh pertimbangan dan juga tidak liar seperti itu. Hah!” Setengah tertawa kecut.”Kini dia bagaikan lelucon…hanya demi makanan dia akan berguling kesana-kemari…hahahahaha….” Ren tertawa keras mengingat kelakuan Eugene yang kini setengah bodoh.

“Kau harus ingat dialah yang membuat Vynett terbaring seperti itu, jangan lengah, terlebih lagi kau dulu pernah menyukainya.”

Tawanya memudar seiring ucapan Bobby yang mengingatkannya akan masa lalu.

“Apa kau tidak bosan mengulangi perkataan itu padaku?”

“….kau tidak lupa apa yang kau janjikan padaku waktu itu bukan? ‘Bantu aku membalaskan dendam’ ”.

Namun kini, Bobby merasa keyakinan Ren sedikit goyah untuk mencelakai Eugene. Saat awal-awal pun, dia menginstruksikan agar langsung mencelakai Eugene tanpa harus melibatkan sekolah-sekolah lainnya dalam hal ini. Rupanya menghajar dan juga membuat keributan dengan sekolah-sekolah lain itu hanya untuk mengulur-ulur waktu saja, Ren ingin ditemukan oleh Eugene. Bobby pun teringat dengan perkataannya lagi, “Sekarang dia tahu aku adalah adik Vynett. Aku yakin hidupnya akan dipenuhi ketakutan…kini, aku tinggal menungunya datang padaku untuk menyerahkan nyawanya.”

Meskipun Ren sudah menyatakan idenya itu, tetap saja Bobby gusar membiarkan pertahanannya melunak, oleh karena itu Bobby mengambil inisiatif sendiri, meskipun dia tahu kalau ketahuan oleh Ren, entah apa yang akan dilakukan anak itu terhadapnya. Kini, dia hanya bisa main kucing-kucingan dengannya, melihat siapa yang pertamakali berhasil menempelkan tangannya di tembok permainan.

Bersambung…

One Sweet Punch[19th Punch!]

Author. Maeve

=====================================================================

19th Punch!

 

Ren mengetahui jelas apa yang selama ini dia takutkan. Bibit kebencian yang tertanam kini sudah tumbuh dengan akar yang kuat dalam dirinya ketika melihat kakak perempuan sat-satunya terbaring menjadi ‘tanaman’ seperti itu. Yang lebih menyakitkan lagi, kenapa harus dia pula yang ikut menyaksikan kejadian naas tersebut. Yang terus berputar dalam otaknya seperti proyektor adalah adegan dimana Eugene dengan seluruh kekuatannya mengangkat dan membalikkan tubuh kakaknya untuk sebuah kemenangan yang mematikan. Wajah gadis itu sempat tersenyum ketika mengetahui lawannya terjatuh. Adegan itu terekam dengan jelas dingatannya. Padahal semua orang tahu kalau seketika itu juga senyuman Eugene berubah menjadi khawatir, dengan wajah ketakutan dia langsung berlutut memeriksa keadaan Vynett. Ketika dari hidungnya keluar cairan berupa darah, Egene langsung mengalami apa yang disebut ‘panic disorder’ secara tiba-tiba. Dia berteriak-teriak di arena pertandingan, menoleh kiri-kanan agar semua orang dapat menolong Vynett. “Ambulan…CEPAT PANGGIL AMBULAN!!!!!!” setelah tim medis yang tersedia di pertandingan tersebut membawa Vynett ke rumah sakit, Eugene masih berada di tempat itu, menangis histeris. Sean langsung memeluknya agar dia bisa segera menenangkan dirinya.

 

“Eugene!! SADAR!!” melepaskan pelukannya seraya masih memegangi pundak Eugene yang asih terduduk kaku dengan mata melotot, segukan penuh ketakutan.

“Mereka sudah membawanya ke rumah sakit, jadi tenanglah…”

Tanpa ekspresi dan kini berusaha menahan tangisannya, “B-bagaimana bisa aku tenang? Apa kau mendengar bunyinya?”

“Eugene…”

“Sean…Vynett…aku sudah melakukan hal buruk padanya.” Tangisannya pun kembali meledak.

 

******

 

Bobby memberitahukan pada anak buahnya untuk menakut-nakuti Eugene. Jadi dia meminta geng wanita arahannya mengerjai Eugene barang sebentar dan juga mengatakan agar perintahnya ini jangan sampai diketahui oleh Ren kalau mereka semua masih mau selamat.

 

Mereka saat pulang sekolah, sengaja menunggu Eugene di taman yang sering sekali dilewatinya jika akan pulang ke rumahnya jika berjalan kaki. Karena semua orang sedang sibuk dengan agenda acara ulang tahun sekolah, aku memastikan kalau tidak akan terjadi apa-apa pulang sendiri hari ini. Jinnu meminta agar aku tetap menunggunya di tempat latihan sampai dia beres rapat dengan anggota OSIS, tapi aku tetap kukuh pada pendirianku, kalau lambat laun harus membiasakan diri untuk bisa pulang sendiri dan bagaimanapun sudah hampir beberapa hari ini tidak ada tanda-tanda aneh dari anak buah Ren ato Ren-nya sendiri untuk menghajarku. Meskipun Jinnu dan juga anggota power Ranger yang lain merasa keberatan dengan keputusan itu, Sean mengambil inisiatif kalau apa yang dikatakan olehku itu benar. Setelah mendapatkan ijin dari mereka semua, akhirnya aku pergi pulang ke rumah tanpa pengawalan siapapun.

 

“Tanpa Jinnu, sedikit terasa membosankan.” Aku melihat kesamping saat aku berjalan pulang. Biasanya tubuh anak itu yang tinggi selalu menghalangi panasnya sinar matahari yang mengenaiku. Siluet tubuhnya pun tampak indah ketika dia berjalan disampingku…

Aku menggigit bibirku, lalu memanyunkan bibirku dengan kesal, “Apa aku harus mengaku kalah dan mengatakan padanya kalau aku sudah mulai menyukainya?”

Aku langsung menggubris pikiran aneh itu dari dalam benakku.

 

Kemudian ketika aku berjalan di sekitar daerah taman, tempat biasa aku dan si burung unta itu sering bertemu, hari ini terlihat sedikit aneh. Biasanya banyak anak kecil yang bermain disekitar ayunan, dan juga perosotan. Kenapa terasa sunyi? Para kakek yang biasa main catur pun sudah tidak ada.

 

Aku benar-benar tidak tahu apa yang menimpa kepalaku saat aku lengah, aku baru tahu kalau seseorang sudah memukul kepalaku dari belakang sesaat ketika tubuhku ini tersungkur di tanah. Untungnya aku tidak pingsan. Sekelompok anak perempuan yang entah dari sekolah atau campuran sekolah mana yang berani menyerangku tiba-tiba seperti ini, muncul dihadapanku.

 

“Orang bilang refleks mu hebat? Tapi tidak kusangka kau apes hari ini terkena pukulan balok ku.” Ujar anak perempuan berambut punk warna –warni panjang.

“Melihatmu yang gampang tersungkur seperti itu membuatmu tidak menarik lagi.”

“Kalian siapa?” tanyaku pada mereka, namun tidak ada satu tanggapan pun pada pertanyaanku. Si rambut punk itu hanya bisa tersenyum sinis, “Hajar dia sampai tidak berani lagi menampakan wajahnya itu!”

 

Mendengar perintah si rambut punk, aku tahu aku dalam masalah. Seharusnya aku menuruti apa yang dikatakan anak-anak. Aku langsung berdiri dengan cepat sebelum mereka menghajarku dengan balok-balok tebal yang mereka bawa di tangan masing-masing itu.

 

Hook! Satu orang sudah melayangkan pukulannya memakai balok tersebut, namun beruntung aku bisa menghindar dan malah meraih tangan anak itu dan hampir mematahkannya. Anak itu kesakitan.

“Jika aku memang bersalah, normalnya aku akan menerima pukulan kalian satu persatu. Tapi karena aku merasa dikambing hitamkan…aku juga tidak punya pilihan lain selain melawan.” Ucapku dingin pada mereka.

 

Satu orang lagi mencoba memukulku untuk menolong temannya, berniat untuk membuatku melepaskan lengan anak yang kini sedang kesakitan itu. Keika anak itu mulai mengayunkan balok kearah ku, aku dengan hati-hati mendorong anak yang kesakitan itu ke tanah. Namun salah satu dari mereka mengarah kaki ku  dan berhasil mengenaiku. Aku pun jatuh tersungkur, menahan sakit dan mencoba berdiri, si anak berambut punk itupun maju mendekati ku.

“Kau tidak akan bisa lari atau pun menggunakan teknik ‘windmill’ mu yang cantik itu lagi. Jadi…apa bisa pestanya dimulai sekarang?”

Awalnya aku ingin mengahadapi mereka dengan lunak, tapi sepertinya mereka serius sekali ingin menghabisiku.

“Sayang sekali…aku bukan tipe yang gampang menyerah meskipun kalian sudah memukul kakiku. Dan satu lagi, aku sudah berjanji pada teman-temanku kalau aku bisa menjaga diriku sendiri…dan kalian…”Aku melayangkan senyuman yang ku pelajari dari Jinnu.”Sudah menggali kuburan kalian sendiri.”

 

Rupanya ucapanku tadi membuat mereka sedikit gentar ketika mataku men-scaning mereka satu persatu. Aku tidak mau kehilangan timing, jadi akulah yang pertama menyerang mereka, aku meninju wajah si rambut punk hingga sempoyongan dan hampir terjatuh. Dari mulutnya mengeluarkan darah, ketika tahu kalau pimpinan mereka hampir kalah, mereka menyerangku secara bersamaan. Aku harus berfikir lebih keras 1000 kali, jika mereka dengan tangan kosong, mungkin aku bisa dengan cepat mengalihkan situasi yang menguntungkanku. Tapi mereka melawanku dengan balok?! Sumpah, yang terfikir oleh ku saat ini adalah mencoba kabur dan berlari ke arah pilar-pilar besi mainan anak-anak yang berada didekat ayunan itu.

“Brengsek!” Gumanku. Aku mempertaruhkan otakku untuk kabur dari sini. Ketika mereka mulai menyerang, aku mencoba untuk menghinar dan balas menendang, memukul mereka jika aku melihat ada ruang kosong untuk itu. Dan akhirnya, perkelahian ini masuk ke dalam rencanaku, pilar-pilar yang biasa di naiki oleh anak-anak lumayan tinggi dan juga banyak palangnya juga. Dengan penuh pertimbangan matang, aku meraih salah satu pilar tersebut dan mengayunkan tubuhku untuk masuk ke dalam kotak-kotak di dalamnya. Maksud ku melakukan hal itu adalah mencoba beristirahat sebentar. Mereka semua mengitari pilar ini yang bentuknya segitiga mirip piramid warna-warni. Sebagian ada yang memukul-mukulkan baloknya dan ada pula yang berusaha merogok-rogokkan balok panjang itu ke arahku yang masih terengah-engah didalam sini. Semakin aku bisa bernapas, semakin otakku pun bisa berfikir dengan jernih. Aku menunggu mereka semua menaiki atau masuk menangkapku.

“Cepat masuk dan tangkap dia!” Si rambut punk memerintahkan anak buahnya. Beberapa dari mereka menaiki pilar ini. Aku tersenyum senang, “Eureka!”.

Aku pun sesegera mungkin mulai memanjat keluar dari tempat ku berada. Untungnya aku ingat kalau Yuni sering menaruh ‘spray pedas’ dalam tasku, meskipun aku tidak pernah memakainya dalam kesempatan apapun. Kali ini, memakai cara licik seperti mereka, tidak akan pernah salah bukan?

Aku merogoh spray itu dari kantong luar tasku. Aku menyemrotkan spray itu ketika mereka hampir mendekat agar aku bisa memanjat kembali. Ketika aku sudah berada di luar pilar-pilar itu, dengan cepat aku berakrobat ria. Melihat mereka sekarang yang terperangkap didalam kecuali si rambut punk, aku berjalan ke arahnya, dia mengacungkan balok tersebut, tapi tanpa banyak acara aku menyemprotkan spray itu ke wajahnya.

“Aakkkk…perih!!!” Dia segera menutupi wajah sambil kesakitan.

“Ahhh…rupanya kegunaan barang ini untuk itu ya??” Ujarku bodoh, tidak memperdulikannya.

 

Meskipun begitu, pertanyaannya siapa yang mengirimkan mereka semua untuk menghajarku? Masalah ini, akan kuselidiki sendiri. Apabila akhir dari yang ku khawatirkan ini berhubungan dengan Ren? Jika itu terjadi, pertarungan itu tidak bisa ku hindari. Dengan tanganku ini, lebih baik menghancurkan mimpi buruk yang selama ini terus bersarang dalam alam bawah sadarku dari pada terus menghindar seperti banci!

 

Kita lihat saja siapa yang bertahan dari kekacauan ini?!

 

To be continue….

 

 

 

One Sweet Punch [18th Punch!]

Author. Maeve

====================================================================

18th Punch

 

Ren bingung harus menanggapi masalah ini dengan bagaimana? Urusan Eugene dan dirinya tidak boleh ada campur tangan dari pihak lain. Meskipun orang itu ada masalah dengan Eugene, dia tidak akan melakukan yang diminta Sara. Itu sudah keputusannya.

 

“Bobby! Perempuan tadi anak mana?”

“Felst.” Jawab Bobby, anak buahnya.

“Selidiki perempuan itu baik-baik, setelah selesai laporkan padaku.”

“Baik…Ren, aku tahu kalau kau tidak mau ikut campur mengenai permintaan anak itu padamu, tapi, bukankah hal itu malah mempermudah usaha kita untuk memberikan Eugene pelajaran yang setimpal atas apa yang dia perbuat pada kakakmu tanpa harus mengotori tangan kita?”

Ren mengambil kunci motor yang diletakkan di meja, berjalan menghindari Bobby ke motornya. Sebelum menyalakan mesin, dia berucap pada Bobby. “Lakukan saja apa yang ku minta.”

“Kau mau kemana?”

Ren tidak menanggapi Bobby. Namun Bobby masih menahan langkahnya untuk pergi.

“Waktu kita sudah tidak banyak, dan Eugene bukan tipe orang yang bisa mengerti keadaan yang dialaminya secara langsung. Kau tahu itukan? Jika terlalu lama, maka yang akan terjadi adalah kau dipermainkan olehnya.”

Ren tersenyum dingin, “Apa kau merasa aku butuh nasehat dari mu?”

“Tidak, karena kau tahu aku ini bergerak tanpa harus ada instruksi darimu. Jadi, berhati-hatilah, siapa tahu aku akan menusukmu dari belakang.” Ancamnya.

Ren kemudian menjalankan motornya dan melaju keluar dengan kecepatan tinggi dari gudang tua tempat persembunyian kelompoknya.

Bobby tersenyum licik karena dia telah melayangkan surat ancaman kepada Power Ranger plus Eugene dan juga Jinnu dibelakang Ren.

 

*****

“Wuaaaaahhh, bosan!!” Ujar ku seraya membuka-buka buku pelajaran di mejaku. Sean masih sibuk dengan rencana membuat stand yang lain dari biasanya, tapi entah apa yang dipikirkannya ketika ide gilanya datang da menyuruh anak-anak dikelas belajar lempar pisau!

Ketika ide itu diutarakan, jelas-jelas kini dia dilempari perlengkapan sekolah. Huahaha, rasakan!

Dan karena tidak punya ide lainnya, dia menyuruh Dwight memikirkan membuat rencana apa untuk perayaan ulang tahun sekolah dari kelas mereka. Akhirnya Sean kembali duduk di sebelahku.

“Kau kenapa?”

“Tidak apa-apa? Memangnya aku terlihat seperti sedang melakukan apa?”

“Melakukan sesuatu yang pantas dicurigai.”

“Maksudmu?”

“…iya, seperti contohnya…apa yang kau lakukan kemarin di rumah Jinnu?”

Brengsek. “Kau itu stalker ya?”

“Yang stalker itu justru kau, Eugene…aku melihat semuanya.” Sean tersenyum jahat.

Cara satu-satunya menghadapi orang yang tersenyum lebar menyeringai dihadapanku ini hanya satu.

“Mati kau! Mati!!” Aku langsung memukulinya bertubi-tubi, Sean kemudian berlari hingga ke lorong.

“Eisshh…dia yang jatuh cinta kenapa aku jadi sasaran kemarahannya?!…”

“Heh, Sean! Kau mau lari kemana?! Huh?!” Ujarku sambil mengejar anak itu.

“Hahaha…kejar aku kalau kau bisa!”

Kenapa aku bisa bertingkah layaknya seperti orang gila setelah mengetahui kalau Sean melihatku masuk ke rumah Jinnu? Dia sudah tahu semuanya kan? Kalau aku akan baik pada Jinnu karena dia akan membantuku mengatasi masalah yang sedang ku hadapi terhadap Ren. Iya, itu yang kupikirkan saat ini. Hahaha! Jadi itu bukan suatu masalah besar.

 

****

Bobby sudah mengetahui maksud Sara yang datang meminta bantuan Ren untuk memberikan Eugene pelajaran karena telah merebut pacarnya, karena tahu kalau Ren tidak mungkin mencampurkan dendam pribadi dan juga bisnis, terutama lagi lawan yang dihadapinya adalah Eugene. Dia segera mennyuruh anak buahnya mencari nomor ponsel Sara untuk bernegosiasi tentang masalahnya itu.

Setelah mendapatkan nomornya, segeralah Bobby menghubungi Sara yang pada waktu itu masih berada di luar sekolah. Sara memintanya menemui dirinya di Laluna.Bobby mengiyakan, dan berangkat menemuinya.

Sara menunggunya di meja nomor 7. Sebenarnya dalam hati Sara, dia tidak mau memakai cara jelek ini untuk mendapatkan Jinnu, namun sesekali Jinnu harus merasakan akibatnya jika dia berani mempermainkan perasaannya seperti itu.

Bobby mengenali wajah Sara dan langsung menuju ke meja itu.

“Kau bilang bisa membantuku mengurusi masalah yang ditolak oleh Ren? Apa maksudmu bicara seperti itu ditelpon tadi?”

“Haha…rupanya kau itu perempuan yang tidak suka basa-basi?”

Sara tidak tertarik dengan pujiannya itu, dan rupanya Bobby mengerti. Jadi dia langsung ke pokoknya saja.

“Jika orang yang kau maksud itu bukan Eugene, mungkin aku bisa membantu mu untuk bicara pada Ren. Tapi ini lain…”

“…………”

“Kau tahu, aku ini bukan tipe orang yang suka mengatakan rahasia orang pada yang lain. Tapi bagi Ren, Eugene hanya boleh disentuh olehnya, tidak oleh yang lain.”

“Lalu kenapa kau datang menemuiku untuk membicarakan masalah ini?”

“Bilang saja kalau aku ini lebih gila dari Ren. Aku ingin mendahuluinya, itu saja.”

“Akan ku anggap itu sebagai loyalti…tapi bagaimana kau bisa membantuku?”

“Sekolahmu akan merayakan ulang tahunnya kan? Aku hanya membutuhkan akses masuk ke sekolah mu saja, selebihnya aku bisa lakukan sendiri.”

“Kau tahu istilah ‘jaga mulut’?” Ancam Sara.

“Tentu saja, pihak mu hanya tahu kalau terjadi sesuatu, pastilah karena perebutan lahan kekuasaan yang dipionirkan antara Ren dan juga jagoan-jagoan sekolah mu. Kau suka ide ku itu?”

“Satu lagi, aku tidak mau kalian melukai Jinnu!”

“Jinnu…baik.”

 

******

Ren menunggu perawat keluar dari kamar kakaknya. Setelah perawat selesai membersihkan tubuh Vynett, ia kemudian masuk ke dalam. Aura Ren yang sangat gelap berubah ketika memasuki ruangan itu, dengan seikat bunga lavender kesukaan kakak perempuannya, dia tersenyum dengan riang.

“Cuaca di luar sungguh sangat panas hari ini, kak. Aku hanya menyarankan pada mu kalau dalam cuaca panas seperti ini, aku tidak akan membawamu jalan-jalan keluar…hmmm…”mencium wangi bunga laveder, “Kakak juga mencium wanginya kan? Hari ini, kita akan melakukan apa? Ah, aku punya buku baru…” Setelah menaruh bunga lavender ke dalam vas, ia langsung mengeluarkan beberapa buku bacaan. “Aku bawa karangan pendek Anton Chekov. Aku rasa ini sedikit lebih berat, tapi kakak suka kisah romantis kan? Judulnya ‘Wanita dan si anjing kecil’ “. Ren langsung menarik kursi terdekat dan duduk di dekat Vynett.

“Telah disebutkan kalau ada seorang pendatang baru di pesisir pantai, seorang wanita dengan anjing kecilnya….” dia membacakan buku itu seakan-akan Vynet bisa mendengar dan berinteraksi dengannya, terkadang jika Ren membacakan buku komik, entah itu ilusi atau memang terjadi…Vynett menyungingkan senyumannya jika menemukan hal-hal lucu dari buku bacaan yang dibacakan oleh Ren padanya.

“Dia mengingat kelangsingan, lehernya yang indah, dan juga matanya yang abu-abu mengagumkan. ‘Lagi pula, ada satu hal yang terlihat menyedihkan dari dirinya.’ Pikir Dimitri dan kemudian tertidur…Aku, tidak punya kemampuan untuk menyakiti orang itu.” Dia tahu, kalimat terakhir yang dia sebutkan bukanlah dari buku yang dibacanya, melainkan kegalauan hatinya.

***

 

Akhirnya aku bisa juga menangkap Sean yang ternyata bersembunyi hingga ke atap sekolah. Saat aku menemuinya, dia sudah berlutut dengan kedua lengan keatas.

“Eugene…aku bersalah padamu. Jangan pukuli aku lagi!”

“Bagus jika kau mengerti. Lagi pula apa urusanmu jika aku main ke rumah Jinnu atau tidak? Kau tahu sendirikan, aku harus baik padanya karena dia akan membantuku soal Ren.”

Sean menurunkan kedua tangannya, mencoba untuk berdiri. Kemudian menepuk-nepuk celananya yang kotor sehabis berlutut itu.

“Apa otak mu sudah bisa diajak berkomunikasi?”

“Kau cari mati lagi ya?”

“Heh, aku ini khawatir terhadapmu.” Ujar Sean berjalan ke arah ku.”Lagi pula, apa salahnya jika ternyata kau menyukai Jinnu dan bukan Tei?”

“Apa kau pernah merasakan hal yang sama?”

“Maksudmu tentang jatuh cinta? Tentu saja, semua orang pasti pernah merasakan jatuh cinta.”

“Siapa orangnya?”

“Adik mu.”

“Huh?!”

“Yuni???”

“Hm!” Angguknya pasti.

“Kapan? Kenapa bisa?”

“Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, bodoh!”

 

Sejujurnya aku ingin menjawab pertanyaan itu, tapi aku tidak bisa. Terhadap Jinnu atau pun Tei, mereka adalah orang-orang yang berdiri dibawah langit yang sama dengan ku, namun aku tidak mampu meraih kedua tangan mereka. Tei bagiku, adalah teman dan masa lalu…lalu Jinnu bagiku….seperti air dan minyak. Terlebih lagi, aku juga tidak mau mereka semua mengkhawatirkan keadaanku.

Jadi, sejak surat ancaman itu datang, entah kenapa kami harus berbondong-bondong hanya untuk datang ke sekolah dan juga pulang ke rumah. Karena aku ini sasaran empuk mereka, jadi setelah mengantarku pulang, barulah mereka saling antar. Yang ku dengar, yang terakhir pulang adalah Jinnu.

 

Tapi untuk hari ini, formasi tampak berbeda. Mungkin karena yang lain punya urusan masing-masing dan menyerahkan tugas mengantarkan ku pulang pada Jinnu.

Jujur saja, sejak hati ku merasakan ketidaktenangan berada satu ruang atau berjalan bersebelahan seperti ini dengannya, dia pun tampak diam.

 

“Sebenarnya, kau tidak perlu mengantarkan ku pulang seperti ini.”

“Huh?” Tanyanya dengan wajah sepertinya dia sedang memikirkan hal lain.

“Jinnu…kalau kau punya rencana lain, kau tidak usah mengantarkan ku pulang.”

“Jangan sok…lagi pula, Tei akan khawatir jika aku membiarkanmu pulang sendirian.”

“Dia tidak tahu menahu soal surat ancaman itu kan?”

“Lambat laun pun dia akan tahu, makanya aku ingin menjagamu.”

“Apa aku tidak salah dengar?”

“Memangnya salah jika aku ingin menjagamu?”

“Tidak. Jujur saja, sebenarnya aku takut. Kaki ku selalu saja gemetar jika melihat gerombolan anak sekolah atau gerombolan yang memandang ku dari jauh. Jadi jika bersama kalian, aku merasa aman meskipun nantinya kita akan berkelahi juga gara-gara aku.”

“Sudah ku bilang kan semua itu bukan kesalahan mu?!”

Meskipun semua orang bilang itu bukan kesalahanku, tetap saja hasil akhir dari semua itu Vynette berada di rumah sakit entah untuk berapa lama? Dalam hati ku, aku ingin sekali bertemu dengannya untuk meminta maaf. Jika bisa, aku akan menukar jiwa ku dengannya. Gara-gara seorang anak seperti ku, seorang gadis terluka dan masa depannya hancur jadi ‘tumbuhan’ seperti itu. Sedangkan aku masih bisa tertawa, marah dan juga memukuli orang lain sekehendak hatiku! Orang macam apa aku ini? Aku pantas mati! Pantas dapat hukuman. Aku memang pantas dipukuli oleh Ren. Aku yang membuat kakaknya seperti itu.

 

*****

 

Ren keluar dari sanatorium dimana kakaknya dirawat selama ini. Ketika hendak menjalankan mesin motornya. Rupanya Bobby sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.

“Kau punya nyali juga menguntitku?!”

“Tidak usah bersikap begitu padaku, lagi pula yang sedang terbaring di dalam sana juga adalah pacarku. Jadi, apa hak mu untuk melarang ku menemuinya?”

Ren memakai helmnya tanpa memperdulikan ucapan Bobby.

“Jangan bilang kau menyukai anak itu karena kakak mu selalu saja menceritakan betapa baik dan juga hebatnya seorang Eugene? Ah…” Bobby mengingat sebuah kejadian di masa lalu sambil terseyum layaknya ingatan itu perlu disampaikan pada Ren.

“Kau juga pernah bertemu dengannya satu kali sebelumnya saat kau masih belum pindah ke Felsterich untuk mengacau disana. Saat itu kau masih lugu, diam-diam mengidolakannya juga. Vynette yang bilang, kalau kau selalu membawa motormu untuk melihatnya dari gerbang sekolah ketika jam pulang….Ahkk!” Ren melempar wajahnya dengan helm yang akan dipakainya. Kemudian dia turun dari motor, lalu menendang  perutnya hingga rubuh ke tanah. Dia jongkok dan meraih kerah baju Bobby, menariknya kuat hingga wajahnya berada tepat di depan Ren. Bobby dengan napas terengah-engah karena kuatnya tendangan Ren mencoba melepaskan diri dar cengkramannya, namun gagal.

“Kalau kau ingin mati, terus saja bicara! Tapi satu hal yang harus kau ingat. Tidak perduli kau siapa?! Jika menghalang-halangi jalan ku, tidak perlu ada alasan untuk membunuhmu. Mengerti?!”

Ren mengambil helmnya, kemudian menaiki motor dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi hingga ke jalan raya.

 

To be continue…..

 

 

 

One Sweet Punch [17the Punch!]

Author. Maeve

===================================================================

 

17th punch

Keesokkan harinya, suasana di sekolah mulai bisa tenang seperti sedia kala, maksudnya keadaan ku yang tanpa Mina. Seperti apa yang pernah dikatakannya, bahwa semua orang di sini tidak ada yang tahu soal aku bicara seorang diri pada udara, karena dia tidak mau aku dianggap gila. Tidak ada yang tahu menahu soal Mina, sedikit menyakitkan karena anggapanku Mina dan anak-anak yang lainnya bergaul seperti bagaimana biasanya. Tei menyapaku di koridor, karena sepertinya aku butuh menjelaskan sesuatu, aku mengajaknya bicara di atap sekolah.
“Soal ciuman itu…”
“Aku mengerti, Eugene. Soal kemarin, terimakasih. Aku tidak menyangka kalau orang yang menolong Mina adalah kau.” Tei tersenyum padaku.
“Tapi aku benar-benar ingin menjelaskannya, jika tidak aku pasti akan terus merasa bersalah terhadapmu dan juga Mina!”
“Huh?”
“Entah kau perhatikan atau tidak, tapi aku benar-benar ingin mengenalmu—bukan untuk sekedar mengenalmu, tapi juga aku ingin kau suka padaku.” Aku menundukkan kepala. “Aku ingin sekali kau mengenaliku, dan menjadi pacar pertamaku. Jadi, kemarin aku menciummu untuk memberitahukan akan hal itu, sekaligus, melupakan niat ku untuk membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Pacar pertama? Jika dikehidupanku sosok Mina tidak ada, kau adalah satu-satunya harapanku.” Ujarnya tersenyum bahagia. “Sejujurnya, aku pikir kau suka pada Jinnu, oleh karena itu, kau datang mendekatiku?”
“Aku? Jinnu? Aku akui kalau dia itu kuat dan juga kecepatannya dalam berkelahi lebih dari yang ku duga. Bagiku terlibat hubungan cinta dengannya sangatlah minim.”
“Tapi dia juga tampan sama seprtiku, otaknya lebih pintar dariku, pokonya secara keseluruhan dia sama denganku. Kau tahu itukan?”
“Yayaya…dia termasuk tipe yang seperti itu, membuat para wanita berteriak-teriak jika melihatnya. Tapi apa boleh buat, aku tidak menyukainya.” Mungkin belum, sejujurnya aku juga ingin bilang kalau belakangan ini, entah kenapa hatiku merasa lemah jika berhadapan dengan Jinnu.

Belum lama kami bicara, rupanya bel tanda pelajaran hari ini selesai sudah berbunyi. Aku dan Tei berpamitan.

“Eugene, terimakasih kau sudah mengutarakan perasaanmu padaku.”
“Aku tahu. Dan aku pun ingin mengucapkan terimakasih kau sudah memberikanku sedikit kebahagiaan pada diriku.”
Kemudian dia pamit, meninggalkanku seorang diri di atap sekolah yang sepi ini.

“Lega juga sudah mengatakan apa yang ku inginkan? Jika saja aku punya keberanian seperti itu dari dulu…mungkin aku….mungkin…aku??” Kenapa aku jadi memikirkan Jinnu? Apa hubungannya si keparat itu dengan perasaanku??

********
Pulang sekolah, karena cuaca sedikit panas aku pergi ke mini market untuk membeli eskrim. Ketika keluar dari pintu, ada beberapa orang yang menghadangku, sepertinya dua anak muda ini bukan anak sekolahan. Mereka tidak memakai seragam, hanya setelan kasual biasa.
“Hai cantik, mau pergi main dengan kami?” Tanya salah satu dari mereka sambil cengengesan.
Aku paling benci dengan cecunguk-cecunguk model mereka, yang bisanya mengganggu wanita dengan mulut kotornya. Makanya aku selalu mengajarkan Yuni agar hati-hati jika menghadapi cecunguk-cecunguk kurang ajar seperti mereka ini.
“Wah, kau cantik dan seksi sekali dengan seragam SMA mu itu? Ayolah, main dengan kami?!”
Pintanya menyebalkan.
“Apa boleh aku tahu kau dari kelompok mana?”
“Huh? Maksud mu, cantik?”
“Aku bilang kau kelompok siapa?! Jangan macam-macam denganku!”
“Wah, kau galak sekali? Kalau kami dari kelompok Ren, kau mau apa cantik?”
“Ren? Apa dia yang menyuruh kalian menggoda musuhnya?!” Ujarku tersenyum jahat, mengetahui gelagat mereka yang sepertinya tidak tahu siapa aku mulai dari saat aku mengatakan, bahwa aku ini musuh Ren. Aku yakin mereka bukan anak buahnya, jika iya…daerah ini masih ruang lingkup SMA kami, dan pastinya jika Ren menghamburkan anak buahnya di sini, mereka pastinya dibekali foto atau informasi soal jagoan-jagoan SMA Felsterich. Dan salah satunya adalah aku.
“Meskipun aku membenci bajingan tengik itu, aku yakin dia tidak akan memasukkan sampah macam kalian ke dalam kelompoknya. Jadi, berani-beraninya bajingan macam kalian menghasutku. Pergi, sebelum aku benar-benar menghajar kalian hingga tidak berbentuk!” Ancamku.
“S-siapa kau sebenarnya?” tanya salah satu dari mereka bertanya.
“Beruntunglah mood ku sedang baik…perkenalkan, namaku Eugene.”
“E-Euugene??”
Mereka berdua saling beradu pandang. Kemudian cengengesan lagi, “Maaf…hahaha…aku pikir kau kenalan kami, habis mirip sekali?!” ucapnya padaku, lalu memberikan sinyal pada temannya untuk pergi dari situ.
“Brengsek! Akan jadi apa masyarakat jika dipenuhi orang-orang kurang kerjaan seperti itu? Daripada buat masalah dan masuk kelompok gangster yang tidak karuan, lebih baik mencari pekerjaan. Huh, dasar bodoh!”

Saat aku akan menyeberang jalan, di seberang aku melihat Jinnu masuk ke apotik. Siapa yang sakit? Perasaan Tei sehat-sehat saja? Apa ayahnya? Atau jangan-jangan…dia sendiri yang sakit? Atau gadis itu?! Arrrgh…sudah jelas anak itu menolaknya, jadi mana mungkin Jinnu mau balikan lagi?! Lagi pula diantara mereka tidak terjadi apa-apa?? Huahaha…eh, tapi kenapa aku jadi penasaran dengan hidup si unggas tidak berotak itu. Aku putuskan untuk meyeberang dan mengikutinya setelah keluar dari apotik, mengendap-endap seperti seorang ninja. Lalu aku mendengarnya terbatuk beberapa kali…kemudian memegangi dahinya sendiri, memeriksa apakah demamnya sudah turun apa masih tinggi. Aku bersembunyi di belakang bak sampah. Rupanya pendengaran si burung unta itu peka, bukannya dari dulu juga pendengaran bocah itu peka??
“Kau tidak perlu bersembunyi seperti itu, tempat sampah bukan tempat yang baik untukmu.”
Sial…ketahuan juga!? Aku keluar dari tempat persembunyianku. Tertawa bodoh. “Hehehe…aku hanya iseng mengikutimu.”
“Aku sedang tidak enak badan, jadi tidak berniat untuk berdebat tentang apa dan mengapa kau mengikutiku.” Jinnu tiba-tiba memegangi kepalanya, pelan-pelan memijit-mijit kepalanya. Sepertinya dia memang sakit, ternyata orang yang sok kuat, sok pintar, dan sok ganteng bisa sakit juga?! Hihihihi…
“Sakit sekali?”
“Hmm…”
“Sejak kapan?”
“Tadi pagi…”
“Sudah makan?”
“………” Jinnu geleng-geleng kepala.
“Kau hidup sendirian dan bisa masak, kenapa sekarang tidak mau masak?”
“Jika kau sakit, apa kau punya hasrat untuk memasak?”
“Benar juga…Heh, karena aku ini baik hati, bagaimana jika aku masakan makanan untukmu?”
“Baik…daripada aku mati kelaparan. Ikuti aku, rumah kami ada di gang itu.” Aku mengikutinya dari belakang.

******
Aku memasakkan bubur untuknya, sambil menunggu, aku menyuruhnya istirahat dulu di kamarnya. Rumah mereka besar dan tertata rapi. Ada foto Keluarga di dinding rumah mereka, ibu Tei dan juga ibunya Jinnu dua-duanya cantik.
“Eugene!” Panggilnya dari dalam kamar. Aku langsung pergi melihatnya, takut dia kenapa-napa.
“Kau benar-benar lapar ya?”
“Sepertinya begitu.” Aku melihatnya tidur di ranjang – terbalut selimut tebal. Kenapa disaat-saat dia tidak berdaya, aku menganggapnya terlihat menarik. Seperti saat dia tidak bisa membersihkan tubuhnya saat di rumah sakit dulu, dan sekarang saat dia sedang demam. Apa ini sebuah trend baru? Menyukai pria yang lemah disaat-saat tertentu?
“Oii…aku ingin puding, apa kau bisa bawakan ke sini? Tadi pagi ayahku membuatnya.”
“Iya, tunggu sebentar…”
“Tapi tunggu…aku berubah pikiran, aku ingin minum coklat hangat.”
“Oke…” Untung aku belum sempat mengambil yang dia maksud. Saat aku akan melangkah keluar.
“Aku berubah pikiran lagi…”
“HEH!! DISAAT SAKIT ATAUPUN TIDAK, KAU TETAP MEYEBALKAN!! KAU TAHU ITU?!”
Ujarku padanya kesal. “Kau tidak akan makan apa-apa, tunggu sampai buburnya siap, baru aku akan membawakannya untukmu. Tahan atau kau tidur saja? Itu pilihanmu.”
“Jahat…” Aku pergi keluar dari kamarnya. Jinnu tersenyum bahagia dari balik selimutnya.
“Kenapa aku punya keinginan untuk membunuhnya lebih dari seratus kali?”
Ucap ku sambil memeriksa buburnya yang sudah matang sekarang. Aku menaruh bubur itu ke mangkuk kecil, membumbuinya sedikit, dan menambahkan sayuran yang tersedia di meja makan setelah menghangatkannya sebentar tadi, lalu membawanya ke dalam kamar.
“Jinnu, buburnya sudah siap. Ayo makan?”
Tapi dia tidak bergeming sedikitpun oleh panggilanku. “Mungkin dia tertidur, tapi aku harus membuatnya makan dulu, makan obat, lalu membolehkannya pergi tidur lagi?!” Aku menaruh nampan di meja belajarnya.
“Jinnu…”pamggilku pelan membangunkannya. “Jinnu…bangun dulu sebentar, kau harus makan, bukannya tadi kau lapar?”
Jinnu perlahan membuka matanya, tapi tidak berkata apa-apa. Matanya yang sayu karena flu, batuk dan deman yan gdi deritanya, menjadikannya mirip seperti anak kecil yang butuh perhatian dikala sakit.
“Ayo bangun, setelah makan bubur dan makan obat, baru kau boleh tidur.”
“Eugeeeennn…”
“Apa?”
“Bisa mendekat sedikit? Tolong cek suhu tubuhku, dan juga debaran jantungku…ada yang tidak normal?!”
“Panas mu wajar karena kau sedang sakit, jantung mu berdebar juga itu wajar. Itu menandakan kau masih hidup!”
“Coba kau periksa…dekatkan ke telingamu…ada yang aneh…”
“Huh?” Dengan polosnya aku duduk di tepi ranjangnya dan mendekatkan telingaku ke dadanya.
Aku mendengar deru napasnya.
Sambil tersenyum, Jinnu merasa lega.
“Heh, kau itu tidak apa-aaa….” Saat aku mau menjauh, dia menarikku dan langsung memelukku dengan erat.
“Tunggu lima menit….aku tidak perlu obat, ada kau, itu sudah cukup….Eugene…lima menit saja.” Pintanya, dan entah kenapa aku menyanggupinya dengan perasaan yang aku sendiri tidak tahu. diperutku,seperti ada ratusan kupu-kupu berterbangan kesana kemari, kepalaku terasa berat, napasku sesak. Namun dari semua itu, perasaan yang sangat ku nikmati adalah kenyamanan dalam pelukkannya. Begitu hangat dan….dan….bagaikan sebuah mimpi…..

************

Jinnu terbangun dan mendapatkan Eugene sedang tertidur lelap di sampingnya. Dia dengan perlahan membelai rambunya yang terurai panjang, kemudian menelusuri wajahnya, saat jemarinya berhenti di bibir mungil Eugene. Dia ingin sekali mencium bibir itu. Namun jinnu menahan hasratnya itu dan membiarkannya tertidur pulas, sementara dia mengahangatkan kembali bubur yang dibuat Eugene di dapur dan memakannya dengan lahap, kemudian mengambil obat yang tadi dibelinya dan menelannya. Kemudian kembali masuk ke kamarnya, menyeret kursi meja belajarnya mengahadpa ke arah Eugene yang sedang tidur. Memandanginya dengan seksama.
“Sudah kukatakan, jika kau berlari ke arahku, aku akan jatuh cinta padamu. Jadi jangan salahkan aku jika aku ingin memilikimu dan menjagamu, anak bodoh!”

“Oahhhhmmm…” Aku membuka mataku, dimana ini? Kenapa aku bisa tertidur di sini?? Aku melihat ke sampingku, Jinnu tidak ada di kasur. Kemudian aku menemukannya tertidur di kursi. Karena panik, aku langsung keluar dari situ. Tidak…ini tidak boleh terjadi…..aku dan si burung unta itu tidak boleeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh!!!

*********
“Kenapa pula aku mau menemaninya??Menjatuhkan harga diriku saja?!” Gerutu ku saat berjalan pulang, aku melihat jam di ponselku, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku buru-buru ke pemberhentian bus dan naik bus selanjutnya.

Yuni sudah menungguku di meja makan saat aku pulang, “Kau ini, kemana saja?! Untung tadi Jinnu menelpon dan memberitahuku kalau kau ada di rumahnya. Eugene, kalau kau dengan Jinnu, lalu Tei bagaimana?”
Aku pergi ke dapur, mengambil botol minuman lalu meneguknya langsung dari botol, setelah merasa puas aku menjawab pertanyaannya.
“Aku dan Tei…kami berdua sudah menarik garis. Dia hanya orang yang kukagumi, tidak cocok jadi pacar.”
“Oh, oleh karena itu kau beralih pada Jinnu?”
“Heh? Dia dan aku juga tidak ada apa-apa. Memangnya tadi dia menelpon?”
“Hmm.” Angguk Yuni, “Dia bilang, karena dia sakit, jadi kau membantunya memasakkan bubur. Kalau kau dan dia tidak ada apa-apa, lalu apa harus kau memasakkan bubur untuknya?”
“Teman seperjuanganmu sakit, apa kau diam saja? Kalau dia sakit terlalu lama, jika musuh menyerang, aku akan kerepotan.”
“Hehehe, berarti Jinnu itu perhatian! Coba kau bayangkan saja, saat kau di keroyok dulu, yang pertamakali datang menyelamatkan mu itu dia, yang membopongmu kerumah sakit juga dia.”
Mendengarnya menggelar fakta-fakta itu ke mukaku, aku tidak mampu berdalih.
“Yuni…kalau jantung berdebar kencang, suhu tubuhmu tiba-tiba panas, sampai kau ingin kabur dari hadapan seseorang, itu namanya apa?”
“………..maksudmu?”
“Tidak….anggap aku tidak bertanya.”
“Ngomong-ngomong, dia menyuruhmu untuk menelponnya jika kau sudah sampai rumah.”
“Oh…”
“Cepat ganti baju dan mandi, lalu makan!”
Aku langsung pergi ke kamar ku untuk bersiap-siap mandi dan turun makan. Perasaanku tidak tenang, Jinnu, panasnya sudah turun belum? Pandanganku terikat pada ponselku yang tergeletak di meja belajar. Namun aku mencoba menggubris pikiranku yang mengkhawatirkannya. Setelah selesai mandi, aku langsung menemui Yuni yang menungguku di meja makan untuk makan bersama.

******

Rapat anggota. Tulisan itu terpampang dengan jelas di pintu ruang OSIS, semua perwakilan kelas sedang menentukan acara apa yang pas untuk pesta ulang tahun sekolah. Jinnu disuruh mewakili kelasnya, saat berjalan menuju ruang osis, Jinnu bertemu dengan Sara di lorong. Benar juga, pikirnya dalam benaknya. Sudah lama aku tidak melihat Sara? Rumahku juga masih dibiarkan kosong karena Sara sudah pindah ke tempat lain.
“Jinnu!” Panggilnya dengan nada riang, seperti masalah yang dulu pernah terjadi sudah dilupakannya.
“Apa kabar?”
“Apanya yang apa kabar? Aku pikir kau sudah pulang ke rumah, tahunya masih dengan ayahmu. Lain kali ijinkan aku main ke sana ya?”
“Tidak tahu…” jawabnya dingin, menjaga jarak.
Sara sebenarnya kesal dengan tingkahnya, tapi dia memang masih menyukai Jinnu. Apapun akan dilakukan hanya untuk mendapatkan Jinnu kembali.
“Kau terlalu memaksakan diri di depanku. Jika kau benci aku, kenapa saat aku menyapamu, kau menghentikan langkah dan bicara dengan nada seperti ini?” Raut wajah Sara berubah sinis.
“…………………..”
“Kau mau ke ruang osis kan? Ayo kita pergi sama-sama?!” Sara tersenyum kembali, menahan kegetiran atas prilaku Jinnu. Sara menggelayutkan tangannya ke lengan Jinnu, memaksanya pergi bersama. Jinnu ingin mencoba melepaskan pegangan Sara, tapi karena dalam hatinya dia juga merasa bersalah terhadapnya, dia akan membiarkannya sekali ini saja.

Jinnu dan Sara masuk ke dalam ruangan, semua orang bereaksi melihat pasangan itu. Sejak Sara masuk ke sekolah ini dan terdengar kabar bahwa Sara memang pacar Jinnu, apalagi Sara sudah bilang kalau mereka tinggal bersama di rumah Jinnu. Melihat mereka masuk ke satu ruangan secara bersamaan dan juga mesra seperti itu meyakinkan kalau mereka berdua memang pacaran. Dwight dan Abym yang mewakili kelas masing-masing merasa heran. Daniel menghampirinya.
“Maaf, aku ada perlu dengannya?”Daniel dengan ramah melepaskan tangan Sara yang masih menempel pada Jinnu. “Tentang jadwal pergantian dojo, bisakan kau atur sekali lagi? Atau…” Daniel membawa Jinnu menjauh dari Sara yang kesal dengan apa yang dilakukan Daniel.
Daniel dan Jinnu masuk ke ruangan satunya lagi, yang masih satu ruang dengan ruang osis. Melihat mereka masuk, Dwight dan juga Abym ikut masuk menemui mereka.
“Oi..oi…Hahaha, apa-apaan itu sobat?” Abym masuk menggangu percakapan Daniel dan Jinnu. Setelah mereka masuk, pintu di tutup.
“Itu juga yang sedang ku tanyakan padanya.” Daniel menjauh dan bergabung denga mereka, Jinnu sekarang seperti seseorang yang sedang di sidang, duduk di meja yang tidak terpakai.
“Kau sudah dengar tentang Sara yang mengatakan pada anak-anak lain kalau kalian pacaran saat di Australia?” Tanya Dwight.
“Jika kalian ingin bercanda dengan ku, mood ku sedang tidak baik sekarang.”
“Terserah, kau inikan sejajar dengan Tei dalam urusan wanita. Populer.” Jelas Dwight lagi.
“Apa Eugene belum cukup untukmu?”
“………………” Mendengar nama Eugene, Jinnu jadi salah tingkah karena kejadian kemarin saat di rumahnya.
“Otot-otot di sekitar mulutmu itu bergerak-gerak, pipimu juga memerah, heh…sudah sampai mana kau dan Eugene?!”
“Kalian bisa diam tidak?! Seharusnya kalian khawatir tentang aku yang sakit kemarin…”
“Ah, aku jadi ingat!” celetuk Dwight tiba-tiba.
“Apa?” Tanya Abym.
“Kemarin Sean bilang melihat kalian berdua pulang sama-sama, dan kau membawa Eugene ke rumahmu.”
“UUUHHH…!” Abym dan Daniel barengan menggodanya.
Jinnu tidak dapat menyembunyikan perasaannya dihadapan teman-teannya itu, mereka bertiga seolah-olah dapat membaca apa yang tersirat diwajahnya.
“Hahaha…akhirnya. Kalian berdua melakukan apa saja?” Tanya Daniel penasaran.
“Tidak ada, dia hanya memasakkan bubur untuk ku.”
“Waahh…pasti kau senang ya?” Abym bertanya.
“Tentu saja dia senang. Jinnu yang dingin dan juga tidak punya perasaan dalam waktu singkat berubah hanya karena seorang Eugene. Waah, ini record! Record!” Jawab Dwight kegirangan. Percakapan ini menciptakan gelak tawa ketiganya, Jinnu hanya menahan senyumnya, berusaha tidak merusak imej cool-nya.

Ternyata Sara mendengar percakapan itu dari luar pintu.

********
Ketika rapat selesai, dan keputusan tema perayaan tahun ini adalah sirkus dan dilanjutkan dengan ajang battle of the band perwakilan kelas masing-masing. Jinnu menulis notulen hasil rapat agar nanti dapat diperbincangkan dengan anak-anak di kelasnya.
Sara menunggu semua orang pergi meninggalkan ruangan tersebut, sekarang hanya tinggal mereka berdua.
“Kenapa bukan aku?”
“…………………” Jinnu yang keasikkan mencatat tidak tahu kalau semua orang sudah pulang ke kelas masing-masing, dan sedikit merasa agak aneh dengan kehadiran Sara di dekatnya.
“Huh? Apa kau bertanya padaku?”
“Kenapa bukan aku yang kau pilih? Kenapa harus dia! Kau bilang kau membenci anak itu, kau benci Eugene karena dia selalu saja membuat mu kesal! Kenapa kau menolak ku dan dia tidak?!”
“Aku tidak tahu seberapa banyak kau tahu tentang diriku, tapi aku tidak punya kewajiban untuk memberitahumu bukan?” Melihat tidak ada kemungkinan untuk membicarakan maslah ini lebih lanjut, Jinnu bangun dari kursinya. Membereskan buku catatannya dan peralatan tulisnya, kemudian pergi menuju pintu keluar.
“APA KAU BENAR-BENAR SUKA PADANYA?” Sara menaikkan suranya dengan nada pesimis.
Jinnu yang sudah dekat dipintu keluar, sambil membuka pintu dan bersiap-siap untuk melangkah pergi, mengucapkan satu hal yang membuat Sara sedih.
“Semua itu bukan urusanmu.” Jawabnya dingin, menutup pintu, lalu pergi.
“Dia tidak pernah menjawab seperti itu, apa dia mengakui kalau dia menyukai Eugene?”

Kenapa? Kenapa? Pekik Sara kesal dalam hatinya.

*******

Gang anak buah Ren yan gsedang sibuk main kartu di tempat berkumpul mereka di kagetkan dengan kedatangan seseorang.
“Apa aku bisa bicara dengan Ren?” Suara itu milik Sara. Setelah salah satu dari mereka menyampaikan pesannya tersebut, Sara di apit oleh dua orang suruhan Ren masuk ke gudang tua tempat persembunyian mereka. Kini Sara bertatap langsung dengannya.
“Kenapa anak gadis sepertimu ingin bertemu dan bicara dengan ku?”
“Aku mau minta tolong.”
“Apa?” Ren menyalakan rokok, menghisapnya, lalu menghembuskan asapnya yang mengepul.
“Aku ingin kau menghabisi seseorang.”
“Hanya itu? Ingin sampai seperti apa orang yang ingin kau habisi itu?”
“Terserah bagaimana kau ingin menghabisinya.”
“Target?”
“Eugene!”
Ren yang terkejut, menarik rokok yang sudah setengah dia hisap, mengepulkan asapnya, lalu menyentilnya jatuh ke lantai.
“Katakan sekali lagi?”
“Kau sudah dengar, kan? Bukannya dia adalah targetmu?”
“Jika aku menolak? Aku tidak mencampurkan bisnis dan masalah pribadi secara bersamaan.”
“Aku tahu kau butuh uang untuk biaya kakakmu dan juga masalahmu dengan Eugene. Aku akan dengan senang hati membayar biaya untuk satu tahun ke depan untuk kakakmu tinggal di rumah sakit. Bagaimana?”
“Akan ku pertimbangkan.”
“Aku tidak suka menunggu, jika kau setuju, jemput aku disekolah besok.”
Ren melihat Sara dengan seksama, dia berfikir dalam hati, kenapa ada anak secantik itu tapi punya hati yang hitam sama sepertinya?

One Sweet Punch [16th Punch!]

Author. Maeve

==============================================================

16th Punch

Aku datang ke rumah mereka tepat saat Jinnu dan juga Tei sudah menungguku di depan rumah mereka. Tei mengatakan, bahwa dia tidak keberatan aku ikut menguntit kegiatannya bersama Jinnu menghadiri peringatan kematian Mina, kekasihnya. Jinnu melihatku dengan pandangan yang tidak seperti biasanya, dan aku hanya bisa tersenyum ketika melihatnya.
Jujur saja, aku ingin memnceritakan kejadian aneh yang menimpa ku, tentang Mina yang selama ini sempat singgah dalam kehidupan ku, yang boleh dibilang diantara kenyataan dan mimpi. Seperti itulah yang kurasakan tentang ke hadiran Mina yang tiba-tiba pada Jinnu. Jika aku mengatakan hal ini pada Tei, aku tidak tahu apa yang akan dikata dan dirasakan olehnya, tentang hal absurb yang terjadi padaku. Bahwa aku mengenal Mina, bahkan bicara dengannya.

Tei berjalan di muka, mereka berdua memakai setelan jas hitam, dalam situasi seperti ini, mereka masih bisa membuatku terkesima dengan ketampanan dua kakak beradik ini. Dia meninggalkan ku dan Jinnu berjalan mengikutinya dari belakang.

“Jinnu?” Tanya ku tertahan. Jinnu perlahan menoleh padaku.
“Apa?”
“Jika aku bilang…aku…ak-. Sudahlah, anggap aku tidak mengatakan apa-apa!” Aku tertawa bodoh.
“Hari ini kau kelihatan aneh?! Jika kau merasa tidak enak menghadiri upacara peringatan kematian Mina, kau boleh tidak datang.”
“B-bukan itu…Aku ingin datang!” Seruku.
“Lalu? Lalu kenapa kau mendadak aneh seperti itu?”
“Entahlah, aku memang merasa aneh. Mungkin karena aku yang mengalami dan dia tidak?!” Aku bicara sendiri. Karena tidak tahan ingin bercerita, aku menahan langkahnya dengan menarik lengannya pelan.
Jinnu tersentak kaget dengan tingkahku. “Jinnu, kau tahu film The Six Sense?”
Jinnu berfikir sebentar, “Bruce Willis dan Haley Joel?” Dia balik bertanya, menungguku untuk mengiyakan jawabannya.
Tanpa berfikir lagi, aku mengangguk. “Kau tahu kan tokoh Bruce Willis itu adalah psikiater yang tidak tahu kalau dirinya telah meninggal dunia, kemudian dia menolong anak kecil yang diperankan oleh si Joel, anak yang punya indera keenam. Pertanyaannya adalah, jika kau mengalami hal seperti itu, apa kau akan tetap bercerita pada seseorang meskipun kau dianggap gila?!”
Sebelum aku selesai bicara pun, si burung unta ini langsung memanyunkan mulutkan ke depan, kemudian mengerutkan dahinya, berfikir untuk menjawab pertanyaanku.
“Jika aku jadi si psikiater, aku pasti akan menderita. Terombang ambing antara orang hidup, tapi…kenapa tiba-tiba membicarakan hal seperti ini?”
“Kau masih ingat tentang pertanyaanku kemarin kan?”
“Pertanyaan yang mana?”
“Yang aku bilang, apakah kau melihatku sering berduaan dengan anak perempuan lainnya? Dan kau jawab dengan mengatakan kau tidak melihat tapi merasakan ada orang yang sepertinya mengawasiku, dan juga mengawasimu. Benar tidak?”
“????”
“Benar tidak!” Seruku mencari pembelaan.
“Kau ini kenapa?”
“Karena aku sudah terlanjur dianggap gila oleh mu, maka baiklah. Dengarkan cerita ku baik-baik, OKE?!” Pinta ku padanya, sambil berhati-hati supaya Tei tidak mendengar satu hal pun yang keluar dari mulut ku.

Jinnu ingin sekali mempercayai ucapanku, tapi…

“Heh, Tei?!” Panggil Jinnu padanya.
“Huh?”
“Kau tahu, aku ada urusan sebentar dengan si gadis gila ini. Pergilah ke rumah Mina terlebih dahulu, kami akan menyusulmu nanti.”
Sempat kaget aku dibuatnya, ketika si burung unta itu memanggil Tei. Aku pikir dia akan membocorkan hal yang tidak masuk akal ini pada Tei.
Tanpa beban dan juga pertanyaan, Tei menyanggupi permintaan Jinnu.

*********
Kami berdua tengah duduk di sebuah kafe yan gletaknya tidak begitu jauh dari jalan yang tadi kami lewati. Jinnu memesan minuman.

“Coba jelaskan sekali lagi tentang teori aneh mu tadi?”
“Itu bukan teori! Itu kenyataan!!” Bentakku padanya.
“Mana mungkin Mina bertindak seperti yang kau bayangkan itu?”
“Aku bukan tipe manusia yang beradu argumentasi tanpa bukti. Tapi ini lain Jinnu?! Mina selama ini tanpa ku sadari ada bersamaku. Dia duduk, dan bicara di sampingku. Apa kau tahu betapa kagetnya aku saat aku memeriksa daftar absensi kelas? Bertanya pada orang di sekeliligku mengenai keberadaan seorang gadis bernama Mina, yang memang tidak ada. Aku yakin aku sudah memeriksa segalanya, tapi tetap aku tidak menemukan apa-apa tentang dirinya, padahal aku ingat sekali, dialah yang pertama mengatakan ‘kau suka pada Tei?’, dan setelah itu dialah satu-satunya orang yang membantuku dengan pemikiran-pemikirannya untuk menyatukan ku dan Tei. Dari dia pulalah aku tahu tentang kalian yang kakak beradik. Padahal tidak ada orang yang tahu tentang itu. Benar kan?” Aku menunggu jawabannya, Jinnu mulai tertarik dengan ceritaku.

Cerita Eugene, tidak masuk akal, namun tentang hal yang terakhir dikatakannya memang benar. Semua orang di Felsterich hanya berasumsi kalau Jinnu dan Tei bersahabat, tidak ada yang tahu tentang hubungan yang sebenarnya. Jinnu juga merasakan kedekatan awalnya, dengan gadis yang sedang mencoba menenangkan diri dengan menyebut status hubungan mereka berdua. Sepertinya Eugene memang dari awal sudah tahu tentang hubungan kaka-adik ini, makanya Jinnu bisa leluasa mengatakan bahwa Jinnu memang adik Tei.

“Apalagi yang dikatakannya?”
“Hanya itu saja, ditambah lagi…semenjak ibumu dan ayah Tei menikah, kalian pindah entah kemana. Lalu berselang beberapa tahun, ibumu dan ayah Tei bercerai, dan kemudian Ibumu meninggal.”

Jinnu mengangkat gelas jusnya, karena bingung, dia menarik sedotannya lalu menaruhnya di meja, kemudian meneguk orange jusnya perlahan sampai tersisa setengah gelas.

“Tidak mungkin kau tahu tentang hal itu jika kau tidak kenal dengan Mina.”
“Benar bukan? Kau percaya padaku??”
“Kau…apa hubunganmu dengannya?”
“Dengan siapa?”
“Tentu saja dengan Mina, bodoh?! Siapa lagi subjeknya selain Mina di sini?!”
“Hubunganku dengannya?………Entah ini bisa tergolong aku kenal dengan nya atau tidak?” Aku terdiam sebentar. “Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menolong seorang gadis dan ibunya yang kecelakaan lalu lintas, mobil mereka menabrak sisi sebuah truk, lalu terjungkir balik. Secara kebetulan aku sedang melintas di sana, karena hari itu, aku juga…”
Aku tidak mau mengingat kejadian itu. “Aku juga hampir jadi seorang pembunuh…” Ucapku tertahan karena dadaku mulai sesak. “Tidak, aku lebih kejam dari pembunuh, aku membuat seseorang menjadi cacat.”
“Maka daripada itu, kau melemparkan dirimu sendiri untuk menolong mereka?…Aku tahu ceritamu dari Sean.”
Mendengar dia tahu kelemahanku, airmataku tidak bisa ku bendung lagi. “Inikan seharusnya…kita bicara tentang Mina…bu-bukan aku.” Sambil terisak, aku mencoba mengingatkan topik utama pembicaraan kami.
Perlahan, jari-jemarinya menggengam jemariku.
“Kau tidak bersalah Eugene. Itu semua hanya kecelakaan, kau harus bisa melepaskan dirimu dari rasa bersalah yang selama ini kau pendam. Mengerti?”
Layaknya seorang anak kecil, aku mengangguk mendengarkan pendapatnya. Hatiku mulai merasakan sesuatu, rasa hangat ini datang dari dirinya…kenyamanan ini datang setelah aku tahu dia ada di sisiku. Tapi…rasa apakah ini??

**********

Kami berdua kembali menuju rumah Mina seperti yang dijanjikan. Tapi, upacara peringatan kematian Mina sudah selesai ketika kami datang untuk bertemu dengan Tei. Tei sendiri merasa heran, namun ketika Jinnu memberikan sedikit penjelasan, dia akhirnya mengerti tanpa bertanya apa-apa lagi.

Aku pun melihat ibunya yang duduk di kursi roda, sedang memebreskan beberapa piring di meja yan gdibantu oleh dua pelayannya. Karena aku merasa tidak enak dengan datang terlambat, aku mencoba membantunya membereskan piring-piring makanan, dan juga gelas-gelas kotor. Namun ketika ibunya Mina benar-benar melihatku. Beliau terdiam dan langsung menyuruhku mendekat padanya. Beliau juga menarik tanganku sambil menangis, mengelus-eluskannya ke wajahnya yang lembut itu.
Jinnu yang tahu kejadiannya terharu melihatnya dan Tei, masih bingung dengan kelakuan ibunya Mina namun hanya bisa diam terpaku.
“Kau…kau anak itu kan?”
“A-aku…aku…” Karena tidak tahan lagi melihatnya begitu bersedih. Aku langsung minta maaf dan berbela sungkawa.
“Maaf, aku datang terlambat, ibunya Mina. Aku tidak tahu kalau…kalau gadis yang ku tolong, dia meninggal. Seharusnya aku bisa lebih cepat membuka belitan sabuk pengaman itu dari tubuhnya, kalau aku cepat, mungkin..mungkin…!”
“Terima kasih…” Beliau menghentikan racauanku, menghapus airmatanya, dan mengubah raut wajahnya dengan senyuman rasa terimakasih padaku. “Meskipun singkat, dari mulut Mina sebelum meninggal, dia mengatakan…jika aku hidup, aku akan berterimakasih pada gadis bernama Eugene. Jika aku matipun, aku akan tetap berterimakasih padanya, karena dia telah membuat hari-hari terakhir ku indah. Karena dia aku bisa mengucapkan selamat tinggal dan juga mengatakan betapa aku mencintai ibuku dan juga Tei.”
Saat aku mendengar ibunya mengatakan hal itu padaku, aku melihat sosok Mina tengah berjalan masuk ke kamarnya, perlahan aku mengikuti Mina. Ibu Mina, Jinnu, Tei dan juga pembantunya melihatku dengan aneh ketika aku melakukan hal itu.
“Eugene!” Panggil Tei pada ku saat aku akan memasuki kamar Mina. Namun Jinnu menghalanginya.
“Tei, biarkan dia ke sana. Eugene juga masih punya satu hal yang harus diselesaikan dengan Mina.” Penjelasannya menghadirkan tanda tanya besar pada kedua orang itu, namun denga nhati-hati Jinnu menjelaskannya. Aku mendengar Tei tiba-tiba menangis, diikuti oleh ibunya Mina. Aku menoleh kebelakang, melihatnya dari dalam kamar Mina. Mina tengah berdiri, tersenyum padaku di depan meja riasnya.
“Kau, masih ingat janjimu kan?” Tanyanya sambil tersenyum, “Sampai jumpa Eugene…aku doakan semoga kau menemukan kebahagiaan dan selalu ceria seperti yang kau selalu lakukan saat aku di sampingmu. Maaf, aku harus pergi seperti ini…sampai jumpa!” Cahaya terang perlahana keluar dari belakang tubuhnya, perlahan tubuhnya dilingkupi cahaya terang itu. Kemudian Mina hilang dari hadapanku.
“Sampai jumpa…sahabatku, Mina.” Ucapku getir, menahan tangisku.

*********

Saat diperjalanan pulang, rupanya Tei ingin menyendiri. Berkali-kali pula dia mengucapkan rasa terimakasihnya padaku. Meskipun aku malu mendengarnya mengatakan hal itu, rupanya, aku juga sadar dengan perasaanku sendiri. Yang ku rasakan pada Tei, memang awalnya adalah suka, namun setelah aku mengenalnya, semua itu menjelma menjadi rasa kekeluargaan. Aku memandangnya bukan sebagai sosok laki-laki yang ku sukai, namun seperti seorang kakak.
“Tei…sebelum kau pergi, aku punya sesuatu untukmu.” Aku berlari ke arahnya. Jinnu melihat ke arah ku, aku tahu maksud hatinya tidak mau mengganggu, makanya dia langsung balik arah, bermaksud pulang dari arah lain.
“Ini…” Aku menyodorkan tangaku yang terkepal rapat. Tangan kanannya menengadah dibawahku. Kemudian aku membuka kepalan tanga kananku perlahan, kalung itu terurai dari tanganku, kemudian terlepas ke tangannya. Dia mengamati sebentar, lalu mengetahui kalau kalung itu, kalung yang sengaja dirancang Mina, kalung hati separuh yang bisa direkatkan pada pasangannya untuk memebntuk sebuah bentuk hati. Tei mengeluarkan kalung satunya lagi dari balik kemejanya, aku tahu, secara simbolis, cinta ku bertepuk sebelah tangan. Saat Tei menggabungkan belahan hati itu menjadi sebuah hati yang utuh. Kemudian, aku mengecup bibirnya.

“Terimakasih Tei…dan akhirnya…hatimu kembali utuh!” Aku mencoba bersikap tenang dan senang. Aku membalikkan tubuhku dan mendapatkan si burung unta itu telah pergi jauh.
“Sial, anak itu malah meninggalkan ku sendiri! Bye-bye…”
Aku mengucapkan salam perpisahan padanya….selamat tinggal cinta pertamaku!
“HEH!!! BURUNG UNTA!!” Panggilku sambil berteriak, Jinnu menoleh kebelakang. Saat melihatku berlari, dia menghentikan langkahnya.
“Sial, saat gadis gila ini berlari ke arahku. Aku rasa dikemudian hari, entah esok atau lusa, aku akan benar-benar jatuh cinta padanya.” Gumannya pada dirinya sendiri.
“BURUNG UNTA, KENAPA KAU MALAH PERGI?!” Ujarku saat berlari mendekatinya.
“Pergi jauh-jauh dariku…”
“Aku tidak tahu jalan pulang?”
“Kau hanya tinggal ikuti jalan ini, apa susahnya?”
“Aku lebih nyaman pulang denganmu…”
“Lalu Tei?”
“Aku menyerah…kau benar, dia diluar jangkauan ku.”
“Apa tidak apa-apa, menyerah begitu saja?”
“Iya, tidak apa-apa.”
“Benarkah?”
“Iya!”
“Baguslah kalau begitu.”
“Apa katamu?!”
“Bagus, karena aku tidak mau Tei menderita pacaran dengan gadis yang suka sekali memakai kekerasan.”
Si burung unta ini memang menyebalkan, bisa tidak sih di saat seperti ini dia mengatakan hal-hal yang baik tentangku?!
“Eugene…tantangan mu waktu itu, apa masih valid?”
“Huh? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?”
“Mood ku sedang bagus, bagaimana kalau kita bertanding?!”
“………” Aku melihatnya dengan perasaan sepertinya Jinnu bukan Jinnu. Setelah hampir beberapa bulan ini aku mengenalnya, dia itu senang sekali memberiku racun namun setelahnya, memberikan aku penawarnya.
“Tidak mau!” Aku terus saja berjalan mengabaikan permintaannya.
“Kenapa?! Bukannya kau dulu berapi-api ingin mengalahkan ku?! Kalau kau tidak mau, baiklah…kau masih punya hutang padaku, Bukan?”
“Hu—huutaang?” Aku menghentikan langkahku. Bertanya-tanya tentang hutang apa yang dia maksud? Mau juga, dia yang berhutang padaku tentang janji pertandingannya denganku, tapi setelah dia membawa-bawa keinginannya untuk bertanding denganku, aku ingin mempermainkannya dengan mengulur-ulur waktu. Hehehe…
“Hutang apa?!”
“Rubuhnya rak shinai, aku belum minta kompensasi darimu bukan?” Ujarnya sambil tersenyum puas.
“A-apa??”
“Semua itu kesalahanmu, dan aku turut menyesal, kenapa juga kau itu selalu saja mau dijadikan kambing hitam oleh Sean.” Ujarnya tidak percaya akan kebodohan yang ku buat saat itu.
“APA? HEH, BURUNG UNTA?APA KAU SUDAH INGIN MATI YA!?”
“BERANI BENAR KAU MENGERASKAN SUARAMU PADAKU!?”
Anak yang ada di hadapanku itu benar-benar membuatku yang tadinya ingin mendinginkan kepala tiba-tiba memoleskan garam ke lukaku yang menganga! Keterlaluan. Kemudian aku mulai mengepalkan tanganku, bersiap-siap menyerangnya. Aku terlebih dahulu melancarkan pukulanku kepadanya.
“Teknik pedang mu yang hebat itu tidak akan berguna jika kau tidak punya pedang ditanganmu. Jadi lihat aku!” Ujarku marah padanya sambil bertubi-tubi melancarkan seranganku. Jinnu pun berusaha memblok semua pukulanku.
“Kau pikir aku hanya tahu ilmu pedang saja?” dengan senyuman nakal dia membalasku, dia tidak melukaiku. Anak ini hanya ingin bermain-main dengan ku. Buktinya dari tadi dia hanya menghindar dan menyerang dengan teknik yang tidak membahayakanku, saat aku lengah dan mencoba menarik maksud dengan perbuatannya itu. Tiba-tiba saat aku mengarahkan tendangan kaki kananku, tangannya menahan serta menariknya hingga posisi ku setengah split, mendekat padanya.
“Ooo…” Aku sedikit kesakitan, wajahnya berubah dingin. Menarik kakiku lebih cepat sampai aku hampir terjatuh hilang keseimbangan. Saat kaki ku yang dipeganginya tadi dilepaskan, tanganku yang masih posisi bersiap-siap dengan satu tangan menonjok ke depan, ditariknya juga, mendekat padanya. Jinnu seperti sedang mengajakku berdansa, karena setelah tubuhku dekat dengan tubuhnya, keadaanku masih bingung, sedang apa anak ini? Apa yang dia mau? Sebelah tangannya meraih pinggangku, memelukku erat menempel ke tubuhnya. Perbuatannya itu membuatku terkejut. Saat wajahku yang kebingungan itu menatap wajahnya lama, menunggu apa yang akan dilakukannya kelak, matanya menatapku dalam-dalam. Tiba-tiba saja tubuhku jadi panas, bukan karena aku marah dia memperlakukanku seperti ini, melainkan hal lainnya yang membuat sistem tubuhku ini membuatku merasa malu dan juga senang disaat yang bersamaan.
“Kau kalah, Eugene.” Dalam napasnya yang terengah-engah, raut wajahnya seperti merasakan kenikmatan atas tindakkannya itu, karena Jinnu pun menahan rasa tersipunya, detak jantungnya seakan semakin cepat mengalahkan kereta tercepat di Jepang sekalipun.
Jinnu perlahan melepaskan pelukkannya, mundur secara perlahan namun tengannya seperti enggan melepaskan genggamannya.
“Eugene, apa yang sebenarnya kau pikirkan tentangku?”
“Huh?”
“A-aku…” Ketika dia akan meneruskan bicaranya, ponselnya berbunyi.
Entah kenapa saat ponselnya berbunyi, aku merasakan kelegaan yang sangat berarti.
“Iya, aku memang bersamanya. Ada apa?”
[Bawa dia sekalian, kami ada di bar seperti biasa. Oke?!]
Kemudian Jinnu menutup telponnya. “Power rangers ingin kita bergabung dengan mereka di bar.”
“Oh…oke.” Aku menjauh dengan kakunya mencoba menjauh darinya.

*********

Untung saja pas di bar tempat biasanya mereka bersenang-senang, kegugupanku ketika bersama dengan Jinnu hilang. Mereka berlima menyambut kedatangan kami dengan riang.
“Aku tidak akan mengira kalian akan kencan secepat itu?” Tanya Sean jahil.
“SIAPA YANG KENCAN?” Aku menjawabnya dengan tatapan terbaikku, mengancamnya.
“Aku hanya bercanda, tidak perlu bersikap berlebihan menghadapi candaanku bukan?”
“Bercanda ataupun tidak? Jika aku disandingkan dengan burung unta itu, aku merasa rugi. Oh, iya, kenapa kalian memanggilku ke sini?”
Sean melirik ke arah Abym yang mengeluarkan secarik kertas yang ditaruh di meja untuk dibaca.
“Yang mereka tulis sungguh lucu, jika benar mereka hanya bosan dan tidak ada kerjaan. Untuk apa melayangkan surat ancaman seperti itu?” Dwight tidak mengerti.
Aku mengambil surat itu dan membacanya. “Apa maksudnya ini?Berani benar menyuruhku ikut bertarung dengan kalian hanya untuk mengukuhkan teritori SMA kita? Siapa lagi yang buat ulah?! Huh??” Tanyaku pada mereka.
“Membaca surat itu aku jadi ingin menjejalkan surat itu kemulutnya!” Ujar Daniel kesal. “Apa karena tinggal sekolah kita yang terakhir dia mau hancurkan? Apa kalian sadar kalau Ren itu tidak punya otak?”
“Kalau mereka benar-benar ingin berkelahi, kenapa tidak di iyakan saja?! Aku akan bantu kalian, dan memang terbukti tanpa aku kalian tidak bisa apa-apa kan, hahaha?” Canda ku pada mereka.
“Apa kau tidak takut kalau orang lain memandangmu sebagai wanita yang terobsesi oleh kekerasan? Kau terlalu memaksakan dirimu, Eugene. Lagipula apa sih yang kau inginkan dari sikapmu yang seperti itu? Membantu keamanan di muka bumi? Bukankah itu terlalu egois untuk dilakukan seseorang yang kapasitas otaknya setengah dari otak manusia normal?”
“Anak ini….Aduuuhhh…kenapa dari dulu sampai sekarang, kau selalu saja antagonistik, huh?? Kau memang benar-benar ingin mati ditanganku ya, bocah burung unta!?”
“Sudah-sudah…ada satu lagi alasan kenapa kami memanggilmu ke sini Eugene. Hero diam-diam mencari tahu tentang latar belakang Ren. Dan aku yakin kau akan terkejut sebagaimana kami pertama kali mendengarnya.” Jelas Abym.
“……………Apa?”
“Alasan kenapa dia menyerang SMA-SMA lain dan menjadikannya wilayah jajahan Ren, kenapa dia bersikeras mengancam kita, dan kenapa pula namamu jadi list pertama yang ingin dia kalahkan?”
Dengan polosnya aku menjawab pertanyaannya, “Mungkin karena dia merasa aku permalukan saat aku mengalahkannya dulu. Benar tidak?”
“……………” mereka semua terdiam. Hanya Jinnu dan aku yang saling tatap karena masih bingung, kemudian menunggu mereka untuk membeberkan alasan Ren itu.
”Ren itu, adik lawan tandingmu yang sampai sekarang masih cacat. Tanpa ku beritahu dengan lengkap, kau bisa menangkap maksudku kan Eugene?” Tanya Abym padaku yang masih mencoba mencerna kata-katanya.
“D-dia…adik Vynette?!”
Aku tidak berani menyangka kalau semua itu hanyalah kebetulan. Pastinya Ren memang sudah merencanakannya sejak dulu tentang ini. Akulah yang menyebabkan kakaknya cacat. Aku yakin siapapun yang mengalami hal itupun akan memendam lukanya dan jika menemukan waktu yang tepat, mereka akan balas dendam. Dan aku yakin, Ren pun begitu.
“Makanya kami sengaja berkumpul disini untuk membahas hal ini denganmu.” Abym menjelaskan lagi.
“Dan karena sekarang kita semua sudah tahu alasan tentang Ren, kenapa dia mengajak kita berkelahi, kenapa dia ingin kau menderita. Karena dia adik Vynette. Aku tahu dengan jelas hubungan kalian yang baik-baik saja di luar dan juga di pertandingan dulu dengan Vynette yang memujamu. Karena kau itu terlalu baik, aku tahu kau menyalahkan dirimu sendiri hingga saat ini, kau selalu berfikir apa yang kau lakukan padanya menghancurkan segala-galanya. Tapi kali ini, aku minta kau cepat-cepat sadar. Semua itu bukan kesalahanmu, dalam setiap cabang olahraga pasti ada kecelakaan macam itu. Apa kau tidak dengar berita di TV? Petinju yang saat bertanding, K.O , koma, lalu meninggal dunia. Karateka, patah lengan, dan tidak bisa berkarir lagi, masih banyak contoh Eugene. Tapi itu murni kecelakaan! Dan mereka pun merasa bersalah, melakukan segala sesuatu untuk menebus rasa bersalah mereka. Setelah itu…mereka melanjutkan kehidupan mereka dengan baik….”

Aku masih mendengarkan ceramah Sean yang panjang. “Bukannya aku memintamu menghapus mimpi buruk itu. Tapi Eugene, kali ini, Ren tidak akan mencoba menyerang kita satu-satu. Tapi keseluruhan.” Lanjutnya lagi, memintaku mengambil sikap dengan segera. Mana bisa aku mengambil sikap, jika aku dihadapkan dengan pilihan seperti itu, jikalau Ren bukan adik dari Vynette, mungkin aku akan langsung memutuskan untuk ikut menghajar si bajingan tengik yang berani menggaruk luka ku itu, tapi ini lain? Jika aku melakukannya, berarti aku akan menghancurkan dua kehidupan yang saling bertautan. Aku sudah melakukan hal yang buruk pada kakaknya, dan dia berencana balas dendam agar aku pun merasakan hal yang setimpal dengan apa yang ku lakukan pada kakaknya.
“Apa ini adalah situasi yang mengharuskan aku terikat pada kalian?”
“…….Jika kau percaya, dan percaya pada kami.” Balas Sean.